Anda di halaman 1dari 11

KLIPING PENELITIAN KESEHATAN KERJA

Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Pekerja PT. X

Pembimbing :

Dr. Sudung Nainggolan, MHSc

Oleh :

Pratika Lawrence Sasube

1865050050

KEPANITRAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PERIODE 24 FEBUARI 2020- 02 MEI 2020

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA

2020

“PERILAKU PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA DI PT. X”


Chintya Permata Dahyar
Intisari Artikel

Peningkatan tenaga kerja pada sector industri yang ada di Indonesia harus berbanding
lurus dengan perlindungan yang diberikan kepada tenaga kerja. Perlindungan yang diberikan
kepada tenaga kerja di sector Industri adalah perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja
(K3). PT. X merupakan sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak
pada bidang industry galangan kapal yang mana merupakan salah satu industri strategis yang
memproduksi alat utama system pertahanan Indonesia khususnya untuk matra laut, sehingga
keberadaanya memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung pengembangan industri
kelautan nasional, Kegiatan utama PT X adalah memproduksi kapal perang dan juga kapal niaga
serta menyediakan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal. Pada penelitian ini sejauh mana
pekerja percaya dengan menggunakan alat pelindung diri memberikan manfaat dalam
menyelesaikan pekerjaannya. Pada penelitian ini menggunakan lembar kuisioner yang terdapat 6
pernyataan tentang persepsi manfaat yang sudah teruji validitas dan realibilitasnya. Pernyataan
tersebut adalah: Persepsi Manfaat Penggunaan Alat Pelindung Diri: merupakan sebuah persepsi
yang dirasakan oleh pekerja yang menjelaskan tentenag tingkatan sejauh mana pengguna dapat
peraya bahwa dengan menggunakan teknologi dapat meningkatkan kinerjanya.
Persepsi Kemudahan Penggunaan Alat Pelindung Diri : pada penelitian ini persepsi kemudahan
adalah persepsi pekerja bahwa dengan menggunakan alat pelindung diri maka akan terbebas dari
usaha yang menyusahkan seperti alat pelindung diri yang susah untuk dipakai atau tidak fleksibel
diguanakan sehingga menyusahkan untuk dipakai saat bekerja.
Sikap Penggunaan Alat Pelindung Diri: merupakan sebuah penerimaan atas sebuah teknologi
berupa alat pelindung diri yang mana sikap tersebut akan terwujud jika seorang pekerja memiliki
persepsi manfaat dan persepsi kemudahan yang tinggi.
Perilaku Penggunaan APD: merupakan output apakah pekerja menggunakan APD secara terus-
menerus karena sadar pentingnya APD.
Hubungan Persepsi Manfaat dan Persepsi Kemudahan Penggunaan dengan Sikap.
Hubungan Sikap dengan Perilaku APD.
Dari Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian, pekerja di PT.X umumnya sudah
memiliki perilaku penggunaan alat pelindung diri yang cukup baik. Hal tersebut dibuktikan
dengan tingkat perilaku penggunaan APD yang termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan
teori Technology Acceptance Model (TAM) faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah
perilaku penggunaan APD pada pekerja di penelitian ini adalah sikap yang memiliki hubungan
signifikan dengan perilaku penggunaan APD. Sikap pekerja tersebut juga timbul dari adanya
persepsi manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan yang dikategorikan cukup baik dan
memiliki hubungan yang signifikan dengan sikap penggunaan APD.

Pro/ Keuntungan

Manfaat teoritis dari penelitian ini, mengetahui tingkat kesadaran penggunaan Alat
pelindung diri bagi tenaga kerja, yang mengambil peran besar terhadap perkembangan sector
Industri di badan usaha milik negarm sehingga dengan adanya perlindungan dari Kesehatan dan
keselamatan Kerja (K3), dapat mengurangi angka kejadian kecelakaan akibat pekerja. Sehingga
kinerja dari pekerja dapat meningkat dan sector industi di dalam Negara dapat bekerja secara
optimal.

Kontra/ Kerugian

Kekurangan pada penelitian ini yaitu kurang dipaparkan lagi macam-macam bentuk
persepsi secara detail mengenai prosedur penelitiannya.

Kesimpulan (inovasi/hasil)

1. Dari analisis yang didapatkan sebagian besar tenaga kerja pada sector indutri di PT. X telah
memenuhi standar persepsi dalam kepentingan penggunaan alat pelindung diri tuk
mengurangi tingkat kecelakaan akibat kerja, sehingga kondisi yang tidak aman dan tindakan
yang tidak aman dapat dihindari.
“PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BIOPARK DI TAMAN MADUKORO
SEBAGAI ATRIBUT KOTA HIJAU SEMARANG”

Dimas Wicaksono1, Tri Munasari2

Intisari Artikel

Perkembangan kota Semarang yang pesat sebagai akibat dari aktivitas ekonomi yang
tinggi, menuntut kejelian dan kearifan dalam penataan bangunan dan lingkungan di perkotaan.
Penataan bangunan dan lingkungan dalam suatu kawasan maupun suatu koridor tidak boleh
terlepas dari rencana tata ruang yang sudah ada dan sesuai dengan regulasinya. Pembangunan
kawasan perkotaan secara fisik cenderung menghabiskan ruang terbuka hijau dan menjadikan
area terbangun. Untuk mengatasi hal itu dibutuhkan tata guna lahan yang baik sebagai pembatas
antara kebutuhan ruang terbangun dengan kebutuhan ruang terbuka hijau. Taman sebagai salah
satu produk arsitektur, merupakan ruang terbuka yang sehari-hari dimanfaatkan masyarakat
untuk berinteraksi dan berkegiatan, disamping fungsi utamanya sebagai penyedia atau penyuplai
oksigen dan pelengkap kebutuhan ruang terbuka hijau di perkotaan. Permasalahan dalam
pengelolaan ruang terbuka hijau kota Semarang adalah belum terintegrasinya institusi
pengelolaan RTH di Semarang. Pengelolaan masih dilakukan parsial dan sektoral, belum efisien
dan efektif dalam rangka menghasilkan kualitas dan kuantitas RTH, serta belum melibatkan
semua stakeholder termasuk para ilmuwan. Berdasarkan data lapangan ditemui banyak fakta
bahwa dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kawasan Kota Semarang tidak memiliki fungsi
yang semestinya. Metode pengumpulan data di dasarkan pada observasi di lapangan, dengan
dokumentasi foto, wawancara dengan dinas terkait, tokoh masyarakat dan respon acak
masyarakat sekitar serta dukungan data menggunakan studi pustaka primer maupun sekunder
dan literature terkait. Data dianalisis secara deskriptif dan spasial. Kota Semarang sebagai kota
yang mengusung konsep hijau, pada saat ini banyak pemerintah kabupaten/kota yang sedang
giat-giatnya menyusun rencana dan rancangan berkaitan dengan penambahan taman kota yang
ada. Hal ini tentu saja dimaksudkan selain untuk mengejar kebutuhan luas ruang terbuka hijau
(RTH) publik kota juga untuk memberi pelayanan kepda masyarakat akan kebutuhan ruang
publik untuk bersosialisasi, rekreasi, olahraga ataupun memenuhi kebutuhan akan estetika dan
identitas lingkungan. Taman Madukoro terletak di Jl. Jenderal Sudirman, Kota Semarang
tepatnya bundaran Jenderal Sudirman. Dulu taman ini hanya sekedar pembatas jalan yang di
tanami beberapa tanaman. Sampai akhirnya Pemerintah Kota membuatnya menjadi taman yang
sejuk. Di sini ada sejumlah tanaman yang di tata, hingga terlihat enak di pandang mata.
Arsitektur tulisan Taman Madukoro yang unik terlihat saat melewati jalan. Dari analisa situasi
diperlukan beberapa elemen yang mendukung biopark yaitu : Elemen taman, jalan, drainasi,
tempat sampah, area parkir, akses, kenyamanan. Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH)
merumuskan 8 (Delapan) atribut kota hijau, yaitu: Green Planning & Green Desain, Green
Community, Green Open Space, Green Building, Green Energy, Green Transportasion, Green
Water, Green Waste. ULAN Taman Madukoro perlu kesesuaian fungsi dengan konsep Kota
Hijau yang ada di Semarang. Taman kota ini sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau kota yang
perlu perhatian khusus, dari aspek perencanaan yang diikuti aspek lain yaitu kelembagaan,
pengelolaan, koordinasi, pendanaan dan sumber daya manusia, secara khusus pada aspek
perencanaan elemen utama adalah keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan ruang terbuka di
Kota Semarang.

Pro/ Keuntungan

Manfaat teoritis dari Penulisan artikel ini adalah, menambah wawasan akan tata letak
kota serta infrastruktur dan juga sebagai keuntungan biologis bagi lingkungan hidup karena
proses penghijauan di letak kota dengan suasana yang gersang.

Kontra/ Kerugian

Kekurangan dari artikel ini, tidak mencantumkan budgeting dan presentasi kenyamanan
pada proses pembangunan biopark ini.

Kesimpulan (inovasi/hasil)

Dari analisis yang didapatkan pada artikel ini :


1. Pertumbuhan Kota cenderung menghabiskan ruang-ruang terbuka yang ada untuk
pemenuhan aspek ekonomi sehingga lansekap dan tata guna lahan di perkotaan
menjadi lebih dinamis. Berdasarkan data yang ada, kebutuhan luas Ruang Terbuka
Hijau (RTH) publik sebesar 20% dari luas kota. Tujuan penelitian ini adalah
merencanakan Konsep BioPark pada Taman Kota Maduko di Semarang sebagai
ruang terbuka hijau yang menggunakan delapan atribut kota hijau.
2. Taman Madukoro Semarang menggunakan 8 (delapan) atribut Kota Hijau yaitu green
planning dan green design, green community, green open space, green building, green
energy, green transportasion, green water, dan green waste. Dari hasil analisis data 8
atribut Kota Hijau tersebut akan digunakan sebagai acuan dalam perencanaan atau
pengembangan taman kota yang lebih nyaman dan standar RTH Kota Semarang.
“PERANAN PROMOSI DINAS PARAWISATA TERHADAP
PENINGKATAN KUNJUNGAN WISATAWAN DI WAIGEO
KABUPATEN RAJA AMPAT KOTA SORONG”
Chrismaissy Omega Rompas1, Yuriewati Pasoreh2,Johny Kalangi3

Intisari Artikel

Promosi merupakan kegiatan memberitahukan produk atau jasa yang hendak ditawarkan
kepada calon konsumen/wisatawan yang dijadikan target pasar. Kegiatan promosi idealnya
dilakukan secara berkesinambungan melalui beberapa media yang dianggap efektif dapat
menjangkau pasar, baik cetak maupun elektronik,seperti promosi

melalui periklanan melalui tv ,radio, Poster baliho maupun spanduk selain itu dengan
menggunakan pameran promosi melalui website dan sosial media. Salah satu dari sekian banyak
daerah di Indonesia yang mempunyai pesona pariwisata khususnya keindahan bawah laut adalah
Kabupaten Raja Ampat dimana kabupaten ini baru berdiri sejak 9 Mei 2003, Kabupaten Raja
Ampat terletak di bagian barat dari pulau induk Papua atau berada di Provinsi Papua Barat.
Kabupaten Raja Ampat adalah kabupaten bahari dimana 80% wilayahnya adalah lautan dan
sisanya adalah daratan. Raja Ampat disebut sebagai ‘Surga bawah laut “Misool rupanya
memiliki banyak danau air asin. Promosi adalah suatu bentuk marketing communication. Yang di
maksud dengan marketing communication adalah aktivitas promosi yang berusaha menyebarkan
informasi, mempengaruhi atau membujuk, dan atau mengingatkan publik sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Menurut Gito sudarmono (1994:237) adapun alat –
alat yang dapat dipergunakan dalam promosi, yaitu :

1. Iklan merupakan alat utama bagi pengusaha dalam mempengaruhi konsumennya melalui
media seperti surat kabar, radio, majalah, bioskop, televisi ataupun dalam bentuk
strategis.

2. Promosi penjualan adalah kegiatan perusahaan untuk menjajankan produk yang


dipasarkan dalam berbagai macam cara yang menarik agar konsumen dengan mudah
melihat sehingga dapat menarik para konsumen.

3. Publisitas Cara ini dilakukan dengan memuat berita tentang produk atau perusahaan yang
menghasilkan produk tersebut pada mass media.

4. Personal Selling Kegiatan perusahaan untuk melakukan promosi secara kontak langsung
pada calon konsumen. Adapun terdapat kategori personal selling, yaitu:
a. Door to door.b. Mail order.c. Telephone selling. d. Direct selling.

Pengertian pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar,


dari suatu tempat ke tempat lain.Menurut UU No.10 Tahun 2009, pariwisata ialah berbagai
macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh
masyarakat , pengusaha,pemerintah, dan pemerintah daerah.

Menurut WTO (Kutip Muljadi,2009:9) Pariwisata ialah sebagai ssuatu kegiatan yang dilakukan
seseorang yang mengadakan perjalanan untuk tinggal diluar kebiasaan lingkungannya dan tidak
lebih dari satu tahun berturut-turutuntuk kesenangan, bisnis, dan keperluan lain.

Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata (UU No 9 Tahun 1990).
Mengenali tipologi wisatawan merupakan hal penting dalam membuka paket wisata yang
menjadi daya tarik suatu industri pariwisata. Klasifikasi

wisatawan menurut Cohen (1997) dalam Pitana (2005) sebagai berikut:

1. Drifter, yaitu wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang sama sekali belum
diketahuinya dan bepergian dalam jumlah kecil.

2. Eksplorer, yaitu wisatawan yang melakukan perjalanan dengan mengatur perjalanannya


sendiri dan tidak mau mengikuti jalan-jalan wisata yang sudah umum melainkan mencari
hal yang tidak umum (Off the beaten track). Wisatawan seperti ini bersedia
memanfaatkan fasilitas dengan standar lokal dan tingkat interaksi dengan masyarakat
lokal juga tinggi.

3. Individual Mass Tourist, yaitu wisatawan yang hanya menyerahkan pengaturan perjalanannya
kepada agen perjalanan dan mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenal.

4. Organized-Mass Tourist, yaitu wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah tujuan wisata
yang sudah dikenal, dengan fasilitas seperti yang dapat ditemuinya di tempat tinggalnya
dan perjalanannya selalu dipandu oleh pemandu wisata. Wisatawan seperti ini
terkungkung oleh apa yang disebut sebagai environmental bubble.

5. Wisatawan Mancanegara. Definisi wisatawan ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi


International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism
Organization (WTO). Wisatawan macanegara adalah seseorang atau sekelompok orang
yang melakukanperjalanankesebuahatau beberapa negara di luar tempat tinggal biasanya
atau keluar dari lingkungan tempat tinggalnya untuk periode kurang dari 12 bulan dan
memiliki tujuan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata. Terminologi ini mencakup
penumpang kapal pesiar (cruise ship passenger) yang datang dari negara lain dan
kembali dengan catatan bermalam.

Dalam Penelitian ini penulis mengambil lokasi penelitian di daerah Kabupaten Raja
Ampat.Waktu Penelitian dari mulai 11 Juli sampai 27 Agustus 2018. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini ialah metode analisis deskriftif dengan pendekatan kuantitatif dan analisis
data bersifat kuantitatif. Dan mengunakan teknik analisa Analisa deskriptif, Penelitian ini tidak
mencari dan menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis maupun membuat predikisi. dan
populasi sasaran pada penelitian ini adalah Wisatawan Mancan Negara dan local yang berusia
17-65 Tahun .

Sampel yang diambil dengan menggunakan rumus Taro Yamane dalam penelitian ini berjumlah
92 wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengumpulan sampel menggunakan Accidental
Sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan
bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebgai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan
ditemui cocok sebagai sumber data.

Berdasarkandilakukan, maka ditemukan bahwa wisatawan tertarik pada isi pesan tentang objek
wisata Kabupaten Raja Ampat. Melalui isi pesan yang ada, mereka memperoleh pengetahuan
tentang segala hal tentang objek wisata Kabupaten Raja Ampat yang memiliki potensi wisata
yang besar terutama untuk penyelaman. Raja Ampat diakui sebagai salah satu lokasi menyelam
dari 10 lokasi penyelaman terbaik di dunia. Flora dan faunannya tergolong sangat lengkap. Iklan
merupakan bentuk promosi yang menarik perhatian para wisatawan untuk mengunjungi objek
wisata Kabupaten Raja Ampat. Begitu pula dengan media promosi yang digunakan. Pada
umumnya informasi tentang objek wisata Kabupaten Raja Ampat lebih banyak diperoleh
wisatawan melalui media online dan media sosial (facebook, instagram, dan twiter)
dibandingkan dengan media konvensional yang ada seperti media cetak dan media elektronik.

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, maka dapat disimpulkan: Dinas Pariwisata Kabupaten
Raja Ampat kurang berperan dalam melakukan promosi objek wisata di Kabupaten Raja Ampat
dalam meningkatkan kunjungan wisatawan, di mana promosi wisata lebih banyak dilakukan oleh
pihak travel agent. Media berbasis digital yaitu media online dan media sosial merupakan media
promosi yang paling banyak digunakan oleh wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Raja
Ampat, dibandingkan penggunaan media konvensional seperti media cetak dan media elektronik.
Objek wisata di Kabupaten Raja Ampat mendapatkan kesan yang baik dari wisatawan, meskipun
diperlukan perbaikan dan penataan kembali terkait sarana dan prasarananya.

Pro/ Keuntungan

Melalui artikel ini kita dapat mengetahui bahwa penting nya promosi atau iklan
dalam mengenalkan pariwisata di Indonesia, khususnya Indonesia Timur Sorong
Raja Ampat, Papua Barat. Dengan adanya promosi/ iklan terutama melalui media
social dan jejaring sosial pribadi.
Kontra/ Kerugian.

Melalui artikel ini kita tidak dapat mengetahui presentasi total dari setiap kawasan
Raja Ampat, dan berapa presentasi turis dari mancanegara yang datang setiap
tahunnya, serta peningkatan nilai tukar rupiah, yang perlu diketahui.

Kesimpulan (inovasi/hasil)