Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kependudukan adalah suatu masalah yang dihadapi oleh semua
bangsa. Masalah yang dianggap mendesak adalah perkembangan penduduk.
Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang menaruh perhatian terhadap
perkembangan penduduk. Teori-teori tersebut pada hakekatnya mencari
pemecahan tentang perkembangan penduduk yang cenderung meningkat lebih
cepat dari pada kebutuhan hidup.
Orang yang pertama – tama mengemukakan teorinya yang menyatakan
bahwa jumlah , penduduk cenderung meningkat secara deret ukur sedangkan
kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara deret hitung. Untuk mengurangi
kegoncangan dan kepincangan terhadap perbandingan antara penduduk dan
makanan, Malthus mempunyai dua jalan yaitu preventive checks dan positive
checks. Teori Malthus mengandung beberapa kelemahan, akan tetapi
bagaimanapun juga menarik perhatian dunia. Hal itu disebabkan Malthuslah yang
mula-mula membahas persoalan penduduk secara ilmiah.
Dimana karena beberapa faktor program KB mulai muncul di Indonesia.
Sehingga berdiri beberapa organisasi KB sebagai wadah untuk menjalankan
program KB tersebut. Faktor-faktor pencetus KB di Indonesia selanjutnya akan
dibahas dalam makalah ini.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah KB
Keluarga Berencana sebagai salah satu usaha untuk mengatasi masalah
kependudukan, pada umumnya orang berpendapat bahwa ide keluarga berencana
tersebut adalah suatu hal yang baru. Pendapat yang demikian ini adalah tidak
benar, sebab keluarga berencana (yang dimaksud disini mencegah kehamilan)
sudah ada sejak jaman dahulu. Memang di Indonesia adanya keluarga berencana
masih baru (abad XX) dibandingkan dengan negara-negara barat.
Dari uraian yang dikemukakan di atas timbullah pertanyaan “Kapankah
terjadinya tanggal sejarah permulaan didudukkannya alat kontrasepsi sebagai
sarana yang bersifat medis dan dilandasi keilmuan (ilmiah) ?
Sebagai jawaban dari pertanyaan di atas marilah kita ikuti uraian dibawah
ini.
a) Perintis KB di Inggris (Margareth Sanger)
Keluarga berencana mula-mula timbul dari kelompok orang-orang
yang menaruh perhatian kepada masalah KB, yaitu pada awal abad XIX
di Inggris, keluarga berencana mulai dibicarakan orang. Pada masa
abad XIX sebagian besar kaum pekerja buruh di kota-kota besar di
Inggris mengalami kesulitan dan keadaan hidupnya sangat buruk.
Mereka sangat kekurangan, miskin dan melarat. Hal ini sebagai akibat
dari adanya undang-undang perburuhan yang belum sempurna.,
jaminan sosial buruh tidak mendapatkan perhatian dan jam kerja buruh
tidak dibatasi, sehingga hal ini menambah keadaan keluarga buruh
sangat menderita. Disamping itu yang sangat menyolok adanya waktu
untuk istirahat dan rekreasi/hiburan pada buruh sama sekali hampir
tidak ada. Salah satu hiburannya diwaktu istirahat dirumah hanyalah
ketemu keluarganya. Dengan kata lain bahwa hiburan para buruh ketika
itu satu-satunya hanyalah dengan istri.

2
b) Pengalaman Margareth Sanger sebagai juru rawat
Sebagai seorang perawat kandungan, Margareth Sanger banyak
menjumpai keluarga-keluarga atau ibu-ibu yang menderita hidupnya
karena banyaknya/seringnya melahirkan. Salah satu pengalamannya
Margareth Sanger sebagai seorang perawat kandungan di Rumah Sakit
di New York adalah seperti dibawah ini :
c) Peristiwa Saddie Sachs
Pada tahun 1912 Margareth Sanger mendapatkan pengalaman yang
sangat berharga bagi dirinya. Waktu itu ia menghadapi seorang ibu
muda berumur 20 tahun yang bernama Saddie Sachs. Karena adanya
perasaan putus asa dalam merasakan derita pahit getirnya kehidupan
dan juga ketidak-tahuannya, Saddie Sachs telah nekat melakukan
pengguguran kandungannya dengan paksa, sehingga ia harus dirawat di
rumah sakit selama beberapa hari. Atas perawatan dokter dan juru rawat
(termasuk Margareth Sanger), maka Saddie Sachs sembuh, dan dokter
menganjurkan supaya ia jangan hamil lagi, sebab bila hamil lagi akan
membahayakan jiwanya. Mendengar nasehat dokter yang demikian itu
Saddie Sachs menjadi bingung apa yang harus dilakukan, pada hal ia
sudah tidak ingin hamil lagi. Suatu ketika Saddie Sachs memberanikan
diri bertanya kepada dokter yang merawatnya mengenai bagaimana
caranya agar supaya ia tidak hamil lagi.
Dengan nada sendau gurau dokter menjawab bahwa Jack Sachs
(suami Saddie) disuruh tidur di atas atap. Mendengar jawaban dari
dokter tersebut ia merasa tidak puas, dan ia bertanya kepada Margareth
Sanger, tetapi sayang Margareth Singer tidak dapat memenuhi
permintaan serupa itu selain hanya menghibur saja, karena memang ia
sendiri tidak tahu apa yang harus diperbuat. Tiga bulan kemudian suami
Saddie Sachs memanggil Margareth Sanger karena istrinya sakit
kembali dan dalam keadaan yang sangat kritis.
Ternyata penederitaan Saddie Sachs seperti yang lalu bahkan lebih
berat lagi, sehingga sebelum dokter datang menolong, ia gugur /
meninggal dunia diatas pangkuan Margareth Sanger sebagai akibat

3
pengguguran kandungan yang disengaja yang ia lakukan sendiri secara
nekat. Dengan rasa sedih haru dan kecewa Margareth Sanger
menyampaikan kata-kata kepada beberapa dokter yang sempat ia
kumpulkan, lebih kurang demikian : “Wahai para dokter yang budiman,
lihatlah dengan penuh perhatian apa yang ada dipangkuan ini. Ia adalah
seorang ibu, seorang istri yang sah dari seorang suami. Ia telah menjadi
korban dari ketidak mengertian dari pihak suami maupun dari pihak
orang-orang yang lebih mengerti terutama anda sekalian para dokter.
Sebagai ibu mustahil ia akan melakukan perbuatan nekat yang
membahayakan jiwanya, apabila tidak dilandasi oleh suatu motif yang
kuat. Motif tersebut ialah ia tidak menghendaki suatu
kehamilan/kelahiran yang ia tidak ingini.
Hal ini ia telah kemukakan pada waktu persalinan terdahulu,
sebagai seorang manusia, ia berhak untuk mengatur sedemikian rupa.
Namun ketidak acuhan dan ketidak mengertianlah akhirnya merenggut
jiwanya. Marilah, wahai para dokter, berbuatlah sesuatu sejak saat ini
belajar dari pengalaman yang pahit ini”. Kiranya kata-kata diataslah
merupakan “api” dari sejarah Margareth Sanger. Dan sejak peristiwa
tersebut ia bergerak hatinya untuk lebih giat memperjuangkan cita
citanya dibidang emansipasi wanita khususnya disektor pengaturan
kehamilan.
d) Perjuangan Margareth Sanger
Dari pengalaman-pengalamannya sebagai juru rawat, Margareth
Sanger mengetahui benar-benar hausnya ibu-ibu akan bantuan
mengenai kontrasepsi karena alasan ekonomi, kesehatan dan sosial.
Dengan segala resiko yang menunggunya, ia terjun kedalam gerakan
Brth Control America pada tahun 1912. Tetapi karena ia sendiri tidak
mempunyai pengetahuan mengenai metodemetode kontrasepsi, maka ia
pergi ke Eropa untuk mempelajari pengetahuan di bidang kontrasepsi,
yaitu pada tahun 1913. Sekembalinya dari Eropa, ia menerbitkan
bulanan “The Women Rebel” (Pemberontak perempuan). Tulisannya
tentang keluarga berencana, pertama kali diterbitkan dalam “The

4
Women Rebel” tahun 1914, ia menggunakan istilah Birth Control, dan
bulanan ini dilarang beredar yang dikirim melalui pos (persatuan
Comstock). Buku Margareth Sanger yang berisi metode-metode
kontrasepsi adalah berjudul “Family Limitation” (Pembatalan
Keluarga) yang terbit tahun 1914 sesudah bersusah payah mencari
orang yang berani menerbitkannya. Penerbitan dan penyebarannya
direncanakan dengan rapi dan rahasia, tetapi segera juga tertangkap.
Namun perkaranya masuh ditangguhkan, dan sementara itu Margareth
Sanger pergi ke Eropa, dimana ia menambah pengetahuannya mengenai
metode kontrasepsi yang terakhir.
Dari uraian diatas menunjukkan bahwa gerakan keleuarga
berencana yang kita kenal sekarang ini adalah buah perjuangan yang
cukup lama yang dilakukan oleh tokoh-tokoh atau pelopor-pelopor di
bidang itu.
Hal ini disebabkan Margareth Sanger terus berusaha mencapai
tujuan dan melanjutkan ide-idenya. Ia selalu mengajak rekan-rekannya
yang berada di dalam negerinya sendiri dari dari para bidan-bidan
sampai dokter yang sesuai dengan usaha-usahanya itu. Sehingga dari
hasil kerja sama itu, usaha Margareth Sanger berkembang terus sampai
ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Sebaliknya Marie Stopes tidak
demikian, sehingga namanya makin tenggelam. Dengan demikian
tepatlah kalau dikatakan bahwa sebagai tonggak permulaan sejarah
keluarga berencana adalah Margareth Sanger.

5
B. Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia
a) Periode Perintisan dan Kepeloporan Sebelum Tahun 1957
Salah satu usaha untuk mengatasi pengendalian bertambahnya
penduduk yang telah dikemukakan oleh para pengikut Maltus adalah
Birth Control. Disamping itu Birth Control ini juga telah dikembangkan
oleh Margareth Sanger di dalam usahanya untuk membatasi kelahiran
sehingga kesehatan ibu dan anak dapat dipelihara dengan baik. Usaha
membatasi kelahiran (Birth Control) sebenarnya secara individual telah
banyak dilakukan di Indonesia.
Diantaranya yang paling banyak diketahui adalah cara-cara yang
banyak digunakan di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena penelitian
mengenai hal ini banyak dilakukan di Jawa. Tetapi bukan berarti
daerah-daerah di luar Jawa tidak melakukannya, misalnya seperti di
Irian Jaya, Kalimantan Tengah, dan sebagainya. Jamu-jamu untuk
menjarangkan kehamilan juga banyak dikenal oleh orang, meskipun ada
usaha untuk menyelidiki secara ilmiah ramuan-ramuan tradisionil itu.
Salah satu diantaranya yang banyak dipakai dipedesaan di Jawa adalah
air kapur yang dicampur jeruk nipis. hususnya di daerah Temanggung
dikenal ramuan yang terdiri dari laos pantas yang dicampur gula aren
dan garam, jambu sengko dan sebagainya. Dari penelitian di
Temanggung, diperoleh keteranganK-keterangan tentang caracara
pencegahan kehamilan lainnya seperti absistensi (asal dan juga cara
semacam doucke atau mobilas liang sanggama setelah persenggamaan
yang disebut wisuh. Namuan dikenal juga cara seperti urut, yang
dimaksud untuk menggugurkan kandungan. pantang), Juga semacam
rumusan seperti ragi, tapai, pil kina atau minuman keras yang dikenal
sebagian ramuan-ramuan untuk menggugurkan. Sementara itu ilmu
pengetahuan berkembang terus. Termasuk juga ilmu kedokteran.
Apabila tidak menghendaki lagi kelahiran bayi, maka proses kehamilan
itulah yang harus lebih dahulu dicegah. Angka kematian bayi di
Indonesia tergolong tinggi.

6
Begitu pula dengan kematian ibu-ibu pada waktu melahirkan, hal
mana kiranya tak akan terjadi seandainya orang sudah mulai
merencanakan keluarganya dan mengatur kelahiran. Inilah yang telah
menyebabkan sejumlah tokoh-tokoh sosial menjadi lebih bertekad
untuk berusaha mengatasi keadaan yang menyedihkan itu. Dan niat itu
memang sudah lama terkandung dalam hati banyak orang di kalangan
masyarakat Indonesia, terutama para ibu rumah tangga, yang
menganggap penjarangan kehamilan itu sangat penting demi kesehatan
mereka.
 Berdirinya PKBI
Pada awal tahun 1957, Mrs. Dorothy Brush, seorang sahabat
Mrs. Margareth Sanger, datang ke Indonesia untuk mengadakan
peninjauan tentang kemungkinan didirikannya organisasi keluaga
berencana di Indonesia. Mrs Brush seorang anggota Field Service
IPPF dan juga aktif dalam Ford Foundation Birth Control bukan
saja dari segi medis akan tetapi juga dari segi sosial dan budaya.
Hal inilah yang mendorong keinginan beliau menjadi semakin kuat
untuk segera mendirikan sebuah perkumpulan keluarga berencana.
Dengan tujuan tersebut maka PKBI mulai menggariskan
programnya meliputi 3 macam usahanya yaitu :
a. mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan
b. mengobati kemandulan dan
c. memberi nasehat perkawinan.
b) Periode Persiapan dan Pelaksanaan
1. L.K.B.N. (Lembaga Keluarga Berencana Nasional)
Dalam pertemuan ini PKBI pun mengirimkan wakilnya.
Sebagai hasil dari pertemuan itu, dikeluarkan Surat Keputusan
Menteri Kesejahteraan Rakyat pada tanggal 17 Oktober 1968
tentang pembentukan Lembaga Keluarga Berencana Nasional
(LKBN) yang mempunyai tugas pokok mewujudkan kesejahteraan
sosial, keluarga dan rakyat pada umumnya dengan cara:

7
1) menjalankan koordinasi-integrasi, sinkronisasi dan simplikasi
usaha-usaha keluarga berencana.
2) mewujudkan saran-saran yang diperlukan kepada Pemerintah
mengenai keluarga berencana sebagai program nasional
3) mengadakan/membina kerjasama antara Indonesia dan negeri
dalam bidang Keluarga Berencana, selaras dengan kepentingan
Nasional.
4) Mengusahakan perkembangan keluarga berencana atas dasar
sukarela dalam arti seluas-luasnya termasuk pengobatan
kemandulan, nasehat perkawinan dan sebagainya.
2. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Fungsi dari pada lembaga ini pada dasarnya mencakup dua hal yaitu :
1. Mengembangkan keluarga berencana
2. Mengelola segala jenis bantuan
Sedangkan susunan organisasinya terdiri atas :
1. Badan Pertimbangan Keluarga Berencana Nasional (BPKBN)
2. Pimpinan Pelaksanaan Keluarga Berencana (dari tingkat Pusat
sampai dengan Tingkat II)
Selain itu dasar pertimbangan pembentukan BKKBN ini juga
didasarkan atas bahwa :
1. Program keluarga berencana nasional perlu ditingkatkan dengan
jalan lebih memanfaatkan dan memperluas kemampuan fasilitas
dan sumber yang tersedia.
2. Program perlu digiatkan pula dengan pengikut sertaan baik
masyarakat maupun pemerintah secara maximal
3. Program keluarga berencana ini perlu diselenggarakan secara
teratur dan terencana kearah terwujudnya tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan.
Badan ini mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
1. Menjalankan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi terhadap usaha-
usaha pelaksanaan program keluarga berencana nasional yang
dilakukan oleh Unit- Unit Pelaksana.

8
2. Mengajukan saran-saran kepada Pemerintah mengenai pokok
kebijaksanaan dan masalah masalah penyelenggaraan program
Keluarga Berencana Nasional.
3. Menyusun Pedoman Pelaksanaan Keluarga Berencana atas dasar
pokok-pokok kebijaksanaan yang ditetap kan oleh Pemerintah.
4. Mengadakan kerja sama antara Indonesia dengan Negara-negara
Asing maupun Badan-badan Internasional dalam bidang keluarga
berencana selaras dengan kepentingan Indonesia dan sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
5. Mengatur penampungan dan mengawasi penggunaan segala jenis
bantuan yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari
luar negeri sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapka oleh
Pemerintah.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di Indonesia
1. Sosial ekonomi
Tinggi rendahnya status social dan keadaan ekonomi penduduk di
Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program
KB di Indonesia. Kemajuan program KB tidak bisa lepas dari tingkat
ekonomi masyarakat karena berkaitan erat dengan kemampuan untuk
membeli alat kontrasepsi yang digunakan. Contoh : keluarga dengan
penghasilan cukup akan lebih mampu mengikuti program KB dari pada
keluarga yang tidak mampu, karena bagi keluarga yang kurang mampu
KB bukan merupakan kebutuhan pokok.
Dengan suksesnya program KB maka perekonomian suatau negara
akan lebih baik karena dengan anggota keluarga yang sedikit kebutuhan
dapat lebih tercukupi dan kesejahteraan dapat terjamin.
2. Budaya
Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih
metode kontrasepsi. Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam
masyarakat mengenai berbagai metode, kepercayaan religius, serta
budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan dan
status wanita., Penyedia layanan harus menyadari bagaimana faktor-

9
faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di daerah mereka dan
harus memantau perubahan – perubahan yang mungkin mempengaruhi
pemilihan metode.
3. Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan
menggunakan keluarga berencana tetapi juga pemilihan suatu metode.
Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode kalender lebih
banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan.
Dihipotesiskan bahwa wanita yang berpendidikan menginginkan
keluarga berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil
resiko yang terkait dengan sebagai metode kontrasepsi.
4. Agama
Di berbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien
dalam memilih metode. Sebagai contoh penganut katolik yang taat
membatasi pemilihan kontrasepsi mereka pada KB alami. Sebagai
pemimpin islam pengklaim bahwa sterilisasi dilarang sedangkan
sebagian lainnya mengijinkan. Walaupun agama islam tidak melarang
metode kontrasepsi secara umum, para akseptor wanita mungkin
berpendapat bahwa pola perdarahan yang tidak teratur yang disebabkan
sebagian metode hormonal akan sangat menyulitkan mereka selama
haid mereka dilarang bersembahyang.
5. Status wanita
Status wanita dalam masyarakat mempengaruhi kemampuan
mereka memperoleh dan menggunakan berbagai metode kontrasepsi. Di
daerah daerah yang status wanitanya meningkat, sebagian wanita
memiliki pemasukan yang lebih besar untuk membayar metode-metode
yang lebih mahal serta memiliki lebih banyak suara dalam mengambil
keputusan. Juga di daerah yang wanitanya lebih dihargai, mungkin
hanya dapat sedikit pembatasan dalam memperoleh berbagai metode,
misalnya peraturan yang mengharuskan persetujuan suami sebelum
layanan KB dapat diperoleh.

10
Organisasi non pemerintah yaitu PKBI ( Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia Pada tahun 1953, sekelompok masyarakat yang
terdiri dari berbagai golongan, khususnya dari kalangan kesehatan
memulai prakarsa kegiatan KB, kegiatan kelompok ini berkembang
hingga berdirilah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ( PKBI ).
Pada tahun 1957 tepatnya pada tanggal23 Desember 1957 dengan Dr. R
Soeharto sebagai ketua PKBI adalah pelopor pergerakan keluarga
berencana yang membantu masyarakat yang memerlukan bantuan
secara sukarela.
Tujuan dari PKBI adalah memperjuangkan terwujudnya keluarga
sejahtera melalui 3 macam usaha yaitu :
a. Mengatur kahamialn
b. Mengobati kemandulan
c. Memberi nasehat perkawinan
Pada tahun 1970 LKBN di bubarkan oleh pemerintah dan
kemudian di bentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
( BKKBN ).
2.   Organisasi pemerintah yaitu BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional
Keputusan presiden RI Nomor 8 tahun 1970 tentang BKKBN yaitu Depkes
sebagai unit pelaksanaan program KB. BKKBN yaitu badan resmi pemerintah
yang bertamnggung jawab penuh mengenai pelaksanaan program KB di
Indonesia. Keuntungan dari BKKBN adalah
a)           Memungkinkan promram- program melepaskan diri pendekatan klinis yang
jangkauannya terbatas.
b)          Memungkinkan besarnya peranan pakar – pakar non medis dalam mensukseskan
program keluarga berencana di Indonesia melalui pendekatan ke masyarakat.
Sedangkan fungsi BKKBN adalah pengkoordinasi, perencana, perumus
kebijakan, pengawas pelaksana dan evaluasi. Pada waktu itu tujuan program
keluarga berencana adalah :
a)           Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak keluarga dan bangsa.
b)         Mengurangi angka kelahiran untuk menaikan taraf hidup rakyat dan bangsa.

11
Dalam perkembangan selanjutnya BKKBN mengembangkan lagi kegiatannya
menjadi program nasional kependudukan dan KB (KKB) yang pada waktu ini
mempunyai 2 tujuan :
a)      Tujuan demografis,yaitu mengendalikan tingkat pertumbuhan penduduk berupa
penurunan angka fertilitas dari 44 permil pada tahun 1979 menjadi 22 permil pada
tahun 1990 atau 50 % dari keadaan pada tahun 1971
b)      Tujuan normatif,yaitu dapatdihayati norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera
(NKKBS) yang pada satu waktu akan menjadi falsafah hidup masyarakat dan
bangsa indonesia.
3.      Visi dan Msi BKKBN
a.          Visi tahun 2001
“ Membangun keluarga berkualitas pada tahun 2010 “
b.      Misi
1)      Memberdayakan masyaraka
2)      Menggalang kemitraan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan,kemandirian
dan ketahanan keluarga
3)      Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi
4)      Meningkatkan upaya pemberdayaan wanita dalam
5)        Mewujutkan kesetaraan gender melalui program KB
6)      Mempersiapakan SDM berkualitas sejak pembuahaan
7)      Menyediakan data dan informasi dalam skala mikro

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manfaat Keluarga Berencana terhadap Pengendalian Penduduk
(Bangsa dan Negara)
• Program Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha
penanggulangan kependudukan yang merupakan bagian yang terpadu
dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk turut serta
mencipatakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya

12
penduduk Indonesia, agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan
kemampuan produksi nasional.
• Manfaat Keluarga Berencana bagi kepentingan nasional adalah
meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak serta
keluarga dan bangsa pada umumnya.
• Meningkatkan taraf hidup rakyat dengan cara menurunkan angka
kelahiran sehingga pertambahan penduduk sebanding dengan peningkatan
produksi.
Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di Indonesia berpijak pada
dua landasan :
1. Prinsip kepentingan nasional
2. Prinsip sukarela, demokrasi dan menghormati hak azazi manusia.
B. Saran
Sebagai saran dari kami diharapkan dalam pembuatan makalah
selanjutnya agar anggota dalam setiap kelompok tidak terlalu banyak
sehingga semua anggota dapat bekerja. Sebagai tenaga bidan diharapkan kita
nantinya bisa membantu pemerintah dalam menerapkan program KB demi
mencapainya kesejahteraan dalam masyarakat kita sehingga masalah ekonomi
juga dapat diatasi dengan adanya program KB ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://www.lusa.web.id/perkembangan-kb-di-indonesia/ diakses


pada tanggal 25 Maret 2010 
Hartanto, Hanafi. 2003. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

13
14