Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

KAJIAN EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN


THERMAL INSULATOR PADA RUANG BAKAR
TERHADAP PERFORMA MICRO GAS TURBINE
Marfizal, Sufiyanto
Program Studi Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STITEKNAS) Jambi
Kampus : Jl. Pattimura No. 100 (Eks. Gedung Transito) Telp. (0741) 62626

Abstrak

Peningkatan konsumsi BBM didalam negeri dan penurunan produksi minyak bumi telah
menyebabkan ekspor minyak bumi menurun, sebaliknya impor minyak bumi dan BBM terus
meningkat. Dibandingkan dengan minyak bumi, produksi gas bumi selama periode sepuluh
tahun terakhir relatif fluktuatif, dengan rata-rata produksi sekitar 3,07 juta Million Standard
Cubic Feet per tahun. Pemanfaatan gas bumi di sektor industri dan kelistrikan dapat menekan
biaya bahan bakar karena harga gas bumi relatif lebih murah dan bersih dibandingkan BBM.
Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai bahan bakar Micro Gas Turbine (MGT). MGT
didefinisikan sebagai pembangkit energi yang menghasilkan daya dibawah 200 kW. Dalam
sepuluh tahun terakhir, MGT telah diproyeksikan sebagai salah satu sistem pembangkit daya
maupun termal yang prospektif, baik secara teknis, dimensi, biaya, maupun lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan thermal insulator pada ruang
bakar terhadap performa Micro Gas Turbine dengan menggunakan bahan bakar gas LPG.
Dari pengujian yang telah dilakukan terhadap penggunaan thermal insulator pada ruang
bakar, diketahui efisiensi termal MGT meningkat sebesar 3%, putaran (RPM) dari MGT
meningkat sebesar 1,94%, daya output pada alternator meningkat sebesar 3,45%, kerja turbin
meningkat sebesar 5,62%, kerja bersih meningkat sebesar 6,04%, dan daya yang dihasilkan
180 W pada laju aliran bahan bakar 0,0096 kg/s.

Kata Kunci: Pembangkit Energi, Micro Gas Turbine, Gas Bumi

PENDAHULUAN

Sejalan dengan meningkatnya laju pembangunan dan meningkatnya pola hidup


masyarakat, konsumsi energi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan
ini terjadi hampir pada semua sektor yang mencakup sektor industri, transportasi, komersial,
rumah tangga, pembangkit listrik dan sektor lainnya [1].
Perkembangan produksi dan pasokan minyak bumi selama 2003 - 2013 menunjukkan
kecenderungan menurun, masing-masing sebesar 419,26 juta barel pada tahun 2003 dan
menjadi sekitar 300,83 juta barel pada tahun 2013. Penurunan produksi tersebut disebabkan
oleh sumur-sumur produksi minyak bumi yang umumnya sudah tua sementara produksi
sumur baru relatif terbatas. Peningkatan konsumsi BBM didalam negeri dan penurunan
produksi minyak bumi telah menyebabkan ekspor minyak bumi menurun, sebaliknya impor
minyak bumi dan BBM terus meningkat. Dibandingkan dengan minyak bumi, produksi gas
bumi selama periode sepuluh tahun terakhir relatif fluktuatif, dengan rata-rata produksi sekitar
3,07 juta Million Standard Cubic Feet (MMSCF) per tahun [1]. Pemanfaatan gas bumi di

1
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

sektor industri dan kelistrikan dapat menekan biaya bahan bakar karena harga gas bumi relatif
lebih murah dan bersih dibandingkan BBM [1]. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai
bahan bakar Micro Gas Turbine (MGT). MGT didefinisikan sebagai pembangkit energi yang
menghasilkan daya dibawah 200 kW [2]. Pembangkit energi skala mikro ini memiliki
beberapa keunggulan, diantaranya biaya pemeliharaan dan operasi yang rendah,
pengoperasian yang mudah, dan bersifat mobile.
Dalam penelitian ini akan dikaji seberapa besar pengaruh penggunaan thermal insulator
pada ruang bakar terhadap performa Micro Gas Turbine dengan menggunakan bahan bakar
LPG.

TINJAUAN PUSTAKA
Turbin gas adalah mesin yang memanfaatkan gas sebagai fluida kerja. Turbin gas pada
umumnya digunakan pada pesawat terbang dan power plant. Proses pembakaran pada turbin
gas terjadi secara kontinu (terus-menerus). Di dalam sistem turbin gas energi kimia dari
proses pembakaran dikonversikan mejadi energi mekanik berupa putaran yang menggerakkan
sudu turbin.
Turbin gas menghasilkan proses pembakaran dengan cara mencampur udara bertekanan
tinggi, hasil kompresi dari kompresor, dengan bahan bakar gas atau bahan bakar cair, serta
pemicu dari busi di ruang bakar. Gas bertekanan tinggi hasil proses pembakaran tersebut
kemudian digunakan untuk memutar turbin. Bagian turbin yang berputar disebut rotor,
sedangkan bagian turbin yang diam disebut stator atau rumah turbin. Rotor yang memutar
poros daya yang menggerakkan beban (generator, kompresor, pompa, dan lain-lain).

Jenis Turbin Gas

Berdasarkan Siklus Gas Buangnya


Terdapat dua sistem turbin gas berdasarkan siklus gas buangnya, yaitu sistem terbuka dan
sistem tertutup. Pada turbin gas sistem terbuka, gas buang dialirkan ke lingkungan tanpa
diolah lagi untuk dialirkan kembali ke ruang bakar. Sedangkan pada sistem tertutup, gas
buang dimanfaatkan kembali panasnya untuk proses pembakaran selanjutnya yang kemudian
dialirkan kembali ke ruang bakar.

Berdasarkan Jumlah Porosnya


Berdasarkan jumlah porosnya, turbin gas dibagi menjadi 2, yaitu turbin gas poros tunggal
(gas turbine single shaft) dan turbin gas poros ganda (gas turbine double shaft).

Gambar 1. Turbin gas poros tunggal

Turbin gas poros tunggal digunakan untuk menggerakkan beban yang tetap, seperti
generator listrik yang menghasilkan energi listrik untuk keperluan industri.

2
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

Gambar 2. Turbin gas poros ganda

Turbin gas poros ganda terdiri dari turbin bertekanan tinggi (turbin utama) dan turbin
bertekanan rendah (turbin daya), dimana turbin gas ini digunakan untuk menggerakkan beban
yang berubah-ubah (fluktuatif) seperti kompresor pada unit proses. Penelitian ini
menggunakan jenis turbin gas poros ganda.

Power Turbine
Karena momen putar Micro Gas Turbine ini sangat rendah, maka beban digerakkan oleh
turbin daya (power turbine) yang terpisah dari Micro Gas Turbine. Dalam hal ini beban yang
digerakkan adalah sebuah alternator mobil dengan tujuan untuk menghasilkan energi listrik.
Dengan adanya power turbine, maka Micro Gas Turbine tidak dipengaruhi oleh perubahan
beban atau kondisi operasi. Berikut adalah gambar untuk power turbine:

Gambar 3. Power Turbine

Siklus Brayton
Sebuah pembangkit daya turbin gas sederhana bekerja sesuai dengan siklus Joule atau
siklus udara standar Brayton. Namun pada kenyataannya, siklus turbin gas ideal tidak dapat
dilaksanakan dalam praktek, karena adanya gesekan di dalam kompresor dan turbin.
Penambahan aliran gas melewati ruang bakar dan turbin akibat adanya penambahan massa
bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar, perubahan kalor spesifik, dan terjadinya
kerugian tekanan di dalam ruang bakar [3].
Berikut adalah beberapa parameter dan rumus yang berhubungan dengan efisiensi termal
Micro Gas Turbine:
𝑘
𝑇 𝑘−1
P2 = P1(𝑇2 ) ........................................ (1)
1
P3 = P2 (1- ΔPrb)..................................... (2)
P4 = Harga Perbandingan Tekanan . P1 (3)

3
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

Wc = h2 – h1 ........................................... (4)
WT = h3 – h4 ........................................... (5)
qin = h3 – h2 ............................................ (6)
Wnett = WT – Wc..................................... (7)
𝑊
Bwr = 𝑐 ............................................... (8)
𝑊𝑇
𝑊𝑛𝑒𝑡
ηth = ............................................... (9)
𝑞𝑖𝑛
Dimana:
P1 = tekanan udara sekitar (bar)
P2 = tekanan udara masuk ruang bakar
(bar)
P3 = tekanan di ruang bakar (bar)
P4 = tekanan keluar turbin (bar)
ΔPrb = kerugian tekanan pada ruang
bakar (bar)
T2 = temperatur udara masuk ruang
bakar (Kelvin)
T1 = temperatur udara sekitar (Kelvin)
k = rasio kalor spesifik.
h1 = entalpi udara spesifik masuk
kompresor (kJ/kg)
h2 = entalpi udara spesifik keluar
kompresor (kJ/kg)
h3 = entalpi gas keluar ruang bakar
(kJ/kg)
h4 = entalpi spesifik gas keluar turbin
(kJ/kg)
Wc = kerja kompresor (kJ/kg)
WT = kerja turbin (kJ/kg)
qin = panas aktual yang masuk (kJ/kg)
Wnett = kerja bersih (kJ/kg)
Bwr = rasio kerja balik
ηth = efisiensi termal

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian eksperimental


(eksperimental research) yaitu melakukan pengamatan untuk mencari data sebab akibat
dalam suatu proses melalui eksperimen sehingga dapat mengetahui pengaruh thermal
insulator pada ruang bakar terhadap efisiensi termal Micro Gas Turbine.
Skema Pengujian

4
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

Gambar 4. Skema Pengujian Micro GasTurbine

Kondisi Pengujian
Data yang diperlukan dalam pengujian ini adalah:
1. Laju aliran bahan bakar
2. Temperatur udara sekitar
3. Temperatur udara masuk ruang bakar
4. Temperatur gas masuk turbin
5. Temperatur gas keluar turbin
6. Putaran Micro Gas Turbine
7. Daya yang dihasilkan

Objek Penelitian
Dalam penelitian ini ada 2 jenis ruang bakar: ruang bakar dengan penggunaan thermal
insulator dan ruang bakar tanpa thermal insulator.

Gambar 5. Ruang bakar dengan penggunaan thermal insulator

5
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

Gambar 6. Ruang bakar tanpa thermal insulator

Gambar 7. Micro Gas Turbine

Prosedur Menghidupkan Micro Gas Turbine.


1. Pengecekan kondisi Micro Gas Turbine, sistem pengapian, sistem bahan bakar, dan
sistem pelumas apakah sudah terpasang dengan benar.
2. Jika sudah terpasang dengan benar, hidupkan pompa oli biarkan oli bersikulasi.
3. Hidupkan blower untuk putaran awal sehingga menyebabkan Micro Gas Turbine
berputar.
4. Hidupkan pengapian.
5. Buka regulator bahan bakar sehingga bahan bakar tersebut terbakar. Gas hasil
pembakaran tersebut dapat menaikkan putaran Micro Gas Turbine.
6. Kemudian secara perlahan buka regulator bahan bakar sampai putaran ¼ dari putaran
penuhnya. Pada kondisi ini putaran Micro Gas Turbine dapat mencapai 10.000 rpm,
dengan begitu sistem pengapian dan blower dapat dimatikan, dan Micro Gas Turbine
dapat berputar sendiri.
7. Putaran Micro Gas Turbine dapat diatur dengan menggunakan regulator bahan bakar.
8. Buka regulator bahan bakar sampai putaran 2/4 dari putaran penuhya. Pada kondisi ini
Micro Gas Turbine sudah mampu memutar alternator.

6
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

Prosedur Pengujian Efisiensi Termal Micro Gas Turbine.


Setelah melakukan prosedur menghidupkan Micro Gas Turbine, maka dapat dilakukan
pengujian efisiensi termal pada Micro Gas Turbine. Prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Setelah putaran stabil, putar regulator gas sampai putaran ¾ dari putaran penuhnya.
2. Lakukan pengujian selama 5 menit, catat temperatur (T 1, T2, T3, T4), putaran, dan daya
disetiap menitnya.
3. Lakukan pengujian yang sama dengan menggunakan ruang bakar yang berbeda.
Prosedur Pengujian Daya Output Micro Gas Turbine.
Pengujian pada Micro Gas Turbine ini menggunakan alat prony brake. Prony brake adalah
suatu alat yang digunakan untuk mengukur torsi yang dihasilkan oleh mesin. Istilah dalam
‘brake horsepower’ adalah salah satu pengukuran daya yang berasal dari metode ini untuk
mengukur torsi (daya dihitung dengan cara mengalikan torsi dengan kecepatan sudut). Berikut
adalah gambar untuk prony brake:

Gambar 8. Neraca pegas digital adalah salah satu komponen prony brake
Adapun proses pengujian dengan menggunakan alat prony brake adalah sebagai berikut:
1. Persiapkan alat prony brake.
2. Tempatkan neraca pegas di antara poros Power Turbine. Kemudian lilitkan tali atau
sabuk pada poros tersebut.
3. Hidupkan Micro Gas Turbine, tunggu sampai putaran stabil.
4. Kencangkan tali atau sabuk sampai frekuensi rotasi poros berkurang dan kemudian
catat beban dan putaran yang terjadi.
5. Lakukan pengujian yang sama dengan menggunakan ruang bakar yang berbeda.
6. Gunakan data tersebut untuk mencari daya output Micro Gas Turbine.
7. Lakukan pengujian yang sama dengan menggunakan ruang bakar yang berbeda.

7
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Analisa Data

Ruang Bakar Tanpa Menggunakan Thermal Insulator

T1 T2 T3 T4 Daya
No. ṁf (kg/s) RPM
(0C) (0C) (0C) (0C) (Watt)

1 33 61 1002 647 19126


2 33 61 1002 648 20551
3 0,0096 33 61 1003 648 21469
174
4 33 61 1004 650 22747
5 35 64 1004 650 22806
Rata-Rata 33,4 61,6 1003 648,6 21339

Ruang Bakar Menggunakan Thermal Insulator

T1 T2 T3 T4 Daya
No. ṁf (kg/s) RPM
(0C) (0C) (0C) (0C) (Watt)

1 33 61 985 506 19315


2 33 61 986 506 20659
3 0,0096 33 61 986 507 21908
180
4 34 62 987 509 23188
5 34 63 987 509 23744
Rata-Rata 33,4 61,6 986,2 507,4 21762

8
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

• Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap Efisiensi Termal

41%
40% 40%
40%

Efisiensi Termal
39%
39%
38%
38%
37%
37%
37%
36%
36%
Tanpa Thermal Menggunakan
Insulator Thermal Insulator

Gambar 9. Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap Efisiensi Termal

• Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap Kerja Turbin (WT)


dan Kerja Bersih (Wnett)

433,4
440
430
420 410,32 405
410
(kJ/kg)

400
390 381,92
380
370
360
350
Kerja Turbin Kerja Bersih

Tanpa Menggunakan Thermal Insulator


Menggunakan Thermal Insulator

Gambar 10. Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap Kerja Turbin (WT) dan
Kerja Bersih (Wnett)

9
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

• Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap Daya Output


Alternator

182
180
180

Daya (Watt)
178
176
174
174
172
170
Tanpa Thermal Menggunakan
Insulator Thermal Insulator

Gambar 11. Grafik Pengaruh Penggunaan Thermal Insulator Terhadap DayaOutput


Alternator

Pembahasan
Gambar 9 menunjukkan kenaikan efisiensi termal sebesar 3% dengan penggunaan thermal
insulator pada ruang bakar. Hal ini dikarenakan panas aktual yang masuk ke ruang bakar
diserap secara maksimal oleh turbin yang menyebabkan kerja turbin (W T) dan kerja bersih
(Wnett) meningkat.
Gambar 10 menunjukkan kerja turbin dan kerja bersih meningkat masing-masing sebesar
23,08 kJ/kg dengan penggunaan thermal insulator pada ruang bakar. Hal ini dikarenakan
kerja turbin dan kerja bersih meningkat seiring dengan meningkatnya efisiensi termal.
Gambar 11 menunjukkan kenaikan daya output alternator sebesar 6 Watt. Hal ini
disebabkan torsi pada power turbine meningkat seiring dengan meningkatnya putaran Micro
Gas Turbine.

KESIMPULAN

Efisiensi termal tanpa menggunakan thermal insulator adalah 37%, sedangkan dengan
menggunakan thermal insulator sebesar 40%. Presentase kenaikan sebesar 3% ini
mempengaruhi beberapa parameter yang mendukung kinerja dari Micro Gas Turbine.
Diantaranya:
a) Torsi pada power turbine meningkat sebesar 1,6% dari 1,25 Nm ke 1,27 Nm.
b) Putaran (RPM) dari Micro Gas Turbine meningkat sebesar 1,94% dari 21339 rpm ke
21762 rpm.
c) Daya output pada alternator meningkat sebesar 3,45% dari 174 Watt ke 180 Watt.
d) Kerja turbin meningkat sebesar 5,62% dari 410,32 kJ/kg ke 433,4 kJ/kg.
e) Kerja bersih meningkat sebesar 6,04% dari 381,92 kJ/kg ke 405 kJ/kg.
DAFTAR PUSTAKA
1. www.esdm.go.id (diakses pada tanggal 12 Desember 2015)
2. Ahmad Indra Siswantara, Steven Darmawan, dan Efendi Manurung. 2011. Analisis
Unjuk Kerja Kompresor Sentrifugal dan Ruang Bakar Turbin Gas Mikro Proto X-1,
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
3. Budiardjo, I Made Kartika D, dan Budiarso (Penerjemah). 1989. Termodinamika
Terpakai, Teknik Uap dan Panas. Jakarta: Universitas Indonesia.

10
Jurnal Volume 6 No 1, No ISSN 2089-1873 (PDII-LIPI) Tahun 2016

4. Arismunandar. 2002. Pengantar Turbin Gas dan Motor Propulsi. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.
5. http://digilib.unpas.ac.id/files/disk1/118/jbptunpaspp-gdl-nopalzeind-5890-2-8.babi-
.docx (diakses pada tanggal 27 Januari 2016)
6. Harahap (Penerjemah). 1991. Termodinamika Teknik Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

11