Anda di halaman 1dari 27

LP DAN ASKEP

TRAUMA DADA

Disusun Oleh :
1. JELVIN DEY GRATSYIA PAERUNG
2. JAMALUDDIN MUCHTAR
3. AGISTA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA JAYA


PALU
TAHUN AJARAN 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat
gangguan emosional yang hebat (Nugroho, 2015).
Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan
pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma
ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat
menyebabkan gangguan sistem pernapasan (Rendy, 2012).
Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang
dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax
yang disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan
keadaan gawat thorax akut.Trauma thoraks diklasifikasikan dengan tumpul dan
tembus. Trauma tumpul merupakan luka atau cedera yang mengenai rongga thorax
yang disebabkan oleh benda tumpul yang sulit diidentifikasi keluasan kerusakannya
karena gejala-gejala umum dan rancu (Sudoyo, 2010)
Dari berberapa definisi diatas dapat didefinisikan trauma thoraks adalah
trauma yang mengenai dinding toraks yang secara langsung maupun tidak langsung
berpengaruh pada pada organ didalamnya, baik sebagai akibat dari suatu trauma
tumpul maupun oleh sebab trauma tajam.
B. Etiologi
Trauma pada toraks dapat dibagi 2 yaitu oleh karena trauma tumpul 65% dan
trauma tajam 34.9 % (Ekpe & Eyo, 2014). Penyebab trauma toraks tersering adalah
kecelakaan kendaraan bermotor (63-78%) (Saaiq, et al., 2010). Dalam trauma akibat
kecelakaan, ada lima jenis benturan (impact) yang berbeda, yaitu depan, samping,
belakang, berputar, dan terguling (Sudoyo, 2010).
Oleh karena itu harus dipertimbangkan untuk mendapatkan riwayat yang
lengkap karena setiap orang memiliki pola trauma yang berbeda. Penyebab trauma
toraks oleh karena trauma tajam dibedakan menjadi 3 berdasarkan tingkat energinya,
yaitu berenergi rendah seperti trauma tusuk, berenergi sedang seperti tembakan pistol,
dan berenergi tinggi seperti pada tembakan senjata militer. Penyebab trauma toraks
yang lain adalah adanya tekanan yang berlebihan pada paru-paru yang bisa
menyebabkan Pneumotoraks seperti pada aktivitas menyelam (Hudak, 2011).
Trauma toraks dapat mengakibatkan kerusakan pada tulang kosta dan
sternum, rongga pleura saluran nafas intratoraks dan parenkim paru. Kerusakan ini
dapat terjadi tunggal ataupun kombinasi tergantung dari mekanisme cedera (Sudoyo,
2010).

C. Patofisiologi
Utuhnya suatu dinding Toraks sangat diperlukan untuk sebuah
ventilasi pernapasan yang normal. Pengembangan dinding toraks ke arah luar
oleh otot -otot pernapasan diikuti dengan turunnya diafragma menghasilkan
tekanan negative dari intratoraks. Proses ini menyebabkan masuknya udara
pasif ke paru – paru selama inspirasi. Trauma toraks mempengaruhi strukur -
struktur yang berbedadari dinding toraks dan rongga toraks. Toraks dibagi kedalam 4
komponen, yaitudinding dada, rongga pleura, parenkim paru, dan
mediastinum.Dalam dindingdada termasuk tulang - tulang dada dan otot - otot yang
terkait (Sudoyo, 2009).
Rongga pleura berada diantara pleura viseral dan parietal dan dapat terisi oleh
darah ataupunudara yang menyertai suatu trauma toraks. Parenkim paru termasuk
paru – parudan jalan nafas yang berhubungan, dan mungkin dapat mengalami
kontusio, laserasi, hematoma dan pneumokel.Mediastinum termasuk jantung,
aorta/pembuluh darah besar dari toraks, cabang trakeobronkial dan esofagus. Secara
normal toraks bertanggung jawab untuk fungsi vital fisiologi kardiopulmonerdalam
menghantarkan oksigenasi darah untuk metabolisme jaringan pada tubuh. Gangguan
pada aliran udara dan darah, salah satunya maupun kombinasi keduanya dapat timbul
akibat dari cedera toraks (Sudoyo, 2009).
Secara klinis penyebab dari trauma toraks bergantung juga pada beberapa
faktor, antara lain mekanisme dari cedera, luas dan lokasi dari cedera, cedera lain
yang terkait, dan penyakit - penyakit komorbid yang mendasari. Pasien – pasien
trauma toraks cenderung akan memburuk sebagai akibat dari efek pada fungsi
respirasinya dan secara sekunder akan berhubungan dengan disfungsi jantung
(Sudoyo, 2009).
D. Pathway
E. Manifestasi Klinis
Adapun tanda dan gejala pada pasien trauma thorax menurut Hudak, (2009)
yaitu :
1. Temponade jantung
a. Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus
jantung
b. Gelisah
c. Pucat, keringan dinginPeninggian TVJ (9Tekanan Vena Jugularis)
d. Pekak jantung melebar
e. Bunyi jantung melemah
f. Terdapat tanda-tanda paradoxical pulse pressure
g. ECG terdapat low Voltage seluruh lead
h. Perikardiosentesis kuluar darah (FKUI:2005)
2. Hematothorax
a. Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD
b. Gangguan pernapasan (FKUI:2005)
3. Pneumothoraks
a. Nyeri dada mendadak dan sesak napas
b. Gagal pernapasan dengan sianosis
c. Kolaps sirkulasi
d. Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas yang
terdapat jauh atau tidak terdengar sama sekali
e. Pada auskultasi terdengar bunyi klik
F. Komplikasi
Trauma toraks memiliki beberapa komplikasi seperti pneumonia 20%,
pneumotoraks 5%, hematotoraks 2%, empyema 2%, dan kontusio pulmonum 20%.
Dimana 50-60% pasien dengan kontusio pulmonum yang berat akanmenjadi ARDS.
Walaupun angka kematian ARDS menurun dalam decadeterakhir, ARDS masih
merupakan salah satu komplikasi trauma toraks yang sangat serius dengan angka
kematian 20-43% (Nugroho, 2015).
 Kontusio dan hematoma dinding toraks adalah bentuk trauma toraks
yangpaling sering terjadi.Sebagai akibat dari trauma tumpul dinding
toraks,perdarahan masif dapat terjadi karena robekan pada pembuluh darah
pada kulit,subkutan, otot dan pembuluh darah interkosta.
 Fraktur kosta terjadi karena adanya gaya tumpul secara langsung maupuntidak
langsung. Gejala yang spesifik pada fraktur kosta adalah nyeri, yang
meningkat pada saat batuk, bernafas dalam atau pada saat bergerak.
 Flail chest adalah suatu kondisi medis dimana kosta - kosta yang berdekatan
patah baik unilateral maupun bilateral dan terjadi pada daerah kostokondral.
 Fraktur sternum terjadi karena trauma tumpul yang sangat berat sering
kalidisertai dengan fraktur kosta multipel.
 Kontusio parenkim paru adalah manifestasi trauma tumpul toraks yang
palingumum terjadi.
 Pneumotoraks adalah adanya udara pada rongga pleura. Pneumotoraks pada
trauma tumpul toraksterjadi karena pada saat terjadinya kompresi dada tiba -
tiba menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intraalveolar yang dapat
menyebabkan rupture alveolus..Gejala yang paling umum pada Pneumotoraks
adalah nyeri yang diikuti oleh dispneu.
G. Penatalaksanaan
Manajemen awal untuk pasien trauma toraks tidak berbeda dengan pasien
trauma lainnya dan meliputi ABCDE, yaitu A: airway patency with
care ofcervical spine, B: Breathing adequacy, C: Circulatory support, D:
Disabilityassessment, dan E: Exposure without causing hypothermia (Nugroho,
2015).
Pemeriksaan primary survey dan pemeriksaan dada secara keseluruhan harus
dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi yang
mengancam nyawa dengan segera, seperti obstruksi jalan napas,
tension Pneumotoraks, pneuomotoraks terbuka yang masif, hemotoraks masif,
tamponade perikardial, dan flail chest yang besar (Nugroho, 2015).
Apnea, syok berat, dan ventilasi yang inadekuat merupakan indikasi utama
untuk intubasi endotrakeal darurat.Resusitasi cairan intravena merupakan terapiutama
dalam menangani syok hemorhagik.Manajemen nyeri yang efektif merupakan salah
satu hal yang sangat penting pada pasien trauma toraks. Ventilator harus digunakan
pada pasien dengan hipoksemia, hiperkarbia, dan takipnea berat atau ancaman gagal
napas (Hudak, 2011).
Pasien dengan tanda klinis tension Pneumotoraks harus segera menjalani
dekompresi dengan torakosentesis jarum dilanjutkan dengan torakostomi tube. Foto
toraks harus dihindari pada pasien - pasien ini karena diagnosis dapat ditegakkan
secara klinis dan pemeriksaan x - ray hanya akan menunda pelaksanaan tindakan
medis yang harus segera dilakukan (Hudak, 2011).
H. Pencegahan
Pencegah trauma thorax yang efektif adalah dengan cara menghindari faktor
penyebabnya, seperti menghindari terjadinya trauma yang biasanya banyak dialami
pada kasus kecelakaan dan trauma yang terjadi berupa trauma tumpul serta
menghindari kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang
biasanya disebabkan oleh benda tajam ataupun benda tumpul yang menyebabkan
keadaan gawat thorax akut (Patriani, 2012) .
ASUHAN KEPERAWATAN
Contoh Kasus :
Tn. D (30 tahun) dibawa penolong dan keluarganya ke rumah sakit M.Yunus
bengkulu pada tanggal 01 Januari 2019 karena mengalami kecelakaan bermobil. Dari
pengkajian pasien mengalami penurunan kesadaran. Penolong mengatakan dada
korban membentur stir mobil, setelah kecelakaan pasien muntah darah lalu kemudian
pasien tidak sadar. Keaadaan pasien saat di IGD klien mengalami penurunan
kesadaran, napas cepat dan dangkal, auskultasi suara napas ronchi, dan pasien
ngorok. Terdapat bengkak dan jejas di dada sebelah kiri. Hasil pemeriksaan GCS
8(E2V2M4) kesadaran sopor, hasil pemeriksaan TTV, TD : 120/80 mmHg, nadi :
110x/menit, RR : 35x/menit, suhu : 38,7oC, akral teraba dingin, tampak sianosis,
penggunaan otot-otot pernapasan, dan napas cuping hidung.

A. Pengkajian
 Pengkajian Primer
A. Airway : Pernapasan ada , napas ronchi, cepat dan dangkal dengan RR
35x/menit, tampak gelisa dan sesak, ketidakefektifan bersihan jalan napas.
B. Breathing : Pernapasan cuping hidung, pasien ngorok, penggunaan otot –
otot pernapasan, pasien sesak dengan RR 35x/menit, gangguan pola napas.
C. Circulation: Ada nadi, nadi 110x/menit, TD : 120/80 mmHg, akral teraba
dingin dan tampak sianosis, gangguan perfusi jaringan.
D. Disability : Penurunan kesadaran, kesadaran sopor GCS 8 (E2V2M4)
E. Exposure : Terdapat bengkak dan jejas di bagian dada sebelah kiri, akral
teraba dingin, tampak sianosis dan bagian tubuh lain nya baik.

 Pengkajian Sekunder
1. Anamnesis
a) Identitas klien
Nama : Tn. D
Jenis kelamin : Ny.A
Umur : 25 tahun
Alamat : Pagar dewa
Agama : Islam
Bahasa : Melayu
Status perkawinan : Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Sopir travel
Golongan darah :B
No. register :
Tanggal MRS : 21 Mei 2018
Diagnosa medis : Pulmonalis embolus
b) Identitas penanggung jawab :
Nama : Ny. D
Jenis kelamin : Prempuan
Alamat : Pagar dewa
Agama : Islam
Hubungan dengan pasien : Istri
c) Keluhan utama Pasien datang ke RSUD Dr. M. Yunus kota bengkulu,
dengan kecelakaan bermobil, pasien mengalami penurunan kesadaran dan
ada bengkak dan jejas di bagian dad sebelah kiri.
d) Riwayat kesehatan
1. Riwayat penyakit sekarang Tn. D (30 tahun) dibawa penolong dan
keluarganya ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan bermobil.
Pasien mengalami penurunan kesadaran. Penolong mengatakan dada
korban membentur stir mobil, setelah kecelakaan pasien muntah darah
lalu kemudian pasien tidak sadar. Keaadaan pasien saat di IGD klien
mengalami penurunan kesadaran, napas cepat dan dangkal, auskultasi
suara napas ronchi, dan pasien ngorok. Terdapat bengkak dan jejas di
dada sebelah kiri. Hasil pemeriksaan GCS 8(E2V2M4) kesadaran
sopor, hasil pemeriksaan TTV, TD : 120/80 mmHg, nadi : 110x/menit,
RR : 35x/menit, suhu : 38,7oC, akral teraba dingin, tanpak sianosis,
penggunaan otot-otot pernapasan, dan napas cuping hidung.
2. Riwayat penyakit dahulu Keluarga mengatakan pasien sudah
berberapa kali mengalami kecelakaan tetapi belum perna separah ini
sampai mengaami penurunan kesadaran serta pasien tidak memiliki
riwayat penyakit apapun
B. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Penurunan kesadaran dan sesak
Kesadaran : Sopor
TTV : Tekanan Darah :120/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 110x/menit
Pernapasan : 35x/menit
Suhu : 38,7oC
a) Kepala Inspeksi : Distribusi rambut baik, bentuk kepala simetris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
b) Mata Inspeksi : Anemis, skelera dan ikterik, bentuk simetris.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
c) Hidung Inspeksi : Bentuk simetris, pernapasan cuping hidung,
penggunaan otototot pernapasan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
d) Telinga Inspeksi : Bentuk simetris, terdapat darah
Palpasi : Ada lesi dan nyeri tekan
e) Mulut Inspeksi : Bentuk simetris, sianosis, serta keluarnya
darah segar dan lendir
f) Leher Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pembengkakan
kelenjar tiroid, tidak dicurigai fraktur cervikal.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembenkakan
g) Toraks Inspeksi : Bentuk tidak simetris, terdapat jejas dan
bengkak, pergerakan dinding dada tidak simetris, terdapat otot bantu
pernapasan.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dan ada pembengkakan
Auskultasi : Bunyi napas ronchi, suara ngorok, frekuensi
napas 30x/menit
Perkusi : Snoring
h) Abdomen Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada jejas
Palpasi : ada nyeri tekan pada supra pubik
Auskultasi : Bising usus normal 12x/menit
Perkusi : Tympani
i) Genetalia Inspeksi : Bersih, tidak ada kelainan, terpasang kateter
spool blase
j) Ekstremitas - Atas :Inspeksi : Simetris, tidak ada pembengkakan dan
terpasang ada jejas ditangan kanan, terpasang infus ditangan kiri,
fleksi dan ekstensi (-)
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan - Bawah :
Inspeksi : Simetris, tidak ada pembengkakan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
k) Data tambahan pasien
1. Data psikologi Keluarga bisa di ajak bekerja sama dengan baik dalam
proses keperawatan
2. Data social Hubungan keluarga dan klien baik, terlihat dari keluarga
yang selalu menunggu klien.
3. Data spiritual Klien beragama islam, keluarga selalu berdoa untuk
kesembuhan klien.
C. Analisa data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 Ds :- Penolong mengatakan pasien Hematoraks Ketidakefek
muntah darah tifan bersihan
Do : - suara napas ngorok - jalan napas
Terdapat lendir dan gumpalan Ekspensi paru
darah di mulut pasien - Frekuensi
napas 35x/menit
Gangguan ventilasi

2 Ds : - Penolong mengatakan dada Trauma thorak Gangguan


korban membentur stir mobil pola napas
sebelum mengalami penurunan
kesadaran - Penolong mengtakan
pasien bernapas cepat (sesak) Reabsorsi darah
Do : - Suara napas ronchi - Pasien
bernapas menggunakan cuping
hidung dan oto-otot pernapasan -
Frekuensi napas 30x/menit Hemathorak
Ekspensi paru

paru Gangguan
ventilasi
3 Ds : rauma thorak Nyeri dada
- Penolong mengatakan ada
bengkak dan jejas di bagian dada
pasien Perdarahan jaringan
- Penolong mengatakan dada pasien intersitium
membentur stir
Do :
- Tampak ada bengkak dan jejas di Reabsorsi darah
dada pasien
- Pengkajian PQRST
Region : Tampak ada bengkak dan Hemathorak
jejas didada pasien sebelah kiri. Merangsang reseptor
nyeri dada pleura
viseralis dan
perientalis

Diskontinuitas
jaringan

D. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan secret yang
berlebih, gumpalan darah yang menghalangi pernapasan
2. Gangguan pola napas, dispneu berhubungan dengan penurunan kemampuan
paru
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi
dan perfusi
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan terjadi sumbatan dan suplai
oksigen turun dalam jaringan
5. Nyeri dada berhubungan dengan bengkak, jejas dan infark paru-paru
E. Tindakan keperawatan
N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
O keperawatan (Noc) (Nic)

1 Ketidakefektifan NOC : - Pastikan kebutuhan


bersihan jalan napas  Respiratory oral/suction
berhubungan dengan Status : ventilation - Auskultasi suara
secret yang berlebih,  Respiratory napas sebelum dan
gumpalan darah yang Status : airway sesudah suction
menghalangi patency - Berikan oksigen
pernapasan  Aspiration Control menggunakan nasal
Setelah dilakukan kanul - Monitor status
tindakan keperawata napas dan oksigen
selama 2x30 menit - Buka jalan napas
pasien menunjukkan gunakan tekhnik chin
keefektifan jalan nafas lift
dibuktikan dengan. - Posisikan pasien
Kriteria hasil : untuk memaksimalkan
 Suara napas ventilasikeluarkan
bersih, tidak ada secret dengan cara
sianosis, mampu suction
bernapas dengan - Monitor respirasi dan
mudah status oksigen
 Menunjukan jalan
napas yang pasten
(irama napas
dalam rentang
normal, tidak ada
suara napas
abnormal)
 Mampu
mengidentifikasi
dan mencegah
faktor yang
menghambat jalan
napas
2 Gangguan pola napas, NOC : Airway Management
dispneu berhubungan  Respiratory - Buka jalan nafas,
dengan penurunan Status : ventilation gunakan teknik chin
kemampuan paru  Respiratory lift atau jaw thrust bila
Status : airway perlu
patency - Posisikan pasien
 Vital Sign Status untuk memaksimalkan
Setelah dilakukan ventilasi
tindakan keperawata - Keluarkan secret
selama 2x30 menit dengan batuk atau
pasien menunjukkan suction
keefektifan pola nafas, - Auskultasi suara
dibuktikan dengan. nafas, catat adanya
Kriteria Hasil : suara tambahan
 Mendemonstrasi - Atur intake untuk
kan batuk efektif cairan
dan suara napas mengoptimalkan
yang bersih, tidak keseimbangan
ada sianosis dan - Monitor respirasi
dyspneu (mampu dan status O2.
mengeluarkan Respiratory
sputum, mampu Monitoring –
bernafas dngan Monitoring ratarata,
mudah, tidak ada kedalaman, irama dan
pursed lips) usaha Auskultasi suara
 Menunjukkan paru setelah tindakan
jalan nafas yang untuk mengetahui
paten (klien tidak hasilnya.
merasa tercekik,
irama
 Mampu
mengidentifikasi
dan mencegah
faktor yang
menghambat
jalan napas
3. Nyeri dada NOC : Pain management
berhubungan dengan  Pain level, - Lakukan pengkajian
infark paru-paru .  Pain control, nyeri secara
 Comfort level komprehensif
Setelah dilakukan termasuk lokasi,
tindakan keperawata karakteristik, durasi,
selama 2x30 menit frekuensi, kualitas dan
pasien tidak faktor presipitasi
mengalami nyeri, - Observasi reaksi
dengan. nonverbal dari
Krikteria Hasil : ketidaknyamanan
 Mampu - Gunakan tehnik
mengontrol nyeri komunikasi teraupetik
(tahu penyebab untuk mengetahui
nyeri, mampu pengalaman nyeri
mengguanakan pasien
tehnik - Kaji kultur yang
nonfarmakologi mempengaruhi respon
untuk mengurangi nyeri
nyeri, mencari - Evaluasi pengalaman
bantuan) nyeri masa lampau
 Melaporkan bahwa - Evaluasi bersama
nyeri berkurang pasien dan tim
dengan kesehatan lain tentang
menggunakan ketidakefektifan
manajemen nyeri
 Mampu mengenali Pain management
nyeri (skala, - Lakukan pengkajian
intensitas, nyeri secara
frekuensi dan tanda komprehensif
nyeri) termasuk lokasi,
 Menyatakan rasa karakteristik, durasi,
nyaman setelah frekuensi, kualitas dan
nyeri berkurang faktor presipitasi
- Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamanan
- Gunakan tehnik
komunikasi teraupetik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri
pasien
- Kaji kultur yang
mempengaruhi respon
nyeri
- Evaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau

Analgesic
administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
- Cek intruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
-Kolaborasi pemberian
analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
-Kolaborasi pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur.

F. Implementasi dan Evaluasi


Tanggal Dx Implementasi Evaluasi
Dx1  Mempastikan kebutuhan S : Keluarga mengatakan
oral/suction suara napas pasien sudah
 Mengauskultasi suara napas tidak ngorok lagi dan sesak
sebelum dan sesudah suction sudah berkurang
- Memberikan oksigen O :Bersihan jalan napas
menggunakan nasal kanul pasien tampak bersih
 Memonitor status napas dan A : Masalah teratasi
oksigen sebagian

 Membuka jalan napas P : Lanjutkan intervensi


gunakan tekhnik chin lift
 Momposisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
dan keluarkan secret dengan
cara suction
 Memonitor respirasi dan
status oksigen
Dx2  Membuka jalan nafas, S : - keluarga mengatakan
gunakan teknik chin lift atau pasien masih sesak -
jaw thrust bila perlu Keluarga pasien
 Memposisikan pasien untuk mengatakan gerakan
memaksimalkan ventilasi dinding dada masih tidak
 Melakukan fisioterapi dada setabil
jika perlu O : - klien tampak sesak
 Mengauskultasi suara nafas, - RR : 30x/m
catat adanya suara tambahan A : masalh belum teratasi
 Mengatur intake untuk P : lanjutkan intervensi
cairan mengoptimalkan
keseimbangan
 Memonitor respirasi dan
status O2.
 Monitoring rata-rata,
kedalaman, irama dan usaha
respirasi
 Mencatat gerakan dada,
amati kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan,
retraksi otot supraclavicular
dan intercostals
 Memonitor suara nafas
seperti dengkur
 Mengauskultasi suara nafas,
catat area penurunan/tidak
adanya ventilasi dan suara
tambahan
 Mengauskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya
Dx3  Melakukan pengkajian nyeri S : - keluarga mengatakan
secara komprehensif pasien sudah bisa
termasuk lokasi, menenangkan nyeri yang
karakteristik, durasi, dialaminya
frekuensi, kualitas dan faktor - Pasien mengatakan nyeri
presipitasi berkurang setiap selesai
 Mengobservasi reaksi diberikan obat
nonverbal dari O : - Luka pasien tampak
ketidaknyamanan bersih - Bengkak pada
 Menggunakan tehnik pasien sudah mengecil
komunikasi teraupetik untuk A : Masalah teratasi
mengetahui pengalaman sebagian
nyeri pasien P : lanjutkan intervensi

 Mengkaji kultur yang


mempengaruhi respon nyeri
 Mengevaluasi pengalaman
nyeri masa lampau
 Mengevaluasi bersama
pasien dan tim kesehatan
lain tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
 Menentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 Mengecek intruksi dokter
tentang jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Mengecek riwayat alergi
 Memilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu

No Dx Interfensi Jenis Interfensi


Dx1 - Pastikan kebutuhan oral/suction bisa masuk interfensi
- Auskultasi suara napas sebelum dan sekunder dan tersier
sesudah suction
- Berikan oksigen menggunakan nasal
kanul - Monitor status napas dan oksigen
- Buka jalan napas gunakan tekhnik chin
lift
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasikeluarkan secret dengan cara
suction
- Monitor respirasi dan status oksigen
Respiratory Monitoring –Monitoring
ratarata, kedalaman, irama dan usaha
Auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya.
Dx2 Airway Management bisa masuk interfensi
- Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift sekunder dan tersier
atau jaw thrust bila perlu
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
- Keluarkan secret dengan batuk atau
suction
- Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
- Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan
- Monitor respirasi dan status O2.

Dx3 Pain management bisa masuk interfensi


- Lakukan pengkajian nyeri secara sekunder dan tersier
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
- Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
- Gunakan tehnik komunikasi teraupetik
untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang ketidakefektifan

Pain management
- Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
- Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
- Gunakan tehnik komunikasi teraupetik
untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau

Analgesic administration
- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
- Cek intruksi dokter tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgesik ketika pemberian
lebih dari satu
-Kolaborasi pemberian analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
-Kolaborasi pemberian secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA
Http://www.researchgate.net/publication/330357547_ASKEP_TRAUMA_THORAK
S_HEMATHORAKS (Diakses 03 Maret 2020)
https://www.slideshare.net/mobile/yusrendra/trauma-thoraks-75810439 (Diakses 06
Maret 2020)
Aru W, Sudoyo. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing
Hudak dan Gallo. (2011). Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan Holistik. Edisi -
VIII Jakarta: EGC
Nugroho, T. Putri, B.T, & Kirana, D.P. (2015). Teori asuhan keperawatana gawat
darurat. Padang : Medical book
Nurarif, A.H, dan Kusuma, H. (2015). APLIKASI Asuhan keperawatan berdasarkan
diagnosa medis & NANDA NIC-NOC , jilid 1. jogjakarta : penerbit buka Mediaction.
Patriani. (2012). Asuhan Keperawatan pada pasien trauma dada.
http://asuhankeperawatan-patriani.pdf.com/2008/07/askep-trauma-dada.html. Diakses
pada tanggal 02 Januari 2019
Rendy , M.C, & Th, M. (2012). Asuhan keperawatan medikal bedah penyakit dalam .
yogjakarta : Nuha medika