Anda di halaman 1dari 14

40

BAB III
PEMBAHASAN

Seperti diketahui bahwa banyak teknologi yang dapat digunakan untuk


perbaikan kualitas AMD atau mine pit lake (kolong). Namun ada dua teknologi
yang cukup sederhana, ekonomis dan efisien yang dapat diaplikasikan untuk
peningkatan kualitas air kolong atau AMD, yaitu: In Situ Treatment dengan
menambahkan batu kapur (limestone) langsung ke kolong, dan Passive Treatment
menggunakan sistem permeable reactive barrier (PRB), open limestone channels
(OLCs), anoxic limestone drains (ALDs) dan constructed wetland (rawa buatan)
untuk aliran air kolong dan AMD. Metode untuk menetralisasikan air kolong dan
AMD adalah dengan menggunakan limestone. Sistem passive treatment yang
sangat efektif dalam menurunkan asiditas AMD adalah OLCs dan ALDs, yang
mana sistem ini sudah dikembangkan secara komersial di Canada dan USA.
Pemisahan sistem limestone dengan wetland lebih efektif dan lebih terkontrol
dibandingkan dengan sistem yang disatukan dalam wetland. Perbaikan AMD atau
kolong biasanya menggunakan treatment bertingkat dari beberapa sistem yang
disebutkan di atas untuk perbaikan kualitas airnya (Zipper dan Jage, 2002;
Sengupta, 1996; Maree et al 2004; Gloss et al, 1998; Faulkner et al, 2005;
Zimkiewicz et al, 2003). (6)
Sebenarnya aplikasi insitu treatment dengan limestone ataupun passive
treatment mestinya cukup ekonomis untuk di terapkan. Treatment secara passive
lebih eknomis apabila dilihat dari lifespannya (umurnya) yang bisa mencapai 20
tahunan. Walau kadang perbaikan untuk kualitas lingkungan memang harus
dibayar mahal, remediasi/reklamasi harus di lakukan sebelum kerusakan
lingkungan bertambah parah dan menimbulkan dampak yang lebih besar sehingg
memakan biaya yang lebih besar lagi. Peningkatan kualitas air kolong secara tidak
langsung juga meningkatkan potensi pemanfaatan air kolong yang dapat
meningkatkan perekonomian pendapat penduduk setempat sebagai alternatif
perekonomian jangka pendek seperti kegiatan TI. (6)
41

3.1. Penanganan AAT dengan Metode Constructed Wetland


Sistem constructed wetland atau lahan basah/rawa buatan juga
merupakan passive treatment yang cukup efektif untuk pengontrolan AMD, akan
tetapi untuk efektifitas treatment sistem wetland tidak bisa langsung digunakan
untuk treatment AMD kecuali sistem di lengkapi dengan media kapur.
Pretreatment AMD dengan pengapuran atau menggunakan sistem anaerobik harus
dilakukan sebelum ditreatment menggunakan wetland aerobik. (6)
Sistem wetland atau lahan basah secara alamiah adalah daerah transisi
(ekoton) antara ekosistem perairan dimana memiliki kondisi basah dan tergenang
dengan ekosistem darat yang kering. Lahan basah dapat memiliki masa terendam
air namun juga dapat praktis kering (Kadlec dan Knight, 1996). Ciri-ciri lahan
basah adalah adanya tumbuhan yang bersifat hidrofit yang dapat beradaptasi
dengan kondisi kering maupun basah. Secara alamiah, pada lahan basah terjadi
proses-proses biologi, kimia dan fisika. Proses biologi terjadi pada interaksi antara
tumbuhan penyusun lahan basah dengan lingkungan lahan basah tersebut.
Penyerapan (up taking) unsur-unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan diserap
melalui akar atau organ yang berfungsi seperti akar pada air dan substrat tumbuh
tumbuhan tersebut. (6)
Rawa buatan diyakini dan telah teruji kemampuannya dalam
menurunkan beban pencemar yang terdapat dalam air. Tidak hanya limbah rumah
tangga yang tinggi akan nutrien tatapi juga limbah tambang yang memiliki
kandungan logam tinggi dan kadang ber-pH sangat rendah. Gersberg et al. (1984)
melaporkan bahwa lahan basah buatan mampu menurunkan kandungan
konsentrasi logam cadmium, tembaga dan seng masing-masing hingga 99%, 99%
dan 97%. Namun demikian tumbuhan dalam rawa buatan hanya menyerap logam
dalam konsentrasi yang sangat rendah yaitu kurang dari 1% (Sinicrope et al.
(1992), Ye et al. (2001). (6)
Penyerapan logam dalam air, terutama Fe dan Mn, akan berlangsung
efektif apabila terdapat intreraksi secara biologis yang menjembatani oksidasi dan
reduksi. Rawa buatan adalah satu-satunya ekosistem yang didalamnya terjadi
proses-proses oksidasi dan reduksi. Proses biologi lainnya yang terjadi pada lahan
42

basah adalah proses pelepasan material organik dari tumbuhan ke lingkungan


sekitarnya. Tumbuhan merupakan elemen yang sangat penting bagi pertumbuhan
komunitas mikroba. Perombakan material secara langsung menjadi materi yang
sangat sederhana dapat dilakukan oleh komunitas mikroba. Keberadaan tumbuhan
dengan sistem perakarannya mampu menyokong pertumbuhan mikroba dalam
sistem yang juga akan mendegradasi senyawa-senyawa logam berat. (6)

Peningkatan pH air asam tambang/air kolong asam yang ber pH<5, Fe>
20 mg/L, alkalinitas <80 mg/L dan oksigen terlarut< 2mg/L sistem ALD sangat
efektif sebelum di alirkan ke sistem wetland (Brodie et al, 1993). Selain
meningkatkan pH, sistem ALD dapat meningkatkan alkalinitas efluen untuk
menjaga pH agar tidak turun setelah melewati sistem wetland. Sistem ALD harus
diikuti oleh wetland anarobik ataupun aerobik untuk mendapatkan kualitas air
efluen yang memenuhi standar baku mutu (Brodie, 1993). Karena untuk air asam
tambang yang mengandung Fe>80 biasanya dengan hanya sistem wetland tidak
bisa meningkatkan pH. Dengan disain yang tepat, ALD bisa mempunyai umur
(lifespan) > 20 tahun. (6)
Pada sistem wetland anaerobik, komposisi reaktif material yang
digunakan seperti kompos, daunan, serbuk gergaji di tambahkan lumpur aktif dari
sistem sewage juga menstimulasi pertumbuhan bakteri pereduksi sulfat untuk
menaikan alkalinitas dan menyisihkan logam dalam bentuk endapan sulfida
(Benner et al, 1997; Steed et al, 2000, Waybrant et al, 2002). Sistem gabungan
secara kimia dan biologi terbukti dapat meningkat peroduktivitas dari kolong
AMD (mining pit lake) (Simon et al, 2004), sehingga dapat di manfaatkan untuk
budidaya perikanan. Berikut adalah reaksi peningkatan alkalinitas dengan bakteri
pereduksi sulfat dan penyisihan logamnya dalam bentuk metal sulfida: (6)
43

Untuk dapat dimanfaatkan diperlukan adanya usaha mempercepat


perbaikan kualitas air kolong muda berupa teknologi pengolahan air yang
sederhana, ekonomis dan efisien seperti in situ treatment (untuk kolong muda
berukuran kecil) dan passive treatment menggunakan sistem ALD (limestone)dan
wetland. (6)

Lahan basah dapat terus berfungsi pada waktu cuaca dingin. Proses fisik,
seperti sedimentasi. terus berjalan tanpa terpengaruh suhu, Asalkan air tidak
membeku. Banyak reaksi berlangsung dalam substrat lahan basah, dimana
dekomposisi dan aktivitas mikroba menghasilkan panas yang cukup untuk
menjaga lapisan bawah permukaan tidak membeku. Pengolahan air akan
berlangsung di bawah es. Untuk menciptakan ruang untuk aliran di bawah es,
kadar air dapat ditingkatkan dalam mengantisipasi pembekuan, kemudian
mencairkan segera sesudah penutup dari es telah terbentuk. (4)
Tingkatan dekomposisi mikroba melambat seperti suhu mulai turun dan
lahan basah mungkin perlu dibuat lebih besar untuk menyesuaikan lebih
lambatnya tingkat reaksi. Untuk lahan basah Pertanian, yang bergantung pada
aktivitas mikroba untuk menguraikan limbah organik, mungkin sangat tepat untuk
menyimpan air limbah di unit pretreatment selama bulan-bulan yang dingin untuk
perawatan selama berbulan-bulan yang hangat. Aliran tinggi yang umumnya pada
musim dingin dan musim semi karena pencairan salju, hujan musim semi, dan
kandungan air tanah yang tinggi dapat memindahkan air sangat cepat melalui
lahan basah yang tidak ada alukasi waktu yang cukup untuk perawatan yang
memadai. Karena kecepatan pembersihan jauh lebih tinggi selama cuaca hangat,
44

lahan basah pertanian dapat sering jadi lebih kecil daripada jika air diberi
perawatan sepanjang tahun.
Lahan Basah kehilangan air dalam jumlah besar pada musim panas
melalui evapotranspiration. Ketersediaan aliran di musim panas harus
dipertimbangkan karena hal itu akan mempengaruhi permukaan air di lahan basah
dan jumlah limbah/effluent lahan basah tersedia untuk daur ulang (jika ini adalah
bagian dari desain). Sebuah sumber tambahan air mungkin diperlukan untuk
mempertahankan kelembaban uap air yang memadai di lahan basah.
Pertanyaan tentang bahaya yang muncul dari kenyataan bahwa, dalam
ekologis, segala sesuatunya harus menempati suatu tempat. Lahan basah mampu
mendegradasi, mengubah, atau mengasimilasi berbagqai kontaminan, seperti
nitrogen, dan menghilangkan untuk beberapa material. Untuk bahan-bahan yang
tidak bisa hilaang, seperti fosfor dan logam, lahan basah terbenam dapat menjadi
sumber jika tidak dibangun dan dikelola dengan baik. Sejauh mana lahan basah
menahan kontaminan seperti fosfor dan logam adalah faktor penting yang tidak
diketahui, seperti juga kondisi di bawah yang mana lahan basah dapat melepaskan
kontaminan yang tersimpan. Bioaccumulation dan biotoxicity dalam perawatan
lahan basah tidak didokumentasikan tidak dimengerti secara jelas. (4)
Senyawa yang tetap ada dapat menjadi ancaman, tergantung pada
konstituen dalam air limbah. Sebagai contoh, drainase tambang mengandung
logam dan Stormwater membawa deposit hidrokarbon pada permukaan yang
diratakan. Logam berat sering diasingkan di sedimen lahan basah yang bisa
dihilangkan dari lahan basah selama badai, sehingga hanya memberikan jeda
waktu dalam penyebaran polutan. Pengangkutan bahan beracun dengan cara ini
adalah hal yang ditakuti, seperti pengangkutan fosfor, faktor yang sangat penting
dalam pengayaan permukaan airyang berlebihan. Pertanyaan tentang bahaya
menggaris bawahi pentingnya pendesainan dan pengoperasian lahan basah buatan
dengan benar dan pemantauan secara berkala. (4)
Seiring waktu Semua ekosistem berubah. Lahan basah untuk pengolahan
air limbah dapat diandalkan untuk mengubah dengan lebih cepat daripada lahan
basah yang paling alami karena dari akumulasi sedimen dengan cepat, sampah,
45

dan polutan-polutan. beberapa Variabilitas alami juga melekat dalam semua


sistem kehidupan dan dapat diperkirakan. (4)
Perubahan komposisi spesies sebagai ekosistem dewasa ini dikenal
sebagai rangkaian. Secara umum, keanekaragaman spesies meningkat menjadi
ekosistem yang dewasa. Perbedaan (perbedaan jumlah spesies dalam suatu
habitat, seperti sebuah lahan basah) sering dianggap sebagai ukuran ketahanan
ekosistem (kemampuan sistem untuk menerima gangguan): seperti pertambahan
jumlah spesies, demikian juga kompleksitas interaksi dari berbagai spesies satu
sama lain dan dengan lingkungannya; semakin besar jumlah interaksi, sistem yang
lebih tahan secara keseluruhan dan yang lebih luas kapasitasnya untuk beradaptasi
dengan perubahan. (4)
Dalam pengolahan air limbah lahan basah, yang menekankan pengisian
air limbah yang tinggi dapat mengakibatkan dominasi oleh beberapa yang bersifat
agresif, spesies yang sangat toleran, seperti cattail dan buluh yang umum, yang
mungkin pada akhirnya menyisihkan spesies lain. Jika nilai-nilai habitat satwa liar
yang penting bagi proyek, intervensi untuk mempertahankan keragaman dapat
diperlukan. Jika nilai-nilai habitat tidak penting, perubahan dapat dibiarkan
berlanjut tanpa campur tangan selama lahan basah terus mengolah air ke level-
level yang dapat diterima. (4)
Setiap ekosistem, natural atau buatan, mempunyai batas-batas
kemampuan untuk menerima gangguan. Kinerja sistem lahan basah buatan dapat
berubah dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari perubahan dalam substrat
dan akumulasi polutan di lahan basah. Lahan basah buatan harus dipantau secara
berkala untuk petunjuk tekanannya sehingga tindakan perbaikan, jika diperlukan,
dapat diambil. (4)
Meskipun sejumlah besar penelitian dan informasi yang diterbitkan,
desain optimal lahan basah buatan untuk berbagai aplikasi belumlah ditentukan.
Banyak system lahan basah buatan belum memadai termonitor atau beroperasi
belum cukup lama untuk menghasilkan data yang memadai untuk analisis. Di
antara sistem-sistem yang telah dimonitor, kinerjanya bervariasi dan pengaruh-
pengaruh dari berbagai faktor yang mempengaruhi kinerjanya, seperti lokasi, jenis
46

limbah air atau limpasan, desain lahan basah, iklim, cuaca, gangguan, dan
variabilitas harian atau musiman, yang sulit untuk diukur. (4)
Secara umum, desain lahan basah berupaya untuk meniru lahan basah
alami di keseluruhan struktur sementara itu pengembangan proses-proses lahan
basah ini yang yang diperkirakan memiliki kontribusi yang paling banyak untuk
perbaikan kualitas air. Mitsch (1992) menganjurkan pedoman berikut untuk
menciptakan keberhasilan lahan basah buatan :
• mempertahankan desain yang sederhana. Pendekatan-pendekatan
Teknologi yang kompleks seringkali mendatangkan kegagalan.
• desain dengan pemeliharaan yang minimal.

design the system to use natural energies, such as


• desain sistem untuk menggunakan energi alam, seperti aliran gravitasi.
• desain untuk cuaca dan iklim ekstrem, bukan rata-rata. Badai, banjir,
dan kekeringan yang diharapkan dan direncanakan, bukan ditakuti.
• desain lahan basah dengan bentang alam, tidak berlawanan dengannya.
menggabungkan desain dengan topografi alam lokasi setempat.
• menghindari over-teknik desain dengan kolam persegi panjang, struktur-
struktur kaku dan saluran-saluran, dan morfologi biasa. Meniru sistem
alam.
• memberikan waktu pada sistem. Lahan basah tidak harus fungsional
dalam semalam dan dapat melalui beberapa tahun sebelum mencapai
kinerja tingkat optimal. Strategi-strategi yang mencoba jalan pintas
pengembangan proses-proses sistem atau pengelolaan yang berlebihan
seringkali mengalami kegagalan.
• desain sistem untuk fungsi, bukan bentuk. Misalnya, jika penanaman
awal gagal, tapi secara keseluruhan fungsi lahan basah, didasarkan pada
tujuan awal, adalah lengkap, maka sistem tidaklah gagal. (4)
47

3.2. Penanganan AAT dengan Metode Pengapuran (Limestone


Neutralization)
Pemilihan aplikasi limestone (pengapuran) untuk in situ treatment
mengacu pada hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan keberhasilan aplikasi
limestone untuk menaikkan pH AAT, mining pit lake (kolong) dan danau asam.
Limestone selain murah, mudah didapat, juga sangat efektif dalam menaikkan pH
dibandingkan jenis alkali lainnya seperti caustic soda dan dolomite. Harga
limestone mencapai Rp 300,000 sampai dengan Rp 600,000 per ton. (6)
Seperti diketahui bahwa banyak teknologi yang dapat digunakan untuk
perbaikan kualitas AMD atau mine pit lake (kolong). Salah satu teknologi yang
cukup sederhana, ekonomis dan efisien yang dapat diaplikasikan untuk
peningkatan kualitas Air Asam Tambang, yaitu: In Situ Treatment dengan
menambahkan batu kapur (limestone) langsung ke AAT. (6)
Limestone atau biasa dikenal dengan batu gamping telah digunakan selama
berpuluh-puluh tahun untuk menaikkan pH dan mengendapkan logam di dalam air
asam. Penggunaan limestone merupakan penanganan yang termurah, teraman dan
termudah dari semua bahan-bahan kimia. Kekurangan dari limestone ini ialah
mempunyai keterbatasan karena kelarutan yang rendah dan limestone terlapisi dengan
cepat oleh logam yang terlarut dalam air. Reaksi penetralan dengan menggunakan
limestone ialah sebagai berikut: (3)

CaCO3 + H2SO4 → CaSO4 + CO2 + H2O

Penanganan air asam di PT. Arutmin Indonesia menggunakan limestone


atau batu gamping. Hal ini dikarenakan penggunaan limestone lebih efisien dan lebih
efektif dalam menangani air asam. (3)

3.3. Efektifitas Metode Penanganan


Semua metode penanganan Air Asam Tambang pastinya mempunyai
kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang berkaitan dengan sangat
beragamnya kondisi baik Kimia dan Fisika Air Asam Tambang.
48

Keuntungan-keuntungan Constructed Wetland :


Lahan basah buatan adalah biaya yang efektif dan layak secara teknis
pendekatan untuk perawatan air limbah dan limpasan karena beberapa alasan: (4)
• Lahan basah Buatan dapat lebih murah daripada perawatan lainnya.
• biaya operasi dan pemeliharaan (energi dan persediaan) yang rendah
• hanya memerlukan operasi dan pemeliharaan berkala, daripada
perawatan secara terus-menerus, di tempat kerja
• lahan basah dapat bertahan pada fluktuasi aliran.
• Lahan basah memudahkan pemakaian ulang dan daur ulang air.
• Sebagai tambahan:
• Lahan basah memberikan habitat bagi banyak organisme lahan basah
• Lahan basah dapat dibangun untuk menyesuaikan ke dalam bentang
alam
• Lahan basah memberikan banyak manfaat di samping peningkatan
kualitas air, seperti habitat satwa liar dan peningkatan estetika tempat-
tempat terbuka
• Lahan basah adalah lingkungan yang sensitif melihat pandangan
masyarakat umum yang menyukainya.
Keterbatasan-keterbatasan Constructed Wetland
Ada Keterbatasan-keterbatasan yang berhubungan dengan penggunaan
lahan basah buatan :
• Lahan basah buatan umumnya membutuhkan area tanah lebih
besar daripada systerns perawatan air limbah konvensional. Perawatan
system lahan Basah bias jadi relative ekonomis terhadap pilihan lain hanya
di mana lahan tersedia dan terjangkau.
• Kinerja lahan basah bias jadi kurang konsisten daripada
perawatan konvensional. efisiensi-effisiensi perawatan lahan basah bias
berubah-ubah 'musiman sebagai respon terhadap perubahan kondisi
lingkungan, termasuk curah hujan dan kekeringan. Sementara kinerja rata-
rata selama setahunan dapat diterima, perawatan lahan basah tidak dapat
49

diandalkan jika kualitas effluent harus memenuhi standar pelepasan yang


ketat pada setiap waktu.
• Komponen-komponen biologisnya sensitif terhadap bahan kimia
beracun seperti amonia dan pestisida
• Lonjakan polutan atau gelombang-gelombang dalam aliran air
bisa mengurangi efektivitas perawatan untuk sementara waktu
• Memerlukan kwantitas air minimum tertentu untuk bias bertahan
lebih lama. Sementara lahan basah dapat bertahan terhadap pendangkalan
air untuk sementara waktu, lahan basah tidak dapat menahan kekeringan
secara penuh. (4)
Demikian juga, penggunaan lahan basah buatan untuk perawatan air
limbah dan kontrol Stormwater adalah perkembangan yang cukup terbaru . Masih
belum ada kesefakatan umum tentang desain system lahan basah yang optimal
juga tidak banyak informasi tentang kinerja jangka panjangnya. 4)

3.3. Efektifitas Penerapan Metode Lahan Basah Buatan dengan


Pengapuran (Limestone Neutralization)
Semua metode-metode penanganan air asam tambang pada dasarnya
memeiliki kelebihan-kelebihan tersendiri akan tetapi juga mempunyai kekuragan-
kekurangan atau keterbatasan-keterbatasan pada masing-masing metode baik
dalam proses operasinya, hasil out putnya maupun pada proses perawatannya.
Pemilihan aplikasi limestone (pengapuran) untuk in situ treatment
mengacu pada hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan keberhasilan aplikasi
limestone untuk menaikkan pH AMD, mining pit lake (kolong) dan danau air
asam. Limestone selain murah, mudah didapat, juga sangat efektif dalam
menaikkan pH dibandingkan jenis alkali lainnya seperti caustic soda dan
dolomite. Harga limestone mencapai Rp 300,000 sampai dengan Rp 600,000 per
ton.(6)
Pemisahan sistem limestone dengan wetland lebih efektif dan lebih
terkontrol dibandingkan dengan sistem yang disatukan dalam wetland. Perbaikan
AMD atau kolong biasanya menggunakan treatment bertingkat dari beberapa
50

sistem yang disebutkan di atas untuk perbaikan kualitas airnya (Zipper dan Jage,
2002; Sengupta, 1996; Maree et al 2004; Gloss et al, 1998; Faulkner et al, 2005;
Zimkiewicz et al, 2003).(6)
Peningkatan pH air asam tambang/air kolong asam yang ber pH<5, Fe> 20
mg/L, alkalinitas <80 mg/L dan oksigen terlarut< 2mg/L sistem ALD sangat
efektif sebelum di alirkan ke sistem wetland (Brodie et al, 1993). Selain
meningkatkan pH, sistem ALD dapat meningkatkan alkalinitas efluen untuk
menjaga pH agar tidak turun setelah melewati sistem wetland. Sistem ALD harus
diikuti oleh wetland anarobik ataupun aerobik untuk mendapatkan kualitas air
efluen yang memenuhi standar baku mutu (Brodie, 1993). Karena untuk air asam
tambang yang mengandung Fe>80 biasanya dengan hanya sistem wetland tidak
bisa meningkatkan pH. Dengan disain yang tepat, ALD bisa mempunyai umur
(lifespan) > 20 tahun.(6)
Luis Davis (1998) dalam A Handbook of Constructed Wetland
menyebutkan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan dalam penerapan
Lahan Basah Buatan. Kelebihan-kelebihan Lahan Basah Buatan (Constructed
Wetland) adalah biayanya lebih effektif dan layak secara teknis, pendekatan untuk
perawatan air limbah dan limpasan karena beberapa alasan: (4)
• Lahan basah dapat lebih murah untuk dobangun daripada pilihan
perawatan lainnya.
• biaya operasi dan pemeliharaan (energi dan persediaan) yang
rendah
• hanya memerlukan operasi dan pemeliharaan berkala, daripada
perawatan secara terus-menerus, di tempat kerja
• lahan basah dapat bertahan pada fluktuasi aliran.
• Lahan basah memudahkan pemakaian ulang dan daur ulang air.
• Sebagai tambahan:
• Lahan basah memberikan habitat bagi banyak organisme lahan
basah
51

• Lahan basah dapat dibangun untuk menyesuaikan ke dalam


bentang alam
• Lahan basah memberikan banyak manfaat di samping
peningkatan kualitas air, seperti habitat satwa liar dan peningkatan estetika
tempat-tempat terbuka
• Lahan basah adalah lingkungan yang sensitif melihat pandangan
masyarakat umum yang menyukainya.
Adapun Keterbatasan-keterbatasan yang berhubungan dengan penggunaan
lahan basah buatan : (4)
• Lahan basah buatan umumnya membutuhkan area tanah lebih
besar daripada systerns perawatan air limbah konvensional. Perawatan
system lahan Basah bias jadi relative ekonomis terhadap pilihan lain hanya
di mana lahan tersedia dan terjangkau.
• Kinerja lahan basah kurang konsisten daripada perawatan
konvensional. efisiensi-effisiensi perawatan lahan basah berubah-ubah /
musiman sebagai respon terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk
curah hujan dan kekeringan. Sementara kinerja rata-rata selama setahunan
dapat diterima, perawatan lahan basah tidak dapat diandalkan jika kualitas
effluent harus memenuhi standar pelepasan yang ketat pada setiap waktu.
• komponen-komponen biologisnya sensitif terhadap bahan kimia
beracun seperti amonia dan pestisida
• lonjakan polutan atau gelombang-gelombang dalam aliran air
bisa mengurangi efektivitas perawatan untuk sementara waktu
Metode Limestone Neutralization sendiri mempunyai kelebihan dan
kekurangan, Stephen McGinness dalam Treatment of Acid Mine Drainage
menerangkan tentang pengapuran atau liming, bahwa pada dasarnya adalah
pegolahan dengan memodifikasi pH untuk meningkatkan pH AAT yang pertama
menyebabkan besi, dan kemudian logam-logam lainnya, untuk mengendapkannya
dari larutan. Perawatan menggunakan kapur saat ini digunakan di Wheal Jane.
Dengan menggunakan proses kimia ini.(11)
Pengapuran memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
52

• Ini adalah teknologi teruji;


• Hal ini efektif untuk perawatan air sangat asam;
• Perawatan sebagian besar tidak terpengaruh oleh fluktuasi suhu musiman;
• Membutuhkan Instalasi dan pengoperasian yang relatif sederhana
• Penuangan air dari settling dam memiliki kualitas yang mencukupi untuk
dibuang ke sungai;
• Prosesnya dapat menyesuaikan perubahan-perubahan pada kualitas
kuantitas air dengan penyesuaian parameter operasi yang relatif mudah. (11)
Namun, pengapuran juga banyak mempunyai kekurangan dalam :
• Peralatan pemeliharaan relatif tinggi berkaitan dengan usaha peningkatan;
• pH tinggi yang dibutuhkan untuk menghapus logam seperti mangan dapat
menyebabkan remobilisation hidroksida logam lain (misalnya : aluminium);
• Endapannya berupa zat kimiawi kompleks dan tidak stabil, membuat
permasalahan tempat pembuangan yang bersifat jangka panjang;
• Lumpur / endapannya memiliki density rendah dan seperti agar-agar jadi
mempunyai volume yang besar yang sulit dan memrlukan biaya yang besar
untuk pananganan dan pembuangannya;
• The sludges generally have no commercial value - reclamation of metals is
• Endapan tersebut pada umumnya tidak mempunyai nilai ekonomis -
reklamasi logam tidak bernilai ekonomis karena kompleksnya campuran
dan kandungan kapur yang berlebihan yang biasanya digunakan untuk
memastikan presipitasi yang sempurna. (11)
Kemudian teknologi modifikasi pH telah dikembangkan untuk mencoba
memecahkan beberapa masalah dari permasalahan-permasalahan ini. Perbaikan
dilakukan pada takaran pengapuran dalam pengolahan konvensional, melipuiti :
• Penggunaan produk-produk limbah daripada kapur, membuat teknologi
yang lebih murah karena bahannya lebih murah daripada kapur;
• Penggunaan reagen alternatif untuk menghasilkan lumpur dengan kadar air
yang lebih rendah, atau Lumpur yang lebih stabil, atau keduanya;
53

• Penggunaan teknik-teknik pemrosesan, daripada reagen alternatif, untuk


mencapai hasil-hasil tersebut.
Ada kemungkinan pengapuran alternatif, seperti KB-1, dapat ditemukan di
mana teknologi pencampuran sudah familiar bagi para pekerja di lapangan yang
dapat terus digunakan tetapi endapan yang dihasilkan akan lebih padat dan kecil
kemungkinannya untuk berpindah kembali ke lingkungan.(11)
Keberadaan sejumlah besar perawatan yang telah dibahas dalam literatur
dan terbukti mampu mengolah AAT. Ada beberapa, Namun, yang telah
ditunjukkan dalam skala besar atau terbukti bekerja secara efisien atau cukup
cepat. Harus ada yang meneliti untuk peningkatan mengenai penggunaan produk-
produk buangan untuk mengolah setiap AAT sebagaimana perubahan yang tak
bisa diabaikan dalam ketersediaan dan kandungan dari setiap reagen.(11)
Bagaimanapun, para ahli telah mengembangkan teknologi-teknologi ke
level dimana bisa dipertimbangkan secara serius tentang cara alternative untuk
teknologi pengapuran.(11)