Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

KONSEP TENTANG USAHA KECIL MENENGAH


disusunguna memenuhiTugas Mata KuliahPengantarBisnis

Dosen Pembimbing:DR. MUSLICHAH ERMA WIDIANA,MM

DISUSUN OLEH :

GilangRadityaArkananta(1912111109)
HemasKinanthiMaulidya(1912111026)
Nanda Angelia Safhira(1912111041)
Farah RamadhantiPutri(1912111053)
MochammadFirmansyah (1912111115)
DindaMahawarni(1912111052)
ChoirulMudzakir(1912111047)
Syafirur Rizal(1912111067)
Mukjizet(1912111016)

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BHAYANGKARA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Dengan rahmat Allah yang maha kuasa atas segala rahmat, hidayah, dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan dan penulisan makalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Bisnis. Dalam penyususnan makalah ini
kami menemukan hambatan dan kesulitan dalam mengerjakan, tetapi karena
motivasi dan dorongan dari berbagai pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan.

Kami berharap semoga makalah ini dapat memenuhi syarat untuk


memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Bisnis dan jugadapat bermanfaat bagi
semua pihak yang membacanya.

Akhir kata, kami memohon maaf apabila ada kesalahan yang terdapat dalam
makalah ini. Kami berharap semogamakalah ini dapat memberikan banyak
manfaat bagi pembacanya. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Kondisi Bisnis Secara Global ........................... ....................... .......1
1.2 Kondisi Bisnis di Indonesia ..............................................................1
1.3 Kondisi Bisnis Kopi di Indonesia .....................................................1
1.4 Kondisi Bisnis Kopi di UKM Coffecups..........................................1
1.5 Permasalahan ....................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori .................................................................................................2
2.2 Empirik .............................................................................................2
BAB III METODOLOGI
3.1 Lokasi ...................................................................................................1
3.2 Metode Pengumpulan Data ..................................................................1
3.3 Analisis Data ........................................................................................1
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Sejarah Berdirinya Usaha ................................................................5
4.2. SWOT ...............................................................................................5
4.3. Analisis Lingkungan ........................................................................6
4.4. Bentuk Usaha ...................................................................................6
4.5. Fungsi Manajemen ..........................................................................6
4.6. Fungsi Oprasional Manajemen .........................................................6
4.7. Permasalahan UKM..........................................................................7
4.8. Solusi ........................................................................................
4.9. Dokumentasi .............................................................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .......................................................................................8
5.2 Saran .................................................................................................8

Daftar pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Kondisi Bisnis Secara Global


Kondisi bisnis secara global sebagian besar menggunakan sistem digital
dan dunia digital dibangun dengan sistem serba komputer yang terhubung
dengan berbagai jaringan diseluruh dunia melalui internet. Saat ini ekonomi
digital telah dimulai, ditandai dengan bertumbuhnya pemakai internet diseluruh
dunia. Pemakaian internet yang semakin berkembang diseluruh dunia kini telah
mulai merubah sistem ekonomi yang sudah biasa berjalan (sistem tradisional)
kearah sistem ekonomi dengan menggunakan komunikasi digital yang bersifat
virtual. Kini sistem-sistem bisnis seperti pemasaran, penjualan, sistem
transaksi, dan lainnya telah menggunakan media internet (online).

Para pelaku bisnis yang mengabaikan perubahan ini lambat laun


akanditinggalkan oleh konsumen, sebab konsumen yang telah terbiasa
menggunakan sistem online akan mencari barang yang mereka dibutuhkan
dengan melalui toko online atau website yang menjual produk secara online,
tentunya pembayarannya pun dilakukan secara online. Hal ini sangat disukai
oleh konsumen karena mereka dapat bebas membeli kebutuhan mereka dan
bertransaksi dimana saja mereka berada, tidak harus mendatangi toko atau
tempat produk yang mereka butuhkan.

1.2 Kondisi Bisnis di Indonesia

Indonesia tidak merupakan Negara yang paling mudah untuk mendirikan


perusahaan baru atau untuk berperan aktif di bidang bisnis. Keadaan tersebut
tercemin dalam laporan peringkat indeks doing business 2018 yang diterbitkan
bank dunia. Dalam laporan tersebut, Indonesia pada saat ini berada di posisi
72. Salah satu masalah yang paling besar dalam pendirian perusahaan baru
diIndonesia yaitu mendapatkan semua izin yang diperlukan. Proses perizinan
bisa memakan waktu lama dan berbiaya mahal.
1.3 Kondisi Bisnis Kopi di Indonesia

Indonesia merupakan produsen kopi urutan keempat dunia, setelah


Brazil, Vietnam dan kolombia; sebagai konsumen berada dalam urutan ketujuh
(ICO, 2017). Sementara itu sebagai produk perkebunan Indonesia kopi berada
di urutan ke enam setelah kelapa sawit, karet, gula, teh, dan kakao.

Cikal bakal dari tumbuhnya usaha kopi di Indonesia berawal dariUKM,


hampir semua usaha besar berawal dari UKM,dan harus terus ditingkatkan
serta aktifagar tetap maju dan bersaing dengan perusahaan besar. Jika UKM
tidak ada di Indonesia, Indonesia tidak maju dan berkembang, berkembangnya
UKM di Indonesia dipacu oleh langkah-langkah yang semata-mata tidak
merupakan langkah yang harus diambil oleh pemerintah dan merupakan
tanggung jawab dari pemerintah itu sendiri.

1.4 Kondisi Bisnis UKM Coffee Cups

UKM Coffee Cups merupakan usaha perseorangan yang dikelola untuk


memperoleh laba atau keuntungan. UKM ini berdiri sejak tahun 2017, Secara
umum untuk pojok kopi biasanya diperlukan alat penyeduhan manual secara
lengkapHal ini memberikan hiburan sekaligus edukasi kepada pengunjung
bagaimana cara menyeduh kopi yang baik dan spesifik serta menghasilkan cita
rasa khas yang menarik bagi penikmat dan pengunjung pojok kopi. Cita rasa
Coffeecups tetap sama hingga sekarang.

1.5 Permasalahan
1. Bagaimana sejarah berdirinya usaha CoffeeCups?
2. Sebutkan dan jelaskan analisis swot dalam usaha tersebut ?
3. Jelaskan analisislingkungan ukm tersebut?
4. Usaha apa yang dijalankan dan bagaimana bentuk usaha tersebut?
5. Jelaskan fungsi manajemen yang ada dalam ukm tersebut?
6. Jelaskan fungsi operasional manajemen yang ada di ukm tersebut?
7. Apakah permasalahan yang dihadapi oleh UKM Coffecups dan bagaimana
cara mengatasinya?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
A. Pengertian Usaha Kecil

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,


yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha, yang bukan
merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai. Kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut :

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus


juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.2.500.000.000 (dua milyar lima
ratus juta rupiah).

B. Pengertian Usaha Menengah

Dalam Undang-Undang tersebut dalam Bab IV pasal 6 menyebutkan


bahwa kriteria usaha menengah sebagai berikut:

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000 (dua milyar


lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.50.000.000.000 (lima
puluh milyar rupiah).

C. Ragam Pengertian UKM


Selain pengertian-pengertian diatas, juga terdapat pengertian secara
umum mengenai Usaha Kecil Menengah yang dikeluarkan oleh berbagai
lembaga sebagai berikut :

1. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 Pengertian Usaha Kecil


Menengah: Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha
yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi
untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Pengertian Usaha Kecil Menengah:


Berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang
memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkanusaha menengah
merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang.

D. Jenis dan Bentuk Usaha Kecil Menengah (UKM)

Jenis dan bentuk dari Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak selalu sama
di setiap negara, pada umumnya selalu bervariasi tergantung pada konsep yang
digunakan negara tersebut. Dalam setiap definisi sedikitnya memiliki dua
aspek yang sama, yaitu aspek penyerapan tenaga kerja dan aspek
pengelompokan perusahaan ditinjau dari jumlah tenaga kerja yang diserap
dalam gugusan atau kelompok perusahaan tersebut misalnya menurut
pembagiannya Partomo dan Rachman, (2016) :

Tabel 2.1
Kriteria Usaha Ditinjau Dari Jumlah Pekerja
JENIS USAHA SKALA USAHA JUMLAHPEKERJA
Usaha Kecil Kecil I – kecil 1 – 9 pekerja
Kecil II – kecil 10 – 19 pekerja
Usaha Menengah Besar – Kecil 100 – 199 pekerja
Kecil – Menengah 200 – 499 pekerja
Menengah – Menengah 500 – 499 pekerja
Besar – Menengah 1000 – 1999 pekerja
Usaha Besar >2000 Pekerja >2000 Pekerja
Sumber : Partomo dan Rachman (2016:1)
Kegiatan perusahaan pada prinsipnya dapat dikelompokan dalam tiga
jenis usaha yaitu:

1. Perdagangan/distribusi Jenis usaha ini merupakan usaha yang terutama


bergerak dalam kegiatan memindahkan barang dari produsen ke konsumen
atau dari tempat yang mempunyai kelebihan persediaan ke tempat yang
membutuhkan.

2. Produksi/industri Usaha produksi/industri adalah jenis usaha yang terutama


bergerak dalam kegiatan proses pengubahan suatu bahan/barang menjadi
bahan/barang lain yang berbeda bentuk atau sifatnya dan mempunyai nilai
tambah.

3.Komersial Usaha jasa komersial merupakan usaha yangbergerak dalam


kegiatan pelayanan atau menjual jasa sebagai kegiatan utamanya.

E. Keunggulan dan Kelemahan Usaha Kecil dan Menengah

(UKM)

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Usaha Kecil dan Menengah


(UKM) dibandingkan dengan usaha besar Partomo dan Rachman, (2016)
antara lain:

1.Inovasi dalam teknologi yang dengan mudah terjadi dalam


pengembanganproduk.

2. Hubungan kemanusiaan yang akrab di dalam perusahaan kecil.

3. Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi pasar yang


berubah dengan cepat dibandingkan dengan perusahaan berskala besar.

4. Terdapat dinamisme manajerial dan peranan kewirausahaan.

Kelemahan yang dimiliki Usaha Kecil dan Menengah


(UKM)Tambunan, (2018) adalah:
1. Kesulitan pemasaran Salah satu aspek yang terkait dengan masalah
pemasaran yang umum dihadapi oleh pengusaha UKM adalah tekanan-tekanan
persaingan, baik di pasar domestik dari produk-produk yang serupa buatan
pengusaha-pengusaha besar dan impor, maupun di pasar ekspor.

2. Keterbatasan finansial UKM di Indonesia menghadapi dua masalah utama


dalam aspek finansial antara lain: modal (baik modal awal maupun modal
kerja) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan
untuk pertumbuhan output jangka panjang.

3. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Keterbatasan SDM dalam


aspek-aspek kewirausahaan, manajemen, teknik produksi, pengembangan
produk, control kualitas, akuntansi, mesin-mesin, organisasi, pemprosesan
data, teknik pemasaran, dan penelitian pasar.

4. Masalah bahan baku Selama masa krisis, banyak sentra-sentra Usaha Kecil
dan Menengah seperti sepatu dan produk-produk textile mengalami kesulitan
mendapatkan bahan baku atau input lain karena harganya dalam rupiah
menjadi sangat mahal akibat depresiasi nilai tukar terhadap dolar AS.

5. Keterbatasan teknologi Berbeda dengan Negara-negara maju, UKM di


Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi tradisonal dalam bentuk
mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual.

2.2 Landasan Empirik


a.Budaya kopi
Budaya minum kopi di Indonesia tumbuh sebagai kebiasaan yang
dilakukan sejak jaman Belanda. Belanda menanam kopi secara besar-besaran
melalui program tanam paksa. Menurut Prastowo (2016) kopi di Indonesia
pertama kali dibawa oleh pria berkebangsaan Belanda sekitar tahun 1646
yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arab. Belanda mulai mendirikan
perkebunan kopi pertama di daerah Priangan Jawa Barat. Selanjutnya,
pengembangan kopi mulai dilakukan juga hampir di seluruh Pulau Jawa dan
wilayah lainnya, seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Timor.
Seiring dengan perkembangan itu, masyarakat Indonesia menjadi gemar
minum kopi.
Industri kopi di Indonesia masa lampau mengalami pasang surut.
Setelah “kejayaan tanam paksa”, kejatuhan industri kopi dimulai ketika
serangan penyakit karat daun yang melanda pada tahun 1878. Jawa Barat
merupakan wilayah terparah akibat serangan hama penyakit tersebut. Wabah
ini membunuh nyaris semua tanaman kopi arabika yang tumbuh di dataran
rendah.

Sedikit yang tersisa dari kejayaan perkebunan kopi Indonesia, adalah


kopi arabika yang masih tersisa di wilayah Jawa Barat, antara lain di
perkebunan Gunung Malabar-Pangalengan Kabupaten Bandung. Secara
geografis wilayah tersebut memiliki ketinggian 1.400–1.800 meter di atas
permukaan laut (m dpl), suhu udara 15-21oC, serta curah hujan 2.000
mm/tahun. Kondisi tersebut merupakan lahan dan iklim yang sangat cocok
untuk produktivitas Kopi Arabika.

Panggabean dalam Setjen Kementan (2016) menjelaskan setelah timbul


serangan penyakit karat daun, Pemerintah Hindia Belanda segera
mendatangkan kopi jenis robusta pada tahun 1900. Kopi jenis ini diketahui
lebih tahan terhadap penyakit dan memerlukan syarat tumbuh serta
pemeliharaan yang lebih ringan, namun hasil produksinya jauh lebih tinggi
dibandingkan kopi arabika. Kopi robusta dapat ditumbuhkan dengan
ketinggian hanya 800 meter di atas permukaan laut. Hal inilah yang
menyebabkan kopi robusta lebih cepat berkembang hingga mencapai lebih dari
80% dari luas areal pertanaman kopi di Indonesia.

(Purnama, I.B.O., N. Parining, I.D.G.R. Sarjana. 2012. Sistem


Pemasaran Kopi Bubuk Sari Buana pada UD. Mega Jaya. E-Journal Agribisnis
dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 1, No. 1. )
b. Pengertian Kopi

Kopi merupakan salah satu komoditas dunia yang membawa nama


Indonesia, khususnya Jawa. Dalam perkopian dunia, secangkir kopi
diistilahkan sebagai a cup of java. Indonesia (khususnya Jawa) sejak Jaman
Belanda dikenal sebagai produsen kopi dengan cita rasa terbaik di dunia.

Saat ini, Indonesia merupakan produsen dan juga sekaligus konsumen


penting komoditas kopi. Sebagai produsen, Indonesia menempati urutan
keempat setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia, dan sebagai konsumen berada
dalam urutan ketujuh (International Coffee Organization (ICO), 2017). Bagi
masyarakat Indonesia pada umumnya, minum kopi telah menjadi bagian dari
kehidupan sehari-hari terutama bagi orang-orang tua dan sekarang juga anak-
anak muda dan remaja.

Kopi sebagai produk perkebunan di Indonesia juga cukup penting,


menempati urutan keenam setelah kelapa sawit, karet, gula, teh, dan kakao.
Posisi Indonesia sebagai konsumen penting karena kenaikan permintaan dalam
negeri dapat mengurangi ketersediaannya untuk pasar ekspor bagi pasar dunia.
Kecenderungan penting industri kopi terangkum dalam review tahunan ICO
tahun 2016. Pertama, dalam hal produksi, ketersediaan kopi robusta akan
mendapat tekanan, karena cuaca telah memengaruhi produksi kopi di Vietnam
dan Indonesia.

( Widiastuti, A., M. Arifin, A.K. Anam. IbM Kelompok Usaha


Pengolah-an Kopi di Damarwulan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNISNU
Jepara. )
BAB III
METODOLOGI

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian


iniadalah penelitian kualitatif deskriptif, dimana kita menggambarkan
danmenjelaskan situasi dan kondisi yang terjadi, setelah peneliti melakukan
observasidan wawancara. Metode penelitian kualitatif sebagai prosedur
penelitian yangmenghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orangdan perilaku yang dapat diamati, penelitian kualitatif akan
menghasilkan proseduranalisis yang tidak menggunakan prosedur analisis
statistik atau cara kuantifikasilainnya.

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berisi kutipan-kutipan


datauntuk memberi gambaran penyajian. Data penelitian bisa diperoleh dari
naskah,wawancara, catatan, foto, dokumen pribadi dan dokumen resmi lainnya.
Laporanpenelitian dilakukan dengan menganalisis data, dengan pertanyaan
dengan kata tanya mengapa, alasan apa dan bagaimana terjadinya akan
senantiasa dimanfaatkan oleh peneliti.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian tentang Usaha Kecildan Menengah (UKM) dalam


memberdayakan usaha coffecups dalam pembelajaran bisnis yaitu:

Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Coffecups yang berada di


KabupatenSidoarjo yaitu berada di Jalan Monginsidi dalam No. 9.

3.3 Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti bertindak sebagai


instrumensekaligus pengumpul data. Kehadiran peneliti mutlak diperlukan,
karenadisamping itu kehadiran peneliti juga sebagai pengumpul data.
Sebagaimana satuciri penelitian kualitatif dalam pengumpulan data dilakukan
sendiri oleh peneliti.Sedangkan kehadiran peneliti dalam penelitian ini sebagai
pengamatpartisipan, artinya dalam proses pengumpulan data
penelitimengadakan pengamatan dan mendengarkan secermat mungkin sampai
pada yang sekecil-kecilnya.

3.4 Data dan Sumber Data


A. Metodologi Penelitian Kualitatif

Menurut sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, data


dibedakanmenjadi dua macam yaitu:

1. Data Primer Data primer merupakan data yang diambil dan diolah sendiri
oleh penelitiatau data yang secara langsung dikumpulkan sendiri oleh
perorangan atau suatuorganisasi melalui objeknya. Data primer diperoleh
melalui wawancara langsungkepada pelaku usaha Coffecups
diKabupatenSidoarjo.

2. Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang bukan dihasilkan dan
dikumpulkanoleh peneliti melainkan diperoleh dalam bentuk yang sudah diolah
mengenaigambaran umum perusahaan seperti sejarah perusahaan, visi misi,
strukturorganisasi dan data penjualan. Datasekunder juga diperoleh dari
perpustakaan, internet, buku-buku teks, artikel-artikel dari website dan
beberapa literatur yang relevan.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Agar diperoleh data yang valid dalam penelitian ini perlu


ditentukanteknik-teknik pengumpulan data yang sesuai. Dalam hal ini peneliti
penggunakanmetode sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara merupakan proses untuk memperoleh data atau


keteranganuntuk mencapai tujuan penelitian yang dilakukan dengan melalui
kegiatankomunikasi verbal berupa percakapan. Alat pengumpulan data disebut
pedomanwawancara dan sumber datanya disebut informan. Metode wawancara
yangdigunakan adalah wawancara terstruktur. Dalam penelitian ini yang
bertunjuksebagai informan adalah Mas Rizal Fahmi Putra selaku pemilik usaha
coffecups di KabupatenSidoarjo.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode yang mencari data mengenai hal-hal


atauvariabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda
dansebagainya. Adapun dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
bukupanduan, majalah-majalah, dan transkip yang behubungan mengenai
peran Usaha Kecil Menengah (UKM) dan pertumbuhan unitUKM di Indonesia.

3. Teknik Analisis Data

Menurut Lexy J. Moleong, analisis data adalah proses


mengorganisasikandan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan
uraian dasar sehinggadapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan. Analisis
data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelummemasuki lapangan,
selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Analisisdata dalam
penelitian ini menggunakan metode model Miles dan dan Hubermenyaitu
selama proses pengumpulan data dilakukan 3 kegiatan penting
diantaranyareduksi data (data reduction), penyajian data (data display),
verifikasi(verification). Berikut adalah gambar dari proses tersebut:

Gambar 3.1 Analisis data menurut Miles dan Huberman


Gambar dari analisis data menurut Miles dan Hubermanyang dikutip
oleh Lexy J. Moleong. Dari gambar tersebut kita dapat melihatbahwa proses
penelitian ini dilakukan secara berulang terus-menerus dan salingberkaitan satu
sama lain baik dari sebelum, saat di lapangan hingga selesainyapenelitian.

1. Pengumpulan Data

Mengoleksi atau mengumpulkan data. Dalam tahap ini peneliti hadir


didalam objek penelitian untuk melakukan observasi, wawancara
(interview),mencatat semua data yangdibutuhkan dalam penelitian ini.

2. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak,


sehinggaperlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti di lapangan,
makajumlah data yang didapat juga semakin banyak, kompleks dan rumit,
untuk itu perlu dilakukan reduksi data.

Reduksi data memiliki makna merangkum, memilih hal-hal


yangpokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya.Reduksi data berlangsung selama proses pengambilan data itu
berlangsung,pada tahap ini juga akan berlangsung kegiatan pengkodean,
meringkas danmembuat partisi (bagian-bagian). Proses transformasi ini
berlanjut terussampai laporan akhir penelitian tersusun lengkap.

3. Penyajian Data

Setelah mereduksi data, langkah yang dilakukan peneliti


adalahmelakukan penyajian data. Penyajian data dapat di artikan
sekumpulaninformasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya
penarikankesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian ini dilakukan
dalam bentukuraian singkat, bagan, hubungan antar kategori. Penyajian data
bertujuan agarpeneliti dapat memahami apa yang terjadi dalam merencanakan
tindakanselanjutnya yang akan dilakukan.

4. Verifikasi

Langkah terakhir dalam pengumpulan data adalah verifikasi. Dari


awalpendataan, peneliti mencari hubungan-hubungan yang berkaitan
denganpermasalahan yang ada, melakukan pencatatan hingga menarik
kesimpulan.Kesimpulan awal masih bersifat sementara dan akan selalu
mengalamiperubahan selama proses pengumpulan data masih berlangsung
akan tetapibila kesimpulan yang dibuat didukung oleh data yang valid dan
konsistenyang ditemukan di lapangan, maka kesimpulan tersebut
merupakankesimpulan yang kredibel.

3.6 Tahap-Tahap Penelitian

Tahap-tahap ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap pra lapangan,
tahappekerjaan, tahap analisis data dan tahap pelaporan:

1. Tahap Pra Lapangan

Pada tahap ini peneliti melakukan berbagai macam persiapan


sebelumterjun ke dalam kegiatan penelitian. Diantaranya yaitu mengurus
perizinan,yang merupakan salah satu hal yang tidak dapat diabaikan begitu
saja. Karenahal ini melibatkan manusia kelatar belakang penelitian. Kegiatan
pra lapanganlainnya yang harus diperhatikan ialah latar penelitian itu sendiri
perlu dijajakidan dinilai guna melibatkan sekaligus mengenal unsur-unsur dan
keadaanalam pada latar penelitian.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Tahap ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data


yangberkaitan dengan fokus penelitian dari lokasi penelitian. Dalam
prosespengumpulan data ini penulis menggunakan metode wawancara
dandokumentasi.
3. Tahap Analisis Data

Pada tahap ini penulis menyusun semua data yang terkumpul


secarasistematis dan terperinci sehingga data tesebut mudah dipahami dan
temuanyadapat diinformasikan kepada orang lain secara jelas.

4. Tahap Pelaporan

Tahap ini merupakan tahapan terakhir dari tahapan yang


penelitilakukan. Tahapan ini dilakukan dengan membuat laporan tertulis dari
hasilpenelitian yang telah dilakukan. Laporan ini akan ditulis dalam bentuk
skripsi.

3.7 Keabsahan Data

Penelitian kualitatif secara intern merupakan fokus perhatian


denganberagam metode. Harus didasari bahwa penggunaan metode
triangulasimencerminkan upaya untuk memperoleh pemahaman yang
mendalam mengenaisuatu fenomena yang sedang dikaji. Triangulasi bukanlah
strategivalidasi, namun merupakan alternatif bagi validasi. Triangulasi adalah
teknikpemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di
luar dari itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap
data itu.Teknik triangulasi yag paling banyak digunakan ialah pemeriksaan
melaluisumber lainnya. Menurut Denzin sebagaimana di kutip oleh Lexy J.
Moleong,membedakan tiga macam triangulasi sebagai tekenik pemeriksaan
keabsahan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk triangulasi


metode,triangulasi metode dapat dilakukan dengan melakukan pengecekan data
dariberbagai macam teknik pengumpulan data. Misalnya dengan menggunakan
teknikwawancara mendalam dan dokumentasi. Data dari ketiga teknik
tersebutdibandingkan adakah konsistensi, jika berbeda dijadikan catatan dan
dilakukanpengecekan selanjutnya mengapa data bisa berbeda.
2.2 EMPIRIS
A. METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah cara melakukan sesuatu dengan


menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan
dengan cara mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis
sampai menyusun laporan. Istilah meteologi berasal dari kata
metode yang berati jalan, namun demikian, menurut kebiasaan
metode dirumuskan dengan kemungkinan-kemungkinan suatu tipe
yang dipergunakan dalam penelitian dan penilaian.

Riset atau penelitian merupakan aktifitas ilmiah yang


sistematis, berarah dan bertujuan. Maka data atau informasi yang
dikumpulkan dalam penelitian harus relevan dengan persoalan
yang dihadapi. Dalam penelitian UKM Coffecups ini menggunakan
jenis penelitian empiris.

Ada beberapa hal yang kami gunakan dari perangkat penelitian


yang sesuai dalam metode penelitian ini guna memperoleh hasil
yang maksimal antara lain:

1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam UKM Coffecups ini adalah penelitian
empiris yang dengan kata lain dapat disebut pula dengan penelitian
lapangan, yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan
sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi di masyarakat dengan maksud
untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan.
Setelah data yang dibutuhkan terkumpulkan kemudian menuju kepada
identifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian
masalah.

2. Pendekatan Penelitian
Permasalahan diatas telah dirumuskan dengan menggunakan
metode pendekatan yuridis empiris. Pendekatan yuridis ( hukum dilihat
sebagai norma atau das sollen)., karena dalam permasalahan penelitian ini
menggunakan bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder).
Sedangkan pendekatan empiris (hukum sebagai kenyataan social, kultural
atau das sein), karena dalam penelitian ini digunakan data primer yang
diperoleh dari lapangan.
Jadi pendekatan yuridis empiris dalam data penelitian UKM
Coffecups ini adalah bahwa dalam menganalisis permasalahan dilakukan
dengan cara memadukan bahan-bahan hukum ( yang merupakan data
sekunder) dengan data primer yang diperoleh dari lapangan.

3. Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang digunakan di dalam penelitian UKM Coffecups ini


diambil dari primer dan data sekunder.

1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari


sumber pertama yang terkait dengan permasalahan yang akan
dibahas. Sumber data yang diperoleh dari lapangan secara
langsung dengan wawancara kepada:
a. Pemilik UKM Coffecups yaitu Mas Rizal

2. Data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari buku-buku


sebagai data-data pelengkap sumber data primer. Data sekunder
tersebut mencakup dokumen-dokumen, buku, hasil penelitian
yang berwujud laporan dan sebagainya.

4. Metode pengolahan data

Metode pengolahan data harus sesuai dengan keabsahan data. Cara


kualitatif artinya menguraikan data dalam bentuk kalimat yang teratur,
runtun, logis, tidak tumpang tindih dan efektif sehingga memudahkan
pemahaman dan interprestasi data. Adapun tahap-tahap dalam
menganilisis data yaitu:
1. Editing/edit

Editing adalah kegiatan yang dilakukan setelah menghimpun


data di lapangan. Proses ini sangat penting dikarenakan
kenyataannya bahwa data yang terhimpun kadang kala belum
memenuhi harapan kami, ada diantaranya yang kurang bahkan
terlewatkan. Oleh karena itu untuk kelengkapan penelitian UKM
Coffecups, maka proses editing ini sangat diperlukan dalam
mengurangi data yang tidak sesuai.

2. Classifying

Agar penelitian UKM Coffecups ini lebih sistematis, maka data


hasil wawancara diklasifikasikan berdasarkan kategori tertentu,
yaitu berdsarkan pertanyaan dalam rumusan masalah. Sehingga
data yang diperoleh benar-benar memuat informasi yang
dibutuhkan.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 SEJARAH USAHA


Pemilik Usaha : Rizal Fahmi Putra
Merk Dagang : Coffeecups
Tahun Berdiri : 2017
Alamat Usaha : Jalan Monginsidi No.9 Sidoarjo-Jawa Timur
No. Telp : (031) 84846500 / (031) 812-3155-9364

Usaha coffecupsini telahberdirisejaktahun2010. Pada awalnya modal


usaha mereka berasal dari hasil jerih payah berkerja selama 9 tahun sebagai
angkringan. Dilihat dari segi lingkungan sidoarjo, kebanyakan penjualan kopi
masih menggunakan kopi dalam kemasan (sachet). Berawal dari keinginan
membuka usaha kafe sendiri dengan modal hasil bekerja serta bantuan modal
dari investor. Seiring berjalannya waktu, usaha ini telah berkembang dan dapat
menguasai pasar sekitar.

Berjalan hampir 1 tahun, usaha ini terjangkit masalah internal antara


pengelola dengan pemodal yang mengharuskan untuk menutup usaha karena
tidak ada suatu perjanjian di awal. Setelah usaha ini berhenti, pemilik
berinovasi untuk membuka kembali tetapi dengan lingkup yang lebih kecil
berupa angkringan dengan membuka 4 cabang yang bertempat di sidoarjo. Mas
rizal sebagai pemilik, beliau juga sebagai pengelolah angkringan tersebut.
Akhirnya terjangkit masalah kembali dan menyisahkan sebuah kedai kopi saja.
Untuk memulainya serta mendapatkan modal kembali, beliau menjadi ojek
online dan disamping itu juga mas rizal bekerja di Jakarta kuliner center
sebagai trainer barista selama 1 tahun dan akhirnya mas rizal bisa membuka
kembali dengan modal sebesar 50 juta. Sampai saat ini usaha kafe ini sudah
berkembang pesat baik melalui pasar online dan offline.

4.2 SWOT

1. Strengths/ Kekuatan.

Dari aspek produk, CoffeeCups memberikan nuansa bagi yang ingin


kopi tetapi tidak terlalu suka kopi sehingga mengeluarkan produk yang bisa
dinikmati semua kalangan. Serta produk ini memiliki banyak varian rasa dan
kemasan yang unik sehingga cocok di kalangan milenial.

2. Weakness/ kelemahan

Jika mereka tidak dapat memperhitungkan jumlah bahan baku yang


akan diolah, itu akan menimbulkan pemborosandalambahanbaku, dan itu dapat
merugikan usaha tersebut. Serta biji kopi itu tidak dapat digunakan dalam
jangka waktu yang lama karena akan mempengaruhi cita rasa kopi itu sendiri.
3. Opportunities/Kesempatan

Memanfaatkan sistem pasar online untuk mencapai target dan


memperluas jaringan sehingga memudahkan konsumen untuk mengenal
produk coffeecups di semua kalangan. Serta produk coffeecups sendiri
menawarkan promo untuk dine-in disana dan memiliki ciri khas tersendiri
dalam pengolahan varian rasa.

4. Threats/ Ancaman

Jika secarainternal, adanya kesalahandari pegawai yang tidakmengikuti


S.O.Pusahatersebut. Dan jika dalamfaktor eksternal, dalam pencapaiantarget
pasar yangcoffeecups miliki hampir sama dengan kompetitor dalam lingkup
wilayah yang sama. Rawan nya putus kerja sama antara vendor dengan pemilik
coffeecups sendiri, sehingga membuat turunnya omset sehingga tidak
tercapainya target penjualan.

4.3 ANALISIS LINGKUNGAN

Bisnis kopi dengan model seperti ini, meski dapat dijalankan sebagai
usaha perorangan, namun memerlukan biaya investasi relatif besar. Peralatan
dan mesin serta tenaga yang kompeten, terlatih dan menguasai setiap tahap
pengolahan kopi, membutuhkan investasi lumayan bagi pemula.

Namun pelaku usaha tersebutjika dilakukan secara intensif dan


berkelanjutan serta dapat mengontrol setiap proses dan mempertahankan
kualitas kopi yang tetap baik, dengan cita rasa dan aroma khas yang
terkandung dalam kopi olahannya.

1. Faktor Internal:

Pemilihan kopi yang matang optimal (berwarna merah) dan


memisahkan dari yang masih hijau yang dapat menyebabkan rusaknya kualitas
kopi olahan, dapat dihindari jika aktivitas utama dapat dikontrol dengan cara
menjalin kemitraan yang baik dengan petani maupun supplier green bean atau
dengan kepemilikan kebun sendiri sehingga dapat menjaga kualitas dari green
bean.

Setelah green bean terkumpul, dilakukan penyangraian (roasting)


menggunakan mesin milik sendiri. Tahap penyangraian merupakan salah satu
tahap yang paling penting untuk mempertahankan kualitas biji kopi. Proses ini
merupakan tahapan dalam pembentukan aroma dan rasa khas dari dalam biji
kopi dengan perlakuan panas. Untuk keperluan sangrai, dewasa ini telah
tersedia berbagai mesin roasting otomatis dengan menggunakan daya listrik
disertai dengan keunggulan yang bervariatif, baik dari segi tampilan, kecepatan
dalam penyangraian serta banyak dijual di pasaran. Kopi yang telah disangrai,
disarankan tidak bersentuhan langsung dengan tangan.

Proses-proses sebaiknya dilakukan menggunakan alat bantu, misalnya


sendok. Hal itu untuk menghindari kontaminasi bakteri dari tangan yang dapat
berakibat penurunan kualitas kopi hasil sangrai (roasted beans). Untuk menjaga
cita rasa dan menerima kritikan dari para konsumen dengan baik.

2. Faktor Eksternal:

Langkah pertama diperlukan adalah penentuan lokasi yang


mencerminkan sasaran atau segmen yang dituju, kemudian menyesuaikan
menu kopi apa saja yang akan dijual. Berdasarkan kelompok sasaran apakah
lebih cocok cold brew atau kopi panas, atau kombinasi keduanya dengan
dilengkapi makanan ringan lainnya.

Jika model bisnis inti sudah ditentukan, baru kemudian fasilitas


pendukung atau sarana usaha dirancang, dicari dan dibangun yang harganya
cocok dan memungkinkan modifikasi menjadi tempat saji yang unik, dicari dan
dikerjakan.

Desain perlu dibuat menarik dan terlihat unik, mencolok dari jarak
pandang cukup jauh.

1. Kondisi Perekonomian
Kondisi ekonomi membawa pengaruh yang berarti terhadap jalannya
industri kecil coffeecups terutama terhadap pendapatan yang diperoleh. Seperti
kenaikan harga-harga berpengaruh terhadap harga bahan baku kopi dan sarana
produksi lainnya.

2. Sosial dan Budaya

Perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat berdampak


sangat besar terhadap coffecups. Ketika masyarakat mulai menyadari bahwa
kopi mengandung kafein yang baik untuk kesehatan, tuntunan konsumen yang
semakin mengedepankan kualitas daripada kuantitas terutama terhadap
konsumsi kopi menjadi perhatian pengusaha terhadap keberlangsungan industri
kecil kopi.

Usaha Coffecups juga menjadi icon di Desa Sidoklumpuk, Kabupaten


Sidoarjo. Pandangan penduduk terhadap usaha kecil kopi, terutama masyarakat
yang tidak memiliki usaha yang terkadang merasa dirugikan karena limbah
yang dihasilkan oleh sisa produksi. Kesenjangan sosial antar usaha perhatian
pemerintah yang tidak merata dalam pemberian subsidi kopi.

3. Teknologi

Kekuatan teknologi menggambarkan peluang dan ancaman utama yang


harus dipertimbangkan dalam merumuskan strategi. Kemajuan teknologi dapat
menciptakan keunggulan kompetitif yang lebih berdaya guna ketimbang
keunggulan yang sudah ada .Teknologi yang digunakan pada usaha coffecups
yaitu diperlukan alat penyeduhan manual secara lengkap, seperti peralatan
Chemex, Aeropress dan lain-lain. Hal ini memberikan hiburan sekaligus
edukasi kepada pengunjung bagaimana cara menyeduh kopi yang baik dan
spesifik serta menghasilkan cita rasa khas yang menarik bagi penikmat dan
pengunjung.

4. Pemasok
Keberadaan pamasok untuk menyediakan baik pasokan kopi sangat
dibutuhkan oleh pengusaha. Pemasok kopi tidak hanya satu jenis kopi saja
yang disediakan. Pemasok lebih banyak menyediakan kopi impor daripada
kopi local mengingat harganya lebih murah dengan kualitas lebih baik karena
penanaman kopi lebih cocok pada daerah subtropis dan pihak asing lebih
berani menanam dengan jumlah besar mengingat biaya variable lebih
kecil.Pengusaha kopi juga memilih kopi impor untuk melakukan produksinya.
Selain itu, pemasok juga sangat dibutuhkan ketergantungan dalam
pengolahannya.

5. Konsumen

Konsumen tersebut sasaran utama bagi pengusaha kopi. Konsumen


dapat mempertimbangkan terhadap kualitas produk yang akan dikonsumsi.
Kepercayaan konsumen sangat diperhatikan sehingga pengusaha dituntut untuk
memberikan kualitas kopi yang baik. Pasar yang dijadikan sasaran pengusaha
yaitu konsumen kopi di pasar sekitar Kecamatan sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.

4.4 BENTUK USAHA

Produsen kecil kopi dapat digolongkan sebagai Industri Rumah Tangga


Pangan yaitu perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha di tempat tinggal
dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis. Pangan
yang diedarkan dalam kemasan eceran dan berlabel.

Usaha pengolahan dan penjualan kopi memiliki izin edar sebagai


jaminan bahwa usaha makanan atau minuman yang dijual memenuhi standar
keamanan makanan. Pada kemasan produknya perlu memiliki nomor PIRT dan
logo halal dalam kemasan.

4.5 FUNGSI MANAJEMEN


1. Planing (perencanaan)

Berawal dari kenginanan dan mimpi untuk membuka kafe sendiri yang
berawaldari modal hasiljerihpayahbekerjasebagaipedagangangkringan
dipinggirjalansampaiakhirnyadapat modal dari investor
untukmengembangkanusahatersebutmenjadibesar.

2. Organizing (pengorganisasian)

Struktur organisasi dari perusahaan ini direncanakan hanya memiliki 4


orang karyawan. Adapun perincian tugas-tugas karyawan tersebut adalah.

A. Karyawan Pertama bertugas dalam bidang barista.


B. Karyawan 2 dan 3 bertugas dalam bidang marketing, memperkenalkan
produkkepada masyaakat, seperti membuat poster, baliho atau spanduk
dan sebagainya
C. Karyawan 4 bertugas dalam bidang administrasi, menginput data
penjualan yang keluar.

PEMILIK USAHA INVESTOR


MAS RIZAL

BARISTA MARKETING ADMINISTRAT


OR
-------------- Rifqi Jessica Pamela
Nissya Andini Kumala
Febriant
Pristianty
o
Struktur ini hanya digunakan ditahun pertama sejak perusahaan
beroperasi. Setelah itu, kemungkinana akanada penambahan karyawan sesuai
dengan perkembangan usaha ini, sehingga struktur akan berubah sesuai dengan
jumlah karyawan yang dibutuhkan.

Adasekumpulanataukelompok yang secara formal


dipersatukanuntukbekerjasamadalampembagianataualokasitugasdantanggungja
wabtertentudalamgunamemudahkanpencapaianusahatersebut.

3. Actuating

Dengan mengoptimalkan program kerja,karyawan coffecups harus


sejalan dengan rencana kerja serta diikuti dengan kerja keras dan kerja sama
untuk mencapai sebuah target yang telah di tentukan oleh mas rizal sebagai
pemilik coffecups. Serta harus mengedepankan sikap ramah dalam pelayanan
terhadap konsumen dengan tujuan memberikan kenyamanan supaya tujuan
dalam memperoleh laba sebanyak-banyaknya tercapai.

4. Controling (pengawasan)

Kegiatanusahatersebutharusmenetapkanstandaroprasional
pelaksanaandengan tujuanperencanaansertamerancang system
informasidanmembandingkankegiatannyatadenganstandar yang
ditetapkansebelumnyauntukmeminimalisirtingginyakesalahandalamkegiatanus
ahatersebut.

4.6 FUNGSI OPERASIONAL MANAJEMEN

1. Manajemen produksi

Denganmemasokbahanbaku di vendor (pihakpenyediabaranguntuk


proses produksi) untukmenekanbiayaproduksisupayamendapatkan profit yang
tinggi.

2. Manajemenpemasaran

Sistem pemasaran yang digunakan adalah sistem ofline dan online,


sistem ofline dengan cara menikmati secara langsung di tempat, sedangkan
sistem online dengan cara bekerja sama dengan aplikasi ojek online. Dalam 1
hari dapat menjualkan 70 produk per hari.

3. Manajemen keuangan

Modal pertamauntukmembukaCoffeeCups kuranglebih 60 juta,


dikarenakan untuk keperluan membelibarang, alat, dan sewatempat, serta
untukmengembalikan modal CoffeeCups mempunyai target selama 3,5
bulandengancaramenjual 70 cupsperharidengan provit sekitar 1,2 juta.

4. Manajemen informasi

Dalam usaha yang sudah berdiri memiliki sistem informasi yang


terstruktur seperti manajemen informasi yang mengatur bagaimana interaksi
didalam lingkup pekerjaan sehingga menjalakan SOP yang berlaku, misalnya
dalam sisitem informasi produksi, sistem informasi permasaran maupun dalam
kegiatan lainnya.

5. Manajemen SDM

DalamusahaCoffeeCups,merekasudahmemilikispesialisasiataupembagiank
erja (jobdesk)sesuaidengankeahliannya masing-masingsepertibagian Barista,
Kasir sama Waiters. Semuatenagakerjadiberiupahdalamjangka bulanan yaitu
1.000.000 sampai 1.200.000. Sedangkandalamperhari target pencapaian,
penjualan menghasilkan70 kali produksi.
4.7 PERMASALAHAN
4.8 Sebutkan dan jelaskan analisis swot dalam usaha tersebut ?
4.9 Jelaskan analisislingkungan ukm tersebut?
4.10 Usaha apa yang dijalankan dan bagaimana bentuk usaha
tersebut?
4.11 Jelaskan fungsi manajemen yang ada dalam ukm tersebut?
4.12 Jelaskan fungsi operasional manajemen yang ada di ukm
tersebut?
4.13 Apakah permasalahan yang dihadapi oleh UKM Coffecups dan
bagaimana cara mengatasinya?

4.14 SOLUSI
1. Kekuatan :
Kelemahan :
Peluang
Ancaman :
2. Jika dilihat dari usaha Roti Gres ini beliau tidak menggunakan konsep
franchise / waralaba, dikarenakan penghasilan yang didapat dari
penjualan roti tersebut untuk dirinya sendiri dan keluarga. Seandainya
UKM Roti Gress tersebut dibentuk dengan menerapkan
franchise/waralaba maka usaha ini akan berkembang dan memiliki
cabang disetiap daerah, dan ada syarat- syarat yang harus dipenuhi

3. Fungsi manajemen
Planning: Ukm ini awalnya memiliki planning untuk membuat ukm roti
gres, denganberkerja pada perusahan roti yang bernama “ roti 123”,
akhirnya Bpk sugianto pendiri ukm ini berfikiran untuk mendirikan
ukm ini.
Organizing: Setelah merencanakan untuk mendirkan ukm ini, pendiri
mengajak keluarga untuk menjalankan usaha ini, organisasi di ukm ini
terdiri dari 6 anggota yaitu Bpk Sugianto sebagai pendiri, istri dan 2
anaknya sebagai yang memproduksi, 2 menantunya sebagai orang
yang memasarkan produknya.
Actuating: Setelah itu bpk sugianto memberikan pelatihan dan pengarahan
kepada keluarga untuk membantu usahanya dan melatih cara berbicara
kepada konsumen (seperti pelatihan pembuatan roti dan cara
berbicara).
Controlling: Untuk menjaga kualitas produknya pemilik usaha melakukan
pengawasan dan menerima kritik dan saran dari konsumennya.
Fungsi oprasional manajemen
SDM(Sumber daya manusia): pada ukm roti gres ini, memiliki 5
karyawan yaitu istrinya, 2 anaknya, dan 2 menantunya.
Keuangan: modal awal ukm ini Rp.20.000.000 diperoleh bpk Sugianto
dari hutang bank. Harga Jual roti berkisar Rp. 3000,- – Rp. 10.000,-/
Pcs
Produksi: ukm ini memproduksi bermacan - macam roti mulai dari bentuk
dan varian rasanya.
Pemasaran: produk yang ada di ukm ini di pasarkan dengan menggunakan
2 kurir untuk memasarkan produk dan saat ini mulai menjalankan
bisnis melalui media sosial.
Informasi: Untuk menerima kritik dan saran usaha dari konsumen secara
langsung dengan mendatangi tempat produksi, melalui telepon, dan
melalui kurir-kurirnya.
Permasalahan :UKM Roti Gres ini tidak menggunakan system
keuangan,Kurangnya menariknya packing roti, Tidak memperhatikan
daya saing di pasar.

4. Kekurangan:
a. UKM Roti ini tidak menggunakan system keuang dalam hal
produksiannya
b. Packaging yang kurang menarik perhatian konsumen
c. Kurangnya memperhatikan daya saing yang semakin tinggi

Cara mengatasi :
a. Lebih meningkatkan sistem keuangan dalam han produksi
b. Lebih memperhatikan packing yang digunakan agar menarik.
c. Lebih memperhatikan daya saing pasar yang semakin tinggi, dan
dapat mempertahankan kualitas produk
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam menjalankan sebuah usaha harus dapat memperhitungkan


jumlah bahan baku yang harus diolah tanpa merugikan usaha tersebut,
dikarenakan setiap bahan baku memiliki jangka waktu tersendiri.

5.2 Kritik dan Saran

Perhitungan jumlah bahan baku menggunakan metode min-max stok.


Untuk itu coffeecups perlu mempertimbangkan metode ini agar tidak terjadi
overstock pada bahan baku. Selain itu agar coffeecups dapat mengetahui
perkiraan pemesanan konsumen dan juga dapat membeli kebutuhan bahan
baku dengan tepat tanpa khawatir terlalu banyak atau terlalu sedikit.
DOKUMEN FOTO PRODUKSI
DAFTAR PUSTAKA

Titik Sartika Partomo dan Abd Rachman Soedono. (2016). Ekonomi


Skala Kecil/ Menengah dan Koperasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tambunan, Tulus, “Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia :


isu-isu penting”, Jakarta : LP3ES, 2017.

Komoditas kopi di Indonesia 2016-2017, https://www.indonesia-


investments.com/id/bisnis/komoditas/kopi/item186, diakses 12 Desember 2019.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 tahun 1997 tentang Kemitraan.


Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 tentang Usaha Kecil dan Menengah.

Direktorat Jenderal Perkebunan.2015. Statistik Perkebunan Indonesia


Tahun 2014–2016, Kopi.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. 2013.

Pedoman Teknis Pengembangan Tanaman Kopi Tahun 2014.


Husnan S dan Suwarsono. 1994. Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta :
UPP AMP YKNP.

Herdyanti, K. 2013. Perancangan Awal dan Analisis Kelayakan Usaha


Pengolahan Biji Kopi di Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh. Departemen
Teknik Mesin dan Biosistem. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian
Bogor. Bogor

Koperasi Mitra Malabar (KMM). 2017. http://www.kopimalabar


indonesia.com.

Setjen Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Kopi Komoditas


Pertanian Subsektor Perkebunan. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.

Purnama, I.B.O., N. Parining, I.D.G.R. Sarjana. 2012. Sistem


Pemasaran Kopi Bubuk Sari Buana pada UD. Mega Jaya. E-Journal Agribisnis
dan Agrowisata ISSN: 2301-6523 Vol. 1, No. 1.

Segmentasi dan Strategi Penempatan Produk Kopi Bubuk (Survei di


Daerah Darmaga dan Babakan, Bogor). Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Bogor

Widiastuti, A., M. Arifin, A.K. Anam. IbM Kelompok Usaha Pengolah-


an Kopi di Damarwulan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNISNU Jepara.