Anda di halaman 1dari 11

0

MANUSCRIPT

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI


PADA ANAK DISABILITAS DI SDLB NEGERI PURWOSARI KUDUS
TAHUN 2019

Esa Zulfia1, Anny Rosiana M2, Yulisetyaningrum3

Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kudus


Jl. Ganesha 1 purwosari telp./faks. (0291) 437218 kudus 59316

Email : Esazulfia17@gmail.com

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

2019
1

HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI


PADA ANAK DISABILITAS DI SDLB NEGERI PURWOSARI KUDUS
TAHUN 2019

Esa Zulfia, Anny Rosiana M, Yulisetyaningrum

Latar Belakang : Berdsasarkan data yang diperoleh dari dinas sosial provinsi jawa tengah jumlah
penyandang cacat berjumlah 17.469 jiwa. Dari total jumlah tersebut 8380 jiwa penderita ratardasi mental,
1.676 tuna netra, 3.190 tuna rungu wicara, 4.223 tuna grahita penyandang disabilitas di 35 kabupaten dan
kota yang ada di provinsi jawa tengah. (pusat data dan informasi Komsos, 2016). Percaya diri merupakan
salah satu pangkal dari sikap dan perilaku anak.Menurut Fleming (Jenaabadi, 2013) bahwa salah satu yang
mempengaruhi kepercayaan diri adalah dukungan sosial salah satunya berupa komunikasi dalam keluarga.
Tujuan :Mengetahui adanya Hubungan Pola Komunikasi Keluarga dan Kepercayaan Diri Pada Anak
Disabilitas di SDLB Negeri Purwosari Kudus tahun 2018/2019.
Metode :penelitian Analitik korelasi dengan metode cross sectional,sampel yang digunakan sebanyak 37
responden dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling dengan analisa datachi- square.
Hasil Penelitian :Ada Hubungan Pola Komunikasi Keluarga dengan Kepercayaan Diri Anak Disabilitas di
SLB Negeri Purwosari Kabupaten Kudus dibuktikan dengan uji Chi-Square dengan nilai p Value = 0.044
Kesimpulan :Ada Hubungan Pola Komunikasi Keluarga dengan Kepercayaan Diri Anak Disabilitas di SLB
Negeri Purwosari Kabupaten Kudus tahun 2018/2019.

Kata Kunci : Pola Komunikasi, Kepercayaan Diri, Anak Disabilitas, SLB Purwosari

Background: Based on data obtained from the Central Java Province Social Service, the number of people
with disabilities is 17,469 people. Of the total number of 8380 people with mental illness, 1,676 blind people,
3,190 hearing impaired people, 4,223 mentally disabled people with disabilities in 35 districts and cities in
Central Java Province. (Komsos data and information center, 2016). Confidence is one of the roots of
children's attitudes and behavior. According to Fleming (Jenaabadi, 2013) that one that affects self-
confidence is social support, one of which is communication in the family.

Objective: To find out the relationship between family communication patterns and self-confidence in
children with disabilities in SDLB Negeri Purwosari Kudus in 2018/2019.

Method: Correlation analytic research with cross sectional method, the sample used was 37 respondents
with simple random sampling technique with chi-square data analysis.

Research Results: There is a Relationship between Family Communication Patterns and the Confidence of
Children with Disabilities in SLB Negeri Purwosari Kudus Regency, proven by the Chi-Square test with p
value = 0.044

Conclusion: There is a Relationship between Family Communication Patterns and the Confidence of
Children with Disabilities in SLB Negeri Purwosari, Kudus Regency in 2018/2019.

Keywords: Communication Pattern,Self Confidence,Disability Children,SLB Purwosari


2
3

PENDAHULUAN Anak tunarungu memiliki karakteristik


dalam aspek sosial emosional seperti
Anak yang memiliki kekurangan fisik
pergaulan terbatas sebagai akibat dari
termasuk dalam kategori anak berkebutuhan
keterbatasan dalam kemampuan
khusus.Hal ini karena kekurangan fisik yang
berkomunikasi. Sifat ego-sentris yang
dimiliki seseorang menghambat interaksinya
melebihi anak normal yang ditunjukan
dengan lingkungan.Maka, anak dengan
dengan sukarnya anak tunarungu
kekurangan fisik membetuhkan layanan
menempatkan diri pada situasi berpikir dan
khusus agar bisa mengembangkan potensi
perasaan orang lain, sukarnya menyesuaikan
yang dimilikinya. ABK (Anak Berkebutuhan
diri, cepat marah dan mudah tersinggung
Khusus) memiliki apa yang disebut dengan
(kosasih 2013)
hambatan belajar dan hambatan
Tunadaksa merupakan induvidu yang
perkembangan (barrier to learning and
mengalami kelaninan anggota tubuh akibat
development) (Nandiyah,2013).
dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah

Penyandang disabilitas yang dalam bentuk sehingga mengakibatkan turunnya

percakapan sehari-hari disebut sebagai kemampuan normal untuk melakukan

orang cacat, sering di anggap sebagai warga gerakan-gerakan tubuh tertentu, misalnya

yang tidak produktif , tidak mampu kelainan bagian tulang-tulang, otot-otot tubuh

menjalankan negara yang memiliki bebagai maupun daerah persendian dan kelainan

resiko untuk kecacatan (Irwanto, dkk 2010). yang disebabkan oleh gangguan pada urat
syaraf (Koswara, 2013)
Menurut WHO tercatat sebanyak 15% Tunanetra yaitu individu yang kedua
dari penduduk dunia atau 785 juta jiwa indera pengelihatanya tidak berfungsi sama
penyandang Disabilitas.Terdapat 15% sekali, sehingga kehilangan pengelihatan,
penyandang Disabilitas di Indonesia dengan terdapat dua kategori tunanetra, yaitu buta
demikian terdapat populasi mencapai total dan yang samar-samar pengelihatanya
36.841,956 dengan populasi keeluruhan (Munawir, 2009).
penduduk 245 juta. (WHO, 2012) Dalam proses berkomunikasi terkadang
Berdsasarkan data yang diperoleh dari seringkali komunikasi antara dua orang atau
dinas sosial provinsi jawa tengah jumlah lebih tidak berjalan dengan baik karena
penyandang cacat berjumlah 17.469 jiwa. mereka dapat saja menggunakan satu istilah
Dari total jumlah tersebut 8380 jiwa penderita atau kata yang sama, akan tetapi mempunyai
ratardasi mental, 1.676 tuna netra, 3.190 arti yang berbeda atau menggunakan kata
tuna rungu wicara, 4.223 tuna grahita yang berbeda dengan arti yang sama.
penyandang disabilitas di 35 kabupaten dan Komunikasi yang paling sering dilakukan
kota yang ada di provinsi jawa tengah. (pusat sejak manusia dilahirkan yaitu dalam
data dan informasi Komsos, 2016) kehidupan keluarga, keluarga merupakan
bagian terpenting dalam kehidupan manusia,
4

yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak intelektual, sosial maupun emosional
(Kriyantono & Rachmat, 2010) (Delphie, 2010).
Percaya diri merupakan salah satu Komunikasi adalah sebuah proses
pangkal dari sikap dan perilaku anak. Apabila pertukaran perasaan, keinginan, kebutuhan,
anak tidak mempunyai rasa percaya diri, informasi dan pendapat. Komunikasi dalam
anak akan merasa malu, kapan dan di mana suatu keluarga mencerminkan peran dan
saja bila tampil, dan tidak berani untuk hubungan antara anggota keluarga. Jika
bergaul, anak juga tidak berani untuk tanpa adanya komunikasi dalam keluarga,
menunjukkan kemampuan yang dimilikinya kehidupan dalam keluarga itu akan sepi dari
kepada orang lain.Karena hal tersebut kegiatan berbicara, berdialog, dan bertukar
mengakibatkan potensi/kemampuannya tidak pikiran. Maka akan terjadi kerawanan dalam
berkembang. Tentu setiap orang tua tidak hubungan antara anggota keluarga, karena
menginginkan hal seperti ini terjadi pada kurang atau tidak adannya
anak-anaknya.(Afiatin, 2010) komunikasi(Friedman, 2010).
Kepercayaan diri adalah salah satu Pada penelitian Wulandari 2016
aspek kepribadian yang berupa keyakinan menyimpulkan (1) Kepercayaan diri
akan kemampuan diri seseorang sehingga berpengaruh terhadap penyesuaian sosial
tidak terpengaruh oleh orang lain dan dapat penyandang tuna daksa di Balai Rehabilitasi
bertindak sesuai kehenda, gembira, optimis, Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD)
cukup toleran dan bertanggung jawab Bantul Yogyakarta (2) Kendala dalam
(Ghufron & Rini Risnawita S 2016) meningkatkan kepercayaan diri penyandang
Disability adalah suatu keterbatasan atau tuna daksa di Balai Rehabilitasi Terpadu
kehilangan kemampuan (sebagai akibat Penyandang Disabilitas (BRTPD) Bantul
impairment) untuk melakukan suatu kegiatan Yogyakarta yaitu kendala dari dalam diri
dengan cara atau dalam batas-batas yang penyandang tuna daksa itu sendiri seperti
dipandang normal bagi seorang manusia. kemampuan dasar dan cara penangkapan
Handicap adalah suatu kerugian bagi individu materi yang berbeda-beda, menutup diri,
tertentu, sebagai akibat dari suatu emosi berlebih, tempramen dan mudah
impairment atau disability, yang membatasi tersinggung, perbedaan kondisi fisik dan
atau menghambat terlaksananya suatu peran lamanya kecacatan yang dimiliki. Sedangkan
yang normal.ABK adalah mereka yang kendala dari luar yaitu kurangnya motivasi,
memiliki perbedaan dengan rata-rata anak penilaian negatif dari orang lain, dan belum
seusianya atau anak-anak pada umumnya. pernah diadakannya tes psikologi untuk para
Perbedaan yang dialami ABK ini terjadi pada penyandang tuna daksa, (3) Cara mengatasi
beberapa hal, yaitu proses pertumbuhan dan kendala dalam meningkatkan kepercayaan
perkembangnnya yang mengalami kelainan diri penyandang tuna daksa di Balai
atau penyimpangan baik secara fisik, mental, Rehabilitasi Terpadu.
5

METODE a. Karakteristik Usia Responden di sdlb


Penelitian ini merupakan penelitian N purwosari kudus tahun 2019
analitik korelasi dengan menggunakan Tabel 4.1
Distribusi Usia Responden di SLB Negeri
rancangan berupa pendekatan cross Purwosari Kabupaten Kudus
sectional.Teknik pengambilan sampel pada Variabel Mean SD Minimal –
Maksimal
penelitian ini menggunakan quota sampling.
Populasi dalam penelitian ini adalah 37 Usia 9,86 1,78 7 – 13
Responden
responden anak disabilitas di sdlb puwosari
kudus tahun 2019. Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan
Kriteria inklusi adalah Responden siswa bahwa hasil analisis rata-rata usia siswa SLB
SDLB Negeri Purwosari Kudus, Responden Negeri Purwosari adalah 9,86 tahun dengan
Dalam Kondisi sehat, Responden dapat standart deviasi 1,78 tahun. Umur termuda 7
diajak komunikasi dengan baik, Responden tahun dan umur tertua 13 tahun.
Kooperatif. b. Jenis Kelamin Responden di sdlbn
Kriteria eksklusi adalah Responden purwosari kudus tahun 2019
sedang sakit, Responden tidak kooperatif,
Tabel 4.2
Tidak bersedia menjadi responden. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
Responden di SLB Negeri Purwosari
Penelitian ini menggunakan Kabupaten Kudus
kuesioner untuk mengetahuni pola
Jenis Frekuensi Persentase
komunikasi keluarga dan kepercayaan diri Kelamin (%)
anak disabilitas. Kuesioner sejumlah Laki-laki 18 48.6
Perempuan 19 51.4
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk Total 37 100.0
memperoleh informasi dari responden.
Dalam penelitian ini menggunakan instrumen Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan
berupa lembar observasi yang dibuat oleh bahwa responden berjenis kelamin
peneliti berupa kisi-kisi. perempuan lebih banyak yaitu sebanyak 19

Data pada penelitian ini dianalisis orang (51,4%), dan responden berjenis

dengan menggunakan analisis univariat dan kelamin laki-laki sebanyak 18 orang (48.6%).

bivariat. Analisa bivariat dalam penelitian ini


yaitu untuk mengetahui hubungan antara
pola komunikasi keluarga dengan
kepercayaan diri pada anak disabilitas di sdlb
purwosari kudus 2019. Untuk mengetahui
adanya hubungan, dalam penelitian ini
digunakan uji Chi-Square.
6

A. Hasil Penelitian 2. Analisa Bivariat


1. Analisa Univariat Tabel 4.5
Hubungan Pola Komunikasi Keluarga
a. Pola Komunikasi Keluarga Siswa SLB dengan Kepercayaan Diri Anak Disabilitas
Negeri Purwosari Kabupaten Kudus di SLB Negeri Purwosari Kabupaten Kudus
2019
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Pola Komunikasi Kepercayaan Diri
Keluarga Siswa SLB Negeri Purwosari Pola Anak
P
Kabupaten Kudus 2019 Komunik Tdk Total
Percaya valu
asi Percay
n Diri e
Keluarga a Diri
Pola Frekuensi Persentase N % N % N %
Komunkasi (%) 35. 1 64. 1 100.
Keluarga Baik 6
3 1 7 7 0 0.04
Baik 17 45.9 Kurang 9 45. 1 55. 2 100. 4
Kurang Baik 20 54.1 Baik 0 1 0 0 0
Total 37 100.0

Tabel 4.5 menunjukkan hasil tabulasi


Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan
silang antara Pola Komunikasi Keluarga
bahwa Pola Komunikasi Keluarga Siswa
dengan Kepercayaan Diri Anak Disabilitas
SLB Negeri Purwosari Kabupaten Kudus
di SLB Negeri PurwosariKabupaten Kudus
paling banyak adalah pola komunikasi
didapatkan bahwa 11 orang (64.7%)
Kurang Baik yaitu sebanyak 20 responden
memiliki kepercayaan diri kurang baik
(54.1%).
dengan pola komunikasi keluarga yang
b. Kepercayaan Diri Anak di SLB Negeri kurang baik .
Purwosari Kabupaten Kudus
Hasil analisis chi square diperoleh
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Kepercayaan diri anak nilai p value adalah 0.044, yang berarti
di SLB Negeri Purwosari Kabupaten Kudus
2019 nilai p value<0,05, sehingga dapat diambil
Kepercayaan Frekuensi Persentase kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima,
Diri Anak (%)
Percaya Diri 15 40.5 yang berarti ada hubungan bermaknaPola
Tidak 22 59.5 Komunikasi Keluarga dengan
Percaya Diri
Total 37 100.0 Kepercayaan Diri Anak Disabilitas di SLB
Negeri PurwosariKabupaten Kudus
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan
dengan nilai OR (Odds Ratio) 0,35-2,55,
bahwa Kepercayaan diri anak di SLB
Yang berarti responden yang mempunyai
Negeri Purwosari Kabupaten Kudus paling
pola komunikasi keluarga kurang baik
banyak adalah tidak percaya diri yaitu
berpeluang memiliki kepercayaan diri
sebanyak 22 responden (59.5%)
kurang baik 0,35 kali.
7

PEMBAHASAN sifat genetika. Akan tetapi sepanjang waktu


akan terus berubah, maka seiring dengan itu
Berdasarkan tabel 4.3 diatas hasil
pendidikan moral atau kepribadian anak akan
penelitin diperoleh bahwa responden yang
berubah seiring dengan pola komunikasi di
pola komunikasi keluarga kurang baik yaitu
lingkungan keluarga anak tersebut.Dalam
sebanyak 20 orang (51.1%), dan Pola
pola komunikasi keluarga seperti hubungan
Komunikasi Keluarga Baik yaitu sebanyak
yang dilakukan oleh individu adalah
17 orang (48.9%).
dengan ibunya, bapaknya dan anggota
Berdasarkan tabel 4.4 hasil penelitian
keluarga lainnya, karena tanggung jawab
diperoleh bahwa Kepercayaan Diri Anak
orang tua adalah mendidik anak, maka
Disabilitas Tidak Percaya Diri yaitu sebanyak
komunikasi yang berlangsung dalam
22 orang (59.5%), dan Kepercayaan Diri
keluarga bernilai pendidikan. Dalam
Anak Disabilitas Percaya Diri yaitu sebanyak
komunikasi ada sejumlah norma yang ingin
15 orang (40.5%).
diwariskan oleh orang tua kepada anaknya
Berdasarkan tabel 4.5 Dari hasil
dengan pengandalan pendidikan. Norma-
crosstabulation menunjukkan Pola
norma tersebut mencakup norma agama,
Komunikasi Keluarga dengan Kepercayaan
akhlak, social, etika dan normal agar anak
Diri Anak Disabilitas di SLB Negeri Purwosari
memiliki kepercayaan diri yang baik
Kabupaten Kudus didapatkan bahwa 11
(Widyanto, 2014).
orang (64.7%) memiliki kepercayaan diri
Kepercayan diri dapat dilatih sejak dini
kurang baik dengan pola komunikasi
didalam keluarga melalui hubungan
keluarga yang kurang baik .
komunikasi antar anggota keluarga.
Setelah dilakukan uji analisis chi square
Kepercayaan diri anak adalah keyakinan
diperoleh nilai p value adalah 0.044, yang
seseorang terhadap kemampuan yang
berarti nilai p value<0,05, sehingga dapat
dimiliki sehingga merasa dirinya diterima,
diambil kesimpulan Ho ditolak dan Ha
dihargai dan dihormati oleh orang lain
diterima, yang berarti ada hubungan
(Hakim, 2010).
bermakna Pola Komunikasi Keluarga dengan
Penelitian terdahulu yang mendukung
Kepercayaan Diri Anak Disabilitas di SLB
penelitian ini adalan yang dilakukan oleh
Negeri Purwosari Kabupaten Kudus dengan
Wulandari (2016) tentang Kepercayaan diri
nilai OR (Odds Ratio) 0,35-2,55, Yang berarti
berpengaruh terhadap penyesuaian sosial
responden yang mempunyai pola komunikasi
penyandang tuna daksa di Balai Rehabilitasi
keluarga kurang baik berpeluang memiliki
Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD)
kepercayaan diri kurang baik 0,35 kali.
Bantul Yogyakarta didapatkan hasil Kendala
Dalam penelitian Nirwana (2013)
dalam meningkatkan kepercayaan diri
disebutkan bahwa kepribadian anak memang
penyandang tuna daksa di Balai Rehabilitasi
tidak akan jauh beda dengan apa yang
Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD)
dimiliki oleh orangtua mereka karena adanya
Bantul Yogyakarta yaitu kendala dari dalam
8

diri penyandang tuna daksa itu sendiri seperti


kemampuan dasar dan cara penangkapan DAFTAR PUSTAKA
materi yang berbeda-beda, menutup diri, Abdullah, N. (2013). mengenal anak
emosi berlebih, tempramen dan mudah berkebutuhan khusus. megistra.
tersinggung, perbedaan kondisi fisik dan
Afiatain, T. d. (2010). peningkatan
lamanya kecacatan yang dimiliki. Sedangkan
kepercayaan diri melalui konseling
kendala dari luar yaitu kurangnya motivasi,
kelompok. psikologika.
penilaian negatif dari orang lain, dan pola
komunikasi yang kurang baik didalam Ahmad, S. d. (2014). komunikasi antar
keluarga dan belum pernah diadakannya tes pribadi. jakarta: PT. Raja grafindo
psikologi untuk para penyandang tuna daksa, Persada.
untuk mengatasi kendala dalam
Ali, Z. (2010). Pengantar Keperawatan
meningkatkan kepercayaan diri penyandang
Keluarga. Jakarta: EGC.
tuna daksa di Balai Rehabilitasi Terpadu.
Alimin, Z. (2012). Anak Berkebutuhan
KESIMPULAN Khusus. modul pada Universitas
Pendidikan Insonesia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh peneliti dengan judul “ Hubungan Pola Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatu
Komunikasi Keluarga dengan Kepercayaan Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Diri Anak Disabilitas di SDLB NEGEREI Cipta.
Purwosari kudus tahun 2019”. Maka dapat
Bahri, s. (2014). pola asuh orang tua dan
diambil kesimpulan sebagai berikut :
komunikasi dalam keluarga. jakarta:
1. Pola Komunikasi Keluarga Kurang rineka cipta.
Baik yaitu sebanyak 20 orang (51.1%),
Delphie, b. (2010). pembelajaran anak
dan Pola Komunikasi Keluarga Baik
berkebutuhan khusus dalam setting
yaitu sebanyak 17 orang (48.9%).
pendidikan inklusi. bandung: PT. Refika
2. Kepercayaan Diri Anak Disabilitas
Aditama.
Tidak Percaya Diri yaitu sebanyak 22
orang (59.5%), dan Kepercayaan Diri Edy, M. (2013). ilmu komunikasi suatu
Anak Disabilitas Percaya Diri yaitu pengantar. Bandung: PT. Remaja
sebanyak 15 orang (40.5%). Rosdakarya.
3. Ada Hubungan Pola Komunikasi
Fajar, M. (2009). Ilmu Komunikasi terori dan
Keluarga dengan Kepercayaan Diri
praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Anak Disabilitas di SLB Negeri
Purwosari Kabupaten Kudus dibuktikan Hakim, T. (2009). mengatasi rasa percaya
dengan uji Chi-Square dengan nilai p diri. jakarta: Puspa Swara.
Value = 0.044, p < nilai α (0,05).
9

Hidayat. (2010). Metode Penelitian Morissan, D. (2013). Teori Komunikasi:


Paradigma Kuantitatif. Jakarta: Heath Individu Hingga Masa. Jakarta:
Books. Kencana.

Hidayat, D. (2012). Komunikasi Antar Muhammad. (2009). Komunikasi Organisasi.


Pribadi dan Medianya. Yogyakarta: Jakarta : Bumi Aksara.
Graha Ilmu.
Munawir, A. &. (2009). Pendidikan Anak
Hildayani, R. d. (2010). Penanganan anak Berkebutuhan Khusus. Surakarta:
berkelainan anak dengan berkebutuhan Yuma Pustaka.
khusus. Jakarta Universitas Terbuka.
Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian
Irwanto, K. &. (2010). Analisis situasi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
penyandang Disabilitas Indonesia.
Nursalam. (2015). Metodologi Penelitian.
Jakarta Fakultas Ilmu sosial.
Jakarta: Salemba Medika.
Kemis, R. (2013). Pendidikan Anak
Organization, W. W. (2015).
Berkebutuhan Khusus Tunagrahita.
Bandung: PT. Luxima Metro Media. Rachmawati, I. (2013). Hubungan Pola
Komunikasi Orang Tua Terhadap Anak
klara, l. d. (2012). panduan menjadi rasa
Autisme. Universitas Muhammadiyah
percaya diri . jakarta: nobel edumedia.
Surakarta.
Komsos. (2016). Pusat Data dan Informasi.
Riskesdas. (2013). penyandang disabilitas.
Kosasih. (2013). Cara Bijak Memahami
Riyanto, A. (2017). Aplikasi metodologi
Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung:
penelitian kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Yrama Widya.
Medika.
Koswara. (2013). Pendidikan Anak
S, A. (2011). Komunikasi Interpersonal .
Berkebutuhan Khusus Berkesulitan
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Belajar Spesifik. Bandung: PT. Luxima
Metro Media. Saryono. (2010). Metodologi penelitian
kesehatan penuntun praktis bagi
Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset
pemula. Yogyakarta: Mitra Cendekia.
Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada
Media Grup. setiawan. (2014). siapa takut tampil percaya
diri. yogyakarta: parasmu.
M, F. (2010). buka ajar keperawatan
keluarga. jakarta: EGC. Sinta, P. (2013). Pola Komunikasi Jarak
Juah Anatara Orang Tua Dengan Anak.
M, N. G. (2016). Teori-teori Psikologi .
Journal Acta Diuma.
jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
10

solicha, A. d. (2014). psikologi pendidikan


anak berkebutuhan khusus. jakarta:
lembaga penelitian UIN jakarta .

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian


Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian


Pendidikan. Bandung: CV ALFABETA.

Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Syaifullah, A. (2010). Tips percaya diri.


jogjakarta.

Thompson, j. (2012). memahami anak


berkebutuhan khusus. jakarta: esensi.

utari, i. t. (2014). persepsi mahasiswa


penyandang disabilitas tentang sistem
pendidikan segregasi dan penduidikan
inklusi. dalam jurnal ilmiah
berkebutuhan khusus.

WHO. (2012). Data penyandang cacat du


dunia.

Wiryanto. (2013). Pengantar Ilmu


Komunikasi. Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.

Wulandari, Y. (2016). Pengaruh


Kepercayaan Diri Terhadap
Penyesuaian Penyandang Tunadaksa.
Universitas PGRI Yogyakarta.

Yofita, a. (2013). mengatasi rasa percaya


diri. jakarta: purwa suara.