Anda di halaman 1dari 23

Melatih Prajurit Menjadi Petembak Yang Baik

Kegiatan menembak bukan hanya sekedar ritual meledakkan


peluru yang dengan mudahnya langsung kena kearah sasaran
seperti yang sering kita saksikan di film TV atau bioskop.
Kegiatan menembak, sesungguhnya membutuhkan proses yang
teliti mulai dari membuat gambar bidik, mengatur nafas dan
menentukan ritme untuk menarik picu sehingga peluru lepas dari
senapan menuju sasaran yang dituju sesuai keinginan kita. Untuk
melakukan proses tersebut, dibutuhkan persiapan fisik, mental
dan keahlian khusus untuk melakukan kegiatan menembak
tersebut. Setelah rangkaian kegiatan tersebut selesai, senjata
yang kita pakai juga harus dibersihkan dan diperlakukan sesuai
dengan standar perawatannya agar mekanisme kerja senapan
tetap terpelihara dengan baik.
Sebelum kegiatan melatih prajurit agar menjadi petembak yang
mahir dan handal, perlu dilaksanakan proses perekrutan untuk
mencari petembak yang baik dengan beberapa kriteria yang
harus dipenuhi sebagai berikut:

1. Kesehatan jiwa, merupakan syarat utama dan mutlak


untuk dipenuhi karena seorang petembak harus mampu
bertanggung jawab atas profesinya karena dia mengawaki dan
mengendalikan penggunaan senjata dan munisinya yang apabila
disalahgunakan dapat membahayakan keselamatan diri maupun
orang lain. Seorang petembak yang kesehatan jiwanya
terganggu akan cenderung menyalahgunakan senjatanya
manakala dia mendapatkan tekanan masalah yang tidak dapat dia
pecahkan dan mencari penyelesaian sendiri dengan
menyalahgunakan senjatanya.1 Kesehatan jiwa adalah faktor yang
paling dominan dan vital bagi petembak, karena aspek ini
merupakan bawaan dasar manusia sejak dia dilahirkan.

1
Kejadian penyalahgunaan senjata untuk mendukung kejahatan yang dilakukan
oleh seorang petembak pernah terjadi di Batalyon 323/Raider pada tahun 2006.
2

2. Kesehatan fisik. Yang dimaksud sehat fisik disini


adalah, bahwa seorang petembak dituntut untuk memiliki fisik
yang tidak cacat, organ tubuhnya bisa digerakkan dan
difungsikan dengan normal dan tidak memiliki penyakit dalam
yang bersifat fatal. Seorang petembak tidak harus memiliki
bakat “fisik yang kuat” karena kekuatan dan ketahanan fisik
bisa dilatihkan asalkan petembak tersebut memiliki dasar
kesehatan yang baik.

3. Bakat. Untuk jadi petembak yang baik memang dibutuhkan


bakat, tetapi bakat bukan segalanya karena walaupun seorang
petembak tidak memiliki bakat yang baik, tapi bila dia memiliki
keinginan yang kuat dan mau berlatih keras hasil akhirnya akan
sama dengan petembak berbakat tetapi dia tidak memiliki
keinginan yang kuat untuk maju dan berlatih keras. Memang
petembak yang berbakat dan memiliki keinginan kuat untuk
maju akan dapat mencapai hasil yang lebih cepat dibandingkan
dengan yang kurang berbakat. Dalam hal ini, dapat dikatakan
bahwa petembak berbakat dan yang biasa-biasa memang beda,
tetapi hasil akhirnya akan sangat tergantung pada motivasi dan
seberapa besar kemauan mereka untuk berlatih keras
mencapai kemajuan yang diharapkan.

4. Motivasi. Yang diharapkan disini adalah seorang prajurit


yang memiliki motivasi dan semangat untuk berlatih dan
menjadi petembak yang mahir dan handal. Motivasi terbaik adalah
keingianan yang lahir dari dalam diri seorang petembak, yang
dengan kesadaran dan dorongan dari dirinya sendiri ingin maju
meraih prestasi terbaik. Apabila didapatkan seorang petembak
yang baik tetapi kurang memiliki motivasi tinggi, maka menjadi
tugas pelatih, atasan atau rekan untuk membantu memberikan
motivasi agar semangat petembak tersebut tetap tinggi dan
terpelihara untuk terus meningkatkan diri menjadi yang terbaik
di bidang menembak.
5. Disiplin. Seorang petembak diharapkan memiliki disiplin
tinggi dalam mengatur waktu untuk dirinya, mulai dari kapan
harus latihan, istirahat, makan, pembinaan fisik, dan disiplin
terhadap semua ketentuan dan perintah atasan. Petembak yang
disiplin akan mudah dibentuk untuk mencapai kemajuan dalam
hal menembak seperti yang diharapkan karena dia cenderung
untuk mudah mengikuti aturan. Kelima kriteria yang disebutkan
diatas semuanya saling berkaitan dan diharapkan semuanya
memenuhi standar “baik” bahkan kalau perlu diatas rata-rata
prajurit kebanyakan karena kalau salah satu aspek dari lima
kriteria tersebut jelek atau kurang, maka hasil akhirnya tidak
akan maksimal.
Menerima instruksi
sebelum
melaksanakan
latihan menembak
Beberapa ”Rahasia” Petembak Divif 1 Kostrad yang Sudah
Berprestasi di Tingkat Nasional dan Internasional

Di tingkat nasional dan internasional, para petembak Divif 1


Kostrad kerap meraih prestasi gemilang dan mereka merupakan
para petembak yang diperhitungkan oleh lawan tandingnya,
dibawah ini beberapa ”rahasia” para petembak yang dibuka untuk
para pembaca, dengan harapan dapat dijadikan sebagai pedoman
dalam menguasai tehnik menembak. Berikut adalah penuturan
Serka Sutarto, Sertu Poltak Siahaan, Serda Misran, Serda Jefri
Susanto, Kopda Woli Hamsan dan Praka Bambang Priyantono
tentang beberapa ”rahasia” keberhasilan mereka.

Mempersiapkan Diri Untuk Berlatih dan Berlomba

1. Olahraga. Untuk melatih pernafasan para petembak


sering melakukan olah raga, seperti: bola voli, sepak bola,
jogging (lari), senam yoga, berenang dan menyelam di dalam
air selama mungkin.

2. Pola makan.

a. Pola makan harus teratur setiap harinya.


b. Jangan telalu banyak makan karena kondisi
tubuh harus terus dijaga untuk mencegah kegemukan.
c. Jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan
yang mengandung banyak lemak, perbanyaklah makan
buah untuk menunjang stamina.
d. Jangan terlalu sering makan makanan pedas.
e. Usahakan mengkonsumsi makanan yang
banyak mengandung vitamin dan karbohidrat.
Dianjurkan yang banyak mengandung serat dan vitamin A
(vitamin yang baik untuk mata/pengelihatan), sebagai
contoh: umbi-umbian, kentang, daging dan wortel.
f. Sebelum menembak, makan makanan yang
tidak mengandung daging dan diperbolehkan makan
daging 3 (tiga) jam sebelum pelaksanaan menembak
karena proses pencernaan daging yang lebih lama
dibandingkan dengan makanan lainnya.

3. Pola istirahat :

a. Istirahat harus diperhatikan bagi para petembak,


jangan tidur terlalu malam agar di pagi hari kondisi
tubuh menjadi segar.
b. Laksanakan istirahat secukupnya pada waktu
malam hari sekurang – kurangnya 6 jam dan pada siang
hari + 30 menit atau maksimal + 8 (delapan) jam sehari.
Apabila siang hari melaksanakan istirahat, jangan
langsung melaksanakan kegiatan menembak. Usahakan
tubuh dalam kondisi stabil terlebih dahulu setelah itu baru
melaksanakan latihan menembak.
c. Untuk istirahat minimal tidur malam jam 10.00
dan jangan merubah kebiasaan. Tidur terlalu cepat juga
dapat mengakibatkan terbangun pada malam hari dan
sulit untuk tidur lagi sehingga dapat mengurangi waktu
tidur dan mengganggu pola istirahat.

Menyiapkan Senjata

1. Penyiapan senjata dimulai dari laras senjata yang baik,


peralatan picu, cek semua mekanik/bagian yang bergerak apakah
ada yang rusak/patah.
2. Apabila menggunakan teleskop dicek terlebih dahulu
apakah ada ada goyangan yang dapat mengakibatkan
perubahan hasil perkenaan.
3. Laras yang masih dalam kondisi bagus atau alurnya
masih bagus apabila ditembakkan perkenaannya akan
mengelompok.
4. Sebelum digunakan untuk menembak, usahakan laras
kering tidak ada minyak sama sekali.
5. Jangan lupa membersihkan senjata setiap hari agar
senjata yang dipakai mempunyai perkenaan yang akurat.
6. Setelah senjata selesai digunakan bersihkan kembali
senjata, lumuri pelumas secukupnya pada saat senjata akan
digudangkan.

Menyiapkan Perlengkapan Perorangan Lainnya

1. Penggunaan kopel, draghrim dan sling jangan sampai


mengganggu pada waktu berada di garis tembak.
2. Perlengkapan yang digunakan dari ujung kaki hingga
kepala harus dapat digunakan senyaman mungkin.

Waktu Berlatih

1. Berlatih bisa dengan cara basah atau kering.


2. Yang dimaksud dengan latihan basah adalah latihan
menembak dengan menggunakan peluru tajam. Sedangkan latihan
kering adalah dengan melaksanakan latihan acu bidik ataupun drill.
3. Minimal setiap hari harus memegang senjata untuk
mengenali picu ataupun pegangannya.
4. Harus sering melatih bidikan dan tekanan/tarikan picu yang
sempurna.
5. Latihan yang dimulai pada pagi sampai menjelang siang
ditujukan untuk mencari koreksi senjata yang benar, dilanjutkan
pada sore harinya untuk mencari perkenaan yang sesuai di
sasaran.
6. Pelaksanaan latihan normalnya dilaksanakan pada pukul
08.00 pagi karena kabut sudah tidak ada serta kelembaban
udara mulai berkurang.
7. Sore hari dapat dilanjutkan dengan pembinaan fisik atau
olahraga.
Cara Mengatasi Keraguan Pada Saat Menembak

1. Pada dasarnya keraguan tidak akan terjadi apabila


setiap petembak memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya
sendiri.
2. Berupaya untuk benar-benar mengenal karakteristik
senjata yang digunakan.
3. Berupaya memahami kondisi alam/lapangan tembak.
4. Berupaya untuk memahami materi yang akan dilatihkan/
dilombakan.
5. Jangan hanya mencari nilai yang baik tetapi mencari
bagaimana caranya dapat membuat dan mempertahankan gambar
bidik yang benar.
6. Hindarkan kesalahan di setiap jarak.
7. Konsentrasi penuh.
8. Percaya pada alat/senjata yang digunakan.
9. Lari-lari kecil dapat menstabilkan jantung, jantung akan
berdenyut teratur dan keraguan akan hilang dengan sendirinya.

Teknik Menembak dengan NABITEPI (Pernafasan, Bidikan dan


Tekanan Picu)

1. Bidikan

a. Dasar pisir dan pejera harus benar-benar sama


untuk memperoleh hasil bidikan yang sempurna.
b. Hindarkan terjadinya goyangan dengan cara
tangan jangan memegang senjata terlalu keras.
c. Posisi senjata bisa dirubah/digeser ke kanan, ke
kiri, ke atas atau ke bawah akan tetapi posisi pisir
dengan pejera tetap harus diperhatikan.
d. Pertahankan gambar bidik yang sempurna sampai
saat meletusnya senjata.
e. Gambar bidik:
1) Senapan dengan lesan tubuh (masing-masing
petembak senapan memiliki cara membuat gambar
bidik berbeda-beda karena perbedaan kemampuan
mata/penglihatan masing-masing).

a) Jarak 100 m:
- Titik bidik titik kena.
- Disanggah di jam 6 lesan.

b) Jarak 200 m:
- Titik bidik titik kena.
- Lebih ke atas dari bidikan 100 m.
- Disanggah di jam 6 lesan.

c) Jarak 300 m:
- Titik bidik titik kena
menggunakan pisir ”Long/L”.
- Lebih ke atas dari bidikan 200 m.
- Ditutup di jam 12 lesan.
- Titik bidik di jam 6 lesan (ada
kaki putih di lesan tubuh dan
harus ada titik yang dikenal pada
lesan).
- Dinaikkan ± 25-30 cm/ ekstra klik.

d) Jarak 400 m:
- Dibidik di muka menggunakan
pisir “Long/L”.
- Lebih ke atas dari bidikan 300 m
(pisir 400).
- Diklik 4, titik bidik titik kena.
- Sama dengan jarak 300 m.
- Ekstra klik.
e) Jarak 450 m:
- Ekstra memutar pisir dan pejera
karena lebih jauh kita menembak
pasti perkenaan akan lebih ke
bawah apabila memakai bidikan
yang sama dengan jarak 400 m.
- Lebih diatas dari bidikan 300 m
(pisir 400).
- Klik jarak 400.
- Sama dengan jarak 300 m.
- Ekstra klik.

f) Jarak 600 m:
- Ekstra memutar pisir dan pejera.
- Naikkan pejera 4 putaran
- Klik 10, titik bidik titik kena.
- Sama dengan jarak 300M
- Ekstra klik.

2) Pistol.

a) Jarak 5 m : Titik bidik di tengah.


b) Jarak 10 : Titik bidik di tengah.
m
c)
d) Jarak
Jarak 1520 : Titik
m bidik di tengah.
: Sudah ada
perubahan karena pengaruh jarak,
sesuaikan dengan koreksi senjata.
e) Jarak 25 : Pengaruh makin
banyak, tetap perhatikan pisir pejera,
perhatikan nafas yang benar. Pada jarak
25 m apabila terjadi pengelompokkan
perkenaan harus dipindahkan
pengelompokan perkenaan tersebut
dengan metode sudut tengah atau
pindahkan gambar bidiknya.
2. Pernafasan

a. Pengaturan pernafasan dioptimalkan setelah


gambar bidik sudah terbentuk.
b. Setelah menarik nafas secara penuh kemudian
tahan nafas, selanjutnya buang secara perlahan sebesar
seperempat (25%) sambil menekan picu.
c. Pelihara keteraturan penarikan nafas.
d. Apabila nafas tidak panjang maka akan
mengganggu saat penembakan yang menimbulkan
goyangan (senjata berputar) saat menembak.
e. Pada saat kita menembak cepat dengan waktu
yang sempit kita harus bisa menembakkan sebanyak 5
butir peluru dalam satu nafas atau lebih.

3. Tekanan Picu

a. Picu mulai ditekan setelah gambar bidik terbentuk.


b. Tekan picu menggunakan jari telunjuk secara
perlahan sampai senjata meletus dengan sendirinya.
c. Hindari terjadinya goyangan dengan teknik
meremas picu yang benar.
d. Jangan sampai ada penambahan tenaga pada
pertengahan tekanan picu, tekanan awal sampai senjata
meletus harus tetap sama tekanannya. Diibaratkan seperti
menarik gas pada sepeda motor, apabila terjadi
penambahan tenaga mendadak akan mengakibatkan
sepeda motor itu meloncat, sama halnya juga dengan
senjata/pistol pasti akan goyang.
e. Tidak boleh ragu untuk mengambil keputusan
terutama dalam menembak cepat, tekanan picu ke-2
dan seterusnya jangan ragu-ragu.
Pedoman bagi Pelatih maupun Penyelenggara untuk Meningkatkan
Kemampuan Menembak Prajurit dan Pembinaan Petembak
di Satuan

Dari uraian di atas terlihat bahwa menjadi petembak yag baik


bukanlah sesuatu yang serta merta terjadi atau terwujudkan
tetapi melalui serangkaian proses yang terencana, terkendali dan
terawasi dengan baik. Bagi pelatih/penyelenggara latihan
menembak atau pembinaan petembak di satuan beberapa
pedoman yang harus

diperhatikan terangkum di bawah ini:

1. Melatih Fisik Petembak. Kemampuan fisik yang


diinginkan dari seorang petembak adalah: harus memiliki daya
tahan terhadap segala macam cuaca; dari mulai hujan, panas,
dingin, maupun angin. Hal lainnya adalah kemampuan untuk
dapat menahan nafas lebih lama dalam kondisi fisik yang stabil
serta memiliki kelincahan dalam melaksanakan gerakan-gerakan
tertentu, berjalan dan berlari. Untuk menjadi petembak yang baik,
diperlukan kondisi fisik yang kuat dan segar agar selama
melaksanakan kegiatan, petembak tidak kelelahan dan kehabisan
tenaga. Kondisi fisik yang tidak prima sangat berpengaruh pada
saat akan melaksanakan penembakan, oleh karena itu
kebugaran fisik merupakan syarat utama bagi petembak. Untuk
mendapatkan kondisi fisik yang prima, berikut diberikan
beberapa jenis latihan yang dapat dipilih berdasarkan kebutuhan
fisik petembak agar didapatkan kondisi fisik yang diharapkan:

1) Latihan rutin untuk mendapatkan ketahanan


fisik, kecepatan dan kelincahan gerakan.
Untuk mendapatkan ketahanan

fisik, dapat diperoleh


dengan melaksanakan joging
selama 30
menit (maksimal) yang dilakukan pada cuaca yang
berbeda (pagi, siang, sore, hujan ataupun panas)
diselingi lari cepat (sprint) dengan berlari jinjit dengan
jarak 100 M dengan tekanan/tarikan nafas 4/5 kali
sampai jarak 100 M. Untuk mendapatkan kelincahan
gerakan, dianjurkan untuk melakukan permainan yang
tidak menggunakan tangan
sebagai alat utamanya seperti bola Permainan yang
voli.2
dianjurkan adalah sepak bola, futsal, polo air, dan berenang
selama + 45-60 menit.

2) Latihan untuk menguatkan otot dapat


dilaksanakan dengan latihan beban, push up dan sit ups
agar otot-otot motorik yang digerakkan selama
pelaksanaan menembak
senantiasa siap untuk menunjang
kegiatan menembak. Latihan
penguatan otot juga ditujukan
agar otot tangan menjadi kuat
sehingga memiliki pegangan
teguh saat memegang senapan.
3) Senam untuk peregangan otot sebelum
melaksanakan kegiatan menembak agar otot-otot
petembak siap untuk melaksanakan kegiatan menembak.
Petembak biasa melaksanakan “senam petembak” yang
gerakan- gerakannya ditujukan untuk mendapatkan
kelincahan tangan dalam menarik picu dan senam mata
untuk melatih kelincahan dan ketajaman mata.

2
Petembak umumnya menghindari permainan voli ball karena setelah bermain
voli, biasanya tangan menjadi sakit dan kaku, suatu keadaan yang tidak
bagus untuk pelaksanaan menembak.
2. Melatih Pernafasan Petembak. Langkah-langkah dalam
melatih pernafasan petembak dapat dilaksanakan sebagai berikut:

a. Drill pernafasan tanpa menggunakan


senjata/sebelum menembak :
1) Petembak diperintahkan untuk bernafas
normal.
2) Petembak diperintahkan untuk membuang
nafas sampai habis/kosong.
3) Petembak diperintahkan untuk menarik
nafas penuh dan selanjutnya membuang nafas
sebesar + 25% secara perlahan.
4) Petembak diperintahkan untuk bernafas
secara normal kembali dan ulangi cara
pengaturan nafas seperti di atas beberapa kali.

b. Drill pernafasan menggunakan senjata/saat


menembak:
1) Petembak diperintahkan untuk bernafas
normal.
2) Petembak diperintahkan untuk membuang
nafas sampai habis/ kosong.
3) Petembak diperintahkan untuk menarik
nafas penuh dan selanjutnya membuang nafas
sebesar + 25% secara perlahan.
4) Petembak diperintahkan untuk menahan
nafas sampai terjadi letusan.
5) Setelah terjadi letusan petembak
diperintahkan untuk membuang nafas
6) Petembak diperintahkan untuk bernafas
secara normal kembali dan ulangi cara
pengaturan nafas seperti tadi setiap kali akan
menarik picu.
Untuk melatih petembak agar memiliki ketahanan nafas yang stabil
dapat dilaksanakan latihan berenang sambil menyelam,
bermain sepak bola dan senam yoga.

3. Melatih Petembak dalam Teknik Membidik. Teknik


membidik yang baik sangat diperlukan oleh para petembak
agar peluru yang ditembakkan dapat mengena di sasaran sesuai
yang kita inginkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
melatih petembak dalam tehnik membidik antara lain:

1) Teknik membidik dilakukan dengan memadukan


dasar pisir dan dasar pejera sampai membentuk gambar
bidik dan diluruskan ke sasaran.
2) Penempatan gambar bidik di sasaran,
tergantung pada jarak penembakan karena setiap jarak
tembak memiliki penempatan gambar bidik yang berbeda
di sasaran.
3) Dasar pisir dan pejera harus benar-benar sama
untuk memperoleh hasil bidikan yang sempurna oleh
karena itu dalam membidik, ketelitian sangat
diperlukan agar kita
mampu mempertahankan gambar bidik yang sudah
terbentuk sempurna.
4) Gambar bidik harus tetap dipelihara dan dan
dipertahankan karena selama gambar bidik sempurna
sampai kita menarik picu maka peluru akan dapat
mengenai sasaran sesuai bidikan.
5) Bidikan saat menembak harus selaras dengan
pengaturan nafas diikuti oleh konsentrasi penuh,
disinilah kunci ketepatan dalam menembak sasaran.

Gambar bidikan

6) Membuat gambar bidik senjata SS-1 pada berbagai


jarak:

a) Jarak 100 m: Lesan L-1 bidikan pada jam


6 disanggah3 Lesan tubuh bidik 10 cm dibawah
gambar tangan yang memakai jam tangan.
b) Jarak 200 m: Lesan L-2 bidikan pada jam 6
+ 7,5 cm dari dasar lingkaran hitam lesan tubuh

3
Yang dimaksud disanggah adalah lingkaran hitam pada sasaran diletakkan
diatas ujung pejera.
dibidik pada gambar tangan kiri yang memakai
jam tangan.
c) Jarak 300 m: Lesan L-3 bidikan dengan
menutup lingkaran hitam Lesan tubuh bidik pada
gambar muka (raut wajah /dagu).
d) Jarak 400 m: Lesan tubuh dibidik di
kepala.
e) Jarak 450 m: Ekstra memutar pisir dan
pejera. Karena lebih jauh jarak tembak ke
sasaran perkenaan cenderung kebawah apabila
memakai bidikan di jarak 400 M.
e) Jarak 600 M: Lebih banyak putaran pisir
dan pejera.

1 2 3 4 56
789

200 M

300 M

400 M

500 M
Gambar bidik senjata SS-1 pada berbagai jarak
4. Melatih Tekanan/Tarikan Picu. Untuk tekanan/tarikan
picu, petembak harus mengerti karakteristik senjata yang
petembak gunakan sehingga mereka tahu persis kapan peluru
akan meledak agar petembak tidakterkejut saat peluru meledak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melatih
tekanan/tarikan picu petembak antara lain:
a. Jari yang digunakan saat menarik picu
tergantung pada kebiasaan, bisa menggunakan telunjuk
atau jari tengah, yang lazim dipakai adalah jari telunjuk
dengan alasan jari telunjuk memiliki tenaga paling besar
terutama bila picu diletakkan di ruas tengah dari jari
telunjuk.
b. Picu yang ditarik dengan ruas tengah jari
telunjuk posisinya kokoh, berbeda dengan tekanan/tarikan
picu yang dilakukan dengan menggunakan ujung jari
telunjuk, tekanan/tarikan picu tidak stabil dan ada
kemungkinan jari tergelincir.
c. Pada senapan yang masih memiliki perangkat picu
yang masih standar, pada saat ditarik, umumnya picu
4

memiliki tiga tahapan sampai terjadinya ledakan munisi,


cara menarik picu adalah laksanakan tekanan/tarikan awal,
tarik 2/3 tekanan/tarikan, buat gambar bidik yang
sempurna, tarik tahap ketiga dengan halus sampai kita
tidak merasakan kapan peluru meledak.
d. Tekanan/tarikan/tekanan picu harus konsisten
dimana tekanan awal sampai senjata meledak harus
tetap sama tekanannya. Saat menarik picu kita tidak
boleh ragu- ragu untuk mengambil keputusan sesuai
dengan ritme tekanan/tarikan pertama sampai terjadi
letusan.

4
Senapan yang biasa digunakan untuk menembak biasanya perangkat picunya
sudah dimodifiksi sedemikian rupa oleh petembak agar tekanan/tarikan picu
menjadi seringan mungkin. Berbeda dengan perangkat picu yang masih standar,
umumnya keras dan memerlukan tiga tahapan tekanan/tarikan picu sampai peluru
meledak.
Gambar cara menarik picu

5. Waktu Berlatih
a. Waktu latihan terbaik untuk berlatih adalah pada
siang hari baik di waktu pagi, siang maupun sore untuk
menyesuaikan dengan kondisi cuaca pada keadan
tersebut.
b. Tidak dianjurkan untuk melaksanakan latihan pada
saat hujan karena dapat
merusak senjata dan lesan,
saat angin kencang latihan
menembak juga tidak efektif
karena tiupan angin sangat
berpengaruh pada lintasan
peluru sehingga perkenaan
peluru seringkali meleset dari
bidikan.
c. Petembak harus melakukan latihan setiap hari agar
dapat melatih pernafasan, bidikan dan tekanan/tarikan picu
sehingga terbiasa dengan mekanisme penembakan
tersebut.
d. Normalnya latihan pada pagi hari dimulai pada jam
08.00 sampai menjelang siang untuk melatih teknik
menembak. Siang harinya gunakan waktu untuk
mencari perkenaan di sasaran yang sesuai dengan latihan
menembak pada pagi harinya. Sore hari dilanjutkan
dengan pembinaan fisik.
6. Menyiapkan Senjata bagi Petembak
a. Untuk menyiapkan senjata yang digunakan oleh
para petembak diawali dengan mengecek kerja mekanik
senjata, memilih laras yang masih memiliki alur yang
masih utuh dan bagus, kemudian memodifikasi picu agar
dapat digunakan dengan seenak mungkin tanpa
menyalahi aturan beratnya tekanan/tarikan picu
sehingga dalam tidak ada masalah dalam menembak.
b. Jangan lupa membersihkan senjata setiap hari
setelah senjata selesai dipakai dan olesi pelumas sebelum
senjata digudangkan tetapi pada saat akan memulai
menembak usahakan laras kering, tidak ada minyak
didalamnya karena percikan minyak saat peluru
meledak dapat membahayakan mata.

7. Mengarahkan petembak dalam mengatasi keraguan pada


saat berlatih/berlomba (mentalitas).

a. Untuk melakukan dan mengatasi keraguan pada


saat lomba, dapat dilakukan dengan pemberian motivasi
dan dorongan semangat dari komandan, pelatih maupun
teman.
b. Untuk menghindari gangguan pikiran saat akan
menembak, apabila ada masalah segera diselesaikan.
Begitupun komandan atau pelatih jangan memberikan
beban atau target yang melebihi kemampuan petembak
karena akan membuat petembak tertekan, merasa
terbebani dan tegang.
c. Cara lainnya yang juga efektif adalah, harus
ditanamkan kepada petembak bahwa keyakinan pada
diri sendiri dan ia mengerti betul semua tindakan yang
akan dilakukan, memahami betul senjatanya, situasi
lingkungan, cuaca, medan dan materi yang akan
dilaksanakan dan serta memahami betul kemampuan
pribadinya.
d. Sedapat mungkin petembak diarahkan untuk
memusatkan pikiran bahwa lomba sama dengan latihan
sehari-hari sehingga pikiran tidak tegang dan anggaplah
bahwa pihak lawan adalah teman sendiri pada saat
melaksanakan latihan sehari-hari.
e. Prinsipnya jangan ingin mencari nilai yang baik
sehingga petembak menjadi tegang tetapi tetap kontrol
diri, yakinkan petembak bahwa gambar bidik yang dibuat
sudah benar dan upayakan tidak ada kesalahan sama
sekali dalam setiap penembakan.
Ada beberapa kegiatan sebelum melaksanakan lomba
yang bisa menghilangkan keraguan. Contoh: berdoa,
membayangkan gerakan
yang akan dilaksanakan
dan lari-lari kecil untuk
menstabilkan denyut
jantung, kalau denyut
jantung sudah normal
maka keraguan itu pasti
akan hilang dengan
sendirinya.

8. Penyiapan perlengkapan petembak lainnya.

a. Saat Berlatih. Pada saat berlatih, arahkan


petembak untuk menyiapkan semua perlengkapan sesuai
dengan yang akan digunakan saat berlomba. Setting
semua perlengkapan seperti dragrim, kopel dan sling
senyaman mungkin sehingga dapat menunjang
kegiatan menembak dengan maksimal. Biasakan
petembak untuk mengecek perlengkapan senjata supaya
jangan sampai salah klik dan cek elevasi senjata.
b. Saat Lomba. pada saat lomba, perlengkapan
yang akan digunakan sedapat mungkin menggunakan
semua alat dan perlengkapan yang akan digunakan
pada saat
melaksanakan latihan
karena petembak
sudah terbiasa
dengan
perlengkapa tersebut.
Sekecil apapun
perbedaan
perlengkapan akan
mempengaruhi dalam
pelaksanaan lomba.

9. Mengawasi bagaimana petembak memperlakukan


senjatanya.
a. Perawatan senjata harus dilakukan dengan rutin.
Arhakan petembak untuk membersihkan senjata pada saat
akan menembak dan setelah menembak. Bagian-
bagian penting yang harus dibersihkan adalah bagian
bergerak (mekanik), olesi minyak tipis untuk menjamin
kelancaran gerak. Begitupun bagian laras harus tetap
bersih agar tidak terjadi gangguan saat menembak.
b. Arahkan petembak untuk memperhatikan
keamanan saat membawa atau menyimpan senjata
supaya tidak merubah kedudukan pisir atau pejera yang
sudah disesuikan dengan kebiasaan penembak.
c. Hal terpenting dalam memperlakukan senjata
adalah mengenal betul senjata tersebut dengan cara
membiasakan petembak untuk membongkar,
membersihkan dan memasang senjatanya sendiri
sehingga petembak betul-betul mengenal dan mencintai
senjatanya.5

5
Bagi petembak, ada istilah senjata adalah istri pertama, sehingga perlakuan
terhadap senjata sangat teliti dan hati-hati. Bagi petembak yang sudah “jadi” mereka
10. Mengawasi pola makan dan minum petembak.
a. Walaupun untuk pola makan itu tergantung pada
selera para petembak sendiri, tetapi awasi petembak
agar jangan telalu banyak makan untuk menjaga agar
tubuh mereka tidak menjadi gemuk.
b. Arahkan petembak untuk mengkonsumsi makanan
sehat sehari tiga kali agar mendapatkan asupan gizi
yang cukup untuk menjaga kebugaran tubuh kita.
c. Anjurkan kepada para petembak untuk banyak
mengkonsumsi makanan yang mengandung serat, vitamin
dan makanan yang banyak mengandung lemak dan
makanan yang tidak pedas.
d. Sebagian besar petembak berpantang minum kopi
sebelum menembak karena kopi dipercaya dapat membuat
detak jantung lebih kencang sehingga dapat mengganggu
pada saat pelaksanaan menembak.

11. Mengawasi Pola Istirahat Petembak


a. Petembak membutuhkan istirahat yang cukup pada
waktu malam, tidur sekurang-kurangnya 6 jam sehari
dan jangan tidur terlalu malam agar bangun dipagi harinya
tubuh kita segar. Apabila pada siang hari ada waktu untuk
istirahat, manfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat.
b. Pada saat akan bertanding jangan merubah
kebiasaan tidur, misalnya dengan tidur lebih cepat. Apabila
besok akan bertanding, biasanya beberapa petembak tidur
mendahului, tetapi mengakibatkan malam harinya mereka
terbangun dan tidak bisa tidur lagi sehingga
mengakibatkan pola istirahatnya terganggu.

tidak akan pernah menyerahkan senjatanya kepada orang lain untuk


dibersihkan maupun saat akan menyimpan karena mereka takut senjata tersebut
di apa-apakan oleh orang lain walaupun itu temannya sendiri.
Akhirnya dari keseluruhan persiapan menembak yang telah
dikemukakan diatas, dapat disimpulkan, dalam menembak
beberapa hal yang mempengaruhi hasil tembakan adalah:

a. Manusianya; upayakan tidak ada masalah baik fisik


maupun mental, harus sehat jiwa dan raganya.
b. Senjatanya; masih bagus atau tidak.
c. Munisi; cari yang terbaik sesuai kriteria senjatanya.
d. Cuaca; harus mendukung saat pelaksanaan
menembak. Angin, panas, mendung atau hujan sangat
berpengaruh terhadap hasil tembakan.
e. Sikap menembak; ada bentuk sikap maupun
gerakan tertentu pada saat melaksanakan sikap
menembak yang harus dilakukan dan dihindari agar
dapat mendukung saat melaksanakan bidikan dan
tembakan.

Demikian panduan singkat teknik menembak senapan


ini dibuat dengan harapan agar dapat memberikan masukan
kepada seluruh prajurit Divif-1/Kostrad maupun pelatih guna
meningkatkan kemampuan menembaknya. Tidak ada salahnya
untuk terus menggali pengetahuan dari siapapun, sehingga kita
selalu memiliki pembanding dalam menimba ilmu. Ada istilah
“diatas langit masih ada langit,” begitupun dalam belajar
menembak, mungkin saja ada teori atau referensi lain yang
lebih baik dari sekedar panduan ini, maka ambillah apa yang
baik dari buku ini dan abaikan bagian yang tidak baik agar kita
senantiasa kaya dengan ilmu-ilmu yang baik dan benar.

Akhirnya marilah kita terus berkarya sekecil apapun kerja


kita dengan apa yang kita miliki dan dimanapun kita berada,
semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan jalan
terbaik kepada kita dalam mengabdikan diri sebagai prajurit TNI
AD.