Anda di halaman 1dari 19

YAYASAN ST.

ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE


RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami penjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
berkat dan anugerah yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga Panduan
Terminasi Kehamilan ini dapat selesai disusun.

Buku Panduan Terminasi Kehamilan merupakan panduan kerja bagi semua


pihak yang terkait dalam melakukan asesmen terhadap pasien sehingga dapat
memberikan jenis pelayanan yang terbaik bagi pasien di Rumah Sakit St.
Elisabeth Lela.

Dalam Panduan ini diuraikan tentang pengertian, tatalaksana, dan


dokumentasi dalam melakukan asesmen terhadap pasien dengan terminasi
kehamilan di Rumah Sakit St. Elisabeth Lela.

Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya


atas bantuan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Panduan
Terminasi Kehamilan

Lela, Agustus 2015


Penyusun
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………… …………….


i

Daftar Isi …………………………………………………………………………


ii

Bab I ……………….…………………………………………….……….. 1

A. Latar Belakang………………………………………………… 1
B. Definisi ……………………………………………………… 1

Bab II Ruang Lingkup ...………….…..………………………………………..


5

A. Ruang Lingkup ………………………………………………….. 5


B. Tujuan …………………………………………………………... 5

Bab III Tata Laksana ……………………………………………………………


6

A. Prinsip ……………………………………………………………..
6
B. Metode Terminasi Kehamilan ………………………………….. 6
C. Komplikasi ………………………………………………………. 8

Bab IV Dokumentasi ………………………………………………………… 9

Assesmen Khusus Terminasi Kehamilan…………………………


9
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Terminasi Kehamilan Dalam Sejarah Kedokteran
Pada dasarnya wanita telah melakukan terminasi kehamilan sejak
permulaan sejarah. Dalam sejarah Yunani dan Romawi, terminasi kehamilan
diselenggarakan untuk mengontrol populasi. Tidak terdapat hukum Negara
yang berhubungan dengan hal tersebut, para ahli filsafat yunani tidak
melarangnya, tetapi Phytagoras dan Hipocrates tidak menyetujui terminasi
kehamilan ini. Menurut Hipocrates ada sanksi terhadap perbuatan abortus/
terminasi kehamilan. Namun hal tersebut diabaikan dan para dokter-dokter
Yunani dan Romawi tetap melaksanakan terminasi kehamilan atas
permintaan.
Dalam ajaran agama terminasi kehamilan tidak diperbolehkan, tetapi
apabila ada indikasi medis baik yang berasal dari ibu maupun dari janin,
terutama sebagai hasil dari kemajuan subspesialisasi fetomaternal berupa
imunologi, amniocentesis, USG, maka indikasi adalah jelas dan terminasi
dapat dilaksanakan.

B. Definisi
Terminasi Kehamilan adalah pengakhiran kehamilan dengan upaya
pengeluaran buah kehamilan, baik janin dalam keadaan hidup atau mati.
Pengkhiran kehamilan harus dilakukan dengan indikasi tertentu, yaitu
indikasi medis.
Ada dua indikasi terminasi kehamilan :
1. Indikasi bayi
a) Pada kehamilan Trimester pertama, antara lain :
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

1) Abortus (Missed abortion (abortus tertunda), Blighted ovum )


2) Molahidatidosa(komplete dan parsial)
3) Kehamilan ektopik belum terganggu

b) Pada kehamilan trimester kedua dan ketiga


IUFD (Intra Uterine Fetal Death)
c) Pada kehamilan trimester ketiga
1) Perdarahan antepartum, janin hidup atau mati
2) Gawat janin
2. Indikasi ibu
a) Preeklampsi berat (PEB)
b) Eklampsia

C. Terminasi Kehamilan Dipandang dari Segi Hukum


Tindakan aborsi itu dilarang.
Definisi legal paling umum tentang abortus terapeutik adalah terminasi
kehamilan sebelum janin mampu hidup dengan tujuan menyelamatkan nyawa
ibu, atau untuk mencegah cedera tubuh yang serius atau permanen pada ibu,
atau mempertahankan kehidupan/ kesehatan ibu.

Dasar Hukum Terminasi Kehamilan :

1. MENURUT HUKUM KESEHATAN INDONESIA


Ketentuan pasal 75 dan pasal 76 Undang-Undang No 36 Tahun 2009
tentang KESEHATAN
a) Pasal 75
1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan :
3) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/ atau janin, yang
menderita penyakit genetic berat dan / atau cacat bawaan, maupun
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut


hidup di luar kandungan
4) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan.

5) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 2 ) hanya dapat


dilakukan setelah melalui konseling dan/ atau penasehatan pra
tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang
dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan
perkosaan, sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 2 ) dan ( 3 ) diatur
dengan Peraturan Pemerintah

b) Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 hanya dapat dilakukan :
1) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis
2) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan dan kewenangan
yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri.
3) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
4) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
5) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang
ditetapkan oleh Menteri, Sebelum melakukan tindakan terminasi
kehamilan pada janin yang masih hidup perlu diadakan pertemuan
khusus sesuai dengan UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
pasal 76. Pertemuan khusus tersebut melibatkan berbagai pihak
dan harus berdasarkan persetujuan antara lain :
6) Persetujuan dari 3 dokter yang ahli di bidangnya
7) Persetujuan dari psikolog
8) Persetujuan dari tokoh agama
9) Persetujuan dari pasien dan keluarga
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

2. Menurut Pedoman Etika Rumah Sakit St. Elisabeth Lela


Di dalam Pedoman Etika RS St. Elisabeth pasal 46 ayat 1-3 menyatakan
bahwa
a) Ayat 1
Kehidupan harus dijaga penuh perhatian sudah sejak saat pembuahan.
Segala tindakan yang secara sengaja dan langsung mengakhiri
kehidupan, termasuk juga pengguguran (abortus provocatus)
bertentangan dengan hukum, agama, etik.
b) Ayat 2
Dokter dan tenaga non medik yang lain wajib menasihati dan/ atau
merujuk pasien yang menginginkan pengguguran kepada sejawat atau
lembaga-lembaga kemanusiaan yang dapat menolong pasien dalam
menyelamatkan kehamilannya (tidak jadi digugurkan)
c) Ayat 3
Pengguguran yang terjadi secara tidak langsung, yang merupakan
akibat sampingan (abortus indirecte provocatus) dari tindakan
terapeutik yang muthlak perlu dilakukan demi keselamatan jiwa ibu,
dapat dibenarkan secara etik atas dasar prinsip Dwi-Akibat (Prinsip
Akibat Ganda)
Prinsip Akibat Ganda sejatinya digunakan untuk menilai perbuatan
dalam konteks minus maelum. Artinya obyek suatu perbuatan diambil
setelah melihat bahwa tidak ada pilihan keputusan yang lebih baik dari
yang lain, sebab semua pilihan keputusan yang ada selalu membawa
hasil buruk. Meski demikian, di tengah keburukan hasil yang mesti
diterima, ada satu pilihan yang menyisakan hasil baik
Dalam ajaran tradisional moral katolik, khususnya lewat gagasan
Thomas Aquinas tentang Praeter Intentionem (di luar maksud)
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

perbuatan, disebutkan empat syarat supaya perbuatan yang diambil


berdasar prinsip akibat ganda dapat dibenarkan dan dinilai mengandung
alasan-alasan yang proporsional

3. SECARA MORAL (KATOLIK)


Dari segi moral aborsi adalah pengeluaran janin sejak adanya konsepsi
pertama (sejak pertemuan antara sel sperma dengan sel telur) sampai
dengan kelahirannya dan mengakibatkan kematian.

Gereja dalam memandang hasil konsepsi tetap tegas bahwa sejak


pertemuan sel sperma dan sel telur disitu sudah ada seorang manusia baru.

Berdasarkan alasan dari berbagai dokumen dan ajaran para pemimpin


tertinggi Gereja serta Kitab Suci sebagai dasar utama kehidupan umat
kristiani, Gereja dengan tegas menolak aborsi, karena berdasarkan sumber
diatas manusia adalah hasil ciptaan Allah menurut Gambar dan rupa-Nya.
Maka manusia sejak awal adalah kudus.

a) Dokumen Konsili Vatikan II : Gaudium Et Spes 27 ditegaskan bahwa


dalam situasi apapun aborsi adalah kejahatan yang mengerikan.
b) Kitab Hukum Kanonik 1983
Pandangan kitab hukum kanonik tentang aborsi juga tetap berdasar
pada Kitab Suci, walaupun Kitab Suci tidak secara explisit berbicara
tentang aborsi dan tidak mematok larangan-larangan langsung dan
spesifik. Kitab hukum kanonik melihat bahwa salah satu perintah
Allah adalah jangan membunuh, diterapkan pada kehidupan yang
belum lahir atau janin. Maka perbuatan aborsi akan terkena sanksi
yuridis, ekskomunikasi yang bersifat otomatis.
c) Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Evangelium Vitae,
beliau menjelaskan bahwa perbuatan yang paling jahat adalah aborsi
karena melanggar kehidupan
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

d) Kasus-kasus khusus aborsi


Aborsi dengan indikasi medis adalah aborsi yang dilakukan karena
adanya keadaan yang menunjukkan bahwa pelangsungan kehamilan
akan menyebabkan kerusakan serius pada kesehatan ibu yang tidak
bisa dipulihkan atau bahkan menyebabkan kematian ibu, atau situasi
dimana jelas bahwa janin akan mati bersama ibunya jika tidak
dilakukan pengguguran
Gereja Katolik melihat bahwa aborsi dengan cara demikian tidak
melanggar moral. Tetapi tetap ditegaskan bahwa Gereja tetap tidak
mengizinkan aborsi. Kasus diatas diperbolehkan sejauh tidak ada jalan
lain.
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

BAB II
RUANG LINGKUP

A. Ruang Lingkup
1. Panduan ini diterapkan kepada pasien/ wanita hamil yang secara medis
kehamilannya beresiko untuk kehidupan ibunya/ membahayakan/
mengancam jiwa ibunya sehingga harus dilakukan terminasi kehamilan.
2. Panduan ini dipakai sebagai acuan dalam melakukan assesmen pada
pasien dengan terminasi kehamilan
3. Pelaksana panduan ini adalah tenaga kesehatan meliputi : Dokter, Perawat,
Bidan yang memenuhi Regulasi Rumah Sakit dan Pemerintah
4. Ruangan yang masuk dalam lingkup proses terminasi kehamilan adalah
Ruang Rawat Inap, Ruang Bersalin atau VK.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Sebagai panduan dalam penerapan langkah-langkah pengelolaan masalah
terminasi kehamilan yang sesuai dengan indikasi medis di Rumah Sakit St.
Elisabeth Lela
2. Tujuan Khusus :
a) Memahami macam-macam indikasi dilakukan terminasi kehamilan.
b) Mengetahui dasar hukum dilakukannya terminasi kehamilan
c) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan terminasi
kehamilan
d) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dengan terminasi
kehamilan
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

BAB III
TATA LAKSANA

A. Prinsip
Semua pasien/ wanita yang masuk RS St. Elisabeth dan mempunyai indikasi
secara medis untuk dilakukan terminasi kehamilan harus dilakukan asesmen
terlebih dahulu.
1. Assesmen medis awal dan assesmen keperawatan awal rawat inap serta
assesmen khusus terminasi kehamilan harus lengkap dan
didokumentasikan dalam waktu maksimal 1x24 jam setelah pasien masuk.
2. Melakukan assesmen ulang sesuai kondisi pasien.

B. Metode Terminasi Kehamilan


Terminasi kehamilan dilakukan dengan dua hal antara lain Induksi Aborsi
dan Induksi Persalinan atau Sectio Caesarea.
Induksi aborsi (Abortus Provokatus Medisinalis) adalah terminasi
(penghentian) kehamilan sebelum janin viable (hidup) yang bertujuan untuk
keselamatan ibu. Biasanya disebut abortus kalau umur kehamilan kurang dari
20 minggu. Kalau sudah lebih dari 20 minggu disebut induksi persalinan.
1. Induksi aborsi
Indikasi induksi aborsi dibagi 2, maternal dan fetal. Kalau pada maternal,
indikasinya yaitu persistent heart disease (kelainan jantung), hypertensive
vascular disease berat, dan invasive kanker serviks. Pada fetal indikasinya
yaitu jika diketahui adanya cacat kongenital berat.
Tehnik Induksi aborsi antara lain :
a) Tehnik Medik/ Obat-obatan
Terminasi medik akan lengkap saat 6 – 48 jam setelah pemakaian pil
pervaginam. Beberapa wanita lebih menyukai terminasi medika oleh
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

karena lebih proporsi. Keberhasilan terminasi medik 90 %. Jika


terminasi medik tidak berhasil harus dilakukan terminasi vakum.

Macam-macam tehnik medik/ obat-obatan antara lain :


1) Oksitosin intravena
2) Cairan hiperosmotik intra amnion
 Saline 20 %
 Urea 30 %
3) Prostaglandin E1, E2, F2a, dan analognya
 Injeksi intraamnion
 Injeksi ekstraamnion
 Injeksi vagina
 Peroral
4) Mifepriston
5) Epostan
b) Tehnik Bedah/ Surgical
Dilatasi serviks yang diikuti dengan evakuasi produk kehamilan,
dengan cara berikut :
1) Kuretase
2) Vakum aspirasi
3) Dilatasi dilakukan secara mekanik dengan higroskopik dilatators /
laminaria atau dengan dilatators logam dan evakuasi dilakukan
dengan digital artinya pakai jari telunjuk, kuretase, suction
kuretase.
4) Laparatomie untuk kehamilan ektopik belum terganggu
5) Sectio Caesarea
6) Histerotomie : uterusnya diinsisi
7) Histerektomie : pengangkatan uterus
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

2. Induksi Persalinan
Indikasi :
Indikasi Induksi persalinan antara lain ; Ketuban pecah dini, Chorio
amnionitis: inflamasi fetal membrane/selaput ketuban, pre eklamsi berat,
kehamilan post aterm : kehamilan lebih dari 41 minggu.
a) Pengakhiran kehamilan sampai umur kehamilan 12 minggu
1) Persiapan:
 Keadaan umum memungkinkan yaitu Hb > 10 gr%, tekanan
darah baik.
 Pada abortus (febrilis infeksiosa), diberikan dulu antibiotika 3
hari baru akan dilakukan kuretase tajam atau 6 jam bila akan
dilakukan kuretase vakum.
 Pada abortus tertunda dilakukan pemeriksaan laboratorium
tambahan yaitu : trombosit, fibrinogen, waktu perdarahan,
waktu pembekuan, waktu protrombin.
2) Tindakan :
 Kuretase vakum
 Kuretase tajam
 Dilatasi dan kuretase tajam
Pada kasus mola hidatidosa dilakukan kuretase vakum setelah
KU memungkinkan.
b) Pengakhiran kehamilan < 20 minggu
1) Misoprostol 50 µg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam
sesudah pemberian pertama.
2) Pemberian oksitosin secara seri, oksitosin 2 unit intramuskuler
diberikan setiap 30 menit maksimal pemberian 6 kali.
3) Tetes oksitosin 10 unit dalam 500 cc dextrose 5 % mulai 20 tetes/
menit maksimal 60 tetes / menit
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

4) Preparat prostaglandin diberikan atas ijin dan pengawasan spesialis


5) Pemasangan batang laminaria 12 jam sebelum pengakhiran
kehamilan
6) Dilakukan kuretase bila masih terdapat sisa jaringan

c) Usia kehamilan > 20 minggu


1) Misoprostol 50 µg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam
sesudah pemberian pertama.
2) Pemasangan metrolia 100 cc 12 jam sebelum induksi untuk
pembukaan servix (tidak efektif bila dilakukan pada KPD)
3) Pemberian tetes oksitosin 5 iu dalam dextrose 5 % mulai 20 tetes/
menit sampai maksimal 60 tetes/ menit untuk primi dan
multigravida, 40 tetes/ menit untuk grande multigravida.
4) Kombinasi ketiga cara diatas

C. Komplikasi
1. Komplikasi Dari Terminasi Kehamilan antara lain; Perdarahan, Infeksi,
Tertinggalnya hasil konsepsi, Kematian (0,5 per 1 juta aborsi pada
trimester pertama kehamilan)
2. Treatment Komplikasi
Treatment komplikasi diberikan tergantung pada penyebab dan keadaan
umum ibu, kontraksi uterus dan perdarahan / infeksi.
Treatment komplikasi antara lain;
a) Oksitosin
b) Methylergometrin maleat
c) Antibiotik broad spectrum
d) Kuretase
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

e) Operasi Histerektomie/ Ligasi arteria iliaca


f) konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten
dan berwenang
g) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan
perkosaan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

BAB IV
DOKUMENTASI

A. Asesmen khusus terminasi kehamilan


1. Keluhan Utama
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam
berulang.
2. Riwayat Kesehatan
 Riwayat kesehatan sekarang ; seperti perdarahan pervaginam di luar
siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
 Riwayat kesehatan masa lalu : kaji adanya pembedahan yang pernah
dialami oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa, dan dimana
tindakan tersebut berlangsung.
 Riwayat penyakit yang pernah dialami : kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM, Jantung, Hipertensi, Masalah
ginekologiurinari, penyakit endokrin, dan penyakit lainnya.
 Riwayat kesehatan keluarga : dapat dikaji melalui genogram dan dari
genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
 Riwayat kesehatan reproduksi : kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya
dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluhan
yang menyertai.
 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas : kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
 Riwayat seksual : kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluhan yang menyertainya.
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

 Riwayat pemakaian obat : kaji riwayat pemakaian obat-obatan,


kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya
3. Pola aktivitas sehari-hari : kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik
sebelum dan saat sakit.
4. Pemeriksaan Fisik, meliputi :
 Inspeksi
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan
kesimetrisan, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya
keterbatasan fisik.
 Palpasi
Adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan
telapak tangan. Sentuhan merasakan suatu pembengkakan, mencatat
suhu, derajat kelembaban, dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan
kontraksi uterus. Tekanan menentukan karakter nadi, mengevaluasi
edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk
mengamati turgor
 Perkusi
ù Menggunakan jari ketuk lutut dan dada untuk mengkaji ada
tidaknya cairan, massa, atau konsolidasi.
ù Menggunakan palu perkusi ketuk lutut dan amati ada tidaknya
reflek gerakan pada kaki bawah, memeriksa reflek kulit perut
apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
 Auskultasi
Mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk
bunyi jantung paru, abdomen untuk bising usus atau denyut jantung
janin.
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

5. Test Diagnostik
a. Pemeriksaan laboratorium
 Koagulasi Study
 Hemoglobin, hematokrit
 Golongan darah
 Pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien a.l : SGOT/SGPT, Ureum,
Creatinin, Cholesterol, Trigliserida, dan Urine Rutin.
b. USG
c. Rontgen

6. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
d. Ancietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
e. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan
f. Defisit pengetahuan berhubungan dengan : indikasi terhadap aborsi,
perawatan diri, pengalaman aborsi.

7. Meminimalkan resiko infeksi pada Post Aborsi


a. Perhatikan kondisi tubuh, tanda infeksi
b. Hindari pemasukan sesuatu ke vagina
c. Tidak menggunakan tampon
d. Tidak berenang atau menggunakan bathtub kurang lebih 2 minggu post
aborsi
e. Makanan yang bergizi
f. Istirahat dan tidur yang cukup
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital

8. Edukasi pada klien


a. Perdarahan
b. Kram atau kejang perut
c. Clot atau bekuan
d. Menstruasi
e. Sakit pada payudara
f. Kontrasepsi
g. Medikasi
h. Perasaan / emosional
i. Hubungan seksual
YAYASAN ST.ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE
RUMAH SAKIT ST.ELISABETH LELA
MAUMERE- FLORES – NTT
Kode Pos : 86161 Telp. 081 353 782 435
Email : rslela@yahoo.com Website:www.lelahospital