Anda di halaman 1dari 23

BAB I

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Defenisi
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam
atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain
vaskular.
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah
sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragik antara lain:
hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat
melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun.
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga menghambat
aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan kemudian
merusaknya.
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah salah satu jenis stroke
yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah di otak sehingga darah tidak dapat
mengalir secara semestinya yang menyebabkan otak mengalami hipoksia dan berakhir
dengan kelumpuhan.

B. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 1


Otak manusia kira-kira 2% dari berat badan orang dewasa (3Ibs). Otak menerima
20% dari curah jantung dan memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh dan
sekitar 400 kilo kalori energi setiap harinya.
Secara anatomis sistem saraf tepi dibagi menjadi 31 pasang saraf spinal dan 12
pasang saraf cranial. Saraf perifer terdiri dari neuron- neuron yang menerima pesan-
pesan neural sensorik (aferen) yang menuju ke system saraf pusat, dan atau menerima
pesan-pesan neural motorik (eferen) dari system saraf pusat. Saraf spinal menghantarkan
pesan-pesan tersebut maka saraf spinal dinamakan saraf campuran.
Sistem saraf somatic terdiri dari saraf campuran. Bagian aferen membawa baik
informasi sensorik yang disadari maupun informasi sensorik yang tidak disadari. Sistem
saraf otonom merupakan sistem saraf campuran. Serabut-serabut aferen membawa
masukan dari organ- organ visceral. Saraf parasimpatis adalah menurunkan kecepatan
denyut jantung dan pernafasan, dan meningkatkan pergerakan saluran cerna sesuai
dengan kebutuhan pencernaan dan pembuangan.

2. Fisiologis
Otak adalah alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat computer dari
semua alat tubuh. Bagia dari saraf sentral yang yang terletak didalam rongga tengkorak
(cranium) dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terletak dalam rongga cranium
berkembang dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran
otak awal.
a. Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, thalamus, serta hipotalamus.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 2


b. Otak tengah, trigeminus, korpus callosum, korpus kuadrigeminus.
c. Otak belakang, menjadi pons varoli, medulla oblongata, dan serebellum.
Fisura dan sulkus membagi hemifer otak menjadi beberapa daerah. Korteks
serebri terlibat secara tidur teratur. Lekukan diantara gulungan serebri disebut sulkus.
Sulkus yang paling dalam membentuk fisura longitudinal dan lateralis. Daerah atau
lobus letaknya sesuai dengan tulang yang berada di atasnya (lobusfrontalis,
temporalis,oarientalis dan oksipitalis).
Fisura longitudinalis merupakan celah dalam pada bidang media laterali
memisahkan lobus temparalis dari lobus frontalis sebelah anterior dan lobus parientalis
sebelah posterior. Sulkus sentralis juga memisahkan lobus frontalis juga memisahkan
lobus frontalis dan lobus parientalis. Adapun bagian-bagian otak meluputi :
a. Cerebrum
Cerebrum (otak besar) merupakan bagian terbesar dan terluas dari otak, berbentuk
telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Masing-masing disebut
fosakranialis anterior atas dan media. Kedua permukaan ini dilapisi oleh lapisan
kelabu ( zat kelabu) yaitu pada bagian korteks serebri dan zat putig terdapat pada
bagian dalam yang mengandung serabut syaraf.
Pada otak besar ditemukan beberapa lobus yaitu:
1) Lobus frontalis adalah bagian depan serebrum yang terletak dibagian sulkus
sentralis.
2) Lobus parientalis terdapat didepan sulkus sentralis dan dibelakang oleh korako
oksipitalis.
3) Lobus temporalis terdapat dibawah lateral dan fisura serebralis dan didepan
lobus oksipitalis.
4) Oksipitalis yang mengisi bagian belakang dari serebrum.
Korteks serebri terdiri dari atas banyak lapisan sel saraf yang
merupakan.ubstansi kelabu serebrum. Korteks serebri ini tersusun dalam banyak
gulungan-gulungan dan lipatan yang tidak teratur, dan dengan demikian menambah
daerah permukaan korteks serebri, persis sama seperti melipat sebuah benda yang
justru memperpanjang jarak sampai titik ujung yang sebenarnya. Korteks serebri
selain dibagi dalam lobus juga dibagi menurut fungsi dan banyaknya area. Cambel

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 3


membagi bentuk korteks serebri menjadi 20 area. Secara umum korteks dibagi
menjadi empat bagian:
1) Korteks sensori, pusat sensasi umum primer suatu hemisfer serebri yang
mengurus bagian badan, luas daerah korteks yang menangani suatu alat atau
bagian tubuh tergantung ada fungsi alat yang bersangkutan. Korteks sensori
bagian fisura lateralis menangani bagian tubuh bilateral lebih dominan.
2) Korteks asosiasi. Tiap indra manusia, korteks asosiasi sendiri merupakan
kemampuan otak manusia dalam bidang intelektual, ingatan, berpikir,
rangsangan yang diterima diolah dan disimpan serta dihubungkan dengan data
yang lain. Bagian anterior lobus temporalis mmpunyai hubungan dengan fungsi
luhur dan disebut psikokortek.
3) Kortekes motorik menerima impuls dari korteks sensoris, fungsi utamanya
adalah kontribusi pada taktus piramidalis yang mengatur bagian tubuh
kontralateral.
4) Korteks pre-frontal terletak pada lobus frontalis berhubungan dengan sikap
mental dan kepribadian.
b. Batang otak
Batang otang terdiri :
1) Diensephalon, diensephalon merupakan bagian atas batang otak. yang terdapat
diantara serebelum dengan mesensefalon. Kumpulan dari sel saraf yang
terdapat di bagian depan lobus temporalis terdapat kapsul interna dengan sudut
menghadap kesamping. Fungsinya dari diensephalon yaitu :
- Vasokonstriktor, mengeclkan pembuluh darah.
- Respirator, membantu proses pernafasan.
- Mengontrol kegiatan reflex
- Membantu kerja jantung
Mesensefalon, atap dari mesensefalon terdiri dari empat bagian yang menonjol
keatas. Dua disebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan dua
sebelah bawah selaput korpus kuadrigeminus inferior. Serat nervus toklearis
berjalan ke arah dorsal menyilang garis tengah ke sisi lain. Fungsinya :
- Membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 4


- Memutar mata dan pusat pergerakan mata.
2) Pons varoli barikum pantis yang menghubungkan mesensefalon dengan pons
varoli dan dengan serebelum, terletak didepan serebelum diantara otak tengah
dan medulla oblongata. Disini terdapat premoktosid yang mengatur gerakan
pernafasan dan refleks. Fungsinya adalah :
- Penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medulla
oblongata dengan serebellum.
- Pusat saraf nervus trigeminus.
3) Medulla oblongata merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan pons varoli dengan medula spinalis. Bagian bawah medulla
oblongata merupakan persambungan medulla spinalis ke atas, bagian atas
medulla oblongata yang melebar disebut kanalis sentralis di daerag tengah bagian
ventral medulla oblongata.
Medulla oblongata mengandung nucleus atau badan sel dari berbagai saraf otak
yang penting. Selain itu medulla mengandung “pusat-pusat vital” yang berfungsi
mengendalikan pernafasn dan system kardiovaskuler. Karena itu, suatu cedera
yang terjadi pada bagian ini dalam batang otak dapat membawa akibat yang
sangat serius.
c. Cerebellum
Otak kecil di bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan cerebrum
oleh fisura transversalis dibelakangi oleh pons varoli dan diatas medulla oblongata.
Organ ini banyak menerima serabut aferen sensoris, merupakan pusat koordinasi dan
integrasi. Bentuknya oval, bagian yang kecil pada sentral disebut vermis dan bagian
yang melebar pada lateral disebut hemisfer. Serebelum berhubungan dengan batang
otak melalui pundunkulus serebri inferior. Permukaan luar serebelum berlipat-lipat
menyerupai serebellum tetapi lipatannya lebih kecil dan lebih teratur. Permukaan
serebellum ini mengandung zat kelabu. Korteks serebellum dibentuk oleh substansia
grisia, terdiri dari tiga lapisan yaitu granular luar, lapisan purkinye dan lapisan
granular dalam. Serabut saraf yang masuk dan yang keluar dari serebrum harus
melewati serebellum.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 5


C. Etiologi 
Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi
1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.
2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh
darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding
arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan
3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai bentuk abnormal,
terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung
masuk vena, menyebabkan mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
5. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi
pembuluh darah.
Faktor resiko pada stroke adalah
1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium,
penyakit jantung kongestif)
3. Kolesterol tinggi, obesitas
4. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)
5. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
6. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan kadar estrogen
tinggi)
7. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol

D. Patofisiologi 
Ada dua bentuk CVA bleeding
1. Perdarahan intra cerebral
Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk
ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom yang menekan jaringan otak dan
menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK yang terjadi dengan cepat dapat
mengakibatkan kematian yang mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intra cerebral.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 6


sering dijumpai di daerah putamen, talamus, sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan
cerebellum. Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur dinding permbuluh
darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.
2. Perdarahan sub arachnoid
Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma paling sering
didapat pada percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi willisi. AVM dapat dijumpai
pada jaringan otak dipermukaan pia meter dan ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel
otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan keluarnya darah keruang subarakhnoid
mengakibatkan tarjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka
nyeri, sehinga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-
tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak juga
mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan
subarakhnoid dapat mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini
seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9,
dan dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena
interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam cairan
serebrospinalis dengan pembuluh arteri di ruang subarakhnoid. Vasospasme ini dapat
mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal
(hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain). Otak dapat berfungsi jika

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 7


kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel saraf
hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan,
kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak
boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak
25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun
sampai 70 % akan terjadi gejala disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh
berusaha memenuhi O2 melalui proses metabolik anaerob,yang dapat menyebabkan
dilatasi pembuluh darah otak.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 8


E. Pathway

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 9


F. Manifestasi Klinis 
Kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke
1. Daerah a. serebri media
a. Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi
b. Hemianopsi homonim kontralateral
c. Afasi bila mengenai hemisfer dominan
d. Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan
2. Daerah a. Karotis interna
Serupa dengan bila mengenai a. Serebri media
3. Daerah a. Serebri anterior
a. Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai
b. Incontinentia urinae
c. Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena
4. Daerah a. Posterior
a. Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai
b. daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh a. Serebri media
c. Nyeri talamik spontan
d. Hemibalisme
e. Aleksi bila mengenai hemisfer dominan
5. Daerah vertebrobasiler
a. Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak
b. Hemiplegi alternans atau tetraplegi
c. Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)
 
G. Komplikasi 
Stroke hemoragik dapat menyebabkan
1. Infark Serebri
2. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus normotensif
3. Fistula caroticocavernosum
4. Epistaksis
5. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 10


H. Pemeriksaan Diagnostik 
1. Angiografi cerebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti perdarahan
arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurism
atau malformasi vaskular.
2. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan
adanya hemoragi pada subarakhnoid atau perdarahan pada intrakranial.
3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma,
adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar terjadinya
perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari
hemoragik.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari
jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:
1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central jaringan otak, sekitar
daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa diselematkan, tindakan awal difokuskan
untuk menyelematkan sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa
dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki disritmia (irama dan
frekuensi) serta tekanan darah.
2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang
berlebihan, pemberian dexamethason.

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 11


3. Pengobatan
a. Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan perdarahan pada fase akut.
b. Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah peristiwa
trombolitik/emobolik.
c. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral
4. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darahotak.
Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti
hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan
anestesi umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dapat
dipertahankan.

J. Pencegahan
1. Lakukan olahraga ringan lima kali setiap minggu
2. Konsumsi makanan sehat, makanan yang seimbang lebih banyak serat  seperti buah dan
sayur dan rendah garam
3. Menjaga angka kolesterol di ambang batas normal
4. Menjaga berat badan ideal  (tidak gemuk)
5. Berhenti merokok dan jangan menjadi perokok pasif
6. Kurangi minum alkohol
7. Kurangi risiko diabetes dan konsultasi dokter
8. Perbanyak informasi tentang stroke
9. Mengenali dan mengobati atrial fibrillation  atau  Fibrilasi atrium (AF) adalah  salah satu
jenis aritmia. Aritmia adalah sebuah masalah dengan kecepatan atau irama denyut
jantung).

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 12


BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan 
1. Aktivitas dan istirahat
a. Data Subyektif:
1) Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis.
2) Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
b. Data obyektif:
1) Perubahan tingkat kesadaran
2) Perubahan tonus otot  (flaksid atau spastic),  paraliysis (hemiplegia), kelemahan
umum.
3) Gangguan penglihatan
2. Sirkulasi
a. Data Subyektif:
Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,
endokarditis bacterial), polisitemia.
b. Data obyektif:
1) Hipertensi arterial
2) Disritmia, perubahan EKG
3) Pulsasi : kemungkinan bervariasi
4) Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
3. Integritas ego
a. Data Subyektif:
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
b. Data obyektif:
1) Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan , kegembiraan
2) Kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi
a. Data Subyektif:
1) Inkontinensia, anuria

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 13


2) Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh),  tidak adanya suara usus (ileus
paralitik)
5. Makan/ minum
a. Data Subyektif:
1) Nafsu makan hilang
2) Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
3) Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
4) Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah
b. Data obyektif:
1) Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
2) Obesitas ( faktor resiko )
6. Sensori neural
a. Data Subyektif:
1) Pusing / syncope  ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
2) Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral  atau perdarahan sub arachnoid.
3) Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
4) Penglihatan berkurang
5) Sentuhan  : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka
ipsilateral ( sisi yang sama )
6) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
b. Data obyektif:
1) Status mental : koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah
laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
2) Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya reflek tendon dalam 
( kontralateral )
3) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
4) Afasia  ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/
kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata komprehensif, global /
kombinasi dari keduanya.
5) Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 14


6) Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
7) Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral
7. Nyeri / kenyamanan
a. Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
b. Data Obyektif:
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
8. Respirasi
a. Data Subyektif:
1) Perokok ( faktor resiko )
Tanda:
a) Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas
b) Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur
c) Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
9. Keamanan
a. Data Obyektif:
1) Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
2) Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
3) Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
4) Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
5) Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang
kesadaran diri
10. Interaksi sosial
a. Data Obyektif:
Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
11. Pengajaran / pembelajaran
a. Data Subjektif :
1) Riwayat hipertensi keluarga, stroke
2) Penggunaan kontrasepsi oral
12.   Pertimbangan rencana pulang

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 15


- Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi
- Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri dan
pekerjaan rumah

B. Diagnosa Keperawatan 
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral berhubungan dengan aliran darah ke otak
terhambat
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi ke otak
3. Defisit perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, toileting berhubungan kerusakan
neurovaskuler
4. Kerusakan mobilitas fisik  berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
5. Risiko kerusakan integritas kulit dengan factor risiko; immobilisasi fisik
6. Risiko Aspirasi dengan factor risiko;  penurunan kesadaran
7. Risiko injuri dengan factor risiko; penurunan kesadaran
8. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran.
 
C. Rencana Keperawatan 
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan Monitorang neurologis
Perfusi jaringan tindakan keperawatan 1. Monitor ukuran, kesimetrisan,
serebral  b.d aliran selama 3 x 24 jam, reaksi dan bentuk  pupil
darah ke otak diharapkan suplai aliran 2. Monitor tingkat kesadaran klien
terhambat. darah keotak lancar 3. Monitir tanda-tanda vital
dengan kriteria hasil: 4. Monitor keluhan nyeri kepala,
- Nyeri kepala / vertigo mual, muntah
berkurang sampai de- 5. Monitor respon klien terhadap
ngan hilang pengobatan
- Berfungsinya saraf 6.   Hindari aktivitas jika TIK
dengan baik meningkat
- Tanda-tanda vital 7.    Observasi kondisi fisik klien
stabil

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 16


Terapi oksigen
1. Bersihkan jalan nafas dari sekret
2. Pertahankan jalan nafas tetap
efektif
3. Berikan oksigen sesuai intruksi
4. Monitor aliran oksigen, kanul
oksigen dan sistem humidifier
5. Beri penjelasan kepada klien
tentang pentingnya pemberian
oksigen
6. Observasi tanda-tanda hipo-
ventilasi
7. Monitor respon klien terhadap
pemberian oksigen
8. Anjurkan klien untuk tetap
memakai oksigen selama
aktifitas dan tidur
2 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Libatkan keluarga untuk
komunikasi verbal tindakan keperawatan membantu memahami /
b.d penurunan selama  3 x 24 jam, memahamkan informasi dari / ke
sirkulasi ke otak diharapkan klien mampu klien
untuk berkomunikasi 2. Dengarkan setiap ucapan klien
lagi dengan kriteria hasil: dengan penuh perhatian
- dapat menjawab 3. Gunakan kata-kata sederhana
pertanyaan yang dan pendek dalam komunikasi
diajukan perawat dengan klien
- dapat mengerti dan 4. Dorong klien untuk mengulang
memahami pesan- kata-kata
pesan melalui gambar 5. Berikan arahan / perintah yang
- dapat sederhana setiap interaksi dengan
mengekspresikan klien

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 17


perasaannya secara 6. Programkan speech-language
verbal maupun teraphy
nonverbal 2. Lakukan speech-language
teraphy setiap interaksi dengan
klien
3 Defisit perawatan Setelah dilakukan 1. Kaji kamampuan klien untuk
diri; mandi, tindakan keperawatan perawatan diri
berpakaian, makan, selama 3x 24 jam, 2. Pantau kebutuhan klien untuk
diharapkan kebutuhan alat-alat bantu dalam makan,
mandiri klien terpenuhi, mandi, berpakaian dan toileting
dengan kriteria hasil: 3. Berikan bantuan pada klien
- Klien dapat makan hingga klien sepenuhnya bisa
dengan bantuan orang mandiri
lain / mandiri 4. Berikan dukungan pada klien
- Klien dapat mandi de- untuk menunjukkan aktivitas
ngan bantuan orang normal sesuai kemampuannya
lain 5. Libatkan keluarga dalam
- Klien dapat memakai pemenuhan kebutuhan
pakaian dengan perawatan diri klien
bantuan orang lain /
mandiri
- Klien dapat toileting
dengan bantuan alat

4 Kerusakan mobilitas Setelah dilakukan 1. Ajarkan klien untuk latihan


fisik b.d kerusakan tindakan keperawatan rentang gerak aktif pada sisi
neurovas-kuler selama 3x24 jam, ekstrimitas yang sehat
diharapkan klien dapat 2. Ajarkan rentang gerak pasif
melakukan pergerakan pada sisi ekstrimitas yang
fisik dengan kriteria parese / plegi dalam toleransi
hasil: nyeri

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 18


- Tidak terjadi 3. Topang ekstrimitas dengan
kontraktur otot dan bantal untuk mencegah atau
footdrop mangurangi bengkak
- Pasien berpartisipasi 4. Ajarkan ambulasi sesuai dengan
dalam program tahapan dan kemampuan klien
latihan 5. Motivasi klien untuk melakukan
- Pasien mencapai latihan sendi seperti yang
keseimbangan saat disarankan
duduk 6. Libatkan keluarga untuk
- Pasien mampu membantu klien latihan sendi
menggunakan sisi
tubuh yang tidak
sakit untuk
kompensasi
hilangnya fungsi
pada sisi yang
parese/plegi
5 Risiko kerusakan Setelah dilakukan 1. Beri penjelasan pada klien
integritas kulit tindakan perawatan tentang: resiko adanya luka
dengan factor risiko; selama 3 x 24 jam, tekan, tanda dan gejala luka
immobilisasi fisik diharapkan pasien tekan, tindakan pencegahan agar
mampu mengetahui dan  tidak terjadi luka tekan)
mengontrol resiko 2. Berikan masase sederhana
dengan kriteria hasil : - Ciptakan lingkungan yang
- Klien mampu menge- nyaman
nali tanda dan gejala  - Gunakan lotion, minyak atau
adanya resiko luka bedak untuk pelicin
tekan - Lakukan masase secara teratur
- Klien mampu - Anjurkan klien untuk rileks
berpartisi-pasi dalam selama masase
pencegahan resiko - Jangan masase pada area

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 19


luka tekan (masase kemerahan utk menghindari
sederhana, alih ba- kerusakan kapiler
ring, manajemen - Evaluasi respon klien terhadap
nutrisi, manajemen masase
tekanan). 3. Lakukan alih baring
- Ubah posisi klien setiap 30
menit- 2 jam
- Pertahankan tempat tidur
sedatar mungkin untuk
mengurangi kekuatan
geseran
- Batasi posisi semi fowler
hanya 30 menit
- Observasi area yang tertekan
(telinga, mata kaki, sakrum,
skrotum, siku, ischium,
skapula)
4. Berikan manajemen nutrisi
- Kolaborasi dengan ahli gizi
- Monitor intake nutrisi
- Tingkatkan masukan protein
dan karbohidrat untuk
memelihara ke-seimbangan
nitrogen positif
5. Berikan manajemen tekanan
- Monitor kulit adanya
kemerahan dan pecah-pecah
- Beri pelembab pada kulit
yang kering dan pecah-pecah
- Jaga sprei dalam keadaan
bersih dan kering

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 20


- Monitor aktivitas dan
mobilitas klien       
6 Risiko Aspirasi Setelah dilakukan Aspiration Control Management :
dengan factor risiko; tindakan perawatan 1. Monitor tingkat kesadaran, reflek
penurunan tingkat selama 3 x 24 jam, batuk dankemampuan menelan
kesadaran diharapkan tidak terjadi 2. Pelihara jalan nafas
aspirasi pada pasien 3. Lakukan saction bila diperlukan
dengan kriteria hasil : 4. Haluskan makanan yang akan
- Dapat bernafas diberikan
dengan 5. Haluskan obat sebelum
mudah,frekuensi pemberian
pernafasan normal
- Mampu
menelan,mengunyah
tanpa terjadi aspirasi

7 Risiko Injuri dengan Setelah dilakukan Risk Control Injury


factor risiko; tindakan perawatan 1. Menyediakan lingkungan yang
penurunan tingkat selama 3 x 24 jam, aman bagi pasien
kesadaran diharapkan tidak terjadi 2. Memberikan informasi
trauma pada pasien mengenai cara mencegah cedera
dengan kriteria hasil: 3. Memberikan penerangan yang
- Bebas dari cedera cukup
- Mampu menjelaskan 4. Menganjurkan keluarga untuk
factor resiko dari selalu menemani pasien
lingkungan dan cara
untuk mencegah
cedera
- Menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada
8 Pola nafas tidak Setelah dilakukan Respiratori Status Management

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 21


efektif berhubungan tindakan perawatan 1. Pertahankan jalan nafas yang
dengan penurunan selama 3 x 24 jam, paten
kesadaran diharapkan pola nafas 2. Observasi tanda-tanda
pasien efektif dengan hipoventilasi
kriteria hasil : 3. Berikan terapi O2
- Menujukkan jalan 4. Dengarkan adanya  kelainan
nafas paten ( tidak suara tambahan
merasa tercekik, irama 5. -          Monitor vital sign
nafas normal, frekuensi
nafas normal,tidak ada
suara nafas tambahan
- Tanda-tanda vital
dalam batas normal

Discharge planning bagi pasien stroke


1. Memastikan keamanan bagi pasien setelah pemulangan
2. Memilih perawatan, bantuan, atau peralatan khusus yang dibutuhkan
3. Merancang untuk pelayanan rehabilitasi lanjut atau tindakan lainnya di rumah (misal
kunjungan rumah oleh tim kesehatan)
4. Penunjukkan health care provider yang akan memonitor status kesehatan pasien
5.     Menentukan pemberi bantuan yang akan bekerja sebagai partner dengan pasien untuk
memberikan perawatan dan bantuan harian di rumah, dan mengajarkan tindakan yang
dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. 
Jakarta : Salemba Medika

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 22


___________. Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragic. Diakses pada tanggal 6 Februari 2012
di http://nursingbegin.com/askep-stroke-hemoragik/
___________. Konsep Teori Stroke Hemoragik. Diakses pada tanggal 6 Februari 2012
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/

Ni Putu Suarnadi, S.Kep Page 23