Anda di halaman 1dari 9

JURNAL TINDAKAN KEPERAWATAN PADA NY.

S
DENGAN CRONIK KIDNEY DIASES (CKD )DI RUANG
HEMODIALISA (HD) RSUD DR. LOEKMONO HADI
KUDUS

Tugas Individu Ini Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Penugasan Mata Kuliah Profesi Ners Stase
Keperawatan Medikal Bedah

Di susun oleh :

Illya Ika Putri / 62019040028

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN AJARAN 2019/2020

1
JURNAL TINDAKAN KEPEAWATAN

Nama : Illya Ika Putri

Hari / Tanggal : 24 September 2019

NIM : 62019040028

Judul Jurnal : Hemodialisa

1. Identitas klien
Nama : Ny. S
Umur : 58 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status : Sudah menikah
Alamat : Krandon
Tanggal Masuk RS : 2 September 2019
No. RM : 582 806
Diagnosa medis : CKD
2. Pengkajian

No. Data Obyektif Data subyektif


1.  Pasien mengatakan badannya  BB pre HD 53 kg
lemas  BB post HD 53 kg
 Pasien mengatakan program HD  BB post HD yang lalu 50 kg
seminggu 2 kali setiap hari selasa  Tidak ada edema kaki
dan jumat dan sudah hampir satu
bulan ini melakukan terapi HD di
RSUD dr.Loekmono Hadi Kudus

3. Tindakan / hal yang diajarkan sesuai pengkajian (materi)


SOP TINDAKAN HEMODIALISA
Pengertian

2
Hemodialisa adalah tindakan pengobatan dengan tujuan mengeluarkan sisa metabolisme
melalui proses pertukaran antara bahan yang ada dalam darah dan dialisat melewati membran
semi permeabel secara difusi konveksi dan ultrafiltrasi
Tujuan
Menolong penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang sudah tidak bisa diobati dengan
terapi konservatif
Kebijakan
Dilakukan pada setiap pasien gagal ginjal terminal. Dengan hemodialisa dapat
mempertahankan fungsi ginjalnya secara optimal

Prosedur
A. PERSIAPAN SEBELUM HEMODIALISA
1. Persiapan pasien
a. Surat dari dokter penanggung jawab Ruang HD untuk tindakan HD (instruksi
dokter)
b. Apabila dokter penanggung jawab HD tidak berada ditempat atau tidak bisa
dihubungi, surat permintaan tindakan hemodialisa diberikan oleh dokter spesialis
penyakit dalam yang diberi delegasi oleh dokter penanggung jawab HD.
c. Apabila pasien berasal dari luar RS ( traveling ) disertai dengan surat traveling
dari RS asal
d. Identitas pasien dan surat persetujuan tindakan HD
e. Riwayat penyakit yang pernah diderita (penyakit lain)
f. Keadaan umum pasien
g. Keadaan psikososial
h. Keadaan fisik (ukur TTV, BB, warna kulit, extremitas edema +/-)
i. Data laboratorium: darah rutin,GDS,ureum, creatinin, HBsAg, HCV, HIV, CT,
BT
j. Pastikan bahwa pasien benar-benar siap untuk dilakukan HD
2. Persiapan mesin
a. Listrik
b. Air yang sudah diubah dengan cara:
- Filtrasi
- Softening
- Deionisasi
- Reverse osmosis
c. Sistem sirkulasi dialisat
- Sistem proporsioning

3
- Acetate / bicarbonate
d. Sirkulasi darah
- Dializer / hollow fiber
- Priming
3. Persiapan alat

a. Dialyzer k. Sarung tangan


b. Transfusi set l. Mangkok kecil
c. Normal saline 0.9% m.Desinfektan
d. AV blood line (alkohol/betadin)
e. AV fistula n. Klem
f. Spuit o. Matkan
g. Heparin p. Timbangan
h. Lidocain q. Tensimeter
i. Kassa steril r. Termometer
j. Duk s. Plastik
t. Perlak kecil

4. Langkah-langkah
a. Setting dan priming
1) Mesin dihidupkan
2) Lakukan setting dengan cara: keluarkan dialyzer dan AV blood line dari
bungkusnya, juga slang infus / transfusi set dan NaCl (perhatikan sterilitasnya)
3) Sambungkan normal saline dengan seti infus, set infus dengan selang arteri,
selang darah arteri dengan dialyzer, dialyzer dengan selang darah venous
4) Masukkan selang segmen ke dalam pompa darah, putarlah pump dengan
menekan tombol tanda V atau Λ (pompa akan otomatis berputar sesuai arah
jarum jam)
5) Bukalah klem pada set infus, alirkan normal saline ke selang darah arteri,
tampung cairan ke dalam gelas ukur
6) Setelah selang arteri terisi normal saline, selang arteri diklem
b. Lakukan priming dengan posisi dialyzer biru (outlet) di atas dan merah (inlet) di
bawah
1) Tekan tombol start pada pompa darah, tekan tombol V atau Λ untuk
menentukan angka yang diinginkan (dalam posisi priming sebaiknya kecepatan
aliran darah 100 rpm

4
2) Setelah selang darah dan dialyzer terisi semua dengan normal saline, habiskan
cairan normal sebanyak 500 cc
3) Lanjutkan priming dengan normal saline sebanyak 1000 cc. Putarlah Qb dan
rpm
4) Sambungkan ujung selang darah arteri dan ujung selang darah venous
5) Semua klem dibuka kecuali klem heparin
6) Setelah priming, mesin akan ke posisi dialysis, start layar menunjukkan
“preparation”, artinya: consentrate dan RO telah tercampur dengan melihat
petunjuk conductivity telah mencapai (normal: 13.8 – 14.2). Pada keadaan
“preparation”, selang concentrate boleh disambung ke dialyzer
7) Lakukan sirkulasi dalam. Caranya: sambung ujung blood line arteri vena
 Ganti cairan normal saline dengan yang baru 500 cc
 Tekan tombol UFG 500 dan time life 10 menit
 Putarlah kecepatan aliran darah (pump) 350 rpm
 Hidupkan tombol UF ke posisi “on” mesin akan otomatis melakukan
ultrafiltrasi (cairan normal saline akan berkurang sebanyak 500 cc dalam
waktu 10 menit
 Setelah UV mencapai 500 cc, akan muncul pada layar “UFG reached”
artinya UFG sudah tercapai
8) Pemberian heparin pada selang arteri
9) Berikan heparin sebanyak 1500 unit sampai 2000 unit pada selang arteri.
Lakukan sirkulasi selama 5 menit agar heparin mengisi ke seluruh selang darah
dan dialyzer, berikan kecepatan 100 rpm
10) Dialyzer siap pakai ke pasien
11) Sambil menunggu pasien, matikan flow dialisat agar concentrate tidak boros
Catatan: jika dialyzer reuse, priming 500 cc dengan Qb 100 rpm sirkulasi untuk
membuang formalin (UFG: 500, time life 20 menit dengan Qb 350 rpm).
Bilaslah selang darah dan dialyzer dengan normal saline sebanyak 2000 cc
B. PUNKSI AKSES VASKULER
1) Tentukan tempat punksi atau periksa tempat shunt
2) Alasi dengan perlak kecil dan atur posisi
3) Bawa alat-alat dekat dengan tempat tidur pasien (alat-alat steril dimasukkan ke dalam
bak steril)
4) Cuci tangan, bak steril dibuka, memakai handscoen
5) Beritahu pasien bila akan dilakukan punksi

5
6) Pasang duk steril, sebelumnya desinfeksi daerah yang akan dipunksi dengan betadine
dan alcohol
7) Ambil fistula dan puncti outlet terlebih dahulu. Bila perlu lakukan anestesi lokal,
kemudian desinfeksi
8) Punksi inlet dengan cara yang sama, kemudian difiksasi
C. MEMULAI HEMODIALISA
Sebelum dilakukan punksi dan memulai hemodialisa, ukur tanda-tanda vital dan berat
badan pre hemodialisa
1) Setelah selesai punksi, sirkulasi dihentikan, pompa dimatikan, ujung AV blood line
diklem
2) Lakukan reset data untuk menghapus program yang telah dibuat, mesin otomatis
menunjukkan angka nol (0) pada UV, UFR, UFG dan time left
3) Tentukan program pasien dengan menghitung BB datang – BB standar + jumlah
makan saat hemodialisa
4) Tekan tombol UFG = target cairan yang akan ditarik
5) Tekan tombol time left = waktu yang akan diprogram
6) Atur concentrate sesuai kebutuhan pasien (jangan merubah Base Na + karena teknisi
sudah mengatur sesuai dengan angka yang berada di gallon. Na = 140 mmol)
7) Tekan tombol temperatur (suhu mesin = 360C – 370C)
8) Buatlah profil yang sesuai dengan keadaan pasien
9) Berikan kecepatan aliran darah 100 rpm10. Menyambung selang fistula inlet dengan
selang darah arteri
 Matikan (klem) selang infus
 Sambungkan selang arteri dengan fistula arteri (inlet)
 Masing-masing kedua ujung selang darah arteri dan fistula di-swab dengan kassa
betadine sebagai desinfektan
 Ujung selang darah venous masukkan dalam gelas ukur
 Hidupkan pompa darah dan tekan tombol V atau Λ 100 rpm
 Perhatikan aliran cimino apakah lancar, fixasi dengan micropore. Jika aliran
tidak lancar, rubahlah posisi jarum fistula
 Perhatikan darah, buble trap tidak boleh penuh (kosong), sebaiknya terisi ¾
bagian
 Cairan normal saline yang tersisa ditampung dalam gelas ukur namanya cairan
sisa priming
 Setelah darah mengisi semua selang darah dan dialyzer, matikan pompa darah
10) Menyambung selang darah venous dengan fistula outlet

6
- Sambung selang darah venous ke ujung AV fistula outlet (kedua ujungnya diberi
kassa betadine sebagai desinfektan). Masing-masing sambungan dikencangkan)
- Klem pada selang arteri dan venous dibuka, sedangkan klem infus ditutup
- Pastikan pada selang venous tidak ada udara, lalu hidupkan pompa darah dari
100 rpm sampai dengan yang diinginkan
- Tekan tombol UF pada layar monitor terbaca “dialysis”
- Selama proses hemodialisa ada 7 lampu hijau yang menyala (lampu monitor, on,
dialysis start, pompa, heparin, UF dan Flow)
- Rapikan peralatan
D. PENATALAKSANAAN SELAMA HEMODIALISA
1. Memprogram dan memonitor mesin hemodialisa
a. Lamanya HD
b. QB (kecepatan aliran darah) 150 – 250 cc/menit
c. QD (kecepatan aliran dialisa) 500 cc/menit
d. Temperatur dialisat 370C
e. UFR dan TMP otomatis
f. Heparinisasi
1) Dosis awal: 25 – 50 unit/kgBB
a) Diberikan pada waktu punksi
b) Sirkulasi extra corporeal 1500 unit
c) Dosis maintenance 500 – 2000 unit/jam diberikan pada waktu HD
berlangsung
2) Dosis maintenance 500 – 2000 u/jam
Diberikan pada waktu HD berlangsung
Cara pemberian dosis maintenance
a) Kontinyu: diberikan secara terus menerus dengan bantuan pompa dari
awal HD sampai dengan 1 jam sebelum HD berakhir
b) Intermitten: diberikan 1 jam setelah HD berlangsung dan pemberian
selanjutnya dimasukkan tiap selang waktu 1 jam, untuk 1 jam terakhir
tidak berakhir
c) Minimal heparin: heparin dosis awal kurang lebih 200 unit, selanjutnya
diberikan kalau perlu
g. Pemeriksaan (laboratorium, ECG, dll)
h. Pemberian obat-obatan, transfusi, dll
i. Monitor tekanan
1) Fistula pressure
2) Arterial pressure

7
3) Venous pressure
4) Dialisat pressure
5) Detektor (udara blood leak detektor)
2. Observasi pasien
a. Tanda-tanda vital (T, N, S, R, kesadaran)
b. Fisik
c. Perdarahan
d. Sarana hubungan sirkulasi
e. Posisi dan aktivitas
f. Keluhan dan komplikasi hemosialisa
E. MENGAKHIRI HEMODIALISA
1. Persiapan alat
a. Piala ginjal
b. Kassa steril
c. Betadine solution
d. Sarung tangan tidak steril
e. Perban gulung
f. Band aid (pelekat)
g. Gunting
h. Nebacetin powder antibiotic
i. Thermometer
j. Micropore
2. Pelaksanaan
a. Perawat mencuci tangan
b. Perawat memakai sarung tangan
c. Mesin menggunakan UFG reached = UFG sudah tercapai (angka UV = angka
UF)
d. Jika proses hemodialisa sudah selesai, posisi mesin akan terbaca “Reinfusion”
e. Sebelum 5 menit selesai, pasien diobservasi tanda-tanda vital
f. Kecilkan kecepatan aliran darah (pompa darah) sampai 100 rpm lalu matikan
g. Klem pada fistula arteri dan selang darah arteri
h. Cabutlah fistula outlet (venous), tekan bekas tusukan dengan kassa betadine,
tutuplah bekas tusukan dengan kassa betadine
i. Bilaslah fistula, selang darah dan dializer dengan normal saline secukupnya
sampai bersih dan gunakan kecepatan aliran darah 100 rpm
j. Cabutlah fistula outlet (venous), tekan bekas tusukan dengan kassa betadine

8
k. Jika tidak ada darah bekas tusukan, maka berilah nebacetin powder dan tutuplah
bekas tusukan dengan Band Aid (K/p dibalut dengan perban gulung)
l. Berilah fixasi dengan micropore pada perban gulung
m. Observasi tanda-tanda vital pasien
n. Kembalikan alat-alat ke tempat semula
o. Perawat melepas sarung tangan
p. Perawat mencuci tangan

5. Analisis disertai dengan kajian ilmiah dan sesuai data pribadi pada klien
Setelah dilakukan hemodialisa selama 4,5 jam dari pukul 10.18 WIB hingga pukul
15.00 WIB dapat dianalisis yaitu sebelum dilakukan tindakan hemodialisa BB pasien pre HD
53 kg dan setelah dilakukan Hemodialisa BB masih sama yaitu 53 k. Dengan evaluasi hasil
post HD yaitu klien mengatakan badannya masih lemas karena proses HD (TD=180/90
mmHg, RR=20 x/m,Suhu=37oC, N=90x/m,SPO2= 92%), nafsu makan pasien sebelum dan
sesudah HD masih tetap sama. Dan setelah istirahat bebeapa saat pasien menjadi lebih rileks.

6. Daftar pustaka

Hudak, Gallo, 2007, KeperawatanKritis: PendekatanHolistik, Volume II, Jakarta,


EGC.
PujiRahardjo, 2007, Buku Ajar IlmuPenyakitDalam,  Jilit II, Edisi III, BP FKUI
Jakarta.
http://www.med.umich.edu/1libr/aha/aha_hemodial_art.htm