Anda di halaman 1dari 2

Nayla pun tersentak saat sadar kakaknya sedang memperhatikan dirinya yang tengah memasang

tirai pembatas di tengah ruangan.


“Apa harus ada barang semacam ini di kamar kita?” Ujarnya dengan nada dingin, seperti biasa.
Nayla yang tentu saja menjadi biang keladi dari semua ini, cuma nyengir.
“Bagus kan. Siapa tau kakak terganggu dengan suara ngorokku, haha..” jawabnya terdengar
konyol. Devan hanya diam dan ia sama sekali tidak tertawa.
“Haha..” merasa ucapannya tidak didengar, nalya justru dengan konyol mengeraskan suara
tawanya. Dan celakanya saat ia tertawa ia malah terjungkal ke belakang kursi yang ia naiki.
“Uwaaaa!!!” Nayla yang terkejut tidak mampu menguasai tubuhnya, hingga saat tubuhnya nyaris
terjerembab ke belakang,
Hap!
Devon dengan sigap tau tau sudah menangkap tubuhnya dari belakang. Keduanya spontan saling
menatap. Antara sadar dan tidak Nayla hanya bisa memandang wajah tampan kakaknya.
“Kau..” ucap Devon tertahan. Kedua mata Nayla masih tidak berkedip. “Benar benar ceroboh.”
Ucap Deva akhirnya sambil melepaskan tubuh Nayla.
Dan ditengah kekakuan itu Nayla mendapati Devon keluar begitu saja dari dalam kamar. Gadis itu
pun menelan air liurnya dalam dalam. Berharap dugaannya salah.

Hari ini genap seminggu Nayla tidur dalam satu kamar dengan Devan. Anehnya diantara mereka
yang kesulitan tidur sepertinya hanya dirinya. Sejak berpindah kamar, Nayla mendadak menjadi
pengidap insomnia.
“Nayla kesini cepetan!” Santi yang tidak tau muncul dari mana tau tau berdiri di sampingnya Nayla
dan menarik tangan gadis itu keluar dari dalam kelas.
“Dih, apaan sih?” Nayla yang terkejut menatap temannya tidak mengerti.
Begitu keluar kelas, rupanya ia mendapati perempuan lain sedang menyatakan perasaannya pada
kakaknya.
“Ya ampun, ada lagi?” Teriaknya gadis itu seakan berbicara dengan dirinya sendiri. Dan dia hanya
bisa menatap kakaknya dari kejauhan.

“Kakak kamu laku bener ya.” Sahut Santi kurang ajar. Agak kesal Nayla menatap sahabatnya.
Tidak terima kakaknya didekati wanita lain. Apalagi dengan tampilan semenarik itu, Nayla tanpa
permisi segera meninggalkan kawannya tadi dan langsung mendekati TKP, tempat cewek yang
dilihatnya tadi menyatakan cinta pada kakaknya.
Dan begitu ia sampai di dekat keduanya, Nayla pun akhirnya mendengar penjelasan yang selama
ini ditunggu tunggunya dari sang kakak.
“Ya. Aku memang menyukai orang lain. Jadi maaf aku enggak bisa Nerima kamu.” Jawaban
kakaknya entah kenapa membuat perasaan Nayla lega. Tapi siapa gadis lain yang disukai
kakaknya?
“Kalau begitu beritahu aku siapa perempuan itu?”
“Mana boleh?” Jawab kakaknya sambil tersenyum. “Sudahlah. Kita temenan aja ya.” Pinta
kakaknya kemudian. Tapi perempuan gila itu sepertinya masih belum menerima dirinya ditolak.
“Enggak mau, sebelum kamu kasih tau siapa perempuan itu. Aku enggak bakalan menyerah buat
dapetin kamu.”
Ya Tuhan, batin Nayla sambil menggeleng gelengan kepalanya. Nih cewek bener bener nekat!
“Oke aku kasih tau. Tapi setelah ini kamu harus berhenti ngejar aku. Oke?”
“Oke.” Sahut gadis itu cepat. Dan anehnya, entah kenapa kakaknya bisa tidak tertarik pada gadis
senekat dan secantik ini.
“Kami berteman sejak kecil dan dia orang yang sangat istimewa buatku. Dia satu satunya orang
yang menghiburku saat aku kehilangan ibu kandungku. Dan aku senang setiap kali dekat
dengannya. Jadi aku harap kamu bisa menerima itu. Maaf ya.”
Ucapan Devan rupanya tidak hanya membuat patah hati cewek nekat tadi, tapi juga nayla yang
diam diam menguping dibalik tembok kelas.

Begitu mendengar penjelasan kakaknya di sekolah tadi, Nayla mendadak jadi wanita bisu.
Sepanjang hari ia hanya diam dan tidak berbicara sama sekali. Bahkan saat paman bibinya
memberinya oleh oleh coklat mahal, Nayla malah tersenyum sebelum akhirnya menangis di dalam
kamarnya.
Entah bagaimana tapi rasanya ia seperti orang telah dikhianati oleh kekasihnya. Nayla bahkan
tidak tau kalau selama ini kakaknya ternyata dekat dengan perempuan lain tanpa
sepengetahuannya. Perempuan idamannya itu bahkan telah berhasil mengobati luka masa lalu
Devan saat Devan kehilangan ibu kandungnya.
Kali ini nayla benar benar merasa kalah.
“Heh!” Devan tiba-tiba datang dari luar kamar sambil menimpuk kepala Nayla dengan boneka
naga Segede gaban. Nayla yang sedang tidak ingin berurusan dengannya memilih menjauhi
daerah teritorial kakaknya. Ia langsung berjalan menuju tempat tidurnya sendiri dan mengurung
diri.
Karena merasa aneh, Devan pun tau tau mendekati tempat tidur Nayla dan duduk di samping
tempat tidurnya.
“Kau salah makan atau kenapa sih?” Pertanyaan kakaknya yang selalu dingin dan tidak
berperasaan justru semakin membuat Nayla ingin menangis.
Meski hatinya sakit, karena laki laki yang disukainya menyukai orang lain, tapi tetap saja Nayla
ternyata masih sangat menyukai suara itu.

Beri Nilai