Anda di halaman 1dari 26

Sambutan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan


Republik Indonesia

Saya menyambut baik penulisan buku yang berjudul “Taman Nasional Zamrud,
Bersama Selamatkan Warisan Leluhur di Bumi Siak” yang difasilitasi oleh Pemerintah
Kabupaten Siak Provinsi Riau.

Dengan ditetapkannya Taman Nasional Zamrud sesuai Keputusan Menteri Lingkungan


Hidup dan Kehutanan No. 350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016 tanggal 4 Mei 2016, maka di
Indonesia saat ini terdapat 52 Taman Nasional dengan total luas mencapai 16 Juta Ha lebih.

Mengelola Taman Nasional bukanlah pekerjaan yang mudah, diperlukan adanya kerjasama
yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan di setiap lini. Sehingga diperoleh
kesamaan pemahaman dalam melaksanakan kegiatan agar berhasil guna dan berdaya
guna, yaitu lingkungan yang tertata, hutan terjaga dan masyarakat sejahtera berbasis
konservasi.

Saya menghimbau kepada semua pihak, mari bersama-sama kita berperan serta mengelola
Taman Nasional Zamrud agar terhindar dari kerusakan, kebakaran, perambahan,
penebangan liar dan satwa yang dilindungi.

Semoga buku ini akan memperkaya khasanah pustaka tentang upaya pelestarian keaneka
ragaman hayati khususnya di Kabupaten Siak Provinsi Riau.

Jakarta, 3 Juni 2016,


Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Republik Indonesia

Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc


Sambutan
Bupati Siak

Upaya konservasi ekosistem gambut nan indah di danau kembar, Danau Pulau Besar/Danau
Bawah telah dimulai dari Julius Tahija pada dekade 1970an. Selanjutnya secara konsisten
mendapatkan dukungan secara nasional, dengan ditetapkannya kawasan tersebut sebagai
suaka margasatwa pada tahun 1999 oleh Menteri Kehutanan.

Mempertimbangkan berbagai perkembangan dan nilai kepentingan pengelolaan yang lebih


intensif dan efektif, Pemerintah Kabupaten Siak mengusulkan kawasan suaka alam tersebut
menjadi Taman Nasional. Upaya tersebut ternyata tidak mudah. Sejak diusulkan pertama
kali pada tahun 2001, baru pada 11 Agustus 2007, Presiden RI mendeklarasikan Taman
Nasional Zamrud, yang selanjutnya masih akan ditindaklanjuti dengan kajian oleh Tim
Terpadu Departemen Kehutanan.

Upaya peningkatan pengelolaan Taman Nasional Zamrud nantinya akan ditempuh melalui
pola kolaborasi. Workshop kedua yang diselenggarakan pada 19-20 Pebruari 2008
merupakan bagian dari proses untuk membangun inisitatif kolaborasi tersebut.

Setelah mengikuti prosedur, beberapa kajian, peninjauan lapangan oleh Tim Terpadu serta
koordinasi yang intens dengan semua pihak yang berkompeten terhadap perubahan fungsi
Suaka Magasatwa menjadi Taman Nasional ini, pada tanggal 4 Mei 2016, Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, melalui Keputusan Menteri nomor :
350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016 tanggal 4 Mei 2016, telah menetapkan Perubahan Fungsi
Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah serta Kawasan Hutan Produksi
Tetap Tasik Besar Serkap menjadi Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak, Provinsi Riau
seluas ± 31.480 (Tiga Puluh Satu Ribu Empat Ratus Delapan Puluh) Hektar. Kini,
masyarakat Kabupaten Siak telah memiliki Taman Nasional yang dapat dikembangkan dan
memiliki nilai kepentingan pengelolaan yang lebih intensif, efektif namun tetap bertangung
jawab.

Untuk itu, besar harapan kami akan komitmen jangka panjang para pihak, baik di tingkat
daerah maupun nasional untuk membantu pengelolaan Taman Nasional Zamrud dalam
rangka penyelamatan sisa-sisa hutan alam dan konservasi ekosistem gambut, yang mana
sangat berperan penting bagi penyimpanan karbon paling besar di Bumi Andalas ini.

Semoga Allah S.W.T meridhoi niat baik kita bersama ini.

Siak Sri Indrapura, Mei 2016

BUPATI SIAK,

Drs.H. SYAMSUAR,M.Si
Daftar Isi

Sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan


Sambutan Bupati Siak.............
Inisiatif Taman Nasional Zamrud
Masyarakat Sekitar Taman Nasional Zamrud
Fungsi Taman Nasional Zamrud
Kronologis Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah Menjadi
Taman Nasional Zamrud
di Kabupaten Siak Provinsi Riau
Tantangan dan Peluang
Membangun Kelembagaan Kolaborasi
Lampiran
Inisiatif
Taman Nasional Zamrud

Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah adalah cikal bakal Taman
Nasional Zamrud. Danau Pulau Besar/Danau Bawah merupakan salah salah satu kawasan
hutan lahan basah (wetland) yang tergolong eksotik di Indonesia. Kawasan ini diapit oleh
dua sungai besar di Provinsi Riau, yaitu Sungai Siak dan Sungai Kampar. Lahannya selalu
basah sepanjang tahun sehingga didominasi oleh bahan-bahan yang berkembang dari
tumpukan bahan organik, yang lebih dikenal sebagai hutan rawa gambut. bentuk
permukaan lahan yang berbentuk kubah (dome) menciptakan perbedaan ketinggian antara
daerah tepi sungai dengan puncak kubah. Hal ini yang menciptakan kemungkinan adanya
aliran dari puncak kubah ke pinggiran sungai hingga menciptakan komposisi lahan yang
khas dalam menunjang kehidupan ekosistem yang ada dalam kawasan tersebut.

Taman Nasional Zamrud berada sekitar 120 Km arah Timur Bandar Udara Sultan Syarif
Kasim II Pekanbaru, termasuk dalam wilayah desa/kampung Dayun Kecamatan Dayun,
Benteng Hulu Kecamatan Mempura, serta Sungai Rawa dan Rawa mekar Jaya Kecamatan
Sungai Apit Kabupaten Siak.

Di kawasan Taman Nasional Zamrud terdapat dua danau yang oleh masyarakat sekitar
dinamakan Danau Pulau Besar seluas 2.416 Ha dan Danau Bawah seluas 360 Ha.

Danau Pulau Besar dinamai sesuai dengan lokasinya, karena di Danau tersebut terdapat
empat pulau yang berbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan. Empat pulau
tersebut merupakan pulau hanyut karena dapat berpindah tempat, terdiri atas ; Pulau Besar
seluas sekitar 10 Ha, Pulau Tengah seluas sekitar 1 Ha, Pulau Bungsu seluas sekitar 1 Ha
dan Pulau Beruk seluas sekitar 2 Ha, dinamakan pulau Beruk karena terdapat beruk (kera
tidak berekor) di dalamnya.

Sejarah Terbentuknya Suaka Margasatwa Danau Pulau


Besar/Danau Bawah
Kisah terbentuknya Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah bermula dari
kekaguman Julius Tahija, Ketua Dewan Komisaris PT. Caltex Pacific Indonesia (CPI), yang
kini telah almarhum. Pria ini menemukan kedua danau tersebut berada di daerah operasi
CPI di Pulau Sumatera. Tak hanya sebatas mengagumi, Tahija yang juga seorang pecinta
lingkungan mengimpikan keindahan kawasan ini abadi. Bisa dilihat dan dikagumi beribu-
ribu generasi setelah dirinya.

Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah terletak di Kabupaten Siak, Provinsi
Riau. Kawasan ini ditunjuk oleh Menteri Pertanian No. 846/Kpts/Um/II/1980 tanggal 25
November 1980 sebagai salah satu kawasan hutan dengan fungsi konservasi dengan nama
Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah seluas ± 25.000 ha. Setelah dilakukan
penataan batas definitif dan temu gelang, diperoleh luas kawasan Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah adalah 28.237,95 Ha yang ditetapkan melalui Keputusan
Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 668/Kpts-II/1999 tanggal 20 Agustus 1999.
Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah merupakan kawasan Konservasi Hutan
Tropis Dataran Rendah sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Disamping
keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, kawasan ini juga memiliki nilai estetika yang
potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam serta sebagai tempat
pendidikan dan penelitian. Peta kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar dapat
dilihat pada gambar.

Danau dan kawasan ini tidak hanya menyimpan keindahan danau dan emas hijau di
atasnya tetapi juga emas hitam berupa minyak bumi yang berada di bawah danau. Sebagai
negara yang saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan, Tahija menyadari
bahwa kekayaan sumber daya alam yang berada di bawah danau harus dimanfaatkan bagi
pembiyaan negara. Namun tetap menginginkan keelokan kawasan harus tetap terjaga dan
tidak tercemar. Baginya tetap menyelamatkan danau dan habitat di sekitarnya merupakan
keputusan ekonomi yang paling cerdas. Dia menyakini di dalam kawasan itu tersimpan
tanaman obat yang memiliki nilai ekonomis tinggi di kemudian hari. Menghancurkan danau
merupakan tindakan paling bodoh.

Akhirnya pengeboran minyak tetap dilakukan sekitar tahun 1982, tanpa mencemari
lingkungan di kawasan itu. Caranya dengan melakukan pengeboran miring, dimana lokasi
awal pengeboran dilakukan sejauh mungkin dari danau. Tetapi kemudian dibelokan ke
dalam tanah hingga menjangkau sumber minyak. Stasiun pengumpul pun dibangun 29 Km
dari tepi danau. Untuk upaya itu, CPI mengeluarkan biaya tambahan sebesar delapan juta
dolar Amerika. Nilai itu bila dikalikan dengan uang sekarang, setara dengan Rp. 70 Milyar
(saat dilakukan kurs per dolar Amerika masih Rp. 8.700,- saat ini kurs per dolar Rp.13,357).
Angka yang fantastis saat itu setara pula dengan harga 70 rumah mewah. Bagi Tahija,
mahalnya biaya tidak menjadi masalah asal danau tidak tercemar dan masyarakat di sana
dapat melanjutkan kehidupan tradisional mereka.

Pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bergandengan tangan itu
akhirnya menjadi contoh nyata pembangunan berkelanjutan. Ditiru oleh semua perusahaan
dan pemerintah diseluruh Indonesia. Ketika lapangan minyak zamrud berpindah pengelolaan ke
PT. Bumi Siak Pusako dan Pertamina Hulu pada tahun 2002, kegiatan eksplorasi minyak tetap
dilakukan sesuai cita-cita Tahija dengan mengutamakan kelestarian lingkungan. Itulah
sebabnya kondisi Suaka Margasatwa sampai saat ini masih terawat.

Sebelum ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa, kawasan Danau Pulau Besar /Danau Bawah
merupakan salah satu lokasi operasi produksi sumur minyak PT. Caltex Pacific Indonesia sejak
tahun 1975 yang dikenal dengan lapangan Zamrud dengan luas total 2.682 Ha (2.288 ha
berada pada areal Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah). Sejak tahun 2002
lapangan minyak Zamrud dikelola oleh Badan Operasi Bersama (BOB) PT.Bumi Siak Pusako –
Pertamina Hulu.

Disamping kegiatan eksplorasi minyak bumi, di sekitar kawasan Suaka Margasatwa Danau
Pulau Besar/Danau Bawah juga terdapat kegiatan lainnya seperti kegiatan perkebunan
rakyat dan Hutan Tanaman Indutri (HTI) beberapa perusahaan yaitu PT. Arara Abadi, PT.
RAPP, PT. Ekawana Lestaridharma dan PT. National Timber. Adanya aktivitas di dalam dan di
sekitar kawasan ini tentunya dapat berpengaruh terhadap kelestarian Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar. Dari hasil penelitian dan pengamatan langsung di lapangan, ancaman
terhadap keberadaan Suaka Margasatwa ini semakin besar karena ditemui juga kegiatan
perambahan hutan dan illegal logging.

Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, maka setiap daerah akan memanfaatkan
secara optimal dan bertanggungjawab berbagai potensi sumberdaya alam di wilayahnya,
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan daerah. Kabupaten Siak
sebagai salah satu Kabupaten baru di Provinsi Riau berupaya memanfaatkan potensi
sumberdaya alam di wilayahnya untuk kemajuan pembangunan daerah. Salah satu potensi
sumberdaya alam yang belum optimal memberikan manfaat langsung kepada
pembangunan daerah adalah Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar / Danau Bawah.
Kondisi ini terkait dengan status kawasan Danau Pulau Besar sebagai kawasan Suaka
Margasatwa di mana peluang untuk pemanfaatan sumberdaya yang ada sangat dibatasi,
sementara potensi yang dimilikinya sangat besar.

Inisiatif perluasan dan penetapan Taman Nasional Zamrud telah lama dimulai oleh
Pemerintah Kabupaten Siak, sejak tahun 2001 yang saat itu dipimpin oleh Bapak H. ARWIN
A.S selaku Bupati Siak. Cikal bakal Taman Nasional ini adalah Suaka Margasatwa Danau
Pulau Besar/Danau Bawah.

Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut, pada tahun 2005 Bupati Siak H. Arwin, AS
menyampaikan pemikiran dan berdiskusi dengan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Siak
yang saat itu dikepalai oleh Ir. Amin Budyadi, MM mengharapkan dan berkeinginan agar
Pemerintah kabupaten Siak untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa
danau Pulau besar/Danau bawah. Upaya tersebut dilakukan melalui surat Bupati Siak No.
364/Dishut/205/2005 tanggal 9 Juli 2005 kepada Menteri Kehutanan RI perihal permohonan
perluasan dan perubahan fungsi, dari Suaka Margasatwa menjadi Taman Nasional.

Seiring dengan surat permohonan Bupati Siak tersebut, DPRD Kabupaten Siak, Balai Besar
KSDA, Riau dan Dinas Kehutanan Provinsi Riau, serta keempat perusahaan Hutan Tanaman di
sekitar Suaka Margasatwa turut mendukung untuk melakukan perluasan dan pengusulan
Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah mejadi Taman Nasional.

Sebelum dilakukan perubahan fungsi oleh Tim Terpadu Departemen Kehutanan, Menteri
Kehutanan pada tanggal 7 Austus 2007 telah memberikan persetujuan prinsip perubahan
fungsi Suaka Margsatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi Taman Nasional.
Selanjutnya, dalam kunjungan kerja ke Riau, Bapak Presiden RI telah menandatangani
prasasti pencanangan Taman Nasional Zamrud pada tanggal 11 Agustus 2007.

Letak, Luas dan Akses


Secara administratif, kawasan Taman Nasional Zamrud sebagian besar terletak di
Kecamatan Dayun dan sebagian sisanya terletak di Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak,
Provinsi Riau. Secara geografis Taman Nasional Zamrud terletak antara 00°35’ - 00°45’ LU
dan 102°10’ - 102°19’ BT.

Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik
Indonesia nomor : 350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016 tanggal 4 Mei 2016 Tentang Perubahan
Fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar /Danau Pulau Bawah serta Kawasan Hutan
Produksi Tetap Tasik Besar Serkap Menjadi Taman Nasional di Kabupaten Siak, Provinsi Riau
Seluas ± 31.480 (Tiga Puluh Satu Ribu Empat Ratus Delapan Puluh) Hektar.

Akses menuju Taman Nasional dapat ditempuh melalui lapangan minyak Zamrud BOB PT.
Bumi Siak Pusako – Pertamina Hulu (sebelumnya PT. Caltex Pacific Indonesia) menggunakan
angkutan darat, dengan waktu tempuh selama ± 2 jam dari Bandara Udara SSQ Pekanbaru.
Untuk menuju lokasi Taman Nasional Zamrud dapat melalui 2 rute perjalanan yaitu (1) Rute
Pekanbaru – Dayun – Masuk di Gate Camp Zamrud di Dayun (Security Gate Zamrud) –
Jaringan Jalan Konsesi BOB menuju Lokasi Taman Nasional Zamrud, (2) Rute Pekanbaru –
Dayun – Sungai Apit (melalui Sungai Rawa) yang berlokasi di Selat Panjang Kecamatan
Sungai Apit. Di dalam kawasan terdapat jaringan jalan buatan dan kanal-kanal di sepanjang
jaringan jalan. Jaringan jalan ini dibuat sebagai akses masuk kendaraan-kendaraan BOB PT.
Bumi Siak Pusako – Pertamina Hulu yang melakukan kegiatan eksploitasi sumberdaya
minyak di dalam kawasan. Jaringan jalan ini membelah kawasan menjadi beberapa bagian
dengan jarak dari danau antara 200 sampai 350 meter.
Masyarakat Sekitar
Taman Nasional Zamrud

SECARA administratif, Taman Nasional Zamrud berada di wilayah Kecamatan Dayun,


Kabupaten Siak. Luas Kecamatan Dayun ± 137.352 Ha, yang terdiri dari 11 desa.

Ketika Tahija pertamakali berkunjung di kawasan sekitar Suaka Margasatwa saat itu
penduduk yang ditemui hanya satu-satu itupun hanyalah asli yang hidup secara tradisional.
Namun seiring perkembangan zaman disekitar kawasan itu maupun perpindahan penduduk
dari daerah lain. Sebagai akibat makan intensifnya operasi minyak dan penggembangan
usaha baru berupa perkebunan rakyat serta Hutan Tanaman Industri (HTI) disekitar
kawasan. Misalnya saja di Desa Dayun, pada tahun 1085 berpenduduk hanya ada 558 jiwa,
pada tahun 2004 terdapat peningkatan mencapai 2.697 jiwa dan seperti data pada Badan
Statistik Kecamatan Dayun dalam Angka 2015 penduduk di Desa/Kampung Dayun
berjumlah 5.742 jiwa.

Apabila melihat persentase jumlah jiwa di Kecamatan Dayun dengan Desa/Kampung Dayun
saat ini, sebaran penduduk Kecamatan dominan berada di Desa/Kampung Dayun mencapai
20,45 %. Desa/Kampung Sialang Sakti yang pada awal tahun 1985 sampai 2014 merupakan
Desa/Kampung yang berpenduduk paling banyak, saat ini menempati urutan ketiga setelah
Desa/Kampung Dayun dan Desa/Kampung Sawit Permai.

Menurut data di Kecamatan Dayun Dalam Angka tahun 2004, penduduk Kecamatan Dayun
berjumlah 20.986 jiwa yang tersebar di 11 Desa terdiri dari 11.188 orang laki-laki dan 9.798
orang wanita dengan sebaran dan kepadatan yang tidak merata. Sex ratio rata-rata di
Kecamatan Dayun adalah 114 %, menunjukan jumlah penduduk laki-laki masih lebih dominan
dari wanita.
Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Desa Sialang Sakti, yaitu 170,81 jiwa/Ha,
sedangkan terendah di Desa Dayun, yaitu 2,18 jiwa/Ha. Desa Dayun ini adalah desa di
mana sebagian besar kawasan Taman Nasional Zamrud berada. Bila dilihat dari luas
wilayah, Desa Dayun adalah desa yang mempunyai luas wilayah paling besar, yaitu 123.500
Ha.

Merujuk hasil studi PPLH Universitas Riau tahun 2003 mengenai Kawasan Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar / Danau Bawah, tingkat perkembangan penduduk di Desa
Dayun cukup tinggi. Pada tahun 1985 jumlah penduduk Desa Dayun hanya berjumlah 558
jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 2.697 jiwa, dan pada tahun 2015 mencapai
5.742 jiwa. Perkembangan ini disebabkan adanya perpindahan penduduk ke desa tersebut
akibat semakin intensifnya kegiatan operasi PT. BOB-BSP Pertamina Hulu dan
dimekarkannya Kecamatan Siak menjadi Kabupaten Siak.

Dengan perkembangan penduduk yang demikian pesat di Desa Dayun dan desa-desa
sekitarnya, tentu akan dapat menjadi ancaman bagi Taman Nasional Zamrud jika peluang
kerja dan usaha di sektor luar pertanian, perkebunan dan perikanan tidak dapat
menampung tenaga kerja yang ada. Tenaga kerja yang ada akan mengarah ke usaha
pengembangan kebun, pembalakan dan penangkapan ikan di Danau Pulau Besar dan
Danau Bawah untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Seperti uraian-uraian diatas dan hasil studi yang telah dilakuakn untuk menetralisir
ancaman dan tekanan serta mengoptimalkan potensi yang ada terutama untuk
pengembangan wisata alam.

Iklim
Areal sekitar kawasan Taman Nasional Zamrud, menurut pembagian iklim Koppen termasuk
daerah beriklim hujan tropis dengan type Afa yang berarti curah hujan bulanan daerah ini
selalu lebih besar dari 60 mm dan suhu bulanan terpanas lebih tinggi dari 22 0C. Menurut
pembagian iklim Schmidt dan Ferguson, daerah ini termasuk dalam type iklim A, yang
berarti bahwa perbandingan antara jumlah rata-rata bulan kering dan jumlah rata-rata
bulan basah adalah 0 (tidak ada bulan kering) sampai 14,3 (hanya ada satu bulan kering).
Yang dimaksud bulan kering menurut pembagian iklim Schmidt dan Ferguson ini adalah
apabila curah hujan dalam suatu bulan kurang dari 60 mm. Sedangkan bulan basah adalah
apabila curah hujan dalam suatu bulan lebih dari 100 mm.

Curah Hujan
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh catatan curah hujan di tiga stasiun terdekat
(Pekanbaru, Rumbai dan Minas) dengan periode pencatatan yang cukup panjang (lebih dari 25
tahun), diketahui bahwa rata-rata curah hujan dari tiga stasiun tersebut adalah 2.690 mm per
tahun, bulan kering hanya terjadi di stasiun Rumbai dengan angka 97 mm terjadi pada bulan
Juli dan apabila dirata-rata dari tiga stasiun tersebut tidak terdapat satu kalipun bulan kering.
Dari tiga stasiun tersebut bulan terkering rata-rata terjadi pada bulan Juni dan Juli dengan curah
hujan 140 mm dan 119 mm (di atas 60 mm batas bulan kering dan bahkan di atas 100 mm
batas bulan basah).

Suhu, Kelembaban dan Angin


Berdasarkan hasil pengukuran di sekitar kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar,
suhu udara berkisar antara 25 - 340C. Sedangkan lelembaban udara berkisar antara 52 %
s/d 72%, arah angin 17/44 derajat dan kecepatan angin antara 0 - 6 knot.

Pengelolaan Kawasan Saat Ini


Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah yang saat ini telah menjadi Taman
Nasional Zamrud (Taman Nasional Zamrud) dikelola oleh Balai Besar KSDA Riau.
Berdasarkan struktur organisasi Balai Besar KSDA Riau. SM Danau Pulau Besar/Danau
Bawah (Taman Nasional Zamrud) berada di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II
(P.08/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam) dengan jumlah pegawai 52
orang yang terdiri atas struktural 3 orang, non struktural 29 orang, Polhut 12 orang, PEH 6
orang, penyuluh 1 orang dan penggerak masyarakat 1 orang.

Wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II meliputi : Suaka Margasatwa Danau Pulau
Besar/Danau Bawah (Taman Nasional Zamrud) meliputi Kecamatan Sungai Apit dan Dayaun
di Kabupaten Siak, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil yang meliputi Kabupaten Bengkalis
dan Siak, SM Bukit Batu di Keabupaten Bengkalis, Suaka Margasatwa Tasik Belat yang
meliputi Kabupaten Siak dan Pelelawan, Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang di
Kabupaten Kepulauan Meranti, SM Balai Raja di Kabupaten Bengkalis, Suaka Margasatwa
PLG Sebanga di Kabupaten Bengkalis, Taman Wisata Alam Sungai Dumai di Kota Dumai,
Cagar Alam Pulau Berkey di Kabupaten Rokan Hilir dan Cagar Alam Bukit Bungkung di
Kabupaten Kampar.

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Balai KSDA Riau secara garis besar antara lain :
penyusunan Rencana Pengelolaan, pemantapan kawasan, pemeliharaan batas, melakukan
pembinaan daerah penyangga masyarakat sekitar kawasan, khususnya di Desa Dayun,
pelayanan pengunjung melalui penerbitan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi, patroli
rutin, operasi fungsional, dan koordinasi.

Disamping itu, BKSDA Provinsi Riau juga melakukan kerjasama dengan Badan Operasi
Bersama (BOB) PT. Bumi Siak Pusako - Pertamina Hulu untuk melakukan upaya
perlindungan dan pengamanan serta pembinaan habitat dan rehabilitasi kawasan hutan
dalam mendukung pegelolaan SM Danau Pulau Besar / Danau Bawah. Kegiatan kemitraan
antara BKSDA Provinsi Riau dengan BOB PT. Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu

Fungsi
Taman Nasional Zamrud

Hutan di kawasan Taman Nasional Zamrud memiliki dua asosiasi hutan, yaitu asosiasi
Meranti Bunga (Shorea teysmaniana) di daerah Danau Bawah dan asosiasi Bengku (Ganua
motleyana) di daerah Danau Pulau Besar. Kedua asosiasi ini memiliki keanekaragaman jenis
yang cukup tinggi dan memiliki potensi penghasil kayu yang cukup tinggi.

Kondisi kawasan yang didukung kondisi hidrologinya, menyebabkan kawasan ini


mengembangkan suatu interaksi lingkungan darat dan perairan, yang dicirikan oleh
karakteristik hutan rawa bergambut yang dimilikinya. Vegetasi yang tumbuh di wilayah ini
mempunyai ciri-ciri yang sesuai dengan kondisi alam tersebut. Berdasarkan pada sifat
habitatnya, maka ekosistem kawasan Taman Nasional Zamrud merupakan kondisi wilayah
yang kemantapannya rendah, sehingga pengubahan dan gangguan terhadap ekosistem
akan sangat sukar pemulihannya.

Nilai Carbon Ekosistem Gambut


Lahan gambut di Indonesia tersebar di beberapa pulau, antara lain di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dari ke empat pulau utama sebaran lahan gambut
tersebut, baru di Pulau Sumatera terdapat data yang cukup detil tentang sebaran, luas dan
kandungan karbon dari lahan gambut, dimana dari total luasan lahan gambut di Indonesia,
sekitar 7,2 juta ha atau 35% nya diantaranya terdapat di Pulau Sumatera.

Sebaran utama lahan gambut di Pulau Sumatera adalah di Provinsi Riau, Jambi dan
palembang dengan kedalaman gambut bervariasi antara dangkal/tipis (kedalaman 50-100
cm) hingga sangat dalam/sangat tebal (kedalaman lebih dari 400 cm). Total kandungan
karbonnya pada tahun 2002, diperkirakan sebesar ± 18 milyar ton (tabel 1).

Tabel 1. Sebaran, Luas dan Kandungan Karbon pada Lahan Gambut Pulau Sumatera

No Sebaran Gambut Luas gambut Kandungan


. (Ha) Karbon
(juta ton)

1. Nanggroe Aceh Darusalam 274.051,00 458,86

2. Sumatera utara 325.295,00 377,28

3. Sumatera Barat 210.234,00 422,23

4. Bengkulu 63.052,00 30,53

5. Riau 4.043.601,00 14.605,04

6. Jambi 716.839,00 1.413,19

7. Bangka Belitung 63.620,00 63,04

8. Sumatera Selatan 1.420.042,00 1.407,24

9. Lampung 87.567,00 35,94

TOTAL 7.204.301,00 18.813,37

Sumber : Wetlands International, 2003.


Tabel 1 menunjukkan bahwa 55% dari kawasan gambut di Sumatera berada di Provinsi
Riau, dengan kandungan karbon sebesar 14,6 milyar ton. Kandungan sebesar ini
merupakan 77,6% dari seluruh kanndungan karbon di Pulau Sumatera.

Vegetasi
Di daerah Danau Bawah, vegetasi hutan pada tingkat pohon didominasi oleh jenis Meranti
Bunga (Shorea teysmaniana). Namun terdapat pula dua jenis yang cukup mendominasi,
yaitu Malas (Parasetamon urophyllum A.D.C.) dan Mentangor (Callophyllum inphylloides
King) sehingga hutan di daerah danau bawah juga digolongkan ke dalam hutan atau
asosiasi Meranti Bunga-Malas-Mentangur. Namun pada tingkat tiang asosiasi ini didominasi
oleh Bengku (Ganua motleyana), Malas (Parasetamon urophyllum A.D.C.) dan Ambung-
ambung (Melicope sp.).
Hutan di daerah sekitar Danau Pulau Besar didominasi oleh jenis Bengku (Ganua
motleyana), diikuti oleh jenis-jenis Rengas (mellanorrhoea sp.), Pisang-pisang
(Ganiothalamus giganteus), Punak (Tetramerista glabra), Malas (Parasetamon urophylum),
dan Meranti Bunga (Shorea teysmanniana).

Adapun potensi jenis-jenis vegetasi lain, yaitu: Ramin (Gonystylus bancanus), Kempas
(Koompassia malaccensis), jenis-jenis Durian Hutan (Durio carinatus), dan Pinang Merah
(Cyrtostachys laca), jenis-jenis garam-garam (Urandra secundiflora), Tiup-tiup (Adinandra
dumosa) dan Pelawan (Tristania sp.), Balam (Palaquim odoratum Engl.).

Satwa Liar
Keanekaragaman satwa liar di kawasan Suaka Marga Satwa Danau Pulau Besar/Danau
Bawah masih cukup besar. Kelas satwa liar yang ditemui terdiri dari aves, mamalia, dan
reptilia. Aves terdapat 38 jenis dan jenis yang terutama adalah Enggang Palung (Buceros
rhinoceros), Enggang Benguk (Aceros undulatus), Enggang Dua Warna (Buceros bicornis),
Enggang Ekor Hitam (Anorrhinus galeritus).

Primata terdapat empat jenis dengan utama adalah Siamang (Hylobates syndactylus). Dari
kelas mamalia terdaat sembilan jenis dan jenis yang utama adalah Beruang Madu
(Helarctos malayanus) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Babi Hutan
(Sus vittatus), Kera (Macaca fascicularis), Tapir (Tapirus indicus) dan Rusa (Cervus sp.).
Reptilia terdapat dua jenis dan jenis yang utama adalah Biawak (Varanus salvator) dan
Buaya Air Tawar (Crocodylus sp.).

Dari 38 jenis burung di dalam kawasan, terdapat 12 jenis yang dilindungi yaitu Bangau Putih
(Egretta ibis intermedia), Adan (Ciconia eppiscopus), Raja Udang Besar (Pelargopsis
capensis), Enggang Palung (Buceros rhinoceros), Enggang Benguk (Aceros undulatus),
Enggang Dua Warna (Buceros bicornis), Enggang Ekor Hitam (Anorrhinus galeritus), Elang
Laut (Haliastur indus intermedus), Elang Coklat (Spizaetus cirrhatus limnaeetus), Cerecet
(Arachnothera robusta armata), Cerecet Rimba (Arachnothera longirostris prillwitzl), dan
Sikatan (Rhipidura j. javanica).

Dari empat jenis primata yang dijumpai, Siamang (Hylobates syndactylus) adalah jenis yang
dilindungi. Sedangkan dari sembilan jenis mammalia yang ditemui, ada tiga jenis yang telah
dilindungi, yaitu Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrensis), Beruang Madu (Heralctos
malayanus) dan Kucing Hutan (Felis sp.).

Populasi Harimau Loreng Sumatra (Panthera tigris sumatrensis) dan Beruang Madu
(Heralctos malayanus) sangat terbatas dan lambat laun diduga akan hilang dari kawasan
calon Taman Nasional Zamrud. Namun populasi babi hutan dan babi alang-alang
berkembang dengan baik. Populasi kera ekor panjang (Macaca fascicularis) cukup banyak
dan penyebarannya merata. Namun untuk Siamang (Hylobates syndactylus) diduga
populasinya sangat terbatas dan mengkhawatirkan, apabila tidak dilakukan upaya-upaya
pembinaan habitatnya.

Kondisi habitat calon Taman Nasional Zamrud dapat dibagi menjadi habitat hutan gambut
primer, hutan gambut sekunder, danau, sungai, saluran air (kanal) dan hutan gambut
terbuka (meliputi jalan eksploitasi minyak, semak belukar bekas tebangan atau kebakaran
dan bangunan lainnya). Dari kondisi habitat yang ada, dapat disimpulkan bahwa
penyebaran satwaliar tidak merata. Wilayah yang padat adalah berada antara Danau Pulau
Besar/Danau Bawah, sedangkan wilayah yang jarang adalah daerah Danau Bawah.

Ikan
Di daerah perairan kawasan calon Taman Nasional Zamrud ditemukan 14 jenis ikan.
Terdapat 8 jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis yang penting, sedangkan sembilan jenis
lainnya belum memiliki nilai ekonomis yang penting, namun secara ekologis berperan
penting, terutama dalam menunjang kesinambungan aliran energi dan materi jaring-jaring
makanan ini.

Jenis-jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis penting, yaitu Sipimping, Selais (Cryptopterus
apogon), Kayangan (Sclerophages formosus), Tapah (Wallago leeri), Baung (Macrones
nemurus), Tomang (Ophiocephalus sp.), Balido (Netopterus sp.) dan Gelang.

Hidrologi
Daerah Tangkapan Air Danau dapat dibagi menjadi beberapa sub daerah tangkapan air Sub
DAS (sub-catchments) atau dapat juga disebut sebagai sub-daerah aliran sungai/sub-das.
Pembagian sub-das tersebut adalah sebagai berikut:

Sub-DAS 1 : Luasnya sekitar 5.600 Ha dan merupakan sub DAS yang terjadi setelah adanya
aliran kanal. Pengaliran yang terjadi di sub DAS ini adalah pengaliran kanal. Sebagian
besar penutupan lahan di daerah A1 adalah berupa hutan (4.600 Ha) dan sebagian
daerah lainnya berupa semak belukar dan tanaman sawit (1.000 Ha). Hanya 850 Ha
area dari DAS ini yang termasuk areal KSM, 4.750 Ha adalah wilayahh areal PT.
Ekawana Lestaridharma dan kebun masyarakat.

Sub-DAS 2 (S. Sejuk) dan Sub-DAS 3 (S. Air Sejuk) : Luasnya sekitar 5.400 Ha. Kedua sub-
das ini merupakan sub-das alami yang seluruh penutupan lahannya masih berupa
hutan. Namun demikian pengaliran air di bagian hilir kedua sub DAS ini (di bagian hilir
sebelum masuk ke danau) telah dipengaruhi oleh sistem pengaliran kanal. Sub-DAS 2
yang luasnya 2.800 Ha. 1500 Ha termasuk areal KSM, sedangkan 1300 Ha lainnya
masuk ke dalam areal PT. Ekawana Lestaridharma.

Sub-DAS 4, 5 dan 6 : Luasnya sekitar 5.400 Ha. Ketiga Sub-DAS ini merupakan Sub-DAS
alami, penutupan lahannya masih berupa hutan. Sama halnya dengan Sub-DAS 3,
sistem pengaliran ketiga Sub-DAS ini juga dipengaruhi oleh sistem pengaliran kanal.

Sub-DAS 7 : Luasnya sekitar 3.800 Ha. Sub-DAS ini merupakan sub-DAS alami, seluruh
penutupan lahannya masih berupa hutan dan sistem pengalirannya masih alami. Alami
Sub-DAS ini langsung masuk ke Danau Pulau Besar.

Dari uraian Sub-DAS tersebut di atas dapat diketahui hampir seluruh sistem pengaliran Sub-
DAS yang ada di calon Taman Nasional Zamrud telah terpengaruh oleh pengaliran kanal
dan hanya tinggal sebagian kecil Sub-DAS yang pengalirannya masih alami, yaitu Sub-DAS
7 yang luasnya 3.800 Ha atau sekitar 16% dari total seluruh daerah tangkapan air danau.
Kronologis Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau
Bawah Menjadi Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak Provinsi Riau

 Tahun 1971, sesuai Keppres RI Nomor 39 tahun 1971, PT. Caltex Pasific Indonesia
telah mendapatkan penetapan Wilayah-wilayah Kuasa Pertambangan termasuk yang
ada dalam Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah, sedangkan kegiatan
di lapangan dimulai pada tahun 1975.

 Julius Tahija, mantan Dewan Komisaris PT Caltex Pasific Indonesia yang menemukan
dua danau di wilayah operasi CPI di Sumatera. Julius Tahija mengajak Emil Salim
untuk mendukung gagasan konservasi kawasan tersebut. Emil Salim mendukung
gagasan tersebut dan menerbitkan surat No. 812/MemPPLH/8/79. Surat ini kemudian
menjadi dasar Surat Keputusan Gubernur Riau pada November 1979, yang
menetapkan kawasan tersebut sebagai hutan lindung. Julius Tahija akhirnya
mendapatkan penghargaan Orde Van de Goulden Ark dari Pangeran Bernhard,
Negeri Belanda atas dedikasinya pada konservasi Suaka Margasatwa Danau Pulau
Besar/Danau Bawah, dengan menerapkan bor miring atau horizontal, sehingga tidak
merusak kawasan suaka margasatwa tersebut.

 25 Nopember 1980, diterbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor


846/Kpts/Um/11/1980 tentang Penunjukan Kelompok Hutan Danau Pulau
Besar/Danau Bawah seluas ± 25.000 Ha yang terletak di Kab.Bengkalis, Riau,
sebagai Kawasan Hutan dengan Fungsi sebagai Hutan Suaka Alam cq Suaka
Margasatwa.

 26 Agustus 1999, setelah selesai dilakukan tata batas temu gelang, diterbitkan
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 668/Kpts-II/1999, tentang
Penetapan Kelompok Hutan Danau Pulau Besar/Danau Bawah seluas 28.237,95 Ha
yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkalis, Provinsi Daerah Tingkat I
Riau, sebagai kawasan hutan dengan fungsi Suaka Margasatwa.

 2 November 2001, surat Bupati Siak Arwin AS kepada Menteri Kehutanan


No.660/SET/100S/2001 perihal Mohon persetujuan perluasan KSM Danau Pulau
Besar/Danau Bawah.

 9 Juni 2005, surat Bupati Siak Arwin AS kepada Menteri Kehutanan


No.364/Dishut/205/2005, menyampaikan permohonan dukungan Menteri Kehutanan
atas perluasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah dari
±28.237,95 ha menjadi ± 38.500 ha, serta perubahan fungsi menjadi Taman
Nasional Zamrud. Areal Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu - Hutan Tanaman
(IUPHHK-HT)/HTI yang masuk dalam rencana Taman Nasional seluas ±10.262,05 ha
meliputi areal PT Riau Andalan Pulp & Paper, PT. Arara Abadi, PT. Ekawana
Lestaridharma, dan PT. National Timber and Forest Product , secara lisan mereka
bersedia mengurangi sebagian arealnya untuk perluasan kawasan konservasi.

 13 Juni 2005, surat Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Siak Amin Budyadi kepada
Bupati Siak Nomor 1579/Can/VI/2005 menyampaikan pertimbangan teknis.

 12 Juli 2005, surat Kepala BKSDA Riau kepada Bupati Siak No.S.1367/IV-K.5/T3/2005,
pada prinsipnya mendukung rencana Pemkab. Siak dengan memperluas Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah dari ±28.237,95 ha menjadi
Taman Nasional Zamrud seluas ±38.500 ha dan diperlukan hasil penelitian Tim
Terpadu perubahan fungsi kawasan hutan, saran/pertimbangan teknis Dinas
Kehutanan Kabupaten Siak, Persetujuan DPRD Kabupaten Siak, dan Rekomendasi
Gubernur Riau.

 30 Agustus 2005, surat Direktur Kawasan Konservasi kepada Kepala BKSDA Riau
No.S.376/IV/KK-1/2005, memerintahkan melakukan kajian teknis terhadap areal
perluasan dan perubahan fungsi Suaka Margasatwa bersama Dinas Kehutanan
Kabupaten Siak, meminta pernyataan tertulis dari IUPHHK-HT/HTI yg arealnya
diusulkan menjadi Taman Nasional Zamrud, dan mendapatkan rekomendasi
Gubernur Riau.

 25 Oktober 2005, surat Kepala Badan Planologi Kehutanan kepada Dirjen Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam dan Dirjen Bina Produksi Kehutanan No.S.890/VII-KP/2005,
meminta pertimbangan atas usulan pembentukan Taman Nasional Zamrud
sehubungan surat Bupati Siak yang mengajukan perluasan dan perubahan fungsi
kawasan Suaka Margasatwa menjadi Taman Nasional Zamrud.

 25 Oktober 2005, surat Kepala Badan Planologi Kehutanan kepada Dirjen


Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dan Dirjen Bina Produksi Kehutanan
No.S.891/VII-KP/2005, menyampaikan bahwa usulan perluasan dan perubahan fungsi
perlu dilengkapi dengan rekomendasi Gubernur dan Penelitian Terpadu.

 15 November 2005, surat Dirjen Bina Produksi Kehutanan kepada Kepala Badan
Planologi Kehutanan No. S.311/VI-BRPHP/Rhs/2005 menyampaikan:

a. Tidak harus ditempuh dengan perubahan fungsi, tetapi dapat bekerjasama


antara Pemerintah Kabupaten dengan pemegang izin usaha.
b. Perlu kegiatan terkoordinasi antara Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam, Ditjen Bina Produksi Kehutanan, dan Badan Planologi Kehutanan untuk
identifikasi areal High Conservation Value Forest (HCVF) pada Hutan Produksi
yang berbatasan dengan taman nasional/kawasan konservasi.
c. Meningkatkan perencanaan hutan yg terintegrasi agar menjadi keberlanjutan
usaha IUPHHK-HT/HTI pada areal yang telah dibebani hak dan memberikan
kepastian bagi investor pada areal yg belum dibebani hak.

 2 Desember 2005, surat Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau kepada Gubernur
Riau No.522.1/PR/0339, menyampaikan dukungan terhadap usulan perluasan
Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah 28.237 ha dan
Kawasan Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.262,05 ha menjadi Taman Nasional
Zamrud seluas 38.500 ha.

Areal Hutan Produksi Tetap seluas ±10.262,05 ha yang menjadi perluasan adalah :

a. Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan Provinsi Riau (SK Menteri Kehutanan
No.173/Kpts-II/1986 tanggal 6 Juni 1986) seluruh lokasi perluasan berada di
Hutan Produksi Tetap.
b. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau (Perda No.10/1994)
termasuk Arahan Pengembangan Kawasan Kehutanan (±360 ha) dan Kawasan
Lindung Gambut (±9.902, 05 ha)
c. Berdasarkan Areal IUPHHK-HT/HTI:
PT. RAPP (±4.500 ha)
PT. Arara Abadi (±1.760 ha)
PT. Ekawana Lestaridharma (±780 ha)
PT. National Timber and Forest Product (±200 ha)
Di luar IUPHHK-HT/HA (±3.022,05 ha)

d. Prinsipnya mendukung perluasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau


Pulau Bawah dan merubah fungsi menjadi Taman Nasional Zamrud.
 12 Desember 2005, surat Direktur Konservasi Kawasan kepada Kepala BKSDA Riau
No.S.537/IV/KK-1/2005, meminta klarifikasi kondisi ekologis Suaka Margasatwa dan
kawasan hutan sekitarnya yang dibebani hak-hak pihak ke tiga; mengkaji bersama
pihak-pihak terkait dengan pertimbangan komprehesif aspek kepastian usaha dan
hukum; subtitusi alternatif selain perluasan Suaka Margasatwa menjadi Taman
Nasional sebagai bahan dasar inisiasi pembentukan Taman Nasional.

 14 Desember 2005 surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada
Kepala Badan Planologi Kehutanan No.S.782/IV-KK/2005, menyampaikan bahwa
memperhatikan potensi yang dimiliki Suaka Margasatwa tersebut, usulan perluasan
kawasan akan menyediakan kecukupan luasan ekosistem yang viable mendukung
berlangsungnya proses-proses ekologis penyangga kehidupan, serta memperhatikan
PP No.34 Tahun 2002 Pasal 2, 6, 25, dan 26 terdapat 2 alternatif yang dapat
ditempuh, yaitu :

a. Memproses usulan perubahan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau


Pulau Bawah berikut areal perluasannya menjadi Taman Nasional Zamrud sesuai
prosedur hukum yang berlaku.
b. Tetap mempertahankan Danau Pulau Besar/Danau Bawah sebagai Suaka
Margasatwa diperkuat dengan pemanfaatan peluang-peluang kolaborasi dengan
para pihak yang antara lainnya adalah para pemegang izin HPH/IUPHHK-HT di
sekitarnya.
 6 Januari 2006, surat Kepala Badan Penelitian Pengembangan Kehutanan kepada
Dirjen Bina Produksi Kehutanan Nomor S.27/VII/LH-2/2006, menyampaikan sebagai
berikut :

a. Usulan Bupati Siak perlu didukung atas pertimbangan agar pengelolaan lebih
terarah karena adanya sistem zonasi dalam Taman Nasional sehingga
keberadaannya dapat dirasakan masyarakat/Pemerintah Kabupaten.
b. Usulan perluasan ±10.262,05 yg berstatus Hutan Produksi Tetap dan telah
dibebani IUPHHK-HT/HTI perlu kajian apakah perlu perubahan fungsi atau
kerjasama antara Pemerintah Kabupaten dengan pemegang izin.
c. Perlu dibentuk Tim Terpadu.

 25 Januari 2006, surat Direktur Konservasi Kawasan kepada Kepala Dinas Kehutanan
Provinsi Riau No.S.15/IV/KK-1/2006, menyampaikan bahwa untuk memperkuat
proses perubahan fungsi, selain adanya rekomendasi Gubernur Riau, diperlukan
adanya pernyataan tertulis dari para pemegang konsesi mengenai kesediaan
melepaskan sebagai area IUPHHK-HT/HTI menjadi Taman Nasional Zamrud, yang
diperkuat oleh Notaris.

 26 Januari 2006, Nota Dinas Direktur Konservasi Kawasan kepada Dirjen


Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No.22/IV/KK-1/2006, menginformasikan
akan meminta kepada Dinas Kehutanan Provinsi Riau untuk mendapatkan
pernyataan tertulis dari para pemegang konsesi yang secara lisan bersedia melepas
sebagian wilayah konsesi sebagai kawasan Taman Nasional Zamrud dan akan
diteruskan proses perubahan izinnya kepada Dirjen Bina Produksi Kehutanan.

 30 Januari 2006, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada
Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan No.73/IV-KK/2006, memohon bantuan
untuk mendukung proses admininistrasi pencabutan izin untuk bagian areal konsesi
yang akan dijadikan Taman Nasional Zamrud apabila Dinas Kehutanan Provinsi Riau
telah mendapatkan pernyataan tertulis dari para pemegang konsesi yang telah
secara lisan bersedia melepas sebagian wilayah konsesi sebagai kawasan Taman
Nasional Zamrud.

 10 Juli 2006, surat Kepala Badan Planologi Kehutanan kepada Dirjen Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam Nomor S.579/VII-KP/2006, meminta mengkoordinasikan
pembahasan permohonan usulan perluasan fungsi kawasan antara Ditjen Bina
Produksi Kehutanan, Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Badan Penelitian dan
Pengembangan Hutan, Badan Planologi Kehutanan, dan Biro Hukum dan Organisasi
Setjen Departemen Kehutanan untuk mendapatkan kesamaan pendapat atas
penyelesaian usulan tersebut.

 22 Agustus 2006, surat Kepala Pusat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan
kepada Direktur Konservasi Kawasan Nomor S.474/VII/KP/II/2/2006, menyampaikan
bahwa sesuai disposisi Menteri Kehutanan tanggal 12 Juli 2006 diatas surat Kepala
Badan Planologi Kehutanan Nomor S.579/VII-KP/2006 tanggal 10 Juli 2006, mohon
untuk mengkoordinasikan pembahasan usulan Bupati Siak tentang perluasan dan
perubahan fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi
Taman Nasional Zamrud.

 18 Desember 2006, surat Direktur Utama PT. Ekawana Lestaridharma kepada Bupati
Siak No. 074/EL-PKU/XII/2006, menyampaikan bahwa PT. Ekawana Lestaridharma
mendukung rencana perluasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah,
dan telah mencadangkan areal konsesinya seluas +780 ha yang merupakan satu
hamparan dengan areal kawasan Suaka Margasatwa.

 20 Desember 2006, Lokakarya Optimalisasi Pengelolaan Suaka Margasatwa Danau


Pulau Besar/Danau Bawah di Pekanbaru, yang dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten Siak berkerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup
Regional Sumatera.

 22 Desember 2006, surat Bupati Siak Arwin, AS kepada Menteri Dalam Negeri no.
551/EK/133, minta dukungan terhadap rencana peresmian jembatan Siak,
pelaksanaan restorasi Istana Kesultanan Siak, Pembangunan Pusat Perkantoran
Pemerintah Kabupaten Siak, Panen perdana kelapa sawit rakyat yang dibangun oleh
Pemerintah Kabupaten Siak, Peletakan batu pertama pembangunan pelabuhan
Tanjung Buton, dan penandatanganan prasasti pencanangan Taman Nasional
Zamrud.

 26 Desember 2006, surat Direktur PT. Riau Andalan Pulp & Paper kepada Kepala
Dinas Kehutanan Kabupaten Siak No. 132/RAPP-XII/2006, menyampaikan bahwa
telah mengalokasikan areal selebar + 3 km dengan luas + 7.270 ha sebagai areal
konservasi/kawasan lindung UPHHK-HT/HTI dan berfungsi sebagai kawasan
penyangga Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah yang termasuk
dalam wilayah Kabupaten Siak seluas + 4.558 ha dan wilayah Kabupaten Pelalawan
seluas + 2.712 ha.

 29 Desember 2006, surat Direktur PT. National Timber & Forest Product kepada
Bupati Siak No. 472/NT/HTI-A/XII/2006, menyampaikan bahwa PT. National Timber &
Forest Product mendukung rencana perluasan Suaka Margasatwa Danau Pulau
Besar/Danau Bawah, dan telah mencadangkan areal konsesinya seluas +200 ha yg
merupakan satu hamparan dengan areal kawasan Suaka Margasatwa.
 Desember 2006, Kajian Tim dari Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional
Sumatera, Kementerian Negara Lingkungan Hidup tentang Pentingnya Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud.

 12 Januari 2007, surat Bupati Siak Arwin AS kepada Menteri Kehutanan No.
121/Dishut/I/2007, menyampaikan permohonan untuk dapat menindaklanjuti usulan
perluasan dan perubahan fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau
Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud.

 12 Januari 2007, surat Direktur PT. Arara Abadi Cabang Riau kepada Kepala Dinas
Kehutanan Kabupaten Siak No. 041/AA/I/2007, menyampaikan bahwa PT Arara Abadi
sangat mendukung program Kabupaten Siak untuk mengusulkan Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi Taman Nasional dan telah
mengalokasikan kawasan tersebut sebagai kawasan penyangga Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah seluas +1.300 ha. Areal tersebut akan dikelola
sebagai kawasan lindung dan tidak akan dikonversi menjadi peruntukan lain.

 12 Maret 2007, Nota Dinas Direktur Konservasi Kawasan kepada Dirjen Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam Nomor ND.106/IV/KK-1/2007 tanggal 12 Maret 2007
menyampaikan kronologis dan permohonan proses tindak lanjut oleh Badan
Planologi Kehutanan

 8 Mei 2007, Kepala Badan Planologi kepada Dirjen Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam melalui surat Nomor S.299/VII-KP/2007, memperhatikan surat
Bupati Siak Nomor 364/Dishut/205/2005 tanggal 9 Juni 2005, berpendapat bahwa
usulan perluasan dan perubahan fungsi tersebut perlu dibahas bersama dengan
melibatkan Ditjen Bina Produksi Kehutanan, Ditjen Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Badan Planologi
Kehutanan dan Biro Hukum dan Organisasi Dephut guna mendapatkan kesamaan
pendapat atas alternatif penyelesaian usulan perluasan dan perubahan fungsi Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud.
Diharap dapat mengkoordinasikan pembahasan dimaksud.

 28 Mei 2007, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada Kepala
Badan Planologi Kehutanan No. S.512/IV-KK/2007, meminta untuk dibentuk Tim
Terpadu.

 Mei 2007, Pemerintah Kabupaten Siak bekerjasama dengan KAGAMA Kehutanan


Daerah Riau dan PT. ARARA ABADI mengadakan lomba Penulisan Tentang
Konservasi dan Kelestarian Hutan di Kabupaten Siak 2007, dengan tema, “
Konservasi dan Masa Depan Hutan di Kabupaten Siak, Pentingnya Taman Nasional
Zamrud Bagi Kelestarian Ekosistem”.

 16 Juli 2007, surat Bupati Siak Arwin, AS kepada Menhut Nomor 100/TP/VII/2007/209,
mengajukan permohonan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah
menjadi Taman Nasional Zamrud, yang mana pada tanggal 31 Januari 2007 telah
menyampaikan permohonan pencanangan atau peresmian Taman Nasional Zamrud
pada agenda kunjungan Presiden di Kab. Siak tgl 10-11 Agustus 2007.

 23 Juli 2007, Undangan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor
UN.190/IV-KK/2007, membahas alternatif penyelesaian usulan perluasan dan
perubahan fungsi Suaka Margasatwa Danau Besar/Danau Pulau Bawah menjadi
Taman Nasional Zamrud pada tanggal 27 Juli 2007 di Jakarta.

 24 Juli 2007, Rekomendasi Gubernur Riau terhadap usulan perubahan fungsi Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud dari
Bupati Siak.
 27 Juli 2007, rapat pembahasan alternatif penyelesaian usulan perluasan dan
perubahan fungsi Suaka Margasatwa Danau Besar/Danau Pulau Bawah menjadi
Taman Nasional Zamrud di Jakarta.

 6 Agustus 2007, surat Menteri Kehutanan Kepada Bupati Siak Nomor S.496/Menhut-
IV/2007, menyampaikan bahwa sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
70/Kpts-II/2001 jo Nomor SK.48/Menhut-II/2004 tentang Penetapan Kawasan Hutan,
Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan, sebagian besar persyaratan
administrasi usulan Taman Nasional telah dipenuhi.

 7 Agustus 2007, surat Menteri Kehutanan kepada Presiden RI Nomor S.498/Menhut-


I/2007 tanggal 7 Agustus 2007 menyampaikan bahwa :

a. Secara peraturan perundang-undangan yang berlaku, dari segi administrasi,


persyaratan untuk pencanangan Taman Nasional Zamrud telah sesuai.
b. Sehubungan dengan acara kunjungan kerja Presiden RI tanggal 11-12 Agustus
2007 ke Provinsi Riau pada prinsipnya kami sependapat, untuk dilakukannya
rencana pencanangan Taman Nasional Zamrud. Hal-hal yang terkait dengan
masalah teknis penunjukan Taman Nasional akan dikoordinasikan lebih lanjut
dengan pihak terkait.
 11 Agustus 2007, Presiden RI Bapak H. Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani
prasasti Pencanangan Taman Nasional Zamrud Kabupaten Siak pada saat kunjungan
kerja ke Kabupaten Siak.

 21 September 2007, dilakukan Rapat Pembahasan Pembentukan Tim Terpadu


Taman Nasional Zamrud. Disepakati dibentuk Tim Pendahuluan sebelum dibentuk
Tim Terpadu, untuk mengumpulkan data dan informasi teknis berkaitan dengan
perubahan fungsi.

 8 Januari 2008, Kepala Badan Planologi Kehutanan menyelenggarakan rapat


koordinasi lintas Eselon I Departemen Kehutanan dan mengundang PT. Riau Andalan
Pulp & Paper, PT. Ekawana Lestaridharma, PT. Arara Abadi, dan PT. National Timber
and Forest Product. Disepakati Badan Planologi Kehutanan akan mengundang
Pimpinan PT. Riau Andalan Pulp & Paper dan Pimpinan PT.Arara Abadi untuk
mensepakati pelepasan sebagian arealnya. Badan Planologi Kehutanan akan
mengkoordinasikan peninjauan lapangan oleh Tim Pendahuluan.

 25 Januari 2008, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada
Kepala Badan Planologi Kehutanan No. S.23/IV-KK/2008, menyatakan dukungan
perubahan fungsi dan perluasan Taman Nasional Zamrud, serta perlunya segera
dilakukan peninjauan lapangan oleh Tim Pendahuluan.

 25 Januari 2008, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada
Kepala Badan Planologi Kehutanan Kehutanan Nomor: S.23/IV-KK/2008, perihal
Rekomendasi Perluasan Taman Nasional Zamrud. Dalam surat ini disampaikan
dukungan terhadap perubahan fungsi dan perluasan serta peninjauan lapangan oleh
Tim Terpadu terhadap calon Taman Nasional Zamrud

 11 Februari 2008, surat Kepala Badan Planologi Kehutanan kepada Dirjen


Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor S.89/VII-KP/2008, perihal Laporan
Hasil Rapat Usulan Perluasan dan Perubahan Fungsi Kawasan Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud di
Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

 3 Maret 2008, surat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
kepada Kepala Badan Planologi Kehutanan Nomor S.115/IV-KK/2008, menyampaikan
bahwa telah dilaksanakan Workshop Pengembangan dan Pengelolaan Taman
Nasional Zamrud di Pekanbaru tanggal 18-20 Februari 2008 dengan kesimpulan
bahwa perlu segera melakukan kajian lapangan agar dirubah Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah dan sebagian areal PT. Riau Andalan Pulp & Paper,
dan PT. Arara Abadi menjadi Taman Nasional Zamrud.

 6 Mei 2008, surat Kepala Balai Besar KSDA Riau kepada Dirjen Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam No.S.678/IV-17/TU.2/2008, menyampaikan perlunya dilakukan
percepatan tindaklanjut terhadap penandatangan prasasti pencanangan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 12 Agustus 2007, dan
memfasilitasi pertemuan antara Dirjen Bina Produksi Kehutanan, Pemerintah
Kabupaten Siak, dan Perusahaan terkait untuk pembahasan masalah dimaksud,
yang rencananya dilaksanakan tanggal 14 Mei 2008.

 12 Mei 2008, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada Kepala
Badan Planologi Kehutanan No.S.216/IV-KK/2008, menyatakan bahwa pada
prinsipnya mendukung usulan perluasan dan perubahan fungsi Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/ Danau Pulau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud seluas
38.500 ha.

 14 Mei 2008, dilakukan rapat Percepatan Penetapan Taman Nasional Zamrud di


Hotel Le Grandeur, Jakarta dipimpin oleh Direktur Konservasi Kawasan dan dihadiri
oleh perwakilan Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Ditjen Bina
Produksi Kehutanan, Badan Planologi Kehutanan, Bupati Siak, Balai Besar KSDA Riau,
PT. Arara Abadi dan PT. Riau Andalan Pulp & Paper, dengan kesepakatan untuk
melakukan percepatan penetapan Taman Nasional Zamrud.

 19 Mei 2008, surat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
kepada Menteri Kehutanan Nomor 3365/10/MEM.M/2008, mengajukan Permohonan
Kebijakan Penggunaan Kawasan Hutan Untuk Kegiatan Pertambangan/pengeboran
sumur migas, yang antara lain untuk KKKS BOB PT. Bumi Siak Pusako-Pertamina
Hulu di Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah.

 21 Mei 2008, surat Kepala Balai Besar KSDA Riau kepada Dirjen Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam No.S.747/IV-17/TU.2/2008, menyampaikan rencana perluasan
yang diusulkan dari 28.237,95 ha menjadi 38.500 ha baru disepakati menjadi 32.240
ha yang berasal dari Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/ Danau Bawah seluas
28.237,95 ha, Areal Penggunaan Lain seluas 3.022,05 ha, PT. Ekawana
Lestaridharma seluas 780 ha, dan PT. National Timber seluas 200 ha. Sedangkan
rencana perluasan dari PT. Riau Andalan Pulp & Paper seluas 4.500 ha dan PT. Arara
Abadi seluas 1.760 ha masih terkendala dengan adanya kewajiban dari Ditjen Bina
Produksi Kehutanan untuk menggantikan kawasan yang dilepas menjadi kawasan
Taman Nasional Zamrud. Segera akan membentuk Tim Terpadu untuk
melaksanakan evaluasi dan merekomendasikan perluasan calon Taman Nasional
Zamrud.

 15 Agustus 2008, surat Bupati Siak Arwin.AS kepada Menteri Kehutanan


No.522/Dishut/2008, meminta untuk mempercepat penetapan Taman Nasional
Zamrud sebagai tindak lanjut pencanangan Taman Nasional Zamrud oleh Presiden RI
tanggal 12 Agustus 2007.

 27 Oktober 2008, surat Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam kepada
Kepala Badan Planologi Kehutanan No.S.523/IV-KK/2008, meminta Badan Planologi
Kehutanan untuk segera mempercepat pengkajian oleh Tim Terpadu.

 21 Oktober 2008, surat Kepala Badan Planologi kepada Direktur Jenderal Bina
Produksi Kehutanan No.S.630/VII-KP/2008, mengharapkan bantuannya untuk
memberikan pertimbangan teknis yang mencakup IUPHHK-HT/HTI PT. Riau Andalan
Pulp & Paper seluas ±4.500 ha, PT. Arara Abadi seluas ± 1.760 ha, PT. Ekawana
Lestaridharma seluas ±780 ha, PT. National Timber and Forest Product seluas ±200
ha dan areal yag tidak dibebani IUPHHK-HT/Areal Penggunaan Lain seluas ±3.022,05
ha. Pertimbangan tersebut perlu diikuti addendum IUPHHK-HT/HTI yang diperlukan
untuk proses perubahan fungsi kawasan hutan dari fungsi Hutan Produksi Tetap
menjadi Taman Nasional.

 Maret 2009, surat Kepala Balai Besar KSDA Riau kepada Dirjen Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam No.S.230/IV-17/TU.2/2009, karena lambatnya proses
pelepasan IUPHHK-HT memohon agar segera melakukan penetapan kawasan Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah sebagai Taman Nasional seluas
±28.237,95 ha (atau seluas sama dengan Suaka Margasatwa),

 5 Agustus 2009, Menteri Kehutanan melalui Keputusan Nomor : SK. 463/Menhut-


VII/2009 membentuk Tim Terpadu dalam rangka pengkajian Usulan Perubahan
Fungsi Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar dan Danau Bawah serta HP
Tasik Besar Serkap seluas ± 32.240 ha menjadi Taman Nasional Zamrud, di
Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

 6 Agustus 2009, Undangan Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan


kepada Tim Terpadu Nomor : UN.1140/VII/KUH-3/2009 untuk membahas Persiapan
Pelaksanaan Pengkajian Lapangan Tim Terpadu.

 September 2009, Tim Terpadu yang melibatkan para pihak antara lain LIPI, Litbang
Kehutanan, Ditjen Planologi, Ditjen PHKA, Pemda Kabupaten Siak berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 463/Menhut-VII/2009 tanggal 5 Agustus 2009
melaksanaan peninjauan dan kajian lapangan. Hasil kajian Tim Terpadu sudah
dilaporkan kepada Menteri Kehutanan dan menunggu persetujuan prinsip Menteri
Kehutanan.

 21 Januari 2015, diadakan rapat tindak lanjut usulan perubahan fungsi Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah di Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, yang dipimpin oleh Direktur Pengukuhan dan Penataan Kawasan Hutan.
General Manager Badan Operasi Bersama (BOB) PT.BSP-Pertamina Hulu
menyampaikan :

a. Sesuai Keppres RI Nomor 39 tahun 1971, PT. Caltex Pasific Indonesia telah
mendapatkan penetapan wilayah-wilayah Kuasa Pertambangan termasuk yang
ada di kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah, sedangkan
kegiatan lapangan dimulai tahun 1975.
b. Hingga saat ini, BOB PT BSP-Pertamina Hulu telah melakukan pemboran
sebanyak 176 sumur minyak.
c. Wilayah kerja BOB PT. BSP-Pertamina Hulu yang tumpang tindih dengan Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah seluas 260 ha atau 0,92%.

Kesimpulan Rapat tersebut antara lain adalah :


a. Tindak lanjut perubahan fungsi diproses melalui perubahan fungsi parsial, yaitu
penyiapan surat Persetujuan Prinsip Menteri Kehutanan dan selanjutnya surat
Keputusan Menteri Kehutanan tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan
menjadi Taman Nasional Zamrud.
b. Mempertimbangkan eksistensi kegiatan pengeboran minyak sejak tahun 1975
(PT Caltex Pasific Indonesia), yang saat ini dikerjakan oleh BOB PT. BSP-
Pertamina Hulu. Areal pengeboran berada di dalam kawasan yang akan berubah
fungsi menjadi Taman Nasional Zamrud, dan perubahan fungsi menjadi fungsi
lainnya diusulkan secara parsial.
 10 Februari 2015, Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan melalui Nota
Dinas nomor: ND.22/VII-KUH/2015 tanggal 10 Februari 2015 menyampaikan Konsep
Persetujuan Prinsip kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 27 April 2015, surat Kepala Biro Hukum dan Organisasi kepada Dirjen Planologi
Kehutanan dan Tata Lingkungan No. S.375/Kum-1/2015 meminta untuk
menindaklanjuti Konsep Persetujuan Prinsip sesuai peraturan, yaitu : “Tim Terpadu
menyampaikan hasil penelitian dan rekomendasi perubahan kawasan fungsi kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal untuk mohon persetujuan Menteri”.

 4 Mei 2015, Nota Dinas Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan kepada
Menteri Kehutanan No. ND.84/VII-KUH/2015 menyampaikan Berita Acara dan Hasil
Tim Terpadu sebagai tindaklanjut penyampaian Konsep Persetujuan Prinsip sesuai
Nota Dinas No. ND.22/VII-KUH/2015 tanggal 10 Februari 2015, dengan
menyampaikan :

 Perubahan Fungsi Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar /Danau Bawah
serta Kawasan Hutan Produksi Tasik Besar Serkap menjadi Taman Nasional
Zamrud seluas ± 29.215 ha di Kabupaten Siak Provinsi Riau tanggal 30
September 2009.
 Peta Rekomendasi Tim Terpadu Revisi RTRWP Riau seluas ± 31.480 ha.
 1 Juli 2015, surat Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan kepada Sekretaris
Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. S.686/PKTL-KUH/2015,
menyampaikan Konsep Peta Lampiran Keputusan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan
dimaksud yang berisikan lima lembar konsep Peta Lampiran Surat Keputusan.

 1 Februari 2016, pertemuan antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang
didampingi Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan dengan Bupati Siak. Pada
kesempatan tersebut Bupati Siak Drs. H. Syamsuar M.Si menanyakan perkembangan
proses perubahan fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah
menjadi Taman Nasional Zamrud.

 17-18 Maret 2016, diadakan Koordinasi dan Supervisi (KORSUP) Sektor Energi Sub
Sektor Migas di Pekanbaru Provinsi Riau. Dalam KORSUP tersebut Bupati Siak Drs. H.
Syamsuar M.Si menanyakan tentang progress usulan Perubahan Fungsi Kawasan Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah menjadi Taman Nasional Zamrud.

 22 Maret 2016, menikdaklanjuti KORSUP, Bupati Siak Drs. H. Syamsuar. M.Si dengan
surat No. 671/DPE-S/2016/97 memohon kepada Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan RI untuk dapat menetapkan Perubahan Fungsi Kawasan Suaka
Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Pulau Bawah menjadi Taman Nasional
Zamrud.

 1 April 2016, melalui Surat No. UN.39/PKTL-Set/Kun/Set.1/4/2016 Dirjen Planologi


Kehutanan dan Tata Lingkungan mengundang Pemerintah Kabupaten Siak, BOB
PT.Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu serta pihak terkait untuk Pembahasan Tindak
Lanjut Usulan Perubahan Fungsi Kawasan Suaka Margasatwa menjadi Taman
Nasional yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 April 2016.

 6 April 2016, dilaksanakan pembahasan tindak lanjut Usulan Perubahan Fungsi


Kawasan Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah serta Hutan Produksi
Tasik Besar Serkap menjadi Taman Nasional Zamrud di Ruang Rapat Dirjen Planologi
Kehutanan dan Tata Lingkungan. Dalam rapat tersebut General Manager BOB PT.
Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu menyampaikan informasi dan potensi Lapangan
Minyak di sekitar Kawasan Suaka Margasatwa Zamrud, sebagai berikut :
Cadangan Lapangan Zamrud
 Pemboran sumur pertama : September 1975
 Jumlah Sumur saat ini : 176 sumur
 Potensi Cadangan Lapangan Zamrud : 54,8 juta barrel minyak (termasuk
potensi projek EOR), ekivalen dengan Rp. 40 trilyun.
 Produksi minyak saat ini : 3.104 barrel minyak per hari
 Potensi Produksi : 9.100 barrel minyak per hari (target puncak produksi pada
tahun 2034)
 Potensi Sumber Daya (Prospect & Lead) : 65 juta barrel minyak (Zamrud
Flank, Gajah Putih, Pondok Zamrud), ekivalen dengan Rp. 45 trilyun.
Adapun kesimpulan Rapat, sebagai berikut :
 Secara teknis perubahan fungsi kawasan hutan Suaka Margasatwa Danau
Pulau Besar/Danau Bawah serta Hutan Produksi Tasik Besar Serkap menjadi
Taman Nasional Zamrud telah memenuhi persyaratan.
 Disepakati bahwa proses penetapan SK perubahan parsial menjadi Taman
Nasional akan disampaikan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan untuk mendapatkan keputusan sambil secara paralel memproses
addendum izin HTI yang masuk pada bagian calon lokasi Taman Nasional
Zamrud.
 Diharapkan Surat Keputusan Perubahan Fungsi akan selesai pada akhir April
2016
 25 April 2016, surat Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan kepada Bapak
Sekretaris Jenderal Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.
302/PKTL/KUH/PLA.2/4/2016 menyampaikan konsep keputusan Menteri Lingkungan
Hidup dan Kehutanan tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Suaka Margasatwa
Danau Pulau Besar/Danau Bawah serta Hutan Produksi Tasik Serkap menjadi Taman
Nasional Zamrud di Kabupaten Siak Provinsi Riau.

 28 April 2016, diadakan pertemuan antara Sekretaris Jenderal Lingkungan Hidup dan
Kehutanan dengan Amin Budyadi (Pemerintah Kabupaten Siak) didampingi oleh
Wiratno (Direktur Perhutanan Sosial). Dalam kesempatan tersebut ditanyakan tindak
lanjut surat Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan nomor :
302/PKTL/KUH/PLA.2/4/2016, dan Sekretaris Jenderal Lingkungan Hidup dan
Kehutanan akan segera menindaklanjutinya.

 4 Mei 2016, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, melalui
Keputusan Menteri nomor : 350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016 tanggal 4 Mei 2016,
telah menetapkan Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar dan
Danau Pulau Bawah serta Kawasan Hutan Produksi Tetap Tasik Besar Serkap Menjadi
Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak, Provinsi Riau Seluas ± 31.480 (Tiga
Puluh Satu Ribu Empat Ratus Delapan Puluh) Hektar.
Tantangan dan Peluang
Membangun Kelembagaan Kolaborasi

Pengelolaan bersama suatu taman nasional secara kolaboratif merupakan hal baru di
Indonesia, yang dimulai pada era 1990an. Beberapa contoh dari inisiatif ini antara telah
dilakukan di Taman Nasional Bunaken, dengan dibentuk Badan Pengelola Taman Nasional
Bunaken. Di Taman Nasional Komodo, pola yang dikembangkan lebih mengarah pada
konsesi pengamanan dan pengelolaan beberapa kegiatan termasuk pengembangan wisata
alamnya. Konsorsium yang terdiri dari berbagai pihak (pemerintah, perguruan tinggi,
lembaga swadaya masyarakat) dikembangkan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango-
Taman Nasional Halimun-Salak.

Inisiatif dukungan pemerintah daerah untuk membantu lahirnya beberapa taman nasional
juga merupakan tren baru dalam konservasi di Indonesia. Taman Nasional Batang Gadis
merupakan salah satu contoh dukungan masyarakat dan Pemerintah Mandailing Natal yang
mendukung perubahan fungsi kawasan hutan lindung menjadi taman nasional, yaitu Taman
Nasional Batang Gadis seluas ± 108.000 Ha pada tahun 2004. Kajian keragaman hayati
dilakukan oleh LIPI, sedangkan kajian pola kolaborasinya dilakukan oleh Conservation
International Indonesia.

Taman Nasional Zamrud merupakan salah satu wujud kepedulian Pemerintah Kabupaten
Siak, untuk meningkatkan efektivitas manajemen, khususnya dalam pengembangan
penelitian, pendidikan, dan wisata alamnya. Berkaca dari berbagai inisiatif kolaborasi di
beberapa taman nasional tersebut, maka pembangunan kelembagaan kolaborasi di Taman
Nasional Zamrud perlu dilakukan dengan lebih efektif, dengan berpegang pada tiga prinsip
kolaborasi, yaitu saling percaya (mutual trust), saling menghargai (mutual respect), dan
saling menguntungkan (mutual benefit).

Dialog multipihak melalui forum seminar atau workshop merupakan salah saru upaya untuk
membuka ruang komunikasi mutipihak, khususnya dengan Departemen Kehutanan beserta
jajarannya, dalam hal ini Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Riau, adalah
titik awal yang sangat penting dan strategis. Selanjutnya, dialog dalam membangun
kesepahaman perlu dilanjutkan dengan mitra di sekitar Taman Nasional Zamrud, seperti
dengan masyarakat, dan beberapa pelaku ekonomi bidang kehutanan, seperti dengan 4
perusahaan yaitu PT.RAPP, PT.ARARA ABADI, PT.Ekawana Lestari Dharma, dan PT. National
Timber and Forest Product.

Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar/Danau Bawah yang saat ini telah menjadi Taman
Nasional Zamrud (Taman Nasional Zamrud) dikelola oleh Balai Besar KSDA Riau.
Berdasarkan struktur organisasi Balai Besar KSDA Riau. Suaka Margasatwa Danau Pulau
Besar/Danau Bawah (Taman Nasional Zamrud) berada di wilayah kerja Bidang KSDA
Wilayah II (P.08/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam) dengan jumlah
pegawai 52 orang yang terdiri atas struktural 3 orang, non struktural 29 orang, Polhut 12
orang, PEH 6 orang, penyuluh 1 orang dan penggerak masyarakat 1 orang.

Wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II meliputi : Suaka Margasatwa Danau Pulau
Besar/Danau Bawah (Taman Nasional Zamrud) meliputi Kecamatan Sungai Apit dan Dayaun
di Kabupaten Siak, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil yang meliputi Kabupaten Bengkalis
dan Siak, Suaka Margasatwa Bukit Batu di Kabupaten Bengkalis, Suaka Margasatwa Tasik
Belat yang meliputi Kabupaten Siak dan Pelelawan, Suaka Margasatwa Tasik Tanjung
Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti, Suaka Margasatwa Balai Raja di Kabupaten
Bengkalis, Suaka Margasatwa PLG Sebanga di Kabupaten Bengkalis, Taman Wisata Alam
Sungai Dumai di Kota Dumai, Cagar Alam Pulau Berkey di Kabupaten Rokan Hilir dan Cagar
Alam Bukit Bungkung di Kabupaten Kampar.

Di samping itu peranan Badan Operasi Bersama PT.Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu CPP
Block, Central Sumatra Basin, juga sangat strategis dalam mendukung inisiatif kolaborasi
Taman Nasional Zamrud ini. Demikian pula kerjasama dengan berbagai pusat studi,
universitas setempat, lembaga adat, lembaga swadaya masyarakat, para tokoh
masyarakat, dan bahkan dengan LIPI serta BPPT diharapkan akan mempercepat upaya
pembangunan kelembagaan kolaborasi tersebut.

Pemerintah Kabupaten Siak terbuka untuk bekerjasama dengan pihak-pihak lainnya,


termasuk lembaga-lembaga konservasi internsional yang bekerja di Indonesia, sepanjang
sesuai dengan visi dan misi penyelamatan kawasan konservasi di TN Zamrud, dan demi
kepentingan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Siak.

Untuk membangun kelembagaan kolaborasi TN Zamrud, maka perlu dibentuk Kelompok


Kerja (Pokja) multipihak yang akan mengawal proses pembangunan kelembagaan
kolaborasi sejak dari awal. Pokja akan memulai proses komunikasi dan koordinasi dalam
membangun visi, misi, dan strategi kolaborasi. Nilai-nilai organisasi kolaborasi secara
bertahap juga dibangun, disepakati, dan dijadikan bagian dari proses internalisasi nilai-nilai
organisasi tersebut.

Pengelolaan Taman Nasional Zamrud


Diharapkan dengan dibentuknya suatu Lembaga Kolaborasi pengelolaan Taman Nasional
Zamrud, maka upaya-upaya pengelolaannya akan dikawal oleh Lembaga Kolaborasi tersebut.
Namun demikian, diharapkan Lembaga Kolaborasi ini akan tetap mempertimbangkan berbagai
dasar hukum di tingkat nasional, sehingga dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dari
koridor hukum dan kebijakan yang telah ada dan selama ini dijadikan landasan dalam
pembangunan kawasan-kawasan konservasi di Indonesia. Landasan hukum utama tersebut
adalah Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya, beserta beberapa Peraturan Pemerintah, khususnya Keputusan Menteri
Kehutanan No 390/Kpts-II/2003 tentang Tata Cara Kerjasama di Bidang Konservasi Sumberdaya
Alam dan Ekosistemnya, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/ tahun 2004 tentang
Pengelolaan Kolaboratif, dan UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Pemerintah Kabupaten
Siak meminta kepada semua pihak untuk mengawal proses pembangunan kelembagaan
kolaborasi Taman Nasional Zamrud ini sebagai bagian dari proses belajar, di era otonomi
daerah saat ini. Mensepakati dan menetapkan peranan dan tanggungjawab (roles and
responsibility) para pihak yang berkolaborasi merupakan salah satu agenda kunci dalam
pengembangan mekanisme kolaborasi tersebut. Hal ini terkait dengan mekanisme akuntabilitas
publik yang akan dikembangkan, disepakati, dilaksanakan, dan dipertanggungjawabkan kepada
para pihak dan masyarakat.

Salah satu agenda prioritas dalam pengelolaan Taman Nasional Zamrud adalah penyiapan
Rencana Pengelolaan Jangka Panjang, Jangka Menengah, dan Jangka Pendek, yang disusun
secara partisipatif dengan melibatkan para pihak secara proporsional. Rencana Pengelolaan
tersebut akan dijadikan acuan utama dalam pengembangan program prioritas antara lain
pengembangan riset terpadu, pendidikan bina cinta alam, training, dan wisata alam.

Membangun Mekanisme Pendanaan Jangka Panjang


Salah satu pokok bahasan dalam pengembangan kelembagaan kolaborasi untuk
pengelolaan taman nasional di Indonesia adalah bagaimana mendapatkan komitmen
pendanaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sejak awal perlu didisain pola-pola
pendanaan jangka panjang, mengingat konservasi merupakan komitmen jangka panjang
berskala lintas generasi.

Pembangunan suatu Trust Fund mungkin merupakan salah satu pilihan untuk menjamin
keberlanjutan pendanaan konservasi ini. Untuk itu perlu dilakukan kajian yang
komprehensif. Kajian perlu dilakukan terkait dengan mekanisme pendanaan pembangunan
melalui APBN/APBD dalam kerangka otonomi daerah saat ini. Beberapa kajian dan studi
banding perlu dilakukan khususnya di Lembaga Konservasi yang telah atau sedang
melakukan pembangunan pola Trust Fund ini, misalnya di Yayasan KEHATI dan Papua Trust
Fund-yang dikembangkan oleh Conservation International Indonesia, di Provinsi Papua. Di
samping itu Pemerintah Kabupaten Siak sangat berharap dukungan berbagai pakar yang
telah berpengalaman dalam pembangunan berbagai pola pendanaan konservasi di
Indonesia, agar dapat membantu pembangunan sistem pendanaan jangka panjang
pengelolaan Taman Nasional Zamrud.

Kerjasama dengan Badan Restorasi Gambut


Dengan dibentuknya Badan Restorasi Gambut (BRG) yang dibentuk dengan Peraturan
Presiden Nomor 1 Tahun 2016, tanggal 6 Januari 2016, persoalan gambut di 8 provinsi
rawan kebakaran, yaitu Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Papua, dengan target 2 juta hektar,
termasuk semenanjung Kampar, maka peranan (calon) Taman Nasional Zamrud menjadi
semakin mengemuka dan penting.

Oleh karena itu, percepatan penetapan kawasan Taman Nasional Zamrud ini menjadi
sangat strategis. Wilayah di calon Taman Nasional Zamrud ini merupakan gubah gambut
paling dalam di seluruh semenanjung Kampar. Peningkatan intensitas dan efektivitas
pengelolaannya termasuk landscape kawasan hutan dan kebun di sekitarnya menjadi faktor
kunci dan dapat menjadi role model secara nasional.
Pengelolaan multipihak atau kolaborasi pengelolaan (calon) Taman Nasional Zamrud
seharusnya didorong secara bersama-sama dengan BRG sebagai leading sector nya.
Pelibatan pemerintah provinsi, kabupaten, swasta, CSO, aparat penegak hukum, dan
masyarakat menjadi faktor kunci bagaimana landscape gambut ini dapat dikelola secara
terpadu dan sinergis. Diperlukan kemampuan leadership yang kuat, konsisten, memiliki
integritas, dan sikap keberpihakan yang jelas dan tegas, untuk menjamin keberhasilan
restorasi kawasan gambut yang telah mengalami degradasi dan mengelola atau menjaga
kawasan gambut yang masih relatif utuh, seperti kawasan calon Taman Nasional Zamrud
tersebut.