Anda di halaman 1dari 33

WALK THROUGH SURVEY

PT. ANEKA BUMI PRATAMA JAMBI

TANGGAL 11 SEPTEMBER 2019

KELOMPOK 1

HIGIENE INDUSTRI

Disusun oleh :

dr. Angela Vienty. TS dr. Putri Iffah Musyahrofah

dr. Ari Agustina dr. Reni Susanti

dr. Clinton Franda Markus S. dr. Ririn Octarina

dr. Cynthia Granita Ikramia dr. Septia Puji Mayasari

dr. Helena Kartika Utami dr. Stella Rosa

dr. Ika Handayani dr. Sulistiyaningsih

dr. Melisa dr. Tiya Safarini

dr. Oktovia Rezka Nurmaajid dr. Yuniasih Restu Putri

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA

KEMENTERIAN TENAGA KERJA RI

PERIODE 09-13 SEPTEMBER 2019

JAMBI

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ekonomi negara berkaitan erat dengan tingginya pertumbuhan penduduk
yang menjadi pasokan tenaga kerja di suatu perusahaan. Demi bersaing di era
globalisasi dewasa ini, para tenaga kerja tersebut pun dituntut untuk mengerti dan
memahami mekanisme produksi yang telah mengadopsi teknologi mutakhir.
Tentunya hal ini membutuhkan sistem, manajemen dan kebijakan yang holistik yang
menaungi para tenaga kerja tersebut, termasuk di dalamnya perlindungan atas
keselamatannya sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No.1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja.
Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya
disingkat SMK3, merupakan salah satu bagian dari manajemen perusahaan yang
membantu meminimalisir kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat kerja. SMK3
juga diharapkan dapat mengendalikan risiko pajanan lingkungan kerja yang mungkin
menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK). Lingkungan kerja yang baik sudah diatur
di beberapa peraturan seperti pada Permen Ketenagakerjaan RI no. 5 tahun 2018.
Higiene industri adalah suatu upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik,
kimia, radiasi dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan. Upaya ini terutama
dilakukan dalam hal pengamatan, pengumpulan data, merencanakan, dan
melaksanakan pengawasan terhadap segala kemungkinan gangguan kesehatan
tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan. Sedangkan menurut Suma’mur,
higiene perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta praktiknya
dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif dan
kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang
hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut.
Dan apabila diperlukan, berupa tindakan pencegahan agar pekerja dan masyarakat
sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta diharapkan dapat
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Perusahaan wajib melaksanakan SMK3 yang mana mencakup pengendalian
faktor fisika dan faktor kimia agar berada di bawah nilai ambang batas, pengendalian
faktor biologi, faktor ergonomi, serta faktor psikologi kerja agar memenuhi standar.
Perusahaan wajib pula menyediakan fasilitas kebersihan dan sarana Higiene di
2
Tempat Kerja yang bersih dan sehat, serta penyediaan personil K3 yang memiliki
kompetensi dan kewenangan K3 di bidang Lingkungan Kerja. Hal itu semua
bertujuan untuk mewujudkan Lingkungan Kerja yang aman, sehat, dan nyaman
dalam rangka mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK).
Mengingat SMK3 beserta higiene perusahaan merupakan hal yang krusial di
dalam suatu perusahaan, kami telah mengadakan kunjungan walktrough survey
pada hari Rabu, 10 September 2019 ke perusahaan PT. Aneka Bumi Pratama (ABP)
di daerah Pemayung, Batang hari, Jambi. Kunjungan perusahaan bagi tim penyusun
ini difokuskan untuk:
1. Mengetahui pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di PT. ABP
2. Mengidentifikasi potensi bahaya faktor fisik, kima, dan biologis di PT. ABP,
3. Mengetahui pengelolaan higiene dan limbah industri di PT. ABP.
Selanjutnya, dilakukan analisis masalah terhadap data-data yang diperoleh di
lapangan dan kemudian dilakukan upaya alternatif pemecahan masalah yang ada di
PT. ABP. Diharapkan alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan dalam proses
tersebut dapat diterapkan kepada seluruh karyawan yang terlibat, sehingga dapat
mengurangi potensi adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna
memaksimalkan kinerja para karyawan.

1.2 DASAR HUKUM


1 UU No. 3 Tahun 1969 Tentang Persetujuan Konferensi ILO No. 120 Mengetahui
Higiene Dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor.
2 UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
3 UU No. 10 Tahun 1977 Tentang Ketenaganukliran.
4 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
5 Peraturan menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan Serta Penerangan Dalam Tempat Kerja.
6 PP 63 Tahun 2000 Tentang Keselamatan Kerja Terhadap Kemanfaatan Radiasi
Pengion.
7 Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit Yang Timbul
Akibat Hubungan Kerja.
8 Kepmenaker No. 13/Men/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Kimia di Tempat Kerja.
3
9 Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. 2/M/Bw/Bk/1984 Tentang Pengesahan Alat
Pelindung Diri.
10 Permenakertrans No. 01/Men/1981 Tentang Penyakit Akibat Kerja.
11 Peratutan Menteri Tenaga Kerja RI No. 13/Men/X/2011 Tentang Nilai Ambang
Batas Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja.
12 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep 187/Men/1999 Tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
1.3 PROFIL PERUSAHAAN
1 Nama Perusahaan
PT. Aneka Bumi Pratama memiliki kegiatan usaha produk eksportir bahan
baku pembuatan ban berupa SIR 10 dan SIR 20.
2 Alamat
Jl. Raya Jambi-Muara Bulian KM.42 Desa Simpang Kubu Kandang
Kec.Pemayung, Kab. Batang Hari, Jambi 36363, Indonesia
3 Sejarah dan Perkembangan
PT. Aneka Bumi Pratama merupakan anak perusahaan asal Jepang yaitu
Itochu Rubber Group yang bergerak di bidang general merchendise depart.
Memiliki dua cabang di Indonesia yaitu di Palembang dan di Jambi. Pabrik
pertama berdiri di Palembang tahun 1996. Pabrik di Jambi berdiri tahun 2004
dan mulai produksi tahun 2006.
4 Kegiatan Usaha
PT. Aneka Bumi Pratama memiliki kegiatan usaha produk eksportir bahan
baku ban berupa SIR 10 dan SIR 20.
5 Jumlah Karyawan
Total karyawan di PT. Aneka Bumi Pratama Jambi berjumlah 775 orang
pekerja, sebanyak 73 orang berada di office, terdiri dari laki-laki dan
perempuan.
6 Jam Kerja Karyawan
PT. Aneka Bumi Pratama memiliki jam operasional tergantung dari bagian
produksi. Pada bagian dry produksi, memiliki jam operasional 24 jam terdiri
dari 3 shift yaitu pukul 08.00 – 16.00 WIB, 16.00 – 24.00 WIB, dan 24.00 –
08.00 WIB.
Pada bagian wet produksi, terdiri dari 2 shift, yaitu pukul 08.00-16.00 WIB dan
22.00-06.00 WIB.
4
Setiap karyawan memiliki total jam kerja sebanyak 40 jam per minggu, jika
lebih dari 40 jam per minggu maka dihitung sebagai kerja lembur.
7 Jaminan Asuransi Kesehatan
PT. Aneka Bumi Pratama bekerja sama dalam memberikan jaminan
kesehatan pada setiap karyawan yaitu BPJS Kesehatan, BPJS
ketenagakerjaan dan metode medical reimburse 80% dari total biaya
pengobatan. Untuk saat ini jaminan metode medical reimburse dapat
digunakan disemua rumah sakit.

8 P2K3
PT.Aneka Bumi Pratama telah memiliki manajemen P2K3 yang terstruktur
dan dikepalai oleh direktur, dimana setiap departemen dan karyawan
diwajibkan sadar akan keselamatan kerja. Setiap 3-4 bulan, P2K3
melaksanakan kegiatan patrol yang diambil dari masing-masing divisi. PT.
Aneka Bumi Pratama sudah membentuk HSE sebagai salah satu bagian dari
P2K3.
1.4 PROSES PRODUKSI
a. Penerimaan compound pabrik
Compound yang datang dari kebun-kebun sebelum dimasukkan dalam
bak pencampuran untuk selanjutnya dilakukan penggilingan terlebih
dahulu ditempatkan di bak penerimaan compound. Didalam bak ini
dilakukan penyortiran kotoran bahan baku yang diterima dari kebun-kebun
dan dilakukan pemisahan compound dengan slab dan scrap.
b. Pengolahan compound
Pengolahan compound dilakukan untuk membentuk compound menjadi
gulungan blanket yang nantinya akan dikelola menjadi bahan pembuat
SIR 10 dan SIR 20. Proses ini hanya membetukan slup/lump sebagai
bahan bakunya tanpa adanya bahan pembantu lain. Adapun mesin dan
peralatan yang digunakan pada stasiun pengolahan compound terdiri dari:
1. Mesin Prebreaker
Mesin prebekeaker berfungsi untuk pemecahan bongkahan lump/slap
dengan ukuran 30mm kapasitas olah dari mesin ini adalah 30.000 ton
perhari. Mesin ini dilengkapi dengan sejumlah timba yang dikaitkan
pada rantai yang digerakkan oleh elektromotor untuk mengangkut
5
lump/slap dari bak pencampuran kedalam mesin pencacah yang ada
didalam mesin prebeaker.
2. Bak Blending
Bak Blending berfungsi untuk melakukan pencucian cacahan lump/slap
dari mesin prebeaker untuk membersikan lump/slup dari pasir atau
batu-batuan halus yang masih menempel pada lump/slup. Bak
blending dilengkap dengan alat pengaduk yang berfungsi untuk
mengaduk cacahan lump/slup agar tidak menggumpal dan membantu
perccepatan dalam proses pembersihan.Bak blending dilengkapi
dengan sejumlah timba-timba yang digerakkan oleh electromotor untuk
mengankut lump/slup dari bak blending untuk selanjutnya dimasukkan
kedalam mesin hammer mill atau turbo mill.
3. Mesin Turbo Mill/Hamer Mill
Mesin Turbo mill berfungsi pemecah lanjutan dengan diameter 15mm.
Hammer mill alat pencacah yang digerakkan dengan alat elektromotor.
Mesin hammer mill atau turbo mill mempunyai kapasitas olah 30.000
kg/hari.
4. Mesin Maserator/Crepper
Mesin maserator berfungsi menggiling cacah karet menjadi lembaran
blanket dan dengan ketebalan 5mm dengan 8x penggilingan.
5. Ruang Maturasi
Ruang maturasi berfungsi mengeringkan gulungan blanket 8 hari
sehingga kadar air turun. Proses ini dilakukan agar bahan baku blanket
benar-benar memenuhi syarat kekeringannya saat diolah menjadi SIR
10.
6. Mesin Schereder
Mesin schreder berfungsi merajang blanket menjadi butiran karet
deengan ukuran 3mm, kapasitas olah 30.000kg perhari.
7. TOH (Thermal Oil Heater)
TOH berfungsi memberikan panas dimana terjadi perpindahan dari
media pemanas api kepada fluida oil. TOH adalah sumber panas
pengganti bunner berbahan bakar cangkang kelapa sawit. Selain itu
juga digunakan sebagai alat penyuplai sumber panas kedalam layer
pada proses pengeringan butiran karet.
6
8. Single Dryer/Twin dryer
Single dryer dan twin dryer brefungsi untuk mengeringkan butiran karet
selama 4 jam dengan temperatur Max. 110-120ºC.
9. Colling Fan
Colling fan berfungsi mendinginkan butiran karet yang keluar dari
dryper sampai dengan temperatur max 40ºC.
10. Press Ball
Press ball berfungsi untuk memadatkan butiran karet yang sudah
kering menjadi bandela.
11. Packing
Packing bandela menjadi pallet sesuai dengan permintaan.
12. Gudang Produksi
Gudang produksi diposisikan diujung pabrik dengan akses yang dekat
dengan mobil pengangkut yang akan mendistribusikan hasil produksi.

1.5 LANDASAN TEORI


A. Higiene Industri
Higiene adalah suatu ilmu kesehatan yang mengajarkan tata cara untuk
mempertahankan kesehatan jasmani, rohani, dan sosial untuk mencapai
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, serta sebagai suatu usaha
pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada usaha kesehatan
perseorangan atau manusia beserta lingkungannya.
B. Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja
Beberapa faktor mempengaruhi kesehatan kerja daripada tenaga kerja antara
lain faktor fisik, faktor biologis, faktor kimia, sanitasi industri, dan pengolahan
limbah.
Faktor Fisik
1) Bising:
Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang
merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang
menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup.

7
 Akibat kebisingan:

Tipe Uraian
Perubahan ambang batas sementara
Kehilangan akibat kebisingan, perubahan
pendengaran ambang batas permanen akibat
Akibat
kebisingan
lahiriah
Rasa tidak nyaman atau stress
Akibat fisiologis meningkat, tekanan darah meningkat,
sakit kepala, bunyi dering
Gangguan
Kejengkelan, kebingungan
emosional
Gangguan tidur atau istirahat, hilang
Gangguan
Akibat konsentrasi waktu bekerja, membaca
gaya hidup
psikologis dan sebagainya.
Merintangi kemampuan
Gangguan
mendengarkan TV, radio,
pendengaran
percakapan, telpon dan sebagainya.

Kebisingan yang dapat diterima oleh tanaga kerja tanpa


mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan
sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam
seminggu, yaitu 85 dB (A) (Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.5
Tahun 2018). Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau
membahayakan, perlu diambil tindakan seperti penggunaan peredam
pada sumber bising, penyekatan, pemindahan, pemeliharaan,
penanaman pohon, pembuatan bukit buatan ataupun  pengaturan tata
letak ruang dan penggunaan alat pelindung diri sehingga kebisingan
tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan.

2) Getaran:
Yang dimaksud dengan getaran adalah gerakan yang teratur dari benda
atau media dengan arah bolak-balik dari kedudukan keseimbangan.
Getaran terjadi saat mesin atau alat dijalankan dengan motor sehingga
pengaruhnya bersifat mekanis.

8
 Jenis getaran:
- Getaran seluruh tubuh
Getaran jenis ini mempunyai frekuensi 1-80 Hz;
- Vibrasi segmental,
Vibrasi jenis ini dapat memapari tubuh pekerja seperti lengan dan
tangan. Getaran ini mempunyai frekuensi 5 – 1500 Hz.

3) Iklim dan Suhu:


Seorang tenaga kerja akan mampu bekerja secara efisien dan produktif
bila lingkungan tempat kerjanya nyaman. Suhu nyaman bagi orang
Indonesia adalah 24°C-26°C. Bila iklim kerja panas dapat menimbulkan
ketidaknyamanan dalam bekerja dan gangguan kesehatan.

4) Pencahayaan:
 Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap penglihatan:
- Iritasi, mata berair dan mata merah
- Penglihatan ganda & Sakit kepala
- Ketajaman penglihatan menurun, begitu juga sensitifitas terhadap
kontras warna juga kecepatan pandangan
- Akomodasi dan konvergensi menurun
 Intensitas cahaya di ruang kerja adalah sebagai berikut.
Tingkat
Jenis
pencahayaan Keterangan
Kegiatan
minimal (Lux)
Pekerjaan Ruang penyimpanan dan ruang
kasar & tidak peralatan/instalasi yang
100
terus- memerlukan pekerjaan yang
menerus kontinyu
Pekerjaan
kasar dan Pekerjaan dengan mesin dan
200
terus- perakitan kasar
menerus
Pekerjaan 300 Pekerjaan kantor/administrasi,
rutin ruang kontrol dan pekerjaan

9
mesin dan perakitan atau
penyusun
Pembuatan gambar atau
Pekerjaan bekerja dengan mesin kantor
500
agak halus pekerja pemeriksaan atau
pekerjaan dengan mesin
Pemilihan warna, pemrosesan,
Pekerjaan
1000 tekstil, pekerjaan mesin halus
halus
dan perakitan halus
1500
Mengukir dengan tangan,
Pekerjaan (tidak
pekerjaan mesin dan perakitan
amat halus menimbulkan
yang sangat halus
bayangan)
3000
Pekerjaan (tidak Pemeriksaan pekerjaan,
detail menimbulkan perakitan sangat halus
bayangan)

 Beberapa hal yang dapat menurunkan intensitas penerangan:


- Adanya debu atau kotoran pada bola lampu;
- Bola lampu yang sudah lama;
- Kotornya kaca jendela, untuk penerangan alami;
- Perubahan letak barang-barang.

Faktor Biologis
Dasar hukum faktor biologis yang mempengaruhi lingkungan kerja adalah
Perpres No. 7/2019 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja
(point) penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang
didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminan khusus.

Biological hazard adalah semua bentuk kehidupan atau mahkluk hidup dan
produknya yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.
Faktor biologis dapat dikategorikan menjadi:
1. Mikroorganisme dan toksinnya (virus, bakteri, fungi, dan produknya);
2. Arthopoda (crustacea, arachmid, insect);

10
3. Alergen dan toksin tumbuhan tingkat tinggi (dermatitis kontak, rhinitis,
asma);
4. Protein alergen dari tumbuhan tingkat rendah (lichen, liverwort, fern)
dan hewan invertebrata (protozoa, ascaris)

Faktor biologis dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara:


1. Inhalasi/ pernafasan (udara terhirup)
2. Ingesti/ saluran pencernaan
3. Kontak dengan kulit
4. Kontak dengan mata, hidung, mulut.

Faktor biologi dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari
dengan pencegahan antara lain dengan:
1. Administrasi kontrol seperti administrasi kesehatan awal karyawan
baru, pemeriksaaan kesehatan secara berkala bagi karyawan lama;
2. Dilarang makan dan minum di area produksi;
3. Menjaga kebersihan kebersihan perseorangan/individu;
4. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular
lewat debu yang mengandung organisme patogen dengan cara
menutupi hidung dan mulut dengan tujuan untuk menghindari debu
respirabel (< 10 mikrometer);
5. Menggunakan sarung tangan yang menutupi sampai siku saat
menuangkan bahan baku;
6. Desinfeksi secara teratur terhadap lantai, dinding dan peralatan
produksi.
7. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak
satu kali setiap bulan;
8. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya
mikroorganisme yang patogen pada sistem pendingin;
9. Menggunakan alas kaki dan baju khusus dalam area produksi untuk
menghindari kontaminasi mikroorganisme dari luar;
10. Sebelum dan sesudah bekerja dalam area produksi diharuskan
mencuci tangan di air mengalir dan sabun;

11
11. Pengontrolan suhu dan kelembaban udara dengan menggunakan
pendingin ruangan untuk menekan pertumbuhan dari mikroorganisme;
12. Melakukan pengolahan terhadap limbah produksi.

Faktor Kimia
Faktor kimia merupakan salah satu sumber bahaya potensial bagi pekerja.
Bahan kimia yang didefinisikan sebagai unsur kimia, senyawa, dan
campurannya yang bersifat alami maupun buatan (sintetis) selalu terdapat di
setiap proses industri.

1) Klasifikasi (berdasarkan bentuknya):


 Partikulat, yaitu setiap sistem titik-titik cairan atau debu yang
mendispersi di udara yang mempunyai ukuran demikian lembutnya
sehingga kecepatan jatuhnya mempunyai stabilitas cukup sebagai
suspensi di udara. Bentuk ini memiliki ukuran 0.02-500µm. Yang
termasuk dalam bentuk partikulat diantaranya adalah debu, fume,
kabut, asap dan smog.

 Non Partikulat
- Gas adalah molekul dalam udara yang menempati ruang yang
tertutup dan dapat diubah menjadi cairan atau keadaan padat
dengan pengaruh dari gabungan kenaikan tekanan dan
pengurangan suhu.
- Uap adalah bentuk gas dari suatu bahan yang dalam keadaan
normal berbentuk padat atau cairan pada suhu dan tekanan ruang.
Uap dapat dirubah kembali menjadi padat atau cair dengan
menambah tekanan atau menurunkan suhu. Bahan-bahan yang
memiliki titik didih yang rendah lebih mudah menguap dari pada
yang memiliki titik didih yang tinggi.

2) Pengaruh Fisiologis dan Patologis Bahan Kimia:


 Bahan kimia iritatif adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi
atau menimbulkan bahaya apabila tubuh kontak dengan bahan kimia.

12
Bagian tubuh yang terkena biasanya kulit, mata, dan saluran
pernapasan.
- Iritasi melalui kulit  apabila terjadi kontak antara bahan kimia
tertentu dengan kulit, bahan itu akan merusak lapisan yang
berfungsi sebagai pelindung. Keadaan ini disebut dermatitis
(peradangan kulit).
- Iritasi melalui mata  kontak yang terjadi antara bahan-bahan
kimia dengan mata bisa menyebabkan rusaknya mulai yang ringan
sampai kerusakan permanen.
- Iritasi saluran pernapasan oleh karena bahan-bahan kimia
berupa bercak-bercak cair, gas atau uap akan menimbulkan rasa
terbakar apabila terkena pada daerah saluran pernapasan bagian
atas (hidung dan kerongkongan).

 Bahan kimia bersifat asfiksian merupakan bahan kimia yang dapat


menyebabkan asfiksia, yaitu keadaan sesak napas dihubungkan
dengan gangguan proses oksigensi dalam jaringan tubuh, sehingga
menimbulkan sensasi tercekik dan dapat menyebabkan kematian.
Terdapat dua jenis asfiksia, yakni:
- Simple asphyxiation (sesak napas yang sederhana) karena ini
berhubungan dengan kadar oksigen di udara yang digantikan dan
didominasi oleh gas seperti nitrogen, karbon dioksida, ethane,
hydrogen  atau helium yang kadar tertentu mempengaruhi
kelangsungan hidup.
- Chemical  asphyxiation (sesak napas karena bahan-bahan kimia).
Pada situasi ini, bahan-bahan kimia langsung dapat mempengaruhi
dan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut dan
menggunakan zat asam, sebagai contoh adalah karbon monoksida,
nitrogen, propan, argon, dan metana.

 Bahan kimia bersifat zat pembius dapat mehilangkan kesadaran dan


mati rasa. Paparan terhadap konsentrasi yang relatif tinggi dari bahan
kimia tertentu seperti ethyl dan prophyl alcohol (aliphatic alcohol), dan

13
methylethyl keton (aliphatic keton), acetylene hydrocarbon ethyl dan
isoprophyl ether, dapat menekan susunan syaraf pusat.
 Bahan kimia beracun/toksin merupakan bahan kimia yang dalam
kosentrasi relatif sedikit dapat mempengaruhi kesehatan manusia atau
bahkan menyebabkan kematian. Manusia memiliki sistem yang
komplek. Keracunan sistemik dihubungkan dengan reaksi dari salah
satu sistem atau lebih dari tubuh terhadap bahan-bahan kimia yang
mana reaksi ini merugikan dan dapat menyebar keseluruh tubuh.
Contoh bahan kimia toksin antara lain pestisida, benzene, dan sianida.
 Bahan kimia karsinogenik. Paparan bakan-bahan kimia tertentu bisa
menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali, menimbulkan
tumor (benjolan-benjolan) yang bersifat karsinogen. Tumor tersebut
mungkin baru muncul setelah beberapa tahun bevariasi antara 4 tahun
sampai 40 tahun. Bahan kimia seperti arsenic, asbestos, kromium,
nikel dapat menyebabkan kanker paru-paru.
 Bahan kimia fibrotic merupakan bahan kimia yang bila masuk ke dalam
tubuh dapat menyebabkan terbentuknya jaringan fibrotik, seperti
pneumoconiosis. Pneumoconiosis adalah suatu keadaan yang
disebabkan oleh mengendapnya partikel-partikel debu halus daerah
pertukaran gas dalam paru-paru dan adanya reaksi dari jaringan paru
dan membentuk jaringan fibrotik. Contoh  bahan-bahan yang
menyebabkan  pneumoconiosis adalah crystalline silica, asbestos, talc,
batubara dan beryllium.

3) Pengukuran:
Untuk mengetahui kondisi real tentang kadar kontaminan kimiawi di
tempat kerja, maka perlu dilakukan pengukuran/pengujian terhadap faktor
kimia yang memapari tempat tersebut dengan cara pengambilan sample
yang selanjutnya akan dianalisa. Dalam melakukan pengukuran pada
lingkungan kerja diperlukan pengambilan sample yang dapat dilakukan
secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu yang pada prinsipnya
harus representatif dalam 8 jam kerja. Metode yang digunakan antara lain
Standar Nasional Indonesia (SNI), NIOSH, AIHA, dan lain-lain. Beberapa

14
instrument analisis yang digunakan dalam pengujian faktor kimia adalah
AAS untuk analisis kadar logam, GC untuk kadar hidrokarbon,
spectrophotometer UV/Vis untuk analisis gas organic, dan X-Ray
deffractometer.Nilai Ambang Batas (NAB), diatur berdasarkan surat
edaran Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.5 Tahun 2018 tentang
NAB faktor kimia dan faktor fisik di tempat kerja. Kategori nilai ambang
batas:
 NAB rata-rata selama jam kerja
 NAB pemaparan singkat
 NAB tertinggi

4) Pengendalian:
Pengendalian potensi bahaya kimia dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti:
 Pemberian label dan simbol pada wadah
 Memiliki MSDS
 Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia
 Prinsip pengendalian bahan kimia di lungkungan kerja dilakukan
dengan tahapan sebaai berikut:
- Pengendalian secara teknis
a. Substitusi
b. Isolasi
c. Ventilasi (alamiah dan buatan)
- Pengendalian administrasi
a. Pemilihan bahan produksi potensi bahaya serendah mungkin
b. Labelling. Telah dijelaskan sebelumnya.
c. Penyimpanan bahan sesuai dengan kelompok sifat dan besar
potensi bahaya
d. Penanganan limbah dan sampah kimia secara khusus dan
benar.
Dasar hukum yang mengatur pengendalian bahan kimia berbahaya
adalah keputusan menteri tenaga kerja RI, No.Kep.187/MEN/1999.

15
Sanitasi Industri
Sanitasi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk menjaga
kebersihan, Sanitasi ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh
industri dalam menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP). Sanitasi
industri meliputi:
1) Water supply: Suplai air dibagi menjadi dua berdasarkan
penggunaannya, yaitu:
 Domestik à untuk karyawan, makan, minum, dll
 Proses produksi
2) Pembuangan kotoran dan sampah: Sampah dibagi menjadi dua, yaitu:
 Domestik à berasal dari karyawan, bukan dari proses produksi
 Sampah industri à padat, cair
Sampah ini memerlukan manajemen khusus dalam
pengelolaannya.Sampah dapat diolah kembali untuk menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat ataupun sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi dan
dikembalikan ke alam sebagai bahan yang tidak berbahaya dan mudah
terurai.
3) Sanitasi makanan: Sanitasi makanan memegang peranan penting dalam
proses produksi. Sanitasi makanan berhubungan langsung kepada tenaga
kerja ataupun proses produksi dalam industri pangan. Sanitasi makanan
merupakan usaha pencegahan penyakit, dapat menjadi pertimbangan
ekonomi dalam penyediaan makanan dan merupakan pencegahan
penyakit yang efektif. Hal–hal yang diperhatikan dalam sanitasi makanan
adalah:
 Kebersihan makanan à penyediaan bahan makanan, pengolahan
makanan, pengangkutan bahan makanan dan penyajian makanan
 Kebersihan peralatan
 Kebersihan fasilitas
 Kantin dan ruang makan
 Keracunan makanan
4) Pencegahan dan pembasmian vektor dan roden: Vektor adalah
binatang yang berperan dalam pemindahan penyakit dari sumbernya ke
manusia. Contoh-contoh vektor seperti tikus, lalat, nyamuk, kecoa, kutu

16
dan lain-lain. Masing-masing vektor membawa penyakit tertentu dan dapat
mengenai tenaga kerja.
5) Penyediaan fasilitas kebersihan: Fasilitas kebersihan merupakan hal
yang mutlak harus tersedia dalam industri. Memgang peranan penting
dalam proses produksi. Fasilitas kebersihan menjamin tenaga kerja untuk
menjalankan fungsi-fungsi biologis seperti buang air kecil, buang air besar,
makan, tempat ganti pakaian, dan lain-lain. Hal – hal yang termasuk
fasilitas kebersihan, yaitu:
 WC (kakus)
 Tempat cuci.
 Tempat mandi
 Tempat baju kerja (locker)
 Ruang makan dan kantin

Pengolahan Limbah
Limbah industri merupakan buangan yang keberadaannya di tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai
ekonomi. Limbah industri tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu
yang memiliki nilai ekonomis berupa limbah yang dengan melakukan proses
lanjut akan memberi nilai tambah, serta limbah yang tidak mempunyai nilai
ekonomis berupa limbah yang diolah dalam bentuk proses apapun tidak
dapat memberikan nilai tambah tetapi hanya dapat mempermudah sistem
pembuangan.
Limbah padat dan cair yang dihasilkan akibat proses produksi
sebaiknya ditempatkan pada bak sampah tersendiri yang telah dipilah-pilah
berdasarkan jenisnya serta apakah termasuk limbah B3 atau bukan. Untuk
limbah yang bukan termasuk B3 perlu dipilah lagi apakah bisa didaur ulang
atau bisa langsung dibakar atau dikubur. Yang termasuk kedalam limbah B3
adalah limbah industri yang mengandung bahan pencemar yang bersifat
racun dan berbahaya, dimana limah B3 tersebut merupakan bahan dalam
jumlah sedikit tetapi mempunyai potensi mencemari dan merusak lingkungan
hidup dan sumber daya. Secara umum, pengolahan limbah industri dapat
dilakukan melalui 3 proses, yaitu:

17
1) Proses pengolahan secara fisika:
 Sedimentasi,yaitu suatu proses pemisahan bahan padat dari cairan
secara gravitasi.
 Flotasi, yaitu memisahkan partikel dengan densitasnya, menggunakan
aliran udara yang dimasukkan kedalam sistim.
 Separasi minyak-air, yaitu dengan memisahkan bagian terbesar
minyak dari aliran limbah dengan menggunakan prinsip dasar
perbedaan spesifitas gravities anatara air dan minyak yang dibuang.
2) Proses pengolahan secara kimiawi:
 Koagulasi-presipitasi, yaitu pencampuran bahan kimia secara merata
menjadi gumpalan-gumpalan yang cukup besar.
 Netralisasi, yaitu proses untuk menurunkan sifat asam atau basa
dalam air.
3) Proses pengolahan secara biologi:
 Aerobic suspended growth process, yaitu memasukkan air limbah
kedalam reaktor concrete steel earthen tank dengan aliran konsentrasi
yang sangat tinggi.
 Aerobic attached growth process, yaitu proses mikroorganisme
dimasukkan kedalam beberapa media.
 Aerobic lagoons (kolam stabilisasi), yaitu kolam tanah yang luas dan
dangkal untuk mengolah air limbah dengan menggunakan proses
alami dengan melibatkan ganggang dan bakteri.
 Anaerobic lagoons, yaitu air limbah mentah bercampur dengan massa
microbial aktif dalam lapisan sludge.
Pengolah limbah gas secara teknis dilakukan dengan menambahkan alat
bantu yang dapat mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara
sebenarnya dapat berasal dari limbah berupa gas atau materi partikulat yang
terbawah bersama gas tersebut. Berikut akan dijelaskan beberapa cara
menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat yang
terbawah bersamanya.

1) Mengontrol Emisi Gas Buang:


 Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon

18
monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui
beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil
pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi menggunakan
filter basah (wet scrubber);
 Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan
materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk
menghilangkan materi partikulat;
 Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas
karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah
katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran;
 Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat
dikurangi kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan
sumber bahan bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas
buang yang merupakan polutan.
2) Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan:
 Filter Udara
 Pengendap Siklon:
 Filter Basah:
 Pegendap Sistem Gravitasi
 Pengendap Elektrostatik

BAB II
PELAKSANAAN

19
2.1 TANGGAL DAN WAKTU PENGAMATAN
Dilakukan pengamatan pada hari Rabu, 10 September 2019, pukul 10.00 –
13.00 WIB oleh kelompok 1 (Higiene Industri).

2.2 LOKASI PENGAMATAN


Lokasi pengamatan adalah di PT. Aneka Bumi Pratama - Jl. Raya Jambi,
Muara Bulian KM. 45. Desa Simpang Kubu Kandang. Kec. Pemayung, Kab. Batang
Hari, Jambi 36363.

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMECAHAN MASALAH

20
Pengamatan dilakukan di PT. Aneka Bumi Pratama tepatnya pada lokasi
pabrik di Pemayung, Jambi :

3.1 FAKTOR FISIK


1) Bising
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung dan informasi yang
didapatkan dari narasumber PT. Aneka Bumi Pratama, jenis kebisingan dari
mesin-mesin produksi adalah kebisingan yang kontinu, terutama mesin
pemotong bahan baku. Didapatkan nilai ambang batas pada bagian yaitu
diatas 85 dB yang mana lebih dari nilai ambang batas yang diperkenankan
pada UU no.5 tahun 2018, yaitu 80 dB. Namun hal tersebut sudah
ditanggulangi oleh pihak perusahan, yang mana mengharuskan tenaga
kerjanya menggunakan earmuff agar terhindari dari penyakit akibat kerja
mengingat shift kerja para tenaga kerja yaitu 11 jam kerja dan 1 jam istirahat.
Berdasarkan informasi yang didapat dari narasumber pula, pihak perusahaan
sudah melakukan pengukuran untuk intensitas kebisingan di lingkungan kerja
sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.5 Tahun 2018 tentang
Nilai Ambang Batas faktor fisika di tempat kerja setiap 1 tahun sekali.
2) Pencahayaan
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, penerangan di
tempat kerja di PT. Aneka Bumi Pratama menggunakan sumber
pencahayaan buatan berupa lampu neon dan cahaya matahari. Dari informasi
yang diperoleh dari narasumber, penerangan yang ada di ruangan lebih dari
100 Lux yang mana sesuai dengan pekerjaan dengan mesin dan perakitan
kasar secara terus menerus. Menurut pengamatan yang kami lakukan di
tempat kerja secara langsung, para pekerja tidak tampak mengalami
gangguan dalam hal pencahayaan / penerangan di tempat kerja mereka.
3) Getaran
Beberapa alat yang digunakan untuk menunjang kegiatan perusahaan
di proses produksi di PT. Aneka Bumi Pratama berpotensi menimbulkan
getaran di dalam penggunaannya oleh para pekerja, seperti pada divisi
pemotongan bahan baku, dan pada divisi packaging. Alat-alat ini berpotensi
menimbulkan getaran model vibrasi segmental, yang mana dapat memapari
tubuh pekerja terutama tangan dan kaki. Tidak ada data dari narasumber
21
mengenai berapa besar frekuensi getaran alat tersebut. Dari pengamatan
secara langsung, para pekerja tidak mengalami masalah dengan getaran
yang ditimbulkan oleh alat-alat tersebut.
4) Iklim Kerja
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, hanya sedikit pekerja
yang terpapar oleh sinar matahari secara langsung. Masing-masing divisi
memiliki suhu ruangan yang berbeda, dimana suhu pada divisi pemotongan
bahan baku memiliki suhu sekitar 25-26 0c, pada divisi drying memiliki suhu
yang lebih tinggi yaitu sekitar > 32 0c tetapi sudah diupayak kenyamanan
perkerja dengan memasang dua blower dengan arah yang berlawanan, pada
divisi penjemuran bahan suhunya sekitar .36 0c, dan pada divisi packaging
memiliki suhu yang cukup baik, yaitu sekitar 25 0c.
5) Radiasi
Dari hasil pengamaran, terdapat mesin las dan pekerja yang sedang
melakukan pekrjaan las dengan lokasi yang berdekatan dengan divisi lain dan
berdekatan dengan air (tempat basah).

3.2 FAKTOR KIMIA


 Bahan berbahaya dan beracun
Dari hasil pengamatan, tidak ditemukan bahan berbahaya dan beracun pada
proses produksi
 Bahan bahan kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi adalah asam format,
yang digunakan dalam proses penggumpalan atau koagulasi karet.

3.3 FAKTOR BIOLOGI


Ketika melakukan pengamatan di PT. Aneka Bumi Pratama Indonesia faktor
biologi ditemukan pada proses pengumpulan bahan baku hingga packing,
terutama pada proses pengumpulan bahan baku karet dan produksi. Kondisi
lingkungan saat pengumpulan bahan baku karet menimbulkan bau yang tidak
sedap sehinga menyebabkan banyaknya lalat. Selain itu pada proses produksi
juga ditemukan potensi dermatitis yang disebabkan bahan allergen dari bahan
karet (lateks).

22
Upaya pengendalian faktor biologi telah dilakukan dengan baik. Pihak
perusahan meregulasi ketat agar tidak ada pekerja yang makan/ minum di area
produksi. Tapi perlu ditambahkan pemasangan alat perangkap lalat dan
pemasangan blower pada tempat pengumpulan bahan baku karet. Untuk potensi
dermatitis yang disebabkan bahan allergen dari bahan karet dapat dilakukan
dengan penggunaan sarung tangan, dilakukan pemeriksaan kesehatan patch
test dan rotasi operator kebagian lain yang tidak menyentuh bahan karet.

3.4 KEBERSIHAN
Secara umum kebersihan Perusahaan sudah baik. Pihak perusahaan PT.
Aneka Bumi Pratama telah memiliki petugas kebersihan di setiap Pabrik.
Halaman dan jalanan secara umum terlihat bersih, rata, serta luas.
Sedangkan saluran air terbuka dan mengalir lancar hanya tempat wudhu dan
pembuangan air di toilet tidak lancar serta jalanan didepan kamar penyimpanan
bahan baku terlihat sedikit genangan air.
Tempat sampah juga sudah tersedia di setiap gedung dengan pemisahan
jenis sampah dalam 4 jenis yang dibedakan sesuai warna, dan diambil setiap
pagi.
Kebersihan tempat istirahat dan makan bagian produksi cukup bersih dan
baik. Sudah tersedia wastafel , loker ,tempat ibadah , serta tempat wudhu hanya
saja aliran pembuangan tidak lancar dan .fisik bangunan seperti warna dinding,
lantai , kursi dan meja telihat puda, lantai tidak di keramik
Penyediaan air untuk WC dan tempat cuci tangan sudah baik. Sumber air
untuk karyawan berasal dari air sumur di Pabrik. Makanan untuk karyawan di
kantor langsung oleh pihak kantin yang sudah kompeten sehingga terjamin
kebersihan makanannya. Sedangkan karyawan bagian produksi membawa
makanan dari rumah.

3.5 PETUGAS HIGIENE INDUSTRI


Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, terdapat peraturan yang
mengharuskan bagi seluruh tenaga kerja untuk melakukan cuci tangan setelah
selesai bekerja. Selain itu, terdapat tenaga kebersihan (cleaning sevice) yang
membersihkan lokasi tempat bekerja. Menurut narasumber untuk membersihkan
lingkungan ditempat kerja tiap departemen selain dilakukan oleh tim tenaga
23
kebersihan, juga dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh pegawai setelah
selesai mengerjakan tugas masing-masing.

3.6 PENGOLAHAN LIMBAH


Limbah utama PT. Aneka Bumi Pratama Jambi berasal dari produksi industri
karet yang berupa limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Kualitas bahan baku
berpengaruh terhadap tingkat kuantitas dan kualitas limbah. Semakin kotor bahan
karet olahan akan makin banyak air yang diperlukan untuk proses
pembersihannya, sehingga debit limbah cair pun meningkat. Semakin tinggi kadar
air dari bahan baku karet olahan, akan memudahkan terjadinya pembusukan,
sehingga kuantitas limbah gas/bau pun meningkat. Bahan baku karet olahan yang
kotor menyebabkan kuantitas lumpur, tatal dan pasir relatif tinggi.
Pembersihan dilakukan melalui pengecilan ukuran, proses ini juga bertujuan
untuk memperbesar luas pemukaan karet agar waktu pengeringan relatif singkat.
Dengan demikian, limbah yang terbentuk dominan berbentuk limbah cair.
Bahan baku karet rakyat berbentuk koagulum (bongkahan) banyak
mengandung air dan pengotor dari karet baik disengaja maupun tidak disegaja
oleh petani karet.
Tahapan dari pengolahan limbah karet, terdiri atas 5 tahapan yaitu:
1. Solid Tank
Solid tank merupakan proses pembersihan bongkahan karet dari kontaminasi
(daun, akar pohon, batu) menggunakan air.
2. Equal Tank
Equal tank merupakan proses pemisahan antara limbah cair dengan limbah
padat`
3. Aeration Tank
Aeration tank merupakan pengolahan dengan sistem aerasi dimana pelarutan
oksigen diperoleh dari alat-alat mekanis. Alat-alat untuk aerasi ada yang di
permukaan dan ada pula ditempatkan di dalam air. Pada bagian akhir kolam
aerasi harus dilengkapi dengan alat pengendapan untuk pemisahan lumpur
yang dihasilkan dari proses.
4. Sedimentation Tank

24
Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan dari cairannya dengan cara
mengendapkan secara gravitasi. Proses ini juga dapat memisahkan jenis
padatan berupa flok hasil proses kimiawi dan hasil proses biologi.

5. Recycle Tank
Recycle tank merupakan proses terakhir dalam pengolahan limbah, dimana
dilakukan pemisahan antara hasil sedimen dengan air. Air yang sudah
melewati pengecekan PH (PH = 7) akan dialirkan langsung ke sungai
Batanghari.

Karakteristik dan jumlah limbah yang dihasilkan dari proses produksi karet
dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan
1. Perkiraan Debit Limbah Cair
Proses pengolahan karet tergolong proses basah, banyaknya kebutuhan air
untuk keperluan pngolahan akan menentukan banyaknaya limbah cair yang
dihasilkan, sekaligus menetukan rancangan ukuran sarana pengolah limbah.
Jumlah air yang digunakan dalam proses produksi, hampir seluruhnya menjadi
limbah, karena karet baik berupa bahan baku maupun setengah jadi tidak
menyerap air. Pengaruh kebutuhan air adalah tingkat kotoran yang ada dalam
bahan baku, serta efesiensi kinerja sarana pengolahan. Nilai parameter limbah
pada setiap bagian proses pengolahan berbeda-beda. Nilai parameter BOD atau
COD yang sangat besar dari air buangan menunjukkan tingginya kadar bahan
organiknya, peningkatan kadar bahan organik akan makin mengganggu
ekosistem lingkungan yang menerima air buangan karena oksigen banyak
digunakan oleh bakteri pengurai untuk menghancurkan bahan organik tersebut.
Total padatan merupakan bahan yang berasal dari emecahan komponen
organik, sedangkan padatan tersuspendi merupakan bahan yang tidak larut d
dalam air dan cenderung mengalami pembusukan jika suhu air meningkat
(musim panas). Dampak negatif juga timbul jika air limbah langsung dibuang ke
sungai atau perairan umum. Bagi pabrik yang berlokasi di areal perkebunan,
penanganan limbah cair relatif mudah, bahkan dapat dimanfaatkan menjadi
pupuk tanaman karetnya.
2. Karakteristik dan Dampak Limbah Padat

25
Secara umum limbah padat yang terbentuk pada pengolahan karet tidak
tergolong limbah beracun. Limbah biasanya hanya berupa tatal, lumpur, pasir
rotan, kayu, daun, dan plastik bekas kemasan. Bokar yang kotor merupakan
sumber utama pembawa limbah padat. Beberapa jenis padatan dalam jumlah
yang sudah sedemikian besar akan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Limbah tersebut jika dibuang ke sungai, dalam jangka waktu tertentu akan
menyebabkan pendangkalan badan air. Limbah padat akan dikirim ke TPA dalam
keadaan sudah cukup kering, lebih baik lagi jika sudah bersifat kompos,
sehingga di TPA tinggal proses pelapukan akhir.

3.7 TABEL RINGKASAN PERMASALAHAN


Faktor Masalah yang Dasar Hukum Pemecahan Masalah
dihadapi
Fisik Iklim/suhu Peraturan Menteri Menyediakan
- Suhu ruangan Ketenagakerjaan penyejuk ruangan di
terlalu tinggi No.5 Tahun 2018 tempat kerja yang
pada divisi panas yang sesuai
tertentu dengan rasio ruangan
seperti divisi dan jumlah orang yang
pengeringan berada di ruangan
bahan baku tersebut
dan pada Menyediakan exhaust
tempat fan untuk menjaga
istirahat sistem sirkulasi di tiap
pekerja tahapan produksi
Menjaga kebersihan
exhaust fan untuk
menjaga sistem
sirkulasi di ruang kerja

Kebisingan >85 UU No. 1 Tahun • Rekayasa


dB 1970 tentang teknik

26
Keselamatan (maintenance
Kerja mesin/alat)
seperti
memasang
peredam suara
• Rotasi
• Pembatasan
jam kerja
• Medical check
up
• menyediakan
dan
mewajibkan
penggunaan
APD
• pengawasan
kedisiplinan
penggunaan
APD
Vibrasi yang UU No. 1 tahun • rotasi operator
berasal dari 1970 tentang • pemasangan
mesin Keselamatan peredam di
Kerja ruangan
Radiasi, UU No. 1 tahun • Memindahkan
- perusahaan ini 1970 tentang lokasi
menggunakan Keselamatan pengelasan
Las Listrik kerja ketempatan
UU No. 1 tahun yang tidak di
1970 tentang lalui banyak
Keselamatan orang.
3.1.1 ultraviolet kerja - Melengkapi
pada pekerja petugas dengan
divisi limbah APD yang lebih
spesifik seperti

27
topi , baju lengan
panjang, sunblock
Lantai • Membuat lebih
- tempat tinggi dinding
pembuangan saluran
limbah : Licin pembuangan
karena percikan limbah
air dari aliran bak
penampungan ke
saluran
- gudang - Dibuatkan saluran
pengumpulan pembuangan air
bahan baku limbah dari
gudang ke bak
penampungan
Biologi kondisi Peraturan - pemasangan alat
lingkungan saat Presiden Republik perangkap lalat
pengumpulan Indonesia No. 7 - pemasangan
bahan baku karet tahun 2019 blower
menimbulkan bau tentang Penyakit
yang tidak sedap Akibat Kerja
sehinga
menyebabkan
banyaknya lalat.

Kimia Asam Format Permenakertrans - Pengecekan


(HCOO-) RI No. Kep. tangki dan
Potensi terjadinya 187/MEN/1999 saluran bahan
kebocoran dari kimia
tangki atau pipa berbahaya
saluran baik di setiap akhir
plant maupun di shift
jalan dalam - Mengadakan

28
pabrik simulasi
penanganan
kecelakaan
akibat bahan
kimia
berbahaya bagi
seluruh
karyawan
- Memberikan
perlindungan
tambahan bagi
pipa saluran yang
terletak di
pedestrian atau di
jalan
Kebersihan Jalanan didepan Peraturan Menteri Pembuatan saluran air
Umum tempat Ketenagakerjaan di tempat
penyimpanan No.5 Tahun 2018 penyimpanan bahan
bahan baku baku
sebagian
tergenang air
sehingga banyak
lalat berterbangan
WC yang ada di Peraturan Menteri WC harus
Perusahaan Ketenagakerjaan ditambahkan sesuai
masih kurang dan No.5 Tahun 2018 dengan jumlah
tidak ada karyawan yaitu setiap
pemisahan antara 100 karyawan 6 WC
WC pria dan dan memisahkan
wanita sehingga antara WC pria dan
privacy kurang wanita.
terjaga.
Sumber air untuk Peraturan Menteri Pihak Perusahaan
produksi dan untu Ketenagakerjaan menyediakan filter air

29
karyawan baik No.5 Tahun 2018 dan melakukan
WC dan pengecekan rutin air
kebutuhan masak oleh quality control.
di kantin adalah
dari sumur bor di
sekitar
perusahaan.
Fisik bangunan Melakukan perawatan
tempat istirahat banguna sesuai
dan makan dengan fisik bangunan
seperti warna dan memperbaiki
dinding, lantai , aliran pebuangan air
kursi dan meja
telihat pudar serta
lantai tidak di
keramik

Pengelolaan Tidak ada UU No. 23 Tahun Pengelolaan limbah


Limbah masalah 2009 tentang PT Aneka Bumi
lingkungan hidup Pratama sudah
sangatlah baik dan
sesuai standart dalam
pengelolaan limbah.

30
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
PT. Ajinomoto Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dalam produksi
bumbu masak untuk konsumsi dalam negeri yang tahun ini genap berusia 50 tahun.
Selama ini mereka terus meningkatkan kinerja dan pencapaian yang ditunjukkan
dari sertifikasi yang mereka peroleh terutama dalam bidang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3). Secara umum, penatalaksanaan sistem K3 di PT Ajinomoto
dari penilaian higiene industri sudah berjalan dengan sangat baik. Terlihat dari para
tenaga kerja yang sudah menerapkan cuci tangan sebelum melakukan pekerjaan,
menggunakan APD setiap melakukan pekerjaan setiap departemen, dan P2K3 yang
sudah sangat terorganisasi dengan baik. Serta para pekerja yang telah diwajibkan
dengan kesadaran akan adanya faktor bahaya di tempat kerja. Paparan hazard
seperti bising, listrik, getaran, pencahayaan, iklim, suhu dan debu merupakan faktor
bahaya dalam tempat kerja ditemukan dalam jumlah yang minim.
Pada dasarnya Keselamatan dan Kesehatan (K3) merupakan suatu keilmuan
multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi
lingkungan kerja, keamanan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, serta
melindungi tenaga kerja terhadap risiko bahaya dalam melakukan pekerjaan serta
mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja,
kebakaran, peledakan atau pencemaran lingkungan kerja. Tingkat sanitasi dan
higiene yang tinggi sudah diterapkan pada setiap departemen melalui program
sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu serta kerjasama dengan PT. ISS
untuk bagian petugas kebersihannya.

5.2 . SARAN
1) Membuat media dan sarana promosi Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3) di tempat yang sering dilalui para tenaga kerja agar lebih waspada
mengenai hal tersebut.
2) Memberi penyuluhan berkala tentang Sistem Kesehatan dan Keselamatan
Kerja terutama terkait lima faktor (fisik, kimia, biologi, sanitasi dan
pengolahan limbah) yang dibahas diatas kepada tenaga kerja mengenai
pemaparan faktor tersebut dan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan.
31
3) Memberi pelatihan rutin terhadap kondisi kecelakaan ataupun bahaya yang
mungkin terjadi di lingkungan kerja.

32
BAB V
PENUTUP

Demikian laporan kunjungan perusahaan mengenai higiene industri di PT


ABP ini kami buat. Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan,
baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat keterbatasan informasi yang
kami miliki. Semoga apa yang ada di dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi para
pembacanya pada umumnya dan PT ABP khususnya agar mempertahankan dan
menambah kualitas higiene industri di lingkungan kerjanya sehingga dapat
menjamin kesehatan dan keselamatan para pekerjanya dan meningkatkan
produktivitas perusahaan.

33