Anda di halaman 1dari 18

35 Rumah Adat Indonesia, Nama, Gambar,

dan Penjelasannya

Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan corak budaya yang sangat beraneka ragam.
Keberagaman budaya bangsa tersebut merupakan salah satu daya tarik dan menjadi kekayaan
tersendiri sebagai aset bangsa yang harus terus dilestarikan. Salah satu aset tersebut misalnya
keberagaman gaya arsitektur rumah adat dari banyak suku yang mendiami wilayah-wilayah di
Nusantara. Nah, di kesempatan ini kami akan mengupas tuntas semua arsitektur rumah adat  di
Indonesia tersebut sebagai upaya untuk memperkenalkan kembali budaya nenek moyang
kepada kita para generasi muda penerus bangsa.

Rumah Adat Indonesia


Di bagian pertama ini, kami akan membahas terlebih dahulu 10 rumah adat Indonesia yang
berasal dari provinsi dan suku-suku di sekitar Pulau Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan seterusnya sampai ke Provinsi Lampung.

1. Rumah Adat Aceh


Rumah adat Aceh bernama rumah Krong Bade. Terkadang rumah ini juga disebut dengan
nama Rumoh Aceh. Krong Bade adalah sebuah rumah panggung dengan tangga yang terletak
dibadian depan. Material penyusunnya hampir 100% berasal dari kayu. Adapun dalam proses
pengerjaannya, rumah ini tidak dilakukan secara sembarangan. Beragam ritual, mulai dari
pemilihan hari baik, upacara kenduri, dan pemilihan material dilakukan untuk mendapatkan
rumah yang nyaman untuk ditinggali.

Bagi masyarakat Aceh, selain berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan papan, rumah
Krong Bade juga memiliki fungsi sebagai identitas budaya. Kendati begitu, saat ini kita akan
semakin jarang menemukan rumah adat ini saat berkunjung ke Aceh. Selain karena biaya
pembuatannya yang lebih mahal dibandingkan rumah modern, biaya perawatan rumah ini pun
terbilang cukup besar. Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah adat Krong Bade
bisa Anda baca di link ini.
2. Rumah Adat Sumatera Utara
Rumah adat Sumatera Utara bernama Rumah Bolon. Rumah adat khas suku Batak ini dulunya
adalah tempat tinggal 13 raja yang berkuasa di Sumatera Utara. Adapun bila dirunut dari gaya
arsitekturnya, rumah bolon terdiri atas beragam jenis. Ada rumah Bolon Simalungun, rumah
Bolon Toba, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Pakpak, rumah Bolon Mandailing, dan rumah
Bolon Angkola. Jenis-jenis arsitektur rumah Bolon tersebut sangat dipengaruhi oleh kearifan dan
kondisi alam Sumatera Utara yang begitu luas.

Bentuk Rumah Bolon sendiri sama seperti rumah adat Sumatera lainnya, yaitu berwujud rumah
panggung dengan tangga di bagian depannya. Yang unik, jika dilihat dari atas rumah bolon akan
membentuk segi empat. Bentuk inilah yang menjadi ciri khas dari setiap jenis rumah Bolon.
Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah adat Bolon bisa Anda baca di link ini.

3. Rumah Adat Riau


Rumah adat Riau bernama Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar atau Balai Selaso Jatuh.
Sesuai namanya, rumah adat ini bukanlah diperuntukan sebagai tempat tinggal bagi masyarakat
Melayu Riau. Ia lebih digunakan sebagai balai pertemuan bagi setiap tetua adat untuk
melakukan musyawarah atau rapat-rapat adat.

Kendati bukan berfungsi rumah tinggal, rumah adat Selaso Jatuh Kembar tetaplah terbagi atas
beberapa sekat ruangan. Ada ruangan tempat bersila (digunakan untuk pertemuan) yang
berukuran lebih luas, ada dapur, dan ada kamar tidur. Selengkapnya tentang desain dan
karakteristik rumah adat Selaso Jatuh Kembar bisa Anda baca di link ini.
4. Rumah Adat Sumatera Barat
Rumah adat Sumatera Barat bernama Rumah Gadang. Tidak banyak yang tahu bahwa rumah
Gadang sebetulnya memiliki beberapa julukan dan sebutan lain, seperti Rumah Rumah
Bagonjong, Rumah Baanjuang, dan Rumah Gadang.

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan arsitektur dan bentuk rumah yang satu ini. Di setiap
penjuru kota, kita dapat melihat gambar Rumah Gadang di setiap rumah makan khas Padang.
Yang unik, rumah adat tradisional Minangkabau ini terletak di bagian atapnya yang menjulang
seperti tanduk kerbau. Selain itu, motif geometris yang menghiasi dinding rumah adat ini juga tak
kalah artistik. Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah adat Selaso Jatuh Kembar
bisa Anda baca di link ini.

5. Rumah Adat Kepulauan Riau


Rumah adat Kepulauan Riau bernama Rumah Belah Bubung. Dinamai demikian karena rumah
ini memiliki atap atau bubungan yang terbelah menjadi 2 sama besar. Seperti kebanyakan
rumah adat Melayu lainnya, rumah Belah Bubung juga memiliki wujud rumah panggung dengan
tangga tepat berada di bagian depannya.

Adapun bila dirunut lebih mendalam, rumah Belah Bubung sejatinya memiliki beberapa jenis lain
berdasarkan bentuk dari atapnya. Ada rumah atap layar (disebut juga ampar labu, atap bagian
bawah ditambah dengan atap lain), rumah lipat pandan (atapnya curam), rumah lipat kajang
(atapnya agak datar), rumah perabung panjang (perabung atapnya sejajar jalan raya), dan
rumah perabung melintang (perabung atapnya tidak sejajar jalan raya). Selengkapnya tentang
desain dan karakteristik rumah adat Belah Bubung bisa Anda baca di link ini.
6. Rumah Adat Kepulauan Bangka Belitung
Rumah adat Kepulauan Bangka Belitung bernama Rumah Panggung. Sesuai namanya, rumah
ini merupakan rumah panggung dengan tiang-tiang yang menyangga berdirinya rumah di atas
permukaan tanah setinggi hampir 2 meter.

Yang unik, rumah adat satu ini terletak pada adanya sebuah beranda rumah yang cukup luas di
bagian depannya. Beranda tersebut digunakan sebagai tempat menyambut tamu atau tempat
bersantai saat sore hari. Selain itu, rumah Panggung khas Bangka Belitung juga dilengkapi
dengan banyak sekali jendela yang mengatur sirkulasi udara yang masuk ke dalam rumah.
Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah adat Panggung bisa Anda baca di link ini.

7. Rumah Adat Jambi


Rumah adat Jambi bernama Kajang Leko. Rumah ini berwujud panggung dengan pembagian
ruangan yang telah diatur menurut adat. Ya, rumah Kajang Leko akan selalu ditemukan dalam 8
ruangan, yaitu jogan (tempat istirahat dan menyimpan air), serambi (tempat menerima tamu),
serambi dalam (tempat tidur tamu laki-laki), amben melintang (kamar pengantin), serambi
belakang (tempat tidur anak perempuan), laren (tempat menerima tamu perempuan), garang
(tempat menyimpan persediaan makanan), dan dapur.

Secara sekilas, arsitektur dari rumah Kajang Leko dapat Anda perhatikan seperti pada gambar di
samping. Adapun bila Anda ingin mengetahui seluk beluk dari detil rumah adat ini silakan Anda
baca link ini.
8. Rumah Adat Sumatera Selatan
Rumah adat Sumatera Selatan bernama Rumah Limas. Dinamai demikian karena bentuk atap
rumah ini memang tampak seperti sebuah limas. Dari segi arsitekturnya, rumah adat satu ini
memiliki beberapa keunikan, salah satunya ia memiliki lantai yang bertingkat-tingkat. Adapun
kebanyakan rumah limas memiliki luas lantai antara 400 sd 1.000 m2. Hampir semua bagian
rumah ini dibuat dari bahan dasar kayu. Khusus untuk tiang biasanya hanya digunakan kayu ulin
yang tahan air. Sementara dinding luar, lantai, dan pintu rumah digunakan kayu trembesu.

Selain terdapat di Sumatera Utara, rumah Limas juga dapat ditemukan di beberapa daerah lain
di Indonesia, termasuk bahkan terdapat di daerah Johor Malaysia. Di Johor sendiri, rumah
dengan bentuk seperti ini dinamai rumah Baju Kurung. Selengkapnya tentang desain dan
karakteristik rumah adat Limas bisa Anda baca di link ini.

9. Rumah Adat Bengkulu


Rumah adat Bengkulu bernama Rumah Bubungan Lima. Rumah ini berbentuk panggung
dengan dilengkapi banyak tiang penopang di bagian bawah lantainya. Material yang digunakan
dalam proses pembuatan rumah ini hampir 100% berasal dari bahan kayu. Kayu yang
digunakan dalam hal ini bukanlah sembarang kayu. Kayu yang dipilih hanyalah kayu-kayu yang
kuat, tahan lama, dan tidak mudah lapuk, misalnya seperti kayu Medang Kemuning.

Rumah Bubungan Lima sendiri terbagi atas 3 bagian utama, yaitu rumah bagian atas, rumah
bagian tengah, dan rumah bagian bawah. Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah
adat Bubungan Lima bisa Anda baca di link ini.
10. Rumah Adat Lampung
Rumah adat Lampung bernama Nuwou Sesat. Nama Nuwou Sesat sendiri berasal dari kata
Nuwou yang berarti dan Sesat yang berarti . Sesuai namanya, rumah Nuwou Sesat bukanlah
rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Rumah ini lebih digunakan sebagai tempat
perkumpulan pengurus-pengurus adat dan warga (Purwatin).

Kendati bukan merupakan rumah tinggal, Nuwou Sesat tetap terbagi atas beberapa ruangan
dengan fungsi tertentu, di antaranya Pusiban (ruang tempat musyawarah), Gajah Merem (tempat
Penyimbang beristirahat), Tetabuhan (tempat penyimpanan alat musik tradisional dan pakaian
adat Lampung), dan Kebik tengah (tempat tidur untuk anak penyimbang).

Seperti kebanyakan rumah adat Melayu lainnya, rumah Adat Lampung juga memiliki wujud
rumah panggung dengan beberapa tiang yang menopang tegaknya bangunan.

11. Rumah Adat Banten


Rumah Adat Provinsi Banten bernama Rumah Adat Suku Baduy. Dinama demikian karena
rumah adat ini memang merupakan rumah atau tempat tinggal dari Suku Baduy yang menjadi
suku asli tanah Banten.

Rumah adat Suku Baduy Rumah adalah rumah model panggung yang tiangnya tidak terbuat
dari kayu, melainkan hanya dibuat dari susunan batu-batu berukuran sedang. Meski merupakan
rumah panggung, dibandingkan rumah-rumah adat dari suku-suku di Sumatera, rumah adat ini
terbilang pendek. Tinggi tiangnya sering kali tidak lebih dari 1 meter.

Adapun selain menggunakan material berupa batu, rumah adat suku Baduy juga dibuat
menggunakan beberapa material lain. Alas lantainya terbuat dari papan kayu atau palupuh (bilah
bambu), dindingnya terbuat dari anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari daun alang-
alang yang disusun rapi.

Hingga kini, rumah adat Banten masih dapat kita temukan di dalam budaya masyarakat Baduy
yang bermukim di Banten Barat. Selengkapnya tentang rumah adat ini beserta gaya
arsitekturnya, silakan menuju link ini.

12. Rumah Adat DKI Jakarta


Rumah Adat Betawi dari DKI Jakarta bernama Rumah Kebaya. Dinamai demikian karena atap
dari rumah ini berbentuk seperti pelana yang apabila dilipat dan dilihat dari samping akan
tampak seperti lipatan kebaya. Selain Rumah Kebaya, orang Betawi juga mengenal 2 rumah
adat lainnya dalam budaya mereka, yakni Rumah Gudang dan Rumah Joglo. Kendati begitu, di
kancah nasional, Rumah Kebaya lah yang kerap jadi ikon dari budaya mereka.

Salah satu keunikan arsitektur rumah Kebaya terletak pada desain terasnya yang luas. Teras
luas ini memiliki filosofi bahwa masyarakat Betawi secara umum akan mudah menerima tamu
atau pendatang. Selain itu, ada beberapa keunikan lain yang jarang diperhatikan dari rumah
adati ini, di antaranya sumur keluarga biasanya terdapat di bagian depan, pemakaman keluarga
terdapat di bagian samping, sementara sekat rumahnya tidak permanen, melainkan dapat dilipat
atau digeser. Selengkapnya tentang rumah adat ini beserta gaya arsitekturnya, silakan menuju
link ini.

13. Rumah Adat Jawa Barat


Rumah Adat Provinsi Jawa Barat tidak memiliki nama khusus. Nama rumah adat Suku Sunda ini
berbeda-beda tergantung dari bentuk dan desain atap serta pintu rumahnya. Ada yang bernama
suhunan Jolopong, Capit Gunting, Badak Heuay, Tagong Anjing, Jubleg Nangkub, Perahu
Kemureb, dan Buka Pongpok. Dari semua nama-nama itu, suhunan Jolopong adalah bentuk
yang paling banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa di Jawa Barat.
Adapun dari segi material pembuatan, rumah adat Jawa Barat sebetulnya memiliki banyak
kesamaan dengan rumah adat Banten khas suku Baduy. Nyaris 100% bahan yang digunakan
murni berasal dari alam. Selengkapnya tentang rumah adat ini beserta gaya arsitekturnya,
silakan menuju link ini.

14. Rumah Adat Jawa Tengah


Rumah Adat Provinsi Jawa Tengah bernama rumah Joglo. Rumah Joglo sebetulnya tidak
hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah, melainkan juga dikenal oleh masyarakat suku
Jawa secara umum.

Rumah Joglo sendiri terbagi atas beberapa ruangan, di antaranya pendapa, pringgitan, dalem,
sentong, gandok tengen, dan gandok kiwo. Pendapa atau pendopo adalah bagian ruangan yang
paling luas. Biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan, tempat menyambut tamu, bahkan
sampai tempat pertunjukan wayang, gamelan, tari, dan kesenian tradisional Jawa lainnya. Yang
unik, pada pendopo rumah Jogolo dapat kita temukan beberapa tiang yang disebut soko guru,
soko pengerek, dan tumpang sari.

Bagian Pringgitan adalah ruangan penghubung antara pendopo dan rumah dalem. Antara
pringitan dan pendopo biasanya dibatasi seketsel, sementara antara pringitan dan dalem
dibatasi dengan gebyok. Fungsi pringgitan sendiri lazimnya adalah sebagai ruang tamu.
Selengkapnya tentang rumah adat ini beserta gaya arsitekturnya, silakan menuju link ini.

15. Rumah Adat Jawa Timur


Rumah Adat Provinsi Jawa Timur bernama Tanean Lanjhang atau dalam bahasa Indonesia
disebut Halaman Panjang. Tanean Lanjhang sebetulnya merupakan rumah adat atau tempat
tinggal bagi masyarakat Madura di Jawa Timur pada masa silam.

Salah satu keunikan dari pola rumah Adat Jawa Timur ini terletak pada sistem hirarki
kekerabatan yang diemban oleh masyarakat Madura saat akan membangun rumah. Biasanya,
dalam satu deret dari arah Barat ke Timur akan diisi oleh rumah rumah yang pemiliknya masih
dalam satu keluarga. Semakin timur, maka pemilik rumahnya akan terbilang semakin muda.
Begitu sebaliknya.

Selain itu, keunikan lain dari rumah adat ini terletak pada beragam ornamen penghiasnya,
seperti ukiran di bagian pintu, bentuk dipan atau tempat tidur, dan lain sebagainya.
Selengkapnya tentang rumah adat ini beserta gaya arsitekturnya, silakan menuju link ini.

16. Rumah Adat Yogyakarta


Rumah Adat Provinsi Jawa Timur bernama Bangsal Kencono Kraton. Rumah adat ini
sebetulnya tidak difungsikan sebagai tempat tinggal, mengingat masyaraka Yogyakarta yang
notabene adalah suku Jawa telah mengenal Rumah Joglo sebagai desain rumah tinggalnya.

Bangsal Kencono Kraton sendiri merupakan sebuah bangunan Pendopo dengan halaman
sangat luas, ditumbuhi tanaman, dan dilengkapi beberapa sangkar burung. Di bagian depan
bangunan ini terdapat dua patung dari Gupolo, sang raksasa yang memegang gada (sejenis alat
pemukul). Adapun untuk kegunaannya, Bangsal Kencono Kraton lebih difungsikan sebagai balai
pertemuan, balai pertunjukan, dan acara adat Jawa lainnya.

17. Rumah Adat Kalimantan Barat


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat bernama rumah Panjang. Rumah Panjang merupakan
gambaran dari kehiupan sosial masyarakat Dayak Kalimantan Barat. Rumah adat ini dihuni tidak
hanya oleh satu keluarga saja, melainkan oleh beberapa keluarga yang hidup saling bergotong
royong.

Ukuran rumah Panjang sendiri terbilang sangat besar, yakni panjang sekitar 180 meter, lebar 6
meter, dan tinggi mencapai  5 sd 8 meter. Dengan ukuran yang luar biasa besar tersebut, rumah
panjang akan terbagi menjadi 50 kamar atau ruangan dengan fungsinya masing-masing.
Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah Panjang khas Kalimantan Barat bisa Anda
baca di link ini.
18. Rumah Adat Kalimantan Selatan
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Selatan bernama Rumah Bubungan Tinggi atau Rumah Ba-
Bubungan Tinggi. Bubungan Tinggi adalah rumah dari suku Banjar, suku mayoritas penduduk di
Kalimantan Selatan. Dahulunya rumah Bubungan Tinggi merupakan pusat kerajaan sekaligus
menjadi istana kediaman raja.

Jika dilihat secara sekilas, Bubungan Tinggi akan tampak seperti rumah Bapang khas Betawi.
Akan tetapi, desainnya lebih cenderung lekat dengan konstruksi panggung serta dilengkapi
dengan adanya anjungan (anjung) di bagian kiri dan kanannya. Selain itu, rumah Bubungan
Tinggi juga memiliki ciri khas yaitu atap berbentuk sindang langit tanpa plafon dan tangga
naiknya selalu berjumlah ganjil. Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah Bubungan
Tinggi khas Kalimantan Selatan bisa Anda baca di link ini.

19. Rumah Adat Kalimantan Tengah


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Tengah bernama bernama rumah Betang. Rumah Betang
sebetulnya dapat dikatakan sebagai rumah suku dalam adat Dayak Punan. Hal ini dikarenakan
rumah ini biasanya dihuni oleh banyak keluarga yang menetap dan hidup bersamaan. Daya
tampung rumah betang sekitar 100 sd 150 orang, dengan satu Pembakas Lewu atau pemimpin
suku. Untuk menampung orang dengan jumlah tersebut, rumah Betang dibuat dengan ukuran
yang sangat besar, yakni panjangnya mencapai 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi tiang
sekitar 3 meter.

Rumah Betang khas Kalimantan Tengah dibuat mengikuti kaidah atau hukum adat yang telah
ditetapkan. Salah satunya yaitu rumah yang dibangun haruslah menghadap timur (arah matahari
terbit) dengan buritan menghadap ke barat (arah matahari terbenam). Selengkapnya tentang
desain dan karakteristik rumah Betang khas Kalimantan Tengah bisa Anda baca di link ini.
20. Rumah Adat Kalimantan Timur
Rumah Adat Provinsi Kalimantan Timur bernama rumah Lamin. Rumah lamin merupakan
rumah adat dengan ukuran yang sangat besar karena digunakan untuk menampung orang
dalam jumlah banyak. Ukuran rata-rata dari rumah lain biasanya berkisar pada tinggi 3 meter,
lebar 15 meter, dan panjang sekitar 300 meter. Dengan ukuran yang sedemikian besar, rumah
lamin dapat menampung 12 sd 30 keluarga atau sekitar 100 orang.

Rumah lamin dibuat dari kayu ulin, sejenis kayu hutan yang hanya terdapat di tanah Kalimantan.
Pada dinding-dinding rumah ini biasanya akan kita temukan beragam ukiran khas etnik dayak
yang sarat akan nilai filosofis. Ukiran tersebut juga diberi warna yang khas, seperti kuning, hitam,
dan hijau. Ukiran tersebut selain berfungsi menambah nilai estetis dari rumah yang dibangun,
juga dianggap memiliki daya spiritual yang mampu menjaga penghuni rumah dari segala mara
bahaya. Selengkapnya tentang desain dan karakteristik rumah adat Lamin khas Kalimantan
Timur bisa Anda baca di link ini.

21. Rumah Adat Kalimantan Utara


Rumah Adat Provinsi Kalimantan Utara bernama Rumah Baloy. Rumah Baloy merupakan
rumah tradisional masyarakat suku Tidung yang mendiami wilayah di Kalimantan Utara. Dari
bentuk dan modelnya, beberapa ahli menyebutkan bahwa rumah Baloy sebetulnya merupakan
pengembangan model rumah Lamin khas suku Dayak di Kalimantan Timur. Hal ini dapat dilihat
dari adanya tiang-tiang penyangga (soko guru) yang menopang tegaknya bangunan.

Rumah Baloy juga dibuat dari bahan kayu ulin yang kuat. Tidak seperti kayu lainnya yang akan
melapuk jika terkena air, kayu ulin justru akan semakin kuat apabila terendam atau langsung
bersentuhan dengan air.

Ada aturan khusus yang berlaku bagi setiap masyarakat suku Tidung jika hendak membangun
rumah Baloy. Salah satunya adalah rumah tersebut haruslah menghadap ke arah utara,
sementara pintu utamanya justru harus menghadap ke arah selatan.

22. Rumah Adat Sulawesi Barat


Rumah adat Sulawesi Barat bernama Rumah Boyang. Rumah Boyang adalah rumah adat yang
berfungsi sebagai tempat tinggal nenek moyang suku Mandar, Sulawesi Barat di masa silam.
Rumah Boyang memiliki gaya arsitektur yang unik. Ia dibuat dari susunan kayu kokoh yang
membetuk model panggung dengan tian-tiang penyangga setinggi 2 meter.

Rumah Boyang dihiasi dengan beragam pernik. Di dinding bagian luar dan dalam rumah
misalnya, kita dapat menemukan ukiran atau pahatan-pahatan yang khas. Selengkapnya
tentang keunikan rumah adat Sulawesi Barat ini, silakan baca penjelasan lengkapnya di link ini.

23. Rumah Adat Sulawesi Selatan


Rumah adat Sulawesi Selatan bernama Rumah Tongkonan. Rumah adat satu ini sudah sangat
populer hingga ke seluruh dunia karena arsitektur dan bentuknya yang sangat unik. Atap dari
rumah khas masyarakat suku Toraja ini berbentuk melengkung menyerupai bentuk perahu
seperti dapat dilihat pada gambar di samping.

Selain berfungsi sebagai rumah tinggal, Tongkonan juga menjadi identitas budaya dan kearifan
masyarakat Suku Toraja. Di bagian depan rumah ini umumnya terdapat susunan tanduk kerbau
yang dipajang rapi. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau suatu rumah, maka semakin besar
pula tingkat atau strata sosial pemilik rumah dalam kehidupan adat suku Toraja. Selengkapnya
tentang keunikan rumah adat Sulawesi Selatan ini, silakan baca penjelasan lengkapnya di link
ini.

24. Rumah Adat Sulawesi Tengah


Rumah adat Sulawesi Tengah bernama Rumah Tambi dan Rumah Souraja. Rumah Tambi
merupakan rumah yang digunakan oleh masyarakat suku Kaili sebagai tempat tinggal,
sementara Rumah Souraja digunakan oleh para bangsawan dan pembesar kerajaan.

Rumah Tambi umumnya berbentuk persegi panjang dengan atap yang besar menjulang ke atas.
Atap tersebut selain berfungsi sebagai peneduh juga ternyata berfungsi sebagai dinding rumah.
Adapun ukuran rumahnya sendiri terbilang sedang, yakni sekitar 5 x 7 meter.

Rumah Souraja memiliki gaya arsitektur dan ukuran yang berbeda dengan rumah Tambi,
selengkapnya tentang desain rumah adat satu ini, silakan menuju link ini.

25. Rumah Adat Sulawesi Tenggara


Rumah adat Sulawesi Tenggara bernama Banua Tada. Rumah adat ini merupakan tempat
tinggal bai masyarakat suku Wolio atau suku Buton. Banua Tada berbentuk seperti kebanyakan
rumah adat lainnya di Indonesia, yaitu berupa rumah panggung. Yang unik, rumah khas orang
Buton ini dapat berdiri tegak sekalipun tidak menggunakan satu paku pun untuk menguatkan
ikatan antar kayu, mereka menggunakan tali yang diperoleh dari alam.

Nama Banua Tada sendiri berasal dari kata Banua yang berarti Rumah dan Tada yang berarti
Siku. Oleh karena itu, rumah adat khas Sulawesi Tenggara ini juga dapat disebut Rumah Siku,
sesuai dengan gaya arsitekturnya. Selengkapnya tentang keunikan rumah adat Sulawesi
Tenggara ini, silakan baca penjelasan lengkapnya di link ini.

26. Rumah Adat Sulawesi Utara


Rumah adat Sulawesi Utara bernama Rumah Walewangko atau Rumah Pewaris. Rumah adat
ini merupakan rumah khas suku Minahasa di Sulawesi Utara yang hingga kini gaya arsitekturnya
masih kerap digunakan dalam bangunan rumah modern masyarakatnya.

Rumah Walewangko berbentuk rumah panggung dengan tiang penopang terbuat dari kayu yang
kokoh. Karena berbentuk rumah panggung, rumah Walewangko memiliki kolong rumah, yang
kemudian biasa digunakan untuk tempat penyimpanan hasil panen dan kandang ternak. Seperti
rumah adat dari daerah lainnya di Indonesia, rumah adat Sulawesi Utara ini juga dibagi ke dalam
beberapa ruangan, yaitu bagian depan (Lesar), bagian tengah (Sekey), dan bagian belakang
(Pores). Selengkapnya tentang keunikan dan bagian-bagian rumah adat Sulawesi Utara, silakan
baca penjelasan lengkapnya di link ini.

27. Rumah Adat Gorontalo


Rumah adat Gorontalo bernama rumah adat Dulohupa. Rumah adat ini merupakan rumah
panggung dengan pilar-pilar kayu dan atap yang artistik. Rumah Dolohupa merupakan salah
satu peninggalan budaya masyarakat suku Gorontalo. Sesuai namanya Dolohupa yang dalam
bahasa Gorontalo berarti Mufakat, maka rumah adat ini juga lebih difungsikan sebagai tempat
atau balai musyawarah masyarakat adat Bandayo Doluhupa.

Selain Doluhupa, masyarakat Gorontalo juga mengenal beberapa jenis arsitektur rumah adat
lainnya, seperti Rumah adat Po Boide dan Rumah adat Gobel.

28. Rumah Adat Bali


Rumah adat Bali bernama Gapura Candi Bentar. Dinamai demikian karena rumah ini dilengkapi
dengan sepasang gapura berukuran besar tanpa atap yang saling terpisah. Antar satu gapura
dengan gapura lain hanya dihubungkan dengan beberapa anak tangga. Gapura juga dilengkapi
dengan beragam ornamen khas Bali serta pajangan patung-patung yang merupakan simbol
budaya Bali.

Gambar di samping adalah gambar dari rumah adat Gapura Candi Bentar. Selengkapnya
tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari rumah adat satu ini, silakan Anda baca informasinya
di link ini.
29. Rumah Adat Nusa Tenggara Barat
Rumah adat Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Rumah Dalam Loka. Rumah Dalam Loka
sebetulnya merupakan rumah atau istana bagi raja-raja di Sumbawa di masa silam. Hal ini
sesuai dengan arti nama rumah tersebut, Dalam yang berarti Istana dan Loka yang berarti
Dunia.

Rumah Dalam Loka berukuran besar dan memiliki struktu panggung dengan bahan pembuatan
berupa kayu jati. Rumah adat ini terbagi atas beberapa ruangan seperti balairung, serambi
depan, dapur, dan ruang keluarga sultan. Ia juga memiliki 2 lantai seperti yang gambarnya dapat
dilihat pada kenampakan di samping. Selengkapnya tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari
Rumah Dalam Loka, silakan Anda baca informasinya di link ini.

30. Rumah Adat Nusa Tenggara Timur


Rumah adat Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Rumah Adat Musalake. Sesuai namanya,
Mosa Laki yang berarti Kepala Suku, maka Rumah Musalake juga merupakan rumah tinggal
bagi kepala suku Ende. Rumah tersebut digunakan untuk beragam keperluan adat, mulai dari
tempat digelarnya upacara ritual adat, hingga sebagai tempat bermusyawarah untuk
memutuskan suatu keputusan

Dilihat dari arsitektur bangunannya, rumah khas Suku Ende Lio disebut memiliki beberapa
keunikan struktur konstruksi. Salah satunya terletak pada bentuk atap yang menjulang tinggi ke
atas serta bentuk ruangannya yang persis perseg empat bila dilihat tampak atas. Selengkapnya
tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari Rumah Adat Musalake, silakan Anda baca
informasinya di link ini.
31. Rumah Adat Maluku
Rumah adat Maluku bernama Rumah Adat Baileo. Bagi masyarakat Maluku, Rumah Baileo
bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat penyimpanan benda suci, tempat
upacara adat, dan balai warga semata. Ia juga berfungsi sebagai representasi budaya Maluku
sekaligus identitas adat di kancah Nasional.

Rumah Baileo dapat dengan mudah diidentifikasi dari beberapa ciri spesifik yang terdapat pada
gaya arsitekturnya. Ukuran rumah Baileo yang sangat besar, modelnya yang berupa rumah
panggung, serta adanya beberapa ornamen etnik sebagai hiasan merupakan beberapa ciri
tersebut. Selengkapnya tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari rumah adat Baileo, silakan
Anda baca informasinya di link ini.

32. Rumah Adat Maluku Utara


Rumah adat Maluku Utara bernama Rumah Adat Sasadu. Rumah adat ini sebetulnya tidak
berfungsi sebagai tempat tinggal. Fungsi utamanya tak lain dan tak bukan adalah sebagai balai
pertemuan adat atau tempat digelarnya beragam upacara dan ritual. Fungsi utama dari Rumah
adat Sasadu sangat sesuai dengan gaya arsitekturnya yang nyaris tanpa dinding.

Gambar di samping adalah gambar dari rumah adat Maluku Utara ini. Jelas kita lihat bahwa
rumah ini memang tak dilengkapi dinding dan bahkan masih beralaskan tanah. Selengkapnya
tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari rumah adat Sasadu, silakan Anda baca informasinya
di link ini.
33. Rumah Adat Papua Barat
Rumah adat Papua Barat bernama Mod Aki Aksa. Mod Aki Aksa sendiri berarti Rumah Berkaki
Seribu. Dinamai demikian karena desain rumah adat suku Arfak ini dilengkapi dengan banyak
sekali tiang penyangga. Setiap tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu keras tersebut
diukir sedemikian rupa sebagai hiasan sekaligus sebagai pengusir kekuatan jahat yang bisa
mengganggu pemilik rumah.

Selain dalam budaya suku Arfak, rumah Mod Aki Aksa juga ditemukan dalam budaya suku-suku
Papua Barat lainnya seperti suku Doteri, suku Kuri, Sebyar, Moscona, Kambou, Onim, Sekar,
Mairasi, Maibrat, Imeko, Moi, Simuri, Irarutu, Tehit, Tipin, Maya dan suku Biak. Selengkapnya
tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari rumah adat Mod Aki Aksa, silakan Anda baca
informasinya di link ini.

34. Rumah Adat Papua


Rumah adat Papua bernama Rumah Honai. Rumah Honai merupakan rumah berbentuk kerucut
yang dibuat dari bahan jerami atau daun alang-alang yang disusun sedemikian rupa. Honai
biasanya terdiri dari 2 lantai, lantai pertama digunakan untuk tempat tidur, sementara lantai atas
digunakan untuk tempat berkumpul atau membakar api unggun.

Honai biasanya hanya berukuran sempit dengan tinggi tidak lebih dari 2,5 meter. Arsitektur ini
dirancang agar rumah honai dapat menahan hawa dingin khas iklim pegunungan Papua.

Honai dapat ditemukan dalam 3 peruntukan, yaitu untuk laki-laki (Honai), untuk perempuan
(Ebei), dan untuk kandang babi atau ternak (Wamai). Selengkapnya tentang desain, arsitektur,
dan filosofi dari rumah adat Honai, silakan Anda baca informasinya di link ini.
35. Rumah Adat Kep. Teluk Cendrawasih
Kep. Teluk Cendrawasih adalah provinsi Indonesia yang terakhir diresmikan dan menjadi
provinsi ke 35. Kendati terbilang baru, bukan berarti masyarakat Kep. Cendrawasih tidak
memiliki budaya. Adat dan budaya masyarakat suku Wamesa sebagai suku asli provinsi ini
justru telah berkembang sangat pesat. Hal ini dibuktikan salah satunya oleh keberadaan rumah
adat Kep. Teluk Cendrawasih bernama Rumah Lgkojei.

Rumah adat ini sebetulnya memiliki bentuk yang serupa dengan rumah Mod Aki Aksa atau
rumah Kaki Seribu khas Papua Barat. Namun, pada rumah Lgkojei bentuknya lebih mirip rumah
panggung, terdapat banyak ventilasi udara dan lubang cahaya, serta atapnya yang lebih tinggi.
Bisa dibilang rumah adat Lgkojei ini adalah rumah adat perkembangan dari rumah adat Mod Aki
Aksa. Selengkapnya tentang desain, arsitektur, dan filosofi dari rumah adat Lgkojei, silakan Anda
baca informasinya di link ini.

Nah, demikianlah rangkuman yang dapat kami buat tentang daftar nama rumah adat di
Indonesia beserta gambar dan penjelasannya. Semoga pemaparan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan mampu menyadarkan kita tentang betapa pentingnya melestarikan budaya
bangsa. Salam.