Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN DHF


(DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER)

OLEH

I PUTU YOAN SUGIANTARA (P07120217026)


KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)

KELAS: 2A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PRODI D4 KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah Keperawatan
Anak yang berjudul Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Anak
dengan DHF (DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER)

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak


– pihak yang sudah terkait dalam penyusunan tugas makalah ini karena telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk penyusunan makalah ini.

Dengan segala kerendahan hati kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam


penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi penampilan
maupun dari segi kualitas penulisan. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang dapat membangun jika terdapat kesalahan, kekurangan, dan kata – kata
yang kurang berkenan dalam makalah ini, dan tentu saja dengan kebaikan bersama
dan untuk bersama.

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak dan pembaca.

Denpasar,31 Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang termasuk paling tinggi dalam kasus
DHF di Asia Tenggara. Hal ini tidak mengherankan karena Indonesia
termasuk dalam negara tropis, yang menjadi tempat habitat nyamuk penyebab
DHF ini. Sayangnya, yang paling rentan terkena DHF adalah bayi dan anak
anak.
Dengue Haemorrhagic Fever adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegypti.(Suriadi & Yuliani, 2001, hal 57)

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Laporan Pendahuluan Pada Anak dengan DHF ?
b. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan DHF ?

C. Tujuan
a. Untuk Mengetahun Tentang Laporan Pendahuluan Pada Anak dengan
DHF
b. Untuk Mengetahui Tentang Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan DHF
BAB II
PEMBAHASAN

LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER

A. Pengertian
Menurut beberapa ahli pengertian DHF sebagai berikut:
Dengue Haemorrhagic fever adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti.(Suriadi & Yuliani, 2001, hal 57)
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina), terutama
menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi
penderita. (Effendy, Skp, 1995:1)
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada
anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi
yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus
dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
(betina). (Seoparman, 1990).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang
disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan
renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000;
419).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan
oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995 ; 341).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan tipe I – IV dengan infestasi klinis dengan 5
– 7 hari disertai gejala perdarahan dan jika timbul tengatan angka kematiannya
cukup tinggi (UPF IKA, 1994 ; 201)
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang
berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak – anak tetapi lebih
banyak menimbulkan korban pada anak – anak berusia di bawah 15 tahun disertai
dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang disebabkan virus dengue
dan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes. (Soedarto, 1990 ; 36).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa
nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat
menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa DHF adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, terutama menyerang anak remaja dan
dewasa dengan gejala utama demam manifestasi perdarahan, nyeri otot dan sendi
dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang menyebabkan kematian.

B. Etiologi
a. Virus dengue
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam
Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus
dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di
Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus
dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer
dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan
baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster
Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
(Soedarto, 1990; 36).
b. Vektor
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor
yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis
dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi
dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap
serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis
yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor
penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui
gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah
perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk
tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada
genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam
rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang –
lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air
bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai
menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari
dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37).
c. Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka
ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga
ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun
virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika
seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu
mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula
terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya
jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta.
(Soedarto, 1990 ; 38).

C. Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita
mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh,
ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan
hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah
kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen.
Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya
untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor
meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan
terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya
volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta
efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %)
menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan
intravena.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya
faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab
terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada
DHF.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga
peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang
diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan
intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya
edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang
cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan
kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia
jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan
baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan
vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di
seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.

D. Manifestasi Klinik
Kasus DHF di tandai oleh manifestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan
mendadak yang dapat mencapa 40 C atau lebih dan terkadang di sertai dengan
kejang demam, sakit kepala, anoreksia, muntah-muntah (vomiting), epigastric,
discomfort, nyeri perut kana atas atau seluruh bagian perut; dan perdarahan,
terutama perdarahan kulit,walaupun hanya berupa uji tuorniquet poistif. Selain
itu, perdarahan kulit dapat terwujud memar atau dapat juga dapat berupa
perdarahan spontan mulai dari ptechiae (muncul pada hari-hari pertama demam
dan berlangsung selama 3-6 hari) pada extremitas, tubuh, dan muka, sampai
epistaksis dan perdarahan gusi. Sementara perdarahan gastrointestinal masif lebih
jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi pada kasus dengan syok yang
berkepanjangan atau setelah syok yang tidak dapat teratasi. Perdarahan lain
seperti perdarahan sub konjungtiva terkadang juga di temukan. Pada masa
konvalisen sering kali di temukan eritema pada telapak tangan dan kaki dan
hepatomegali. Hepatomegali pada umumnya dapat diraba pada permulaan
penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar dengan beratanya penyakit. Nyeri
tekan seringkali di temukan tanpa ikterus maupun kegagalan peredaran darah
(circulatory failure) (Nursalam, 2005).
Tanda dan gejala yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan
masa inkubasi antara 13-15 hari menurut WHO (1975) sebagai berikut.
1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus 2-7 hari
2. Manifestasi perdarahan, paling tidak terdapat uji tourniquet positif, seperti
perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis. Epistaksis, Hematemesis, Hematuri,
dan melena).
3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit).
4. Syok yang ditandai dengan nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang dan diastolik 20 mmHg atau
kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung
hidung, jari dan kaki, penderita gelisah timbul sianosis disekitar mulut.

Selain timbul demam, perdarahan yang merupakan ciri khas DHF


gambaran klinis lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF
adalah:
a. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan.
b. Keluhan pada saluran pencernaan: mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
c. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot,
tulang dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada saluran
tubuh dll.
d. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adalah thrombocytopenia
(kurang atau sama dengan 100.000 mm3) dan hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit lebih atau sama dengan 20 %)
E. Pathway

Virus Dengue

Gigitan nyamuk Aedes Aegypti

Terjadi viremia

Demam akut Nyeri otot, Stimulasi RES Permeabilitas


tulang dan vaskuler
sendi meningkat

Keringat Hepatomegali
Kebocoran plasma

Gangguan
rasa nyaman
Dehidrasi Mendesak
nyeri
rongga Penumpukan Hematokit
abdomen cairan ekstra meningkat
vaskuler dan Viskositas darah
Defisit rongga serosa meningkat
volume
cairan dan Mual, muntah
elektrolit
Pleura
Aliran darah
lambat
Nafsu makan Efusi
Hipertermi
menurun

Dispnea Suplai O2 ke
jaringan
Intake nutrisi meningkat
kurang dari
Pola nafas
kebutuhan tidak efektif
tubuh Gangguan
perfusi
jaringan
F. Klasifikasi
WHO, 1997 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya
menjadi 4 golongan, yaitu :
Derajat I : Demam dengan test rumple leed positif.
Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau
perdarahan lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin
lembab dan pasien menjadi gelisah.
Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah
tidak dapat diukur.

G. Komplikasi
Menurut WHO, 1999, komplikasi Dengue Haemorrhagic fever adalah:
1. Ensefalopati dengue dapat terjadi pada demam berdarah dengue dengan shock
atau tanpa shock.
2. Kejang halus terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini mungkin hanya
kejang demam sederhana, karena cairan cerebrospinal ditemukan normal.
3. Oedema paru dapat terjadi karena hidrasi yang berlebihan selama proses
penggantian cairan.
4. Pneumonia mungkin terjadi karena adanya komplikasi iatrogenik serta tirah
baring yang lama.
5. Sepsis gram negatif dapat terjadi karena penggunaan i.v line terkontaminasi.

H. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan
pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga
dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni :
- Trombositopenia (< 100.000 / mm3) , Hb dan PCV meningkat (> 20%)
leukopenia (mungkin normal atau leukositosis), isolasi virus, serologis (UPF
IKA, 1994).
- Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI
(Haemaglutination ingibition) (Who, 1998 ; 69), yang hasilnya adalah
 Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang
dari 1/20 dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium
rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya, titer antibodi HI
dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi
sampai lebih dari pada 1/2560.
 Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam
stadium rekonvalensi tidak naik lagi. (UPF IKA, 1994 ; 202)
- Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb, PCV berulangkali (setiap jam
atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis x-
foto dada, elektro kardio gram, kreatinin serum.
- Laboratorium:
Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%.
Secara singkat, pemeriksaan penunjang yang menunjukkan DHF :
a. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %
3) HT meningkat lebih 20 %
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5) Protein darah rendah
6) Ureum PH bisa meningkat
7) NA dan CL rendah
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)
I. Penatalaksaan DHF Pada Anak
Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF)
bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah, 12995 ; 344)
Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue
Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak memerlukan perawatan,
apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah
dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7
sakit ( Purnawan dkk, 1995 ; 571)
Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA, 1994 ;
203) yaitu:
- Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang)
atau kejang–kejang.
- Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet
positif/negatif, kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan Ht/PCV
meningkat.
- Panas disertai perdarahan- perdarahan.
- Panas disertai renjatan.

1. Belum atau tanpa renjatan:


Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat I dan II
Penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF
IKA, 1994 ; 203 – 206 adalah:
Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan
“surface cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan
asetaminofen,asetosal tidak boleh diberikan
 Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kali, 4 kali sehari
 Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 sehari
 Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari
 Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari.
a. Oral ada libitum atau
b. Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak
dengan BB < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB <
10 10 kg bersama – sama di berikan minuman oralit, air bauh susu
secukupnya
c. Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum
sebanyak – banyaknya dan sesering mungkin.
d. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan
infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita
dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg
 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg
 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg
 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg
Obat-obatan lain :
- antibiotika apabila ada infeksi sekunder lain
- antipiretik untuk anti panas
- darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.
2. Dengan renjatan:
Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat III
Penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF
IKA, 1994 ; 203 – 206 adalah.
a. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam
Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan
nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat)
lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi
stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung
berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi
cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi
waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan
cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut :
 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg
 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.
 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.
 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.
b. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam
keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat
lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau
plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg
BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun
waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL
sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah
masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
c. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 ml/Kg BB/
1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80
mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut
harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau
lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal
30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum
membaik dilanjutkan dengan cairan RL dengan perhitungan sebagai
berikut : kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah
masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
3. Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat IV
Penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF
IKA, 1994 ; 203 – 206 adalah.

a. Berikan cairan RL sebanyak 30 ml/Kg BB/1 jam, bila keadaan baik (T


> 80 mmHg dan nadi < 120 x/menit, akral hangat lanjutkan dengan RL
sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam. Jika keadaan umum tidak stabil infus
RL dilanjutkan sampai perhitungan sebagai berikut :
Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

b. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum


masih buruk. Tensi tak terukur dan nadi tak teraba maka klien harus
dipasang infus 2 tempat dengan maksud satu tempat untuk RL
10ml/Kg BB/1 jam dan tempat lain untuk pemberian plasma atau
plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1
jam selama 1 jam. Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian
RL dengan perhitungan sebagai berikut :
Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

c. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum


masih buruk. Tensi tak terukur secara palpasi dan nadi teraba cepat
lemah, akral dingin maka klien ini sebaiknya diberikan plasma atau
plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1
jam. Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian RL dengan
perhitungan sebagai berikut :
Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

d. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum


membaik tetapi tensi terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi > 120
x/menit akral hangat atau akral dingin maka klien ini sebaiknya
diberikan plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya)
sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam dan dapat diulangi maksimal sampai 30
ml/Kg BB/24 jam. Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian
RL dengan perhitungan sebagai berikut :
Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk
dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
e. Jika tata laksana grade IV setelah 2 jam sesudah plasma atau plasma
ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam dan
RL 10 ml/Kg BB/1 jam tidak menunjukkan perbaikan T = 0, N = 0
maka klien ini perlu dikonsultasikan ke bagian anestesi untuk
dievaluasi kebenaran cairan yang dibutuhkan apabila sudah sesuai
dengan yang masuk. Dalam hal ini perlu monitor dengan pemasangan
CVP, gunakan obat Dopamin, Kortikosteroid dan perbaiki kelainan
yang lain.

f. Jika tata laksana grade IV setelah 2 jam sesudah plasma atau plasma
ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam dan
RL 30 ml/Kg BB/1 jam belum menunjukkan perbaikan yang optimal
(T < 80, N > 120 x/menit), maka klien ini perlu diberikan lagi plasma
atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg
BB/1 jam. Jika reaksi perbaikan tidak tampak, maka klien ini perlu
dikonsultasikan ke bagian anestesi.

g. Jika tata laksana grade IV sesudah memperoleh plasma atau plasma


ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam dan
RL 30 ml/Kg BB/1 jam belum menunjukkan perbaikan yang optimal
(T > 80, N < 120 x/menit), akral dingin maka klien ini perlu diberikan
lagi plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak
10 ml/Kg BB/1 jam dan dapat diulangi maksimal sampai 30 ml/Kg
BB/24 jam. Jika reaksi perbaikan tidak tampak, maka klien ini perlu
dikonsultasikan ke bagian anestesi.
Untuk kasus – kasus yang sudah memperoleh cairan 60 mg/Kg BB/2 jam
pikirkan bahaya overload dan kemampuan kontraksi yang kurang. Dalam
hal ini klien perlu diberikan Lasix 1 mg/Kg BB/kali dan Dopamin.
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK DENGAN DHF

A. Pengkajian Fokus
1. Identitas pasien
Nama pasien Penanggung Jawab
Nama : Nama :
Umur : Umur :
Jenis Kelamin : Jenis Kelamin :
Agama : Agama :
Alamat : Alamat:
Pekerjaan : Pekerjaan :
Diagnosa Medis : Hubungan dengan pasien :
Sumber Biaya :

2. Keluhan utama
Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF datang ke rumah
sakit adalah panas tinggi dan pasien lemah.

3. Riwayat penyakit sekarang


Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai
menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Panas turun terjadi
antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai
keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau
konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan
pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada
kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis.

4. Riwayat penyakit yang pernah diderita


Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya
mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain.
5. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan
akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
6. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak
dengan status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual,
muntah,dan nafsu akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak
disertai pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami
penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
7. Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan
yang kurang bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang di
kamar).
8. Pola kebiasaan
 Nutrisi dan metabolisme : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, dan nafsu makan menurun.
 Eliminasi BAB: kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi.
Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
 Eliminasi BAK : perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau banyak,
sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
 Tidur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur karena
mengalami sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan
kuantitas tidur maupun istirahatnya kurang.
 Kebersihan : upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat
sarang nyamuk aedes aegypti.
 Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upa untuk
menjaga kesehatan.
9. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut
sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik anak
adalah :
a. Kesadaran : Apatis
b. Vital sign : TD : 110/70 mmHg00
c. Kepala : Bentuk mesochepal
d. Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata anemis
e. Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan
pendengaran
f. Hidung : ada perdarahan hidung / epsitaksis
g. Mulut : mukosa mulut kering, bibir kering, dehidrasi, ada perdarahan pada
rongga mulut, terjadi perdarahan gusi.
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada,
nyeri telan
i. Dada
 Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan
 Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
 Perkusi : Sonor
 Palpasi : taktil fremitus normal
j. Abdomen :
 Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati (hepatomegali)
 Auskultasi : bising usus 8x/menit
 Perkusi : tympani
 Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian atas
k. Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot, sendi
tulang
l. Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang kateter

10. Sistem integumen


Adanya peteki pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin
dan lembab.
Kuku sianosis atau tidak.
a. Kepala dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy),
mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada
gradeII,III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering,
terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan
mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingga (grade
II, III, IV).
b. Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang sesak. Pada fhoto thorax terdapat
adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan, (efusi pleura),
rales, ronchi, yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
c. Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali) dan asites.
Ekstremitas : akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
11. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan adanya infeksi dengue
adalah :
a. Uji rumple leed / tourniquet positif
b. Darah, akan ditemukan adanya trombositopenia, hemokonsentrasi,
masa perdarahan memanjang, hiponatremia, hipoproteinemia.
c. Air seni, mungkin ditemukan albuminuria ringan
d. Serologi
Dikenal beberapa jenis serologi yang biasa dipakai untuk menentukan
adanya infeksi virus dengue antara lain : uji IgG Elisa dan uji IgM
Elisa.
e. Identifikasi virus
Identifikasi virus dengan melakukan fluorescence anti body tehnique
test secara langsung atau tidak langsung dengan menggunakan
conjugate.
f. Radiology
Pada fhoto thorax selalu didapatkan efusi pleura terutama disebelah
hemi thorax kanan

B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan berpindahnya cairan intraseluler
ke ekstraseluler (kebocoran plasma dari endotel).
Ditandai dengan:
a. Hipotensi
b. Takikardi
c. Pengisian kapiler lambat
d. Berkeringat
e. Urin pekat atau menurun
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan cairan di rongga
paru (effusi pleura)
Ditandai dengan:
a. Perubahan kedalaman dan kecepatan pernafasan
b. Takipnea
c. Sianosis
d. Peningkatan kegelisahan, ketakutan dan laju metabolik
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai oksigen dalam
jaringan menurun
Ditandai dengan :
a. Penurunan nadi perifer, pengisian kapiler lambat atau menurun
b. Perubahan warna kulit
c. Edema jaringan ekstremitas dingin
4. Hipertermi berhubungan dengan veremia.
Ditandai dengan:
a. Peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari jangkauan normal
b. Kulit kemerahan, hangat waktu disentuh
c. Peningkatan tingkat pernafasan
d. Takikardi
5. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubunggan dengan proses patologis
(viremia) Ditandai dengan:
a. Keluhan nyeri
b. Perilaku yang bersifat hati-hati atau melindungi
c. Wajah menunjukkan nyeri
d. Gelisah
6. Intake nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia
Ditandai dengan:
a. Konjungtiva dan membran mukosa pucat
b. Menolak untuk makan
c. Penurunan berat badan
d. Turgor kulit buruk
C. INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil (NIC)
(NOC)

1 Devisit volume Setelah dilakukan NIC:


cairan tindakan Manajemen 1. Menetapkan data dasar
berhubungan keperawatan cairan pasien, untuk
dengan defisit volume 1. Kaji keadaan mengetahui dengan
berpindahnya cairan dapat umum pasien cepat penyimpangan
cairan terpenuhi (lemah pucat, dari keadaan normalnya
intraseluler ke NOC: tachicardi) serta
ekstraseluler Keseimbangan tanda-tanda vital. 2. Agar dapat segera
cairan dilakukan tindakan
Dengan kriteria 2. Observasi adanya untuk menangani syok
hasil : tanda-tanda syok. yang dialami pasien.
a. Menyatakan
pemahaman 3. Pemberian cairan IV
3. Berikan cairan
faktor sangat penting bagi
intravaskuler
penyebab dan pasien yang mengalami
sesuai program
perilaku yang, defisit volume cairan
dokter.
perlu untuk dengan keadaan umum
memperbaiki yang buruk karena
4. Anjurkan pasien
defisit cairan cairan langsung masuk
untuk banyak
b. Menunjukkan kedalam pembuluh
minum
perubahan darah.
keseimbangan
cairan, 5. Kaji tanda dan 4. Asupan cairan sangat
dibuktikan gejala dehidrasi diperlukan untuk
oleh haluaran atau hipovolemik menambah volume
urine adekuat, (riwayat muntah cairan tubuh.
tanda-tanda diare, kehausan
vital stabil, turgor jelek). 5. Untuk mengetahui
membran penyebab devisit
mukosa 6. Kaji perubahan volume cairan, jika
lembab, turgor haluaran urine dan haluaran urine < 25
kulit baik. monitor asupan ml/jam, maka pasien
c. Volume cairan haluaran mengalami syok.
cukup, input
cukup, output 6. Untuk mengetahui
tidak berlebih. keseimbangan cairan
dan tingkatan dehidrasi.
2 Pola nafas tidak Setelah dilakukan NIC:
efektif tindakan Manajemen jalan 1. Kecepatan biasanya
berhubungan keperawatan pola nafas meningkat, dispnea
dengan nafas menjadi 1. Kaji frekuensi dan terjadi
penumpukan efektif atau kedalaman peningkatan kerja
cairan dirongga normal 34x/menit pernafasan dan nafas.
paru (effusi NOC: ekspansi dada.
pleura) Status 2. Auskultasi bunyi 2. Ronchi menyertai
pernafasan nafas dan catat obstruksi jalan nafas
Dengan kriteria adanya bunyi nafas atau kegagalan
hasil : ronchi pernafasan.
Menunjukkan 3. Tinggikan kepala
pola nafas efektif dan bantu 3. Duduk tinggi
dan paru jelas dan mengubah posisi. memungkinkan
bersih. 4. Bantu pasien pengembangan paru
mengatasi takut dan memudahkan
atau ansietas. pernafasan diafragma,
5. Berikan oksigen pengubahan posisi
tambahan meningkatkan
pengisian udara
segmen paru.

4. Perasaan takut dan


ansietas berat
berhubungan dengan
ketidakmampuan
bernafas atau
terjadinya hipoksemia

5. Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
nafas.
3 Gangguan Setelah dilakukan NIC:
perfusi jaringan tindakan Manajemen 1. Tachicardia sebagai
berhubungan keperawatan perfusi jaringan akibat hipoksemia
dengan suplai suplai oksigen ke 1. Auskultasi kompensasi upaya
oksigin dalam jaringan adekuat. frekuensi dan peningkatan aliran
jaringan NOC: irama jantung darah dan perfusi
menurun. Perfusi jaringan cacat adanya bunyi jaringan, gangguan
Dengan kriteria jantung ekstra. irama berhubungan
hasil : dengan hipoksemia,
Menunjukkan 2. Observasi ketidakseimbangan
peningkatan perubahan status elektrolit. Adanya
perfusi secara metal bunyi jantung
individual tambahan terlihat
misalnya tidak 3. Observasi warna sebagai peningkatan
ada sianosis dan dan suhu kulit atau kerja jantung.
kulit hangat. membrane
mukosa. 2. Gelisah bingung
disorientasi dapat
4. Ukur haluaran menunjukkan
urine dan catat gangguan aliran darah
berat jeuis urine serta hipoksia.

5. Berikan cairan 3. Kulit pucat atau


intra vena atau sianosis, kuku
peroral sesuai membran bibir atau
indikasi. lidah dingin
menunjukkan
vasokonstriksi prifer
(syok) atau gangguan
aliran darah perifer.

4. Syok lanjut atau


penurunan curah
jantung menimbulkan
penurunan perfusi
ginjal dimanifestasi
oleh penurunan
haluaran urine dengan
berat jenis normal atau
meningkat

5. Peningkatan cairan
diperlukan untuk
menurunkan
hiperviskositas darah
(Potensial
pembentukan
trombosit) atau
mendukung volume
sirlukasi atau perfusi
jaringan.
4 Hipertemi Setelah dilakukan NIC:
berhubungan tindakan Perawatan deman a. Untuk
dengan keperawatan Pengaturan suhu mengidentifikasi pola
terjadinya temperatur suhu 1. Kaji saat demam pasien
veremia dalam batas timbulnya demam
normal (36°-37° b. Tanda-tanda vital
C). merupakan acuan
NOC: 2. Observasi tanda- untuk mengetahui
Termoregulasi tanda vital keadaan umum pasien.
Dengan kriteria
hasil : c. Peningkatan suhu
a. Klien tidak tubuh mengakibatkan
menunjukkan 3. Tingkatkan intake penguapan tubuh
kenaikan srihu cairan. meningkat sehingga
tubuh. perlu diimbangi
b. Suhu tubuh asupan cairan
dalam batas
normal (36°- d. Untuk mengetahui
37° C) ketidakseimbangancair
4. Catat asupan dan an tubuh
keluaran
e. Pemberian cairan
sangat penting bagi
5. Berikan terapi pasien dengan suhu
cairan intravena tinggi.
dan obat-obatan
sesuai program
dokter
5 Gangguan rasa Tujuan : Setelah NIC:
nyaman nyeri dilakukan Manajemen nyeri 1. Untuk mengetahui
berhubungan tindakan 1. Kaji tingkat nyeri berat nyeri yang
dengan proses keperawatan yang dialami dialami pasien
patologis nyeri pasien dengan
(viremia) berkurang/hilan. skala nyeri (0 - 2. Dengan mengetahui
NOC: 10), tetapkan tipe faktor-faktor tersebut
Kontrol nyeri nyeri yang maka perawat dapat
Dengan kriteria dialami pasien, melakukan intervensi
hasil: respon pasien yang sesuai dengan
a. Rasa nyaman terhadap nyeri. masalah klien.
pasien
terpenuhi 2. Kaji faktor-faktor 3. Untuk mengurangi
b. Nyeri yang rasa nyeri.
berkurang atau mempengaruhi
hilang reaksi pasien 4. Dengan melakukan
terhadap nyeri. aktivitas lain, pasien
dapat sedikit
3. Berikan posisi melupakan
yang nyata dan, perhatiannya terhadap
usahakan situasi nyeri yang dialami.
ruang yang
terang. 5. Tetap berhubungan
dengan orang-orang
4. Berikan suasana terdekat atau teman
gembira bagi membuat pasien
pasien, alihkan bahagia dan dapat
perhatian pasien mengalihkan,
dari rasa nyeri. perhatiannya terhadap
nyeri.
5. Berikan
kesempatan pada 6. Obat analgetik dapat
pasien untuk menekan atau
berkomunikasi mengurangi nyeri
dengan teman- pasien.
teman atau orang
terdekat.

6. Berikan obat
analgetik
(Kolaborasi
dengan dokter)
6 Intake nutrisi Setelah dilakukan NIC:
kurang dari, tindakan a. Untuk menetapkan
kebutuhan keperawatan 1. Kaji keluhan mual cara mengatasinya.
tubuh kebutuhan nutrisi dan muntah yang
berhubungan pasien terpenuhi. dialami oleh pasien b. Untuk menghindari
dengan mual, Dengan kriteria mual dan muntah
muntah , hasil : 2. Berikan makanan
anoreksia NOC: dalam porsi kecil c. Meningkatkan
Status nutrisi: dan frekuensi Pengetahuan
Asupan Nutrisi sering. pasien tentang
Pasien mampu nutrisi sehingga
menghabiskan 3. Jelaskan manfaat motivasi pasien
makanan sesuai nutrisi bagi pasien untuk makan
dengan porsi yang terutama saat meningkat.
dibutuhkan atau pasien sakit.
diberikan d. Membantu
4. Berikan makanan mengurangi
yang mudah kelelahan pasien
ditelan seperti dan meningkatkan
bubur dan asupan makanan.
dihidangkan saat
e. Untuk mengetahui
masih hangat.
pemenuhan nutrisi
5. Catat jumlah dan
pasien.
porsi makanan
yang dihabiskan
f. Untuk mengetahui
status gizi pasien
6. Ukur berat badan
pasien setiap hari.

BAB III

PENUTUP

A.   Simpulan
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan masuk
kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, terutama
menyerang anak remaja dan dewasa dengan gejala utama demam manifestasi
perdarahan, nyeri otot dan sendi dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang
menyebabkan kematian. Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus
merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya
melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah
perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut
berperan dalam penularan.
Kasus DHF di tandai oleh manifestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan
mendadak yang dapat mencapa 40 C atau lebih dan terkadang di sertai dengan
kejang demam, sakit kepala, anoreksia, muntah-muntah (vomiting), epigastric,
discomfort, nyeri perut kana atas atau seluruh bagian perut; dan perdarahan,
terutama perdarahan kulit,walaupun hanya berupa uji tuorniquet poistif.

B.   Saran
Diharapkan askep ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam
memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dan untuk para tim medis agar dapat meningkatkan pelayanan
kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan
kita untuk memberikan health education dalam perawatan anak mengenai DHF.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Putra. 2015. Asuhan Keperawatan Anak dengan DHF. Terdapat pada:

https://www.scribd.com/document/289914496/Asuhan-Keperawatan-Anak-
Dengan-Dhf (Diakses pada tanggal 8 Oktober 2017)
Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Intervention Classification. Yogyakarta:
Mocomedia

Devinkomarudin. 2014. Askep DHF pada Anak. Terdapat pada:

https://www.scribd.com/doc/246230312/Askep-Dhf-Pada-Anak (Diakses
pada tanggal 8 Oktober 2017)

Moorhead, Sue dkk. 2013. Nursing Outcome Classification. Yogyakarta:


Mocomedia

Ronisubiya. 2014. DHF. Terdapat pada:

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/110/jtptunimus-gdl-ronisubiya-5467-2-
babiik-r.pdf (Diakses pada tanggal 6 Oktober 2017)

Sari Fitriana, Irma. 2010. DHF pada Anak. Terdapat pada:

https://www.scribd.com/doc/43419675/DHF-Pada-Anak (Diakses pada tanggal


6 Oktober 2017)