Anda di halaman 1dari 2

Burma Connection Pepsi

Burma adalah sebuah Negara Asia dengan populasi 42 juta jiwa yang berbatasan dengan
india, cina, Thailand, dan lautan. Burma merupakan Negara miskin dengan GDP per kapita
sebesar $408, tingkat mortalitas bayi yang tinggi, tingkat harapan hidup yang rendah, serta
tingkat inflasi di atas 20 %.

Burma memperoleh kemerdekaan dari inggris tahun 1948. Pada tahun 1988 kondisi
perekonomian diburma memburuk, sejumlah kekacauan berdarah terjadi yang diperkirakan
membunuh ribuan mahasiswa dan masyarakat sipil dibawah pimpinan Jendral U. Saw Maung.
Jendral Maung menggantikan pemerintahan dengan State Law and Order Restoration Council
(SLORC) saat itu. Pada tahun 1990, SLORC dibawah pimpinan Maung melakukan pemilihan
umum secara bebas dan yakin menang. Namun mayoritas kursi pemerintahan dipegang partai
oposisi, SLORC membatalkan hasil pemilu dan menyatakan partai oposisi terlarang, dan
menangkap pengikutnya.

SLORC mengundang investor untuk berinvestasi di Burma dengan harapan mampu


memperbaiki kondisi perekonomian Negara. PepsiCo merupakan salah satu investornya, selain
itu termasuk produsen pakaian seperti Eddie Bauer, Liz Claiborne, Spiegel’s dan Levi Strauss,
pabrik sepatu dan perusahan perusahan minyak lainnya.

Negara ini dianggap menarik dikarenakan tenaga kerja yang murah, pendidikan
dutamakan dan juga pekerja memilik kemampuan baca tulis. Sumber daya minyak yang menjadi
godaan yang tak tertahankan bagi perusahan-perusahan minyak, serta sumber kekayaan lainnya.
Pemerintahan militer juga mengutamakan hukum dan peraturan. Namun militer ini juga member
masalah, yang mana menuduh SLORC melakukan beberapa pelanggran HAM. Dimana warga
Burma terus mendapatkan perlakuan sewenang-wenang dan kadang berutal bahkan kematian
bagi orang-orang yang menolaknya. Kalang militer ini memaksa jutaan warga Burma untuk
menyubangkan tenaga mereka secara paksa.

SLORC melakukan pembatasan ketat atas kebebasan berpendapat, berkumpul dan


berorganisasi sehingga dilarang membentuk serikat pekerja. Tidak adanya perlindungan
mengakibatkan kondisi kerja di bawah standar terus berlangsung.

Meskipun begitu, pihak PepsiCo tertarik berinvestasi di Burma. Pada tahun 1991,
PepsiCo memutuskan menjalin kerja sama dengan Myanmar golden Star Co., perusahan Burma
yang dipegang Thein Tun. Myanmar Golden Star memiliki saham 60 %, dan PepsiCo 40 %nya.
Kerja sama ini ditunjukkan dengan membangun pabrik botol dengan lisensi 10 tahun.

Tahun 1995, PepsiCo melaporkan jumlah pengasilan bisnis ini $20juta, dan bagian
PepsiCo $8juta. Di tahun 1996, penghasilan di Burma meningkat 25 % yang mana produk Pepsi
menjadi sumber penghasilan utama bagi Thein Tun, yang saat itu berteman baik dengan para
jendral SLORC. Hubungan ini yang mendorong PepsiCo memilihnya sebagai rekanan.

Namun di Amerika, para kritikus mempertanyakan etika melakukan bisnis diburma. Para
aktivis mahasiswa didukung 100 kampus memboikot produk-produk Pepsi dan beberapa kota
melarang pembelian barang atau jasa perusahaan yang beroperasi di Burma. Paara pemegang
saham perusahaan menyerahkan beberapa resolusi yang mendesak manajemen PepsiCo untuk
keluar dari Borma.

Para kritikus mengklaim bahwa dengan melaksanakan bisnis di Burma, Perusahan-


perusahan Amerika berarti membantu pemerintah militer yang kejam di Negara tersebut melalui
pajak dan lainnya. Jika perusahan asing meninggalkan Burma, maka pemerintah militer akan
gagal menciptakan ekonomi pasar yang bergairah. Dan penurunan ekonomi akan mendesak
militer untuk melakukan reformasi demokrasi untuk menarik investasi asing kembali.

Banyak perusahan di Amerika yang memperdagangkan keuntungan yang diperoleh di


Burma dengan komoditi pertanian. Dan mengekspor komoditi itu ke negara-negara luar Burma,
menjualnya disana, dan mentransfer uangnya ke Amerika. Menurut para kritikus, banyak tenaga
kerja paksa yang dipekerjakan di sector pertanian milik perkebunan kalangan militer. Pemerintah
militer menyita hasil perkebunan, mengusir petani, dan mempekerjakan kembali mereka dengan
paksa serta menjual komoditi pertaniannya. Sehingga, komoditi yang dibeli oleh perusahaan
Amerika adalah hasil kerja paksa pekerja Burma.

Pada tahun 1992, Levi Strauss menarik diri dari Burma, dan tahun 1994, reebok dan Liz
Claiborne melakukan hal yang sama, dan mengatakan tidak akan melakukan bisnis di Burma
sampai terjadi perbaikan kondisi HAM di Burma. Di tahun1995, Eddie Bauer dan Amoco juga
keluar.

Pada tahun 1996, PepsiCo melakukan divestasi atas saham di pabrik botol Burma.
Tepatnya tanggal 23 April 1996, PepsiCo mengumumkan bahwa pihaknya memutuskan menjual
40 % sahamnya karena adanya kritik yang menyatakan bahwa berbisnis di Burma sama halnya
mendukung rezim militer yang berkuasa.

Di tahun 1997, perusahaan menjual sahamnya pada Thein Tun, namun memutuskan
untuk mematuhi perjanjian lisensi 10 tahun untuk menjual Pepsi di Burma dan memberikan
bahan bakunya. Para kritikus mengatakan bahwa tindakan stengah-setengah ini berarti PepsiCo
masih berbisnis di Burma dan akan terus memberikan tekanan pada perusahaan