Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PEMICU 2 BLOK 17

MAXILOFACIAL II

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
2018/2019

1
NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3

Ketua : Lucyana Rusida (170600030)


Sekretaris : Cindy Audria Pratiwi (170600028)

Anggota kelompok :
 Aisha Anindita (170600021)
 Maharani Syahnia Putri (170600022)
 Meidina Putri Harahap (170600023)
 Caterine Audrey Tarigan (170600024)
 Rahmadiana Lubis (170600025)
 Indri Safitri Harahap (170600026)
 Aminah Aprillia Lubis (170600027)
 Eskarisa Br Ginting (170600029)
 Jessica Chandra (170600131)
 Nindha Siti Moudy (170600132)
 Emie N Sitorus (170600133)
 Chandra Halim (170600134)
 Sally Cynthiana (170600135)
 Christy (170600136)
 Tisya Maulidia (170600137)
 Elizabeth Sihite (170600138)
 Christitania Br Ginting (170600139)
 Lutfiah Nanda (170600140)

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Temporomandibula joint (TMJ) atau yang disebut dengan sendi temporomandibula
adalah artikulari antara mandibula dan dua tulang pada basis cranii, yaitu os temporale. Sendi
ini adalah satu-satunya sendi yang terlihat bergerak bebas di regio kepala.
Temporomandibula joint merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap pergerakan
membuka dan menutup mulut, mengunyah serta gerakan ke lateral berdasarkan gerakan rotasi
dan translasi.
Gangguan atau kelainan pada sendi temporomandibula disebut dengan
Temporomandibular disorder. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap gangguan TMD
diantaranya adalah kondisi oklusal, trauma, stres emosional, dan aktivitas parafungsional.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang Temporomandibular
disorders dan kaitannya dengan pembedahan dan maxilofacial.

1.2 Deskripsi Topik


Nama Pemicu : Tidak bisa menutup mulut
Penyusun : Dr.Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM(K), Dr. dr. Farhat, Sp.THTKL(K)
Ricca Chairunnisa, drg. Sp.Pros(K).
Hari/ Tanggal : Rabu / 20 November 2019
Waktu : 07.30 – 09.30 Wib
Seorang laki-laki berusia 47 tahun datang ke RSGM USU dengan keluhan tidak bisa
menutup mulut. Berdasarkan anamnesis, pada saat pasien tertawa lebar , tiba-tiba pasien tidak
bisa menutup mulut. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini. Pasien
juga selalu terbiasa mengunyah makanan di sisi rahang sebelah kanan. Berdasarkan
pemeriksaan klinis, terlihat kehilangan gigi posterior pada rahang atas kiri dan rahang bawah
kiri.
More information :
Pada pemeriksaan klinis didapatkan pembengkakan pada regio distal gigi radiks 24,
terdapat benjolan pada regio vestibulum 24-26, permukaan licin, warna merah kebiruan dan
membran mukosa yang menutupi benjolan sangat tipis, palpasi krepitasi, ukuran sekitar 4 x 5
x 4 cm. Hasil FNAB di dapatkan cairan berwarna kuning jernih. Berdasarkan pemeriksaan
radiografi panoramik di dapatkan lesi radiolusen yang dibatasi garis radiopak dengan batas
tegas pada region 24-26 yang meluas ke arah sinus maksilaris kiri. Tidak di dapatkan resorbsi
akar gigi 24.

3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Jelaskan tahapan pemeriksaan yang harus dilakukan untuk menegakkan diagnosa!
Jawab:
1. Penampilan umum pasien
Saat pasien datang pertama kali ke klinik drg harus melihat penampilan umum pasien.
Penampilan umum dapat berupa cara berpakaian, raut wajah pasien, warna kulit pucat
atau tidak dan siapa pendamping pasien.
2. Anamnesis
Anamnesis bertujuan untuk mengidentifikasi pasien, dimana pasien biasanya datang
dengan keluhan gangguan fungsional sistem pengunyahan ( tiak bisa menutup mulut).
Anamnesis juga dapat berupa keluhan utama pasien untuk datang ke drg untuk merawat
keluhannya. Keluhan tersebut meliputi lokasi, waktu, quality of severe, penyebab/gejala
yang dirasakan serta faktor yang memperberat dari keluhan tersebut.
3. Pemerksaan klinis
a. Pemeriksaan extraoral
 Palpasi
Palpasi dilakukan dengan meraba daerah TMJ tepatnya didepan Tragus. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui apakah ada kelainan berupa pembengkakan atau spasme
otot. Palpasi juga dilakukan dengan meraba sistem otot pengunyahan seperti, M.
Temporalis, M. Masetter, M. Lateral dan medial pterigoid, M. Digastric dan perabaan
pada daerah kelenjar limfe dan M. Sternocleidomastoideus yang berada padarea
leher.
 Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan visual menggunakan panca indra yaitu mata untuk
memperhatikan asimetri wajah, sendi rahang, dan otot pada wajah.
 Auskultasi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendengar suara klicking dan krepitasi dengan
menggunakan stetoskop pada area TMJ.
 Range of motion
Dilakukan untuk mengukur pembukaan mandibula maksimum. Pemeriksaan ini dapat
diukur dengan menggunakan bantuan penggaris

4
b. Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat keadaan mukosa rongga mulut, gimgiva, gigi
geligi, palatum dan keadaan linggir pasien dikarenakan pada kasus ini ditemukan
adanya edentulus.
4. Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus ini adalah radiografi dan biopsi.
a. Radiografi
Radiografi yang dapat digunakan adalah panoramic, MRI, atau CT-SCAN. Panoramic
dapat digunakan untuk melihat bentuk anatomi TMJ, lokasi condylus, dan eminensia
artikularis. Panoramic juga dapat melihat lesi apikal seperti abses ataupun kista, namun
untuk melihat keadaan jaringan lunak yang lebih jelas lagi dapat dilakukan radiografi
MRI.
b. Biopsi aspirasi
Biopsi aspirasi adalah pengambilan suatu lesi yang dicurigai dengan menggunakan
needle dan srynge. Hasil dari biopsi aspirasi ini adalah berupa cairan dan sel dimana
nantinya caira tersebut diperiksa untuk mendapatkan diagnosis patologis.

2. Jelaskan beberapa kemungkinan diagnosa pada kasus di atas beserta diagnosa


bandingnya ?
Jawab :
Beberapa kemungkinan diagnosa pada kasus diatas adalah :
 Subluksasi TMJ : yaitu berubahnya posisi dari kondilus yang disebabkan hipermobilitas
mandibula. Pada kondisi yang serius kondilus bertranslasi ke anterior di depan eminensia
artikularis dan terkunci di posisi tersebut. Pada kasus ini yang terjadi adalah bilateral dan
terjadi spontan setelah membuka mulut terlalu lebar. Dislokasi yang persisten setelah
beberapa detik biasanya menjadi sakit dan sering berhubungan dengan spasme otot yang
parah.
 Dislokasi Temporomandibular Joint anterior superior : Dislokasi mandibula adalah
pergeseran kondilus ke anterior eminensia artikularis dan terpisah seluruhnya dari
permukaan artikulasi serta terkunci pada posisi tersebut. Kejadian ini juga dapat terjadi
karena menguap terlalu lebar, tertawa terlalu lebar. Dislokasi ini biasanya terjadi akibat
interapsi pada sekuens normal kontraksi otot saat mulut tertutup setelah membuka dengan
muskulus masseter dan temporalis mengangkat mandibula sebelum muskulus pterygoid

5
lateral relaksasi, mengakibatkan condylus mandibularis tertarik ke anterior ke tonjolan
tulang dan keluardari fossa temporalis.

Diagnosa Banding kasus diatas adalah :


 Reaksi Distonik : yaitu reaksi akut yang dikarakteristikkan dengan kontraksi involunteer
dari otot sehingga menyebabkan gerakan yang abnormal. Gejala terjadi setelah
mengonsumsi agent dopamine receptor-blocking. Etiologinya adalah karena
ketidakseimbangan dopamine-kolinergik pada ganglia basalis.
 Open Lock : yaitu ketidakmampuan menutup mulut secara tiba-tiba karena kondilus
terkunci didepan diskus yang tertinggal. Biasanya tidak separah dislokasi kondilus. Pada
gambaran radiografi akan terlihat bahwa posisi kondilus terletak dibawah eminensia,
bukan di depan.
Etiologi : Lubrikasi yang menurun sehingga frasi di antara diskus dan eminensia
bertambah. Diskus yang biasanya bergerak bersama dengan kondilus, tertinggal
dibelakang sehingga kondilus melewatinya dan tidak dapat kembali.

3. Jelaskan etiologi dari beberapa kasus tersebut !


Jawab :
Etiologi yang menyebabkan kelainan pada kasus diatas adalah :
 Tertawa lebar : pada skenario dikatakan bawa pasien tidak dapat membuka mulutnya
setelah tertawa lebar. Normalnya, pembukaan mulut adalah 4-6 cm. Tertawa terlalu lebar
dapat menyebabkan kondilus bergerak ke anterior dari eminensia artikularis. Kontraksi
dan spasme otot masseter dan otot pterygoid selanjutnya akan mengunci kondilus
sehingga menyebabkan menutup mulut menjadi terhalang.
 Mengunyah satu sisi : pada skenario dikatakan bahwa pasien hanya menggunakan gigi
bagian kanannya untuk mengunyah. Mengunyah satu sisi secara terus menerus memiliki
dampak yang buruk bagi sistem stomagtognasi dan TMJ. Hal ini menyebabkan posisi
akhir kondilus kanan&kiri menjadi asimetri yang diikuti oleh diskus artikularis
 Kehilangan gigi : pada skenario dikatakan bahwa pasien kehilangan gigi posterior pada
rahang atas dan bawah kiri. Hal ini juga dapat menyebakan terganggunya sistem oklusi
pasien dan akan mempengaruhi pergerakan dari TMJ, dimana menyebabkan gerakan
artikulasi menjadi tidak lancar.

6
4. Jelaskan rencana perawatan dari kasus tersebut !
Jawab :
1. Fase pre-elimenery (fase darurat)
- Melakukan reposisi kembali segera pada temporomandibular joint kemudian
dilakukan fiksasi dengan menggunakan headbandage.

2. Fase I (etiotropik)
- Pemberian dental healt education
- Kontrol plak dengan scalling
Evaluasi respon fase 1.
3. Fase III (restorative)
- Pembuatan alat prostetik yang ideal dapat diberikan pembuatan gigi tiruan lepasan
atau cekat sebagian untuk mengembalikan gigi yang hilang
Evaluasi keberhasilan fase 3 dengan pemeriksaan periodontal.
4. Fase IV
- Untuk mencegah kekambuhan dilakukan kontrol berkala
Reevaluasi kesehatan periodontal dan TMJ. Pelepasan head bandage dapat dilakukan
3-4 hari lalu evaluasi keberhasilan dan kontrol plak secara berkala 6 bulan sekali.

5. Jelaskan terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala gangguan sendi
rahang pada pasien tersebut !
Jawab :
Terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala gangguan sendi rahang tersebut adalah :
 Reposisi Mandibula : Reposisi mandibula dapat dilakukan secara manual dengan
menekan mandibula ke arah bawah untuk menarik otot levator dan selanjutnya
kebelakang untuk meletakkan kembali kedalam fossa. Pada kasus yang akut,
umumnya prosedur ini dapat dilakukan tanpa membutuhkan anastesi. Namun jika
terjadi lebih dari 2 jam, dibutuhkan terapi dengan penggunaan muscle relaxion otot
seperti diazepam untuk menghilangkan spasme otot dan analgesik untuk mengurangi
nyeri, diberikan 1 jam sebelum prosedur yang dapat diberikan per-oral atau injeksi
intravena.
Setelah dilakukan reposisi, selanjutnya dilakukan sedikit pijatan lembut
kemudian fiksasi dengan menggunakan head bandage. Kemudian instruksikan pasien

7
untuk diet lunak beberapa hari kedepan dan jangan membuka mulut terlalu lebar 1-2
minggu setelah reposisi.

6. Jelaskan diagnosa dan diagnosa banding dari kasus tersebut !


Jawab:
Diagnosa kelainan pada pasien ini adalah kista radikular.
Kista pada rahang terbagi menjadi dua yaitu odontogeik dam non-odontogenik. Pada
kasus ini termasuk pada kista odontogenik yaitu kista radikular. Kista adalah rongga
patologis yang berisi cairan kental atau semi liquid yang dibatasi oleh epithelium dan
dikelilingi dinding jaringan ikat yang berada pada jaringan lunak maupun jaringan keras.
Kista radikular adalah kista pada ujung apikal gigi yang berkembang dari degenerasi cystic
cell ephitellial mallasez. Ciri-ciri kista radikular sebagai berikut:
 Adanya benjolan dan ketika dipalpasi ada krepitasi
 Hasil FNAB adanya caira berwarna kuning jernih
 Berdasarkan radiografi terdapat lesi radiolusen dengan batas radiopak tegas
 Permukaan gingiva licin, dan berwarna merah kebiruan
Berdasarkan ciri diatas kasus tersebut termasuk dalam kategori kista radikular.

Diagnosis banding :
Periapikal granuloma adalah massa yang mengalami radang kronis ysng berkembang pada
bagian apeks gigi nonvital. Gambaran radiografinya radiolusen berbatas jelas dengan garis
radiopak tipis yang menunjukkan tulang sklerotik. Gambaran klinis kista dengan granuloma
hampir sama dimana terdapat benjolan yang berbentuk bulat atau oval, jika dipalpasi adanya
krepitasi dan keduanya terjadi pada gigi non-vital. Perbedaan dari keduannya dapat dilihat
dari gambaran radiografi dan hasil biopsi aspirasinya. Pada periapikal granuloma akan
dijumpai FNAB caira berwarna merah.

7. Jelaskan etiologi dan patofisiologi dari diagnosa pada kasus tersebut !


Jawab:
Etiologi : Etiologi pada kasus ini berupa adanya sisa radiks pada gigi 24 dan bakteri.
Patofisiologi :
Gigi dengan kondisi sisa akar yang kronis menyebabkan jaringan periapikal rentan
terhadap infeksi karena jaringan pulpa yang mati adalah media yang baik bagi pertumubuhan

8
mikroorganisme. Melalui foraamen apikal bakteri dapat menyebar ke jaringan periodontal
dan menyebabkan peradangan. Peradangan ini semakin lama akan membentuk lesi periapikal.
Selanjutnya epitel mallasez yang berada pada ligamen periodontal berproliferasi secara
ekstensif pada periapeks akibat adanya peradangan, kemudian dinding epitel terbentuk dari
sisa epitel mallasez yang merupakan bagian dari selubung hertwig akar yang tidak aktif.
Massa sel epitel tersebut akan berkembang sehingga bagian tengah semakin jauh dari
suplai nutrisi, akibatnya bagian tersebut akan mati dan terbentuklah rongga akibat akumulasi
cairan. Kista terus membesar karena adanya proliferasi dinding kista, sehingga terjadi
peningkatan tekanan hidrostatik pada lumen dan akumulasi cairan menyebar dan menekan sel
epitel yang membatasi kapsul fibrosa, kista juga dapat menyebabkan tulang mengalami
resobsi dikarenakan kista ekspansi kesegala arah karena tekanan perifer yang terus menerus
kejaringan.

8. Sebutkan rencana perawatan pada kasus tersebut !


Jawab :
1. Fase I
- Dental health education. Edukasi pasien tentang kelainan di rongga mulutnya lalu
jelaskan tahapan yang akan dilakukan pada pasien
- Kontrol plak dan kalkulus. Dapat dilakukan dengan scalling pastikan rongga mulut
pasien bebas dari plak dan kalkulus agar prognosis penjadi lebih baik.
Evaluasi keberhasilan fase 1
2. Fase II (surgical)
- Dilakukan untuk pengambilan kista pada rongga mulut teknik yang dilakukan
Enukleasi .

ENUKLEASI
Enukleasi adalah pengambilan atau penyinkiran seluruh jaringan kista yang terdapat
pada rahang atau rongga mulut. Dengan kata lain mengambil seluruh lesi kista tanpa terpisah.
Teknik ini bertujuan untuk meminimalisir tingkat kekambuhan yang terjadi dikarenakan
pengambilan secara menyeluruh.
Indikasi enukleasi : Pemilihan pengobatan untuk pembuangan kista dengan aman tanpa
merusak jaringan struktur yang berlebihan disekitarnya

9
Keuntungan enukleasi :

- Kebanyakan keuntungan enukleasi adalah dapat dilakukan pemeriksaan


histopatologic secara menyeluruh dari kista tersebut.
- Pasien tidak harus memperhatikan kebersihan rongga mulut yang ekstra dan
konstan pada daerah tersebut setelah penutupan flap pada kasus kista yang besar
maka healing akan lebih mudah terjadi berbeda dengan marsupiliasi yang harus
memperhatikan keadaan OH yang maksimal.

Teknik enukleasi sebagai berikut :


a) Dilakukan terlebih dahulu ekstraksi gigi diatasnya atau gigi yang sudah nonvital, pada
kasus radiks dapat dilakukan ekstraksi terlebih dahulu.
b) Pada lesi yang besar dapat dilakukan pembukaan flap mukoperiosteal pada sisi labial
dibantu dengan perioteal elevator, namun pada kasus kista kecil dapat dilakukan
enukleasi pada soket gigi tersebut dan dilakukan kuretase kista yang kecil tersebut.
c) Dengan menggunakan thin bladed curretage untuk memisahkan jaringan ikat
pembungkus kista dari tulang
d) Dengan menggunakan hemostat dilakukan pengambilan kista
e) Lihat apakah daerah tersebut sudah bersih dan tidak ada sisa kista yang tertinggal
f) Penutupan flap lalu lakukan penjahitan. dan isntruksikan pasca bedah.

3. Fase III
- Pembuatan alat proatetik seperti dilakukan pencetakan gigi untuk pembuatan gigi
tiruan lepasan atau cekat sebagi.
10
Evaluasi keberhasilan pada fase ini dengan melihan keadaan jaringan periodontal
4. Fase IV
Reevaluasi seluruh perawatan dengan kontrol berkala pasien dapat dilakukan
radiografi panoramik pada bulan ke 6 dan 12 untuk melihat keadaan rahang tersebut.
Karena pada kasus dikatakan bahwa kista sudah mulai mengarah ke sinus
maksilaris, maka penatalaksanaan agar sinus maksilaris tidak terkena adalah dengan
melakukan drainase pada sinus maksilaris dan memberikan instruksi pada pasien
pasca bedah untuk menghindari meniup terlalu kuat, menyedot-nyedot ludah,
menghisap-hisap soket, minum melalui sedotan atau merokok selama 24 jam pertama.

9. Jelaskan komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus tersebut !


 Wound Dehicence : Kegagalan mekanis pada insisi pembedahan, hal ini dapat
diperburuk dengan adanya penyakit sistemik pada pasien.

 Cedera saraf : Pada saat pengambilan kista tidak memperhatikan bentuk


anatomi dari persarafan sehingga mengenai sistem persarafan pasien dapat merasakan
kebas yang cukup lama bahkan seumur hidup.

 Vistula oro antral : Prosedur pembedahan pada area kista rahang atas dapat
menyebabkan terjadinya oro antral vistula dikarenakan bentuk anatomi rahang atas
yang berdekatan sengan sinus maksilaris.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Temporomandibular disorders dapat disebabkan oleh pembukaan mulut yang terlalu
lebar, menguyah sebelah sisi, dan karena hilangnya sebagian gigi yang akan menggangu
sistem stomagtognasi pada tubuh manusia. Perawatannya dapat dilakukan dengan reposisi
mandibula.
Kista dapat disebabkan oleh adanya sisa akar yang tidak dicabut, menyebabkan
bakteri dapat dengan mudah menginfeksi jaringan periodontal dan membentuk kista.
Perawatan dari kista adalah dengan enukleasi.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Fragiskos D. Oral Surgery. Ed. 2007. Springer: Verlag Berlin Heidelberg.


2. James R, dkk. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 7 th Ed. 2019. Elsevier:
Philadelphia.
3. Yuwono B. J Stomagtonatic. Penatalaksanaan Pencabutan gigi dengan Kondisi Sisa Akar
(Gangren Radiks). 2010. 7(2):89-95.
4. Setyawan E. Insisive Dental J. Gambaran Pola Densitas Kista Radikular pada sisa akar
dengan Cone Beam Computed Tomography (CBCT). 2017. 6(1):41-46

13