Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

“TUBERCULOSIS (TBC) PARU”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu Stase Keperawatan Gawat Darurat


Di Ruang ICU RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun Oleh :
LAILIS SAFITRI
NIM: 62019040032

JURUSAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2019
A. KONSEP DASAR
1. PENGERTIAN
Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut kerap
menyerang organ paru dibandingkan organ dalam lainnya dan dapat
ditularkan melalui udara yang membawa droplet nuklei penderita TB
(Izatti, 2015).
Klasifikasi tuberkolusis dari system lama:
a. Pembagian secara patologis
1) Tuberkolusis primer (childood tuberkolusis)
2) Tuberkolusis post-primer (adult tuberkolusis)
b. Pembagian secara aktivitas radiologis Tuberkolusis paru (Koch
Pulmonurn) aktif, non aktif dan quiescent ( bentuk aktif yang
menyembuh)
c. Pembagian secara radiologis (luas lesi)
1) Tuberkolusis minimal
2) Moderately advanced tuberkolusis
3) Far advanced tuberkolusis
2. ETIOLOGI
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus
yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut
pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan
sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. Sumber penularan
adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin,
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan
Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau
droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman
TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB
tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui
sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas, atau
penyebaran langsung kebagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan
dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak
negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular.

3. TANDA GEJALA
a. Gejala Umum
1) Batuk terus menerus dan berdahak 3 (tiga) minggu atau lebih.
Merupakan proses infeksi yang dilakukan Mycobacterium
Tuberkulosis yang
menyebabkan  lesi  pada  jaringan  parenkim  paru. 
b. Gejala lain yang sering dijumpai
1) Dahak bercampur darah
Darah berasal dari perdarahan dari saluran napas bawah,
sedangkan dahak adalah hasil dari membran submukosa yang
terus memproduksi sputum untuk berusaha mengeluarkan benda
saing.
2) Batuk darah
Terjadi akibat perdarahan dari saluran napas bawah,
akibat iritasi karena proses batuk dan infeksi Mycobacterium
Tuberkulosis.
3) Sesak napas dan nyeri dada
Sesak napas diakibatkan karena berkurangnya luas lapang
paru akibat terinfeksi Mycobacterium Tuberkulosis, serta akibat
terakumulasinya sekret pada saluran pernapasan.
Nyeri dada timbul akibat lesi yang diakibatkan oleh infeksi
bakteri, serta nyeri dada juga dapat mengakibatkan sesak napas.
4) Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun,
rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walau
tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Merupakan gejala yang berurutan terjadi, akibat batuk
yang terus menerus mengakibatkan kelemahan, serta nafsu
makan berkurang, sehingga berat badan juga menurun, karena
kelelahan serta infeksi mengakibatkan kurang enak badan dan
demam meriang, karena metabolisme tinggi akibat pasien
berusaha bernapas cepat mengakibatkan berkeringat pada
malam hari.(Departemen Kesehatan  Republik Indonesia, 2006)

4. PATOFISIOLOGI
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan
atau dibatukkan keluar menjadi droplet dalam udara. Partikel infeksi ini
dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada
tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam
suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari
sampai berbulan bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat
akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Partikel dapat masuk ke
alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromililiter.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon
imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag sednagkan
limfosit (biasanya sel T) adalah immuniresponsifnya. Tipe imunitas seperti
ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi
oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi
hipersensifitas (lambat).
Basil tuberkuel yang mencapai permukaan alveolus biasnya
diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang
besar cenderung tertahan di hidung dan cabang bronkus dan tida
menyebabkan penyakit. Setelah berada diruang alveolus biasanya
dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah,
basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit
polimorfonuklear tampak di daerah tersebut dan memfagosit bakteri
namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah hari-hari pertama
leukosit akan digantikan oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan
mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia
seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ads sisa atau
proes akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau
berkembang biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening
menuju kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga
membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini
butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti
keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis
kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epitelidon
dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi
menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan paru yang akhirnya akan
membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru dinamakan fokus ghon dan gabungan
terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan
keompleks ghon. Respon lain yang dapat terjadi di daerah nekrosis
adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan
menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepas dari dinding kavitas
akan masuk kedlam percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat
terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring, telinga
tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan
dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen
bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat
dekat dengan perbatasan bronkus rongga.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh
darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai
aliran darah dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada
organ lain. Jenis penyebab ini disebut limfohematogen yang biasnya
sembuh sendiri. Penyebabnya hematogen biasnya merupakan fenomena
akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus
nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang
masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya.
5. PATHWAY

Droplet nucler / dahak yang mengandung


basil TBC (Mycobacterium Tuberculosis)

Faktor dari luar:


Batuk, bersin Faktor dari dalam:
- Faktor toksik (alkohol,
- Usia muda/bayi
rokok)
- Gizi buruk
- Sosial ekonomi rendah Dihirup masuk paru - Lanjut usia
- Terpapar penderita TBC

Mycobacterium menetap/dormant

Imunitas tubuh menurun

Membentuk sarang TB

Premonia Kecil/sarang primer

Broncus Pleura Infiltrasi setengah


Iritasi bagian paru
Menyebabkan
infiltrasi pleura Sesak napas
Peradangan
pada bronkus
Terjadi gesekan inspirasi
dan eksperasi
Pembuluh
Malaise Batuk darah pecah
Distres pernapasan

Anoreksia Skret kental

Batuk darah
BB Menurun
Resiko kerusakan
pertukaran gas

Nutrisi kurang Bersihan jalan napas


dari kebutuhan tidak efektif
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) Pemeriksaan Laboratorium
1) Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada
tahap aktif penyakit
2) Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk
usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
3) Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area
indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah
injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan
adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan
penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik
sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi
disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
4) Anemia bila penyakit berjalan menahun
5) Leukosit ringan dengan predominasi limfosit
6) LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai
tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan.
7) GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa
kerusakan paru.
8) Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB;
adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
9) Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan
beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak
normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis
luas.
b) Pemeriksaan RadiologisFoto thorak : Dapat menunjukkan infiltrasi
lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh
primer, atau effusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB
dapat termasuk rongga, area fibrosa.
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian primer
a. Airway: penilaian akan kepatenan jalan napas, meliputi pemeriksaan
mengenai adanya obstruksi jalan napas, adanya benda asing. Pada
klien yang dapat berbicara dapat dianggap jalan napas bersih.
Dilakukan pula pengkajian adanya suara napas tambahan seperti
snoring.
b. Breathing: frekuensi napas, apakah ada penggunaan otot bantu
pernapasan, retraksi dinding dada, adanya sesak napas. Palpasi
pengembangan paru, auskultasi suara napas, kaji adanya suara
napas tambahan seperti ronchi, wheezing, dan kaji adanya trauma
pada dada.
c. Circulation: dilakukan pengkajian tentang volume darah dan cardiac
output serta adanya perdarahan. Pengkajian juga meliputi status
hemodinamik, warna kulit, nadi.
d. Disability: nilai tingkat kesadaran, serta ukuran dan reaksi pupil.
2. Pengkajian sekunder
a. Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Kelainan atau kulit kepala dan bola mata, telinga bagian luar dan
membrana timpani, cedera jaringan lunak periorbital
2) Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak icteric, pupil isokor,
gerakan bola mata mampu mengikuti perintah.
3) Mulut : Kesulitan menelan, kebersihan penumpukan ludah dan
lendir, bibir tampak kering, terdapat afasia.
4) Leher
Adanya luka tembus leher, vena leher yang mengembang
5) Neurologis
Penilaian fungsi otak dengan GCS
6) Dada
a) Inspeksi: Inspirasi dan ekspirasi pernafasan, frekuensi,
irama, gerakan cuping hidung, terdengar suara nafas
tambahan bentuk dada, batuk
b) Palpasi: Pergerakan asimetris kanan dan kiri, taktil fremitus
raba sama antara kanan dan kiri dinding dada
c) Perkusi: Adanya suara-suara sonor pada kedua paru, suara
redup pada batas paru dan hepar.
d) Auskultasi : Terdengar adanya suara vesikuler di kedua
lapisan paru, suara ronchi dan weezing.
7) Jantung
a) Inspeksi: pembesaran
b) Perkusi: ukuran
c) Palpasi: pembesaran, nyeri tekan
d) Auskultasi : bunyi jantung pertama akibat penutupan katub
mitralis dan trikuspidalis (“lub”), bunyi jantung kedua akibat
penutupan katup aorta dan pulmonalis (“dub”)
8) Abdomen
a) Inspeksi: bentuk, kesimetrisan,gerak perut
b) Palpasi: bentuk, ukuran, nyeri tekan
c) Perkusi: gas, cairan, massa, normal timpani
d) Auskultasi : peristaltik usus
9) Pelvis dan ekstremitas
Kaji adanya fraktur, denyut nadi perifer pada daerah trauma,
memar dan cedera yang lain

b. Diagnosa keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret
kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema
trakeal/faringeal.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya
keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran
alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
3. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan: Kelelahan, Batuk yang sering, adanya
produksi sputum, Dispnea, Anoreksia, Penurunan kemampuan
finansial.
c. Intervensi keperawatan

Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan  Kaji fungsi pernapasan
tidak efektif keperawatan, Pola nafas pasien contoh : Bunyi nafas,
berhubungan dengan efektif dengan kecepatan, irama,  kedalaman
sekret kental atau KH: dan penggunaan otot
sekret darah,  Mendemonstrasikan batuk efektif aksesori
kelemahan, upaya dan suara nafas yang bersih, tidak  Catat kemampuan untuk
batuk buruk, edema ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan mukosa / batuk
trakeal/faringeal. mengeluarkan sputum, mampu efektif : catat karakter, jumlah
bernafas dengan mudah, tidak ada sputum, adanya emoptisis
pursed lips)  Berikan pasien posisi semi
 Menunjukkan jalan nafas yang atau fowler tinggi. Bantu
paten (klien tidak merasa tercekik, pasien untuk batuk dan
irama nafas, frekuensi pernafasan latihan napas dalam
dalam rentang normal, tidak ada  Bersihkan sekret dari mulut
suara nafas abnormal) dan trakea : penghisapan
 Tanda Tanda vital dalam rentang sesuai keperluan
normal (tekanan darah, nadi,  Kolaborasi dengan tim medis
pernafasan) dalam pemberian obat-obatan
2. Gangguan Setelah dilakukan tindakan  Monitor TTV
pertukaran gas keperawatan, Pertukaran gas  Kaji adanya gangguan bunyi
berhubungan kembali normal atau pola nafas
dengan KH:  Tingkatkan tirah baring/batasi
berkurangnya  Permukaan paru kembali aktivitas
keefektifan efektif  Kolaborasi : berikan
permukaan paru,  Penurunan dispneu tambahan oksigen yang
atelektasis,  BB meningkat sesuai
kerusakan membran
alveolar kapiler,
sekret yang kental,
edema bronchial.

3. Perubahan Setelah dilakukan tindakan  Kaji status nutrisi


kebutuhan nutrisi, keperawatan, Kebutuhan nutrisi  Pastikan pola makanan yang
kurang dari kembali terpenuhi biasa klien sukai
kebutuhan KH:  Dorong klien untuk makan
berhubungan  BB meningkat sedikit tapi sering
dengan: Kelelahan,  Kolaborasi : ahli diit untuk
Batuk yang sering, komposisi diit
adanya produksi
sputum, Dispnea,
Anoreksia,
Penurunan
kemampuan
finansial.

DAFTAR PUSTAKA

Huda Amin. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA NIC-NOC Jilid 1. Yogyakarta : Media Action
Publishing.
Huda Amin. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC-NOC Jilid 2. Yogyakarta : Media Action
Publishing

Izzati, A., Basyar, M., & Nazar, J. 2015. Faktor Resiko Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Tuberculosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas
Andalas tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas.

Herdman, T. Heather. 2012. “Diagnosis Keperawatan Definisi dan


Klasifikasi 2012 – 2014”. Jakarta: EGC