Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

COLLABORATIVE LEARNING 4.1


“Ageusia dan Anosmia”

Kelompok 4 :

Almamira Oktarama (1811201004)


Lisa (1811201021)
Maharani Admar (1811201022)
Puan Sadila Islami (1811201031)
Sonya Helen Maysha (1811201041)
Ririn Aida Bu (1811201034)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah modul 4.1 Organ Indra dan Integumentum Tubuh.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat mengevaluasi lebih lanjut kesalahan kami dalam membuat
makalah.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Ageusia dan Anosmia
ini dapat membantu para pembaca untuk mudah memahami.

Pekanbaru, 28 Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1
1.3 Tujuan Makalah ...................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 2
2.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung................................................................ 2
A. Anatomi......................................................................................... 3
B. Fisiologi......................................................................................... 3
2.2 Anosmia.................................................................................................. 4
A. Definisi .......................................................................................... 4
B. Prevalensi disfungsi penciuman pada populasi umum.................. 5
C. Kualitas Hidup .............................................................................. 6
D. Diagnosis dan Prognosis Anosmia................................................ 6
E. Plastisitas Saraf Pada Hilangnya Penciuman Dan Kehilangan
Perolehan....................................................................................... 7
F.Kemajuan Terbaru dalam Memahami hilangnya penciuman dan
Peluang untuk pengobatan............................................................. 11
G. Sel-sel induk penciuman dan potensi mereka untuk pemulihan
fungsi penciuman........................................................................... 11
2.3 Anatomi dan Fisiologi Lidah................................................................... 13
A. Anatomi ........................................................................................ 13
B. Fisiologi ........................................................................................ 15
2.4 Ageusia.................................................................................................... 16
A. Definisi .......................................................................................... 16
B. Etiologi .......................................................................................... 17
C. Diagnosis....................................................................................... 18
D. Tatalaksana.................................................................................... 19
E. Rekomendasi Perawatan................................................................ 20
BAB III PENUTUP......................................................................................... 21
A. Kesimpulan ................................................................................... 21
B. Saran ............................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hidung merupakan organ indra untuk penciuman. Ketika terjadi kelainan
seperti anosmia maka akan terjadi penurunan kemampuan penciuman. Risiko
disfungsi penciuman meningkat pada usia tua dan mungkin juga dari penyakit
kronis, trauma kepala berat dan infeksi saluran pernapasan atas atau penyakit
neurodegenerative. Selain hidung, lidah merupakan organ indra untuk
pengecapan.
Pengecapan pada manusia memberikan evaluasi pada makanan, seleksi dan
menghindari zat-zat berbahaya. Ketika terjadi penurunan pengecapan atau
gustatory menyebabkan hilangnya nafsu makan, Penurunan BB yang tidak
diingikan, kekurangan gizi dan kualitas hidup berkurang.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas maka didapatkan rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi hidung?
2. Bagaimana kelainan penciuman?
3. Bagaimana anatomi dan fisiologi lidah?
4. Bagaimana kelainan pengecapan?

1.3 Tujuan Makalah


Dari rumusan masalah di atas maka didapatkan tujuan makalah, sebagai
berikut
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi hidung
2. Mengetahui kelainan penciuman /hiposmia
3. Mengethaui anatomi dan fisiologi lidah
4. Mengetahui kelainan pengecapan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung


A. Anatomi
Diperkirakan bahwa mausia dapat mengenali 10.000 bau yang
berbeda. Hidung memiliki 10 juta hingga 100 juta reseptor untuk sensai
penghidu atau penciuman (olfact- = bau), yang terkandung dalam regio yang
disebut epitel olfaktorius. Dengan luas total 5 cm 2, epitel olfaktorius
mengisi bagian superior cavitas nasi, yang menutupi permukaan inferior
lamina cribrosa dan memanjang sepanjang concha nasalis superior. Epitel
olfaktorius terdiri dari tiga jenis sel: reseptor olfaktorius, sel penunjang, dan
sel basal. Reseptor olfaktorius adalah neuron urutan-pertama pada jaras
olfaktorius. Setiap reseptor adalah neuron bipolar dengan dendrite
berbentuk tombol terpajan dan akson yang berproyeksi melalui lamina
cribrosa dan berakhir pada bulbus olfactorius. Bagian reseptor olfaktorius
yang memberi respons terhadap zat kimia yang diinhalasi adalah rambut
olfaktorius, silia yang berproyeksi dari dendrit. (Ingat kembali bahwa
transduksi adalah konversi stimulus energi potensial bertingkat pada
reseptor sensorik). Zat kimia yang memiliki bau sehingga dapat
merangsang rambut olfaktorius disebut odoran (bau). Reseptor olfaktorius
memberi respons terhadap rumus kimiawi molekul odoran dengan
menghasilkan potensial generator sehingga memulai respons olfaktorius
[ CITATION Ger14 \l 1033 ].
Sel penunjang adalah sel epitel kolumnar pada membran mukosa yang
melapisi hidung. Sel-sel ini memberikan tunjangan fisik, zat makanan, dan
isolasi listrik untuk reseptor olfaktorius, dan membantu detoksifikasi zat
kimia yang bersentuhan dengan epitel olfaktorius. Sel basal adalah sel basal
yang bergantung pada pembelahan sel untuk menghasilkan reseptor
olfaktorius baru, yang hanya hidup selama satu bulan atau lebih sebelum
diganti [ CITATION Ger14 \l 1033 ].

2
Gambar 1.1 Anatomi hidung [ CITATION Ger14 \l 1033 ].

B. Fisiologi
Banyak usaha telah dilakukan untuk membedakan antara dan
menerjemahkan golongkan sensasi "primer" penghidu. Bukti Genetik saat
ini menunjukkan sebagai fakta primer. Kemampuan kita untuk mentransfer
sekitar 10.000 bau berbeda pada pola aktivitas di dalam otak yang terkait
dengan dukungan berbeda dari reseptor olfaktorius [ CITATION Ger14 \l
1033 ].
Pada setiap sisi hidung, sekitar 40 akson tidak bermielin, ramping
pada reseptor olfaktorius memanjang melalui sekitar 20 foramina
olfaktorius pada lamina cribrosa ossis ethmoidalis. Keempat puluh atau
lebih akson ini bersama-sama membentuk nervus olfactorius (I) kanan dan
kiri. Nervus olfactorius berakhir di otak pada massa berpasangan substantia
grisea yang disebut bulbus olfactorius, yang terletak di bawah lobus
frontalis cerebri dan di lateral crista galli ossis ethmoidalis. Dalam bulbus
olfactorius, terminal akson pada reseptor olfaktorius membuat sinaps
dengan dendrit dan badan sel neuron bulbus olfactorius dalam jaras
olfaktorius [ CITATION Ger14 \l 1033 ].

3
Akson-akson neuron bulbus olfactorius memanjang ke posterior dan
membuat trus olfactorius. Beberapa akson traktus olfactorius berproyeksi
area ke area olfaktorius primer cortex cerebri; terletak pada permukaan
inferior dan medial lobus temporalis, daerah olfaktorius primer, adalah
tempat kesadaran akan bau dimulai. Sensasi penghidu adalah satu-satunya
sensasi yang mencapai korteks cerebri tanpa pertama-tama bersinaps pada
thalamus. Akson lain pada saluran olfactorius berproyeksi ke sistem limbik
dan hypothalamus; hubungan-hubungan ini menimbulkan tanggapan kita
dan tanggapan emosional yang dicetuskan memori terhadap bau.
Contohnya rangsangan seksi saat mencium bau partum tertentu, mual saat
mencium makanan yang pernah membuat Anda sakit berat, atau memori
masa kanak-kanak yang disebabkan oleh bau tertentu[ CITATION Ger14 \l
1033 ].

Gambar 1.2 Jaras olfaktorius [ CITATION Ger14 \l 1033 ].

2.2 Anosmia
A. Definisi
Anosmia adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
mencium. Gangguan ini dapat mengganggu kemampuan dalam mencium
bau sebagai rasa peringatan dalam makanan dan lingkungan, serta

4
menghambat kualitas hidup yang berkaitan dengan interaksi sosial,
makanan. Mengetahui penyebaran informasi tentang risiko kesehatan terkait
anosmia sangat diperlukan. Hal ini dapat mencakup langkah yangtepat dan
berguna untuk skrining disfungsi penciuman, evaluasi klinis yang tepat, dan
konseling pasien untuk menghindari bahaya serta mengelola kesehatan dan
kualitas hidup dengan anosmia.
B. Prevalensi disfungsi penciuman pada populasi umum
Fungsi penciuman dapat dikategorikan sebagai rentang kemampuan
normal penciuman (normosmic), penurunan peciuman (hyposmic) dan tidak
ada penciuman (anosmic). Anosmia spesifik bisa muncul dari variasi
genetik seperti ketidak mampuan mendeteksi parfume. Selain itu, juga
terdapat persepsi penciuman yang berubah (dysosmia). Dysosmia juga dapat
berupa distorsi kualitas bau yang dirasa (parosmia, misalnya, berbau kertas
terbakar bukan bedak bayi) atau sensasi penciuman tanpa stimulus
penciuman yang jelas (halusinasi penciuman, phantosmia). Namun, yang
akan dibahas lebih jelas adalah Anosmia, yaitu ketidakmampuan untuk
mencium/ menghilangkan semua bau, kecuali untuk sensasi trigeminal.
Dalam praktek klinis, anosmia dapa diidentifikasi dengan melakukan
tes bau. Untuk mengidentifikasi bau, pasien mengendus bau yang terdapat
dalam strip tes, kemudian dihidu. Identifikasi bau yang benar membutuhkan
informasi sensorik yang cukup untuk memahami dan megenali bau sebagai
hal yang sudah terbiasa. Pasien biasaya diminta dengan daftar target bau d
an pengecoh, dan pasien diminta untuk menebaknya.

5
Gambar 1.3 Guidline skrinning [ CITATION San17 \l 1033 ].

C. Kualitas Hidup
Penurunan fungsi penciuman diketahui mempengaruhi kualitas hidup
pasien. Seeorang dengan disfungsi olfactory mengeluhkan kesulitan untuk
memasak, penurunan nafsu makan,kenikmatan makan, tantanga dengan
menjaga kebersihan pribadi dan hubungan social, takut kejadian berbahaya
atau merasa kurang aman dan gejala depresi yang lebih besar. Indera
penciuman penting untuk mendeteksi peringatan pada bahaya yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari, seperti asap,gas, dan makanan basi. Indera
penciuman memainkan peran utama dalam prilaku makan, baik untuk
antisipasi dan rangasangan nafsu makan dan untuk persepsi rasa selama
mengkonsumsi makanan. Makanan dapat mengambl makna yang berbeda
untuk orang-orang yang penciumannya hilang. Penderita dapat mengubah
preferensi makanan mereka, mencoba untuk menggunakan sensasi non-
olfactory untuk mempertahankan kenikmatan makanan yang dapat
menyebabkan kenaikan berat badan, khususnya dikalangan wanita.
Sebaliknya, pasien dengan gangguan penciuman akan kehilangan minat
makanan dan menyebabkan penurunkan berat badan, khususnya di
kalangan laki-laki. Secara keseluruhan, penurunan fungsi penciuman dapat
mengganggu perasaan akan kesehatan dan kesejahteraan. Dimana, dampak
tergantung pada karakter dan tingkat keparahan gangguan dan respon
individu
D. Diagnosis dan Prognosis Anosmia
Anosmia dapat terjadi dari banyak penyakit yang mendasari.
Penyebabyang paling umum adalah penyakit sinonasal, gangguan post-
infeksi, dan gangguan post-trauma. Etiologi lainnya (misalnya, kongenital,
idiopatik, gangguan beracun, atau gangguan yang disebabkan oleh penyakit
neurodegenerative) yang kurang umum tapi tetap penting untuk di
singkirkan. Pasien yang menderita gangguan penciuman, tahap pertama dari
diagnosis adalah riwayat medis pasien. Dokter harus mengevaluasi

6
bagaimana gangguan dimulai, sebagai contoh; tiba-tiba, setelah trauma atau
cold, yang kemudian membuat gangguan pasca-trauma atau gangguan
setelah infeksi saluran pernapasan atas (post-ISPA). Sebaliknya, jika pasien
memiliki kesulitan mengingat yang tepat saat gangguan dimulai dan
menggambarkan fluktuasi penciuman, dapat diasumsikan gangguan
sinonasal. Sebuah onset bertahap dan kesulitan dalam mengingat suatu
peristiwa yang memicu, juga mungkin diasumsikan berkaitan dengan usia,
gangguan idiopatik, atau gangguan akibat penyakit neurodegeneratif.
Berbeda dengan pasien dengan gangguan sinonasal, pasien yang menderita
penyakit neurodegeneratif juga mendeskripsikan hilangnya bau “semakin
berkurang” atau “hilang” tetapi jarang berfluktuasi. Untuk memudahkan
dalam mendiagnosis pasien aosmia dapat dilihat melalui skema berikut.

Gambar 1.4 Diagnosa anosmia [ CITATION San17 \l 1033 ].

E. Plastisitas Saraf Pada Hilangnya Penciuman Dan Kehilangan


Perolehan
Penciuman tidak hanya memerlukan konsekuensi sosial, emosional,
dan perilaku yang luas seperti dijelaskan di atas, tetapi juga memulai proses

7
reorganisasi di otak. Semua sistem sensorik kami sangat plastis, tetapi
meskipun untuk sistem pendengaran dan penglihatan proses ini telah
dijelaskan dalam beberapa detail, pemahaman proses neuronal terjadi
setelah hilangnya rasa penciuman ini masih belum diketahui. Plastisitas ini,
yang dapat diamati baik di tingkat seluler dan kognitif, memberikan
kesempatan adaptif untuk mengoptimalkan fungsi sensorik dalam kasus-
kasus pembelajaran dan pengalaman. Berbeda dengan keuntungan ini dalam
fungsi, acara-acara seperti trauma, cedera, penyakit, dan kurang sensorik
dapat menginduksi plastisitas antara sistem sensorik secara reduktif.
Di sini, kita fokus pada struktural dan fungsional reorganisasi otak
setelah kehilangan penciuman yang disebabkan oleh infeksi pada saluran
hidung bagian atas, dan bukan pada defisit setelah cedera otak traumatis
seperti kerusakan ini dapat menyebabkan perubahan saraf sendiri.pasien
dengan anosmia secara definisi tidak mampu melihat rangsangan penciuman
sadar. Oleh karena itu, cara yang umum untuk menyelidiki fungsi dengan
menggunakan stimulasi tidak mungkin, karena tidak ada aktivasi otak
fungsional dalam menanggapi aroma. Oleh karena itu yang paling
investigasi menggunakan stimulasi sistem trigeminal.
Meskipun telah ditetapkan bahwa fungsi dan struktur dipengaruhi oleh
hilangnya sensorik, banyak pertanyaan tentang bagaimana informasi ini
dapat digunakan untuk membangun gambaran yang lengkap dan jika
mekanisme lain di otak, seperti metabolisme yang terpengaruh, tetap harus
dijawab. Studi longitudinal lebih pada rehabilitasi indera penciuman,
kehilangan oleh berbagai sebab atau gangguan bahkan kualitatif seperti
parosmia, diperlukan. Sebuah pandangan yang lebih umum dari proses saraf
dari neuroimaging multimodal dapat mendeteksi proses reorganisasi halus
antara struktur dan fungsi otak hilangnya penciuman dan mendapatkan
kembali. Pendekatan umum ini akan membantu untuk menerangi
mekanisme yang mendasari kehilangan penciuman dan akan mendorong
perkembangan biomarker untuk memprediksi keberhasilan terapi di masa
depan.

8
Dasar genetik cacat sensorik lainnya diwariskan seperti kebutaan
bawaan dan tuli diselidiki dengan baik, dan pengetahuan ini telah berperan
dalam mengembangkan terapi sel dan gen untuk gangguan ini, di mana gen
yang rusak diganti dengan yang kerja. Tuli turun-temurun telah dikaitkan
dengan mutasi pada lebih dari 90 gen yang berbeda dan , dan strategi terapi
gen mengeksploitasi pengetahuan ini telah berhasil merawat gangguan
pendengaran pada tikus . Kebutaan bawaan adalah target yang sangat
menarik untuk terapi gen yang diberikan aksesibilitas relatif retina dari luar
tubuh. Mutasi pada lebih dari 200 gen yang berbeda telah dikaitkan dengan
kematian sel fotoreseptor di degenerasi retina familial, dan uji coba terapi
gen menggunakan pengiriman gen virus telah sedang berlangsung selama
hampir satu dekade untuk banyak gangguan yang ditandai dengan kebutaan
keturunan .dasar genetik dari anosmia, sebaliknya, kurang dipahami.
Beberapa kemajuan telah dibuat dalam mengidentifikasi gen yang terlibat
dalam kasus sindrom dari anosmia, seperti sindrom kallmann ini
Beberapa studi dalam literatur telah berusaha untuk menentukan gen
kausal untuk diisolasi anosmia kongenital (ica), di mana anosmia tidak
terkait dengan sindrom yang lebih luas.untuk mengidentifikasi daerah
genom yang berhubungan dengan anosmia diwariskan dalam dua keluarga,
mereka juga tidak mengidentifikasi mutasi pada tiga komponen dari jalur
reseptor sinyal penciuman di 61 individu yang tidak berhubungan dengan
anosmia. Namun, satu studi menemukan mutasi cnga2, anggota dari
penciuman sinyal jalur transduksi, dalam dua bersaudara dengan ica tetapi
tidak di 31 pasien yang tidak terkait tambahan ica . Studi lain menemukan
bahwa langka mutasi x-linked di tenm1 gen terkait dengan anosmia dan
model tikus ko dari tenm1 adalah hyposmic . Singkatnya, lebih dari 10 gen
yang berubah telah ditemukan pada pasien lahir tanpa pendengaran, dan
lebih dari 200 gen yang terlibat dalam pasien lahir tanpa mata, tetapi, selain
dari gen kallmann terkait, sejauh peneliti telah mengidentifikasi dua gen
yang terkait dengan ica .kurangnya penelitian yang meneliti dasar genetik
dari ica dibandingkan dengan keturunan defisit sensorik lain perlunya
penelitian lebih lanjut gangguan ini, terutama dengan pengetahuan baru

9
bahwa prevalensi gangguan penciuman dapat cocok dengan pendengaran
dan gangguan penglihatan . Identifikasi gen ini akan membantu dengan
diagnosis, prognosis, dan pengobatan mungkin anosmia bawaan. Memang,
fisiologi yang membuat retina target yang menarik seperti untuk terapi gen
berlaku sama baik untuk sistem penciuman, yang neuron mudah diakses di
rongga hidung.gen terapi pendekatan untuk ciliopathiesciliopathies
mewakili kelas gangguan bawaan pleotropic yang kehilangan penciuman
merupakan manifestasi klinis . Mengingat bahwa semua mesin yang
diperlukan untuk deteksi bau terlokalisir ke silia neuron sensorik
penciuman, ciliopathies mengakibatkan kekurangan sensorik. Mutasi atau
penghapusan gen yang mengkode protein yang membangun atau
mempertahankan silia sering mengakibatkan anosmia. Yang penting, karya
terbaru dari laboratorium martens menunjukkan untuk pertama kalinya
potensi terapi gen, menggunakan pengiriman intranasal noninvasif virus
pengkodean gen pengganti, untuk mengembalikan fungsi penciuman pada
model tikus dari ciliopathies. Secara khusus, penggantian gen dari protein
ift88 oleh pengiriman adenoviral ke rongga hidung dipulihkan deteksi bau
pada hewan anosmic dengan mutasi hypomorphic di ift88 gen. Karya ini
juga menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa adalah mungkin untuk
tumbuh kembali sebuah silia pada sel parah dibedakan. Pemulihan fungsi
sensoris dengan kembalinya rekonsiliasi diterjemahkan ke dalam
penyelamatan aktivitas glomerulus di ob. Pendekatan ini menawarkan
mungkin yang terbaik pilihan terapi saat ini untuk memulihkan disfungsi
penciuman. Bekerja di laboratorium martens' sekarang meluas ke model
ciliopathy tambahan kerugian penciuman dan mencakup penggunaan vektor
virus baru yang relevan secara klinis. Namun, ada banyak pekerjaan yang
harus dilakukan untuk memajukan pekerjaan ini terhadap uji klinis pada
pasien.memahami penetrasi gangguan bawaan pada sistem penciuman dan
mekanisme mereka kehilangan penciuman terus menjadi komponen
fundamental kerja praklinis. Ini termasuk pembentukan lebih lanjut dan
validasi model hewan anosmia. Misalnya, terkait dengan hilangnya bawaan,
gangguan ciliopathy seperti sindrom bardet-biedel dan joubert sindrom surat

10
perintah studi lebih lanjut, seperti halnya gangguan lainnya seperti
channelopathies . Yang penting, pekerjaan harus bergerak di luar pemulihan
fungsi neuron sensorik penciuman menuju memeriksa sejauhyang terapi gen
intranasal mengembalikan sirkuit pusat, pengolahan dan output perilaku.
Untuk studi praklinis menggunakan terapi gen, metodologi tersebut perlu
untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan selektivitas dan spesifisitas. Ini
harus mencakup optimasi vektor dan pemanfaatan penciuman atau neuronal
promotor tertentu. Selain itu, studi untuk biodistribusi quantitate, toksisitas,
dan imunogenisitas di tikus dan model primata non-manusia perlu
dilakukan.untuk menerjemahkan karya ini ke pasien, sejumlah
pertimbangan tambahan perlu ditangani. Ini termasuk optimalisasi
pemberian pengobatan seperti intranasal dibandingkan pemberian sistemik
serta mendirikan jendela terapi. Faktor termasuk dosis, usia pengiriman,
kegigihan ekspresi gen dari waktu ke waktu, dan frekuensi pengiriman perlu
diuji. Kurangnya alat diagnostik untuk mengidentifikasi mekanisme yang
tepat dari hilangnya penciuman pada pasien juga merupakan faktor
pembatas yang signifikan. Meskipun tantangan ini dan kebutuhan untuk
penelitian lebih lanjut, gen terapi pendekatan menawarkan pendekatan obat
pribadi dengan janji yang luar biasa untuk menurunkan penciuman bawaan.
Isu-isu terakhir ini mungkin pantas menargetkan populasi sel lain seperti
sel-sel basal stem penciuman untuk stabil penggabungan.
F. Kemajuan Terbaru dalam Memahami hilangnya penciuman dan
Peluang untuk pengobatan
Gen yang mendasari suatu penyakit merupakan hal yang mendasar.
Basis genetic dari cacat sensorik bawaan lainnya seperti kebutaan bawaan
dan tuli dapat diselidiki dengan baik, dan pengetahuan ini berperan dalam
mengembangan terapi sel dan gen untuk untuk gangguan ini, dimana gen
yang salah diganti dengan yang bekerja. Basis genetic anosmia, sebaliknya
kurang dipahami. Beberapa kemajuan telah dibuat dalam mengidentifikasi
gen yang terlibat dalam kasus-kasus anosmia syndrome, seperti sindrom
kallman.

11
G. Sel-sel induk penciuman dan potensi mereka untuk pemulihan
fungsi penciuman
Epitel penciuman adalah salah satu dari beberapa situs di sistem saraf
dewasa yang mengandung sel-sel induk saraf yang mendukung
neurogenesis aktif selama masa hewan. Neuron sensorik penciuman
biasanya menyerahkan setiap 30-60 hari dan diganti melalui proliferasi dan
diferensiasi serangkaian prekursor belum matang dan sel-sel progenitor
multipoten ( graziadei dan montigraziadei 1979 ). Dua kelas sel progenitor
multipoten ada di epitel penciuman postnatal: sel-sel horisontal basal (hbcs)
dan sel-sel basal bulat (gbcs). Gbcs secara aktif mitosis dan mendukung
penggantian normal neuron sensorik dan jenis sel lain dalam epitel
penciuman. Sebaliknya, hbcs sebagian besar diam dalam kondisi
stabil.setelah cedera yang menghasilkan rusaknya sel-sel matang dalam
epitel penciuman, hbcs dirangsang untuk berkembang biak dan
berdiffferensiasi menjadi gbcs dan semua tipe sel penciuman matang( leung
et al. 2007 ; iwai et al. 2008 ). Pada satu model, hbcs mewakili kumpulan
sel induk cadangan yang konstituennya jarang dibagi dalam kondisi normal
untuk mengisi kembali kumpulan gbc yang lebih aktif membagi (duggan
dan ngai 2007 ); dalam menanggapi cedera, hbcs berkembang biak lebih
keras untuk menyusun kembali semua konstituen seluler dari epitel sensorik
ini. Oleh karena itu sel-sel progenitor penciuman memberikan jalan terapi
yang potensial untuk strategi penggantian sel yang ditujukan untuk
memulihkan fungsi penciuman melalui regenerasi neuron sensorik
penciuman. Dapatkah sel penciuman digunakan untuk mengembalikan atau
melindungi fungsi penciuman dalam kondisi hyposmic dan anosmic?
Penting untuk dicatat bahwa penciuman yang berproliferasi semakin
menurun jumlahnya seiring bertambahnya usia, sedangkan hbc tetap,
meskipun dalam keadaan sebagian besar diam (weiler dan farbman 1997;
kondo et al. 2010). Salah satu pendekatan untuk memanfaatkan progenitor /
sel punca penciuman untuk regenerasi fungsi sensor penciuman mungkin
melibatkan mengaktifkan atau "membangkitkan" hbc diam in situ untuk
berdiferensiasi menjadi progenitor gbc yang berkembang biak (schwob et al.

12
2016). Pendekatan semacam itu akan dipandu dan dipercepat dengan
pemahaman tentang mekanisme molekuler dan seluler yang mengatur
dinamika sel induk penciuman.
Untuk tujuan ini, penelitian sebelumnya mengidentifikasi
transkripsional repressor trp63 (juga dikenal sebagai p63) sebagai pengatur
utama pembaruan dan diferensiasi diri hbc (fletcher et al. 2011);
downregulasi trp63 diperlukan dan cukup untuk menginduksi diferensiasi
hbc dalam kondisi stabil (fletcher et al. 2011; schnittke et al. 2015). Dengan
demikian, pencarian informasi untuk target hilir trp63 dan mekanisme yang
mengatur ekspresi trp63, serta jalur pengaturan lainnya (misalnya, goldstein
et al. 2016; packard et al. 2016), dapat menghasilkan target molekul
tambahan untuk merangsang diferensiasi dan neurogenesis di ceruk sel
batang epitel penciuman. Dengan asumsi bahwa neurogenesis penciuman
dapat berhasil diinduksi dalam konteks terapeutik, serangkaian tantangan
berikutnya akan memerlukan memastikan ekspresi yang tepat dari gen
reseptor bau dan pembentukan koneksi spesifik reseptor aroma yang tepat di
OB. Meskipun demikian, wawasan terbaru ke dalam regulasi neurogenesis
penciuman dari sel induk dewasa dalam model hewan in vivo memberikan
beberapa harapan untuk memulihkan fungsi penciuman pada manusia yang
menderita defisit sensorik penciuman.

2.3 Anatomi dan Fisiologi Lidah


A. Anatomi
Pengecapan jauh lebih mudah dibandingkan penciuman karena hanya
ada lima cita rasa primer yang dapat dibedakan: asam, manis, pahit, asin,
dan umami. Rasa umami, yang baru ditemukan dapat ditemukan sesuai cita
rasa lainnya, diterbitkan pertama kali oleh para peneliti Jepang dan
diterjemahkan sebagai "seperti daging" atau "gurih". Umami dipercaya
disetujui oleh reseptor pengecap yang dirangsang oleh monosodium
glutamat (MSG), zat yang berkaitan dengan makanan alami dan
ditambahkan sebagai penguat rasa. rasa lain, seperti cokelat, lada, dan kopi,
adalah kombinasi lima cita rasa primer, ditambah kombinasi penciuman dan

13
taktil (sentuhan) penyerta. Bau dari makanan dapat naik ke cavitas
nasi,sehinga meransang reseptor olfaktorius. Karena penciuman jauh lebih
sensitif dalam menerima pengecapan, konsentrasi tertentu zat makanan
dapat merangsang sistem olfaktorius ribuan kali lebih kuat dibandingkan zat
makanan itu melewati sistem pengecap, Ketika Anda pilek atau alergidan
tidak dapat mengecap makanan Anda, sebenarnya penciuman yang
tersumbat, bukan pengecap.
Reseptor untuk sensai pengecap terletak dalam kuncup pengecap.
Sebagian besar dari hampir 10.000 kuncup pengecap. Jumlah kuncup kecap
semakin bertambah usia akan berkurang. Setiap kuncup pengecap adalah
badan oval yang terdiri dari tiga jenis sel epitel: sel penunjang, sel reseptor
gustatorius, dan sel basal. Sel penunjang mengelilingi sekitar 50 sel reseptor
gustatorius pada setiap kuncup pengecap. Mikrovilus tunggal, panjang,
yang disebut rambut gustatorius, berproyeksi dari setiap sel reseptor
gustatorius ke permukaan luar melalui pori-pori pengecap, suatu lubang
pada kuncup pengecap. Sel basal, sel punca yang ditemukan di perifer
kuncup pengecap dekat lapisan ikat, menghasilkan sel penunjang, yang
kemudian berkembang menjadi sel reseptor gustatorius. Setiap sel reseptor
gustatorius memiliki rentang hidup sekitar 10 hari. Keadaan itu
menjelaskan mengapa tidak perlu waktu untuk sensor pengecap lidah untuk
pulih setelah secangkir kopi atau cokelat terlalu panas. Di dasarnya, sel
reseptor gustatorius bersinaps dengan dendrit neuron urutan-pertama yang
membentuk bagian pertama jaras gustatorius. Setiap neuron urutan pertama
bercabang luas dan berhubungan dengan banyak sel reseptor gustatorius
pada beberapa kuncup pengecap. Kuncup pengecap ditemukan pada
peninggian lidah papilla (bentuk jamaknya papillae), yang menambah luas
permukaan dan memberi tekstur kasar pada permukaan atas lidah
Tiga jenis papilla mengandung kuncup pengecap:
1. Sekitar 12 papilla vallata (circumvallata) yang sangat besar, sirkular
(seperti dinding) membentuk garis berbentuk V terbalik di bagian
belakang lidah. Setiap papilla ini menjadi tempat 100- 300 kuncup
pengecap.

14
2. Papilla fungiformis (seperti jamur) adalah peninggian berbentuk jamur
yang tersebar di seluruh permukaan masing-masing berisi sekitar lima
kuncup pengecap.
3. Papilla foliata (seperti daun) terletak di dalam parit kecil di pinggir
lateral lidah, tetapi sebagian besar kuncup pengecapnya bertambah
degenerasi pada masa kanak-kanak dini.
4. Selain itu, seluruh permukaan memiliki papilla filiformis (seperti
benang). Struktur seperti benang, berujung runcing ini mengandung
reseptor taktil, tetapi tidak ada kuncup pengecap. Papilla ini
meningkatkan friksi antara lidah dan makanan, membuat lidah lebih
mudah menggerakkan makanan dalam rongga mulut.

Gambar 1.5 Anatomi Lidah


B. Fisiologi
Tiga nervus cranialis mengandung akson neuron gustatorius urutan-
pertama yang menyarafi kuncup pengecap. Nervus facialis (VII) melayani
kuncup mempersarafi pada dua pertiga anterior lidah; nervus
glossopharyngeus (IX) menyarafi kuncup pengecap di sepertiga posterior
lidah; dan nervus vagus (X) menyarafi kuncup pengecap pada tenggorok
dan epiglottis. Dari kuncup pengecap, impuls saraf berpropagasi sepanjang

15
nervus cranialis menuju inti gustatorius di dalam medulla oblongata. Dari
medulla, beberapa akson yang membawa sinyal pengecap berproyeksi ke
sistem limbik dan hypothalamus; yang berbaring berproycksi ke thalamus.
Sinyal pengecap yang berproyeksi dari thalamus ke daerah gustatorius
primer dalam lobus parietalis cortex cerebri dipersepsikan secara sadar
sebagai cita rasa

Gambar 1.6 Fisiologi Lidah


2.4 Ageusia
A. Definisi
Bau atau penciuman adalah persepsi bau oleh hidung, sedangkan rasa
atau pengecapan adalah persepsi dari asin, manis, asam, atau pahit oleh
lidah. Rasa (flavor) adalah kombinasi dari rasa (taste), bau, dan sensasi
trigeminal. Stimulasi trigeminal (nyeri, taktil, dan suhu) memberikan
kontribusi terhadap persepsi rasa selama proses makan. Disfungsi
pengecapan diklasifikasikan sebagai gangguan kuantitatif atau kualitatif.
Gangguan rasa kuantitatif termasuk ageusia, hypogeusia dan hypergeusia,

16
sedangkan gangguan kualitatif adalah dysgeusia dan phantogeusia. Ageusia
adalah tidak adanya sensasi rasa; hypogeusia adalah penurunan sensitivitas
untuk semua rasa. Hyperguesia mengacu pada peningkatkan sensitivitas
pengecapan. Dysgeusia atau pargeusia adalah persepsi yang tidak
menyenangkan dari tastant dan phantogeusia, merupakan persepsi rasa yang
terjadi dalam ketiadaan tastant.
B. Etiologi
Mayoritas dari disfungsi gustatory disebabkan oleh gangguan
penciuman daripada persepsi rasa. Penyebab paling umum dari disfungsi
penciuman termasuk rhinitis alergi, rhinosinusitis kronis dan infeksi saluran
pernapasan atas. Penyebab mekanistik disfungsi gustatory dapat dari tiga
jenis:

Gambar 1.7 Penyebab mekanis disfungsi gustatory [ CITATION TMaGu \l 1033 ].

17
Gambar 1.8 Etiologi disfungsi gustatory [ CITATION TMaGu \l 1033 ].

Gambar 1.9 Obat yang menyebabkan disfungsi gustatory [ CITATION


TMaGu \l 1033 ].
C. Diagnosis
Seorang dokter mengevaluasi pasien yang memiliki disfungsi
gustatory harus memahami bahwa “rasa” keluhan biasanya gejala dari
disfungsi penciuman. Perbedaan antara kebenaran gustatory (pahit, manis,
asin, asam, atau umami) dan kehilangan penciuman, ketidakmampuan untuk
merasakan rasa kompleks makanan, akan membantu memperjelas diagnosis
pasien. Disfungsi gustatory kualitatif lebih sering daripada disfungsi
kuantitatif. Insiden gangguan rasa adalah sama antara laki-laki dan

18
perempuan. Disfungsi Gustatory sering dikaitkan dengan mual, nafsu makan
berkurang, dan mulut kering, terutama pada saat pasien menjalani
kemoterapi.
Pemeriksaan menggunakan teknik pencitraan untuk menyingkirkan
atau membuktikan adanya kerusakan struktur saraf pusat, dan khususnya ke
batang otak, talamus dan pons, mungkin diperlukan. Jika penyakit bakteri
atau mikologi dicurigai, tes swab dapat dilakukan.
Penilaian sensasi rasa bisa dilakukan di klinik rawat jalan oleh elektro
atau kemo-gustometry. Dalam electrogustometry, arus listrik lemah
diterapkan pada berbagai bidang pengecap di rongga mulut. Dalam
chemogustometry, solusi rasa khusus digunakan untuk menguji sensitivitas
rasa. Sebuah uji rasa seluruh mulut digunakan untuk menilai kemampuan
pasien untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan mengevaluasi intensitas
konsentrasi yang berbeda dari yang manis, asin, asam, dan solusi rasa pahit.
Sebuah tes spasial digunakan untuk menilai berbagai wilayah mukosa mulut
karena daerah lokal penurunan nilai dapat terdeteksi. Sebuah kapas yang
dicelupkan dalam larutan rasa khusus diterapkan di daerah yang berbeda
dari mukosa mulut. tenggorokan dievaluasi dengan memiliki bagian pasien
menelan setiap solusi selera. individu diminta untuk menilai kualitas dan
intensitas rasa. Metode uji lain didasarkan pada penyajian stimulus dalam
bentuk kertas saring tastant-jenuh atau disebut rasa strip dengan tastants
kering - tugas pasien untuk mengidentifikasi rasa. Bila dibandingkan dengan
solusi rasa, rasa strip memiliki keuntungan dari kehidupan rak panjang.
Untuk evaluasi dari disfungsi gustatory, sdapat menerapkan anestesi
topikal seperti tanpa rasa 2% lidokain ke permukaan dorsal lidah. anestesi
yang diterapkan mulai dari kiri 2/3 anterior, maju ke arah 1/3 posterior,
diikuti oleh sisi kontralateral dengan cara yang sama. Jika keluhan tersebut
tereliminasi, maka sumber gangguan rasa mungkin lokal. Jika keluhan terus
berlanjut dan tidak berubah, maka penyebabnya mungkin sistemik atau
mungkin berasal dari sistem saraf pusat.
D. Tatalaksana

19
Keberhasilan pengobatan untuk disfungsi gustatory tergantung pada
etiologi. Banyak pasien menjadi khawatir tentang keseriusan gangguan
mereka dan juga perkembangan depresi. Lebih sering diterima untuk
seorang pasien daripada yang tidak terdiagnosis. Beberapa gangguan rasa
tidak perlu pengobatan apapun, karena mereka mungkin menyelesaikan
secara spontan.
Suplemen zinc telah terbukti efektif dalam pengobatan pasien dengan
gangguan rasa, terutama pasien menjalani radio terapi atau kemoterapi.
Dalam kasus dysgeusia dan gangguan mulut terbakar
(lazimpadawanitapasca menopause), antidepresan trisiklik dan clonazepam
dapat membantu. Dalam kasus dysgeusia anestesi topical seperti lidokain
gel diindikasikan. Dalam kasus trauma atau operasi, ada terapi khusus yang
tersedia, hanya waktu yang akan memberitahu apakah kondisi akan
membaik. Dysgeusia terkait obat dapat kembali dengan penghentian agen
penyebab. Saliva buatan dapat membantu pada pasien dengan xerostomia.
Dengan tidak adanya pengobatan khusus untuk disfungsi gustatory
didiagnosis, aspek yang paling penting dari perawatan adalah mengajar
pasien untuk menghadapi gangguan tersebut. Beberapa strategi perawatan
umum digunakan oleh pasien dengan disfungsi gustatory termasuk makan
makanan lebih sedikit dan lebih sering, menggunakan bumbu-bumbuan,
menggunakan lebih banyak lemak dan saus, makan-makanan yang lebih
lunak, menambahkan sesuatu yang manis pada daging, mengisap permen
keras, makan lebih banyak makanan rebus, menggunakan lebih banyak
garam, perawatan mulut sebelum makan, mengonsumsi makanan dingin,
menghindari daging sapi, dan makanan pedas.
Dokter harus peka terhadap keadaan psikologis pasien. Depresi
mungkin hasil dari gangguan rasa atau berkontribusi pada keluhan rasa.
Dalam kedua kasus, rujukan untuk konseling psikologis dapat
dipertimbangkan, meskipun tidak sebagai langkah pertama. Selainitu, jika
penyebab tidak dapat dibangun, pasien harus dirujuk kemulti disiplin rasa
dan pusat bau.
E. Rekomendasi Perawatan

20
Gambar 1.10 Rekomendasi perawatan [ CITATION TMaGu \l 1033 ].

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hilangnya penciuman membutuhkan evaluasi medis. Hal ini dapat menjadi
penanda awal untuk mengembangkan gangguan neurodegenerative seperti
penyakit parkinson atau penyakit alzheimer
Untuk pengaturan klinis, evaluasi penuh fungsi penciuman, termasuk kedua
pengujian subjektif dan objektif, dianjurkan untuk mengkarakterisasi jenis dan
tingkat keparahan disfungsi penciuman. Pasien harus diberikan dengan hasil tes
bau obyektif dan diagnosis yang jelas. Selain itu, informasi mengenai penyebab
dan sifat hilangnya penciuman penting bagi prognosis dan pengobatan pilihan.
Tht dokter harus mampu memberikan ini atau merujuk pasien sejak awal untuk
bau dan rasa pusat khusus. Kebutuhan penelitian sistematis lanjut yang akan
dilakukan tentang pengaruh hilangnya bau pada perilaku makan dalam rangka
untuk mengidentifikasi perubahan preferensi makanan dan asupan makanan antara
pasien. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk pasien saran anosmic tentang cara
untuk mengatasi hilangnya indra penciuman mereka sehubungan dengan perilaku

21
diet mereka untuk meningkatkan kesehatan mereka dan status gizi. Saran
mengenai keselamatan dan bagaimana
Disfungsi Gustatory menyajikan sejumlah kesulitan seperti etiologi tidak
jelas dan ketidakmampuan untuk obyektif menilai sifat dan tingkat disfungsi.
Penelitian di masa depan diperlukan untuk lebih memahami mekanisme
chemosensory dan membangun prosedur diagnostic yang telah ditingkatkan.
Namun, dokter harus disiapkan untuk membuat evaluasi yang tepat, pengobatan
atau rujukan.

3.2 Saran
Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah kami banyak kesalahan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami berharap para pembaca dapat
memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun mengenai pembahasan
dan kesimpulan yang telah kami buat.
DAFTAR PUSTAKA

Sanne Boesveldt. (2017). Anosmia. Chemical Sense , 513-523.

T.Maheswaran. (-). Gustatory Disfunction. PMC , -.

Tortora, G. J. (2014). DASAR ANATOMI DAN FISIOLOGI. Jakarta: EGC.

22
23