Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

RUANG YUDISTIRA RSUD SANJIWANI GIANYAR

10 JANUARI 2019-16 JANUARI 2019

Oleh :

NI PUTU EVA PRADNYAYANTI

17.321.2700

A11-A

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

2020
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan dimana kuman atau mikroba
tumbuh dan berkembang biak dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna
(IDAI, 2011). Istilah ISK umum digunakan untuk menandakan adanya invasi
mikroorganisme pada saluran kemih (Haryono, 2012). ISK merupakan penyakit
dengan kondisi dimana terdapat mikroorganisme dalam urin yang jumlahnya
sangat banyak dan mampu menimbulkan infeksi pada saluran kemih (Dipiro dkk,
2011). ISK adalah keadaan adanya infeksi yang ditandai dengan pertumbuhan dan
perkembangbiakkan bakteri dalam saluran kemih, meliputi infeksi parenkim ginjal
sampai kandung kemih dengan jumlah bakteriuria yang bermakna (Soegijanto,
2010). (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme di dalam
saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih tidak mengandung bakteri,
virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih dapat terjadi baik di pria
maupun wanita dari semua umur, dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita
lebih sering menderita daripada pria (Sudoyo Aru,dkk 2013).
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahws Infeksi Saluran
Kemih (ISK) merupakan istilah umum untuk menyatakan adanya pertumbuhan
bakteri di dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi
di kandung kemih. Pertumbuhan bakteri yang mencapai > 100.000 unit koloni per
ml urin segar pancar tengah (midstream urine) pagi hari, digunakan sebagai
batasan diagnosa ISK.

2. Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih


Di Indonesia, ISK merupakan penyakit yang relatif sering pada semua usia
mulai dari bayi sampai orang tua. Semakin bertambahnya usia, insidensi ISK lebih
banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki karena uretra wanita lebih
pendek dibandingkan laki-laki (Purnomo, 2014). Menurut data penelitian
epidemiologi klinik melaporkan 25%-35% semua perempuan dewasa pernah
mengalami ISK. National Kidney and Urology Disease Information
Clearinghouse (NKUDIC) juga mengungkapkan bahwa pria jarang terkena ISK,
namun apabila terkena dapat menjadi masalah serius (NKUDIC, 2012). Infeksi
saluran kemih (ISK) diperkirakan mencapai lebih dari 7 juta kunjungan per tahun,
dengan biaya lebih dari $ 1 miliar. Sekitar 40% wanita akan mengalami ISK
setidaknya sekali selama hidupnya, dan sejumlah besar perempuan ini akan
memiliki infeksi saluran kemih berulang (Gradwohl, 2011) Prevalensi pada lanjut
usia berkisar antara 15 sampai 60%, rasio antara wanita dan laki-laki adalah 3
banding 1. Prevalensi muda sampai dewasa muda wanita kurang dari 5% dan laki-
laki kurang dari 0,1%. ISK adalah sumber penyakit utama dengan perkiraan 150
juta pasien pertahun diseluruh dunia dan memerlukan biaya ekonomi dunia lebih
dari 6 milyar dollar (Karjono, 2012).

3. Etiologi Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih sebagian besar disebabkan oleh bakteri,virus dan jamur
tetapi bakteri yang sering menjadi penyebabnya. Penyebab ISK terbanyak adalah
bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus dan akan
naik ke sistem saluran kemih antara lain adalah Escherichia coli, Proteus sp,
Klebsiella, Enterobacter (Purnomo, 2014). Pasca operasi juga sering terjadi infeksi
oleh Pseudomonas, sedangkan Chlamydia dan Mycoplasma bisa terjadi tetapi
jarang dijumpai pada pasien ISK. Selain mikroorganisme, ada faktor lain yang
dapat memicu ISK yaitu faktor predisposisi (Fauci dkk., 2011). E.coli adalah
penyebab tersering. Penyebab lain ialah klebsiela, enterobakteri, pseudomonas,
streptokok, dan stafilokok (SudoyoAru, dkk 2013).
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain :
a. Escherichia Coli : 90% penyebab ISK uncomplicated
b. Psedomonas, proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan lain-lain
2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain :
a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif.
b. Mobilitas menurun
c. Nutrisi yang sering kurang baik
d. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
e. Adanya hambatan pada aliran darah
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

Faktor Resiko Menurut Suharyanto dan Abdul (2008) faktor resiko yang
umum pada penderita ISK adalah :
1. Ketidakmampuan atau kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan
isinya secara sempurna
2. Penurunan daya tahan tubuh
3. Peralatan yang dipasang pada saluran perkemihan seperti kateter dan
prosedur sistoskopi

4. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih


Menurut Nurharis Huda Amin, yang dikutip dari Masjoer Arif, (2003) Infeksi
Saluran kencing (ISK) terjadi akibat infeksi pada traktus urinarus yang disebabkan
oleh masuknya mikroorganisme patogenik dengan atau tanpa disertainya tanda
dan juga gejala. Mikroorganisme ini dapat masuk bisa dikarenakan penggunaan
steroid jangka panjang, makanan yang terkontaminasi bakteri, proses
perkembangan usia lanjut, anomali saluran kemih, higine yang tidak bersih, dan
hubungan seksual yang tidak sehat, serta akibat dari cidera uretra. Infeksi saluran
kencing ini dapat mengenai kandung kemih, prostat, uretra, dan juga ginjal
Pada pasien dengan Infeksi saluran kencing, umumnya retensi urin terjadi
akibat dari obstruksi dan menyebabkan peningkatan tekanan di vesika urinaria
serta penebalan diding vesika, ketika hal ini terjadi maka menyebabkan penurunan
kontraksi vesika sehingga menimbullkan tahanan pada kandung kemih, urin yang
tertahan pada kandung kamih dalam jangka waktu yang lama (lebih dari 12 jam )
merupakan media yang baik untuk perkembangan mikroorganisme patogen seperti
E. coli, Klabsiella, prosteus, psudomonas, dan enterobacter.
Ketika bakteri telah berhasil berkembang, maka tubuh akan melakukan respon
pertahanan dengan merangsang hipotalamus untuk menstimulus sistem pertahanan
tubuh untuk memfagosit antigen tersebut sehingga akan menyebabkan
peningkatan metabolisme dan muncul gejala demam, ketika antigen tidak mampu
di fagosit oleh sistem imun kita maka akan menyebabkan munculnya bakteremia
skunder yang menjalar ke ureter sehingga menyebabkan iritasi dan peradangan
pada ureter, umumnya ketika hal ini terjadi maka akan menyebabkan pasien
mengalami oliguria. Selain itu ketika proses peradangan terjadi akan
meningkatkan frekuensi dorongan kontraksi uretra dan memunculkan persepsi
nyeri akibat proses depresi syaraf perifer. Selain itu, respon pertahanan tubuh kita
juga akan merangsang hipotalamus sehingga muncul lah gejala seperti demam
serta nyeri di bagian yang terinfeksi.
Pathway Infeksi Saluran Kemih

Masuknya mikroorganisme
patogenik

Masuk ke traktus Urinarius

Infeksi Saluran Kemih

Tekanan vesika urinaria


meningkat

Urin tertahan dalam


kandung kemih

Sulit berkemih Bakteri semakin


berkembang

Retensi Urine
Respon pertahanan
tubuh bekerja

Sistem imun gagal di


fagosit Merangsang Hipotalamus

Muncul bacteremia Metabolisme Meningkat


sekunder

Frekuensi dorongan Iritasi Ureter


kontraksi uretra meningkat
Kelemahan Fisik Hipertermia

Oliguria
Depresi Saraf Perifer
Gangguan Mobilitas
Fisik
Nyeri Akut Gangguan Eliminasi
Urine
5. Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih
Menurut Purnomo (2012), (ISK) diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu:
ISK uncomplicated (sederhana) dan ISK (rumit). Istilah ISK uncomplicated
(sederhana) adalah infeksi saluran kemih pada pasien tanpa disertai kelainan
anatomi maupun kelainan struktur saluran kemih. ISK complicated (rumit) adalah
infeksi saluran kemih yang terjadi pada pasien yang menderita kelainan anatomik
atau struktur saluran kemih, atau adanya penyakit sistemik kelainan ini akan
menyulitkan pemberantasan kuman oleh antibiotika.
Klasifikasi infeksi saluran kemih dapat dibedakan berdasarkan anatomi dan
klinis. Infeksi saluran kemih diklasifikasikan berdasarkan anatomi, yaitu:
1. Infeksi saluran kemih bawah Berdasarkan presentasi klinis dibagi
menjadi 2 yaitu:
a. Perempuan
Sistitis adalah infeksi saluran kemih disertai bakteriuria bermakna
dan Sindroma uretra akut
b. Laki-laki
Berupa sistitis, prostatitis, epidimidis, dan uretritis.
2. Infeksi saluran kemih atas Berdasarkan waktunya terbagi menjadi 2
yaitu:
a. Pielonefritis akut (PNA), adalah proses inflamasi parenkim ginjal
yang disebabkan oleh infeksi bakteri (Sukandar, 2011).
b. Pielonefritis kronis (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut dari
infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil (Liza,
2011).
3. Berdasarkan klinisnya, ISK dibagi menjadi 2 yaitu :
a. ISK Sederhana (tak berkomplikasi)
b. ISK berkomplikasi
6. Manifestasi Klinis Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih dapat diketahui dengan beberapa gejala seperti:
1. Demam,
2. Susah buang air kecil,
3. Nyeri setelah buang air besar (disuria terminal),
4. Sering buang air kecil,
5. Kadang-kadang merasa panas ketika berkemih,
6. Nyeri pinggang dan nyeri suprapubik (Permenkes, 2011)
Namun, gejala-gejala klinis tersebut tidak selalu diketahui atau ditemukan pada
penderita ISK. Untuk memegakan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, ureum dan kreatinin, kadar gula
darah, urinalisasi rutin, kultur urin, dan dip-stick urine test. (Stamm dkk, 2001).

7. Pemeriksaan Penunjang Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih dapat diketahui dengan beberapa gejala seperti demam,
susah buang air kecil, nyeri setelah buang air besar (disuria terminal), sering
buang air kecil, kadang-kadang merasa panas ketika berkemih, nyeri pinggang dan
nyeri suprapubik (Kemkes RI , 2011).
Pemeriksaan penunjang pada pasien ISK yaitu, pemeriksanaan darah dan
pemeriksaan urin. Dikatakan ISK jika terdapat kultur urin positif ≥100.000
CFU/mL. Ditemukannya positif (dipstick) leukosit esterase adalah 64 - 90%.
Positif nitrit pada dipstick urin, menunjukkan konversi nitrat menjadi nitrit oleh
bakteri gram negatif tertentu (tidak gram positif), sangat spesifik sekitar 50%
untuk infeksi saluran kemih. Temuan sel darah putih (leukosit) dalam urin (piuria)
adalah indikator yang paling dapat diandalkan infeksi (> 10 WBC / hpf pada
spesimen berputar) adalah 95% sensitif tapi jauh kurang spesifik untuk ISK.
Secara umum, > 100.000 koloni/mL pada kultur urin dianggap diagnostik untuk
ISK (M.Grabe dkk, 2015). Penegakan diagnosis ISK selain dengan manifestasi
klinis juga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti: analisis urin rutin,
pemeriksaan mikroskop urin segar tanpa sentrifus, kultur urin juga jumlah kuman
CFU/ml.
Pemeriksaan leukosit dapat menggunakan dipstick maupun secara
mikroskopis. Urin dikatakan leukosituria jika secara mikroskopis didapatkan >10
leukosit per mm3 atau terdapat >5 leukosit per lapang pandang. Selain
leukosituria pada ISK juga dapat ditemukan hematuria namun tidak dapat
dijadikan indikasi terjadinya ISK. Pemeriksaan hematuria dan protein dalam urin
memiliki spesifitas dan sensitifitas yang rendah dalam diagnosis ISK (Corwin,
2009).

8. Therapy atau Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih


Tatalaksana terapi dapat diawali dengan pertimbangan faktor pasien, faktor
mikrobiologis dan data hasil klinis (Kurniawan, 2010). Antibiotik (antibakteri)
adalah zat yang diperoleh dari suatu sintesis atau yang berasal dari senyawa
nonorganik yang dapat membunuh bakteri patogen tanpa membahayakan manusia
(inangnya). Antibiotik harus bersifat selektif dan dapat menembus membran agar
dapat mencapai tempat bakteri berada (Priyanto, 2010). Penggunaan antibiotik
yang tidak tepat dapat menyebabkan kekebalan bakteri, munculnya bakteri-bakteri
yang resisten Tatalaksana terapi dapat diawali dengan pertimbangan faktor pasien,
faktor mikrobiologis dan data hasil klinis (Kurniawan, 2010). Antibiotik
(antibakteri) adalah zat yang diperoleh dari suatu sintesis atau yang berasal dari
senyawa nonorganik yang dapat membunuh bakteri patogen tanpa membahayakan
manusia (inangnya). Antibiotik harus bersifat selektif dan dapat menembus
membran agar dapat mencapai tempat bakteri berada (Priyanto, 2010).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan kekebalan bakteri,
munculnya bakteri-bakteri yang resisten

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Data yang akan
dikumpulkan mencakup:
A. Identitas
Identitas dalam pengkajian ada 2, yaitu identitas pasien dan identitas
penanggung jawab pasien atau keluarga pasien. Identitas pasien menjelaskan
tentang nama pasien, alamat, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan serta berisi tanggal MRS, tanggal dilakukannya pengkajian, no
register dan diagnose medis. Sedangkan dalam identitas penanggung jawab
berisi nama penanggung jawab, hubungan penanggung jawab dengan pasien,
alamat serta pekerjaan penanggung jawab.

B. Status Kesehatan
1. Status Kesehatan Saat Ini
a. Keluhan Utama
Keluhan utama biasanya dijelaskan mengenai keluhan pasien ketika MRS
dan ketika dilakukan pengkajian. Keluhan utama pada pasien ISK ialah
merasa nyeri saat buang air kecil, demam, buang air kecil secara terus
menerus
b. Alasan Masuk Rumah Sakit
Biasanya pasien atau keluarga akan menjelaskan bagaimana perjalanan
penyakit yang dialami pasien sehingga pasien dibawa ke rumah sakit.
c. Upaya Untuk Mengatasi
Menjelaskan tentang upaya apa saja yang telah dilakukan oleh keluarga
atau pasien sendiri, dalam menangani penyakit yang dideritanya.
2. Status Kesehatan Masa Lalu
a. Penyakit yang Pernah Dialami
Pasien atau keluarga menjelaskan apakah pernah mengalami atau
mengidap penyakit serupa atau penyakit lainnya sebelumnya
b. Pernah Dirawat
Pasien menjelaskan apakah ia pernah dirawat karena suatu penyakit atau
tidak
c. Alergi
Pasien menjelaskan apakah memiliki riwayat alergi terhadap makanan,
obat dan lain sebagainya.
d. Kebiasaan
Pasien menjelaskan apakah ia memiliki kebiasaan seperti merokok,
meminum kopi, mengkonsumi alcohol dan lain sebagainya.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien atau keluarga menjelaskan apakah dalam silsilah keluarga pasien
terdapat penyakit bawaan atau penyakit turunan.

C. Diagnosa Medis dan Therapy


Berisikan data mengenai diagnose medis dan terapi apa saja yang sudah
dijalani oleh pasien. Disertai pula dengan nama obat-obatan yang dikonsumsi,
dosis obat, rute pemberian obat, indikasi dan juga efek samping. Serta dapat
dilampirkan hasil pemeriksaan penunjang pasien
D. Pola Kebutuhan Dasar
Disesuaikan dengan menggunakan format Gordon berdasarkan keterangan
klien.
1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Pasien atau keluarga menjelaskan mengenai persepsinya terhadap
kesehatan dan bagaimana ia mengelola kesehatannya sehingga dapat
meningkatkan kualitas kesehatannya.
2. Pola Nutrisi-Metabolik
Pada pola ini, pasien atau keluarga menjelaskan mengenai asupan nutrisi
pasien, bagaimana nafsu makannya, apa saja yang dimakan dan diminum
dan berapa porsi atau cc jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi
saat sudah sakit maupun sebelum sakit.
3. Pola Eliminasi
Pasien menjelaskan bagaimana proses eliminasi BAB dan BAK ketika
sebelum sakit dan sudah sakit. Lengkap dengan berapa kali BAB/BAK
dalam sehari, jumlahnya, warna, dan konsistensi.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Pasien atau keluarga menjelaskan tentang bagaimana klien melakukan
aktivitasnya atau melakukan pergerakan sebelum sakit maupun sesudah
sakit. Apakah pasien dapat melakukannya dengan mandiri, dibantu oleh
orang lain, dibantu orang lain dan alat, atau bergantung total.
5. Pola Kognitif dan Persepsi
Pasien menjelaskan mengenai apakah fungsi panca inderanya masih bagus
dan pengetahuannya tentang kesehatan selama ini
6. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Pasien menjelaskan mengenai konsep dirinya, bagaimana ideal dirinya,
pandangannya terhadap dirinya sendiri dan apakah ia telah mampu
memahami dirinya sendiri

7. Pola Tidur dan Istirahat


Pasien menjelaskan mengenai kondisi tidurnya sebelum sakit dan saat
sakit. Apakah tidurnya nyenyak, berapa lama ia tertidur, apakah ada
kendala ketika ia tertidur.
8. Pola Peran dan Hubungan
Pasien menjelaskan mengenai perannya dalam kehidupan sehari-hari,
bagaimana kehidupan sosialnya/ bagaimana ia berhubungan atau
berinteraksi dengan orang lain
9. Pola Seksual dan Reproduksi
Pasien menjelaskan mengenai apakah ia memiliki gangguan atau kendala
dalam seksualitas dan system reproduksinya baik sebelum sakit maupun
saat sakit.
10. Pola Toleransi Stress dan Koping
Pasien menjelaskan bagaimana kondisi psikisnya ketika ia mengidap
penyakit ini. Apakah ia terlalu berpikir tentang penyakitnya dana pa yang
dilakukannya untuk tetap tenang dalam menghadapi masalah penyakitnya.
11. Pola Nilai dan Kepercayaan
Pasien menjelaskan tentang nilai-nilai spiritual yang diyakininya.

E. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Kesadaran komposmestis, gelisah, dan lelah.
GCS : Verbal: …. Psikomotor: ….. Mata: …..
Tanda-Tanda Vital : TD ….. Nadi …. Suhu …. RR….

2) Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan Leher
Pengkajian melalui inspeksi dan palpasi pada daerah kepala dan
leher pasien. Periksa apakah ada peningkatan tekanan vena
jugularis.
b. Mata
Pengkajian dengan inspeksi dan palpasi, mengenai kesimetrisan,
kondisi konjungtiva, pupil dan sklera apakah ada nyeri tekan atau
tidak.

c. Hidung
Pengkajian dengan inspeksi dan palpasi, mengenai kesimetrisan,
kondisi bulu hidung dan apakah ada nyeri tekan atau tidak
d. Telinga
Pengkajian dengan inspeksi dan palpasi, mengenai kesimetrisan,
apakah ada benjola atau tidak.
e. Mulut
Pengkajian dengan inspeksi dan palpasi, mengenai kondisi daerah
mulut apakah ada stomatitis, bau mulut, kondisi mukosa bibir, dan
lain sebagainya.
f. Dada
Paru-Paru
Pengkajian dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
mengenai suara paru apakah normal atau ada gangguan
Jantung
Pengkajian dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
mengenai suara paru apakah normal atau ada gangguan
g. Abdomen
Pengkajian dengan inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi

F. Analisa Data
Disesuaikan dengan data yang diperoleh dari klien, dilengkapi dengan
interpretasi dan masalah keperawatan yang muncul

2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Eliminasi Urine berhubungan dengan iritasi kandung kemih yang
ditandai dengan desakan berkemih, sering buang air kecil, distensi kandung
kemih, berkemih tidak tuntas, nokturia, dan enuresis
2. Retensi Urine berhubungan dengan peningkatan tekanan uretra, ditandai
dengan sensasi penuh pada kandung kemih, dysuria, distensi kandung kemih,
inkontinensia berlebih, dribbling
3. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan perubahan metabolism
ditandai dengan mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, kekuatan otot
menurun, kelemahan fisik, gerakan terbatas
4. Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi)
ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, sulit tidur, gelisah,
tekanan darah meningkat, skala nyeri 5-10
5. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolism ditandai dengan
suhu tubuh diatas normal, akral teraba hangat, kulit merah, kejang, takikardia

3. Intervensi Keperawatan

No
NOC NIC Rasional
Dx
1 Setelah dilakukan asuhan Manajemen Eliminasi - Mengkaji output
keperawatan selama ..x24 Urine urine pasien dan
jam diharapkan tidak ada Observasi: menentukan
gangguan dalam eliminasi - Monitor eliminasi urine normal atau
urin pasien dengan kriteria - Identifikasi tanda dan tidaknya jumlah
hasil: gejala retensi urine urine yang
Nursing Treatment keluar
- Pasien dapat berkemih
- Ambil sampel urine - Retensi urine
dengan normal
tengah dan kultur merupakan salah
- Tidak ada desakan
- Catat waktu-waktu dan satu tanda
berkemih yang urgensi
haluaran berkemih adanya
- Tidak ada distensi
- Anjurkan untuk minum gangguan
kandung kemih
yang cukup eliminasi pada
- Frekuensi BAK
Education: urine
membaik
- Ajarkan mengenali tanda - Sampel urine
berkemih dan waktu yang untuk
tepat untuk berkemih melakukan
Collaboration: pemeriksaan
- Kolaborasi pemberian laboratorium
obat supositoria uretra - Mempermudah
pemantauan
mengenai cairan
pasien
(eliminasi urine)
- Minum yang
cukup
membantu
proses balance
cairan pasien
- Pasien harus
tahu kapan dia
berkemih
- Supositoria
uretra
merupakan obat
utk gangguan
pada uretra,
khususnya
berkemih
2 Setelah dilakukan asuhan Manajemen Eliminasi - Mengkaji output
keperawatan selama ..x24 Urine urine pasien dan
jam diharapkan retensi - Monitor eliminasi urine menentukan
urine pasien teratasi dengan - Identifikasi tanda dan normal atau
kriteria hasil: gejala retensi urine tidaknya jumlah
- Ambil sampel urine urine yang
- Pasien dapat berkemih
tengah dan kultur keluar
dengan normal
- Catat waktu-waktu dan - Retensi urine
- Tidak ada desakan
haluaran berkemih merupakan salah
berkemih yang urgensi
- Anjurkan untuk minum satu tanda
- Tidak ada distensi
yang cukup adanya
kandung kemih
- Ajarkan mengenali tanda gangguan
- Frekuensi BAK
berkemih dan waktu yang eliminasi pada
membaik
tepat untuk berkemih urine
- Kolaborasi pemberian - Sampel urine
obat supositoria uretra untuk
melakukan
pemeriksaan
laboratorium
- Mempermudah
pemantauan
mengenai cairan
pasien
(eliminasi urine)
- Minum yang
cukup
membantu
proses balance
cairan pasien
- Pasien harus
tahu kapan dia
berkemih
- Supositoria
uretra
merupakan obat
utk gangguan
pada uretra,
khususnya
berkemih
3 Setelah dilakukan asuhan Dukungan Mobilisasi - Respon tubuh
keperawatan selama ..x24 Observasi: ketika dilakukan
jam diharapkan mobilitas - Identifikasi toleransi fisik pergerakan atau
fisik pasien tidak terganggu melakukan pergerakan mobilisasi
dengan kriteria hasil: - Monitor kondisi umum - KU pasien
selama melakukan penting guna
- Pergerakan ekstremitas
mobilisasi menentukan
meningkat
kegiatan
- Kekuatan otot Nursing Treatment:
selanjutnya
meningkat
- Rentang gerak (ROM) - Fasilitasi aktivitas - Alat bantu

mobilisasi dengan alat seperti kursi


meningkat
bantu roda, dan lain

- Libatkan keluarga untuk sebagainya

membantu pasien dalam - Peran keluarga


mempermudah
meningkatkan pergerakan
pasien

Education: melakukan
mobilisasi
- Ajarkan mobilisasi - Mobilisasi
sederhana yang harus sederhana
dilakukan seperti duduk,
- Jelaskan tujuan dan miring kanan-
prosedur mobilisai kiri dan lain
sebagainya
- Pasien harus
tahu tujuan
dilakukannya
mobilisasi
4 Setelah dilakukan asuhan Manajemen Nyeri - Identifikasi
keperawatan selama ..x24 Observasi : karakteristik
jam diharapkan nyeri - Identifikasi lokasi, nyeri pasien
berkurang atau terkontrol karakteristik, dan skala secara bertahap
dengan KH : nyeri
Nursing Treatment
- Skala nyeri dalam
- Berikan teknik - Teknik
rentang normal 0-1
nonfarmakologis untuk nonfarmakologis
- Pasien dapat rileks
mengurangi rasa nyeri diterapkan
- mampu mengontrol
karena nyeri
nyeri (tahu peyebab
membutuhkan
nyeri, mampu
teknik atau
menggunakan teknik
strategi
nonfarmakologi untuk
penanganan lain
mengurangi nyeri,
selain obat
mencari bantuan)

- Fasilitasi istirahat dan - Pasien dengan


tidur nyeri
membutuhkan
istirahat dan
tidur yang cukup

- Pasien perlu
Education:
mengetahui cara
- Jelaskan strategi
untuk
meredakan nyeri
menangani nyeri
yang dialami

- Pasien dengan
Collaboration
nyeri
- Kolaborasi pemberian
membutuhkan
analgetik
analgetik Pereda
nyeri

5 Setelah dilakukan asuhan Manajemen hipertermi : - Suhu dikontrol


keperawatan selama .....x24 Obervasi setiap 2 jam
jam, diharapkan hipertermi - Monitor suhu paling untuk
pada pasien dapat teratasi tidak setiap 2 jam, sesuai menentukan
dengan kriteria hasil: kebutuhan tindakan
- Suhu tubuh dalam - Monitor suhu dan warna pengobatan
rentang normal kulit. selanjutnya
(36,5-37,50C) Nursing Treatmen - Suhu dan warna
- Adanya kejang - Tingkatkan intake cairan kulit dimonitor
menjadi tidak ada dan nutrisi adekuat untuk mengetahui
- Kulit kemerahan - Gunakan matras perkembangan
menjadi tidak ada. pendingin, selimut yang pasien
mensirkulasi air, mandi - Matras pendingin
air hangat, kantong es dapat membantu
atau bantalan jel, dan menurunkan suhu
kateterisasi pendingin tubuh diatas
intravaskular untuk normal
menurunkan suhu tubuh, - Indikasi
sesuai kebutuhan. kelelahan akibat
Education panas
- Informasikan pasien dan diedukasikan
keluarga pasien mengenai pada keluarga
indikasi adanya kelelahan pasien agar
akibat panas dan mengetahui
penanganan emergensi perkembangan
yang tepat, sesuai kesehatan pasien
kebutuhan. - Termoregulasi
- Diskusikan pentingnya perlu
termoregulasi dan didiskusikan
kemungkinan efek untuk mengetahui
negatif dari demam yang efek yang
berlebihan. mungkin muncul
Collaboration - Obat antipiretik
- Kolaborasikan dengan dapat
dokter terkait pemberian menurunkan suhu
obat antipiretik. tuvuh yang diatas
normal

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan disesuaikan dengan intervensi keperawatan yang telah
dibuat, disertai tanggal dan waktu pelaksanaan tindakan.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap penilaian dari asuhan keperawatan
yang telah dilakukan apakah masalah pasien teratasi atau tidak. Dengan
menggunakan format SOAP.
DAFTAR PUSTAKA

Moorhead, sue., dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Diterjemahkan oleh
Nurjannah, Intansari., dkk. 2016. Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi Kelima.
Yogyakarta: Mocomedia
Muthia, Dewi. 2012. Laporan Pendahuluan Pasien dengan ISK. Tersedia pada:
https://www.academia.edu/17000839/laporan_pendahuluan_pasien_dengan_isk
diakses pada Selasa, 7 Januari 2020
M. Bulechek, Gloria., dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Diterjemahkan
oleh Nurjannah, Intansari., dkk. 2016. Pengukuran Intervensi Kesehatan Edisi
keenam. Yogyakarta: Mocomedia
Sutarman, RH. 2016. ISK. Tersedia pada http://eprints.ums.ac.id/44652/5/BAB%201.pdf
diakses pada Rabu, 8 Januari 2020
Taurimasari, Nurvina. 2015. Laporan Pendahuluan Infeksi Saluran Kemih. Tersedia pada
https://www.scribd.com/document/288283569/Laporan-Pendahuluan-Infeksi-
Saluran-Kemih diakses pada Rabu, 8 Januari 2020
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:
PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. (Definisi dan
Tindakan Keperawatan). Jakarta Selatan: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. (Definisi dan
Kriteria Hasil Keperawatan). Jakarta Selatan: DPP PPNI.
Wulandari, Mia. 2014. Infeksi Saluran Kemih. Tersedia pada
http://repository.ump.ac.id/2489/3/MIA%20WULANDARI%20BAB%20II.pdf
diakses pada Selasa, 7 Januari 2020