Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

A.    Masalah Utama
Prilaku Kekerasan

B.     Proses Terjadinya Masalah


1.   Pengertian
Prilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal
tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.
(Stuart dan Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal
tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.
(Stuart dan Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007; hal, 146).
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara
fisik maupun psikologis (Depkes, RI, 2000).
Sedangkan menurut Carpenito 2000, perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu-
individu beresiko menimbulkan bahaya langsung pada dirinya sendiri ataupun orang lain.
Jadi, perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan individu yang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.

2.   Etiologi
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga
diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku
sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan
negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang
diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak
mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan
keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.

3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perilaku Kekerasan


a.  Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan  menurut teori
biologik, teori psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan  oleh Towsend (1996 dalam
Purba dkk, 2008) adalah:
1)      Teori Biologik
Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku:
a)      Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls  agresif: sistem limbik,
lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi
atau menghambat proses impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi,
perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau
menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu
tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif.
Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat
impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. Pusat
otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.
b)   Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin)
sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten
dengan fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap
stress.
c)   Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik
karyotype XYY.
d)  Gangguan Otak
Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak
kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma
otak, yang  menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy,
khususnya lobus temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.
2)   Teori Psikologik
a). Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak  terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa
aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi
dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan
memberikan arti  dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan
pengungkapan secara terbuka terhadap rasa  ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.
a)   Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka
sendiri. Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh,
atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak memiliki persepsi ideal
tentang orang tua mereka selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan
yang dialaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang
dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka
dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.
3)   Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap
perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai
cara untuk menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak
kekerasan, apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat
terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang ribut dapat
berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial dapat menimbulkan kekerasan
dalam hidup individu.

b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan  dengan
(Yosep, 2009):
1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan  eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah
konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
2.    Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
3.    Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog
untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4.    Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai
seorang yang dewasa.
5.     Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak
mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.
6.    Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap
perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.
4.   Tanda dan gejala
Tanda dan gejala dari perilaku kekerasan yaitu;
a.       Muka merah dan tegang
b.      Pandangan tajam
c.       Mengatupkan rahang dengan kuat
d.      Mengepalkan tangan
e.       Jalan mondar-mandir
f.       Bicara kasar
g.      Suara tinggi, menjerit atau berteriak
h.      Mengancam secara verbal atau fisik
i.        Melempar atau memukul benda/orang lain
j.        Merusak barang atau benda
k.      Tidak memiliki kemampuan mencegah atau mengendalikan perilaku kekerasan

5. Rentang Respon
Rentang adaptif                                                             Respon Maladaptif

Asertif        frustasi            pasif                agresif                        kekerasan

Keterangan :
a.       Asertif
individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan
ketenangan.
b.      Frustasi
Individu gagal mencapai tujuan kupuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternative
c.       Pasif
Individu tidak dapat mengungkapkan perasaanya
d.      Agresif
Prilaku yang menyertai marah terhadap dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol
e.       Kekerasan
Perasan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya control
Perbandingan antara prilaku asertif, pasif, agrsif / kekerasan
Pasif Asertif Agresif
Isi Negatif menurun Positif dan Menyombongkan
pembicaraan menandakan diit, menwarkan diri, diri, memindahkan
contoh contoh : orang lain contoh
“dapatkah saya?” “saya dapat…. “ kamu selalu….”
“Dapatkah “saya akan…. “kamu tidak
kamu ?” pernah…”
Tekanan Cepat lambat , Sedang Keras dan mengotot
suara mengeluh.
Posisi badan Menundukan Tegap dan santai Kaku, cenderung
kepala
Jarak Menjaga jarak Mempertahankan Siap dengan jarak
dengan sikap acuh jarak yang dan menyerang orang
mengabaikan nyaman lain
Penampilan Loyo, tidak dapat Sikap tenang Mengancam posisi
tenang menyerang
Kontak mata Sedikit/ sama Mepmpertahanka Mata melotot dan di
sekali tidak n kontak mata pertahankan
sesuai dengan
hubungan

6. Pohon Masalah
Resiko tinggi mencederai orang lain, diri sendiri,dan lingkungan
Prilaku kekerasan

PPS
Halusinasi

Regimen terapeutik            HDR kronis                             isolasi sosial


Inefektif
Koping keluarga                 berduka disfungsional
Tdk efektif

7. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


a.    Prilaku kekerasan
b.   Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
c.    Perubahan persepsi sensori : halusinasi
d.   Harga diri rendah kronis
e.    Isolasi sosial
f.    Berduka disfungsional
g.   Penaktalaksanaan regimen terapeutik inefektif
h.   Koping keluarga inefektif
8. Data yang perlu dikaji
Masalah Keperawatan Data yang perlu di kaji
Perilaku Kekersan Subjektif
      Klien mengancam

      Klien mengumpat dengan kata-kata kotor

      Klien mengaatkan dendam dan jengkel

      Klien mengatakan ingin berkelahi

      Klien mengatakan menyalahkan dan menuntut

      Klien meremehkan

Objektif
       Mata melotot/pandangan tajam

       Tangan mengepal

       Rahang mengatup

       Wajah memerah dan tegang

       Postur tubuh kaku

       Suara keras

Faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku kekerasan, antara lain sebagai berikut:
a.       Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah
b.      Stimulus lingkungan
c.       Konflik interpersonal
d.      Status mental
e.       Putus obat
f.       Penyalahgunaan narkoba
9.   Diagnosa keperawatan.
Perilaku Kekerasan

10. Rencana Tindakan Keperawatan


a.   Tindakan Keperawatan untuk Klien
Tujuan:
1)      Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2)      Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3)      Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan
4)      Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan
5)      Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasannya
6)      Klien dapat mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik, spiritual, sosial dan dengan terapi
psikofarmakotika
Tindakan:
1)      Bina hubungan saling percaya.
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar klien merasa aman dan
nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus dilakukan saudara dalam rangka
membina hubungan saling percaya adalah mengucapkan salm terapeutik, berjabat tangan,
menjelaskan tujuan interaksi, serta membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
klien.
2)      Diskusikan kepada klien penyebab perilaku kekerasan yang terjadi dimasa lalu dan saat ini.
3)      Diskusikan perasaan klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan.
Diskusikan bersama klien mengenai tanda dan gejala perilaku kekerasan, baik kekerasan fisik,
psikologis, sosial, spiritual maupun intelektual.
4)      Diskusikan bersama klien perilaku secara verbal yang biasanya dilakukan pada saat marah baik
terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
5)      Diskusikan bersama klien akibat yang ditimbulkan dari perilaku marahnya. Diskusikan bersama
klien cara mengontrol perilaku kekerasan baik secara fisik (pukul kasur/bantal serta tarik nafas
dalam), obat-obatan, sosial/verbal (dengan mengungkapkan kemarahannya secara asertif)
ataupun spiritual (sholat/berdoa sesuai keyakinan klien).
b..  Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Tujuan:
Keluarga dapat merawat klien dirumah
Tindakan:
1)      Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan meliputi penyebab, tanda dan gejala,
perilaku yang muncul, serta akibat dari perilaku tersebut.
2)      Latih keluarga untuk merawat anggota keluarga dengan perilaku kekerasan
a)         Anjurkan keluarga untuk memotivasi klien agar melakukan tindakan yang telah di ajarkan oleh
perawat.
b)         Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada klien bila anggota keluarga dapat melakukan
kegiatan tersebut secara tepat.
c)         Diskusikan bersama keluarga tidakan yang harus dilakukan bila klien menunjukan gejala-gejala
perilaku kekerasan.
3)      Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi klien yang perlu segera dilaporkan kepada
perawat, seperti melempar/memukul benda/orang lain.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
MASALAH PERILAKU KEKERASAN

A. Proses keperawatan
1.      Kondisi :
DO : wajah agak memerah, nada suara tinggi dan keras, pandangan tajam
DS : Kien mengatakan benci dan kesal pada seseorang
2.      Diagnosa     : Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b/d        perilaku
kekerasan.
3.      TUK
a.       Membina hubungan saling percaya.
b.      Mendefinisikan penyebab marah

B.  Tindakan keperawatan
1.      Membina hubungan saling percaya dengan menggunakan prisip komunikasi teurapetik
a.          Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
b.         Perkenalkan diri dengan sopan sambil jabat tangan.
c.          Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d.         Jelaskan maksud hubungan interaksi.
e.          beri rasa aman dan sikap empati.
f.          lakukan kontak singkat dan sering.
2.   Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
a.          Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel atau kesal

Fase hubungan orientasi :


1.      Salam terapeutik :
Selamat pagi, nama saya Mahmur . Saya biasa dipanggil mas Mahmur, kamu namanya siapa ?
Saya akan menemani (nama pasien) disini.
2.      Evaluasi/ validasi
Kenapa (nama pasien) sampai dibawa kemari?
3.      Kontrak
opik               : Bagaimana kalau kita bercakap- cakap tentang tentang hal- hal yang menyebabkan (nama pasien)
marah- marah.
empat            : (nama pasien ) ingin bercakap- cakap dimana ? bagaimana kalau disini saja?
Waktu             : Mau berapa lama ? bagaimana kalau 10 menit.
Fase kerja
1.         Apa yang membuat (nama pasien) marah- marah dan membanting barang- barang ?
2.         Apakah ada yang membuat (nama pasien) kesal atau punya masalah lain ? coba ceritakan pada
saya.
3.         Apakah sebelumnya (nama pasien) pernah marah ? apakah penyebabnya?Apakah sama dengan
sebelumnya ?
Fase terminasi
1.         Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan (nama pasien) setelah kita bercakap- cakap ?
2.         Evaluasi obyektif
Coba sebutkan lagi, apa yang membuat (nama pasien) marah- marah ?
Bagus kalau (nama pasien) tahu.
3.         Rencana tindak lanjut
Baiklah waktu kita sudah habis. Nanti coba diingat- ingat lagi penyebab     marah yang lain.
4.         Kontrak yang akan datang
Topik            : Besuk kita akan bicara tentang tanda dan gejala orang yang marah- marah, atau perasaan (nama
pasien) saat marah dan cara marah yang biasa (nama pasien) lakukan.
Tempat         : Mau dimana kita bicara ? bagaimana kalau disini?
Waktu          : Besuk kita bertemu jam 09.00 ya. Da… sampai besuk. Jangan lupa.

PENGERTIAN

§ Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan (fitria, 2009).

§ Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan
individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008).

§ Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang membahayakan
secara fisik, baik kepada diri sendiri, maupun orang lain (Yoseph, 2007). Ancaman atau kebutuhan yang
tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang stress berat, membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol
kesadaran diri, misalkan: memaki-maki orang disekitarnya, membanting-banting barang, menciderai diri
dan orang lain, bahkan membakar rumah.

§ Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Menurut WHO (dalam Bagong. S,
dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap
diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan
besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau
perampasan hak

§ Menurut Townsend (2000), amuk (aggresion) adalah tingkah laku yang bertujuan untuk mengancam
atau melukai diri sendiri dan orang lain juga diartikan sebagai perang atau menyerang

§ Menurut Stuart dan Sundeen (1995), perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak
konstruktif

§ Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai
seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).

B. PENYEBAB

1. Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut teori biologik, teori
psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh Towsend (1996 dalam Purba dkk, 2008) adalah:
a. Teori Biologik

Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku:

1) Neurobiologik

Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif: sistem limbik, lobus frontal dan
hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses
impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada
gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan.
Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada
penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai
implikasi memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi
timbulnya perilaku agresif. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.

2) Biokimia

Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat


berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight
atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress.

3) Genetik

Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik karyotype
XYY.

4) Gangguan Otak

Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor
otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma otak, yang menimbulkan
perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.

b. Teori Psikologik

1) Teori Psikoanalitik

Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat
mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan
memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam
kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka
terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.

2) Teori Pembelajaran

Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka sendiri.
Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku
tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka
selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru
pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau
mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk
berperilaku kekerasan setelah dewasa.

c. Teori Sosiokultural

Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif.
Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan
masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari
bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai
/padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial
dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.

2. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan (Yosep, 2009):

a. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah
konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.

b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.

c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog
untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang
yang dewasa.

e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak
mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.

f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap

C. RENTANG RESPONS MARAH

Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif – mal adaptif. Rentang respon kemarahan
dapat digambarkan sebagai berikut : (Keliat, 1997).

§ Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa
merendahkan harga diri orang lain.

§ Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. Frustasi dapat
dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan
kemarahan.

§ Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami.
§ Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh individu. Orang
agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus
bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang
lain

§ Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada
keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Respon kemarahan dapat berfluktusi dalam rentang adaptif-maladaptif.

Laporan Pendahuluan Perilaku Kekerasan

D. TANDA DAN GEJALA

Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:

1. Fisik

a. Muka merah dan tegang

b. Mata melotot/ pandangan tajam

c. Tangan mengepal

d. Rahang mengatup

e. Postur tubuh kaku

f. Jalan mondar-mandir

2. Verbal

a. Bicara kasar

b. Suara tinggi, membentak atau berteriak

c. Mengancam secara verbal atau fisik

d. Mengumpat dengan kata-kata kotor

e. Suara keras
f. Ketus

3. Perilaku

a. Melempar atau memukul benda/orang lain

b. Menyerang orang lain

c. Melukai diri sendiri/orang lain

d. Merusak lingkungan

e. Amuk/agresif

4. Emosi

Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak berdaya, bermusuhan,
mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

5. Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

6. Spiritual

Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang
lain, tidak perduli dan kasar.

7. Sosial

Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

8. Perhatian

Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

E. AKIBAT DARI PERILAKU KEKERASAN

Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan
lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

F. PROSES MARAH

Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu.
Stress dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam.
Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan. Berikut ini digambarkan proses kemarahan :(Beck, Rawlins,
Williams, 1986, dalam Keliat, 1996)

Melihat gambar di atas bahwa respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara yaitu :
Mengungkapkan secara verbal, menekan, dan menantang. Dari ketiga cara ini cara yang pertama adalah
konstruktif sedang dua cara yang lain adalah destruktif.

Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan rasa bermusuhan, dan bila cara ini dipakai
terus menerus, maka kemarahan dapat diekspresikan pada diri sendiri dan lingkungan dan akan tampak
sebagai depresi dan psikomatik atau agresif dan ngamuk.

Pathway/ Patoflowdiagram

Pathway Perilaku Kekerasan

G. PERILAKU

Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :

Menyerang atau menghindar (fight of flight)

Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi
epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi
HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi,
kewaspadaan juga meningkat diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh
menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.

Menyatakan secara asertif (assertiveness)

Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku
pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena
individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis.
Di samping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.

Memberontak (acting out)

Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian
orang lain.

Perilaku kekerasan

Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
Laporan Pendahuluan Perilaku Kekerasan

Perilaku Kekerasan

H. MEKANISME KOPING

Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya
penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. (Stuart
dan Sundeen, 1998).

Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. Beberapa
mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis, 1998)

Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu
dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang
marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan
sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.

Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya
seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan
sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.

Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya
seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran
atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan
dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.

Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap
dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik
pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.

Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu
berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun
marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia
mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

I. PENATALAKSANAAN

Yang diberikan pada klien yang mengalami gangguan jiwa amuk ada 2 yaitu:

1. Medis
a. Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia.

b. Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri.

c. Thrihexiphenidil, yaitu mengontro perilaku merusak diri dan menenangkan hiperaktivitas.

d. ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila mengarah pada keadaan amuk.

2. Penatalaksanaan keperawatan

a. Psikoterapeutik

b. Lingkungan terapieutik

c. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)

d. Pendidikan kesehatan

J. PERENCANAAN PULANG

Perawatan dirumah sakit akan lebih bermakna jika dilanjutkan dirumah. Untuk itu semua rumah sakit
perlu membuat perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan sesegera mungkin setelah klien
dirawat dan diintegrasikan didalam proses keperawatan.

Jadi bukan persiapan yang dilakukan pada hari atau sehari sebelum klien pulang.

Tujuan perencanaan pulang:

1. Menyiapkan klien dan keluarga secara fisik, psikologis dan sosial.

2. Klien tidak menciderai diri, orang lain dan lingkungannya.

3. Klien tidak terisolasi sosial

4. Menyelenggarakan proses pulang yang bertahap (Kelliat, 1992).

K. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi 4
tahapan yaitu : Pengkajian, perencanaan/intervensi, pelaksanaan/implementasi dan evaluasi, yang masing-
masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan professional tenaga keperawatan.

Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistimatis yang diterapkan dalam pelaksanaan fungsi
keperawatan, ide pendekatan yang dimiliki, karakteristik sistimatis, bertujuan, interaksi, dinamis dan
ilmiah. Proses keperawatan klien marah adalah sebagai berikut : (Keliat, dkk, 1996)
1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri
dari pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, dan perumusan masalah atau kebutuhan klien atau
diagnosa keperawatan.

Pengumpulan data

Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

§ Aspek biologis

Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin
sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat.
Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti
rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang
dikeluarkan saat marah bertambah.

§ Aspek emosional

Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin
memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.

§ Aspek intelektual

Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra
sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual
sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab
kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.

§ Aspek social

Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering
merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah
laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang
berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari
orang lain, menolak mengikuti aturan.

§ Aspek spiritual

Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang
bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan
amoral dan rasa tidak berdosa.

Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara komprehensif meliputi
aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut :

§ Aspek fisik: terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat, berkeringat, sakit
fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat.
§ Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel.

§ Aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.

§ Aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.

Klasifiaksi data

Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu data subyektif dan
data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini
didapatkan melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang
ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

Analisa data

Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapi klien dan
dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut.
Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.

Pohon masalah

Laporan Pendahuluan Perilaku Kekerasan

2. Diagnosa Keperawatan

“Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons aktual dan potensial dari individu,
keluarga, atau masyarakat terhadap masalah kesehatan sebagai proses kehidupan” (Carpenito, 2000).
Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada klien marah dengan masalah utama perilaku kekerasan
adalah sebagai berikut :

§ Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.

§ Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah.

No

Diagnosis

Rencana Tindakan

TUK/SP

Tindakan
1

Resiko perilaku kekerasan

TUM: Selama perawatan diruangan, pasien tidak memperlihatkan perilaku kekerasan, dengan criteria
hasil (TUK):

§ Dapat membina hubungan saling percaya

§ Dapat mengidentifikasi penyebab, tanda dan gejala, bentuk dan akibat PK yang sering dilakukan

§ Dapat mendemonstrasikan cara mengontrol PK dengan cara :

o Fisik

o Social dan verbal

o Spiritual

o Minum obat teratur

§ Dapat menyebutkan dan mendemonstrasikan cara mencegah PK yang sesuai

§ Dapat memelih cara mengontrol PK yang efektif dan sesuai

§ Dapat melakukan cara yang sudah dipilih untuk mengontrl PK

§ Memasukan cara yang sudah dipilih dalam kegitan harian

§ Mendapat dukungan dari keluarga untuk mengontrol PK

§ Dapat terlibat dalam kegiatan diruangan

Tindakan Psikoterapi

a. Pasien

§ BHSP

§ Ajarakan SP I:

o Diskusikan penyebab, tanda dan gejala, bentuk dan akibat PK yang dilakukan pasien serta akibat PK

o Latih pasien mencegah PK dengan cara: fisik (tarik nafas dalam & memeukul bantal)

o Masukkan dalam jadwal harian

§ Ajarkan SP II:

o Diskusikan jadwal harian


o Latih pasien mengntrol PK dengan cara sosial

o Latih pasien cara menolak dan meminta yang asertif

o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian

§ Ajarkan SP III:

o Diskusikan jadwal harian

o Latih cara spiritual untuk mencegah PK

o Masukkan dalam jadawal kegiatan harian

§ Ajarkan SP IV

o Diskusikan jadwal harian

o Diskusikan tentang manfaat obat dan kerugian jika tidak minum obat secara teratur

o Masukkan dalam jadwal kegiatan harian

§ Bantu pasien mempraktekan cara yang telah diajarkan

§ Anjurkan pasien untuk memilih cara mengontrol PK yang sesuai

§ Masukkan cara mengontrol PK yang telah dipilih dalam kegiatan harian

§ Validasi pelaksanaan jadwal kegiatan pasien dirumah sakit

b. Keluarga

· Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien PK

· Jelaskan pengertian tanda dan gejala PK yang dialami pasien serta proses terjadinya

· Jelaskan dan latih cara-cara merawat pasien PK

· Latih keluarga melakukan cara merawat pasien PK secara langsung

· Discharge planning : jadwal aktivitas dan minum obat

Tindakan psikofarmako

§ Berikan obat-obatan sesuai program pasien

§ Memantau kefektifan dan efek samping obat yang diminum

§ Mengukur vital sign secara periodic


Tindakan manipulasi lingkungan

§ Singkirkan semua benda yang berbahaya dari pasien

§ Temani pasien selama dalam kondisi kegelisahan dan ketegangan mulai meningkat

§ Lakaukan pemebtasan mekanik/fisik dengan melakukan pengikatan/restrain atau masukkan ruang


isolasi bila perlu

§ Libatkan pasien dalam TAK konservasi energi, stimulasi persepsi dan realita

DAFTAR PUSTAKA

Dadang Hawari, 2001, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Schizofrenia, FKUI; Jakarta.

Depkes RI, 1996, Direktorat Jendral Pelayanan Medik Direktorat Pelayanan Keperawatan, 2000,
Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan, Jakarta.

Depkes RI, 1996, Proses Keperawatan Jiwa, jilid I.

Keliat Budi Anna, dkk, 1998, Pusat Keperawatan Kesehatan Jiwa, penerbit buku kedokteran EGC :
Jakarta.

Keliat Budi Anna, 1996, Marah Akibat Penyakit yang Diderita, penerbit buku kedokteran EGC ; Jakarta.

Keliat Budi Anna, 2002, Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan, FIK, UI : Jakarta.

Rasmun, 2001, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga, Edisi 1, CV.
Agung Seto; Jakarta.

Stuart, GW dan Sundeen, S.J, 1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa, edisi 3, Penerbit : Buku Kedokteran
EGC ; Jakarta.

Townsend C. Mary , 1998, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC ;
Jakarta.

WF Maramis, 1998, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, penerbit : Buku Kedokteran EGC ; Jakarta.

LP PERILAKU KEKERASAN
PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian

Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu-individu beresiko menimbulkan bahaya langsung
pada dirinya sendiri ataupun orang lain (Carpenito, 2000).

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik
maupun psikologis (Depkes, RI, 2000).

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan dimana hal tersebut
untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif (Stuart dan Sundeen, 2005).

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007).

Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan
individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008).

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain disertai dengan amuk dan gaduh gelisah
yang tidak terkontrol (Kusumawati dan Hartono, 2010).

B. Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut teori biologik, teori
psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh (Purba dkk, 2008) adalah:

1. Teori Biologik

Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku:

a. Neurobiologik

Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif: sistem limbik, lobus frontal dan
hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses
impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada
gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan.
Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada
penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai
implikasi memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi
timbulnya perilaku agresif. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.

b. Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat
berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight
atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress.

c. Genetik

Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik karyotype
XYY.

d. Gangguan Otak

Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor
otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma otak, yang menimbulkan
perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsi, khususnya lobus temporal, terbukti
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.

2. Teori Psikologik

a. Teori Psikoanalitik

Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat
mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan
memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam
kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap
rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.

b. Teori Pembelajaran

Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka sendiri.
Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku
tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka
selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru
pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau
mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk
berperilaku kekerasan setelah dewasa.

3. Teori Sosiokultural

Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif.
Ada kelompok sosial yang secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan
masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari
bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai
/padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial
dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.
C. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan

dengan (Yosep, 2007):

1. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah
konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.

2. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.

3. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak

membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan

dalam menyelesaikan konflik.

4. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya

sebagai seorang yang dewasa.

5. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak
mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.

6. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap perkembangan,
atau perubahan tahap perkembangan keluarga.

D. Tanda dan Gejala

Yosep (2007) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:

1. Fisik

a. Muka merah dan tegang

b. Mata melotot/ pandangan tajam

c. Tangan mengepal

d. Rahang mengatup

e. Postur tubuh kaku

f. Jalan mondar-mandir

2. Verbal

a. Bicara kasar

b. Suara tinggi, membentak atau berteriak


c. Mengancam secara verbal atau fisik

d. Mengumpat dengan kata-kata kotor

e. Suara keras

f. Ketus

3. Perilaku

a. Melempar atau memukul benda/orang lain

b. Menyerang orang lain

c. Melukai diri sendiri/orang lain

d. Merusak lingkungan

e. Amuk/agresif

4. Emosi

a. Tidak adekuat

b. Tidak aman dan nyaman

c. Rasa terganggu, dendam dan jengkel

d. Tidak berdaya

e. Bermusuhan

f. Mengamuk, ingin berkelahi

g. Menyalahkan dan menuntut

5. Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.

6. Spiritual

Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang
lain, tidak perduli dan kasar.

7. Sosial

Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

8. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

E. Akibat Dari Perilaku Kekerasan

Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan
lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

F. Penatalaksanaan

1.Pengobatan medik

Beberapa obat yang sering digunakan untuk mengatasi perilaku agresif antara lain:

a. Anti ansietas hipnotiksedatif, contohnya diazepam (valium)

b. Anti depresan, contohnya Amitriptilin

c. Mood stabilizer, contohnya: Lithium, Carbamazepin.

d. Antipsikotik, contohnya: Chlorpromazine, Haloperidol, dan Stelazine

e. Obat lain: Naltrexone, Propanolol

f. ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila mengarah pada keadaan amuk.

2.Penanganan Secara Keperawatan

· Strategi tindakan keperawatan perilaku kekerasan disesuaikan sejauh mana tindakan kekerasan
yang dilakukan oleh klien. Strategi tindakan tersebut terdiri dari :

a. Strategi preventif, terdiri dari penyuluhan klein dan latihan asertif

b. Startegi antisipasi, terdiri dari komunikasi, perubahan lingkungan, tindakan perilaku dan
psikofarmakologi.

c. Strategi pengekangan, terdiri dari manajemen krisis, pengasingan dan pengikatan.

· Penyuluhan

Penyuluhan yang diberikan pada klien untuk mencegah perilaku kekerasan berisi :

a. Bantu klien mengidentifikasi marah

b. Berikan kesempatan untuk marah

c. Praktekan ekspresi marah


d. Terapkan ekspresi marah dalam situasi nyata

e. Identifikasi alternatif cara mengekpresikan marah

· Latihan Asertif

Adapun tujuan dari latihan asertif klien bisa berperilaku asertif yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai
berikut:

a. Berkomunikasi langsung dengan orang lain

b. Mengatakan tidak untuk permintaan yang tidak beralasan

c. Mampu menyatakan keluhan

d. Mengekspresikan apresiasi yang sesuai

Tahap latihan meliputi :

ü Diskusikan bersama klien cara ekspresi marah selama ini

ü Tanyakan apakah dengan cara ekspresi marah tersebut dapat menyelesaikan masalah atau justru
menimbulkan masalah baru

ü Anjurkan klien untuk memperagakannya

ü Anjurkan klien untuk menerapkan asertif dalam situasi nyata

G. Asuhan Keperawatan

a. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan perilaku kekerasan

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Data Subyektif :

· Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

· Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

· Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Data Obyektif :

· Mata merah, wajah agak merah.


· Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.

· Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

· Merusak dan melempar barang-barang.

2. Perilaku kekerasan

Data Subyektif :

· Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

· Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

· Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Data Obyektif ;

· Mata merah, wajah agak merah.

· Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.

· Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

· Merusak dan melempar barang-barang.

3. Gangguan harga diri : harga diri rendah

Data Subyektif:

· Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri
sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.

Data Obyektif:

· Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin
mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

b. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul:

a. Resiko Perilaku kekerasan

b. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

c. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan


c. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa 1 : Resiko Perilaku Kekerasan

TujuanUmum :

Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan:

· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan
tujuan interaksi.

· Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

· Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan:

· Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.

· Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.

· Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.

3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.

Tindakan :

· Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.

· Observasi tanda perilaku kekerasan.

· Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:

· Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

· Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

· Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"


5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Tindakan:

· Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.

· Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.

· Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :

· Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.

· Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga,
memukul bantal / kasur.

· Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung

· Secara spiritual : berdoa, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

7. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:

· Bantu memilih cara yang paling tepat.

· Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

· Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.

· Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.

· Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

8. Klien mendapat dukungan dari keluarga.

Tindakan :

· Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.

· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:

· Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping).
· Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).

· Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diagnosa II : Gangguan konsep diri: harga diri rendah

Tujuan Umum :

Klien tidak melakukan kekerasan

Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan:

· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan
tujuan interaksi.

· Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

· Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Tindakan:

· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

· Hindari penilaian negatif detiap pertemuan klien

· Utamakan pemberian pujian yang realitas

3. Klien mampu menilai kemampuan yang dapat digunakan untuk diri sendiri dan keluarga

Tindakan:

· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

· Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

4. Klien dapat merencanakan kegiatan yang bermanfaat sesuai kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

· Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.

· Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang klien lakukan.


· Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan

Tindakan :

· Beri klien kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

· Beri pujian atas keberhasilan klien

· Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :

· Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien

· Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat

· Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Diagnosa III : Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Tujuan umum :

- Pasien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Tujuan khusus :

- Pasien mendapatkan perlindungan dari lingkungannya

- Pasien mampu mengungkapkan perasaannya

- Pasien mampu meningkatkan harga dirinya

- Pasien mampu menggunakan cara penyelesaiaan masalah yang baik

Tindakan :

· Mendikusikan cara mengatasi keinginan mencederai diri sendiri, orang laain dan lingkungan

· Meningkatkan harga diri pasien dengan cara :

o Memberikan kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya


o Memberikan pujian jika pasien dapat mengatakan perasaan yang positif

o Meyakinkan pasien bahawa dirinya penting

o Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien

o Merencanakan yang dapat pasien lakukan

· Tingkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara :

o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya

o Mendiskusikan dengan pasien efektfitas masing-masing cara penyelesian masalah

o Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik