Anda di halaman 1dari 20

KOMUNIKASI, INFORMASI, EDUKASI (KIE) DALAM PELAYANAN

KEBIDANAN

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 9

AVILDA MIFTA HULZANA NH0418006

DEBYULVA LAI LEMBANG NH0418008

HELMIDAH MAKMUR NH0418018

YULIANTI BINE’ NH0418051

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA KEBIDANAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

NANI HASANUDDIN

MAKASSAR

2020
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah “Komunikasi, Informasi,
Edukasi (Kie) Dalam Pelayanan Kebidanan”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Makassar, 06 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................2

DAFTAR ISI............................................................................................................3

BAB I.......................................................................................................................3

PENDAHULUAN...................................................................................................3

A. Latar Belakang..............................................................................................3

B. Rumusan Masalah.........................................................................................4

C. Tujuan...........................................................................................................5

BAB II......................................................................................................................5

PEMBAHASAN......................................................................................................5

A. Pengertian......................................................................................................5

B. Tujuan KIE....................................................................................................7

C. Konseling Dalam Pelayanan Kebidanan.......................................................8

BAB III..................................................................................................................18

PENUTUP..............................................................................................................18

A. Kesimpulan.................................................................................................18

B. Saran............................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................19

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang dilihat dari jumlah penduduknya
ada pada posisi keempat di dunia, dengan laju pertumbuhan yang masih
relatif tinggi. Esensi tugas program Keluarga Berencana (KB) dalam hal
ini telah jelas yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban
pembangunan demi terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi
rakyat dan bangsa Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam UU No.10
Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga Sejahtera, definisi KB yakni upaya meningkatan kepedulian dan
peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan
keluarga guna mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Berdasarkan data dari SDKI 2002 – 2003, angka pemakaian
kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) mengalami peningkatan
dari 57,4% pada tahun 1997 menjadi 60,3% pada tahun 2003. Pada 2015
jumlah penduduk Indonesia hanya mencapai 255,5 juta jiwa. Namun, jika
terjadi penurunan angka satu persen saja, jumlah penduduk mencapai
264,4 juta jiwa atau lebih. Sedangkan jika pelayanan KB bisa ditingkatkan
dengan kenaikan CPR 1%, penduduk negeri ini sekitar 237,8 juta jiwa
(Kusumaningrum dalam Andy, 2011).
Alat kontrasepsi sangat berguna sekali dalam program KB namun
perlu diketahui bahwa tidak semua alat kontrasepsi cocok dengan kondisi
setiap orang. Untuk itu, setiap pribadi harus bisa memilih alat kontrasepsi
yang cocok untuk dirinya. Pelayanan kontrasepsi (PK) adalah salah satu
jenis pelayanan KB yang tersedia. Sebagian besar akseptor KB memilih
dan membayar sendiri berbagai macam metode kontrasepsi yang tersedia.
Kita selalu mendengarkan Istilah komunikasi informasi dan
edukasi. Setiap hari kita selalu melakukan komunikasi dengan orang-orang

1
sekitar kita.di dalam komunikasi yang kita lakukan di dalam nya kadang
kala mengandung sebuah informasi yang tersirat maupun tersurat. Namun
apakah komunikasi yang kita lakukan setiap hari itu sama dengan
komunikasi informasi dan edukasi? Sebuah komunikasi informasi dan
edukasi dalam pelayanan KB?pernahkah saudara berpikir bahwa ternyata
komunikasi informasi dan edukasi dapat merubah pengetahuan sikap dan
prilaku seseorang? Ternyata dengan KIE dapat merubah seseorang dari
yang awalnya yang tidak tahu dan tidak mau KB kemudian berubah
menjadi tahu dan pada akhirnya mau menjadi akseptor KB.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu komunikasi, informasi, edukasi (KIE) dalam pelayanan
kebidanan?
2. Apa tujuan KIE?
3. Bagaiman konseling dalam pelayanan kebidanan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi, informasi, edukasi (KIE)
dalam pelayanan kebidanan.
2. Untuk mengetahui tujuan KIE.
3. Untuk mengetahui konseling dalam pelayanan kebidanan.

2
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian
KIE Adalah Suatu proses penyampaian pesan ,informasi yang diberikan
kepada masyarakat tentang program KB baik menggunakan media seperti:
Radio,T ,Pers, Film,Mobil unit penerangan ,penerbitan ,kegiatan promosi ,
pameran dengan tujuan utama adlah untuk memecahkan masalah dalam
lingkungan masyarakat dalam meningkatkan program KB atau sebagai
penunjang tercapainya program KB.
1. Komunikasi
Penyampaian pesan secara langsung ataupun tidak langsung
melalui saluran komunikasi kepada penerima pesan, untuk
mendapatkan suatu efek (DEPKES RI, 1984).
Menurut Effendy (1998), komunikasi adalah pertukaran pikiran
atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti
dan saling percaya, demi terwujudnya hubungan yang baik antara
seseorang dengan orang lain. Komunikasi adalah pertukaran fakta,
gagasan, opini atau emosi antara dua orang atau lebih.
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk
mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan masyarakat,
dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi,
baik menggunakan komunikasi antar pribadi maupun komunikasi
massa (Notoatmodjo, 2003).
2. Informasi
Informasi adalah keterangan, gagasan, maupun kenyataan-
kenyataan yang perlu diketahui oleh masyarakat (BKKBN, 1993).
Sedangkan menurut DEPKES, 1990 Informasi adalah pesan yang
disampaikan.

3
Informasi  adalah suatu hal pemberitahuan / pesan yang diberikan
kepada seseorang atau media kepada orang lain sesuai dengan
kebutuhannya.
3. Edukasi
Pendidikan adalah proses perubahan perilaku kearah yang positif
(DEPKES RI, 1990). Menurut Effendy (1998), pendidikan
kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari
tenaga kesehatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus
dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan, baik
itu terhadap individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.
Pengertian secara khusus edukasi adalah   Suatu bentuk atau model
pelaksanaan organisasi soaial masyarakat dalam memecahkan
masalah yang dirasakan oleh masyarakat dengan pokok penekanan
sebagai hal berikut: Pemecahan masalah dan proses pemecahan
masalah
Pengembangan Provider merupakan bagian dari proses
pengembangan masyarakat secara keseluruhan.
B. Tujuan KIE
1. Meletakan dasar bagi mekanisme sosio kultural yang dapat menjamin
berlangsugnya proses penerimaan untuk memberikan informasi yang
sejelas-jelasnya tentang askep medis kontraksepsi kepada calon peserta
KB yang kemudian mengajak mereka untuk menggunakan cara
kontraksepsi yang sesuai dengan keinginan.
2. Meningkatkan pengetauan,sikapdan praktik KB sehingga tercapai
penambahan peserta baru.
3. Membina kelestarian peserta KB.
4. Mendorong terjadinya proses perubahan perilaku ke arah yang
positif,peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat (klien)
secara wajar sehingga perilaku yang sehat dan bertanggu jawab.

4
5. Sarana menggunakan metode KB dalam waktu yang cukup lama
sehingga berpengaruh terhadap kelahiran,taraf kesehatan ibiu dan
keluarga,serta tingkat kesejahteraan keluarga.
6. Membantu kilen dalam mengambil keputusan secara tepatdan cepat
pedoman untuk memilih metode.

Agar dapat melaksanakan KIE bidan harus mengetahui betul


setiap kelompok sasaran, sehingga bidan harus mengadahkan asumsi
sampai berapa jauh kemampuanya, tingkat daya jangkaunya,
kewenanganya untuk melakukan pembinaan atau menstimulir proses-
proses pelembagaan yang sedang berjalan. Apabila asumsi-asumsi ini
dapat dibuat dalam suatu inventarisasi, maka kemudian bidan dapat
menentuhkan target dari setiap tujuan yang ingin kita capai.

Keberhasilan KIE dapat di ukur dengan idikator sebagai


berikut:

1. Makin meningkatnya pelayanan/arus KIE sampai kepelosok-


pelosok yang semula belum terjangkau;
2. Makin meningkatnya jumlah-jumlah kelompok masyarakat yang
ikut menangani masalah KIE KB, terutama di wilayah / unit
daerah yang tadinya belum terjangkau pelayanan KIE;
3. Meningkatnya jumlah peserta baru dan peserta lestari/ aktif yang
mempunyai pengaruh terhadap penurunan tingkat kelahiran;
4. Meningkatnya kesadaran masyarakat dan individu bahwa masalah
Keluarga Berancana bukan hanya masalah medis, sosial, atau
lain-lainya, tetapi menyangkut kehidupan manusia;
5. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pengaruh
keberhasilan Keluarga Berencana.
C. Konseling Dalam Pelayanan Kebidanan
1. Pengertian Konseling
Konseling merupakan proses pemberian informasi objektif dan
lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduankomunikasi

5
interpesonal, teknik bimbingan dan penguasa pengetahuan klinik yang
bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini,
masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau
upaya mengatasi masalah tersebut.
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling oleh seseorang ahli (disebut konselor)
kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang
bermuarah pada teratasinya masalah yang di hadapi klien. Istilah
konseling pertama kali digunakan oleh Frank Personal di tahun 1908
saat ia melakukan konseling karier. Selanjutnya diadopsi oleh Card
Rogers yang kemudian mengembangkan pendekatan terapi yang
berpusat pada klien (clien centered).
Umumnya konseling berasal dari pendekatan humanistic dan client
centered. Konselor juga berhubungan dengan permasalahan sosial,
budaya, dan perkembang selain permasalahan yang berkaitan dengan
fisik, emosi, dan kelainan mental. Dalam hal ini, konseling melihat
klienya sebagai seorang yang tidak mempunyai kelainan secara
patalogis. Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan
klienya yang memungkinkan terjadintya dialog dan bukanya
pemberian terapi atau treatment. Konseling juga mendorong terjadinya
penyelesaian masalah oleh diri klien sendiri.
Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan
professional dan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya,
seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang
memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam
konseling. Tanpa didukung oleh penguasaan teknik-teknik konseling
yang memadai, niscaya bantuan yang diberikan kepada klien tidak
akan berjalan efektif.
Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang laindalam
membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalh melalui

6
pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan, kebutuhan, dan perassaan
klien
.
Proses melalui satu orang membatu orang lain dengan
komunikasi,dalam kondisi saling pengertian bertujuan untuk
membangun hubungan,orang yang mendapat konseling dapat
mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan cara tertentu suatu
dengan situasi, melalui pengalaman baru, memandang kesulitan
objektif sehingga dapatmenghadapi masalah dengan tidak terlalu
cemas dan tegang.
Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam
bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang
mendalam dan usaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli
(klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan
masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/sikap
dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan.
2. Tujuan Konseling
Konseling bertujuan untuk menghapus atau menghilangkan tingkah
laku maldaftif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru
yaitu tingkah laku adaftif diinginkan klien (Sugiharto, 2008).
Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama)
menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Adapun
tujuan khusus konseling adalah:
a. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi,
memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight
secara penuh.
b. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadianya.
c. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada
pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to
himself).

7
Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat berfikir bahwa
semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu
akan muncul dapat di atasi dengan baik.
3. Tugas konselor
a. Membuat klien memiliki penggetahuan yang lengkap dan tepat
mengenai berbagai obatt/alat kontrasepsi;
b. Membantu klien benar-benar mempertimbangkankepusan untuk
memilih dan menggunakan salah satu obat/alkon sesuai kondisi
dan keinginanya;
c. Memberikan kesiapan psikologis
d. Memberikan pertimbangan apakah klien sudah memenuhi
persyaratan berdasarkan riwayat reproduksi dan riwayat
penyakit;
e. Memberikan penjalasan tentang kemungkinan terjadinya
komplikasi/efek samping;
f. Pendokumentasian informed consent, informed choice dan
persyaratan lain yang dibutuhkan;
g. Menjadwalkan/merujuk klien untuk tindakan klien yang
diperlukan lebih lanjut;
4. Jenis Konseling
Komponen penting dalam pelayanan KB di bagi 3 tahapan yaitu:
1. Konseling awal
a. Bertujuan menetukan metode apa yang di ambil
b. Bila di lakukan dengan objektif langkah ini akan membantu
klien untuk memilih jenis KB yang cocok untuknya.

Yang perlu di perhatikan dalam lahkah ini :

a. Menanyakan langkah yang disukai klien


b. Apa yang diketahui tentang cara kerjanya,kelebihan dan
kekurangannya.
2. Konseling khusus

8
a. Memberikan kesempatan untuk bertanya tentangcara KB dan
membicarakan pengalamanya.
b. Mendapatkan informasi lebih rinci tentang KB yang di
inginkan
c. Mendapatkan bantuan untuk emilih metode KB yang cocok
dan
d. Mendapatkan penerangan lebih jauh tentang penggunaanya.
3. Konseling tindak lanjut
a. Konseling lebih bervariasi dari konselingawal.
b. Pemberian pelayanan harus dapat membedakan masalah yang
serius memerlukan rujukan dan masalah yang ringan yang
dapat diatasi di tempat.
5. Prinsip konseling
Konseling merupakan tahap yang penting dalam pelayanan kebidanan.
Melalui konseling provider membantu klien membuat dan
menentuhkan keputusan pilihanya tentang kesehatan reproduksi dan
keluarga berencana. Konseling baik membuat klien lebih puas,
membantu klien menggunakan keluarga berencana lebih lama dan
lebih berhasil. Konseling yang baik adalah melati, menjaga perilaku
dan menarik perhatian klien yang tidak memerlukan waktu lama. Ada
prinsip konseling:
a. Layani klien dengan baik
Menjadi provider adalah kehormatan, perlihatkan perhatian untuk
setiap kliendan ciptahkan rasa kepercayaan. Provider menunjukkan
klien bahwadia juga dapat membuka pembicaraan menjawab
pertanyaan klien secara lengkap. Provider harus menjamin
kerahasiaan perkataan klien.
b. Berinteraksi
Provider mendengarkan, mempelajari dan merespon klienya.
Masing-masing klien adalah orang yang berbeda.provider dapat
membantu yang terbaik melalui kesiapannya yang orang

9
perluhkan, perhatian dan situasi apapun. Provider member
semangat kepada klien untuk bicara dan menyampaikan
pertanyaanya.
c. Tujuan informasi kepada klien
Provider mendengarkan klien, mempelajari informasi apa yang di
perlukan masing-masing klien, juga untuk fase-fase kehidupan
seseorang mengusulkan informasi apa yang mungkin lebig penting.
Sebagai contoh, seseorang wanita mudah yang baru menikah
mungkin ingin lebih mengetahui tentang metode untuk
menjarangkan kelahiran. Wanita yang lebih tua mungkin ingin
lebih mengetahui tentang sterilisasi wanita dan vasektomi. Seorang
mudah yang belum menikah mungkin perluh lebih tahu tentang
menghindari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Provider memberikan informasi yang benar dalam bahasa
yang di mengerti klien.
d. Hindari informasi yang berlebihan
Klien memerlukan informasi untuk menentuhkan pilihan, tetapi
tidak semua klien dapat menggunakan semua informasi tentang
setiap metode keluarga berencana. Informasi yang berlebihan
membuatnya sulit mengingat informasi yang penting.
e. Layani metode yang diinginkan klien
Provider membantu klien menentuhkan pilihanya berdasarkan
informasi. Provider menghargai pilihan klienya. Jika klien
memutuskan menggunakan keluarga berencana atau membatalkan
keputusanya. Dalam konseling, provider meliputi kesiapan klien
mengggunakan suatu metode, meliputi keuntungan dan kerugian,
serta bagaimana menggunakanya. Provider juga mungkin
membantu klien berpikir metode lain, metode yang hampir sama
dan membandingkan antaranya. Dalam hal ini provider
meyakinkan klien untuk menentuhkan pilihanya. Bila klien

10
menggunakan metode yang diinginkan maka mereka akan
menggunakan lebih lama dan efektif.
f. Bantu klien siap dan mengingat
Provider menunjukkan contoh bahan-bahan/alat keluarga
berencana, mendorong klien untuk memegangnya dan
memperlihatkan bagaimana mereka. Provider menunjukkan dan
menerangkan dengan flipchart, poster atau laflet sederhana. Dari
waktu ke waktu provider meneliti bahwa klienya telah siap.

Konseling yang dilakukan bidan kepada klien (calon ekseptor


KB) meliputi 6 topik, yaitu sebagai berikut
1) Efektifitas bagaimana kemampuan KB dapat mencegah
kehamilan tergantung kepda penggunaanya (akseptor).
Banyaknya angkah kehamilan kerna kegagalan KB, tergantung
dari konsitensi dan ketepatan penggunaanya, cocok dan
tepatnya. Efektifitas KB. Tetapi banyak klien mempunyai
pertimbangan lain.
2) Untung dan rugi dari semua program KB penting untuk
disampaikan, mengingat kerugian bagi yang kebanyakan orang,
justru keuntungan bagi yang lainya. Contoh, seorang
cenderung memilih injeksi, sebaliknya yang lain justru
menghindarinya dengan alasan takut diinjeksi.
3) Efek samping dan komplikasi beritahu klien menegenai efek
samping dari metode KB tersebut. Kebanyakan metode
mempunyai efek samping yang hampir sama. Ingat, “efek
samping dan komplikasi dapat dikatakan sebagai suatu
kerugian”. Jadi bagaimana cara kita meminimalisasinya.
4) Bagaimana cara penggunaan efek samping guna menghindari
kegagalan. Pil sebagai contohnya perluh dingat dengan baik
kapan dan bagaimana meminumya, bagaimana pula
membecarakan kondom dengan patner seksualnya

11
5) Mencegah IMS termasuk HIV/AIDS telah merebak di berbagai
Negara. Konselor harus membantu klien memahami dan
mampu mengukur tingkt risiko untuk terkena IMS. Jelaskan
tentang metode A,B,C dan D untuk mencegah IMS dan
HIV/AIDS.
6) Kapan klien harus kembali. Hal dikarenakan banyak metode
yang mengaharuskan klien kembali ke klinik. Seprti IUD,
Inplant, MOW/MOP yang mengharuskan secara rutin kembali
ke tempat konseling. Konselor selalu memberikan anjuran
kepada klien untuk kembali kapanpun dan untuk pertimbangan
6. Langkah-langkah dalam konseling
a. Menciptakan suasanan dan hubungan yang saling percaya
b. Mengambil permasalahan yang di hadapi dengan calon
c. Memberikan penjelasan di sertai penunjukan alat-alat kontrasepsi
d. Membantu klien untuk memiliki alat kontrasepsi yang tepat untuk
dirinya sendiri.

Teknik Konseling Gallen Dan Leitenmaier 1987

Teknik koseling menurut Gallen dan Leitenmaier (1987), lebih dikenal


dengan GATHER yaitu:

G: GREET, berikan salam kenalkan diri dan buka komunikasi

A: ASK,tanyakan keluhan/kebutuhan pasien dan menilai apakah


keluhan/kebutuhan sesuai dengan kondisi yang di hadapi.

T: TELL,beritahukan persoalan pokok yang dihadapi pasien dari hasil


tukar informasi dan carikan upaya penyelesaiaanya.

H: HELP, bantu klien memahami danmenyelesaikan masalah.

E: EXPLAIN, jelaskan cara pilih telah dianjurkan dan hasil yang


diharpkan mungkin dapat segerah terlihat/diobservasi.

12
R: REFER/RETURN VISIT,rujuk bila fasilitas ini tidak dapat
memberikan pelayanan yang sesuai. Buat jadwal kunjungan ulang.

Langkah konseling KB SATU TUJU

Langkah SATU TUJU ini tidak perlu berurutan karena menyelesaikan


dengan kebutuhan klien.

SA: sapa dan salam

a. Sapa klien secara terbuka dan sopan


b. Beri perhatian sepenuhnya,jaga privasi pasien.
c. Bangun percaya diri pasien
d. Tanyakan apa yang perlu di bantu dan jelaskan pelayanannya apa
yang dapat di perolehnya.

T : tanya

a. Tanyakan informasi tentang dirinya .


b. Bantu klien pengalaman tentang KB dan kesehatan reproduksi
c. Tanyakan kontrasepsi yang di gunakan

U : uraikan

a. Uraikan pada klien mengenai pilihannya


b. Bantu klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingin serta
jelaskan jenis yang lain

TU: BANTU

a. Bantu klien berpikir apa yang sesuai dengan keadaan dan


kebutuhannya.
b. Tanyakan apakah pasangn mendukung pilihannya.

J: jelaskan

13
a. Jelaskan secara lengkap bagimana menggunakan kontarespsi
pilihanya setelah klien memiliki jenis kontrasepsinya
b. Jelaskan bagaimana penggunaanya
c. Jelaskan manfaat ganda dari kontrasepsi

U: kunjungan

Perlu di lakukan kunjungan ulang untuk dilakukan pemeriksaan atau


pemerintaan kontrasepsi jika di butuhkan.

7. Penapisan klien dan persyaratan medis


Penampiasan klien merupakan upaya untuk melakukan .telah dan
kajian tentang kondisi kesehatan klien dengan kesesuaian penggunaan
metode kontrasepsi yang di inginkan.
Tujuan utama penapisan lien untuk menentukan keadaan ysng
membantu perhatian khusus dan masalah ( misalnya diabetes atau
tekanan darah tinggi yang membuthkan pengamatan dn pengelola lebih
lanjut.
Untuk sebagian besar klien bisa diselesaikan dengan cara
anamnesis terarah, sehingga masalah utama dikenali atau
memungkinkan hamil dapat dicegah. Sebagian besar cara
kontrasepsi,kecuali AKDR dan kontrasepsi mantap tidak membutuhkan
pemeriksaan fisik maupun panggul. Pemeriksaan laboraturium untuk
klien keluarga berencana dan klien baru di perlukan karena:
a. Sebagian besar KB berusia muda (umur 16-35 tahun) dan umumnya
sehat
b. Pada wanita, masalah kesehatan reproduksi (misalnya kanker
genatalia dan kanker payudara, fibroma uterus) jarang di dapat umur
sebelum 35 tahun atau 40 tahun.
c. Pil kombinasi yang sekarang tersedia berisi estrogen danprogestron
lebih baik karena efek sampinya jarang menimbulkan masalah
medis

14
d. Pil progestin, suntikan,dan susukbebas dari efek yang berhubungan
dengan astrogen dan dosis progestin yang di keluarkan perhari
bahkan lebih renda dari pil kombinasi.
8. Informed conset ( persetujuan tindakan medis)
Informasi yang diberikan kepada calon/klien KB harus di
sampaikan selengkap-lengkapnya,jujur dan benar tentang metode
kontrasepsi yang akan di adakan oleh calon/klien KB tersebut.dalam
memberikan informasi penting sekali adanya komunikasi verbal antara
dokter dan klien.ada anggapan bahwa banyak klien sering melupakan
informasi lisan yang telah di berikan oleh dokter atau bidan. Maka dari
itu untuk mencegah hal tersebut perlu diberikan informasih tertulis.

15
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi Informasi dan Edukasi dalam pelayanan kebidanan
mempunyai tujuan antara lain mendorong dan meningkatkan
pengetahuan,sikap dan praktek KB pada masyarakat sehingga tercapai
penambahan peserta baru, dan kelestarian peserta KB.
Adapun jenis-jenis kegiatan dalam KIE antara lain KIE massa, KIE
kelompok KIE perorangan. Prinsip yang harus diperhatikan dalam
pelaksanaan KIE dalam memperlakukan klier dengan sopan, baik dan
ramah; memahami, menghargai dan menerima keadaan ibu; memberikan
penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami;
menggunakan alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari
kehidupan sehari-hari dan menyesuikan isi penyuluhan dengan keadaan
dan risiko yang dimiliki ibu.
B. Saran
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat khususnya bagi
para pembaca, masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa kebidanan dan
dapat menambah pengetahuan tentang lingkup praktik kebidanan.

16
Untuk itu penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk lebih
jauh memahami makalah ini dan dapat memberikan kritik dan saran yang
sifatnya membangun

DAFTAR PUSTAKA
Bakar, S. A. (2014). Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana Dalam
Tanya Jawab. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Melani, N. (2012). Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Citramaya.

Setiyaningrum, E. (2014). Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan


Reprodusi. Jakarta: Trans Info Media.

Sulistyawati, A. (2013). Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta: Salemba


Medika.

17