Anda di halaman 1dari 19

Pengendalian Pencemaran Air

Proses dan Teknologi Pengolahan Air Limbah


Sesuai dengan karakteristiknya maka pada dasarnya pengolahan air limbah
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pengolahan secara fisika, kimia,
biologis dan pengolahan lanjut dengan cara khusus. Pengolahan air limbah dapat
dibagi atas lima tahap pengolahan, yaitu :
1. Pengolahan awal (pretreatment) : fisika dan/atau kimia
2. Pengolahan tahap pertama (primary treatment) : fisika
3. Pengolahan tahap kedua (secondary treatment) : biologi
4. Pengolahan tahap ketiga (tertiary treatment)
5. Pengolahan lumpur (sludge treatment )
Pengolahan awal dan tahap pertama melibatkan proses fisik yang bertujuan
untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dari aliran air limbah.
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air
limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Tahap ketiga
merupakan pengolahan yang dilakukan untuk menghilangkan kontaminan tertentu
yang tidak dapat dihilangkan pada pengolahan tahap pertama dan kedua. Tahapan
tersebut dimaksudkan untuk memudahkan dalam mengkategorikan dan
melaksanakan pengolahan sesuai dengan beban kandungan suatu air limbah.1
a. Proses Pengolahan Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air
buangan, maka bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan mudah
mengendap disisihkan terlebih dahulu. Cara pengolahan fisika antara lain :
 Penyaringan (Screening)
Berfungsi untuk menghilangkan partikel-partikel besar dari air limbah.
Alat ini dipakai pada industri pengalengan, bir, dan kertas. Terdapat
berbagai jenis alat penyaringan, misalnya, bar racks, static screens,
vibrating screens, dan lain-lain.

 Mengayak
1
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 9.
Tujuannya adalah memisahkan kotoran-kotoran yang berupa zat padat
kasar yang ada dalam air limbah. Ayakan dapat berupa kawat-kawat, kisi-
kisi, kawat kasar maupun plat berlubang.
 Sedimentasi
Adalah memisahkan partikel-partikel tersuspensi yang lebih berat dari
air dengan membiarkan supaya air tidak bergerak dan kotoran diendapkan
dengan gaya beratnya sendiri. Operasi ini sering dipakai misalnya untuk
memisahkan pasir, kotoran-kotoran khusus dalam tangki pengendap
pendahuluan, flok biologi, flok-flok kimia dari proses koagulasi.
 Pengapungan
Adalah operasi untuk memisahkan partikel-partikel padat atau cairan
dari fase cairan yang lebih ringan dari fase cairnya. Pemisahan terjadi
karena pemasukan gelembung-gelembung gas kedalam fase cair, gelembung
melekat pada partikel-partikel dan mendorong naiknya partikel-partikel
kepermukaan. Bahan yang dapat dipisahkan misal suspensi minyak dalam
air.
 Ekualisasi
Tujuan dari proses ini adalah untuk mengurangi variasi laju alir dan
konsentrasi air limbah, agar mencegah pembebanan tiba-tiba (shock load).
Bentuk alat ini umumnya adalah kolam yang dapat dilengkapi dengan
pengaduk atau tanpa pengaduk.2
b. Proses Pengolahan Kimia
Pengolahan limbah cair dengan proses kimia merupakan salah satu bagian
yang sangat penting dalam proses pengolahan limbah cair. Limbah yang
mengandung COD tinggi, jelas proses pengolahannya adalah proses kimia.
Pengolahan secara kimia pada IPAL biasanya digunakan untuk netralisasi
limbah asam maupun basa, memperbaiki proses pemisahan lumpur,
memisahkan padatan yang tak terlarut, mengurangi konsentrasi minyak dan
lemak, meningkatkan efisiensi instalasi flotasi dan filtrasi, serta mengoksidasi
warna dan racun.
 Netralisasi
2
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 14-15.
Proses ini umumnya dicapai dengan mencampurkan asam atau basa
dengan air limbah, tetapi jumlahnya tergantung pada proses hulu dan hilir
yang dipakai. Kapur (CaO atau Ca(OH)2) adalah senyawa penetral yang
paling umum dipakai untuk air limbah yang bersifta asam. Kebanyakan
asam kuat dapat digunakan untuk menetralkan air limbah basa. Kebanyakan
air limbah memiliki kapasitas buffer yang rendah, sehingga perubahan kecil
dari asam atau basa dapat menimbulkan perubahan pH yang besar. Dengan
alasan tersebut, disarankan sistem netralisasi terdiri dari dua atau tiga
tingkat dengan pengendalian pH yang otomatis.
 Presipitasi
Adalah pengurangan bahan-bahan terlarut dengan cara penambahan
bahan-bahan kimia terlarut yang menyebabkan terbentuknya padatan-
padatan (flok dan lumpur). Dalam pengolahan air limbah, presipitasi
digunakan untuk menghilangkan logam berat, sulfat, fluorida, dan garam-
garam besi.
 Koagulasi
Koagulasi adalah proses destabilisasi partikel koloid dengan cara
penambahan senyawa kimia yang disebut koagulan. Merupakan salah satu
cara pengolahan air untuk menghilangkan kontaminan yang terkandung
didalamnya. Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel
koloid, suspended solid, serta padatan tidak mengendap, dengan
penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk
mendispersikan bahan kimia secara merata.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses koagulasi air, antara lain :
a. Kualitas air meliputi gas-gas terlarut, warna, kekeruhan, rasa, bau, dan
kesadahan;
b. Jumlah dan karakteristik koloid;
c. Derajat keasaman air (pH);
d. Pengadukan cepat, dan kecepatan paddle;
e. Temperatur air;
f. Alkalinitas air, bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur;
g. Karakteristik ion-ion dalam air.
Koagulan adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan
menetralisasi muatan partikel koloid dan mampu untuk mengikat partikel
koloid tersebut membentuk gumpalan atau flok. Efektifitas dari kerja
koagulan tergantung dari pH dan dosis dari pemakaian serta tergantung pula
dari sifat air limbah yang diolah.
 Flokulasi Kimia
Flokulasi adalah proses lambat yang bergerak secara terus menerus
selama partikel-partikel tersuspensi bercampur di dalam air, sehingga
partikel akan menjadi lebih besar dan begerak menuju proses sedimentasi.
Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat proses
penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi.
Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta
melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya
makin lama makin besar serta mudah mengendap.
Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam desain bak
flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan
mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien terlalu
rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak
akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan.
 Elektrokoagulasi
Elektrokoagulasi merupakan gabungan dari proses elektrokimia dan
flokulasi-koagulasi. Teknik ini telah dipakai untuk pengolahan limbah cair
tekstil, mengatasi permasalahan limbah radio aktif, penanganan limbah cair
rumah potong hewan, air limbah rumah tangga, dan limbah cair kimiawi
dari industri fiber. Proses elektrokoagulasi pada prinsipnya berdasarkan
pada proses sel elektrolisis.
Sel elek-trolisis merupakan suatu alat yang dapat mengubah energi
listrik DC (direct current) untuk menghasilkan reaksi elektrodik. Setiap sel
elektrolisis mempunyai dua elektroda, katoda dan anoda. Jenis elektroda
yang digunakan pada penelitian ini adalah elektroda Aluminium yang
berperan sebagai sumber ion Al+3 di anoda dan berfungis sebagai koagulan
dalam proses koagulasi-flokulasi yang terjadi di dalam sel tersebut.
Sedangkan di katoda terjadi reaksi ka-todik dengan membentuk gelembung-
gelembung gas hidrogen yang berfungsi untuk menaikan flok-flok
tersuspensi yang tidak dapat mengendap di dalam sel.
Teknik elektrokoagulasi memiliki beberapa kelebihan yaitu peralatan
sederhana, mudah dalam pengoperasiaannya, waktu reaksi singkat, tidak
memerlukan bahan kimia tambahan karena lebih banyak melibatkan proses
fisika, selain itu teknik ini lebih ekonomis karena listrik yang digunakan
relatif kecil. Dengan kelebihan dan pencapaian nilai efisiensi ini, maka
dimungkinkan untuk aplikasi teknik ini pada skala yang lebih besar.
Prinsip dasar dari elektrokoagulasi adalah reaksi reduksi dan oksidasi
(redoks). Dalam suatu sel elektrokoagulasi peristiwa oksidasi terjadi di
anoda, sedangkan reduksi terjadi di katoda. Dalam reaksi elektrokoagulasi
selain elektroda juga melibatkan air yang diolah yang berfungsi sebagai
larutan elektrolit. Apabila dlam suatu elektrolit ditempatkan dua elektroda
dan dialiri arus listrik searah maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu
gejala dekomposisi elektrolit, dimana ion positif (kation) bergerak ke katoda
dan menerima elektron yang direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke
anoda dan menyerahkan elektron yang dioksidasi. Untuk proses
elektrokoagulasi digunakan elektroda yang terbuat dari aluminium (Al)
karena logam ini mempunyai sifat sebagai koagulan yang baik.
Proses elektrokoagulasi pada prinsipnya berdasarkan pada proses sel
elektrolisis. Sel elek-trolisis merupakan suatu alat yang dapat mengubah
energi listrik DC (direct current) untuk menghasilkan reaksi elektrolik.
Setiap sel elektrolisis mempunyai dua elektroda, katoda dan anoda. Anoda
berfungsi sebagai koagulan dalam proses koagulasi-flokulasi yang terjadi di
dalam sel tersebut. Sedangkan di katoda terjadi reaksi katodik dengan
membentuk gelembung -gelem-bung gas hidrogen yang berfungsi untuk
menaikkan flok-flok tersuspensi yang tidak dapat mengendap di dalam sel.
Elektrokoagulasi mampu menyisihkan bernbagai jenis polutan dalam
air, yaitu partikel tersuspensi, logam-logam berat, produk minyak bumi,
warna pada zat pewarna, larutan humus, dan deflourinasi air. Selain itu,
elektrokoagulasi dapat digunakan untuk pengolahan awal teknologi
membran seperti reverse osmosis. Pada elektrokoagulasi, arus kelistrikan
mengalir diantara dua elektroda, coagulant diumpankan dari awal dengan
electrolytic oksidasi bahan anoda.3
c. Pengolahan Biologis
Pengolahan biologis termasuk dalam pengolahan tahap kedua. Tujuannya
adalah menghilangkan atau mengurangi kandungan senyawa organik atau
anorganik dalam suatu air buangan. Fungsi ini dapat dicapai dengan bantuan
aktivitas mikroorganisme gabungan (mixed culture) yang heterotrofik.4
 Lumpur Aktif
Sistem lumpur aktif termasuk salah satu jenis pengolahan biologis,
dimana mikroorganismenya berada dalam pertumbuhan tersuspensi.
Prosesnya bersifat aerobik, artinya memerlukan oksigen untuk reaksi
biologisnya. Di dalam sistem biologis ini, mikroorganisme hidup dan
tumbuh secara koloni. Koloni ini berupa gumpalan-gumpalan kecil (flocs)
yang merupakan padatan mudah terendapkan. Dalam keadaan tersuspensi
koloni ini menyerupai lumpur sehingga disebut lumpur aktif (activated
sludge). Tambahan kata aktif diberikan karena selain mereduksi substrat
(buangan), juga mempunyai permukaan yang dapat menyerap substrat
secara aktif.
Secara prinsip satuan operasi proses lumpur aktif tanpa daur ulang
dilukiskan dalam gambar. Air buangan dalam keadaan tersuspensi. Di dalam
reaktor konsentrasi zat organik akanberkurang karena adanya aktivitas
mikroorganisme. Kondisi aerobik dicapai dengan aerasi yang juga berfungsi
untuk menjaga kandungan rekator senantias tersuspensi dengan baik. Secara
kontinu keluaraan dari reaktor (overflow) dialirkan ke dalam tangki
pengendap, untuk memisahkan fraksi padat dan cair. Pemisahan fraksi padat
ini dapat dilakukan secara gravitasi karena berat jenis padatan lebih besar
daripada air.

3
Farida Hanum, dkk., APLIKASI ELEKTROKOAGULASI DALAM PENGOLAHAN
LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT, Vol. 4, No. 4, 2015, hal 14-15.
4
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 16.
Gambar.... Satuan Proses Pengolahan Biologik Kontinu Tanpa Daur Ulang.
Sumber : Tjandra, Retno (2003)

 Laguna Teraerasi (Aerated Lagoon)


Suatu laguna teraerasi biasanya berbentuk kolam dengan kedalaman
antara 2,5 hingga 5 m dan luas hingga beberapa hektar. Dalam laguna
aerobik, oksigen terlarut dan padatan tersuspensi teraduk dengan baik, dan
mikroorganisme yang bekerja pun termasuk mikroorganisme aerobik. Bagi
laguna fakultatif ( facultative lagoons ) hanya bagian permukaan saja yang
diaduk, dan sebagian dari padatan akan mengendap di dasar kolam. Padatan
tersebut akan terdekomposisi oleh mikroorganisme anaerobik, sedangkan
prodeuk dari proses ini akan dioksidasi oleh organisme yang tumbuh di
atasnya. Kebutuhan energi untuk laguna fakultatif relatif lebih rendah
dibanding dengan laguna aerobik. Sistem laguna mempunyai efisiensi
pengurangan zat organik yang tidak kalah bila dibandingkan dengan proses
lumpur aktif. Disamping itu, sistem laguna mempunyai kelebihnan yaitu
tidak diperlukan pengeluaran lumpur dari sistem, tetapi kelemahan yang
nyata adalah memerlukan tanah yang relatif luas.
Pada gambar 5.4 memperlihatkan suatu konfigurasi yang optimal bagi
laguna, yaitu sebuah laguna aerobik disusul dengan laguna fakultatif dan
laguna pengendap bila diperlukan untuk membersihkan padatan tersuspensi
pada aliran keluar (effluent). Laguna aerobik mendegradasi organik terlarut,
tetapi menambah konsentrasi biomassa / mikroorganisme. Waktu tinggal
hidaraulik dalam laguna aerobik sekitar 1-3 hari. Laguna fakultatif
mengurangi BOD yang tersisa dan sebagian besar dari padatan tersuspensi
dengan waktu tinggal sekitar 3-6 hari. Bila padatan tersuspensi dari aliran
keluar harus lebih kecil dari 50 mg/l, maka diperlukan sebuah laguna
pengendapan.5
5
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 18.
Gambar..... Konfigurasi Laguna yang Terdiri dari Laguan Aerobik,
Fakultatif, dan Pengendapan. Sumber : Tjandra, Retno (2003)

 Saringan Percik (Trickling Filters)


Saringan percik merupakan sistem biologis unggun-terjejal (packed
bed) yang terdiri dari tumpukan batu atau bahan yang terbuat dari plastik.
Bahan tersebut dikenal dengan nama medium penunjang (support medium)
yaitu penunjang pertumbuhan lapisan mikroorganisme (biofilm) di
permukaannya. Mikroorganisme yang tumbuh adalah jenis aerobik. Cara
kerja proses ini adalah sebagai berikut : ketika air limbah melewati
tumpukan media, zat organik mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme
yang hidup dalam biofilm dengan bantuan oksigen yang terdifusi melalui
lapisan tersebut. Gas karbon oksida yang terbentuk kemudian dilepaskan
keluar lapisan, ilustrasi sederhana dari proses tersebut diperlihatkan
gambar.6

6
Ibid., hal 19
Gambar..... Skema Sederhana Proses yang Terjadi di dalam Saringan
Percik. Sumber : Tjandra, Retno (2003)

Saringan percik tidak dapat mengurangi kandungan BOD lebih dari 85%
secara ekonomis. Walaupun demikian, sistem ini lebih mudah dan murah untuk
dioperasikan dengan proses lumpur aktif. Bila ingin mendapatkan aliran ke luar
dengan kualitas yang baik, sebagian dari aliran dapat disirkulasikan balik ke
dalam sistem, seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar... Sistem Saringan Percik. Sumber : Tjandra,


Retno (2003)

 Kontaktor Biologis Putar (Rotary Biological Cantactors)


Kontaktor biologis putar atau dikenal dengan nama RBC terdiri dari
sejumlah piringan (discs) yang dipasang pada poros yang berputar, seperti
pada gambar. Sekitar 40% dari volumenya terndam dalam tangki yang berisi
air limbah. Piringan adalah tempat bertumbuhnya lapisan mikroorganisme
(bio-film), dengan ketebalan lapisan antara 1 hingga 4 mm. Proses yang
terjadi pada sistem ini adalah sebagai berikut : ketika piringan berputar dan
keluar dari air limbah, piringan membawa sejumlah air limbah untuk
berkontak dengan udara, sehingga mikroorganisme dapat mengoksidasi zat
organik yang terlarut. Ketika piringan kembali tercelup dalam air, gaya
gesekan mengeluarkan kelebihan biomassa yang kemudian akan ditampung
pada tangki pengendap di hilir aliran.
Gambar... Kontraktor Biologis Putar yang Dioperasikan Secara Seri.
Sumber : Tjandra, Retno (2003)

Suatu sistem kontaktor biologis biasanya terdiri dari 2-4 unit dipasang
seri. Kinetika pengurangan BOD akan lebih baik bila dilaksanakan secara
bertahap. Kelebihan utama dari sistem ini dibandingkan dengan proses
lumpur aktif adalah energi yang diperlukan relatif rendah, sehingga ongkos
operasinya lebih murah.7
 Biofilter
Trickling filter atau lebih dikenal dengan nama biofilter tetes adalah
unit yang mengolah zat organik dari aliran air limbah domestik dengan
memanfaatkan mikroorganisme yang bersifat aerobik yang tumbuh secara
melekat pada suatu lapisan media padat, misal batu dan lainnya, dimana air
limbah berkontak secara menetes bersama udara. Teknologi ini memiliki
efisiensi pengolahan zat organik yang tinggi dengan kebutuhan energi yang
rendah, sehingga sangat sesuai untuk mengolah limbah cair domestik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja saringan tetes adalah:
a. tipe dan ketebalan media;
b. sistem pengaliran dan kontak udara;
c. tahapan proses pada filter;
d. laju resirkulasi, dan
e. distribusi aliran limbah.

7
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 20-21.
Gambar .... Mekanisme Proses Metabolisme Di Dalam Sistem Biofilm.
Disesuaikan dari Viessman and Hamer, (1985) , Hikami, (1992)

Aliran air limbah dialirkan menuju lapisan partikel padat sebagai


tempat melekat dan tumbuhnya lapisan biofilm. Mikroorganisme pada
lapisan biofilm aktif menguraikan zat organik dan nutrien untuk
pertumbuhan biofilm tersebut. Keuntungan dari pemanfaatan saringan tetes
adalah pengoperasiannya sederhana, tahan terhadap beban pencemar tiba-
tiba (schock loading) yang tinggi, sedikit biosolid yang meluruh dan sedikit
membutuhkan sumber tenaga listrik. Namun kerugiannya adalah
pengurangan BOD masih relatif rendah <85%, Efluen menghasilkan
padatan tersuspensi yang tinggi (20-30) mg/l, lapisan biofilm yang terlekat
mudah meluruh dan pengoperasian saringan sulit dikendalikan.
Air olahan dari sistem biofilter dapat digunakan sebagai sumber air
baku air daur ulang untuk tujuan tertentu, namun masih memerlukan
pengolahan lanjutan seperti lahan basah buatan atau filtrasi granular dan
desinfeksi. Daur ulang air limbah tersebut diperlukan di kawasan rawan air,
untuk peningkatan kualitas lingkungan serta dapat mendukung ketersediaan
penyediaan air bersih, dimana pada pengelolaan air perkotaan yang
terintegrasi menyarankan inovatif teknologi, yang dipilih berdasarkan
evaluasi siklus air yang holistik dan keberlanjutan sistem secara
keseluruhan.8

8
Eko Winar Irianto, ANALISIS HIDRODINAMIK ROTARY DISTRIBUTOR HIDRAULIK
TEKNOLOGI EGA-SATTIRA DAN PENGEMBANGANNYA UNTUK IRIGASI TETES-PUTAR,
Vol. 11, No. 1, 2016, Hal. 55-66.
 Pengolahan Air limbah Secara Anaerob
Proses pengolahan air limbah secara anaerob dipandang oleh banyak
ahli sebagai metoda-inti teknologi EPRP (Environmental Protection and
Resource Preservation) dan merupakan teknologi berkelanjutan
(Sustainable Technology). Kelebihan konsep pengolahan air limbah secara
anaerobik dibandingkan dengan metoda konvensional aerob adalah sebagai
berikut :
 proses berlangsung stabil,
 mengurangi biaya penangaan lumpur yang terbentuk,
 mengurangi biaya kebutuhan nitrogen dan fosfor,
 mengurangi kebutuhan luas lahan untuk instalasi,
 menghemat energi,
 mengurangi pencemaran udara off-gas,
 menghindari terjadinya busa untuk limbah yang mengandung surfaktan,
 mendegradasi zat organik yang tidak dapat diolah secara aerob,
 mengurangi tingkat toksisitas dari senyawa organik-terklorinasi,
 memungkinkan pengolahan limbah dari senyawa yang bersifat musiman.
Penggunaan pengolahan air limbah secara anaerobik lebih lanjut pada
masa mendatang akan semakin meluas, hal ini sebagian disebabkan oleh
penerapan teknologi reaktor anaerobik yang makin baik dan penggunaan
bioreaktor berkecepatan tinggi (high-rate bioreactor) merupakan kunci
suskses dari proses anaerob. Contoh-contoh industri skala nyata yang telah
menggunakan proses aerob : etanol, gula, bir, asam sitrat, selulosa, industri
makanan, enzim, pengolahan ikan, pengolahan daging, pemotongan hewan,
pengolahan susu, farmasi, kelapa sawit, pengolahan karet, pati, pengalengan
sayuran/buah-buahan, ragi, kertas dan pulp dan lain-lain.
Proses anaerob dapat diintegrasikan dengan proses biologis (aerob),
fisika atau kimia. Perkembangan tersebut diperlukan untuk memenuhi baku
mutu lingkungan yang makin ketat, meningkatkan efisisensi sistem dan
untuk pengambilan kembali (recover) produk yang bermanfaat. Pada proses
anaerobik, mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang dengan
mengubah zat organik air limbah menjadi gas metana dan CO 2 tanpa
kehadiran oksigen. Proses anaerobik umumnya digunakan untuk mengolah
air limbah dangan BOD diatas 4000 mg/l.9
d. Wetlands
Salah satu cara mengolah air limbah sebelum dibuang ke air untuk
mengurangi pencemaran air permukaan yang dimanfaatkan sebagai sumber air
yaitu dengan cara pengolahan air limbah adalah Constructed Wetlands (CWs).
Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas air dan mengurangi efek
berbahaya dari limbah, serta menyumbang upaya konservasi air. Secara umum
CWs dibedakan menjadi dua yaitu Free Water Surfase (FWS) yang tampak
sebagai kolam atau danau, dan Subsurfase Flow (SSF) yang dapat dikemas
sebagai taman.
Constructed Wetlands adalah salah satu rekayasa sistem pengolah limbah
yang dirancang dan dibangun dengan melibatkan tanaman air, tanah atau media
lain, dan kumpulan mikroba terkait, dirancang dengan perlakuan lebih
terkontrol. CWs dengan tipe Sub Surface Flow menggunakan vegetasi jenis
emergent, dimana hanya bagian akar yang terendam air. Pada sistim FWS,
aliran air berada di atas dasar wetland, dan akar tanaman berada pada lapisan
endapan dasar kolom air. Pada sistim SSF, aliran air menembus media berpori
seperti kerikil, tempat akar tanaman berada.

Gambar..... Contructed Wetland dengan pola aliran horiontal/HSSF.


Sumber: EPA,2006
9
Tjandra Setiadi, Retno Gumilang Dewi, PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI,
(DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, 2003), hal 21-22.
Gambar ......Constructed Wetland dengan pola aliran vertical/vSSF.
Sumber: Brix, 2005 dalam Vymazal (2010)

Constructed Wetlands dirancang, direncanakan, dibuat dan dioperasikan


untuk memberikan berbagai tujuan. CWs dibuat multi tujuan, misalnya
pengolahan limbah, penyediaan keragaman habitat dan satwa liar, mendukung
kegiatan rekreasi, penyimpanan air selama musim kering, dan menambah nilai
estetika di lingkungan. Fungsi CWs sebagai pengolah limbah bukan hanya
mengolah air limbah domestik, tetapi juga limbah industri, limbah rumah sakit
maupun limbah pertambangan. Untuk masing-masing fungsi sebagai pengolah
limbah, harus dirancang sesuai dengan karakter limbah yang diolah. Sebagai
pengolah limbah domestik, maka CWs harus didisain memenuhi fungsi
estetika, sehingga bisa ditampilkan sebagai Taman Tanaman Air di lingkungan
rumah.
Selain memanfaatkan tanaman air, CWs juga didisain dengan variasi
media. Kombinasi penggunaan media juga dapat meningkatkan kinerja SSF
CWs.Variasi penggunaan media juga dikembangkan untuk menunjang
perkembangan mikroba dan penurunan kandungan bahan pencemar. Media
dalam CWs sangat variatif dan bisa saling dikombinasikan seperti kerikil, pets,
arang, sekam, zeolit dan lain-lain sesuai dengan tujuan penggunaan CWs.
Tabel.... tipe tanaman dan bagian yang berhubungan dengan kolom
air dalam Contructed Wetland

Sistem SSF paling sesuai untuk pengolahan primer dari limbah, karena
tidak kontak langsung dengan kolom air dan atmosfir. Sistim SSF sangat
berguna untuk mengolah aliran septic tank atau air bekas setempat. Sistem SSF
juga digunakan untuk landfill leachate (lindi pada sistim pengolahan sampah)
dan limbah lain yang membutuhkan penghilangan material organik pada
konsentrasi tinggi, seperti SS, nitrat, pathogen dan polutan lain.
Kinerja CWs bisa dilihat dari kemampuannya dalam menurunkan kadar
pencemar atau parameter pencemar. Teknologi Constructed Wetlands dapat
diterapkan untuk daerah perkotaan yang tidak terjangkau fasilitas pengolah
limbah rumah tangga secara terpusat, atau tidak memiliki sarana pengolah
limbah terpusat. Constructed Wetlands dapat digunakan untuk pengolahan air
limbah secara biologis dengan memanfaatkan kemampuan tanaman untuk
menurunkan kadar polutan. Kemampuan masing-masing jenis tanaman dalam
menurunkan kadar polutan tidak sama. Kinerja CW lebih efektif dalam
menurunkan polutan jika menggunakan beberapa jenis tanaman dibandingkan
jika hanya menggunakan satu jenis tanaman.10
e. Teknik Bioremediasi
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih
untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan
kadar polutan tersebut. Pemerintah Indonesia telah mempunyai payung hukum
yang mengatur standar baku kegiatan Bioremediasi dalam mengatasi
permasalahan lingkungan melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Kep Men
LH No.128 tahun 2003, tentang tatacara dan persyaratan teknis dan
pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah terkontaminasi oleh minyak bumi
secara biologis (Bioremediasi) yang juga mencantumkan bahwa bioremediasi
dilakukan dengan menggunakan mikroba lokal. Saat ini, bioremediasi telah
berkembang pada pengolahan air limbah yang mengandung senyawa-senyawa
kimia yang sulit untuk didegradasi dan biasanya dihubungkan dengan kegiatan
industri.

10
Anna Catharina Sri Purna Suswati, Gunawan Wibisono, PENGOLAHAN LIMBAH
DOMESTIK DENGAN TEKNOLOGI TAMAN TANAMAN AIR (Constructed Wetlands), Vol. 2
No. 2, 2013, hal 70-73.
Gambar....Proses self-purification di sungai yang diadopsi pada IPAL penduduk
(Mudrack and Kunst, 1986; dalam Paul Lessard and Yann Le Bihan, 2003)

Pengolahan air tercemar secara biologi pada prinsipnya adalah meniru


proses alami self purification di sungai dalam mendegradasi polutan melalui
peranan mikroorganisma. Peranan mikroorganisma pada proses self
purification ini pada prinsipnya ada dua yaitu :
a. Pertumbuhan mikroorganisme menempel
Mikroorganisme ini keberadaannya menempel pada suatu permukaan
misalnya pada batuan ataupun tanaman air. Selanjutnya diaplikasikan pada
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPA) misalnya dengan sistem trickling
filter. Selama pengolahan aerobik air limbah domestik, genus bakteri yang
sering ditemukan berupa Gram-negatif berbentuk batang heterotrofik
organisme.
b. Pertumbuhan mikroorganisme yang tersuspesi
Mikroorganisme ini keberadaannya dalam bentuk suspensi di dalam air
yang tercemar. Selanjutnya diaplikasikan pada IPAL dengan sistem lumpur
aktif konvensional menggunakan bak aerasi maupun sistem SBR (Sequence
Batch Reactor). sistem pertumbuhan mikroorganisma yang tersuspensi
terdiri dari agregat mikroorganisma yang pada umumnya tumbuh sebagai
flocs dalam kontak dengan air limbah pada waktu pengolahan. Agregat atau
flocs, yang terdiri dari berbagai spesies mikroba, berperan dalam penurunan
polutan.11

Pemilihan Proses Pengolahan Air limbah


Pengolahan air limbah dapat dilakukan secara alamiah maupun dengan
bantuan peralatan. Pengolahan air limbah secara alamiah biasanya dilakukan
dengan bantuan kolam stabilisasi. Sedangkan pengolahan air limbah dengan
bantuan peralatan biasanya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah

Bambang, Priadie, TEKNIK BIOREMEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF DALAM UPAYA


11

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR, Vol. 10 No. (1), hal 38-48.


(IPAL). IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) adalah suatu perangkat peralatan
teknik beserta perlengkapannya yang memproses / mengolah cairan sisa proses
produksi pabrik, sehingga cairan tersebut layak dibuang ke lingkungan.
Pemilihan teknologi pengolahan air limbah tidak terlepas dari pemahaman
masing-masing proses yang terlibat. Dengan mempertimbangkan keuntungan
serta kerugian dari setiap proses maka dapat dipilih proses yang paling tepat
sehingga dihasilkan teknologi pengolahan limbah yang efisien, baik dalam biaya
(investasi dan operasi) dan energi serta efektif dalam menghasilkan kualitas efluen
yang sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Langkah pertama dalam
memilih proses yang tepat adalah mengkelompokkan karakteristik kontaminan
dalam air limbah menggunakan indikator parameter.

DAFTAR PUSTAKA
Hanum, Farida, dkk.,. 2015. APLIKASI ELEKTROKOAGULASI DALAM
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT. Jurnal Tekinik
Kimia USU. Vol. 4, No. 4 : 13-17.
Irianto, Eko Winar. 2016. ANALISIS HIDRODINAMIK ROTARY DISTRIBUTOR
HIDRAULIK TEKNOLOGI EGA-SATTIRA DAN PENGEMBANGANNYA
UNTUK IRIGASI TETES-PUTAR. Jurnal Irigasi – Vol. 11, No. 1: 55-66.
Priadie, Bambang. TEKNIK BIOREMEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF DALAM
UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR. Jurnal Ilmu Lingkungan.
Vol. 10 No. (1) : 38-48
Setiadi, Tjandra, Retno Gumilang Dewi. 2003. PENGELOLAAN LIMBAH
INDUSTRI. DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA INSTITUT TEKNOLOGI
BANDUNG.
Suswati, Anna Catharina Sri Purna, Gunawan Wibisono. 2013. PENGOLAHAN
LIMBAH DOMESTIK DENGAN TEKNOLOGI TAMAN TANAMAN AIR
(Constructed Wetlands). Indonesian Green Technology Journal. Vol. 2 No.
2 : 70-77.