Anda di halaman 1dari 21

CRITICAL BOOK REVIEW

MK. PENDIDIKAN IPS SD


KELAS RENDAH

PRODI S1 PGSD FIP

Skor Nilai:

PENDIDIKAN IPS
Filosofi, Konsep dan Aplikasi

(Dr. Rudy Gunawan, M.Pd.,2016)

NAMA MAHASISWA : ISNA NOVIRA


NIM : 1183111001
DOSEN PENGAMPU : RAHMILAWATI RITONGA S.Pd, M.Pd.
MATA KULIAH : PENDIDIKAN IPS SD KELAS RENDAH

PGSD REGULER D 2018


PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
September 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat Rahmat dan
karunia-Nya saya sebagai penulis dapat menyelesaikan tugas Critical Book Review dari Dosen
Pengampu dengan mata kuliah “PENDIDIKAN IPS SD KELAS RENDAH” ini dengan tepat
waktu dan sebagaimana mestinya.
Saya menyadari bahwa tugas makalah saya ini tidaklah sempurna, dengan demikian
saya menerima masukan, kritik dan saran dari para pembaca yang sifatnya membangun dan
bisa memperbaiki makalah saya selanjutnya.
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih kepada para pembaca dan harapannya
setelah membaca makalah ini bisa menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca. Lebih
dan kurangnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Medan, 09 September 2019

Penyusun

Isna Novira (1183111001)

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................................i

Daftar Isi........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan CBR............................................................................................2

1.3 Manfaat CBR...........................................................................................................2

1.4 Identitas Buku..........................................................................................................2

BAB  II ISI BUKU.......................................................................................................4

2.1 Ringkasan Isi Buku..................................................................................................4

BAB III PEMBAHASAN............................................................................................15

3.1 Keunggulan..............................................................................................................15

3.2 Kelemahan...............................................................................................................15

BAB IV PENUTUP......................................................................................................16

4.1 Kesimpulan..............................................................................................................16

4.2 Saran........................................................................................................................16

Daftar Pustaka.............................................................................................................17

Lampiran......................................................................................................................18

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dengan segala sesuatu yang
berbentuk kemsyarakatan. Sebagai makhluk sosial sangat perlu untuk mempelajari,
memahami, dan menerapkan hal-hal sosial yang sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Istilah ilmu sosial mengacu pada rumpun ilmu sosial secara umum, sedangkan ilmu-ilmu
sosial menunjuk pada kumpulan berbagai disiplin ilmu yang masuk kedalam rumpun ilmu
sosial. Berbagai disiplin ilmu ilmu seperti geografi, sejarah, dan lain-lain memiliki struktur
keilmuan yang didalamnya tertata fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Ilmu Pengetahuan
Sosial merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang
diseleksi menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan
pembelajaran. Keadaan sosial masyarakat selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu,
dinamisasi kemajuan diberbagai bidang kehidupan harus dapat ditangkap dan diperhatikan
oleh lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bahan materi pembelajaran.

Dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial kita dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-
hari sehingga kita dapat berinteraksi dan peka terhadap lingkungan sekitar kita. Ilmu
Pendidikan Sosial yang kita kenal sebagai mata pelajaran di akademik ternyata sangat perlu
kita kaji dan perdalam untuk bekal kita dalam kehidupan ini. Ilmu sosial yang mencakup
banyak hal seperti sosial, ekonomi, geograpi, sejarah, antropologi, itu memuat banyak hal
yang membahas mengenai kehidupan di masyarakat. Dengan ruang lingkup yang sangat luas
itulah kita harus mengkaji satu persatu secara detail demi pemahaman kita tentang ilmu-ilmu
tersebut sehingga kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang
dapat kita peroleh dari mempelajari Ilmu Pendidikan IPS, karena ini sangat erat hubungannya
dalam kehidupan sosial. Kita perlu menanamkan hal ini sejak dini, dengan mendidik generasi-
generasi penerus sehingga mereka mempunyai bekal untuk menghadapi dunia ini dengan
pengetahuan/ ilmu.

1
1.2 Tujuan Penulisan CBR

1. Untuk mengulas isi sebuah buku


2. Untuk mengetahui sebenarnya apa yang dimaksud dengan Pendidikan IPS
3. Untuk menambah wawasan tentang Pendidikan IPS
4. Untuk mengkritisi buku dengan judul “Pendidikan IPS dan Konsep Dasar IPS”
5. Untuk mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku
6. Untuk melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh
setiap bab dari buku.

1.3 Manfaat CBR
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan IPS SD Kelas Rendah
2. Untuk menambah pengetahuan tentang Pendidikan IPS dan Konsep Dasar IPS
3. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari buku yang direview

1.4 Identitas Buku

Judul buku : PENDIDIKAN IPS : Filosofi, Konsep dan Aplikasi

Cetakan : Ketiga (September 2016)

Pengarang/Editor : Dr. Rudy Gunawan, M.Pd

Penerbit : ALFABETA, cv

Kota terbit : Bandung

Tahun terbit : 2016

Jumlah halaman : 212 halaman

ISBN : 978-602-8800-89-1

2
 Cover Buku

3
BAB II

ISI BUKU

2.1 Ringkasan Isi Bab

Judul Buku: PENDIDIKAN IPS (Filosofi, Konsep, dan Aplikasi)

BAB I. FILSAFAT PENDIDIKAN IPS

Filsafat berasal dari kata philos dan Sophia, philos artinya berfikir dan shopia artinya
kebijaksanaan. Jadi, filsafat ialah cinta kepada kebijaksanaan. Pendidikan membutuhkan
filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan
yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, dan lebih kompleks.
Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Filsafat
disebut juga ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan
manusia. Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pendidikan
yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakikat ilmu
pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaan
pendidikan. Sejarah filsafat Yunani mencatat, bahwa filsafat mencakup seluruh bidang ilmu
pengetahuan. Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakekat pelaksanaan
pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta
hakekat ilmu pendidikan, yang berhubungan dengan analisis kritis terhadap struktur dan
kegunaan pendidikan itu sendiri.
Filsafat ilmu pendidikan dibedakan dalam 4 macam, yaitu: Ontologi, Epistemologi,
Metodologi dan Aksiologi. Filsafat pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada dasarnya
tidak berbeda dengan filsafat-filsafat ilmu pendidikan lainnya, karena filsafat pendidikan IPS
juga merupakan filsafat praktik pendidikan, yaitu praktik tentang pendidikan ilmu-ilmu sosial
agar para peserta didik mampu memahami masalah-masalah sosial dan dapat mengatasinya
serta mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapin dalam kehidupannya.
Suatu ilmu pengetahuan dapat disertakan sebagai ilmu jika memenuhi cara-cara sebagai ilmu
atau pengetahuan. Unsur-unsur dalam filsafat pendidikan IPS yang harus diteliti antara lain :

4
perkembangan sosial. Kesadaran sosial, ideology sosial, perjuangan sosial, perubahan sosial
serta pimpinan sosial. Alasan perlunya pendidikan IPS sebagai program pendidikan ilmu-ilmu
sosial adalah mengajarkan ilmu sosial secara terpisah memberatkan siswa sekolah secara
kurikuler. Filsafat pendidikan IPS terdiri dari IPS sebagai Transmisi Kewarganegaraan (social
studies as Citizenship Transmission), IPS sebagai Pendidikan Reflektif (Social Studies as
Reflective Inquiry), IPS sebagai Kritik Kehidupan Sosial (social studies as social criticism),
dan IPS sebagai Pengembangan Pribadi seseorang (Socisl studies as personal development of
the individual).

BAB II. SEJARAH PENDIDIKAN IPS


Sejarah pendidikan IPS termasuk kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu: kurikulum sebagai
ide, kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, kurikulum sebagai suatu kegiatan, dan
kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum. IPS merupakan
suatu program pendidikan dan bukan sub disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan
ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu social, maupun ilmu
pendidikan. IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari jumlah mata pelajaran
seperti geografi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi,
sosiologi, dan sebagainya. Hakikat IPS adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia
sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi
pula, orang dapat berkomunikasi dengan cepat dimanapun mereka berada melalui handpone
atau internet. Tujuan pendidikan IPS adalah : untuk mengajarkan konsep-konsep sosiologi,
geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis;
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan
keterampilan sosial; membangun komitmen dan kesadaran terhadap nila-nilai sosial. Selain
itu, tujuan pendidikan IPS lainnya adalah membina anak didik menjadi warga Negara yang
baik, yang memiliki pengetahuan, dan kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya serta bagi
masyarakat dan Negara.
Bidang studi IPS yang masuk ke Indonesia berasal dari Amerika Serikat, yang di
Negara asalnya disebut social studies. Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS
kedalam kurikulum sekolah di Indonesi sangat berbeda dengan Inggris dan Amerika Serikat.

5
Pertumbuhan IPS di Indonesia tidak terlepas dari situasi kacau, termasuk dalam bidang
pendidikan, sebagai akibat pemberontakan G30S/PKI yang pemerintahannya orde baru.
Perkembangan IPS di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut: pengalaman hidup
masa lampau dengan situasi sosialnya yang labil memerlukan masa depan yang lebih mantap;
laju perkembangan pendidikan, teknologi dan budaya Indonesia.
Pada kurikulum tahun 1964 sampai 1968 digunakan istilah kurikulum pendidikan
ilmu-ilmu sosial, dengan struktur kurikulum pada mata pelajaran kelompok dasar. Mulai
kurikulum 1975 sampai 1994 menggunakan istilah IPS untuk penamaan kurikulum pada
setiap jenjang, dengan struktur mata pelajaran inti dan tambahan untuk kurikulum
MA/MAK/SMA. Isi materi yang dipelajari pada setiap kurikulum juga mengalami
perkembangan. Pada kurikulum 1994-1968, materi yang termuat dalam kurikulum IPS
meliputi sejarah, geografi, ekonomi, civics atau pendidikan moral Pancasila atau PPKn. Pada
kurikulum 1975 memuat materi ilmu sosiala: sejarah, geografi, ekonomi, koperasi, PPKn dan
hitung dagang. Pada kurikulum 1994 memuat sosiologi, antropologi, dan politik. Pengalaman
kurikulum ilmu sosial menjadi IPS sejak tahun 1975 dilatarbelakangi oleh dua hal yakni
sejarah atau pengalaman hidup masyarakat yang labil dimasa lalu dan laju perkembangan
teknologi kedepan yang perlu disikapi agar peserta didik yang dihasilkan relevan dengan
kondisi yang akan dihadapi dalam masyarakatnya.

BAB III. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS


Ilmu sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan,
adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan
sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Tujuan pembelajaran IPS adalah
membentuk warga Negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di
tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga Negara
yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan ilmu sosial bertujuan menciptakan tenaga ahli
dalam bidang ilmu soasial. IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD
yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan
isu sosial. Memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran
IPS, anak diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis,
bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

6
Mata pelajaran IPS bertujuan agar anak didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingungannya.,
Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Dan memiliki komitmen dan
kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Ruang lingkup mata pelajaran IPS
meliputi aspek-aspek yaitu manusia, tempat dan lingkungan; waktu, keberlanjutan, dan
perubahan; sistem sosial dan budaya; perilaku ekonomi dan kesejahteraan; IPS SD sebagai
Pendidikan Global.

BAB IV. PENDIDIKAN IPS TRADISIONAL DAN MODERN


Dalam pembelajaran IPS yang tradisional dilakukan melalui pendekatan pembelajaran
tradisional yaitu pendekatan pembelajaran dimana guru didalam kelas menggunakan metode
mengajar yang relative tetap (monoton) setiap kali mengajar IPS. IPS tradisional lebih
mengacu kepada guru yang berperan aktif, sehingga siswa kurang mengembangkan
kemampuan kreativitasnya. Ciri-ciri pendekatan pembelajaran tradisional yaitu : guru
cenderung hanya menyampaikan informasi yang bersifat fakta dan kurang memberikan
permasalahan dalam proses pembelajaran, interaksi yang terjadi antara guru dan siswa lebih
bersifat satu arah, materi yang disampaikan lebih cenderung pengetahuan saja, kurang
memberikan materi yang bersifat afektif dan psikomotor, serta strategi, metode dan teknik
pembelajaran yang digunakan guru cenderung bersifat tunggal dan monoton.
Pendidikan global mencoba lebih banyak menerangkan persamaan dari perbedaan-
perbedaan yang dimiliki oleh berbagai bangsa dan berusaha memberikan penekanan untuk
berfikir tentang negerinya sendiri, terutama berhubungan dengan masalah-masalah dan isu-isu
yang mampu melintasi batas-batas Negara. Dengan pendidikan globalisasi kita dapat
mengetahui bahwa masalah pembauran berkenaan dengan adanya golongan minoritas dalam
budaya mayoritas.

BAB V. PEMBELAJARAN IPS DI SD


Pembelajaran IPS merupakan kegiatan mengubah karakteristik siswa sebelum belajar
IPS menjadi siswa yang memiliki karakter yang diinginkan. Strategi pembelajaran IPS
dikelompokkan menjadi strategi pra pembelajaran, strategi dalam pembelajaran dan strategi

7
tindak lanjut. Evaluasi pendidikan tidak sama dengan evaluasi pembelajaran. Evaluasi
pendidikan mengevaluasi kegiatan pendidikan sebagai supra sistem pembelajaran dan bersifat
makro. Sementara evaluasi pembelajaran merupakan sub sistem pembelajaran dan bersifat
mikro.
Pembelajaran IPS di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia 7-11
tahun menurut piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual pada
tingkatan kongkrit operasional. IPS bergerak dari yang konkrit ke yang abstrak dengan
mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas dan pendekatan spiral dengan
memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang
dekat ke yang jauh, dan seterusnya. Proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar terutama di
Kelas VI, tampak semakin kuat pengaruh untuk mempersiapkan siswa supaya berhasil dalam
ujian nasional dengan mendapatkan skor yang tinggi. Materi dan pokok bahasan pada
pengajaran IPS dengan menggunakan berbagai metode digunakan untuk membina
penghayatan, kesadaran, dan pemilikan nilai-nilai yang luhur. Penanaman nilai dan sikap pada
pengajaran IPS hendaknya dipersiapkan dan dirancang berkesinambungan dengan penekanan
pada tingkat yang berbeda. Semakin tinggi jenjangnya semakin besar unsur pemahaman dan
pertanggungjawabannya. Pengajaran IPS dilaksanakan dalam waktu yang terbatas sehingga
tidak mungkin dapat memperkenalkan seluruh nilai-nilai kehidupan manusia kepada siswa.
Dalam pembelajaran IPS kelas tinggi ada beberapa kesulitan yang dialami siswa yaitu siswa
kurang dapat mengembangkan nilai dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Hambatan dalam
pembelajaran IPS yaitu hambatan keahlian dan akademik, hambatan fasilitas pendidikan,
hambatan mutu buku pendidikan, dan hambatan administrasi dan manajemen.

BAB VI. PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN IPS DALAM PERUBAHAN GLOBAL


Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan ilmu dan tekologi, serta
dengan masuknya arus globalisasi membawa pengaruh yang multidimensional. Di bidang
pendidikan perubahan ini dituntut oleh kebutuhan siswa, masyarakat, dan lapangan kerja.
Salah satu bentuk perubahan yang dituntut dari kurikulum IPS adalah menyesuaikan dengan
perubahan yang terjadi secara global tersebut. Sehingga sejak dini siswa sudah dibiasakan
melihat, memahami, menganalisis, merefleksikan, memprediksi berbagai fenomena yang
terjadi secara global.

8
Dengan perspektif global siswa mampu melihat dunia beserta penduduknya dengan
pengertian dan kepedulian. Dengan perspektif ini siswa dididik untuk ikut bertanggung jawab
berbagai kebutuhan hidup penduduk dunia dengan adil dan damai. Dunia disekitar kita
berubah dengan adil dan damai. Masalah diatas sudah diakomodir dalam kurikulum IPS 2004,
hanya saja beberapa masalah dalam implementasinya adalah sebagian besar guru IPS belum
terampil menggunakan beberapa model mengajar cooperative learning, inquiry, problem
solving, atau dengan menggunakan pendekatan perspektif global misalnya. Ketersediaan alat
dan bahan belajar di sebagian besar sekolah, ikut mempengaruhi proses belajar mengajar IPS.
Dalam hal implementasi atau proses pelaksanaan kurikulum ini guru mendapat sosialisasi
dalam bentuk penataran atau diklat sangat terbatas sekali, sehingga faktor ini juga
menyebabkan mereka masih belum memahami hakikat kurikulum baru ini sebagaimana
mestinya.

BAB VII. PENDIDIKAN IPS: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN


Pendidikan IPS di sekolah merupakan mata pelajaran atau bidang kajian yang
menduduki konsep dasar berbagai ilmu sosial yang disusun melalui pendekatan pendidikan
dan pertimbangan psikologis, serta kebermaknaannya bagi siswa dalam kehidupannya mulai
dari tingkat SD sampai dengan SMA. Pendidikan IPS pada hakikatnya merupakan program
pendidikan yang mengkaji manusia dalam kehidupannya. Tujuan pengajaran IPS disekolah
tidak lagi semata-mata untuk untuk memberi pengetahuan dan mengahapal sejumlah fakta dan
informasi akan tetapi lebih dari itu. Pendidikan IPS (social studies) bukan merupakan program
pendidikan disiplin ilmu tetapi adalah suatu kajian tentang masalah-masalah sosial yang
dikemas sedemikian rupa dengan mempertimbangkan faktor psikologis perkembangan peserta
didik dan beban waktu kurikuler untuk program pendidikan. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
adalah sebuah program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan
ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social sciences),
maupun ilmu pendidikan. Gagasan-gagasan pembaharuan RIPS yang telah dilakukan selama
ini tidak juga membangkitkan minat dan harapan siswa bahkan sejak masuknya IPS dalam
kurikulum sekolah masih ditemukan 10 mitos tentang RIPS.
Guru memegang peranan penting dalam pengembangan pembelajaran IPS.
Pembelajaran bukan hanya menyampaikan materi supaya siswa cerdas tapi lebih dari itu

9
supaya siswa didik memiliki karakteristik pribadi yang peka nurani dan tanggap nalarnya,
dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB VIII. PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME


Multikulturalisme adalah konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan
dapat mengakui keberagaman. Perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras, suku, etnis,
maupun agama. Ia merupakan sebuah konsep yang memberikan pemahaman bahwa sebuah
plural dan majemuk adalah bangsa yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam
(multicultural). Dan bangsa yang multicultural adalah bangsa yang kelompok-kelompok etnik
atau budaya yang dapat hidup berdampingan secara damai yang ditandai oleh kesediaan
masing-masing kelompok untuk menghormati dan menghargai budaya lain. Gagasan
multicultural yang dinilai mengakomodir kesetaraan dalam perbedaan tersebut merupakan
sebuah konsep yang mampu meredam konflik dalam masyarakat yang heterogen dimana
tuntutan akan pengakuan atas eksistensi dan keunikan budaya kelompok etnis sangat lumrah
terjadi. Masyarakat multicultural diciptakan mampu memberikan ruang yang luas bagi
berbagai identitas kelompok untuk melaksanakan kehidupan secara otonom. Dengan demikian
akan tercipta suatu sistem budaya dan tatanan sosial yang mapan dalam kehidupan masyarakat
yang akan menjadi pilar kedamaian sebuah bangsa.
Pendidikan multicultural didefenisikan sebagai pendidikan tentang keragaman
kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural yang terjadi dilingkungan
masyarakat tertentu atau bahkan di dunia secara keseluruhan. Pendidikan multicultural
memfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif monokultural yang esensia,
penuh prasangka dan diskriminatif ke perspektif multikultural yang menghargai keragaman
perbedaan, toleran dan sikap terbuka. Konsep pendidikan multiculturalisme harus berusaha
memfasilitasi proses pembelajaran yang menghargai keragaman etnis dan perbedaan,
persamaan hak, toleran dan sikap terbuka. Mengembangkan kompetensi untuk mampu
mandiri dan mengatur diri sendiri tanpa campur tangan pihak lain, bebas dari ancaman dan
paksaan.

10
BAB IX. PERAN INTELEKTUAL DOSEN LPTK DALAM MENINGKATKAN
PROFESIONALISME GURU IPS
Dosen sebagai salah satu kaum intelektual adalah sebagai pembentuk sikap disiplin
dan meningkatkan prestasi belajar calon guru agar dapat membentuk peserta didik kea rah
terciptanya warga Negara yang baik. Pembentukan prestasi belajar peserta didik dilakukan
belajar. Belajar yang dimaksud yaitu mendewasakan diri dari perubahan tingkah laku kea rah
yang lebih baik. Belajar dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan dan bagian hidup yang
berlangsung sepanjang hayat. Pembelajaran IPS dengan pendekatan multidisiplin, holistic dan
berspektif global memiliki peluang yang besar bagi berlangsungnya proses membangun
kemampuan personal, perkembangan emosional, kemahiran interpersonal dan sosial,
kesadaran sosial dan moral, membangun dan mengamalkan nilai-nilai hidup yang baik, yang
kesemuanya merupakan pilar-pilar utama bagi wahana pengembangan pendidikan kesadaran
nilai-nilai sosial.
Didalam penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan tinggi, dosen mempunyai
kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan
yang ditetapkan. Di samping tugas di bidang pendidikan dan pembelajaran, dosen juga
mempunyai tugas lainnya yaitu melaksanakan kegiatan penelitian dan kegiatan pengabdian
kepada masyarakat. Dosen IPS dapat berperan secara maksimal dalam meningkatkan
profesionalisme guru dengan tetap melakukan supervise sesuai dengan yang diperlukan oleh
guru sebagai suatu bagian dari tridarma perguruan tinggi.

BAB X. PEMANFAATAN MEDIA TELEVISI DALAM PEMBELAJARAN IPS


Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak
yang tersebar, heterogen dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan
informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media massa dapat
dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran IPS, karena media massa pada hakikatnya
merupakan representasi audio-visual masyarakat itu sendiri. Pemanfaatan media massa, baik
cetak maupun elektronik untuk tujuan tertentu yang dalam kajian ini disebut sebagai sumber
pembelajaran IPS. Guru dapat memanfaatkan atau memberdayakan media massa sebagai
sumber pembelajaran IPS secara optimal dan efektif sehingga dapat menunjang keberhasilan
pembelajaran IPS melalui tiga cara, yaitu : media massa dapat memperbaiki bagian konten

11
dari kurikulum IPS; media massa dapat dijadikan alat pembelajaran yang penting bagi IPS;
dan media massa dapat digunakan untuk mendorong siswa mempelajari metodologi ilmu-ilmu
sosial, khususnya di dalam menentukan dan menginterpretasi fakta-fakta sosial.
Sebagai sumber pembelajaran IPS, media pendidikan diperlukan untuk membantu
guru dalam menumbuhkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS. Diversifikasi
aplikasi media atau multimedia, sangat direkomendasikan dalam proses pembelajaran IPS,
misalnya melalui: pengalaman langsung siswa di lingkungan masyarakat; dramatisasi;
pameran dan kumpulan benda-benda; televisi dan film; radio recording; gambar; foto dalam
berbagai ukuran yang sesuai bagi pembelajaran IPS; grafik, bagan, chart, skema, peta;
majalah, surat kabar, bulletin, folder, pamphlet dan karikatur, perpustakaan, learning
resources, laboratorium IPS; serta ceramah, Tanya jawab, cerita lisan, dan sejenisnya.

BAB XI. PENERAPAN MODEL, STRATEGI, DAN METODE DALAM


PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS EKONOMI
Menjadi guru yang baik bukanlah hal yang mudah, guru memerlukan beberapa hal
agar kriteria tersebut tercapai yaitu mengetahui pokok permasalahan, menguasai keterampilan
mengajar, mengetahui komponen pengajaran yang baik, mempunyai tujuan dan mengetahui
tantangan yang dihadapi. Inti dari karakteristik mata pelajaran ekonomi adalah kemampuan
masyarakat dalam memecahkan persoalan ekonomi yaitu apa, bagaimana dan untuk siapa.
Model, strategi dan metode pengajaran tidak ada yang benar-benar bisa tepat dilakukan dalam
mata pelajaran ataupun materi apapun. Setidaknya guru dapat menguasai enam model
pembelajaran yaitu pengajaran langsung, ceramah, pengajaran konsep, pembelajaran
kooperatif, diskusi kelas dan pengajaran berbasis masalah.
Penerapan model, strategi dan metode pembelajaran ekonomi tergantung pada tujuan
pembelajaran, sifat dari materi pelajaran, ketersediaan fasilitas, kondisi peserta didik dan
alokasi waktu yang tersedia sehingga guru mampu menentukan pendekatan mana yang akan
dipakai. Pendekatan-pendekatan yang berpusat pada guru dan berpusat pada siswa merupakan
pendekatan-pendekatan yang komplementer dalam ruang kelas sehingga pada akhirnya guru
mungkin akan merancang dan mengajarkan pelajara yang di dalamnya menyertakan fitur-fitur
dari berbagai model, strategi dan metode pembelajaran sekaligus.

12
BAB XII. MODEL PEMBELAJARAN LIVING HISTORY DALAM MEMBENTUK
SIKAP NASIONALISME DI KALANGAN GENERASI MUDA
Model pengajaran yang tepat untuk pembelajaran sejarah akan menambah semangat
generasi muda untuk menggali segala potensi bangsa dan Negara sehingga muncul
kebanggaan terhadap bangsanya sendiri. Belajar sejarah dapat mengkonsepsikan kehidupan
sesuai dengan perjalanan waktu yang terjadi dengan menempatkan diri kita didalamnya.
Menanamkan rasa bangga terhadap pembelajaran sejarah bukanlah hal yang mudah,
diperlukan berbagai upaya untuk membuat pembelajaran sejarah disukai oleh generasi muda.
Nasionalisme adalah seperangkat gagasan atau sentiment yang membawa kerangka konseptual
tentang identitas lain seperti nasional yang sering hadir bersamaan dengan berbagai identitas
lain seperti pekerjaan, agama, suku, bahasa, territorial, kelas dan gender.
Model pembelajaran living history pada prinsipnya merupakan implementasi dari
penelitian sejarah sehingga peserta didik mampu untuk mengkaji sejarah dan bagaimana
menuliskan sejarah tersebut melalui teknik penelitian sejarah. Model pembelajaran living
history membimbing peserta didik dalam melakukan penelusuran peristiwa sejarah yang
terdapat dilingkungan sekitarnya, tempat peserta didik menjalani kehidupan kesehariaannya.
Model pembelajaran living history memberikan konstribusi untuk membangun sikap
patriotism. Tentu saja keyakinan tersebut akan semakin tertanam apabila pengajaran sejarah
dibuat semenarik mungkin dengan mengedepankan aspek-aspek sikap nasionalisme dalam
setiap pokok bahasannya. Sehingga model pembelajaran living history dapat menjadi media
untuk pembentukan sikap nasionalisme.

BAB XIII. PENDIDIKAN HOLISTIK DALAM PEMBELAJARAN


Pendidikan holistic mempersipakan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat yang
berfokus kepada pendidikan keterampilan hidup, sikap dan kesadaran pribadi bahwa
pendidikan ini dibutuhkan dalam kehidupan di dunia yang semakin kompleks. Sebetulnya
pendidikan holistik bukan hal yang baru karena merupakan transmisi pengetahuan yang
selama ini dijalankan. Peserta didik diberikan ilmu tentang bagaimana caranya belajar,
mengevaluasi secara kritis pengetahuan yang diperolehnya dan mampu menggunakan
pengetahuannya dalam berbagai situasi. Pendidikan holistik menekankan pada pendekatan
pendidikan lebih luas yang mencakup intelektual, pengembangan pribadi dan interpersonal

13
peserta didik dan menempatkannya pada nilai-nilai, sikap dan keterampilan yang akan terus
ada dalam diri peserta didik sepanjang hidup. Diperlukan perencanaan yang matang dalam
pengembangan pendidik holistic mulai dari strategi pengajaran, desain kurikulum dan
evaluasi. Dengan pendidikan holistic peserta didik mempunyai soft skill yang akan terus
berkembang secara dinamis dalam berbagai situasi. Penilaian yang dilakukan bukan hanya
penilaian secara angka dan kognitifnya saja. Tetapi juga diperhatikan aspek afektif dan
psikomotor. Cara penilaian yang ada disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan saat ini
sehingga penilaian akan lebih bersifat informal. Peran orang tua dalam pendidikan holistic
sangat penting. Perilaku yang dimunculkan oleh peserta didik bukan hanya produk dari
sekolah tetapi juga dari rumah. Sekecil apapun perubahan kea rah positif harus mendapat
pujian dan motivasi dari orang tua.
Melalui pendidikan holistik, guru dan peserta didik melakukan kolaborasi untuk saling
melengkapi serta meyakinkan terhadap aplikasi nilai-nilai kehidupan yang harus dipegang
teguh dan penuh keyakinan. Pendidikan holistik merupakan sebuah perjalanan pendidikan
untuk aktualisasi diri dan realisasi diri melalui hubungan dan keterkaitan antara individu,
kelompok dan dunia sehingga terintegrasi satu sama lain. Pendidikan formal hanyalah titik
awal dari proses seumur hidup. Guru harus memastikan bahwa budaya belajar disekolah
kondusif untuk menciptakan komunitas pembelajaran yang merangsang pertumbuhan peserta
didik agar lebih kreatif dan memiliki rasa ingin thu yang besar. Hal ini bertujuan agar peserta
didik tahu peranan dirinya di lingkungannya sehingga dapat terus memotivasi diri dan
mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.

14
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keunggulan
 Cover pada buku utama terlihat menarik dengan penggunaan warna hijau dan disertai
gambar yang membuat cover lebih menarik;
 Penjelasan materi didalam buku sudah sangat jelas, dan penggunaan katanya mudah
dipahami oleh pembaca; dan juga Penulisan kalimat nya tersusun secara rapi.
 Didalam materi bab penulis menambahkan pendapat-pendapat para ahli sehingga akan
lebih mudah untuk mengetahui keakuratan meteri isinya dan juga dapat dipercaya oleh
pembaca;
 Penulis mencantumkan daftar pustaka sehingga pembaca mengetahui sumber asli dari
buku serta Terdapat soal latihan untuk menguji sejauh mana kemampuan pembaca
dalam materi yang sudah dibacanya.

3.2 Kelemahan
 Tidak terdapat gambar yang mendukung penyampaian materi
 Tidak terdapat soal latihan untuk menguji kemampuan pembaca.

15
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
IPS merupakan terjemahan social studies. Dengan demikian IPS dapat diartikan
dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat
melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah,
geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial
yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ilmu ilmu sosial adalah sekelompok disiplin keilmuan yang mempelajari aspek-aspek
yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya.Ilmu sosial muncul akibat
adanya masalah sosial.  Masalah sosial selalu ada kaitannya dengan nilai-nilai moral dan
pranata-pranata sosial. Ilmu pengetahuan sosial adalah pelajaran atau bidang studi yang
merupakan fusi (paduan) dan integrasi ilmu. Ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang
sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
Persamaan antara ilmu pengetahuan sosial dengan ilmu sosial terletak pada sasaran nya yakni
sama menjadikan manusia sebagai sasaran atau obyek kajiannya, manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Dengan kata lain, keduanya mempelajari masyarakat manusia. Adapun
perbedaan antara ilmu-ilmu sosial dengan ilmu pengetahuan sosial terletak pada tujuan
masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan
generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori
atau teknologi baru. Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan sosial bersifat pendidikan, bukan
penemuan teori ilmu sosial.

4.2 Saran
Semoga dengan penulisan critical book ini dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai
modal dalam mempelajafi konsep dasar IPS atau pendidikan IPS. Saya sebagai penulis critical
book ini menyadari masih banyak kekurang dan kesalahan dalam membuat critical book
dikarenakan kurangnya peengalaman dan sumber yang masih sangat terbatas, oleh karena itu
saya sebagai penulis berharap dapat memaklumi isi dari critical book ini dan dapat diberikan
saran dan kritik yang bersifat membangun agar kedepannya dicapai kesempurnaan dalam
pembuatan critical book yang berikutnya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Rudy.2016. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi.Bandung: ALFABETA

17
Lampiran

RUBRIK PENILAIAN

Identitas
Nama Mahasiswa : Isna Novira
NIM/Prodi : 1183111001/PGSD
Judul Buku : Pendidikan IPS: Filosofi, Konsep dan
Aplikasi
Nama Pengarang : Dr.Rudy Gunawan, M.Pd.
Penerbit/TahunTerbit/Jumlah Halaman : ALFABETA/2016/ 212 halaman

Aspek Penilaian

No Aspek Yang Dinilai Bobot Perolehan Ket.


Nilai
I Tampilan Laporan 30
Kesesuaian Sistematika laporan 10
Tampilan (kemenarikan) laporan 10
3. Logika susunan isi laporan 10
Sub Total

II Isi Laporan (Critikal Book Report) 70


Pendahuluan (Latar belakang, Tujuan, 10
Manfaat)
Isi Buku (Ringkasan Buku Setiap Bab) 20
Pembahasan ( Keunggulan, Kelemahan) 30
Penutup (Kesimpulan dan Saran) 10
Sub Total
Total 100

Medan, 09 September 2019.

Rahmilawati Ritonga, S.Pd, M.Pd.

(………………………..)

18