Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan proses yang melibatkan interaksi antara


pendidik dan peserta didik pada lingkungan belajar. Biologi merupakan salah
satu bagian dari ilmu sains yang diperoleh dari langkah-langkah penelitian se-
cara sistematis. Pembelajaran biologi bertujuan untuk memupuk sikap ilmiah
yang jujur terbuka, pemikiran kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
(Permendiknas., 2006). Tujuan inti dari pembelajaran kurikulum 2013 adalah
untuk mempersiapkan manusia yang memiliki kemampuan hidup sebagai
pribadi yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta berkontri-
busi dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara serta peradaban
dunia (Yusnira dkk., 2018). Pembelajaran kurikulum 2013 ini merupakan ja-
waban untuk meghadapi tantangan abad 21, dimana proses pembelajaran ber-
tujuan untuk meningkatkan kemampuan intelegensi siswa sehingga siswa
mampu menyelesaikan permasalahan yang ada dilingkungan sekitar dan dapat
menghasilkan sumber daya manusia yang unggul yang mampu bersaing dalam
dunia kerja. Tuntutan pendidikan abad 21 mengarahkan proses pembelajaran
yang berorientasi pada pendekatan konstruktivis, dimana terjadi pergeseran
paradigma belajar ke arah student centered learning (Perdani dkk., 2015).
Siswa dituntut agar dapat mengembangkan beberapa keterampilan hidup abad
21 melalui proses pembelajaran di sekolah antara lain keterampilan berpikir
kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, literasi informasi serta penguasaan
teknologi (Griffin dkk., 2012).

Sunarti & Selly (2014) menyatakan bahwa “Kurikulum 2013 me-


madukan tiga konsep yang menyeimbangkan sikap, keterampilan dan pe-
ngetahuan” tiga konsep tersebut menuntut keseimbangan softskill dan hard-
skill yang dimulai dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar
Proses, dan Standar Penilaian. Keterampilan abad 21 yang menjadi kompeten-
si penting dan mendapatkan perhatian besar untuk dapat dikuasai oleh siswa
dalam mempersiapkan diri pada jenjang pendidikan tinggi dan dunia kerja
adalah keterampilan berpikir kritis (The Partnership for 21st Century Skills,
2009). Keterampilan berpikir kritis merupakan proses pengaturan diri seorang
individu dalam merumuskan dan memutuskan suatu keputusan yang didasar-
kan hasil interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi serta pemaparan suatu per-
masalahan berdasarkan bukti, metode dan pertimbangan kontekstual (Zubaid-
ah dkk., 2015). Hashemi dkk., (2010) berpikir kritis merupakan keterampilan
berpikir tingkat tinggi yang berperan dalam perkembangan moral, sosial,
mental, kognitif dan sains. Pendidikan tinggi dan dunia kerja menuntut siswa
untuk dapat menguasai keterampilan berpikir kritis sebagai modal intelektual
dan fundamental kematangan diri individu (Zubaidah dkk., 2015).

Biologi merupakan salah satu ilmu sains yang berkontribusi besar


dalam perkembangan teknologi. Hal ini menjadikan biologi sebagai ilmu
pengetahuan alam yang penting dikuasai oleh siswa agar menjadi individu
yang produktif serta memiliki kualitas hidup yang baik (Sudarisman, 2015).
Prinsip pokok pembelajaran biologi tidak hanya mementingkan penguasaan
konsep namun siswa harus mampu mengembangkan keterampilan berpikir
kritis dan pemecahan masalah melalui pengembangan keterampilan berpikir
analitis, induktif dan deduktif terhadap fenomena alam disekitar termasuk
proses yang terjadi didalam tubuh makhluk hidup melalui penerapan metode
ilmiah. Pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran bi-
ologi akan berdampak pada kehidupan individu setelah meninggalkan jenjang
pendidikan formal, dimana keterampilan berpikir kritis dapat membantu me-
mecahkan masalah yang akan dihadapi siswa dimasyarakat (Zubaidah, 2010).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpikir kritis


siswa belum dikembangkan dengan baik dalam pembelajaran yang dilakukan
di kelas. Hasil penelitian Prayogi & Asy’ari (2013) menunjukkan bahwa ke-
terampilan berpikir kritis lulusan SMA masih tergolong rendah. Hasil peneliti-
an Chartrand (2010) juga menunjukkan bahwa sebanyak 70% siswa lulusan
SMA memiliki keterampilan berpikir kritis yang rendah. Rendahnya ke-
terampilan berpikir kritis ini dapat disebabkan oleh sistem pendidikan yang
masih berfokus pada penyampaian informasi daripada mengembangkan ke-
terampilan berpikir kritis (Zubaidah, 2010).

Hasil analisis kebutuhan keterampilan berpikir kritis yang di-


lakukan pada 35 siswa kelas XI IPA 3 SMAN 7 Malang pada tanggal 6
Desember 2019 dengan menggunakan tes esai keterampilan berpikir kritis
menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki keterampilan berpikir
kritis yang rendah, dengan rincian 1 siswa (2,8%) berada pada kategori tinggi,
8 siswa (22,8%) berada pada kategori sedang, 21 siswa (60%) berada pada
kategori rendah dan 5 siswa (14,2%) berada pada kategori sangat rendah. Data
hasil tes esai juga menunjukkan bahwa indikator keterampilan berpikir kritis
dalam memberikan argumen pada 35 siswa mendapatkan nilai sebesar 45
(kategori rendah), indikator mengamati dan mengevaluasi laporan observasi
mendapatkan nilai 47,8 (Kategori Rendah), melakukan dedukasi sebesar 38,5
(Sangat rendah), melakukan induksi 50 (Rendah) melakukan evaluasi sebesar
37,1 (Sangat rendah), dan melakukan tindakan terkait pemecahan masalah
sebesar 71,42 (Tinggi).

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 19 November 2019 di


kelas XI IPA 3 menunjukkan bahwa metode pembelajaran masih berpusat
pada guru meskipun siswa sudah diminta berkelompok dan mengerjakan LKS.
Berdasarkan hasil wawancara guru, guru telah menggunakan model pem-
belajaran yang bervariasi seperti inquiry, discovery learning. Namun
berdasarkan observasi langsung ternyata minat dan motivasi siswa untuk
belajar biologi masih rendah. Terlihat dari tingkah laku siswa ketika pelajaran
biologi berlangsung terdapat beberapa siswa yang tidak memperhatikan
penjelasan guru yang sedang memberikan materi. Beberapa siswa mengobrol
dengan teman sebangku dan bahkan ada yang mengantuk dalam mengikuti
kegiatan belajar. Hasil observasi dengan menggunakan acuan wawancara guru
biologi kelas XI IPA 3 SMA N 7 Malang diperoleh informasi terdapat
permasalahan dalam pembelajaran Biologi di kelas XI IPA 3 keterampilan
berpikir kritis siswa masih dalam kategorasi cukup. Masing-masing siswa
memiliki perbedaan dalam keterampilan berpikir kritis, yang dapat dikatakan
keterampilan berpikir kritis untuk siswa kelas XI IPA 3 tidak semua siswa
mampu berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari pemberian argumen siswa saat
memberikan penjelasan ketika pembelajaran berlangsung danjuga jawaban
yang diberikan siswa saat menjawab soal uraian.

Rendahnya keterampilan berpikir kritis ini berdampak pada hasil


belajar kognitif siswa. Berdasarkan observasi hasil belajar kognitif siswa kelas
XI IPA 3 masih rendah. Rendahnya hasil belajar kognitif dapat diketahui
melalui dokumen data nilai tes siswa pada materi sistem sirkulasi. Dokumen
tersebut menunjukkan terdapat siswa yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) sekolah sebesar 75, yakni sebanyak 14 siswa atau 40 % dan
siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa atau 60%. Ketuntasan klasikal yang
harus dimiliki siswa minimal sebanyak 85% sehingga masih kurang dari kata
tuntas sehingga harus diberikan pembelajaran remedial.

Keterampilan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan


menerapkan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Hal ini karena
keterampilan berpikir kritis memerlukan latihan terbimbing dan intensif untuk
memberikan dampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir
yang telah dimiliki oleh seorang individu (Zubaidah, 2010). Keterampilan
berpikir kritis sebagai salah satu keterampilan abad 21 membantu siswa
memecahkan masalah yang penuh tantangan dan persaingan di era global
(Maqbullah, 2018). Keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan siswa
berpikir dan aktif menyelesaikan berbagai masalah melalui pengetahuan dan
kemampuan intelektual yang dimiliki (Ennis, 2015). Keterampilan berpikir
kritis penting dibelajarkan agar siswa memiliki modal untuk menganalisis
permasalahan sehinggga siswa dapat menerapkan ide yang dimiliki dalam
penerapan teknologi, perkembangan ilmiah, serta menemukan solusi dalam
menyelesaikan masalah- masalah yang dihadapi sehari-hari. (Yacoubian dan
Zemplén dalam Santos, 2017). Sejalan dengan hal tersebut, Rahayuni (2016)
menyatakan bahwa pembelajaran Biologi memiliki karakteristik yang sangat
kompleks karena memerlukan berpikir kritis dalam melakukan analisis
terhadap sebuah permasalahan.
Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kritis adalah dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) (Shoimin, 2016). Hal ini didasari oleh per-
nyataaan Mayo dalam Krisanti (2016) masalah yang ditampilkan dalam model
pembelajaran Problem Based Learning biasanya merupakan permasalahan
autentik yang dijadikan dasar untuk melakukan investigasi dan penemuan
yang mampu mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Keberhasi-
lan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dibuktikan oleh
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Prayogi dan Asyari (2013) ketika
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dalam kelasnya,
diperoleh skor rata-rata keterampilan berpikir kritis kelas meningkat sejumlah
20,76%. Selain itu, pemilihan penggunaan model pembelajaran PBL dilaku-
kan atas pertimbangan kelebihan yang dimiliki. Menurut Shoimin (2016),
penerapan model pembelajaran Problem Based Learning memiliki beberapa
kelebihan antara lain: (1) siswa dilatih untuk memiliki kemampuan memecah-
kan masalah dalam kehidupan nyata, (2) mempunyai kemampuan membangun
pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar, (3) meningkatkan literasi
sains dalam kegiatan berkelompok, (4) melatih menggunakan sumber sumber
yang relevan untuk menemukan solusi yang logis dan tepat, dan (5) me-
ningkatkan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi dan presentasi hasil.

Pada materi Biologi SMA terdapat beberapa materi yang dapat


digunakan untuk meningkatan keterampilan berpikir kritis siswa diantaranya
materi sistem Reproduksi dan sistem imun. Berdasarkan Permendikbud No.24
tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar, diketahui bahwa
materi pembelajaran sistem reproduksi dan imun berada pada level kognitif
C4 (analisis). Materi pembelajaran tersebut menuntut siswa untuk mampu
menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ dalam
kaitannya dengan bioproses dan gangguan fungsi yang dapat terjadi pada
manusia. Termasuk kemampuan siswa dalam menganalisis dan
membandingkan antara struktur yang membentuk organ dikaitkan dengan
bioproses dan gangguannya. Oleh karena itu, materi tersebut dianggap cocok
digunakan dalam melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir
kritis. Selain itu masalah sistem ekskresi dan koordinasi merupakan masalah
yang autentik dan terjadi pada kehidupan sehari-hari sehingga tepat jika
menggunakan model pembelajaran PBL.

Atas pemaparan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,


maka dirasa perlu untuk dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkat-
kan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hail Belajar Kognitif Siswa Kelas XI
IPA SMA Negeri 7 Malang”

B. Rumusan Masalah Penelitian

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pe-


nerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan ke-
terampilan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa kelas XI IPA SMA
Negeri 7 Malang?

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran


problem based learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa
dan hasil belajar kognitif siswa kelas XI IPA SMA Negeri 7 Malang.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

1. Bagi siswa
a. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran
problem based learning diharapkan dapat menciptakan pengalaman
belajar yang berbeda bagi siswa.
b. Penerapan model pembelajaran problem based learning diharapkan
dapat membantu dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan
hasil belajar kognitif siswa.
2. Bagi guru
a. Memberikan masukan tentang model pembelajaran problem based
learning sebagai model inovatif dalam peningkatan kualitas pem-
belajaran di kelas.
b. Guru dapat termotivasi dalam menerapkan model pembelajaran
problem based learning pada materi pembelajaran yang lain.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan
untuk memperbaiki mutu sekolah dan juga dapat menghasilkan output
siswa yang memiliki kecakapan hidup abad 21.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat meningkatkan wawasan dan
menambah pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran problem
based learning pada proses pembelajaran di kelas.

E. Batasan Penelitian

Batasan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan di kelas XI IPA 3 SMAN 7 Malang dengan jumlah


siswa sebanyak 35 siswa.
2. Materi yang diajarkan pada penelitian ini adalah, sebagai berikut:
a. KD 3.12, tentang Menganalisis hubungan struktur jaringan penyusun
organ reproduksi dengan fungsinya dalam system reproduksi manusia
dan KD 4.12, tentang Menyajikan hasil analisis tentang dampak
pergaulan bebas, penyakit dan kelainan pada struktur dan fungsi organ
yang menyebabkan gangguan sistem reproduksi manusia serta
teknologi sistem reproduksi
b. KD 3.14 tentang menganalisis peran sistem imun dan imunisasi
terhadap proses fisiologi tubuh dan KD 4.14 tentang melakukan
kampanye pentingnya partisipasi masyarakat dalam program dan
imunisasi serta kelainan dalam sistem imun
3. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan ketika jam mata pelajaran biologi
kelas XI IPA 3
4. Model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah model Kemmis
dan Mc Taggart (2007), sehingga tahapan penelitian tindakan kelas yang
ada dalam penelitian ini yaitu: merencanakan (planning), melakukan
tindakan (action), mengamati (observation), dan merefleksi (reflection).
5. Model pembelajaran yang diterapkan adalah problem based learning.
Aspek yang diukur adalah keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar
kognitif siswa
6. Idikator keterampilan berpikir kritis yang akan diteliti yaitu memberikan
argumentasi, mengamati dan menilai laporan observasi, melakukan
deduksi, melakukan induksi, mengevaluasi dan menentukan tindakan
terkait pemecahan masalah.
7. Indikator hasil belajar kognitif yang akan diteliti yaitu mengingat,
memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan
F. Definisi Operasional
1. Problem Based Learning Terintegrasi STEM
Pembelajaran problem based learning merupakan suatu model
pembelajaran berbasis masalah pada dunia nyata. Langkah model
pembelajaran yang digunakan yaitu: 1. Meeting the problem, 2. Problem
analysisis and learning issues, 3. Discovery and reporting), 4. Solution
presentation and reflections dan yang terakhir Overview, integration and
evaluation. Model pembelajaran PBL terintegrasi STEM ini dapat diukur
dengan instrument lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran
PBL terintegrasi STEM yang diobservasi setiap pembelajaran berlangsung.
2. Keterampilan berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis,
mensintesis, dan mengevaluasi informasi melalui olah pikir secara sis-
tematis untuk menentukan pola pengambilan keputusan tentang apa yang
harus diyakini dan apa yang harus dilakukan yang dapat diperoleh dari
pengamatan, dedukasi, induksi/komunikasi. Keterampilan berpikir kritis
yang diteliti pada penelitian ini dibatasi pada 6 indikator, yakni memberi-
kan argumentasi, mengamati, menilai laporan observasi melakukan
deduksi, melakukan induksi, mengevaluasi dan menentukan tindakan
terkait peemecahan masalah. Keterampilan berpikir kritis siswa diukur
menggunakan tes keterampilan berpikir kritis dalam bentuk tes uraian
yang diambil ketika pretest dan postest pada setiap siklus.
3. Hasil belajar kognitif merupakan hasil belajar yang berupa pengetahuan
yang didapatkan oleh siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan
model PBL terintegrasi STEM. Hasil belajar kognitif meliputi beberapa
tingkatan yaitu menganalisis, me-ngevaluasi dan menciptakan. Hasil
belajar pengetahuan siswa diukur dengan menggunakan tes tulis berupa
soal tes essay. Hasil belajar pengetahuan diperoleh saat melakukan
posttest disetiap siklus.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Keterampilan Berpikir Kritis

Berpikir kritis saat ini menjadi salah satu keterampilan essesnsial


yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan tuntutan abad 21. Pendapat ini
didukung oleh Lilisari (2001) yang menyatakan bahwa keterampilan berpikir
kritis sebagai salah satu modal dasar yang sangat penting bagi setiap orang
sebagai indikator kematangan manusia. Berpikir kritis adalah integrasi
berpikir tingkat tinggi daripada hanya menghafalkan fakta teoritis, berpikir
kritis cenderung melibatkan aktivitas mental. Selanjutnya, jika dikaitkan
dengan kegiatan pembelajaran Biologi, Lunenburg (2011) mengungkapkan
bahwa siswa yang mempelajari Biologi dengan menggunakan kemampuan
berpikir kritis akan tumbuh menjadi seorang pemikir Biologi.

Berpikir kritis merupakan cara berpikir melalui refleksi untuk


mengam-bil keputusan (Ennis, 2015) yang melibatkan kegiatan mental seperti
dedukasi, induksi, klasifikasi, evaluasi, dan penalaran, untuk meningkatkan
mutu hasil olah pikirnya dengan menggunakan sistematika berpikir dengan
menghasilkan daya pikir intelektual (Paul and Elder. 2006). Proses intelektual
dilakukan dengan mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensinte-
sis dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari pengamatan,
pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi untuk memandu keyakinan
dan tin-dakan (Scriven and Paul. 2007). Berdasarkan beberapa pendapat ahli
mengenai keterampilan berpikir kritis dapat dirumuskan bahwa berpikir kritis
merupakan proses mental untuk menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi
informasi melalui olah pikir secara sistematis untuk mengambil keputusan.
Informasi tersebut bisa didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, proses
dedukasi, indukasi, atau komunikasi.

Menurut Ennis (2015), terdapat dua belas indikator berpikir kritis


yang dikelompokkan dalam lima aspek. Komponen indikator keterampilan
berpikir kritis disajikan pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis


No Aspek Indikator
1 Memberikan  Memfokuskan pertanyaan
penjelasan sederhana  Melakukan analisis terhadap
pertanyaan
 Bertanya dan menjawab pertanyaan
mengenai sebuah informasi
2 Membangun  Mempertimbangkan kebenaran suatu
keterampilan dasar informasi
 Mengobservasi dan
mempertimbangkan hasil observasi
3 Menarik kesimpulan  Melakukan dedukasi dan menilai hasil
dedukasi
 Melakukan induksi dan menilai hasil
induksi
 Membuat evaluasi dan menentukan
hasil penilaian
4 Memberikan  Mendefinisikan istilah dan
penjelasan tingkat mempertimbangkan suatu definisi
lanjut dalam berbagai dimensi
 Mengidentifikasi kebenaran suatu
asumsi
5 Melakukan evaluasi  Menentukan suatu tindakan
 Menilai interaksi antar variabel
Sumber: Ennis (2015)
Pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan
instrumen yang dikembangkan untuk menilai peningkatan suatu indikator
berpikir kritis. Instrumen berpikir kritis dapat digunakan untuk mengukur satu
atau lebih indikator keterampialn berpikir kritis (Ennis, 2015). Instrumen
penilaian keterampilan berpikir kritis menggunakan rubrik penilaian berpikir
kritis.
Indikator keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan pada
penelitian ini adalah memberikan argumentasi, mengamati dan menilai
laporan observasi, melakukan deduksi, melakukan induksi, mengevaluasi dan
melakukan tindakan terkait pemecahan masalah . Beberapa keuntungan yang
diperoleh dari pembealajaran yang menekankan pada proses keterampilan
berpikir kritis yaitu (Ahmatika, 2015).
1. Belajar lebih ekonomis, yaitu bahwa apa yang diperoleh dan
pengajarannya akan tahan lama dalam pikiran siswa
2. Cenderung menambah semangat belajar dan antusias baik pada guru
maupun siswa
3. Diharapkan dapat memiliki sikap ilmiah
4. Sswa memiliki kemampuan memecahkan masalah yang baik pada saat
proses belajar mengajar dikelas maupun dalam menghadapi permasalahan
nyata yang akan dialaminya.
B. Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa
setelah mengalami kegiatan belajar atau aktivitas belajar (Anni 2005). Sudjana
(2009) mendefinisikan dalam pengertian yang lebih luas hasil belajar
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2006) juga menyebut-kan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi
tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri
dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Ranah kognitif menurut permendikbud No.22 tahun 2016 yaitu


ranah yang mencakup kegiatan mental (otak) seperti memahami pengetahuan
yang faktual. Ranah kognitif dibagi menjadi 6 tingkatan dimulai dari tingkatan
mengingat, me-mahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi dan
mencipta. Penjelasan lebih lanjut oleh Bloom yang sudah direvisi Anderson
dan Krathwohl (2010: 99-128) membagi hasil belajar dalam tiga ranah
kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar kognitif menurut Bloom
terdiri dari beberapa tingkatan yaitu :

1. Tingkat C1 mengingat
Mengingat merupakan mengambil pengetahuan yang relevan dari memori
jang-ka panjang.
2. Tingkat C2 memahami
Memahami merupakan menentukan makna pesan instruksional, termasuk
ko-munikasi lisan, tertulis dan grafis.
3. Tingkat C3 mengaplikasikan
Mengaplikasikan merupakan melaksanakan atau menggunakan prosedur
dalam situasi tertentu.
4. Tingkat C4 menganalisis
Menganalisis merupakan memecah material menjadi bagian-bagian
penyusun-nya dan mendeteksi bagaimana bagian-bagian tersebut saling
berhubungan satu sama lain dan dengan struktur atau tujuan keseluruhan.
5. Tingkat C5 mengevaluasi
Mengevaluasi merupakan membuat penilaian berdasarkan kriteria dan
standar
6. Tingkat C6 mencipta
Mencipta merupakan menempatkan elemen bersama untuk membentuk
karya atau keseluruhan yang koheren atau membuat produk asli.
C. Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran problem based learning (PBL) atau dikenal


dengan model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran
yang menggunakan permasalahan nyata yang ditemui di lingkungan sebagai
dasar untuk memperoleh pengetahuan dan konsep melalui kemampuan ber-
pikir kritis dan memecahkan masalah (Fakhriyah.2014). Sudarman (2007)
menyatakan bahwa landasan PBL adalah proses kolaborative. Pembelajar akan
menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua
pengetahuan yang dimilikinya dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil
kegiatan berinteraksi dengan sesama individu

Menurut Hmelo Silver & Barrows (2006) menyatakan bahwa


masalah yang dimunculkan dalam pembelajaran PBL tidak memiliki jawaban
yang tunggal, artinya para mahasiswa harus terlibat dalam eksplorasi dengan
beberapa jalur solusi (1). Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasala-
han yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka
sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat tinggi,
mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Arends, 2015). Masalah yang
diangkat dalam pembelajaran berbasis masalah ditekankan pada masalah
autentik, relevan dan dipresentasikan dalam suatu konteks. Hal tersebut
bertujuan agar siswa memiliki pengalaman untuk menghadapi kehidupan
nyata (Arends, 2015). Menurut Krisanti dan Mulia (2016) PBL adalah
pembelajaran yang dipicu oleh masalah, bukan oleh konsep yang abstrak.
Secara ideal, masalah dapat ditemukan dalam kehidupan nyata dan tidak
mudah dalam menentukan solusi yang tepat. Model PBL tidak hanya me-
nuntut siswa dalam menyelesaikan masalah, tapi mereka juga mendapatkan
pengetahuan dengan mencari sendiri informasi yang sesuai konteks dari
berbagai sumber informasi. Selain itu, mereka bekerjasama dalam kelmpok,
berpikir kritis analitis, serta dapat berbagi informasi dengan saling mengajar
temannya.

Berdasarkan beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based


Learning dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan
model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata
(real world) untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada
siswa.

Kriteria metode PBL menurut Krisanti dan Mulia (2016):

1. Pembelajaran dipicu oleh masalah,persoalan, atau pertanyaan yang


didasarkan pada persoalan kehidupan nyata (real life yang kompleks).
2. Informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tidak diberikan
terlebih dahulu oleh pengajar.
3. Siswa menyelesaikan masalah dalam kelompok kecil yang tetap.
4. Fokus pada kecakapan berpikir tingkat tinggi, yaitu kecakapan dalam
menyelesaikan masalah, menganalisis, menetapkan keputusan dan berpikir
tingkat tinggi.
5. Memerlukan integrasi pengetahuan, antardisiplin, kecakapan, dan perilaku
npembelajarannya.
6. Mengakomodasi terjadinya self directed learning dan interdependent
learning

Sintaks model pembelajaran Problem Based Learning yang


digunakan sebagai berikut: (1) meeting the problem, (2) problem analysis and
learning issues (3) discovery and reporting (4) solution presentation and
reflections (5) overview, integration and evaluation (Tan, O. 2003). Sintakas
pembelajaran Problem Based Learning terdiri dari lima langkah utama yang
disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 langkah pembelajaran Problem Based Learning

Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa


Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan Siswa menyimak
pembelajaran,menjelaskan penjelasan guru, siswa
Meeting the problem kebutuhan yan membaca masalah yang
diperlukan, memberikan telah diberikan, siswa
masalah autentik kepada mengidentifikasi
siswa, memotivasi masalah dan membuat
siswaagar terlibat dalam rumusan masalah
aktivitas pemecahan
masalah
Tahap II Guru membantu siswa Siswa mendefinisikan
untuk mendefinisikan dan dan menganalisis
Problem analysis and
menganalisis masalah masalah dengan mencari
learning issues
tersebut. berbagai sumber
informasi.
Fase III Guru memfasilitasi siswa Siswa bekerja dalam
untuk mengumpulkan kelompok dan
Discovery and
informasi yang sesuai, melakuakan
reporting
melakukan eksperimen investigasi/eksperimen
untuk menemukan solusi untuk menemukan solusi
pemecahan masalah. masalah.
Guru meminta siswa Siswa menentukan
untuk membuat suatu solusi masalah yang
karya guna melaporkan tepat
hasil analisis solusi Siswa membuat karya
pemecahan masalah berdasarkan solusi yang
telah ditentukan
Fase IV Guru membantu siswa Siswa
dalam mempresentasikan mempresentasikan solusi
Solution presentation
solusi pemecahan masalah masalah berdasarkan
and reflections
Guru memintasiswa untuk karya yang telah dibuat
merefleksi kegiatan Siswa merefleksi
peecahan masalah kegiatan peecahan
masalah

Fase V Guru membantu siswa Siswa melakukan


untuk mengevaluasi refleksi dan evaluasi
overview, integration
proses pemecahan berdasarkan hasil
and evaluation
masalah diskusi
Sumber: Tan, O. (2003).
Kelebihan pembelajaran berbasis masalah menurut Amir (2009:27)
antara lain : a) fokus bermakna; b) meningkatkan kemampuan siswa untuk
berinisiatif; c) meningkatkan keterampilan dan pengetahuan; d) pengemban-
gan sikap self-motivated; e) tumbuhnya hubungan siswa-guru. Amir (2009)
mengungkapkan kekurangan pembelajaran berbasis masalah antara lain : a)
waktu yang digunakan cenderung lebih banyak; b) ketika siswa tidak memiliki
niat atau tidak percaya diri dalam hal memecahkan masalah, maka mereka
akan enggan untuk mencobanya.

D. STEM

Istilah STEM pertama kali diperkenalkan oleh National Science


Foundation (NSF) pada tahun 1990 sebagai sebuah akronim dari science,
technology, engineering, and mathematic(Suwarma et al., 2015). STEM
merupakan pendekatan pembelajaran interdisipliner baru yang berdasarkan
pada pengintegrasian empat bidang ilmu yaitu sains, teknologi, engineering
dan matematika ke dalam satu paradigma pengajaran dan pembelajaran
kohesif (Jauhariyyah et al., 2017). Integrasi ini didasarkan pada konsep kajian
sains yang memiliki keterkaitan antar bidang dan diharapkan mampu
mengurangi kesenjangan antara empat bidang disiplin ilmu tersebut (Stark,
2015). Pendidikan STEM adalah pendekatan pembelajaran yang mengajarkan
siswa untuk mengaktualisasikan pendidikan akademis ke dalam kehidupan
nyata (Stark, 2015).

STEM dapat diartikan berupa a) science, merupakan bagian dari


ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semesta, fakta-fakta, fenomena
serta keteraturan yang ada didalamnya; b) Technology, merupakan inovasi,
perubahan, modivikasi dari lingkungan alam untuk memberi kepuasan
terhadap keinginan dan kebutuhan manusia. Tujuan teknologi adalah membuat
modifikasi pada dunia untuk memnuhi kebutuhan manusia (NRC, 2010).
Dalam pemaknaan yang lebih luas teknologi mampu meningkatkan
kemampuan manusia untuk merubah dunia (AAS, 1993); c) engineering,
merupakan sebuah profesi dimana pengetahuan sains dan matematika
diperoleh melalui studi, eksperimen,dan praktek yang diaplikasikan dengan
mempertimbangkan pengembangan cara untuk merakit bahan-bahan dan
kekuatan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia (Abet, 2000); d)
mathematics, merupakan cabang disiplin ilmu yang mempelajarai berbagai
pola atau hubungan/relasi (AAAS, 1993).
STEM merupakan suatu pendekatan dalam belajar yang
menggabungkan serta menghilangkan batas pemisah empat disiplin ilmu yaitu
sains, teknologi, teknik dan matematika yang menarik siswa kedalam situai
pembelajaran yang nyata. Pendekatan STEM merupakan suatu program
pembelajaran yang menggabungkan bidang ilmu yang termuat dalam STEM.
Pendekatan STEM menuntut siswa untuk bekerja secara kolaboratif yang
mana terlibat dalam menemukan maslah, membuat penyelidikan, menemukan
penyelesaian masalah, menilai dan refleksi (Halim,2012). Pembelajaran
STEM mencakup penerapan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang
berguan dalam kehidupan (NRC, 2010).

Pengalaman pendidikan seseorang dalam ilmu pengetahuan


teknologi, teknik maupun matematika perlu dikembangkan untuk keperluan
dimasa depan. Pendekatan STEM menuntut seseorang untuk melek sains,
teknologi, teknik dan matematika untuk dapat mengintegrasikan proses dan
konsep dalam konteks sunia nyata (Bybee, 2013). Manfaat pembelajaran
STEM adalah membuat peserta didik menjadi pemecah masalah, penemu,
inovator, melek teknologi dan menerapkan lmu sains, teknologi dalam
kehidupan.

Semakin berkembangnya zaman menyebabkan kebutuhan jumlah


pekerjaan diberbagai sektor disiplin ilmu meningkat. Walaupun di Indonesia
sendiri integrasi STEM sebagai pendekatan pendiikan belum begitu populer,
konsep untuk integrasi antar bidang ilmu dalam dunia pendidikan sudah mulai
disuarakan diantaranya kurikulum 2013. Penerapan STEM dapat
dikolaborasikan dengan berbagai metode pembelajaran, STEM yang bersifat
pemersatu berbagai bidang ilmu memungkinkan untuk digunakan dengan
berbagai metode pembelajaran (Morrison, 2013).

Bryan dkk (2016) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran


STEM meliputi praktek dan desain teknologi, sebagai konteksnya memerlu-
kan ilmu pengetahuan dan konsep. Pendekatan STEM dalam dunia pendidikan
mendorong peserta didik untuk bertanya dan mengeksplorasi lingkungan
melalui penyelidikan dan penyelesaian masalah yang terkait dengan dunia
nyata ke arah praktek. Pembelajaran STEM disekolah supaya lebih menarik
salah satunya dengan menerapkan aktivitas yang menantang pikiran siswa
melalui inkuiri, pembelajaran berbasis maslah dan pembelajaran berbasis
proyek (Bybee, 2013).

Kementrian Pendidikan Malaysia (2017) menyatakan pembelajaran


STEM harus melibatkan pengetahuan dan keterampilan siswa untuk
menyelesaikan masalah dalam konteks kehidupan nyata, keterlibatan siswa
dalam pengetahuan dan kterampilan antara lain : a) melibatkan siswa dalam
inkuiri dan eksplorasi terbuka; b) melibatkan siswa dalam kerja tim yang
produktif; c) membuat siswa mengaplikasi pemahaman konten, d) memberi-
kan kesempatan siswa untuk meningkatkan baik jawaban atau produk; e)
melibatkan siswa mengaplikasikan keterampilan proses; f) meningkatkan
kepekaan siswa pada isu dan masalah dunia nyata.

Harapan dari pendekatan STEM dalam pembelajaran adalah


peserta didik dapat mengintergrasikan pengetahuan,konsep dan keterampilan
secara sistematis (Tseng, dkk.2011). Pembelajaran melalui integrasi STEM
dapat membuat siswa lebih siap dalam pekerjaan bidang STEM, meningkat-
kan minat dan prestasi dalam matematika dan ilmu pengetahuan. Selain itu
juga dapat memotivasi siswa untuk berkarir, meningkatkan minat terhadap
matematika dan sains, dapat meningkatkan kesadaran akan penggunaan
teknologi serta dapat meningkatkan keterampilan berfikitr tingkat tinggi
terutama dibidang STEM.

Kelebihan pembelajaran STEM diantaranya : a) pengalaman


belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa; b) pelaksanaan
pembelajaran STEM yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan dan
nilai dalam mata pelajaran secara mendalam melalui pendekatan inkuiri,
pembelajaran berbasis proyek dan masalah dalam konteks dunia nyata; c)
siswa yang memperoleh pembelajaran STEM memiliki keterampilan berpikir
tingkat tinggi, inovatif, mandiri, melek teknologi, mampu mendesain, bisa
memecahkan masalah dan membuat keputusan. Namun dalam pelaksanaanya
STEM tentu akan muncul beberapa kekurangan, yaitu diantaranya : a) guru
harus terlatih dalam mengembangkan pembelajaran STEM, karena seiring
perkembangan teknologi, seorang pendidik juga harus mampu menguasai
dengan baik supaya dapat diaplikasikan kepada siswanya, b) fasilitas
teknologi masih terbatas; c) materi pembelajaran tidak semuanya cocok untuk
diaplikasikan STEM; d) waktu yang digunakan dalam pembelajaran relatif
lebih banyak (Kementrian Pendidikan Malaysia, 2017)

E. Pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi STEM

Suatu masalah jika diselesaikan dengan strategi tertentu maka akan


lebih mudah, implementasi model pembelajaran yang tepat akan mempenga-
ruhi tingkat kemampuan dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, perlu
adanya suatu model yang dapat meningkatkan keterampilan siswa yaitu model
yang berbasis pada msalah atau model PBL. Pembelajaran PBL jika diin-
tegrasikan dengan STEM akan mendekatkan siswa pada kehidupan yang nyata
baik secara ilmu, pengetahuan serta teknologi. Oleh karena itu model
pembelajaran PBL jika diintegrasikan dengan STEM akan sangat cocok dan
mendekatkan siswa dengan kehidupan yakni permasalahan yang ada disekitar
yang dapat diangkat dipembelajaran (Wang, et. Al., 2017). Hubungan antara
model PBL dengan STEM terdapat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Hubungan antara model PBL dengan STEM

Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Unsur STEM


Tahap 1 Guru menjelaskan Siswa menyimak SAINS
Meeting tujuan penjelasan guru,  Mengenai konsep
pembelajaran,menjelask siswa membaca organ sistem
the
an kebutuhan yan masalah yang telah ekskresi, struktur
problem
diperlukan, diberikan, siswa dan fungsi,
memberikan masalah mengidentifikasi kelainan organ
autentik kepada siswa, masalah dan sistem ekskresi.
memotivasi siswaagar membuat rumusan Technology
terlibat dalam aktivitas masalah  Siswa dikenalkan
pemecahan masalah terkait teknologi
untuk mengatasi
kelainan sistem
ekskresi

Tahap II Guru membantu siswa Siswa Sains


untuk mendefinisikan mendefinisikan dan  Siswa
Problem dan menganalisis menganalisis mempelajari
analysis masalah tersebut. masalah dengan tentang gangguan
and mencari berbagai sistem ekskresi
learning sumber informasi.  Keterkaitan pola
issues hidup dengan
gangguan
 Keterkaitan
gangguan dengan
mekanisme
bioproses

Technology
 Siswa
mempelajari
tentang
hemodialisis dan
teknologi airism
dan dry EX
Fase III Guru memfasilitasi Siswa bekerja dalam Sains
Discovery siswa untuk kelompok dan  Siswa
mengumpulkan melakuakan mempelajari
and
informasi yang sesuai, investigasi/eksperim tentang inovasi
reporting
melakukan eksperimen en untuk teknologi
untuk menemukan menemukan solusi hemodialisis
solusi pemecahan masalah. Technology
masalah.  Siswa
Siswa menentukan
Guru meminta siswa solusi masalah yang mempelajari
untuk membuat suatu tepat tentang
karya guna melaporkan bagaimana
Siswa membuat menerapkan
hasil analisis solusi karya berdasarkan
pemecahan masalah inovasi dalam
solusi yang telah teknologi
ditentukan hemodialisis
Enggiinering
 Membuat desain
rekayasa
teknologi
hemodialisis
Mathematic
 Mempertimbang
kan dimensi skala
dan ruang
 Menentukan
KOA dializer
 Menentukan
berapa ml cairan
dializat
Fase IV Guru membantu siswa Siswa Sains
Solution dalam mempresentasikan  Siswa
presentatio mempresentasikan solusi masalah menggunakan
solusi pemecahan berdasarkan karya kemampuan
n and
reflections masalah yang telah dibuat dalam memahami
Guru memintasiswa Siswa merefleksi konsep terkait
untuk merefleksi kegiatan peecahan pemecahan
kegiatan peecahan masalah masalah yang
masalah telah dilakukan

Fase V Guru membantu siswa Siswa melakukan


untuk mengevaluasi refleksi dan evaluasi
overview,
proses pemecahan berdasarkan hasil
integration
masalah diskusi
and
evaluation

( Sumber : Diadaptasi dari Tan, O. (2003); Kementrian Pendidikan Malaysia,


2017)

F. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi


STEM dalam meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil
Belajar Kognitif Pada Mata Pelajaran Biologi
Dengan menerapkan model pembelajaran PBL dikelas, maka
sewaktu pembelajar menyelesaikan masalah berbagai kecakapan akan terus
meningkat. Berbagai kecakapan yang terkait dengan proses penyelesaian
masalah tersebut salah satunya yaitu keterampilan berpikir kritis (Critical
thinking). Keterampilan berpikir kritis diasah dan ditingkatkan terus dalam
kelas PBL. Sewaktu menyelesaikan masalah, pembelajar akan terampil
menetapkan permasalahannya, konsep yang terkait untuk menyelesaikan
masalah, mempelajari informasi baru, menerapkan pengetahuan, menganalisis
serta mengevaluasi hasilnya (Krisanti dan Mulia, 2016).
Penelitian Santriani (2017) menyatakan model pembelajaran
berbasis masalah untuk meningkatkan berpikir kritis dan berpikir kritis dalam
pembelajaran STEM dapat memberikan (1) penjelasan secara sederhana, (2)
Membangun keterampilan dasar, (3) Menyimpulkan, (4) Memberikan
penjelasan lanjut, (5) Mengatur strategi dan taktik. Dalam pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) berorientasi STEM terdapat proses
mengidentifikasi, dimana siswa membangun ketrampilan dasar dalam
berpikir kritis. Melalui sumber yang siswa mililiki, siswa mempertimbangkan
apakah sumber tersebut sesuai dengan masalah yang diberikan. Kemudian
dalam kegiatan inti pembelajaran, keempat bidang yang dalam STEM yang
menjadi orientasi dari PBL menyebabkan siswa terlihat lebih termotivasi
karena penerapan teknologi yang ada mampu meningkatkan motivasi siswa
sehingga siswa lebih aktif dan mendukung tercapainya indikator kemampuan
berpikir kritis siswa (Adiwiguna dkk, 2019).
G. Kerangka Konseptual

Pembelajaran biologi yang diterapkan di sekolah dapat me-


ngembangkan keterampilan abad 21 pada siswa salah satunya yaitu ke-
terampilan berpikir kritis, karena pembelajaran biologi menuntut siswa untuk
dapat berpikir analitis, deduktif dan nduktif terhadap fenomena yang ada di
alam dan sekitar melalui metode ilmiah. Namun, beberapa penelitian me-
nunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih rendah. Hasil
analisis kebutuhan awal yang dilakukan di kelas XI IPA 3 SMAN 7 Malang
menunjukkan bahwa 50% memiliki tingkat keterampilan berpikir kritis yang
rendah pada beberapa indikator keterampilan berpikir kritis. Rendahnya ke-
terampilan berpikir kritis ni juga menyebabkan hasil belajar siswa redah hal
ini dapat dilihat dari nilai ketuntasan siswa saat mengikuti ujian sebanyak 60%
siswa yang tuntas dalam mengikuti kegiatan ujian. Hal tersebut disebabkan
karena pembelajaran yang dilakukan guru di kelas belum dapat mengembang-
kan keterampilan berpikir kritis siswa, guru juga jarang menerapkan
pembelajaran yang inovatif dan pembelajaran yang dilakukan kurang
kontekstual.

Salah satu model pembelajaran yang inovatif yang sesuai dengan


tuntutan kurikulum 2013 adalah pembelajaran Problem based learning
terintegrasi STEM yang berlandasan pada pemberian masalah autentik dengan
memperhatikan disiplin ilmu lainnya yaitu science, technology, engineering
dan mathematic untuk memfasilitasi keterampilan berpikir kritis dan me-
ningkatkan hasil belajar kognitif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pem-
belajaran PBL-STEM dapat melatih siswa secara mandiri untuk menemukan
masalah autentik dalam suatu fenomena, me-nganalisis data hasil penyelidi-
kan, menggali informasi dari berbagai ide atau pendapat terhadap data yang
diperoleh, menggali informasi dari berbagai sumber, membuat kesimpulan
serta mengkomunikasikan hasil penyelidikan dengan memadukan disiplin
ilmu lainnya yaitu science, technology, engineering dan mathematic.Kerangka
kon-septual penelitian ini disajikan dalam Gambar 2.1

Harapan: Fakta:
Pembelajaran biologi yang A. 50% siswa XI IPA 3
diterapkan dapat mengembangkan memiliki keterampilan
keterampilan hidup abad 21, salah berpikir kritis tergolong
satunya keterampilan berpikir krtis masih rendah
siswa sehingga dapat B. 40% Hasil belajar kognitif
meningkatkan hasil belajar kognitif siswa masih rendah
siswa.
Masalah :
1. Pembelajaran belum mengembangkan keterampilan berpikir kritis
2. Guru jarang menerapkan pembelajaran yang inovatif
3. Minat siswa dalam belajar kurang
4. Pembelajaran kurang kontekstual

Solusi :
Implementasi model pembelajaran inovatif yakni pembelajaran Problem Based
Learning Terintegrasi STEM yang berlandasan dengan pemberian masalah autentik
dengan memperhatikan disiplin ilmu lainnya yaitu science, technology, engineering
dan mathematic untuk memfasilitasi keterampilan berpikir kritis dan meningkatkan
hasil belajar kognitif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran Problem
Based Learning Terintegrasi STEM diharapkan dapat melatih siswa secara mandiri
untuk menemukan masalah autentik dalam suatu fenomena, menganalisis data hasil
penyelidikan, menggali informasi dari berbagai ide atau pendapat terhadap data yang
diperoleh, menggali informasi dari berbagai sumber, membuat kesimpulan serta
mengkomunikasikan hasil penyelidikan dengan memadukan disiplin ilmu lainnya
yaitu science, technology, engineering dan mathematic.

Hasil yang diharapkan

Keterampilan berpikir kritis meningkat


Hasil belajar kognitif siswa
Pembelajaran Problem Based Learning
meningkat
terintegrasi STEM menjadikan siswa sebagai
pemikir, bukan hanya sebagai penerima pasif Pembelajaran Problem Based Learning
pengetahuan, siswa dikenalkan dan diberikan terintegrasi STEM mampu
masalah autentik, siswa diminta untuk berfikir meningkatkan hasil belajar kognitif
secara analitis untuk memecahkan sendiri siswa dibuktikan dengan pencapaian
solusi dari permasalahan yang telah diberikan, indikator hasil belajar kognitif dan
dan menjadikan siswa sebagai pembangun ketuntasan kriteria ketuntasan minimal
konsep secara ilmiah. yang telah ditetapkan.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Ada-


pun jenis penelitian yang dilakukan merupakan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Kajian penelitian tindakan kelas yang dilakukan adalah dengan me-
nerapkan model pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi Science,
Technology, Engineering, Mathematics (STEM) Untuk Meningkatkan Ke-
terampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPA 3 SMA Negeri 7 Malang. De-
sain model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diadaptasi
dari Kemmis & Mc. Taggart (2007) yang meliputi proses: (1) perencanaan tin-
dakan (plan), (2) pelaksanaan (act), (3) observasi (observe), dan (4) me-
refleksi (reflection). Model tersebut dipilih karena langkah pelaksanaanya se-
derhana dan tepat untuk penelitian tindakan. Penelitian tindakan kelas dipilih
untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi pada proses pembelajaran, da-
lam penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan kesulitan siswa da-
lam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan meningkatkan hasil be-
lajar kognitif siswa. Penelitian tindakan kelas pada penelitian ini dirancang
minimal 2 siklus.

B. Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan

Pada penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam pelaksanaan di


kelas guna memberikan tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam
kelas secara bersama-sama. Tindakan yang dimaksud merupakan tindakan
yang diberikan oleh guru. Dalam proses penelitian yang berlangsung, peneliti
berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Biologi dan juga observer. Ke-
hadiran peneliti dalam penelitian ini adalah berperan sebagai perencana, se-
bagai guru, pengumpul data, penganalisis data, dan sekaligus pembuat laporan
hasil penelitian. Oleh karena itu, peneliti wajib hadir di lapangan. Kehadiran
guru mata pelajaran Biologi dalam penelitian ini berperan sebagai observer
keterlaksanaan tindakan dalam pembelajaran. Kehadiran observer dalam pe-
nelitian ini berperan dalam membantu peneliti untuk menilai ketercapaian
hasil belajar siswa.
C. Kancah penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 7 Malang yang berlokasi


di Jl. Cengger Ayam 1 No. 14 Tulusrejo Kecamatan, Lowokwaru Kota
Malang dengan materi Sistem Ekskresi dan sistem koordinasi. Waktu
pelaksanaan penelitian ini pada semester genap tahun ajaran 2019/2020
dimulai pada bulan Februari hingga bulan April 2019.

D. Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa
kelas XI IPA 3 SMAN 7 Malang tahun ajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa
sebanyak 35 dalam satu kelas.
E. Data dan Sumber Data
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan langsung oleh
peneliti dan observer selama proses pembelajaran, baik data yang bersumber
dari siswa maupun dari guru. Secara lebih rinci data, sumber data, instrumen
dan prosedur pengumpulan data penelitian dicantumkan pada Tabel 3.1
Tabel 3.1. Data, Sumber Data, Instrumen, dan Prosedur Pengumpulan
Data
No Aspek yang Indikator Instrumen Sumber Prosedur
diukur Data Pengumpulan
Data
1. Keterlaksana Lembar observasi Guru dan Observasi
an keterlaksanaan siswa selama proses
pembelajaran pembelajaran pembelajaran
Problem Problem Based
Based Learning
Learning Terintegrasi
Terintegrasi STEM
STEM
2. Keterampilan 1. Soal tes esai Siswa Tes esai diawal
berpikir kritis keterampilan dan akhir
berpikir kritis setiap siklus
2. Rubrik
penilaian
jawaban tes
esai
keterampilan
berpikir kritis
3. Hasil belajar 1. Soal tes esai Siswa Tes esai pada
kognitif 2. Rubrik akhir siklus
penilaian
jawaban tes
esai
F. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen
tes dan nontes. Instrumen penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran Problem Based
Learning terintegrasi STEM oleh observer yang digunakan untuk melihat
keterlaksanaan model pembelajaran pembelajaran Problem Based
Learning terintegrasi STEM yang dilakukan guru selama proses penelitian.
2. Catatan lapangan, berfungsi untuk merekam segala aktivitas guru dan sis-
wa selama kegiatan pembelajaran yang tidak dapat diobservasi.
3. Soal, dan rubrik tes esai keterampilan berpikir kritis yang bermuatan in-
dikator keterampilan berpikir kritis, yaitu memberikan argumentasi, me-
ngamati dan menilai laporan observasi, melakukan deduksi, melakukan
induksi, mengevaluasi, dan melakukan tindakan terkait emecahan masalah.
Kisi-kisi soal keterampilan berpikir kritis disusun sebagai panduan pe-
mbuatan soal berpikir kritis. Soal keterampilan berpikir kritis disusun
untuk memperoleh tentang keterampilan berpkir kritis siswa setelah
mengikuti pembelajaran pembelajaran Problem Based Learning
terintegrasi STEM. Rubrik penilaian tes esai keterampilan ber-pikir kritis
disusun untuk memperoleh data tentang keterampilan berpikir kritis siswa.
Interval skor rubrik ini adalah 4, yaitu 1,2,3,4. Hasil tes esai digunakan
untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam peningkatan keterampilan
berpikir kritis.
4. Soal, dan rubrik tes pilihan ganda hasil belajar kognitif yang bermuatan
indikator kognitif, yaitu, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan .
Kisi-kisi soal hasil belajar kognitif disusun sebagai panduan pembuatan
soal tes hasil belajar kognitif. Soal keterampilan berpikir kritis disusun
untuk memperoleh tentang hasil belajar kognitif siswa dengan melihat
kebenaran konsep pada lembar jawaban siswa setelah mengikuti
pembelajaran pembelajaran Problem Based Learning terintegrasi STEM.
G. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan dua siklus dengan pengambilan
data menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model
Kemnis dan Taggart. Tahap yang dilakukan sebelum melakukan penelitian
tindakan kelas adalah observasi awal. Kegiatan ini bertujuan untuk mengeta-
hui keterampilan berpikir kritis siswa sebelum dilaksanakan penelitian oleh
peneliti.
Dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat tahapan sebagai
berikut:
Tahap Pra Tindakan
Adapun macam kegiatan yang dilakukan selama tahap persiapan
adalah sebagai berikut.
a. Mengurus Surat Ijin Penelitian kepada pihak Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang
b. Mengurus Surat Ijin Penelitian kepada pihak Cabang Dinas Pendidikan
Kota Malang
c. Melaksanakan studi pendahuluan dengan cara melakukan wawancara dan
mengamati kegiatan pembelajaran untuk mengidentifikasi permasalahan
yang sedang terjadi di kelas XI IPA 3.
d. Menetapkan materi pembelajaran yang akan digunakan untuk sikuls 1
yaitu Sistem ekskresi
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1
1) Perencanaan Tindakan (Planning)
Adapun kegiatan yang dilaksanakan selama tahap perencanaan ini
adalah sebagai berikut.
a) Menetapkan gagasan umum berupa permasalahan yang terjadi dan solusi
tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah. Pada penelitian ini
permasalahan yang diidentifikasi adalah keterampilan berpikir kritis dan
hasil belajar kognitif siswa dengan alternatif tindakan yang digunakan
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi
STEM.
b) Menyusun jadwal penelitian, menentukan materi pembelajaran, me-
nyiapkan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), LKS
(Lembar Kerja Siswa), serta instrumen penelitian. Kegiatan perancangan
perangkat pembelajaran dilakukan melalui diskusi dengan dosen pem-
bimbing dan guru kelas serta seluruh perangkat pembelajaran divalidasi
oleh validator ahli perangkat pembelajaran maupun ahli materi.
c) Menyiapkan alat, bahan, dan media pembelajaran yang digunakan dalam
mendukung pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
2) Pelaksanaan Tindakan (Action)
Tahap ini merupakan implementasi dari rancangan yang telah di-
susun serta melakukan kegiatan pengamatan adanya perubahan dinamika
kelompok, hasil belajar serta interaksi proses belajar siswa. Adapun urutan
kegiatan selama pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan pelaksanaan
sintaks model pembelajaran Problem Based Learning terintegrasi STEM.
3) Pengamatan Penelitian (Observation)

Pada kegiatan ini dilakukan pengamatan terhadap aktivitas


kegiatan belajar siswa dalam pembelajaran sesuai dengan format observasi
yang telah ditentukan. Pengamatan ini dibantu oleh 5 observer dan juga guru
mata pelajaran Biologi yang mengajar di kelas XI IPA 3. Kegiatan pengama-
tan dilakukan secara continue di setiap kali pembelajaran berlangsung.

4) Refleksi (Reflection)
Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti untuk memahami segala
sesuatu yang berkaitan dengan pemberian tindakan pembelajaran yang telah
dilakukan pada siklus I berdasarkan hasil observasi dan hasil tes keterampilan
berpikir kritis siswa. Dalam kegiatan refleksi dicari alternatif tindakan yang
perlu dilakukan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan pada tindakan
siklus I untuk digunakan untuk rencana perbaikan pada siklus II apabila
kriteria keberhasilan belum terpenuhi.
Siklus 2
1) Perencanaan Tindakan (Planning)
Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa revisi berdasarkan
hasil refleksi siklus I tentang kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran.
Peneliti memperbaiki silabus, RPP, dan perangkat penelitian yang akan
dilakukan untuk pelaksanaan tindakan selanjutnya.
2) Pelaksanaan Penelitian (Action)
Tahap ini merupakan implementasi dari rancangan yang telah
disusun serta melakukan kegiatan pengamatan adanya perubahan dinamika
kelompok, hasil belajar serta interaksi proses belajar siswa. Adapun urutan
kegiatan selama pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan pelaksanaan
sintaks model pembelajaran Problem Based Learning terintegrasi STEM
3) Pengamatan Penelitian (Observation)

Pada kegiatan ini dilakukan pengamatan terhadap aktivitas


kegiatan belajar siswa dalam pembelajaran sesuai dengan format observasi
yang telah ditentukan dan berdasarkan hasil refleksi pada siklus sebelumnya,
maka observer memberikan saran kepada peneliti terkait tindakan pada siklus
1 yang perlu untuk diperbaiki pada siklus 2. Pengamatan ini dibantu oleh
observer dan juga guru mata pelajaran Biologi yang mengajar di kelas XI IPA
3. Kegiatan pengamatan dilakukan secara continue di setiap kali pembelaja-
ran berlangsung. Pengamatan pada siklus 2 dibantu oleh observer dan guru
mata pelajaran Biologi yang mengajar di kelas XI IPA 3.

4) Refleksi (Reflection)
Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti untuk memahami segala
sesuatu yang berkaitan dengan pemberian tindakan pembelajaran yang telah
dilakukan pada siklus II berdasarkan hasil observasi dan hasil tes keterampi-
lan berpikir kritis siswa. Dalam kegiatan refleksi dicari alternatif tindakan
yang perlu dilakukan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan pada tindakan
siklus II untuk digunakan pada siklus selanjutnya apabila kriteria keberhasilan
belum terpenuhi
H. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah
pengumpulan data. Data yang diperoleh dari setiap siklup dianalisis secara
kuantitatif dan kualitatif.
1. Analisis data kuantitatif
Analisis data kuantitatif diperoleh dari data hasil validasi,
data observasi keterlaksanaan pembelajaran, data hasil penilaian
keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa untuk setiap
siklus.
2. Analisis data kualitatif
Analisis data kualitatif dilakukan mulai awal penelitian
sampai penelitian ini selesai dilaksanakan. Data yang telah terkumpul
dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan.
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini dijelaskan sebagai
berikut
a) Keterlaksanaan Sintaks Model Problem Based Learning
Terintegrasi STEM
Keterlaksanaan kegiatan model pembelajaran Problem
Based Learning Terintegrasi STEM dilakukan dengan cara menghitung
skor yang diperoleh dari hasil pada lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran oleh guru. Persentase keterlaksanaan pembelajaran
diperoleh melalui perhitungan dengan rumus sebagai berikut:
skor yang diperoleh
Presentase keterlaksanaan pembelajaran = X 100
skor maksimal
Hasil perhitungan persentase keterlaksanaan pembelajaran
kemudian dikategorikan sesuai dengan kriteria pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Persentase Keterlaksanaan Pembelajaran

Nilai Taraf Kualitas Nilai dengan huruf


81-100 Sangat baik A
61-80 Baik B
41-60 Cukup C
21-40 Kurang D
0-20 Gagal E
Sumber: Diadaptasi dari Arikunto (2009:35)
Data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran melalui
model pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi STEM
dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran pelaksanaan
langkah-langkah pembelajaran oleh guru dan siswa.
b) Keterampilan Berpikir Kritis
Analisis hasil keterampilan berpikir kritis dilakukan
berdasarkan rubrik penilaian yang telah disusun oleh peneliti.
Pencapaian keterampilan berpikir kritis dapat dihitung dari soal pretest
dan posttest siswa. Nilai pretest dan posttest dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Ʃ skor yang diperoleh
Skor siswa = x 100%
Ʃ skor maksimal
Peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa dapat dianalisis me-
nggunakan standar gain yang digunakan untuk mengetahui peningkatan
hasil tes siswa dari pretest ke posttest pada setiap siklus. Gain score
diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut:
(skor pascates)−( skor prates)
n-gain =
( skor maksimal−skor prates)
Kriteria Keberhasilan tindakan dalam meningkatkan keterampilan
berpikir kritis siswa dapat dilihat pada tabel 3.3
Tabel 3.3 Kriteria Keterampilan Berpikir Kritis
No Kriteria Pencapaian nilai Tingkat Berpikir Kritis
1. n-gain ≥ 0,7 Efektif
2. 0,3 < n-gain < 0,7 Cukup Efektif
3. n-gain ≤ 0,3 Kurang Efektif
Sumber: Hake (1999:1)
c) Hasil belajar kognitif
Hasil belajar kognitif dapat dilihat dari skor yang diperoleh
dari tes akhir siklus pada siklus I dan II. Ketuntasan individu dapat
tercapai apabila siswa mencapai nilai KKM ≥ 75 dan ketuntasan
belajar klasikal apabila 85% siswa dikelas mencapai nilai KKM atau
lebih. Penentuan nilai siswa dan ketuntasan belajar klasikal dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
skor yang diperoleh
Nilai siswa = x 100%
skor maksimal

siswa yang memperoleh nilai ≥ 75


Ketuntasan belajar klasikal = x 100%
total seluruh siswa dalam satukelas

I. Indikator Keberhasilan Tindakan


Kriteria keberhasilan tindakan pada penelitian ini adalah
setelah diterapkannya model pembelajaran Problem Based Learning
terintegrasi STEM , hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis
siswa mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar kognitif dan
keterampilan berpikir kritis siswa ditandai dengan meningkatnya
persentase rata-rata hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kritis
siswa dari siklus I ke siklus II.