Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya
permukaan air laut secara berkala yang di akibatkan oleh kombinasi gaya
gravitasi dan gaya tarik menarik antara benda–benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan terhadap massa air dibumi.
Pasang dan surut terbesar terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama
karena pada saat itu, matahari, bulan, dan bumi berada dalam bidang segaris.
Pasang terendah terjadi pada saat bulan perbani. Oleh karena itu, pasang
terendah disebut juga pasang perbani. Ketika pasang perbani, pasang terjadi
serendah-rendahnya karena kedudukan matahari dan bulan terhadap bumi
membentuk sudut 90 derajat. Oleh karena itu, gravitasi bulan dan matahari
akan saling memperlemah.
Perbedaan tinggi air pada saat pasang dan surut di laut terbuka mencapai 3
meter. Tetapi, di tempat-tempat sempit yang berhadapan dengan bulan akan
mengalami pasang, sedangkan daerah yang tegak lurus terhadap kedudukan
bulan akan mengalami surut. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya
pasang surut dan factor yang menyebabkan terjadinya pasang surut disusunlah
laporan ini.
Pada laporan ini , penyusun akan menghitung pasang surut di pantai yang
berada di Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Tawaili, Sulawesi Tengah selama
43 jam untuk mengetahui naik dan turun nya muka air laut rata-rata dipantai
Pantoloan tersebut.

1.2 Tujuan Praktikum


 Mengetahui teori yang membahas pasang surut.
 Mengetahui faktor yang menyebabkan pasang surut terjadi.
 Mengetahui tipe-tipe pasang surut.
 Mengetahui alat yang dipakai untuk menentukan pasang surut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pasang Surut


Pasang-surut laut dapat didefinisikan pula sebagai gelombang yang
dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Puncak
gelombang disebut pasang tinggi (High Water/RW) dan lembah gelombang
disebut surut/pasang rendah (Low Water/LW). Perbedaan vertikal antara
pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang-surut atau tunggang
pasut (tidal range) yang bisa mencapai beberapa meter hingga puluhan meter.
(SETIAWAN, 2006).
Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut
atmosfer (atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut
bumi padat (tide of the solid earth) (Yudith Christianti, 2018).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek
sentrifugal.  Gravitasi  bervariasi secara langsung dengan massa tetapi
berbanding terbalik terhadap jarak.  Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari
matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik
matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih
dekat daripada jarak matahari ke bumi (Yudith Christianti, 2018).
Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan
menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang
dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu
rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (WARDIYATMOKO &
BINTARTO,1994).

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Pasang Surut

Faktor- factor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan


teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan
terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan
teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya
coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal
yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut,
lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki
ciri pasang surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek
sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi.
Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik
terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik
gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada
jarak matahari ke bumi (A. Jonathan Edison, 2018).
Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan
menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.  Lintang
dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu
rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Priyana,1994).
Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan
terhadap bumi yang besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang
saling tarik menarik tersebut. Bulan memberikan gaya tarik (gravitasi) yang
lebih besar dibanding matahari.  Hal ini disebabkan karena walaupun masa
bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi
(Priyana,1994).
Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang menyusun 71% permukaan
bumi, menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan.  Pasang surut
terbentuk karena rotasi bumi yang berada di bawah muka air yang
menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan
permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik. Gaya tarik gravitasi
matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih
kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut
selama periode sedikit diatas 24 jam (Priyana,1994).
2.3 Tipe Pasang surut
Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Disuatu daerah pada
dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Menurut
Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide)
Terjadinya satu kali air pasang dan satu kali air surut dengan
periode rata-rata 12 jam 24 menit. Jenis harian tunggal misalnya terdapat
di perairan sekitar selat karimata, antara Sumatra dan Kalimantan.
2. Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide)
Terjadinya dua kali pasang dan dua kali air surut dengan tinggi
yang hampir sama dalam satu hari secara berurutan dan teratur. Periode
pasang surut biasanya 24 jam 50 menit. Pada jenis harian ganda
misalanya terdapat di perairan Selat Melaka sampai ke Laut Andaman.
3. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Ganda (Mixed Tide
Prevailing Semi Diurnal)
Terjadinya dua kali air pasang dan dua kali air surut tetapi dengan
tinggi permukaan laut dan periode yang berbeda-beda. Pada pasang surut
campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal)
misalnya terjadi di bagian besar perairan Indonesia bagian timur
4. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Tunggal (Mixed Tide
Prevailing Diurnal).
Terjadinya satu kali air pasang dan satu kali surut dalam satu hati,
tetapi terkadang hanya untuk sementara waktu (sebentar) terjadi dua kali
air pasang dan dua kali surut. Jenis campuran condong ke harian tunggal
(mixed tide, prevailing diurnal) contohnya terdapat di pantai selatan
Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat.
2.4 Alat Mengukur Pasang Surut
Beberapa alat prngukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tide Staff.
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau
centi meter.  Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di
lapangan.Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling
sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian
muka laut tinggi gelombang air laut. 
Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau
bahan lain yang di cat anti karat.
Syarat pemasangan papan pasut adalah :
1. Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih
tergenang oleh air.
2. Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada
daerah aliran sungai (aliran debit air).
3. Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang
menyebabkan air bergerak secara tidak teratur.
4. Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah
untuk diamati dan dipasang tegak lurus.
5. Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya  dermaga
sehingga papan mudah dikaitkan.
6. Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga
data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi.
7. Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus
stabil.
8. Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan
sampah.
2. Tide gauge.
Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara
mekanik dan otomatis.  Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur
ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam
komputer.  Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu :  
1. Floating tide gauge (self registering)
Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik turunnya permukaan air laut
yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat
pencatat (recording unit). Pengamatan pasut dengan alat ini banyak
dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan cara rambu
pasut.
2. Pressure tide gauge (self registering)
Prinsip kerja pressure tide gauge hampir sama dengan floating tide
gauge, namun perubahan naik-turunnya air laut direkam melalui
perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat
pencatat (recording unit).  Alat ini dipasang sedemikian rupa sehingga
selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut, namun alat ini
jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang surut.
3. Satelit
Sistem Satelit Altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat
diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum
sistem satelit altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu
mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es
kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global.
Prinsip dasar Satelit Altimetri adalah saletit altimetry dilengkapi
dengan pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang
sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter
radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang
elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan
balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit.
Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan teknik
altimetri yaitu pada dasarnya satelit altimetri bertugas mengukur jarak
vertikal dari satelit ke permukaan laut. Karena tinggi satelit di atas
permukaan ellipsoid referensi diketahui maka tinggi muka laut Sea Surface
Height (SSH) saat pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara
tinggi  satelit dengan jarak vertikal. Variasi muka laut periode pendek harus
dihilangkan sehingga fenomena kenaikan muka laut dapat terlihat melalui
analisis deret waktu (time series analysis).  Analisis deret waktu dilakukan
karena kita akan melihat variasi temporal periode panjang dan fenomena
sakulernya.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun pelaksanaan praktium ini dilaksanakn pada hari jumat, 12 April
2019 sampai dengan tanggal 14 April 2019. Berlokasi di Kelurahan
Pantoloan, Kecamatan Tawaili, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

3.2 Alat-alat Dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam field trip yaitu :
- GPS
GPS digunakan untuk menentukan kordinat posisi, kecepatan, arah
dan waktu saat survey.
- Kamera
Kamera digunakan untuk mempublikasikan hasil kegiatan lapangan
yang dilakukan, mulai dari lokasi kegiatan, alat-alat yang digunakan
untuk praktikum dan singkapan-singkapan yang berada di lokasi
praktikum.
- Palmeter/Tide staff
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau
centimeter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di
lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling
sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian
muka laut tinggi gelombang air laut. 
Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau
bahan lain yang di cat anti karat.
Syarat pemasangan papan pasut adalah :
9. Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah
masih tergenang oleh air.
10. Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada
daerah aliran sungai (aliran debit air).
11. Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang
menyebabkan air bergerak secara tidak teratur.
12. Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah
untuk diamati dan dipasang tegak lurus.
13. Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya  dermaga
sehingga papan mudah dikaitkan.
14. Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga
data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi.
15. Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus
stabil.
16. Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan
sampah.
- Clipboard
Clipboard atau papan tatakan dukomen berguna untuk sebagai alas
untuk mencatat atau bisa dijadikan pengganti meja dalam keadaan
tertentu.
- Buku catatan lapangan (field note)
Buku catatan lapangan (field note) ini digunakan untuk mencatat
semua hasil dari survey yang dilakukan. Mulai dari hasil data ukur,
sketsa, deskripsi, letak singkapan dan lain-lain yang perlu dicatat.
- Alat tulis
Alat tulis berguna sebagai alat untuk mencatat data yang akan di
kelola.
- Jam Tangan/Stopwatch
Jam tangan atau stopwatch digunakan untuk mengetahui waktu
ketika pengambilan data pasut.
- Pita ukur
Pita ukur berguna untuk menentukan skala pengukuran yang
ditempelkan pada tiang palmeter (tide staff) untuk mengetahui pasang
surut air.
- Senter
Senter (flashlight) memiliki fungsi utama menjadi alat penerang.
3.3 Cara Kerja
 Palmeter pasang surut dipasang pada pada daerah yang tidak
mengalami surut air laut
 Pasang palmeter pasang surut dengan benar ( skala 0 cm selalu
terendam air pada saat surut tersurut air laut) .
 GPS disiapkan untuk mengerahui koordinat dari masing – masing
lokasi pengamatan pasang surut.
 Alat tulis dan stop watch/jam tangan disiapkan untuk melakukan
pengukuran.
 Pengukuran pasang surut dilakukan setiap 1 jam sekali dalam kurun
waktu 24 jam.
 Data yang diperoleh, dicatat ke dalam laporan sementara.