Anda di halaman 1dari 7

ASTRID ALVIONITA F / 072001700004

1. LATAR BELAKANG
Program Ekskursi merupakan salah satu program yang diadakan untuk menambah wawasan para
peserta mata kuliah Geologi Teknik disamping kuliah dan response yang diberikan. Dalam
ekskursi diharapkan para mahasiswa dapat mengenal langsung problematika geologi teknik di
lapangan dalam kasus pembangunan Bendungan. Peran seorang Ahli Geologi Teknik yang sangat
dibutuhkan dalam pekerjaan Teknik Sipil sebagai dasar desain dan pelaksanaan pembangunan
Bendungan. Diharapkan pula bahwa para mahasiswa dapat lebih mengerti dan memahami peran
Ahli Geologi Teknik baik dalam Studi, Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Bendungan
(Bendungan Cipanas).

2. LOKASI RENCANA BENDUNGAN

Lokasi rencana Waduk Cipanas berada di Desa Cibuluh, Kecamatan Ujungjaya pada
perbatasan Kabupaten Sumedang dengan Kabupaten Indramayu.

Lokasi Rencana
Waduk Cipanas
3. GEOLOGI AREA BENDUNGAN

Berdasarkan hasil pengamatan visual lapangan berupa singkapan batuan di sekitar lokasi
rencana as Bendungan Cipanas dan hasil pemboran (data bawah permukaan) maka dapat
diinformasikan bahwa rencana pondasi berada pada satuan batupasir Formasi Citalang (Tpc)
yang berumur Pliosen Akhir.
Tebal lapisan penutup: top soil, alluvial dan colluvial ssekitar 3 sampai 6 meter, kemudian di
bawahnya berupa batupasir konglomeratan sisipan batulempung sampai kedalaman 80 m.
Berdasarkan laporan geologi tahun 2014, pada kedalaman 30 - 32 meter dijumpai lapisan
pasir lepas.
Hal ini perlu dikonfirmasi keberadaan lapisan pasir lepas, apakah akibat dari faktor teknis
pada saat bor atau memang ada lapisan pasir lepas.

4. KEBERADAAN SESAR BARIBIS

Sesar Baribis yang merupakan salah satu sesar naik utama yang berkembang di Jawa Barat,
pertama kali diperkenalkan oleh van Benmelen (1949), dengan mengambil nama perbukitan
Baribis di daerah Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat.
Struktur sesar tersebut dapat diamati jejak-jejaknya sepanjang kurang lebih 70 km, mulai dari
Subang hingga ke daerah perbukitan Baribis, sebelah barat Gunung Ciremai (Bemmelen,
1949). Adanya sesar mendatar yang memotong Sesar Baribis, mengakibatkan secara lokal
terjadi perubahan jalur sesar, seperti yang dijumpai di daerah Kadipaten, dimana jalur Sesar
Baribis berbelok ke arah tenggara (Simandjuntak, 1997, komunikasi lisan).
TUGAS PESERTA EKSKURSI

Proyek Bendungan Cipanas

 Membuat pengamatan tipe bendungan apa yang di bangun dan kelengkapan


bendungan lainnya.

Tipe bendungan pada proyek bendungan Cipanas ini adalah tipe urugan dimana
digunakannya tipe ini berdasarkan kondisi geologi daerah yang merupakan daerah yang aktif
terhadap patahan yang kemudian juga dari material terdapat quarry batuan vulkanik yang
tidak jauh dari lokasi. Sehingga material untuk bendungan urugan ini digunakan dari quarry
batuan vulkanik tersebut. Bendungan urugan memiliki keistimewaan yaitu dapat digunakan
di segala kondisi geologi dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya. Juga material untuk tubuh
bendungan yang berasal dari sekitar. Pada bendungan Cipanas tidak digunakan tipe
bendungan concrete dikarena tipe bendungan ini bersifat rigid yang akan mengakibatkan
mudah hancur apabila terjadi pergerakan dari sesar Baribis. Sedangkan pada tipe urugan,
hanya akan terjadi retakan saja ketika terjadi pergerakan yang kemudian retakan tersebut
akan terisi kembali oleh material yang diatasnya hanya perlu dilakukan grooting untuk
mengisi kekosongan yang hilang maupun monitoring.
Klasifikasi Umum Bendungan Urugan

Kanampakan Bendungan dari Atas

 Memahami kondisi geologi di sekitar bendungan


Bendungan Cipanas dan hasil pemboran (data bawah permukaan) maka dapat
diinformasikan bahwa rencana pondasi berada pada satuan batupasir Formasi Citalang (Tpc)
yang berumur Pliosen Akhir. Tebal lapisan penutup: top soil, alluvial dan colluvial ssekitar 3
sampai 6 meter, kemudian di bawahnya berupa batupasir konglomeratan sisipan batulempung
sampai kedalaman 80 m. Berdasarkan laporan geologi tahun 2014, pada kedalaman 30 - 32
meter dijumpai lapisan pasir lepas. Secara geologi regional yaitu :
]

Martodjojo (2003) dalam tesis doktornya membagi daerah Jawa Barat menjadi 3
mandala sedimentasi yaitu Mandala Paparan Kontinen, Mandala Cekungan Bogor, dan
Mandala Banten. Dasar pembagian mandala ini umumnya berdasarkan cirri dan penyebaran
sedimen Tersier dari stratigrafi regional di Jawa bagian barat. Pada Tersier Awal
pengembangan sedimentasi Mandala Banten menyerupai Mandala Cekungan Bogor. Namun,
pada Tersier Akhir lebih menyerupai dengan Mandala Paparan Kontinen Utara (Martodjojo,
1984). Berdasarkan pembagian mandala sedimentasi, daerah penelitian terletak pada Mandala
Cekungan Bogor. Mandala sedimentasi Cekungan Bogor meliputi zona fisiografi van
Bemmelen (1949) yaitu Zona Bogor, Zona Bandung dan Pegunungan Selatan. Mandala ini
dicirikan oleh endapan aliran gravitasi yang umumnya berupa fragmen batuan beku dan
sedimen, seperti andesit, basalt, tufa dan gamping. Mandala Cekungan Bogor menurut
Martodjojo (2003) mengalami perubahan dari waktu ke waktu sepanjang zaman Tersier-
Kuarter. Mandala ini terdiri dari tiga siklus pengendapan, diawali dengan diendapkannya
sedimen laut dalam hasil mekanisme aliran gravitasi dari arah selatan menuju utara.
Kemudian pada Miosen Awal diendapkannya endapan gunung api yang berasal dari selatan
Pulau Jawa yang bersifat basalt-andesit. Diakhiri dengan pendangkalan Cekungan Bogor kea
rah utara dimulai pada Miosen Tengah menghasilkan Formasi Subang dan Formasi
Kaliwangu yang menunjukkan lingkungan pengendapan paparan sampai transisi . Kemudian
pada Miosen Akhir terendapkan suatu fasies turbidit lokal akibat adanya lereng terjal di
sebelah selatan cekungan. Fasies tersebut dinamakan dengan Anggota Cikandung
(Martodjojo, 1984), yang terbentuk pada tahap akhir dari proses pendangkalan Cekungan
Bogor. Pada kala Pliosen Cekungan Bogor telah berubah menjadi darat yang kemudian
diendapkan Formasi Citalang. Lebih lanjut, Martodjojo (2003) telah membuat penampang
stratigrafi terpulihkan utara-selatan di Jawa Barat, pada gambar berikut ini

Stratigrafi Utara - Selatan di Jawa Barat

 Melakukan analisis secara geologi regional pengaruh sesar baribis terhadap


bendungan Cipanas.

Sesar baribis memiliki cukup peran penting dalam pengaruhnya terhadap bendungan
cipanas. Diperlukannya penangan yang intens untuk menangani patahan - patahan pada
daerah bendungan yang di interpretasikan sebagai pengaruh dari sesar Baribis periode
tektonik Pliosen - Plistosen.
Pada perode ini, terjadi proses perlipatan dan pensesaran. Tekanan ini menimbulkan
struktur perlipatan dan sesar naik di bagian utara zona Bogor yang merupakan suatu zona
memanjang antara Subang dan Gunung Ciremai, zona sesar naik ini dikenal dengan “Baribis
thrust”. Perlipatan dan pensesaran tersebut diakibatkan oleh gaya-gaya yang mengarah ke
utara dikarenakan oleh turunnya bagian utara zona Bandung, sehingga menekan zona Bogor
dengan kuat.

Sumber :

https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-4401679/bendungan-cipanas-penopang-air-
indramayu-dan-sumedang

https://www.slideshare.net/hestinaeviyanti/bendungan-tipe-urugan ( Buku Bendungan


Tipe Urugan Editor DR. Suyono Sosrodarsono dan Kensaku Takeda )