Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DAFTAR ISI....................................................................................................17

SATUAN ACARA PENYULUHAN

I. Latar Belakang................................................................................18
II. Tujuan Instruksional Umum...........................................................19
III. Tujuan Instruksional Khusus..........................................................19
IV. Materi..............................................................................................19
V. Metode............................................................................................19
VI. Media..............................................................................................19
VII. Kegiatan Penyuluhan......................................................................19
VIII. Kriteria Evaluasi.............................................................................21

REFERENSI SAP ...........................................................................................23

MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian Fraktur ................................................................................24


B. Penyebab Fraktur ..................................................................................24
C. Tanda dan Gejala Fraktur .....................................................................25
D. Stadium penyembuhan Fraktur .............................................................25
E. Penatalaksanaan Fraktur ...........................................................................

DAFTAR RUJUKAN......................................................................................27
SATUAN ACARA PENYULUHAN

FAKTUR FEMUR ()

Topik : Fraktur Femur

Penyuluh : Kelompok 1

Sasaran : Pasien dan keluarga pasien

Tempat : IRNA II Ruang 17 Rumah Sakit dr. Saiful Anwar, Kota Malang

Hari/Tanggal : Jumat/ 6 September 2019

Pukul : 10.00-10.20 WIB

Latar Belakang

I. Latar Belakang
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik
berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45
tahun dan sering berhubungan dengan olah-raga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan
oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering
mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden
osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada monopouse.
Fraktur merupakan salah satu cedera yang paling sering terjadi di Indonesia,
disebabkan karena kecelakaan lalulintas atau jatuh dari ketinggian, yang paling banyak
menyumbang terjadinya fraktur adalah  kecelakaan lalulintas. Kecelakaan lalulintas
merupakan pembunuh nomer 3 di Indonesia, hal ini dapat dibuktikan dari data Menurut
National Consultant for Injury dari WHO  Indonesia ( dikutip dari data kepolisian RI)
terdapat kecelakaan selama tahun  2007  memakan korban sekitar 16.000 jiwa dan di
tahun 2010 meningkat menjadi 31.234 jiwa di Indonesia. Dampak fraktur yang akan
ditimbulkan  selain kematian karna kecelakaan dapat juga menimbulkan dampak  lain
yaitu terjadinya trauma kepala, dan kecacatan.  Tingginya angka kecelakaan
menyebabkan angka kejadian atau fraktur tinggi, dan salah satu fraktur yang paling
sering adalah fraktur femur, yang termasuk dalam kelompok tiga besar kasus fraktur
yang disebabkan karena benturan dengan tenaga yang tinggi( kuat) seperti kecelakaan
sepada motor atau mobil (Oktavia, 2010).
Menurut Jitowiyono (2010) fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang
femur yang bisa terjadi akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.
Penatalaksanaan fraktur femur ini adalah reduksi fraktur yakni mengembalikan
fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi femur terbagi menjadi
reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka. Tindakan imobilisasi dilakukan setelah
reduksi dengan tujuan mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan.
Rehabilitasi dimaksudkan untuk mempertahankan dan mengembalikan fungsi setelah
dilakukan reduksi dan imobilisasi.

II. Tujuan
II.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan, sasaran ,mampu memahami tentang materi yang
disampaikan yaitu mengenai apa itu fraktur, penybab fraktur, perawatan fraktur dan
lainnya.

II.2 Tujuan Khusus


setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit sasaran diharapkan mampu :
1. Menyebutkan pengertian fraktur
2. Menyebutkan penyebab fraktur
3. Menyebutkan tanda dan gejala fraktur
4. Menyebutkan cara perawatan fraktur
5. Menyebutkan tujuan perawatan fraktur

II.3 Manfaat
Pasien dan keluarga pasien mampu mengetahui tentang asuhan keperawatan Fraktur
Femur sehingga perawat akan lebih peka dan teliti dalam mengumpulkan data
pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap penyakit, sehingga
Fraktur Femur tidak semakin berat.
I. Kegiatan Penyuluhan

No Fase Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Waktu Metode Medi


. Peserta a

1. Persiapan Menyiapkan Satuan -


Acara Penyuluhan & - menit - -
bahan untuk leaflet

2. Pembukaa Membuka kegiatan Mendengarkan 1/2 Tanya


n dengan mengucapkan dan menjawab menit jawab
salam. salam -

Memperkenalkan diri Mendengarkan 1/2 Cerama


menit h -

Menjelaskan tujuan dari Memperhatikan 1/2 Cerama


penyuluhan menit h -

Menyebutkan materi Memperhatikan 1/2 Cerama


yang akan diberikan. menit h -

Menggali pengetahuan Memperhatikan 1/2 Tanya


pasien dan keluarga dan menjawab menit jawab -
pasien mengenai luka pertanyaan dari
kaki diabetes pemateri.

3. Inti Menjelaskan tentang: Memperhatikan 5 Cerama PPT


1. Pengertian Fraktu menit h
2. Penyebab Fraktur
3. Tanda dan Gejala
Terjadinya
Fraktur
4. Stadium
Penyembuhan
Fraktur
5. Penatalaksanaan
Fraktur
Memberikan leaflet
mengenai Fraktur

Memberi kesempatan Mengajukan 5 Tanya


kepada pasien dan pertanyaan menit jawab
keluarga pasien untuk kepada dan
mengajukan pertanyaan pemateri diskusi
kemudian pemateri
menjawab pertanyaan.

4. Penutup Menanyakan kepada Mendengarkan 5 Tanya


peserta tentang materi dan menjawab menit jawab
yang telah diberikan, pertanyaan.
dan reinforcement PPT
kepada pasien dan
keluarga pasien yang
dapat menjawab
pertanyaan.

Mengakhiri pertemuan Mendengarkan 2


& mengucapkan dan menjawab menit
terimakasih atas - -
partisipasi pasien dan
keluarga pasien.

Mengucapkan salam Menjawab 1/2 Tanya


penutup. salam menit jawab -
II. Organisasi
1. Moderator :
2. Notulen :
3. Penyaji :
4. Observer :
5. Fasilitator :

III. Uraian Tugas


1. Moderator : Mengatur jalannya diskusi atau penyuluhan
2. Notulen : Mencatat hasil diskusi
3. Penyaji : Menyajikan materi
4. Observer : Mengobservasi jalannya penyuluhan tentang ketepatan waktu, dan ketepatan
masing-masing peran.
5. Fasilitator : Mendampingi peserta penyuluhan

IV. Metode
1. Diskusi dan tanya jawab
2. Ceramah

V. Media
1. Leaflet
2. Power point (PPT)

VI. Evaluasi
- Metode evaluasi : Tanya Jawab
- Jenis Evaluasi : Tanya Jawab secara lisan
- Jumlah soal : 3 soal
a. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Proses
 Peserta penyuluhan mengikuti penyuluhan dengan tenang dan fokus.
 Pemateri menyampaikan materi penyuluhan secara jelas dan komunikatif.
 Media leaflet membantu pasien dan keluarga memahami pesan yang
disampaikan.
 Pemateri memberikan kesempatan pada pasien dan keluarga pasien untuk
bertanya.
 Pemateri dapat menjawab pertanyaan secara jelas dan dapat dimengerti oleh
komunikan.

b. Evaluasi Hasil
 Peserta penyuluhan dapat memahami materi yang disampaikan oleh pemateri.
 Peserta penyuluhan dapat menyebutkan gejala-gejala yang timbul dan cara
pencegahannya dengan tepat.
 Pemateri dapat menyampaikan materi secara komunikatif dan jelas dari awal
hingga akhir dengan baik.
 Media leaflet yang digunakan dapat membantu pasien beserta keluarga
menambah pengetahuan.
VII. Lampiran Materi

1. Pengertian Fraktur

Fraktur adalah rusaknya kontinuitas dari struktur tulang, tulang rawan dan lempeng
pertumbuhan yang disebabkan oleh trauma dan non trauma. Tidak hanya keretakan atau
terpisahnya korteks, kejadian fraktur lebih sering mengakibatkan kerusakan yang komplit
dan fragmen tulang terpisah. Tulang relatif rapuh, namun memiliki kekuatan dan
kelenturan untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh cedera, stres yang
berulang, kelemahan tulang yang abnormal atau disebut juga fraktur patologis (Solomon et
al., 2010).

Fraktur adalah terputusnya tulang dan ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya
(Brunner & Suddarth, 2001 dalam Wijaya & Putri, 2013 : 235). Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa (Mansjoer, 2000 dalam Jitowiyono & Kristiyanasari, 2012 : 15). Fraktur
didefinisikan sebagai suatu kerusakan morfologi pada kontinuitas tulang atau bagian
tulang, seperti lempeng epifisisatau kartilago (Chang, 2010 : 371).

2. Klasifikasi Fraktur
Berdasarakan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
a. Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi
b. Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
Fraktur sangat bervariasi dari segi klinis, namun untuk alasan praktis, fraktur dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu :
a. Complete fractures
Tulang terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Patahan fraktur yang dilihat secara
radiologi dapat membantu untuk memprediksi tindakan yang harus dilakukan setelah
melakukan reduksi. Pada fraktur transversal (gambar 1a), fragmen tetap pada
tempatnya setelah reduksi, sedangkan pada oblik atau spiral (gambar 1c) lebih
cenderung memendek dan terjadi pergeseran meskipun tulang telah dibidai. Fraktur
segmental (gambar 1b) membagi tulang menjadi 3 bagian. Pada fraktur impaksi
fragmen menumpuk saling tumpang tindih dan garis fraktur tidak jelas. Pada raktur
kominutif terdapat lebih dari dua fragmen, karena kurang menyatunya permukaan
fraktur yang membuat tidak stabil (Solomon et al., 2010).

b. Incomplete fractures
Pada fraktur ini, tulang tidak terbagi seutuhnya dan terdapat kontinuitas periosteum.
Pada fraktur buckle, bagian yang mengalami fraktur hampir tidak terlihat (gambar
1d). Pada fraktur greenstick (gambar 1e dan 1f), tulang melengkung atau bengkok
seperti ranting yang retak. Hal ini dapat terlihat pada anak‒anak, yang tulangnya
lebih elastis daripada orang dewasa. Pada fraktur kompresi terlihat tulang spongiosa
tertekan kedalam (Solomon et al., 2010).
3. Etiologi

1. Trauma langsung/ direct trauma


Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda
paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).
2. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma
Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi
fraktur pada pegelangan tangan.
3. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiri
rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini disebut dengan
fraktur patologis.
4. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa
pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan
penarikan.

4. Tanda dan Gejala

Menurut Mansjoer, Arif (2014) tanda dan gejala fraktur sebagai berikut :

- Deformitas (perubahan struktur dan bentuk) disebabkan oleh ketergantungan fungsional


otot pada kestabilan otot.
- Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah, berasal dari
proses vasodilatasi, eksudasi plasma dan adanya peningkatan leukosit pada jaringan di
sekitar tulang.
- Spasme otot karena tingkat kecacatan, kekuatan otot yang sering disebabkan karena
tulang menekan otot.
- Nyeri karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat karena
penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur.
- Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf, dimana saraf ini
dapat terjepit atau terputus oleh fragmen tulang.
- Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidajstabilan tulang, nyeri, atau
spasme otot.
- Pergerakan abnormal
- Krepitasi sering terjadi karena pergerakan bagian fraktur sehingga menyebabkan
kerusakan jaringan sekitarnya.

5. Stadium Penyembuhan Fraktur

Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang
tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru
diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada
lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:

1. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma

Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah
membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya
kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan
berhenti sama sekali. 

2. Stadium Dua-Proliferasi Seluler      


Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang
berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma.
Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam
dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam
beberapa hari terbentuklah tulang baru yg menggabungkan kedua fragmen tulang
yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai,
tergantung frakturnya.  

3. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus


Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila
diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga
kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai
berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan
tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan
endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi
lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah
fraktur menyatu. 
  
4. Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi
lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan  osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi
celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa
beban yang normal. 

5. Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan
pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada
tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga
sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.
Gambar 9.Fase Penyembuhan Tulang
6. Penatalaksanaan Medis

Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :


1.      Untuk menghilangkan rasa nyeri.
Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka
jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat
diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak
menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara
pemasangan bidai atau gips.
  Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

  Pemasangan gips
Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Gips yang ideal
adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan
pemasangan gips adalah :
o   Immobilisasi dan penyangga fraktur
o   Istirahatkan dan stabilisasi
o   Koreksi deformitas
o   Mengurangi aktifitas
o   Membuat cetakan tubuh orthotik
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :
o   Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
o   Gips patah tidak bisa digunakan
o   Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
o   Jangan merusak / menekan gips
o   Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
o   Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama

           2.      Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.


Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu
diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi
eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
a.       Penarikan (traksi) :
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas
pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan
sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan traksi antara lain :
  Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan emergency
  Traksi mekanik, ada 2 macam :
o   Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan
dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
o   Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction.
Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui
tulang / jaringan metal.
Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
  Mengurangi nyeri akibat spasme otot
  Memperbaiki & mencegah deformitas
  Immobilisasi
  Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
  Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi :
  Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
  Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar
reduksi dapat dipertahankan
  Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
  Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
  Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai

b.      Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada


pecahan-pecahan tulang.
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin
adalah pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi
terbuka. Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan
diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur.
Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka.
Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal
kembali. Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-
alat ortopedik berupa pen, sekrup, pelat, dan paku.
Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :
  Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
  Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada didekatnya
  Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
  Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lain
  Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-kasus
yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan
fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan
FIKSASI INTERNA
Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang
cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi
fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika
hasil pemeriksaan radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami
interposisi di antara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.
Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal
serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dápat dimobilisasi cukup cepat
untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian
meliput anestesi, trauma bedah tambahan dan risiko infeksi.
Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal,
tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted
fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang
dan rotasi.
    FIKSASI EKSTERNA
Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus terlihat pada
pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat
dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi
yang rigid juga cocok untuk tindakan ini.
3.  Agar terjadi penyatuan tulang kembali
Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan
menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat
gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.
4. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi.
Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.