Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan pertumbuhan anak, dimensi eksternal mereka juga

berubah. Perubahan ini disertai dengan perubahan yang berkaitan dengan

struktur dan fungsi organ internal dan jaringan yang mencerminkan

diperolehnya kompetensi fisiologis secara bertahap. Setiap bagian memiliki

laju pertumbuhan masing-masing, yang dapat secara langsung berkaitan

dengan perubahan ukuran anak (misalnya frekuensi jantung).

Pertumbuhan otot rangka hampir sama dengan pertumbuhan seluruh

tubuh, jaringan otak, limpoid, adrenal, dan reproduktif tumbuh dalam pola

yang berbeda dan bersifat individual. Jika terdapat penyebab sekunder

defisiensi pertumbuhan, seperti penyakit berat atau malnutrisi akut,

pemulihan dari sakit atau penetapan diet yang adekuat akan menghasilkan

akselerasi laju pertumbuhan yang dramatis yang biasanya berlangsung sampai

pola pertumbuhan individu anak tercapai [ CITATION Won08 \l 1033 ].

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue

hemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus

dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi

yang disertai leukopenia, ruam, mual dan muntah, limpadenopati,

trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi pembesaran

plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau

1
2

penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock

syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/shock.

Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue,

yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flavividae. Flavivirus

merupakan virus dengan diameter 30 mm terdiri dari asam ribonukleat rantai

tunggal dengan berat molekul 4x106.

Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2,DEN-3, dan DEN-4 yang

semuanya menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue.

Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan

serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotype dengue dengan

Flavivirus lain seperti yellow fever, Japanese encephalitis dan West Nile

Virus. Demam berdarah tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat dan

Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh

wilayah tanah air. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 1 per 100.000

penduduk (1989 hingga 1995) dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar

biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalita

DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999 [ CITATION

Sit14 \l 1033 ].

Tahun 2017 kasus demam berdarah berjumlah 68.407 kasus, dengan

jumlah kematian sebanyak 493 orang. Jumlah tersebut menurun drastis dari

tahun sebelumnya, yaitu 204.171 kasus dan jumlah kematian sebanyak 1.598

orang. Angka kesakitan demam berdarah tahun 2017 menurun dibandingkan

tahun 2016, yaitu dari 78,85 menjadi 26,10 per 100.000 penduduk. Namun
3

penurunan Case Fatality Rate (CFR) dari tahun sebelumnya tidak terlalu

tinggi, yaitu 0,78% pada tahun 2016, menjadi 0,72% pada tahun 2017. Angka

kesakitan demam berdarah menurut provinsi tahun 2017, angka tertinggi dari

provinsi yaitu Sulawesi selatan sebesar 105,95 per 100.000 penduduk,

sebagian provinsi lainnya mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh

program pencegahan penyakit demam berdarah telah berjalan cukup efektif

melalui kegiatan satu rumah satu Jumantik, meskipun kegitan tersebut belum

dilaksanakan di seluruh Provinsi maupun Kabupaten/Kota [ CITATION dru18 \l

1033 ].

Data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat Tahun 2015 menyatakan, toleransi

ambang batas Angka Kesakitan DBD tahun 2015 yang ditetapkan kurang dari

50/100.000 penduduk, pada tahun 2015 terdapat 11 Kabupaten/Kota yang

capaiannya diatas ambang batas toleransi dan rata-rata Provinsi, yaitu Kota

Sukabumi, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor,

Kota Depok, Kota Cirebon, Kab Kuningan, Kab Bandung Barat, dan Kab.

Purwakarta. Angka kesakitan tertinggi didominasi oleh perkotaan kecuali

Kota Banjar : 42,34/1000.000 dan Kota Bekasi 36,36/100.000, angka

kesakitannya sangat bagus di bawah 50/100.000. Angka kesakitan tertinggi

terdapat di Kota Sukabumi mencapai 249,59/100.000 dan terendah terdapat di

Kab. Pangandaran 7,48/100.000 penduduk [ CITATION Pro15 \l 1033 ].

Maka kesehatan masyarakat pun perlu dirubah serta ditingkatkan dari

kesadaran masing-masing individu, sesuai dengan Profil Kota Cimahi, yaitu

pembangunan sesuai dengan visi kota Cimahi Tahun 2017 "Mewujudkan


4

Cimahi Baru Maju, Agamis Dan Berbudaya" yang mengandung pengertian

seiring dengan bertambahnya waktu Kota Cimahi harus terus maju ke depan,

mengalami peningkatan dan bertambah baik di semua aspek kehidupan

termasuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya [ CITATION

Pro17 \l 1033 ]

Rumah Sakit TK II 03. 05. 01 Dustira adalah rumah sakit tipe B dan

merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di wilayah Kodam III / Siliwangi

yang didirikan pada tahun 1887 dengan luas bangunan 54.481 m 2. Tugas

pokok rumah sakit TK II 03. 05. 01 Dustira yaitu menyelenggarakan dan

melaksanakan fungsi perumahsakitan melalui upaya-upaya pelayanan

kegiatan kesehatan kuratif dan rehabilitatif yang terpadu dengan pelaksanaan

kegiatan kesehatan promotif dan preventif. Rumah Sakit TK II 03. 05. 01

Dustira Cimahi dilengkapi dengan 20 ruang rawat inap dan 536 tempat tidur.

Dalam hal ini khususnya ruang perawatan salak memiliki 9 kamar dengan 40

tempat tidur yang berbagi dalam empat kelas, yaitu VIP terdiri dari 4 tempat

tidur (Bed) kelas I, 4 tempat tidur (Bed) kelas II, 16 Bed, kelas III, 14 Bed,

dan observasi, 2 Bed [ CITATION Inf19 \l 1033 ] . Dibawah ini terdapat tabel 1.1

Distribusi Frekuensi 10 penyakit Terbesar Selama 3 BulanTerakhir Pada

Anak Usia 0 – 14 Tahun di Ruang Perawatan Anak (Salak) RS. TK. II

03.05.01 Dustira Cimahi Bulan Februari-April 2018.

Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Penyakit di Ruang Salak


Rumah Sakit TK.II 03.05.01 Dustira Cimahi
5

Periode Bulan Desember-Februari 2019

No Daftar Penyakit Jumlah Presentase


1. Dengue Fever 212 28,07%
2. Typhoid Fever 101 13,07%
3. Diare acute 100 13.06%
4. Bronchopneumonia 87 11,08%
5. Viral Infection 82 11.01%
6. Dengue Haemorraghic Fever 52 7.2%
7. Bacterial Infection 40 5.04%
8. Kejang Demam Sederhana 3.3 4.05%
9. Kejang Demam Komplek 18 2,04%
10. Febris 12 1.6%
Jumlah 738 100%
Sumber :Data Informasi kesehatan RS TK. II 03.05.01 Dustira Cimahi

Berdasarkan table 1.1 tentang distribusi frekuensi sepuluh penyakit

terbesar pada anak usia 0 – 14 tahun pada bulan Desember - Februari 2019 dari

Informasi Kesehatan Rumah Sakit Dustira, penyakit Dengue Fever urutan

pertama. Maka penulis tertarik untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah yang

berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. M USIA SEKOLAH (8

TAHUN 8 BULAN) DENGAN DENGUE FEVER DIRUANG

PERAWATAN ANAK (SALAK) RUMAH SAKIT TK.II 03.05.01

DUSTIRA CIMAHI.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah :

1. Tujuan Umum :

Penulis memperoleh pengalaman secara nyata dan mampu melaksanakan

asuhan keperawatan secara langsung dan komprehensif meliputi aspek

bio, psiko, sosio, spiritual dengan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus :
6

a. Penulis mampu melakukan pengkajian terhadap An. M usia sekolah

(8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever di Ruang Perawatan Anak

(Salak) Rumah Sakit TK II 03.05.01 Dustira Cimahi.

b. Penulis mampu menentukan diagnosa keperawatan pada An. M usia

sekolah (8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever di Ruang Perawatan

Anak (Salak) Rumah Sakit TK. II 03. 05. 01 Dustira Cimahi.

c. Penulis mampu menentukan rencana asuhan keperawatan pada An.

M usia sekolah (8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever di Ruang

Perawatan Anak (Salak) Rumah Sakit TK. II 03. 05. 01 Dustira

Cimahi.

d. Penulis mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada An. M

usia sekolah (8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever di Ruang

Perawatan Anak (Salak) Rumah Sakit TK. II 03. 05. 01 Dustira

Cimahi.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan

yang telah diberikan pada An. M usia sekolah (8 tahun 8 bulan)

dengan Dengue Fever di Ruang Perawatan Anak (Salak) Rumah

Sakit TK. II 03. 05. 01 Dustira Cimahi.

f. Penulis mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan terhadap

An. M usia sekolah (8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever di

Ruang Perawatan Anak (Salak) Rumah Sakit TK. II 03. 05. 01

Dustira Cimahi.

C. Manfaat Penulisan
7

1. Bagi Rumah Sakit

Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi masukan, informasi kepada

Rumah Sakit dan Ruang Perawatan Anak (Salak) khususnya tentang

asuhan keperawatan pada anak dengan Dengue Fever.

2. Bagi Perawat

Dapat dijadikan sebagai suatu kajian dan informasi dalam menambah ilmu

pengetahuan dalam pengelolaan kasus Dengue Fever, sehingga dapat

memberikan pelayanan keperawatan yang lebih baik.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Studi kasus ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber literatur dalam

pembuatan studi kasus.

4. Bagi Mahasiswa Keperawatan

Studi kasus ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian

mahasiswa dalam melaksanakan dan membuat asuhan keperawatan

sehingga menjadikan studi kasus ini sebagai sumber kepustakaan dalam

pembuatan studi kasus selanjutnya.

5. Bagi Penulis

Mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan

dengan melakukan asuhan keperawatan pada kasus Dengue Fever.

D. Metode Telaahan
8

Menurut [ CITATION Tar15 \l 1033 ], Metode yang digunakan dalam penulisan

karya tulis ilmiah adalah dengan metode deskritif dengan teknik studi kasus

pendekatan proses keperawatan. Penulis mengumpulkan data dengan cara

tekhnik pengumpulan data yaitu :

1. Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data melalui wawancara,

dengan teknik ini dapat digali data-data penting yang sangat mendukung

dalam menentukan diagnosis.

2. Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data, misalnya

mengobservasi keadaan luka dan peradangan. Observasi dapat

menggunakan pendengaran, penglihatan, rasa, sentuhan, maupun sensai.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik sangat penting dalam pengumpulan data. Ada empat

cara dalam pemeriksaan fisik yaitu: Insfeksi, auskultasi, palpasi dan

perkusi.

4. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi keperawatan adalah cara pengumpulan data

berdasarkan hasil catatan atau pendokumentasian atau asuhan keperawatan

yang dilaksanakan baik dibagian catatan medik maupun diruangan

Perawatan Anak (Salak) Rumah Sakit Dustira Cimahi.

5. Studi Kepustakaan
9

Studi kepustakaan adalah cara pengumpulan data melalui studi literatur

yang berhubungan dengan masalah kesehatan pasien. Membaca literatur

sangat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang

benar tepat.

6. Parsitipasi Aktif

Parsitipasi aktif adalah melakukan keperawatan secara langsung terhadap

pasien dengan melibatkan keluarga.

E. Sistematika Penulisan

1. BAB I

Berisikan pendahuluan yang terdiri dari latar balakang masalah, manfaat

penulisan, metode telaahan, dan sistematika penulisan.

2. BAB II

Berisikan tentang teori dan konsep dasar yang meliputi definisi dari

Dengue Fever, anatomi dan fisiologi, etiologi, fatofisiologi, fathway,

manifestasi klinik, klasifikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan

medis, pencegahan, komplikasi, dan mengemukan proses keperawatan

secara teoritis meliputi pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan,

intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi (catatan

perkembangan), discharge planning.

3. BAB III

Berisi tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada An. M usia sekolah

(8 tahun 8 bulan) dengan Dengue Fever melalui pengkajian, diagnosa

keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi


10

(catatan perkembangan), discharge planning, Kemudian membahas

tentang kesenjangan antara teori dan fakta yang didapat serta alternatif

pemecahan masalah dalam melakukan asuhan keperawatan.

4. BAB IV

Terdiri atas kesimpulan dari pelaksanaan asuhan keperawatan dan

rekomendasi terhadap masalah yang ditemukan.

Menurut [ CITATION Fat09 \l 1033 ] sistem penomoran atau bagan penulisan

sebagai berikut :

I. ...

A. ...

1. ...

a. …

1) ...

a) ...

(1) ..