Anda di halaman 1dari 23

RLAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

KARBOHIDRAT

NAMA MAHASISWA :

Rizal Ainur Ichsan

1321820014

INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

SERPONG

2019
I. Tujuan Praktikum :
1. Mempelajari dan memahami teknik pengujian secara kualitatif dari
karbohidrat.
2. Memahami cara memisahkan dan identifikasi dari karbohidrat secara
kualitatif.
3. Untuk mengidentifikasi sifat-sifat umum berbagai jenis karbohidrat
berdasarkan terbentuknya furfural, berdasarkan sifat pereduksinya dan jenis
polisakarida berdasarkan perubahan warna lodin yang terikat pada molekul
polisakarida sebelum dan setelah terhidrolisis.

II. Dasar Teori


1. Karbohidrat
Karbohidrat terdiri dari unsur C, H, dan O. Jumlah atom hydrogen dan
oksigen merupakan perbandingan 2:1. (Anna Poedjiadi,1994) Karbohidrat dapat
dibedakan menjadi: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida
ialah karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi
karbohidrat lain. Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena
terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon. Menurut Sunita Almatsier, ada tiga jenis
heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama,
yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya
terletak pada cara penyusunan atom-atom hydrogen dan oksigen di sekitar atom-
atom karbon. (Sunita Almatsier,2009)
Glukosa terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur,
buah, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Selain dari sumber
tersebut, glukosa dihasilkan pula sebagai hasil cernaan pati menjadi dekstrin,
dekstrin berubah menjadi maltose, dan akhirnya menjadi dua molekul gula
glukosa.( Kartasapoetra dan Marsetyo, 1995)Glukosa memegang peranan sangat
penting dalam ilmu gizi. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk
karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber
energi. Dalam keadaan normal, system syaraf pusat hanya dapat menggunakan
glukosa sebagai sumber energy. Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah
adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan
glukosa, C6H12O6 namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa
merangsang jonjot kecapan lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Gula ini
terdapat dalam madu bersama glukosa, dalam buah, nektar bunga, dan juga di
dalam sayur. (Sunita Almatsier,2009 )Gambar 2.1 berikut merupakan gambar
struktur glukosa dan fruktosa.

Gambar 2.1 Struktur Glukosa dan Fruktosa


Sedangkan oligosakarida adalah karbohidrat yang terdiri dari 3-10 unit
monosakarida. Contohnya ialah rafinosa trisakarida (Gal-Glc-Fuc) dan stasiosa
tetrasakarida (Gal-Gal-Glc-Fuc). Keduanya terdapat pada biji-bijian. Karena tidak
dapat dicerna pada usus halus, keduanya menyediakan substrat untuk fermentasi
bakteri di usus besar dan khususnya pembentukan gas (gas lambung).
Polisakarida ialah karbohidrat yang lebih dari sepuluh satuan
monosakarida dan dapat berantai lurus atau bercabang. Kebanyakan dari gula
tersebut mengandung beberapa ratus atau bahkan ribuan gula sederhana.
Polisakarida dirombak dalam saluran pencernaan menjadi karbohidrat yang
sederhana dengan kelengkapan tingkatan yang beragam.Adanya karbohidrat
dalam makanan dapat diidentifikasi secara kualitatif maupun kuantitatif. Uji
kualitatif karbohidrat yang mendasarkan pada pembentukan warna dapat
dilakukan dengan cara:
a. Uji molish
Uji ini berlaku umum, baik untuk aldosa maupun ketosa. Caranya,
karbohidrat ditambah H2SO4 melalui dinding-dinding tabung. Asam sulfat akan
menyerap air dan membentuk furfural yang selanjutnya dikopling dengan α-
naphtol membentuk senyawa gabungan berwarna ungu. Jika yang dideteksi
pentose akan terbentuk furfural, sementara itu jika aldosa yang dideteksi akan
terbentuk hidroksimetilfurfural. (Abdul Rahman dan Sumantri,2014)
b. Uji selliwanof
Uji ini positif terhadap ketosa, misal fruktosa. Akan tetapi negative
terhadap aldosa. Pereaksi dibuat dengan mencampurkan resorsinol dengan HCl
pekat kemudian diencerkan dengan akuades. Uji dilakukan dengan menambahkan
larutan sampel ke dalam pereaksi lalu dipanaskan dalam air mendidih. Adanya
warna merah menunjukkan adanya ketosa.
c. Uji benedict
Uji ini positif untuk gula pereduksi/ gula inversi seperti glukosa dan
fruktosa. Caranya gula reduksi ditambahkan dengan campuran CuSO4 (tembaga
sulfat), natrium sitrat (NaSO3) dan natrium karbonat (NaCO3) lalu dipanaskan
maka akan terbentuk endapan kupro oksida (Cu2O) yang berwarna merah coklat.
Uji ini terjadi dalam suasana basa/alkalis karena gula akan mereduksi dalam
suasana basa. Natrium sitrat berfungsi sebagai pengkelat Cu dengan membentuk
kompleks Cu- sitrat. Natrium karbonat berfungsi untuk menciptakan suasana basa.
Berikut ini bentuk reaksi yang terjadi pada uji benedict. Gambar 2.2 berikut
merupakan gambar reaksi pada uji benedict.
OO
|| ||
R-C-H +Cu2+ + 2 OH R-C-OH + Cu2O + H2O
Gambar 2.2 Reaksi pada Uji Benedict
d. Uji fehling
Uji ini hampir sama dengan uji benedict yang bertumpu pada adanya gula
pereduksi pada karbohidrat. Cara ujinya: gula reduksi ditambah campuran larutan
CuSO4 dalam suasana alkalis (dengan ditambah NaOH) dan ditambahdengan
Chelating agent, lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro oksida.
e. Uji iodium
Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks
adsorpsi berwarna yang spesifik. Amilum atau pati yang dengan iodium
menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, sedangkan
glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis akan membentuk warna merah.
f. Uji Hidrolisis Sukrosa
Disakarida adalah senyawa yang terbentuk dari gabungan 2 molekul atau
lebih monosakarida. Contoh disakarida ialah sukrosa, maltosa dan laktosa.
Sukrosa tidak dapat mereduksi pereaksi tollens/fehling/benedict dan juga tidak
dapat membentuk osazon. Selain itu, sukrosa tidak melakukan mutarotasi, ini
menunjukkan bahwa sukrosa tidak mengandung C-anomer pada ujungnya (ujung
sukrosa bukan suatu hemiasetal, tidak mempunyai gugus-OH). Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa sukrosa dibentuk oleh dua molekul monosakarida yang
membentuk ikatan 1-α → 2-β-glikosida pada kedua atom C-anomernya.
g. Uji Hidrolisis Pati
Hidrolisis pati baik amilosa maupun amilopektin menghasilkan tiga tahp
berturut turut yaitu : dekstrin, maltosa dan glukosa. Pati dan iodium membentuk
ikatan kompleks berwarna biru. Pati dalam suasana asam bila dipanaskan dapat
terhidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana, hasilnya diuji dengan iodium
yang akan memberikan warna biru sampai tidak berwarna dan hasil akhir
ditegaskan dengan uji Benedict dan uji Seliwanoff.
Sedangkan uji kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya:
a. Metode luff schrool
Metode ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan glukosa dalam
bahan yang akan diuji (contohnya buah) berdasarkan pada reaksi titrasi iodometri
dari kelebihan Cu. (Maria Bintang,2010)
b. Metode dinitrosalisilat (DNS)
Metode ini dapat digunakan untuk mengukur gula pereduksi dengan teknik
kolorimetri. Teknik ini hanya bisa mendeteksi satu gula pereduksi, misalnya
glukosa. Gugusaldehida yang dimiliki oleh glukosa akan dioksidasi oleh asam 3,5
dinitrosalisilat menjadi gugus karboksil. (Maria Bintang,2010)
c. Metode asam fenol sulfat
Metode ini disebut juga dengan metode TS (total sugar) yang digunakan
untuk mengukur total gula. Metode ini dapat mengukur dua molekul gula
pereduksi.
III. Alat dan Bahan :
1. Uji Molish
Alat yang digunakan :
- Tabung reaksi
- Rak tabung
- Pipet ukur
- Bulp
Bahan yang digunakan :
- Aquades (kontrol)
- Sampel : pati 1%, fruktosa 1%, maltosa 1%, arabinosa 1%, laktosa 1%,
glukose 1%,
sukrosa 1%
- Pereaksi Molisch
2. Uji Seliwanoff
Alat yang digunakan :
- Tabung reaksi
- Rak tabung
- Pipet ukur
- Bulp
- Penangas air
Bahan yang digunakan :
- Sampel : pati 1%, fruktosa 1%, maltosa 1%, arabinosa 1%, laktosa 1%,
glukose 1%,
sukrosa 1%
- Pereaksi Seliwanoff
3. Uji Benedict
Alat yang digunakan :
- Tabung reaksi
- Rak tabung
- Pipet ukur
- Bulp
- Penangas air
Bahan yang digunakan :
- Sampel : pati 1%, fruktosa 1%, maltosa 1%, arabinosa 1%, laktosa 1%,
glukose 1%,
sukrosa 1%
- Pereaksi Benedict
4. Uji Iodium
Alat yang digunakan :
- Tabung reaksi
- Rak tabung
- Pipet ukur
- Bulp
- Pipet tetes
- Plat tetes
- Penangas air
Bahan yang digunakan :
- Sampel : pati, gum arab, dextrin, agar
- Larutan Iod 0.01N
IV. Cara Kerja :
A. Uji kualitatif atas dasar reaksi pembentukan furfural dan turunannya
1. Uji Molisch
2. Uji Seliwanoff

B. Uji kualitatif atas dasar kemampuan gula untuk mereduksi ion-ion logam
1. Uji Benedict
C. Uji Iodium
Percobaan pertama :

Percobaan kedua :
V. Pengamatan
1. Uji Molisch

No Jenis Karbohidrat Hasil Keterangan


1 Arabinosa 1% + Terbentuk cincin ungu
2 Glukosa 1% ++ Terbentuk cincin ungu
3 Sukrosa1% +++++++ Terbentuk cincin ungu
4 Fruktosa1% ++++ Terbentuk cincin ungu
5 Laktosa1% +++ Terbentuk cincin ungu
6 Maltosa1% ++++++ Terbentuk cincin ungu
7 Pati1% +++++ Terbentuk cincin ungu
8 Aquades (Kontrol -) - Putih bening

2. Uji Seliwanoff
Sample (+) 1 Menit 1 1 1 Menit 1 Keterangan
Seliwanoff pertam Menit menit keempa Menit
a kedua ketiga t kelima
Maltosa Tak - - - + ++ Kuning
1% Berwarna
Fruktosa Tak - + ++ +++ ++++ Merah
1% Berwarna
Sukrosa Tak - + ++ +++ ++++ Merah
1% Berwarna
Glucose Tak - + ++ +++ ++++ Kuning
1% Berwarna
Arabinos Tak - - + ++ +++ Kuning
a 1% Berwarna
Lactose Tak - - + ++ +++ Kuning
1% Berwarna
Pati 1% Tak - - + ++ +++ Kuning
Berwarna
Aguadest Tak - - - - - Tak
(Control) Berwarna Berwarna

3. Uji Benedict

No Jenis Karbohidrat Hasil Keterangan


1 Arabinosa 1% + Terbentuk endapan merah,
larutan hijau
2 Glukosa 1% ++ Terbentuk endapan merah
kecoklatan
3 Sukrosa 1% - Larutan tetap biru
4 Fruktosa 1% +++ Terbentuk endapan merah,
larutan berwarna merah
5 Laktosa 1% - Larutan tetap biru
6 Maltosa 1% - Larutan tetap biru
7 Pati 1% - Larutan tetap biru
8 Aquades (Kontrol - Larutan tetap biru
-)
4. Uji Iodium

Percobaan pertama :

Sampel Warna Gambar


Sebelum Sesudah penambahan
penambahan Iod Iod
Dekstri Ungu
n Kehitaman
Gum Jingga
Arab
Agar- Coklat
Agar kehitaman
Pati Biru
Kehitaman

Percobaan kedua :

Sampe Pengujian/Perlakuan
l (+) 5 tetes Iod Dipanaskan Didinginkan (+) Tiosulfat
Warna yang Terbentuk
Pati Biru Tua Larutan Biru Tua Larutan menjadi
1% berwarna tidak berwarna
bening
kekunigan
VI. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian karbohidrat secara kualitatif pada
beberapa sampel uji. Pengujian kualitatif ini bertujuan untuk menentukan ada
tidaknya suatu senyawa yang ingin diidentifikasi. Adapun pengujian kualitatif
yang dilakukan antara lain uji molish, uji benedict, uji seliwanoff, uji iod. Dari
hasil pengamatan selama praktikum, didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Uji Molish

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya karbohidrat dalam


suatu bahan secara umum. Prinsipnya adalah suatu senyawa karbohidrat akan
dihidrolisis oleh asam kuat dengan konsentrasi pekat menghasilkan furfural yang
selanjutnya bereaksi dengan senyawa α-naftol dari reagen molisch sehingga
terbentuk senyawa kompleks berwarna keunguan yang menyerupai cincin. Hal ini
sesuai dengan reaksi berikut :
Pada praktikum kali ini dilakukan analisa kualitatif dengan pereaksi molisch
pada beberapa sampel yaitu larutan pati 1%, fruktosa 1% , maltosa 1%, arabinosa
1%, laktosa 1%, maltosa 1%, Glukosa 1%, sukrosa 1% dan larutan standar yang
berupa aquadest. Masing-masing sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sebanyak 4 ml, ditambahkan 2 tetes pereaksi molisch dan 3ml H2SO4 pekat. dalam
hal ini asam sulfat pekat akan menghidrolisis sampel sehingga terbentuk furfural
jika diketahui adanya karbohidrat pada sampel. Dari hasil pengamatan, semua
sampel terlihat adanya warna keunguan seperti cincin walaupun untuk sampel
maltosa agak cenderung berwarna kecoklatan dan untuk arabinosa warna ungu
terletak di bagian dasar tabung reaksi. Hal ini kemungkinan disebabkan kurang
cermat ketika penambahan asam pekat yang harusnya melalui dinding tabung
reaksi, karena jika tidak asam ini tidak akan dapat bereaksi secara bertahap atau
bahkan langsung bereaksi membentuk lapisan atau kondisi lain yang mengganggu
pengamatan dan analisa. Namun dapat kita ketahui dari uji ini bahwa semua
sampel uji mengandung karbohidrat secara umum

2. Uji Seliwanoff

Secara spesifik uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya ketosa (fruktose)
pada suatu bahan. Frukstose akan bereaksi dengan reagen seliwanoff membentuk
warna merah cherry (kemerahan) dengan dilakukan pemanasan untuk
mempercepat hidrolisis dan reaksi lainnya. Pengujian ini sesuai dengan reaksi
berikut :

Pada praktikum kali ini dilakukan analisa kualitatif dengan pereaksi


seliwanoff pada beberapa sampel yaitu larutan pati 1%, fruktosa 1% , maltosa 1%,
arabinosa 1%, laktosa 1%, maltosa 1%, Glukosa 1%, dan sukrosa 1%. Masing
masing sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml, ditambahkan
4ml larutan seliwanoff dan dipanaskan selama 5 menit dengan pengamatan setiap
60 detik. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa sampel yang mengasilkan
warna merah cherry hanyalah larutan fruktose dan sukrose sementara yang lain
tetap bening(kuning) hingga menit terakhir. Sampel fruktose mulai terlihat warna
kemerahan pada menit kedua. Ini membuktikan bahwa sampel fruktose dapat
langsung berekasi dengan reagen seliwanoff. Sedangkan untuk sampel sukrose
baru terlihat adanya warna kemerahan setelah pengamatan 2 menit pemanasan.
Hal ini terjadi karena sukrose merupakan disakarida dan memerlukan waktu untuk
terhirolisis menjadi glukose dan fruktose dan barulah fruktose ini akan bereaksi
dengan reagen seliwanoff membentuk warna merah cherry. Jadi diketahui bahwa
sampel uji yang mengandung ketosa adalah fruktose dan sukrose.

3. Uji Bennedict

Secara spesifik uji benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula


pereduksi pada suatu bahan. Beberapa karbohidrat yang tergolong kedalam gula
pereduksi adalah semua jenis monosakarida, disakarida (laktosa, maltosa) kecuali
sukrosa dan pati (polisakarida). Semua gula pereduksi akan bereaksi dengan
reagen benedict (Cu(OH)2) membentuk endapan berwarna merah bata dari Cu2O
(tembaga I oksida) sesuai dengan reaksi berikut :

Pada praktikum kali ini dilakukan analisa kualitatif dengan pereaksi benedict
pada beberapa sampel yaitu larutan pati 1%, fruktosa 1% , maltosa 1%, arabinosa
1%, laktosa 1%, maltosa 1%, Glukosa 1%, dan sukrosa 1%. Masing masing
sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml, ditambahkan 5ml
larutan seliwanoff dan dipanaskan selama 5 menit. Pemanasan berfungsi untuk
mempercepat reaksi. Hasilnya larutan sampel pati dan sukrose tidak terbentuk
endapan merah bata sedangkan sampel yang lainnya terjadi perubahan warna
merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa sampel fruktosa, arabinosa, dan glukosa
termasuk ke dalam kelompok gula pereduksi. Namun, laktosa dan maltose juga
tidak terbentuk endapan merah, sedangkan diliteratur laktosa dan maltose
termasuk gula pereduksi jadi akan tetap menghasilkan endapan merah. Pada
praktikum yang kami lakukan laktosa dan maltose tidak menghasilkan endapan
merah bata, karena kurang cermat dan teliti dalam pengerjaannya.

4. Uji Iodium

Secara spesifik uji iodium bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya


suatu karbohidrat jenis polisakarida (amilum, glikogen, dekstrin). Polisakarida
akan bereaksi dengan larutan iodium (KI atau NaI) membentuk senyawa yang
berwarna kebiruan (banyak amilosa) atau keunguan(banyak amilopektik)
tergantung jenis polisakarida yang terkandung sesuai reaksi berikut :
Pada praktikum kali ini dilakukan analisa kualitatif karbohidrat dengan
pereaksi larutan iodium. Sampel yang digunakan yaitu pati, dekstrin, gum arab
dan agar-agar. Masing masing sampel ditetesi dengan larutan iodium kemudian
diamati perubahan warnanya.hasilnya sampel pati berubah menjadi biru, sampel
agar2 dan dekstrin berubah menjadi ungu kehitaman dan gum arab berubah
menjadi agak coklat. Namun secara pengamatan sangat susah dibedakan
dikarenakan warna yang timbul terlalu gelap. Hal ini dikarenakan larutan iod yang
digunakan terlalu pekat. Untuk sampel yang memiliki kecenderungan berubah
menjadi biru menandakan bahwa sampel tersebut mengandung banyak amilosa,
sedangkan untuk yang cenderung keunguan mengandung banyak amilopektin.
Pengujian kedua dilakukan dengan memasukkan larutan pati 5 ml ditambahkan i
tetes larutan iod 0,2 N. Hasilnya warna berubah menjadi biru. Ketika dipanaskan
warna menjadi jernih kembali. Hal ini disebabkan karena ikatan I pada amilum
akan merenggang dan terurai sehingga warna biru akan memudar. Ketika
didinginkan warnanya kembali menjadi biru. Hal ini disebabkan ikatan I pada
amilum akan merapat kembali sehingga yang tadinya memudar kembal berwarna
biru.

VII. Kesimpulan
1. Uji molisch merupakan uji untuk mengetahui adanya zat karbohidrat
secara umum pada suatu bahan
2. Dari hasil uji molisch diketahui bahwa pati, laktosa, sukrosa, arabinosa,
glukosa, fruktosa, dan maltosa termasuk jenis karbohidrat
3. Uji Benedict merupakan uji untuk mengetahui adanya gula pereduksi pada
bahan
4. Dari hasil uji benedict diketahui bahwa laktosa, arabinosa, glukosa,
fruktosa, dan maltosa termasuk jenis gula pereduksi sedangkan pati dan
sukrose tidak termasuk gula pereduksi
5. Uji seliwanoff merupakan uji untuk mengetahui adanya ketosa/fruktosa
dari suatu bahan
6. Dari hasil uji seliwanoff diketahui bahwa hanya sukrosa dan fruktosa yng
positif mengandung ketosa/fruktosa sedangkan pati, laktosa, arabinosa,
glukosa, dan maltosa tidak mengandung ketosa/fruktosa
7. Uji iodium merupakan uji untuk mengetahui adanya polisakarida pada
suatu bahan dengan karakteristik warna biru untuk amilosa dan warna
keunguan untuk amilopektin
8. Dari hasil uji iodium diketahui bahwa pati cenderung mengandung
amilosa, agar2 cenderung mengandung amilopektin, dekstrin cenderung
mengandung amilopektin dan gum arab sulit untuk diamati hasilnya
9. Kegagalan selama praktikum disebabkan oleh larutan tidak sesuai, larutan
rusak, dan kekurangcermatan.

Tangerang selatan, 16 Juni 2019

Praktikan

Rizal Ainur Ichsan

NO. 1321820014
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman dan Sumantri.2007. Analisis Makanan, Yogyakarta: Gajah Mada


University Press

Anna Poedjiadi.1994. Dasar-Dasar Biokimia.Jakarta: UI press

Estien Yazid dan Lisda Nursanti.2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk


Mahasiswa Analis. ( Yogyakarta : Penerbit ANDI
Kartasapoetra dan Marsetyo.1995.Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan, dan
Produktivitas Kerja).Jakarta: Rineka Cipta..

Maria Bintang.2007.Biokimia-Teknik Penelitian.Jakarta: Erlangga

Michael E.J. Lean, terj. Nilamsari dan Fajriyah.2013. Ilmu Pangan, Gizi, dan
Kesehatan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sunita Almatsier.2009.Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta: Gramedia
LAMPIRAN

1. Uji Benedict

2. Uji Molisch
3. Uji Seliwanoff
4. Uji iod
 Perlakuan 1
Sebelum +Iod Sesudah +Iod

5. Perlakuan 2
Sampel : Pati 1%
+5 Tetes Iod Dipanaskan Didinginkan +TioSulfat

Anda mungkin juga menyukai