Anda di halaman 1dari 17

PENERAPAN ALIRAN NATIVISME

DALAM PEMBELAJARAN
07/11/2013 AFID BURHANUDDIN 1 KOMENTAR

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki


nuansa yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga
banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai
penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan  yang diperlukan.
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan
dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini, maupun di masa
depan pendidikan itu selalu mangalami perkembangan seiring dengan
perkemangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-
pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan itu disebut aliran-aliran
pendidikan. 
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena
setia kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda
keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang
tuanya. Dalam makalah ini akan membahas aliran pendidikan nativisme.

1. A.    Penerapan Aliran Nativisme Dalam Pembelajaran


1. Pengertian Nativisme
Nativisme adalah pandangan bahwa keterampilan-keterampilan atau
kemampuan-kemampuan tertentu bersifat alamiah atau sudah tertanam
dalam otak sejak lahir. Pandangan ini berlawanan dengan empirisme,
teori tabula rasa, yang menyatakan bahwa otak hanya mempunyai sedikit
kemampuan bawaan dan hampir segala sesuatu dipelajari melalui
interaksi dengan lingkungan. Aliran ini bertolak dari Leibnitzian Tradition,
atau kemampuan dari diri anak. Sehingga faktor lingkungan tidak
berpengaruh dalam faktor pengembangan pendidikan anak. Hasil
pendidikan tergantung pembawaan, Schopenhouer (filsuf Jerman 1788-
1860) berpendapat bahwa bayi lahir dalam pembawaan baik dan buruk,
maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri. Nativisme
berasal dari “nati” artinya terlahir, dan bagi nativisme lingkungan sekitar
tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam
mempengaruhi perkembangan anak. Konvergensi menjelaskan dua
faktor:

a)      Pembawaan ( hereditas ).

b)      Lingkungan dalam perkembangan anak.

Maka banyak didapati dalam aliran Nativisme itu anak mirip dengan orang
tuanya baik secara fisik dan non fisik (sifat). Di dalam diri individu
terdapat “inti” (G. Leibnitz: Monad) yang mendorong manusia yaitu
kemauan aktif sendiri, dan manusia adalah makhluk yang mempunyai
kemauan bebas. Dalam pandangan humanistic psycology dari Carl R.
Rogers ataupun phenomenology atau humanistik lainnya. Apa yang
dialami atau pengalaman pelajar ditentukan “internal frame of
reference” yang dimilikinya. Terdapat beberapa variasi pendekatan yaitu:

a)      Pendekatan aktualisasi atau non direktif (client centered) dari Carl


R. Rogers dan Abraham Maslow.

b)      Pendekatan “Personal Constructs” dari George A. Kelly yang


menekankan memahami hubungan “transaksional” manusia dan
lingkungan awalnya memahami perilakunya.

c)      Pendekatan “Gestalt” baik yang klasik (Max Wertheimer dan


Wolgang Kphler) maupun pengembangan selanjutnya (K. Lewin dan F.
Perls)

d)     Pendekatan “Search for Meaning” dengan aplikasi “Logotherapy”


dari Viktor Franki yang mengungkapkan pentingnya semangat (human
spirit) sebagai tantangan masalah.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas tetap menekankan pentingnya


“inti” privasi atau jati diri manusia.

1. Tokoh Aliran Nativisme


a)      Immanuel Kant

Immanuel Kant (lahir di Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April


1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, 12 Februari 1804 pada
umur 79 tahun). Kota itu sekarang bernama Kaliningrat di Rusia. Dia
berasal dari keluarga pengrajin yang sederhana. Ketika Kant masih muda,
usaha ayahnya bangkrut. Kehidupan meraka harus didukung oleh
keluarga besar orang tuanya. Kant penuh dengan kerendahan hati dan
sangat disiplin.

Kant kemudian menjadi guru besar untuk logika dan metafisika di


Universitas Konisberg. Dia secara rutin menyajikan kuliah tentang
geografi fisik. Hal ini dilakukannya sepanjang tahun sampai tahun 1796.
Dalam pengantar kuliahnya, dia selalu menegaskan tempat geografi
dalam dunia ilmiah. Dia memberikan landasan falsafi bagi geografi
sebagai pengetahuan ilmiah.

Minat kant dalam geografi fisik tidak dirangsang oleh pengalamannya


menghadapi alam di berbagai belahan dunia tetapi muncul dari
penyelidikan filsofis atas pengetahuan empiris. Bagi Kant, geografi adalah
ilmu empiris yang ingin menunjukkan alam sebagai suatu sistem.
Geografi, menurutnya merupakan ilmu tentang fenomena fisik dan
budaya yang tersusun dalam ruang bumi.
b)      Arthur Schopenhauer

Arthur Schopenhauer (22 February 1788 – 21 September 1860) was a


German philosopher best known for his book, The World as Will and
Representation (German: Die Welt als Wille und Vorstellung), in which he
claimed that our world is driven by a continually dissatisfied will,
continually seeking satisfaction. Influenced by Eastern thought, he
maintained that the “truth was recognized by the sages of India”;
[3]
 consequently, his solutions to suffering were similar to those of Vedantic
and Buddhist thinkers (i.e. asceticism); his faith in “transcendental
ideality”[4] led him to accept atheism[5][6][7][8] and learn from Christian
philosophy.[9][10][11]
At age 25, he published his doctoral dissertation, On the Fourfold Root of
the Principle of Sufficient Reason, which examined the four distinct
aspects[12] of experience in the phenomenal world; consequently, he has
been influential in the history of phenomenology. He has influenced a long
list of thinkers, including Friedrich Nietzsche,[13] Richard Wagner, Otto
Weininger, Ludwig Wittgenstein, Erwin Schrödinger, Albert Einstein,
[14]
 Sigmund Freud, Otto Rank, Carl Jung, Joseph Campbell, Leo Tolstoy,
Thomas Mann, Jorge Luis Borges and Mustafa Mahmud.
1. B.     Pengaruh Dan Konsep Teori Nativisme Dalan Praktek
Pendidikan
Telah cukup banyak dibicarakan hal-ikhwal tentang pendidikan, baik
kaitannya dengan hakikat kehidupan manusi, maupun kaitannya dengan
kebudayaan sebagai produk dari proses pendidikan. Pada saat manusia
mengalami tahap perkembangan, naik secara fisik maupun rohaninya
dalam proses pendidikan, muncullah pertanyaan mendasar tentang faktor
yang paling berpengaruh terhaap perkembangan itu. Apakah faktor bakat
dan kemampuan diri manusia itu sendiri, atau faktor dari luar diri
manusia, ataukah kedua-dunya itu secara bersama-sama. Dari faktor
pertamalah timbul teori yang disebut sebagai teori nativisme. Nativisme
berasal dari kata “nativus” artinya pembawaan.

Teori nativisme dikenal juga dengan teori naturalisme atau teori


pesimisme. Teori ini berpendapat bahwa manusia itu mengalami
pertumbuhkembangan bukan karena faktor pendidikan dan intervensi lain
diluar manusia itu, melainkan ditentukan oleh bakat dan pembawaannya.
Teori ini berpendapat bahwa upaya pendidikan itu tidak ada gunanya san
tidak ada hasilnya. Bahkan menurut teori ini pendidikan it upaya itu justru
akan merusak perkembangan anak. Pertumbuhkembangan anak tidak
perlu diintervensi dengan upaya pendidikan, agar pertumbuhkembangan
anak terjadi secara wajar, alamiah, sesuai dengan kodratnya.

Telah dibahas pada sebelumnya bahwa teori nativisme berpendapat


tentang perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawan sejak lahir,
serta faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan
perkembangan anak. Menganalisis dari pendapat tersebut, anak yang
dilahirkan dengan bawaan yang baik akan mempunyai bakat yang baik
juga begitu juga sebaliknya. Faktor bawaan sangat dominan dalam
menentukan keberhasilan belajar atau pendidikan,. Faktor-faktor yang
lainnya seperti lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan hal itu juga
tidak bisa diubah oleh kekuatan pendidikan. Pendidikan yang
diselenggarakan merupakan suatu usaha yang tidak berdaya menurut
teori tersebut, karena anak akan menetukan keberhasilan dengan
sendirinya bukan melalui sebuah usaha pendidikan. Walaupun dalam
pendidikan tersebut diterapkan dengan keras maupun secara lembut,
anak akan tetap kembali kesifat atau bakat dari bawaannya. Begitu juga
dengan faktor lingkungan, sebab lingkungan itu tidak akan berdaya
mempengaruhi perkembangan anak.

Dalam teori nativisme telah ditegaskan bahwa sifat-sifat yang dibawa dari
lahir akan menentukan keadaannya. Hal ini dapat diklaim bahwa unsur
yang paling mempengaruhi perkembangan anak adalah unsure genetic
individu yang diturunkan dari orang tuanya. Dalam perkembangannya
tersebut anak akan berkembang dalam cara yang terpola sebagai contoh
anak akan tumbuh cepat pada masa bayi, berkurang pada masa anak,
kemudian berkembang fisiknya dengan maksimum pada masa remaja
dan seterusnya.

Menurut teori nativisme ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi


perkembangan manusia yaitu :

a)       Faktor genetik

Orang tua sangat berperan penting dalam faktor tersebut dengan


bertemunya atau menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan
keturunan yang akan memiliki bakat seperti orang tuanya. Banyak contoh
yang kita jumpai seperti orang tunya seorang artis dan anaknya juga
memiliki bakat seperti orang tuanya sebagai artis.

b)       Faktor kemampuan anak

Dalam faktor tersebut anak dituntut untuk menemukan bakat yang


dimilikinya, dengan menemukannya itu anak dapat mengembangkan
bakatnya tersebut serta lebih menggali kemampuannya. Jika anak tidak
dituntut untuk menemukannya bakatnya, maka anak tersebut akan sulit
untuk mengembangkan bakatnya dan bahkan sulit untuk mengetahui apa
sebenarnya bakat yang dimilikinya.

c)       Faktor pertumbuhan anak


Faktor tersebut tidak jauh berbeda dengan faktor kemampuan anak,
bedanya yaitu disetiap pertumbuhan dan perkembangannya anak selalu
didorong untuk mengetahui bakat dan minatnya. Dengan begitu anak
akan bersikap responsiv atau bersikap positif terhadap kemampuannya.

Dari ketiga faktor tersebut berpengaruh dalam perkembangan serta


kematangan pendidikan anak. Dengan faktor ini juga akan menimbulkan
suatu pendapat bahwa dapat mencipatakan masyarakat yang baik.

Dengan ketiga faktor tersebut, memunculkan beberapa tujuan dalam teori


nativisme, dimana dengan  faktor-faktor yang telah disampaikan dapat
menjadikan seseorang yang mantap dan mempunyai kematangan yang
bagus.

Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :

a)       Dapat memunculkan bakat yang dimiliki.

Dengan faktor yang kedua tadi, diharapkan setelah menemukan bakat


yang dimiliki, dapat dikembangkan dan akan menjadikan suatu kemajuan
yang besar baginya.

b)      . Menjadikan diri yang berkompetensi.

Hal ini berkaitan dengan faktor ketiga, dengan begitu dapat lebih kreatif
dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya sehingga mempunyai
potensi dan bisa berkompetensi dengan orang lain.

c)       Mendorong manusia dalam menetukan pilihan.

Berkaitan dengan faktor ketiga juga, diharpkan manusia bersikap


bijaksana terhadap apa yang akan dipilih serta mempunyai suatu
komitmen dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipilihnya.

d)      Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri


seseorang.

Artinya dalam mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki,


diharapkan terus selalu dikembangkan dengan istilah lain terus berperan
aktif dalam mengembangkannya, jangan sampai potensi yang dimiliki
tidak dikembangkan secara aktif.

e)       Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.


Banyak orang bisa memaksimalkan bakatnya, karena dari dirinya sudah
mengetahui bakat-bakat yang ada pada dirinya dan dikembangkan
dengan maksimal.

Melihat dari tujuan-tujuan itu memang bersifat positif. Tetapi dalam


penerapan di praktek pendidikan, teori tersebut kurang mengenai atau
kurang tepat tanpa adanya pengaruh dari luar seperti pendidikan. Dalam
praktek pendidikan suatu kematangan atau keberhasilan tidak hanya dari
bawaan sejak lahir. Akan tetapi banyak faktor-faktor yang dapat
mempengaruhinya seperti lingkungan. Dapat diambil contoh lagi yaitu
orang tua yang tidak mampu dan kurang cerdas melahirkan anak yang
cerdas daripada orang tuanya. Hal tersebut tidak hanya terpaut masalah
gen, tetapi ada dorongan-dorongan dari luar yang mempengaruhi anak
tersebut.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sekarang ini yang ada dalam
praktek pendididkan tidak lagi memperhatikan apakah manusia memiliki
bakat dari lahir atau tidak, melainkan kemauan atau usaha yang
dilakukan oleh manusia tersebut untuk kemajuan yang besar bagi dirinya.
Memang secara teoritis pendidikan tidaklah berpengaruh atau tidak
berdaya dalam membentuk atau mengubah sifat dan bakat yang dibawa
sejak lahir. Kemudian potensi kodrat menjadi cirri khas pribadi anak dan
bukan dari hasil pendidikan. Terlihat jelas bahwa anatara teori nativisme
dan pendidikan tidak mempunyai hubungan serta tidak saling terkait
antara yang satu dengan lainnya. Oleh sebab itulah aliran atau teori
nativisme ini dianggap aliran pesimistis, karena menerima kepribadian
anak sebagaimana adanya tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai
pendidikan yang dapat ditanamkan intuk merubah kepribadiannya.

1. C.           Pandangan Pendidikan Terhadap Teori Nativisme


Sebelumnya telah disinggung mengenai teori nativisme tersebut,
pendidikan tidak bisa mengubah atau mempengaruhi perkembangan
anak dan dengan adanya pendidikan akan merusak perkembangan anak
tersebut. Melihat hal tersebut muncul pandangan dengan demikian dalam
praktek atau aplikasi dari teori tersebut tidaklah memerlukan suatu
pendidikan baik itu pendidikan yang bersifat keras maupun lembut, dan
walaupun diberikan pendidikan maka  akan menjadikannya suatu hal
yang sia-sia.

Pendidikan sangatlah diperlukan oleh setiap manusia, karena tanpa


pendidikan tidak akan bisa berkembang walaupun dari bawaan sejak lahir
sudah memiliki potensi.

Fungsi pendidikan yaitu memberikan dorongan  atau menggandeng


manusia untuk menjadi lebih naik serta dengan adanya pendidikan dapat
lebih lagi memaksimalkan, mengembangkan segala potensi, bakat dan
kemampuan yang dimiliki. Selain dari itu juga pendidikan tidak hanya
harus kepada akademik saja melainkan harus memperhatikan kegiatan-
kegiatan yang bisa juga untuk menjadi wadah dalam mengembangkan
dan menyalurkan bakat anak diluar akademik.

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa isi dari teori nativime adalah perkembangan
individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan baik
itu didalamnya suatu pendidikan kurang berpengaruh terhadap
perkembangan dan pendidikan anak. Kemudian pendidikan dianggap
suatu hal yang sia-sia karena pendidikan tidak akan dapat merubah
kodrat bawaan tersebut.

Selain dari iru terdapat beberapa faktor dan tujuan yang dicapai dari teori
nativisme tersebut dan saling terkait sehingga menghasilkan masyarakat
yang baik. Selain itu pendidikan tidak diperlukan dalam pembentukan
kepribadian seseorang, sehingga antara pendidikan dan teori tersebut
tidak berhubungan.

PENERAPAN ALIRAN EMPIRISME


DALAM PENDIDIKAN
07/11/2013 AFID BURHANUDDIN 1 KOMENTAR

Menurut aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih,
artinya tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya
tergantung pada pendidikan dan lingkungan. Aliran empirisme dipandang
berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang
diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa
anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena mempunyai
bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung
keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan berasal dari dalam
diri yang berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan
lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang
telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih
tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai
makhluk pasif dan dapat diubah, umpamanya melalui modifikasi tingkah
laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology Skinner
ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan perilaku
manusia tampak keluar sebagai sasaran kajianya, dengan tetap
menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-
mata.
 

DEFINISI ALIRAN EMPIRISME

Secara epistimologi, istilah empirisme berasal dari kata Yunani yaitu


emperia yang artinya pengalaman. Berbeda dengan rasionalisme yang
memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber pengetahuan, maka
empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik
pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah. Thomas Hobbes
menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala
pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan
(kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan
cara berlainan. Dunia dan materi adalah objek pengenalan yang
merupakan system materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung
tanpa hentinya atas dasar hukum dan mekanisme. Prinsip dan metode
empirisme diterapkan pertama kali oleh Jhon Locke, langkah utamanya
adalah teori empirisme seperti yang telah diajarkan Bacon dan Hobbes
dengan ajaran rasionalisme Descartes. Menurut dia, segala pengetahuan
dating dari pengalaman dan tidak lebih dari itu.

Sementara menurut David Hume bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari
pengalaman, yang ia sebut dengan istilah “persepsi”. Menurut Hume
persepsi terdiri dari dua macam, yaitu: kesan-kesan dan gagasan. Kesan
adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya
kuat dan hidup. Sedangkan gagasan adalah persepsi yang berisi
gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan ini diartikan dengan
cerminan dari kesan.

 
SEJARAH ALIRAN EMPIRISME

Aliran empirisme ini dipelopori oleh John Locke, filosof Inggris yang hidup
pada tahun 1632-1704. Gagasan pendidikan Locke dimuat dalam bukunya
“Essay Concerning Human Understanding” . Aliran empirisme dibangun
oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun
mengalami sistematisi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David
Hume.

TOKOH DAN JENIS  ALIRAN EMPIRISME

Tokoh-tokoh penting dalam aliran empirisme :

1. Jhon Locke
Lahir di kota Wringtone Kota Somerset Inggris tahun 1632 (meninggal
tahun 1704)

1. David Hume
Lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711. Ia menempuh pendidikan di kota
kelahirannya.

1. Francis Bacon
Francis Bacon (1561-1626), lahir di London di tengah-tengah keluarga
bangsawan Sir Nicholas Bacon.

Beberapa jenis aliran empirisme :

1. Empirisme Kritis
Disebut juga Machisme. Sebuah aliran filsafat subyaktif-idealistik. Aliran
ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin
“membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi,
keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori.

1. Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan
filosofis dan ilmiah.

1. Empirisme Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak
sampai pada pengalaman inderawi.

PENERAPAN ALIRAN EMPIRISME


Empiris memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah
barang kali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan
menurut penganut empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap
sebagai pengadilan yang tertinggi. Berbeda dengan rasionalisme dengan
titik tumpu pengetahuan berdasarkan rasio yang memang menempel
secara alami, maka kita akan menemukan perbedaan tajam dengan aliran
yang satu ini, yaitu empirisme. Aliran ini menegaskan bahwa
pengetahuan manusia berdasarkan pengalaman. Atau meminjam kata-
kata John Locke, salah satu dedengkotnya … “Manusia itu ibarat tabula
rasa yang nantinya akan diwarnai oleh keadaan eksternalnya…”

Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu :

1. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi


yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
2. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan,
dan bukan akal atau rasio.
3. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data
inderawi.
4. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau disimpulkan
secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran
defisional logika dan matematika)
5. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang
realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan
panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan
yang diperoleh dari pengalaman.
6. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa
pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
 

PENUTUP

Penalatan yang dilakukan dengan mengkaji teori-teori dalam memahami


fakta hanya bias sampai pada perumusan hipotesis. Penalaran hanya
member jawaban sementara, bukan kesimpulan akhir. Oleh sebab itu agar
sampai kepada kesimpulan akhir, Empirisme diperlukan untuk menguji
berbagai kemungkinan jawaban dalam hipotesis. Untuk menguji jawaban-
jawaban yang dikumpulkan, disusun dan dianalisis.

Namun demikian peranan empirisme bukan saja hanya berkaitan dengan


tugas pencarian bukti-bukti atau yang lebih dikenal dengan pengumpulan
data.

KESIMPULAN
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan
pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan
akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti
coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah
lawan dari rasionallisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan
tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal,
melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu
mata, lidah, telinga, kulit dan hidung
PENERAPAN ALIRAN KONVERGENSI
DALAM PEMBELAJARAN
08/11/2013 AFID BURHANUDDIN 1 KOMENTAR

Perkembangan  zaman  di  dunia  pendidikan  yang  terus  berubah  secara


signifikan banyak merubah pola pikir  pendidik dan peserta didik, dari pola pikir 
awam dan kaku menjadi lebih modern dan kritis. Hal tersebut sangat berpengaruh
dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan merupakan hal yang paling
penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik, karena sukses tidaknya pendidikan
tidak lepas dari faktor pembawaan dan lingkungan. Masalah tersebut  merupakan
hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian
yang tidak sedikit.
Dalam hal ini akan dipaparkan penjelasan dari aliran konvergensi serta
penerapannya dalam pembelajaran.

1. A.  Konsep Dasar dan Definisi Aliran Konvergensi


Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja
sama untuk mencapai suatu hasil. William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-
kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib
manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah
terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat
menolong tetapi bukan yang menyebabkan perkembangan itu Karena datangnya
dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai
contoh; anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-
cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, dia meniru suara-suara dari ibunya dan
orang disekelilingnya. Ia mendengar  dan meniru kata-kata yang diucapkan
kepadanya. Bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan
dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara
dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa
bercakap-cakap.

1. B.       Sejarah Perkembangan Aliran Konvergensi


Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang
tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian, terdapat
variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh
kembang itu.  Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tercermin  antara
lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami 
perilaku manusia,  seperti strategi disposisional/konstitusional,  startegi
phenomenologis/humanistic, startegi behavior, strategi psikodinamik/psikoanalitik,
dan sebagainya.

Demikian halnya dalam belajar mengajar;  variasi pendapat itu telah  menyebabkan
munculnya berbagai  teori  belajar mengajar dan atau teori/model mengajar. 
Sebagai contoh, dikenal  berbagai  pendapat tentang model-model  mengajar
seperti  rumpun model behavior(umpan model belajar tuntas, model belajar kontrol
diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif),  model belajar
pemrosesan informasi (model belajar inkuiri, model persentase kerangka dasar, 
atau advance organizer,  dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain. Di sisi
lain, variasi pendapat juga melahirkan berbagai gagasan tentang belajar mengajar,
seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory, teknik penilaian pencapaian
siswa  dengan tugas objektif atau tes esai, perumusan tujuan  pengajaran yang
sangat behavior, dan penekanan pada peran teknologi pengajaran.

1. C.      Analisis Penerapan Aliran Konvrgensi Dalam


Pembelajaran
Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan
sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.

Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan


dengan proses perkembangan diatas, penyusun pandangan bahwa faktor yang
memengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya
terdiri atas dua macam:

1)   Faktor Internal,  yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi
pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya
sendiri.

2)   Faktor Eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang
meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa
tersebut dengan lingkungannya.

Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik
faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang
sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan
baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu.
Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak
yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan
untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia
berbahasa dengan kata-kata, adalah hasil konvergensi.

Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak


didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya
potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan
lingkungan. Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai
pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun
demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor mana yang paling penting dalam
menentukan tumbuh-kembang itu. Dari sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan
berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai
fasilitator atau informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau
tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada
peran teknologi pengajaran The Teaching Machine (belajar berprogram), dan lain
sebagainya.

1. 1.        Karakteristik Aliran Pendidikan Konvergensi


Paham konvergensi ini berpendapat, bahwa didalam perkembangan individu itu baik
dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat
sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat
yang sudah tersedia  perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat
berkembang.

Teori William Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu
titik).  Jadi menurut teori konvergensi :

1)      Pendidikan mungkin dilaksanakan.

2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada


anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah 
berkembangnya potensi yang kurang baik.

3)      Yang membatasi hasil pendidikan  adalah pembawaan dan lingkungan.

1. 2.        Pengaruh Aliran Pendidikan Konvergensi Terhadap


Pendidikan di Indonesia
 

1)      Masa Revolusi Kemerdekaan

Faham konvergensi bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan formal di
Indonesia. Pengaruh faham ini sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskan sistem
pendidikan nasional di Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar
Dewantara pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan
cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar
Dewantara juga mengatakan, “Pendidikan itu hanya suatu tuntunan di dalam hidup
tumbuhnya anak-anak kita”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan
bahwa selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuh
kembangnya karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya
peran yang cukup penting dari faktor dasar/pembawaan, yang disebutnya sebagai
kekuasaan kodrati.

2)      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)


Walaupun belum begitu meluas penerapannya, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh para pendidik di Indonesia pada akhir
tahun 1970. Secara harfiah, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dapat diartikan
sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara
fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa
perpaduan antara matra (domain) kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode ini
dapat dikatakan sebagai ‘pendidikan yang berpusat pada anak’, karena dalam
proses pembelajaran yang berperan sebagai pengolah bahan ajar adalah siswa
sendiri, sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah proses
belajar-mengajar.

Dalam bukunya yang berjudul “Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan


Pengajaran” Cece Wijaya et.al. menyatakan bahwa Belajar mengajar dapat
dikatakan bermakna dan berkadar CBSA bila terdapat ciri-ciri sebagai berikut :

1. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun dan membuat


perncanaan proses belajar-mengajar.
2. Adanya keterlibatan intelektual emosional siswa, baik melalui
kegiatan mengalami, manganalisis, berbuat, maupun pembentukan
sikap.
3. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan
situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar-mengajar.
4. Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar
siswa.
5. Menggunakan multi metode dan multi media.
 

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam sistem (CBSA) pengakuan
dan perhatian terhadap potensi dasar/pembawaan anak sangat penting. Disamping
itu, perhatian juga diarahkan pada pengkondisian lingkungan tempat
berlangsungnya proses belajar-mengajar. Sehingga proses pembelajaran dan
pendidikan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih bermakna. Dengan kata lain
melalui sistem CBSA belajar itu dipandang sebagai proses interaksi antara individu
dengan lingkungannya. Dengan demikian, penerapan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) sebenarnya secara prinsip merupakan implementasi dari paham
konvergensi dalam pendidikan.

3)      Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan


tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan
belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum sekolah.

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan


pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa
dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah serta menggambarkan kemajuan siswa
yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:

1. Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik
melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna.
2. Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan
kebutuhannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Menekankan pada pencapaian kompetensi siswa baik secara


individual maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan
keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan
metode yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar
lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah
berpusatnya pendidikan pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan
komperehensif. Ini merupakan upaya memandirikan siswa untuk belajar,
bekerjasama, dan menilai diri sendiri agar siswa mampu membangun pemahaman
dan pengetahuannya.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pergeseran penekanan dalam kurikulum


dari isi (APA yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berpikir, belajar,
bersikap dan melakukan). Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat
mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauh mana efektivitas belajar telah
dicapai. Tetapi pada pelaksanaannya, secara prinsip metode yang diterapkan dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi relatif tidak terlalu berbeda dengan metode CBSA,
dimana penekanan proses belajarnya tetap berpusat pada siswa. Dengan demikian
melalui metode KBK pun proses pendidikan di Indonesia tetap mengacu pada
pandangan tentang pentingnya faktor dasar/pembawaan dan peranan lingkungan
dalam pembentukkan pribadi sebagai produk pendidikan. Dengan kata lain jiwa dari
KBK sesungguhnya inti dari faham konvergensi.

PENUTUP

Aliran Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses


perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama
mempunyai peranan yang sangat penting.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang
tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian terdapat
variasi mengenai factor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan
tumbuhh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tercermin
antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk
memahami perilaku manusia, seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi
phenomenologis/humanistic, startegi behavioral.