Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PROMOSI KESEHATAN

PERAN PERAWAT DALAM PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN


KESEHATAN KEPADA KLIEN DAN KONSEP BELAJAR

Nama : Debora Kembuan

Nim : 17061041

Kelas : C

UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE

FAKULTAS KEPERAWATAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap
bisa menikmati indahnya alam cipataanNya.

Penulis disini akhirnya dapat merasa sangat bersyukur karena telah


menyelesaikan makalah yang kami beri judul Peran Perawat Dalam Promosi
Kesehatan Kepada Klien dan konsep belajar, dalam makalah ini kami mencoba
menjelaskan peran-peran perawat dalam promosi kesehatan dan konsep belajar
sebagai tugas dari mata kuliah promosi kesehatan.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga terselesaikannya makalah ini. Dan penulis memahami jika
makalah ini tentu jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran sangat kami
butuhkan guna memperbaiki karyakarya kami dilain waktu.

Manado, 26 September 2018


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………….1

DAFTAR ISI ………………………………………………2

BAB I :

A. Rumusan Masalah…………………………………3

B. Tujuan ………….……………………………..4

BAB II :

A. Peran Perawat dalam pemberian promosi kesehatan kepada


dan pendidikan kesehatan pada pasien

B. Konsep Belajar

BAB III : PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

A. Rumusan Masalah
Peran perawat dalam Promosi kesehatan, dan pendidikan kesehatan pada
pasien maupun konsep belajar sangat penting untuk dipelajari

 Apa saja peran perawat dalam promosi kesehatan dan pendidikan


pada pasien ?
 Bagaimana konsep belajar?

B. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan agar supaya dapat mengetahui peran
perawat dalam promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan pada pasien
bahkan untuk mengetahui apa saja konsep belajar.
Bab 2

A. Peran Perawat Dalam Promosi Kesehatan dan pendidikan kesehatan pada


pasien

Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari :

1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia
yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini
dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.

2. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien
meliputi :

● Hak atas pelayanan sebaik-baiknya


● Hak atas informasi tentang penyakitnya
● Hak atas privacy
● Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
● Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.

3. Sebagai educator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku
dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4. Sebagai koordinator

Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan


kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai
dengan kebutuhan klien.

5. Sebagai kolaborator

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter,
fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang
diperlukan.

6. Sebagai konsultan

Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,


perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan

7. Sebagai pembaharu

Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan

B. Konsep belajar

a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Belajar tidak hanya
melibatkan penguasaan suatu kemampuan atau masalah akademik baru, tetapi juga
perkembangan emosi, interaksi sosial, dan perkembangan kepribadian. “Belajar adalah berusaha
(berlatih dsb.) supaya mendapat kepandaian”. Belajar itu bukan hanya menghafal dan mengingat,
melainkan berinteraksi dengan lingkungannya. Dari sini, belajar berarti suatu proses yang
ditandai dengan perubahan pada diri seseorang, dengan ditunjukkan dalam berbagai bentuk
seperti bertambah pengetahuannya, bertambah daya penerimaannya dan aspek-aspek lain yang
ada pada individu.
“Kata belajar dalam pengertian kata “mempelajari” berarti memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman dan mempersiapkan secara langsung dengan indera. Adapun kata belajar dalam
pengertian kata “mengetahui” adalah untuk memiliki pemahaman praktis melalui pengalaman
dengan suatu hal.”
“Perlu diketahui dalam pemakaian istilah belajar sekurang-kurangnya ada dua hal besar yang
dapat membedakannya, yaitu dalam pemakaian pertama: merujuk pada perubahan prilaku,
sedangkan pemakaian istilah kedua: merujuk pada bagaimana macam keadaan internal yang
diperkirakan mejadi dasar dari proses prilaku”.
Belajar selalau berkaitan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar. Perubahan
ini bisa berupa pengetahuan, sikap atau afeksi, maupun keterampilan. Unsur lain yang terkait
dengan belajar adalah pengalaman yang merupakan hasil dari interaksi individu dengan
lingkungannya.
Kedua unsur tersebut hampir selalau ditekankan dalam rumusan atau definisi tentang belajar.
Ngalim Purwanto dalam buku Psikologi Pendidikan mengemukakan pendapat beberapa tokoh
pendidikan mengenai pengertian belajar. Sebagai berikut:
a. Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology (1978) mengemukakan belajar adalah
perubahan yang relative menetap (menyatu dalam pribadi individu) dalam tingah laku yang
terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
b. Witherington dalam bukunya Educatoin Psychology mengemukakan bahwa belajar adalah
suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi
berupa kecakapan, sikap, kepandaian, kebiasaan, atau suatu pengertian.

Dari kedua pengertian tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan:


a. Belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh perubahan tingkah laku
b. Dalam belajar terjadi perubahan tingkah laku yang menetap dan menyatu dalam diri
individu
c. Hasil perubahan belajar itu karena disengaja.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, secara umum belajar dapat dipahami bahwa belajar
merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil
dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sebenarnya
keberagaman dalam mendefinisikan makna belajar baik secara eksplisit maupun implisit, pada
akhirnya memiliki kesamaan makna. “Salah satu definisi yang nyaris disepakati para psikolog
adalah bahwa belajar merupakan sebuah proses perubahan prilaku atau pribadi berdasarkan
praktik atau pengalaman tertentu”[5].
Untuk mengetahui bahwa seseorang telah menjalani proses belajar dan telah mengalami
perubahan-perubahan, baik perubahan dalam memiliki pengetahuan, penguasaan materi, sikap
dan keterampilan, maka dapat dilihat dari hasil belajar atau prestasi belajar sebagai salah satu
pengukurannya.

b. Beberapa Teori Belajar


Ngalim Purwanto mengemukakan 3 (tiga) teori belajar yang merupakan hasil penyelidikan para
ahli psikolog, yaitu: teori Conditioning, teori Connectionism, dan teori menurut psikologi Gestal.

1. Teori Conditioning
Teori Conditioning ini dipelopori oleh Ivan Pavlov (1849-1936), seorang fisiologi
berkebangsaan Rusia. Menurut teori ini, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi
karena adanya syarat-syarat (conditionis) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk
menjadikan seorang itu belajar haruslah kita berikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting
menurut teori conditionig ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam
teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil
daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi
terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya didalam
kehidupannya.
Kelemahan dari teori ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara
otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi tidak dihiraukan. Peranan latihan/kebiasaan terlalu
ditonjolkan.

2. Teori Connectionism (Thorndike)


Edward Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang psikolog kebangsaan Amerika. Ia
merupakan orang pertama yang melakukan eksperiment belajar dengan hewan. Menurut
Thorndike belajar itu melalui 2 (dua) proses:
a. Trial and eror (mencoba dan mengalami kegagalan), dan
b. Law of effect, yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang
memuaskan (cocok dengan tuntunan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan segala sesuatu yang berakibatkan tidak menyenangkan akan dihilangkan atau
dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatis dalam belajar itu dapat dilihat
dengan syarat-syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.
Thorndike membuat suatu prinsip tentang belajar yaitu: belajar akan terjadi jika respon
mengandung efek tertentu terhadap lingkungan. Jika efek respon menyenangkan, maka belajar
terjadi. Jika efek respon tidak menyenangkan maka prilaku belajar semakin melemah. Hukum
efek menyebutkan bahwa belajar terdiri dari penguatan hubungan antara satu situasi stimulus dan
respon. Hubungan ini akan diperkuat jika respon mengandung efek yang menghasilkan kepuasan
atau akan diperlemah jika respon mengandung efek yang tidak menyenangkan[8].
Kelemahan dari teori ini ialah:
Terlalu memandang manusia sebagai mekanisme dan otomatisme belaka disamakan dengan
hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah
laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and eror. Trial and eror tidak berlaku mutlak bagi
manusia
Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang
yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau
ulangan-ulangan yang terus menerus.
Karena belajar berlangsung secara mekanis, maka “pengertian” tidak dipandang sesuatu yang
pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yang pokok dalam
belajar[9].

3. Teori menurut Psikologi Gestal


Teori ini sering kali disebut field theory atau insting full learning. Menurut para ahli psikologi
Gestal, manusia itu bukanlah sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau beraksi jika ada
perangsang yang mempengaruhinya. Manusia itu adalah individu yang merupakan kebulatan
jasmani-rohani. Sebagai individu manusia berinteraksi dengan dunia luar dengan kepribadiannya
dan dengan cara yang unik pula.
Dengan demikian maka belajar menurut psikologi Gestal bukan hanya sekedar merupakan proses
asosiasi antara stimulus-respon yang makin lama makin kuat karena adanya latihan-latihan atau
ulangan-ulangan. Belajar menurut psikologi Gestal terjadi jika ada pengertian (insting).
Pengertian atau insting ini muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami
suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan adanya unsur-unsur
yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut pautnya; dimengerti maknanya.
Dengan singkat belajar menurut psikologi Gestal dapat diterapkan sebagai berikut:
Pertama, dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian (insting) merupakan faktor penting.
Dengan belajar dapat memahami/mengerti hubungan antara pengetahuan dengan pengalaman.
Kedua, dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral. Belajar
tidak hanya dilakukan secara reaktif-mekanistis belaka, tetapi dilakukan dengan sadar, bermotif
dan bertujuan[10].

c. Jenis-Jenis Belajar
Ada beberapa jenis kegiatan yang terdapat dalam proses belajar. Kegiatan ini memiliki corak
yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun
aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini
muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan manusia yang juga bermacam-
macam.
Fadilah Suralaga dkk. dalam buku Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Islam membedakan
jenis belajar menjadi 8, diantaranya:

● Belajar Abstrak
Jenis belajar ini merupakan kegiatan yang menggunakan cara berfikir abstrak, yang
bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak
nyata. Untuk mempelajari hal-hal yang abstrak ini diperlukan prinsip, konsep dan
generalisasi seperti belajar matematika, kimia, tauhid dan sebagainya.
Belajar Keterampilan
Jenis belajar yang satu ini menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni berhubungan
urat-urat saraf dan neuromuscular dengan tujuan untuk memperoleh dan menguasai
keterampilan jasmaniah tertentu. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka belajar
keterampilan membutuhkan latihan-latihan yang intensif dan teratur.
● Belajar Sosial
Pada dasarnya belajar sosial ini belajar untuk memahami masalah-masalah dan teknik-
teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya untuk menguasai pemahaman
dan kecakapan dalam memecahkan masalah-msalah lain yang bersifat kemasyarakatan
Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah merupakan belajar yang menggunakan metode-metode
ilmiah atau berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya adalah untuk
memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara
rasional, lugas, dan tuntas.
● Belajar Rasional
Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis
dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka
ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
● Belajar Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan
kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah,
suritauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran.
● Belajar Apresiasi
Belajar aspirasi adalah mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu
objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah
rasa (affective skill) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap
nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.
● Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan (Knowledge) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan
mendalam terhadap objek pengetahuan tertentulis.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/document/97550204/Peran-Perawat

http://www.mahsun.net/2016/08/konsep-belajar-pengertian-teori-dan.html?m=1