Anda di halaman 1dari 140

ASUHAN KEPERAWATAN PBL BENIGNA

PROSTATIC HYPERPLASIA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan medikal bedah II yang
diampuh Ns. Nurdiana Djamaludin, M.Kep
Disusun Oleh:

Kelas A

Kelompok 3

1. RAMDAN HUNOWU (841418019)


2. ARAWINDAH PRAMESWARI (841418011)
3. SUSFIYANTI R. ASALA (841418019)
4. IMELDA SASKIA PUTRI (841418006)
5. WIDYA PUSPA MOLOU (841418027)
6. NURLIN ARSYAD (841418031)
7. FITRIYANINGSIH LAIYA (841418023)
8. ILMAN ASMAN (841418035)
9. SAFIRA PAGAU (841418113)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Askep PBL
Benigna Prostatic Hyperplasia.Askep PBL Benigna Prostatic Hyperplasia ini
terwujud berkat partisispasi berbagai pihak.Oleh Karena itu, kami menyampaikan
terima kasih yang sebesar-besarnya.
Tak ada gading yang tak retak begitu juga kami menyadari bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan.Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran yang bersifat
membangun agar kami menjadi lebih baik lagi.Adapun harapan kami semoga
makalah ini dapat diterima dengan semestinya dan bermanfaat bagi kita semua dan
semoga Allah SWT meridhai kami.Aamiin.

Gorontalo ,Februari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR ...............................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................2
1.3 Tujuan..................................................................................................................2
BAB II...........................................................................................................................3
KONSEP MEDIS..........................................................................................................3
2.1 Definisi BPH........................................................................................................3
2.2 Etiologi BPH........................................................................................................3
2.3 Patofisiologi BPH................................................................................................4
2.4 Pathway................................................................................................................6
2.5 Manifestasi Klinis................................................................................................7
2.6 Komplikasi...........................................................................................................8
2.7 Penatalaksanaan...................................................................................................8
BAB III........................................................................................................................10
KONSEP KEPERAWATAN......................................................................................10
3.1 Pengkajian..........................................................................................................10
3.2 Diagnosis............................................................................................................14
3.3 Intervensi............................................................................................................15
BAB IV........................................................................................................................27
PENUTUP...................................................................................................................27
4.1 Kesimpulan........................................................................................................27
4.2 Saran..................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................28

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit ginjal adalah kelainan yang mengenai organ ginjal yang timbul
akibat berbagai faktor, misalnya infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit
metabolik atau degeneratif, dan lain-lain.Kelainan tersebut dapat mempengaruhi
struktur dan fungsi ginjal dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.Pasien
mungkin merasa nyeri, mengalami gangguan berkemih, dan lain-lain. Terkadang
pasien penyakit ginjal tidak merasakan gejala sama sekali. Pada keadaan terburuk,
pasien dapat terancam nyawanya jika tidak menjalani hemodialisis (cuci darah)
berkala atau transplantasi ginjal untuk menggantikan organ ginjalnya yang telah
rusak parah (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013).
Badan Kesehatan Dunia menyebutkan pertumbuhan penderita gagal ginjal
pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya.Di Amerika
Serikat, kejadian dan prevelensi gagal ginjal meningkat di tahun 2014. Data
menunjukan setiap tahun 200.000 orang Amerika menjalani hemodialysis karena
gangguan ginjal kronis artinya 1140 dalam satu juta orang (Indonesian et al.,
2015).
Di Amerika pasien dialysis lebih dari 500 juta orang harus menjalani hidup
dengan bergantung pada cuci.Indonesia merupakan negara dengan tingkat
penderita gagal ginjal yang cukup tinggi. Hasil survei yang dilakukan oleh
perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) diperkirakan ada sekitar 12,5 % dari
populasi atau sebesar 25 juta penduduk Indonesia mengalami penurunan fungsi
ginjal (Indonesian et al., 2015).
Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi penyakit
gagal ginjal kronis di Indonesia berdasarkan wawancara yang didiagnosis dokter
meningkat seiring dengan bertambahnya umur, meningkat tajam pada kelompok
umur 35-44 tahun (0,3%), diikuti umur 45-54 tahun (0,4%), dan umur 55-74
tahun (0,5%), tertinggi pada kelompok umur ≥75 tahun (0,6%). (Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, 2013).
Data Rumah Sakit Bahteramas Kendari pada tahun 2016 menunjukkan pasien
penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa sebanyak 38
orang.Peningkatan yang signifikan terjadisepanjang tahun 2017 yaitu jumlah

4
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa meningkat menjadi 156
orang.Sedangkan data pada tahun 2018 untuk 4 bulan yaitu Januari sampai April
menunjukkan jumlah pasien yang menjalani hemodialisa sebanyak 51 orang
(RSU.Bahteramas, 2018).
Negara berkembang seperti Indonesia masih menempatkan gagal ginjal
kedalam sepuluh penyakit yang mematikan.Komplikasi penyakit hipertensi dan
diabetes melitus juga merupakan penyebab utama timbulnya gagal ginjal.Gagal
ginjal akut yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gagal ginjal
kronis dimana penderitanya diharuskan untuk menjalani hemodialisa. Bagi
penderita gagal ginjal kronis, hemodialisis akan mencegah kematian.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medis dari penyakit gagal ginjal kronik?
2. Bagaimana konsep keperawatan dari penyakit gagal ginjal kronik?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep medis dari penyakit gagal ginjal kronik.
2. Untuk mengetahui konsep keperawatan dari gagal ginjal kronik.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Medis

A. Definisi
Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk
mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
destruksi struktur ginjal yang progresif dengan maninfestasi penumpukan sisa
metabolit (toksik uremik) di dalam darah (Digiulio, Jackson, dan Keogh,
2014).Gagal ginjal kronik atau penyakit tahab akhir adalah gangguan fungsi
ginjal yang menahun berifat progresif dan irreversible (Rendy & Margareth
2012).
Gagal ginjal kronis (GGK) adalah hasil dari perkembangan dan
ketidakmampuan kembalinya fungsi nefron.Gejala klinis yang serius sering
tidak terjadi sampai jumlah nefron yang berfungsi menjadi rusak setidaknya
70-75% di bawah normal.Bahkan, konsentrasi elektrolit darah relatif normal
dan volume cairan tubuh yang normal masih bisa di kembaikan sampai jumlah
nefron yang berfungsi menurun di bawah 20-25 persen.(Guyton and Hall,
2014).
Brunner and Suddarth (2014) menjelaskan bahwa ketika pasien telah
mengalami kerusakan ginjal yang berlanjut sehingga memerlukan terapi
pengganti ginjal secara terus menerus, kondisi penyakit pasien telah masuk ke
stadium akhir penyakit ginjal kronis, yang dikenal juga dengan gagal ginjal
kronis.
Dari beberapa pengertian diatas dapat dikemukakan bahwa gagal ginjal
kronis adalah kerusakan ginjal yang ireversibel sehingga fungsi ginjal tidak
optimal dan diperkukan terapi yang membantu kinerja ginjal serta dalam
beberapa kondisi diperlukan transplantasi ginjal.
B. Etiologi
Menurut Muttaqin dan Sari (2011) dan Digiulio,Jackson, dan Keogh
(2014) begitu banyak kondisi klinis yang bisa menyebabkan terjadinya gagal
ginjal kronik. Akan tetapi apapun penyebabnya, respon yang terjadi adalah
penurunan fungsi ginjal secara progresif.Kondisi klinis yang memungkinkan
dapat mengakibatkan GGK bisa disebabkan dari ginjal sendiri dan luar ginjal.
Penyebab dari ginjal : Penyakit pada saringan (glomerulus) :
glomerulonefritis, Infeksi kuman : pyelonefritis, ureteritis, Batu ginjal :

6
nefrolitiasis, Kista diginjal : polcytis kidney, Trauma langsung pada ginjal,
Keganasan pada ginjal, sumbatan : batu ginjal, penyempitan/striktur.
Penyebab umum di luar ginjal : Penyakit sistemik: diabetes melitus,
hipertensi, kolesterol tinggi, Dyslipidermia, Infeksi di badan : TBC Paru,
sifilis, malaria, hepatitis, Preklamsi, Obat-obatan, Kehilangan banyak cairan
yang mendadak (kecelakan) dan toksik.
C. Patofisiologi
Patofisiologi penyakit ginjal kronis pada awalnya tergantung pada
penyakit yang mendasarinya, tapi dalam perkembangan selanjutnya proses
yang terjadi kurang lebih sama. Pengurangan massa ginjal mengakibatkan
hipertrofi struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving
nephrons) sebagai upaya kompensasi yang diperantarai oleh molekul
vasoaktif seperti sitokin dan growth factors. Hal ini mengakibatkan terjadinya
hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan kapiler dan aliran darah
glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti oleh
proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa. Proses ini
akhirnya diikuti dengan fungsi nefron yang progresif, walaupun penyakit
dasarnya sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan aktifitas aksis rennin
angiostensin-aldosteron intrarenal ikut memberikan kontribusi terhadap
terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis dan progresifitas tersebut.Aktivitas jangka
panjang aksis renin-angiostensin-aldosteron, sebagian diperantarai oleh
growth factor seperti transforming growth factor β (TGF- β).Beberapa hal
yang juga dianggap berperan terhadap progresifitas penyakit ginjal kronis
adalah albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia.Terdapat
variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibrosis glomelurus
maupun tubulointersitial.
Pada stadium paling dini penyakit ginjal kronis, terjadi kehilangan daya
cadang ginjal (renal reserve) pada keadaan dimana basal LFG (Laju Filtrasi
Glomelurus) masih normal atau malah meningkat. Kemudian secara perlahan
tapi pasti, akan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif, yang ditandai
dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG
sebesar 60%, pasien masih belum merasakan keluhan (asimtomatik), tapi
sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Sampai pada LFG
sebesar 30%, mulai terjadi keluhan pada pasien seperti nokturia, badan lemah,
mual, nafsu makan kurang dan penurunan berat badan. Sampai pada LFG di
bawah 30% pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata
seperti anemia, hipertensi gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, pruritus,
mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi seperti
infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas, maupun infeksi saluran cerna.

7
Juga akan terjadi gangguan keseimbangan cairan seperti hipo atau
hipervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan
kalium. Pada LFG di bawah 15%akan terjadi gejala dan komplikasi yang
lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal
replacement therapy) antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada
keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal (Brunner and
Suddarth, 2014).
D. Penatalaksanaan
1. Manajemen terapi
Tujuan dari manajemen adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal
dan homeostasis selama mungkin.Semua faktor yang berkontribusi
terhadap gagal ginjal kronis dan semua faktor yang reversibel (missal
obstruksi) diindentifikasi dan diobati. Manajemen dicapai terutama
denganobat obatan dan terapi diet, meskipun dialisis mungkin juga
diperlukan untuk menurunkan tingkat produk limbah uremik dalam darah
(Brunner and Suddarth, 2014)
a. Terapi farmakologis
Komplikasi dapat dicegah atau ditunda dengan pemberian resep
antihipertensi, eritropoitin, suplemen Fe, suplemen fosfat, dan kalsium
(Brunner and Suddarth, 2014).
2. Antasida
Hyperphosphatemia dan hipokalsemia memerlukan antasid yang
merupakan zat senyawa alumunium yang mampu mengikat fosfor pada
makanan di dalam saluran pencernaan.Kekhawatiran jangka panjang
tentang potensi toksisitas alumunium dan asosiasi alumunium tingkat
tinggi dengan gejala neurologis dan osteomalasia telah menyebabkan
beberapa dokter untuk meresepkan kalsium karbonat di tempat dosis
tinggi antasid berbasis alumunium.Obat ini mengikat fosfor dalam saluran
usus dan memungkinkan penggunaan dosis antasida yang lebih
kecil.Kalsium karbonat dan fosforbinding, keduanya harus di berikan
dengan makanan yang efektif.Antasid berbasis magnesium harus dihindari
untuk mencegah keracunan magnesium (Brunner and Suddarth, 2014).
3. Antihipertensi dan kardiovaskuler agen
Hipertensi dapat dikelola dengan mengontrol volume cairan
intravaskular dan berbagai obat antihipertensi. Gagal jantung dan edema
paru mungkin juga memerlukan pengobatan dengan pembatasan cairan,
diet rendah natrium, agen diuretik, agen inotropik seperti digitalis atau

8
dobutamin, dan dialisis.Asidosis metabolik yang disebabkan dari gagal
ginjal kronis biasanya tidak menghasilkan gejala dan tidak memerlukan
pengobatan, namun suplemen natrium bikarbonat atau dialisis mungkin
diperlukan untuk mengoreksi asidosis jika hal itu menyebabkan gejala
(Brunner and Suddarth, 2014).

4. Agen antisezure
Kelainan neurologis dapat terjadi, sehingga pasien harus diamati jika
terdapat kedutan untuk fase awalnya, sakit kepala, delirium, atau aktivitas
kejang.Jika kejang terjadi, onset kejang dicatat bersama dengan jenis,
durasi, dan efek umum pada pasien, dan segera beritahu dosen
segera.Diazepam intravena (valium) atau phenytoin (dilantin) biasanya
diberikan untuk mengendalikan kejang. Tempat tidur pasien harus
diberikan pengaman agar saat pasien kejang tidak terjatuh dan mengalami
cidera (Brunner and Suddarth, 2014).
5. Eritropoetin
Anemia berhubungan dengan gagal ginjal kronis diobati dengan
eritropoetin manusia rekombinan (epogen).Pasien pucat (hematokrit
kurang dari 30%) terdapat gejala nonspesifik seperti malaise,
fatigabilityumum, dan intoleransi aktivitas.Terapi epogen dimulai sejak
hematokrit 33% menjadi 38%, umumnya meredakan gejala anemia.
Epogen diberikan baik intravena atau subkutan tiga kali
seminggu.Diperlukan 2-6 minggu untuk meningkatkan hematokrit, oleh
karena itu epogen tidak diindikasikan untuk pasien yang perlu koreksi
anemia akut.Efek samping terlihat dengan terapi epogen termasuk
hipertensi (khususnya selama awal tahap pengobatan), penigkatan
pembekuan situs askes vaskular, kejang, dan kelebihan Fe (Brunner and
Suddarth, 2014).
6. Terapi gizi
Intervensi diet pada pasien gagal ginjal kronis cukup kompleks,
asupan cairan dikurangi untuk mengurangi cairan yang tertimbun dalam
tubuh. Asupan natrium juga perlu diperhatikan untuk menyeimbangkan
retensi natrium dalam darah, natrium yang dianjurkan adalah 40-90
mEq/hari (1-2 gr natrium), dan pembatasan kalium. Pada saat yang sama,
asupan kalori dan asupan vitamin harus adekuat. Protein dibatasi karena
urea, asam urat, dan asam organik hasil pemecahan makanan dan protein
menumpuk dalam darah ketika ada gangguan pembersihan di

9
ginjal.Pembatasan protein adalah dengan diet yang mengandung 0,25 gr
protein yang tidak dibatasi kualitasnya per kilogram berat badan per hari.
Tambahan karbohidrat dapat diberikan juga untuk mencegah pecahan
protein tubuh. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan hingga
60-80 gr/ hari (1,0 kg per hari) apabila pendrita mendapatkan pengobatan
hemodialisis teratur (Price dan wilson, 2006). Asupan cairan sekitar 500
sampai 600 ml lebih banyak dari output urin selama 24 jam. Asupan kalori
harus adekuat untuk pencegahan pengeluaran energy berlebih.Vitamin dan
suplemen diperlukan kerena diet protein yang dibatasi.Pasien dialisis juga
kemungkinan kehilangan vitamin yang larut dalam darah saat melakukan
hemodialisa (Brunner and Suddarth, 2014).
7. Terapi dialisis
Hiperkalemi biasanya dicegah dengan memastikan dialisis yang
memadai, mengeluarkan kalium dan pemantauan seksama terhadap semua
obat-obatan baik peroral maupun intravena. Pasien harus diet rendah
kalium. Kayexalate, resin kation terkadang diberikan peroral jika
diperlukan.Pasien dengan peningkatan gejala kronis gagal ginjal
progresif.Dialisis biasanya dimulai ketika pasien tidak dapat
mempertahankan gayahidup yang wajar dengan pengobatan konservatif
(Brunner and Suddarth, 2014).
E. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada gagal ginjal kronik (Padila,2012).
1. Hiperkalemia
2. Perikarditis, peradanganyang terjadi pada pelapisan pelindung jantung
(efusi pericardial dan tamponade jantung)
3. Hipertensi akibat beban jantung yang bekerja berat untuk memompa darah
4. Anemia meningkat Hb menurun
5. Penyakit tulang
F. Manifestasi Klinis
Menurut Muhammad (2012), manifestasi klinis gagal ginjal kronik adalah
sebagai berikut:
a. Gangguan pada system gastrointestinal
1. Anoreksia, nausea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan
metabolisme protein didalam usus, terbentuknya zat-zat toksik akibat

10
metabolisme bakteri usus seperti ammonia dan metal gaunidin, serta
sembabnya mukosa
2. Fetor uremic disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur
diubah oleh bakteri di mulut menjadi ammonia sehingga nafas berbau
ammonia
3. Cegukan (hiccup) sebabnya yang pasti belum dikatahui
b. Gangguan system hematologic dan kulit
1. Anemia karena kekurangan produksi eritropoetin
2. Kulit pucat dan kekuningan akibat anemia dan penimbunan urokrom
3. Gatal-gatal akibat toksis uremic
4. Trombositopenia (penurunan kadar trombosit dalam darah)
5. Gangguan fungsi hati (fagositosis dan kematosis berkurang)
c. System saraf
1. Restless leg syndrome
Klien merasa pegal pada kakinya sehingga selalu digerakkan
2. Burning feet syndrome
Klien merasa semutan dan seperti terbakar, terutama di telapak kaki
3. Ensefalopati matabolik
Klien tampak lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi, tremor,
mioklonus, kejang
4. Miopati
Klien tampak mengalami kelemahan dan hipotrofi otot-otot terutama
otot-otot ektremitas proximal
d. System kardiovaskuler
1. Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam
2. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi pericardial,
penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan
gagal jantung akibat penimbunan cairan
3. Gangguan irama jantung akibat aterosklerosis dini, gangguan elektrolit
dan klasifikasi metastatic
4. Edema akibat penimbunan cairan

11
e. System endokrin
1. Gangguan seksual/libido: fertilisasi dan penurunan seksual pada laki-
laki serta gangguan menstruasi pada wanita
2. Gangguan matebolisme glukosa retensi insulin gan gangguan sekresi
insun
G. Klasifikasi
Menurut Wijaya & Putri (2013) dalam buku Keperawatan Medikal
Bedah, gagal ginjal kronik dibagi menjadi 3 stadium yaitu :
1. Stadium 1

Pada stadium 1, didapati ciri yaitu menurunnya cadangan ginjal, pada


stadium ini kadar kreatinin serum berada pada nilai normal dengan
kehilangan fungsi nefron 40 sampai 75%. Pasien biasanya tidak
menunjukkan gejala khusus, karena sisa nefron yang tidak rusak masih
dapat melakukan fungsi–fungsi ginjal secara normal.
2. Stadium 2

Pada stadium 2, terjadi insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75%


jaringan telah rusak, Blood Urea Nitrogen(BUN) dan kreatinin serum
meningkat akibatnya ginjal kehilangan kemampuannya untuk
memekatkan urin dan terjadi azotemia.
3. Stadium 3

Gagal ginjal stadium 3, atau lebih dikenal dengan gagal ginjal stadium
akhir. Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea
Nitrogen) akan meningkat dengan menyolok sekali sebagai respon
terhadap GFR (Glomerulo Filtration Rate) yang mengalami penurunan
sehingga terjadi ketidakseimbangan kadar ureum nitrogen darah dan
elektrolit sehingga pasien diindikasikan untuk menjalani terapi dialisis
atau bahkan perlu dilakukan transplantasi ginjal.

12
BENGKAK
SKENARIO 1

Tn, M. dirawat di ruangn interna dengan keluhan dengan bengkak pada


ekstermitas bawah. Pada pemeriksaan fisik di temukan konjungtiva pucat dan
kulit menghitam. Tanda vita TD : 150/110 mmHg, Pernapasan 22 kali/ menit,
Nadi 80 kali/menit, Suhu 370C. hasil pemeriksaan laboratorium natrium + 147
mmol/L, Kalium = 6 mmol/L, Ureum = 53 mg/dl, Kreatinin = 2,1 mg/dl.

NAMA: KELOMPOK: 3

1. Ramdan Hunowu
2. Nurlin Arsyad
3. Susfianti R Asala
4. Widya Puspa Molou
5. Safira Pagau
6. Arawindah Prameswari
7. Ilman Asman
8. Imelda Saskia
9. Fitrianingsih Laiya

NIM : TUTOR :

LEMBAR KERJA MAHASISWA

1. KLARIFIKASI ISTILAH-ISTILAH PENTING

13
1. Bengkak :
Edema merupakan pembengkakan lokal yang dihasilkan oleh cairan dan
beberapa sel yang berpindah dari aliran darah ke jaringan interstitial (Robbins
et al, 2015)
2. Ekstremitas Bawah :
Pada tubuh manusia ekstremitas atas dan bawah masing-masing disebut engan
dan kaki. Lengan dan kaki terhubung ke batang tubuh. Banyak hewan
menggunakan ekstremitas untuk bergerak, seperti berjalan, berlari dan
memanjat (Sridiyanti, 2017)
3. Konjungtiva :
Konjungtiva merupakan selaput lendir tipis yang melapisi permukaan dalam
kelopak mata dan permukaan anterior mata.Selain berfungsi sebagai
pelindung, konjungtiva memungkinkan kelopak mata untuk bergerak dengan
mudah(Vaugan, 2011).
4. TD :
Tekanan darah adalah ukuran seberapa kuatnya jantung memompa darah ke
seluruh tubuh anda. Agar kinerja tubuh maksimal, anda harus memiliki
tekanan darah yang normal. Normalnya tekanan darah adalah sebagai berikut:
normalnya tekanan darah 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg(Dermawan,
2012)
Nilai Normal tekanan darah menurut WHO
Bayi : 70 – 90 / 50 mmHg
Anak : 80– 100 / 60 mmHg
Remaja : 90 – 110 / 66 mmHg
Dewasa Muda : 110 – 125 / 60 – 70 mmHg
Dewasa Tua : 130 –150 / 80 – 90 mmHg

5. RR/respirasi rate :
Tingkat pernapasan seseorang adalah jumlah napas yang Anda ambil per
menit.Tingkat respirasi normal untuk orang dewasa saat istirahat adalah 12

14
hingga 20 napas per menit.Tingkat respirasi di bawah 12 atau lebih dari 25
napas per menit saat istirahat dianggap tidak normal. (Nurse I,2012)
Jumlah pernapasan seseorang adalah:
a) Bayi : 30 – 40 kali per menit
b) Anak : 20 – 50 kali per menit
c) Dewasa : 16 – 24 kali per menit
6. Nadi :
Denyut nadi adalah suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah di
pompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba disuatu tempat dimana ada
arteri melintas (Nurse I,2012)
a. Bayi usia 1 tahun : 100-160 kali/menit
b. Anak usia 1-10 tahun : 70-120 kali/menit
c. Anak usia 11-17 tahun : 60-100 kali/menit
d. Dewasa : 60-100 kali/menit
7. Suhu :
Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat.Dapat
pula dikatakan sebagai ukuran panas atau dinginnya suatu benda. Sedangkan
dalam bidang termodinamika suhu adalah suatu ukuran kecenderungan bentuk
atau sistem untuk melepaskan tenaga secara spontan.Dalam dunia kesehatan,
suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh panas
tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.Pemeriksaan suhu
tubuh termasuk dalam tolak ukur utama untuk mengetahui keadaan pasien dan
diagnosa. Sehingga, kemampuan pengukuran suhu tubuh sangatlah penting
bagi tenaga kesehatan dibidang apapun (Nurse I,2012)Suhu normal anak :
36,3 – 37,7 ℃
Suhu normal bayi : 36,1 – 37,7 ℃
Suhu normal dewasa : 36,5 – 37,5 ℃
8. Natrium :

15
natrium normal dalam tubuh adalah antara 135-145 m(mEq/L ). Kadar
natrium darah dikatakan rendah atau mengalami hiponatremia jika kadar
natrium darah dibawah 135 mEq/L.(Farida,2009)
9. Kalium
Kalium adalah mineral penting yang disebut sebagai elektrolit.Sebagai
elektrolit, kalium berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan
dalam tubuh dan mengendalika tekanan darah.
Nilai normal kalium :
Pada orang dewasa berkisar antara 3,5-5 mEq/L atau 3,5-5 mmol/L.(Aris,
2013)
10. Ureum
Ureum adalah suatu molekul kecil yang mendifusi ke dalam cairan ekstrasel,
tetapi pada akhirnya dipekatkan dalam urin dan diekskresi. Nilai normal 8-20
mg/dL(Widman, 2011)
11. Kreatinin
Creatinin adalah prodeuk limbah kimia hasil metabolisme atau yang
digunakan selama kontraksi.Kreatinin di hasilkan oleh kreatin, yakni sebuah
molekul pnting dalam otot yang bertugas dalam memproduksi energi.
Nilai normal bagi pria dewasa adalah sekitar 0,6-1,2 mg/dL, sementara wanita
dewasa 0,5-1,1 mg/dL.(Maylina,2010)

2. KATA KUNCI / PROBLEM KUNCI


1. Bengkak pada ektremitas bawah
2. Konjungtiva Pucat
3. Kulit Menghitam
4. TD : 150/110 mmHg
5. Pernapasan 22 kali/Menit,
6. Natrium = 147 mmol/L
7. Kalium=6 mmol/L
8. Ureum= 53 mg/dl

16
9. Kreatinin = 2,1 mg/dl .

17
3. MIND MAP

BENGKAK
Nefritis
Gagal Ginjal Akut
Nefritis disebut juga Acute Kidney Injury (AKI)
radang ginjal, adalah adalah penurunan cepat
kerusakan (dalam jam hingga minggu)
padaginjalterutama laju filtrasi glomerulus (LFG)
bagianglomerulus ginjal Gagal Ginjal Kronik yang umumnya berlangsung
akibat infeksi kuman yang reversibel, diikuti kegagalan
umumnya dari bakteri Gagal ginjal kronik adalah kegagalan ginjal untuk mengekskresi sisa
streptococcus.Akibatnya fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme nitrogen, dengan/
seseorang dapat metabolisme serta keseimbangan cairan tanpa gangguan keseimbangan
menderita uremia atau dan elektrolit akibat destruksi struktur cairan dan elektrolit
edema. ginjal yang progresif dengan maninfestasi
penumpukan sisa metabolit (toksik Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis uremik) di dalam darah (Digiulio,  Berkurangnya produksi
Jackson, dan Keogh, 2014). urine.
 Uremia
Manifestasi Klinis  Mual dan muntah.
 Edema  Edema (bengkak)
 Hipertensi  Nafsu makan berkurang.
 Kulit Menghitam
 Nyeri Perut  Bau napas menjadi tidak
 Hipertensi
 Anemia sedap.
 Kelelahan,
 pucat
 Sesak.
 (anemia)  Tingginya tekanan darah.
 Kulit terasa gatal  Mudah lelah
 Hipertensi Sesak napas  Edema
 Mengantuk,  Penurunan kesadaran.
 tidak sadar,  Dehidrasi.
 kejang,  Kejang.
 koma  Tremor.
 Nyeri pada punggung
18
Lembar Cek List

Penyakit

NO. Tanda dan gejala

Gagal Ginjal Kronik Nefritis


Gagal Ginjal Akut

1. Bengkak Ekstremitas Bawah √ √ √

2. Konjungtiva Pucat √ - √

3. Kulit Menghitam √ - -

4. TD 150/110 mmHg √ √ √

5. Suhu Normal √ √ -

6. Natrium 147 mmol/L √ √ √

7. Kalium 6 mmol/L √ √ -

8. Ureum 53 mg/dl √ √ -

9. Kreatinin 2,1 mg/dl √ √ -

19
4. PERTANYAAN PENTING
1. Apa yang menyebabkan pembengkakan di bagian ekstremitas bawah
berdasarkan kasus di atas ?
2. Apa yang menyebabkan konjungtiva pucat dan kulit menghitam pada klien ?
3. Apa yang menjadi penyebab tekanan darah meningkat pada kasus di atas ?
4. Mengapa pada kasus di atas nilai ureum dan kreatinin mengalami peningkatan
yang besar ?
5. Mengapa terjadi peningkatan niai kalium dan natrium pada kasus di atas ?
5. JAWABAN PERTANYAAN PENTING
1. Pada keadaan obstruksi, tekanan hidrostatik dalam anyaman kapiler bagian
hulu dari obstruksi meningkat, sehingga cairan dalam jumlah abnormal
berpindah dari vaskuler ke ruang interstitial. Karena rute alternatif (yaitu
limfatik) dapat juga mengalami obstruksi, maka terjadi peningkatan volume
cairan interstitial di ekstremitas (terdapat cairan terjebak adalm ekstremitas)
yang menyebabkan edema lokal.
2. Klien mengalami kongjungtiva pucat disebabkan penurunan perfusi O2
jaringan selebral yang di akibatkan penurunan oleh sekresi hormon
eritropoitis oleh ginjal yang mendukung sumsung tulang belakang
memproduksi sel eritrosit. Penurunan produksi sel eritrosit mengakibatkan hb
dalam darah menurun sehingga oksihemoglobin dalam darah juga menurun
perfusi O2 jaringan serebral menurun menyebabkan konjungtiva pucat,
sedangkan alasan klien mengalami kulit menghitam karena klien mengalami
sindrom uremia atau ketidakmampuan tubuh mengeluarkan ureum, ginjal
tidak dapat mengsekresikan ureum maka ureum akan bercampur dengan
darah. Kemampuan ginjal dalam memfiltrasi menurun menyebabkan
penimbunan ureum, urokrom (zat pewarna urin), dan toksik tertimbun di
bawah kulit senhingga dapat menyebabkan kehitaman pada kulit (Nanda,
2015)

20
3. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, oleh
karenaitu berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan
terjadinya tekanan darah tinggi. Jika terjadi penyempitan arteri yang menuju
ke salah satu ginjalbisa menyebabkan peradangan dan cedera pada satu atau
kedua ginjal, selain itu juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
Peningkatan tekanan darah hingga melebihi ambang batas normal (hipertensi)
dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan munculnya penyakit ginjal.
Hipertensi dapat menyebakan pembuluh darah pada ginjal mengerut sehingga
aliran zat-zat makanan menuju ginjal teganggu dan mengakibatkan kerusakan
sel-sel ginjal. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus maka sel-sel ginjal tidak
akan berfungsi lagi. (Jurnal e-Biomedik, 2016).
4. Peningkatan kadar ureum darah bergantung pada penurunan fungsi filtrasi
glomerulus. Penurunan fungsi ginjal 15% (<15 ml/mnt) mengindikasikan
adanya gagal ginjal dan uremia. Fungsi ginjal antara lain mengatur
keseimbangan asam basa, hormonal/eritropoetin dan ekskresi sampah sisa
metabolisme seperti ureum.Bila ureum tidak di keluarkan dalam tubuh dapat
terjadi sindrom uremia. Sindrom uremia ini terutama terjadi pada penderita
penyakit ginjal yang kronis dan akan memberikan manifestasi pada bagian
anggota tubuh yang lain seperti gastrointenstinal, kulit, hematologi, saraf dan
otot, kardiovaskuler, endokrin dan sistem lainnya berupa kerusakan.
Olehkarena itu peningkatan kadar ureum maupun kreatinin dapat di gunakan
sebagai indikator penting untuk mengetahui fungsi ginjal (Jurnal e-Biomedik,
2016).
5. Jika laju penyaringan darah di ginjal menurun dalam bebrapa jam atau hari
sehingga bahan-bahan sisa dalam darah tidak dapat dibuang dan produksi urin
sangat berkurang. Akibatnya terjadi peningkatan bahan-bahan sisa dalam
tubuh (urea, natrium, kalium) hal ini menyebabkan peningkatan volume
cairan pada pembukuh darah dan tubuh penderita. Penurunan eksresi Na akan
menyebabkan retensi air sehingga pada akhirmya dapat menyebabkan edema,
hipertensi. Penurunan eksresi K juga terutama bila GFR < 25 ml/menit.

21
Pembengkakan ginjal yang menyebabkan ginjal gagal mengalirkan urin
menuju kandung kemih, juga bisa membuat kadar kreatinin meningkat.
Pembengkakan ginjal bisa terjadi akibat saluran kemih tersumbat seperti
karena prostat yang membesar atau adanya batu ginjal. Akhirnya fungsi ginjal
terganggu dan membuat urin mengalir kembali keginjal.

6. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA

Untuk mengetahui spesifikasi terkait manifestasi klinis gagal ginjal kronik dengan
gangguan sistem perkemihan lainnya yang jika di lihat sekilas tidak berbeda jauh,
khususnya pada gangguan gagal ginjal akut.
7. INFORMASI TAMBAHAN
Pasien dengan gagal ginjal kronik memberikan tanda akan kulit yang mulai
menghitam. Namun terdapat spesifikasi masalah kulit terhadap pasien dengan
gagal ginjal kronik, adapun masalah kulit yang dimaksud adalah pruritus, yakni
kulit yang terasa sangat gatal (gatal hebat) pada pasien GGA.
8. KLARIFIKASI INFORMASI
Pruritus dikenal dengan pruritus uremik adalah keluhan yang umum terjadi pada
pengidap gagal ginjal kronik.Adapun pada pengidap gangguan gagal ginjal akut
pruritus ini tidak pernah menjadi keluhan.Ketika terjadi, pengidap merasakan
gatal yang hebat sehingga keinginan menggaruk menjadi tidak tertahankan.
Pada pengidap gagal ginjal kronis, pasien akan memiliki kadar ureum yang lebih
tinggi. Tingginya kadar ureum ini oleh bebrapa ahli diyakini sebagai penyebab
adanya pruritus. Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang juga
menyebabkan terjadinya pruritus. Diantaranya: xerosis (kulit kering),
meningkatnya kadar histamin pada plasma, menigkatnya konsentrasi fosfat,
kalsium, dan magnesium pada kulit, hipervitaminosis A, serta terjadinya
proliferasi pada sel mast kutan.
9. ANALISA DAN SINTESA INFORMASI
Berdasarkan hasil diskusi kami terhadap kasus yang ada, dimana Tn, M. dirawat
di ruang interna dengan keluhan bengkak pada ekstremitas bawah. Pada

22
pemeriksaan fisik ditemukan konjugtiva pucat dan kulit menghitam. Tanda Vital :
150/110 mmHg, Pernafasan 22 kali/Menit, Nadi 80 kali/menit, suhu 37 C. Hasil
Pemeriksaan Laboratorium Natrium = 147 mmol/L, Kalium=6 mmol/L, Ureum=
53 mg/dl, kreatinin = 2,1 mg/dl.

Berdasarkan informasi dan pemeriksaan yang tertera pada kasus


bahwa tanda dan gejala yang dirasakan pasien menunjukkan pasien mengalami
masalah pada system perkemihan, dimana dilihat dari tanda dan gejala yang
dirasakan oleh pasien kemudian dari hasil pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital
serta didukung dengan adanya pemeriksaan laboratorium.Berdasarakan hal
tersebut dapat timbul beberapa diagnosis banding untuk mengindentifikasilebih
lanjut sebelum ditetapkan penyakit yang dialami pasien.Diagnosis bandingnya
adalah nefritis, gagal ginjal akut, serta gagal ginjal kronik. Ketiga diagnosa
tersebut terdapat beberapa manifestasi klinis yang sesuai dengan tanda dan gejala
yang dirasakan oleh pasien serta berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan,
Namun dari ketiga diagnosa tersebut yang paling sesuai dengan tanda dan gejala
serta pemeriksaan yang didapatkan yaitu gagal ginjal kronik. Dimana dari tanda
dan gejala yang dikeluhkan pasien serta pemeriksaan fisik yang ditandai dengan
adanya keluhan dari pasien mengenai pembengkakan pada bagian ekstermitas
bawah, pada pemeriksaan fisik di temukan konjungtiva pucat dan kulit
menghitam. Adapun tanda yang menguatkan berdasarkan hasil pemeriksaan
laboratorium yakni didapatkan Natrium = 147 mmol/L, Kalium = 6 mmol/L,
Ureum = 53 mg/ dl, serta Kreatinin = 2,1 mg/dl . Berdasarkan hal tersebut maka
dapat ditetapkan diagnosa utama dari dignosa pembanding bahwa pasien
mengalami kelainan pada system perkemihan yang merujuk pada gagal ginjal
akut sebagai diagnosis utamanya.
10. LAPORAN HASIL DISKUSI

23
Pathway Glomerunefritis akut, GGA, obstruksi saluran
kemih, pielonefritis, nefrotoksin,
Penyakit sistemik (DM, hipertensi, lupus
eritomatosus, polialtritis, penyakit sel sabit,
amiloidosis)

Pengurangan massa ginjal


(kematian nefron)

Peningkatan tekanan glomelurus

Hipertrofi nefron

Hiperfiltrasi Peningkatan kalium, natrium,


ureum dan kreatinin

Kerusakan kelenjar keringat Hormone eritropoetin tidak Retensi cairan, NA dan


dan minya serta terbentuk maksimal elektrolit
metabolisme vitamin A

Produksi sel darah merah Penumpukan cairan


Peningkatan garam dalam
berkurang
tubuh
24
Penumpukan Ureum Distribusi eritrosit ke Cairan menyebar ke bagian
jaringan berkurang intertisial

Konjungtiva pucat
Penurunan kandungan air Pembengkakan pada
pada bagia epidermis kulit ekstermitas bawah

PERFUSI PERIFER TIDAK


Kulit mengering HiPERVOLEMIA
EFEKTIF

Memicu reaksi gatal


(pruritus)

Kulit menghitam

GANGGUAN INTEGRITAS
KULIT

25
2.2 Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
I. Identitas klien
Nama : Tn.M
Usia : Tidak terkaji
Jenis kelamin :Laki-laki
Agama :Tidak Terkaji
Alamat :Tidak Terkaji
Pendidikan :Tidak Terkaji
Pekerjaan : Tidak Terkaji
Suku Bangsa :Tidak Terkaji
Tanggal masuk :Tidak Terkaji
Tanggal Keluar : Tidak Terkaji
No. Registrasi :Tidak Terkaji
Diagnosa Medis : Gagal Ginjal Kronik
II. Identitas Penganggung Jawab
Nama : (tidak ditemukan)
Umur : (tidak ditemukan)
Hubungan dengan Pasien : (tidak ditemukan)
Pekerjaan : (tidak ditemukan)
Alamat : (tidak ditemukan)
III. Keluhan Utama
Pasien mengatakan bengkak pada ekstremitas bawah.
IV. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat kesehatan sekarang : tidak terkaji
b. Riwayat kesehatan terdahulu : tidak terkaji
c. Riwayat kesehatan keluarga : tidak terkaji
V. Pola Kebutuhan Dasar
1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan : tidak terkaji
2. Pola Nutrisi Metabolik
Sebelum sakit : Tidak Terkaji
Sesudah sakit : Tidak Terkaji
3. Pola Eliminasi
BAB
Sebelum sakit : Tidak Terkaji

26
Sesudah sakit : Tidak Terkaji
BAK
Sebelum sakit : Tidak Terkaji
Sesudah sakit : Tidak Terkaji
4. Pola Eliminasi dan Latihan
1) Aktivitas : Tidak Terkaji
2) Latihan : Tidak Terkaji
Sebelum sakit : Tidak Terkaji
Sesudah sakit : Tidak Terkaji
VI. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Tidak terkaji
b. Tanda Tanda Vital
Suhu badan : 37oC
Nadi : 80x/m
RR : 22x/m
TD : 150/110 mmHg
c. Keadaan Fisik
1) Kepala dan Leher : Tidak terkaji
2) Dada : Tidak terkaji
3) Paru : Tidak terkaji
4) Jantung : Tidak terkaji
5) Payudara dan Ketiak : Tidak terkaji
6) Abdomen : Tidak terkaji
7) Genetika : Tidak terkaji
8) Integument : Tidak terkaji
9) Genetalia : Tidak terkaji
10) Ekstremitas : Tidak terkaji
11) Status Mental : Tidak terkaji
12) Pengkajian Saraf Cranial : Tidak terkaji
13) Pemeriksaan Refleks : Tidak terkaji
Pola Kognitif dan Persepsi : Tidak terkaji
Pola Persepsi dan Konsep Diri: Tidak terkaji
d. Pola Tidur dan istirahat
Sebelum Sakit : Tidak terkaji
Sesudah sakit : Tidak terkaji
e. Pengkajian Psikososial : Tidak terkaji
VII. Pemeriksaan Laboratorium

27
a. Natrium : 147 mmol/L
b. Kalium : 6 mmol/L
c. Ureum : 53 mg/dl
d. Kreatinin : 2,1 mg/dl
B. Diagnosa

1. Perfusi perifer tidak efektif


2. Hipervolemia
3. Gangguan imtegritas kulit

28
Tabel PES

PROBLEM ETIOLOGI SYMPTOM

DS: - Glomerunefritis akut, GGA, obstruksi


saluran kemih, pielonefritis, nefrotoksin,
DO: Perfusi perifer tidak efektif
Penyakit sistemik (DM, hipertensi, lupus
konjungtiva klien tampak pucat, TD: eritomatosus, polialtritis, penyakit sel
150/110 MmHg. sabit, amiloidosis)

Pengurangan massa ginjal (kematian


nefron)

Peningkatan tekanan glomelurus

Hipertrofi nefron

Peningkatan kalium, natrium, ureum dan


kreatinin

29
Hormone eritropoetin tidak terbentuk
maksimal

Produksi sel darah merah berkurang

Distribusi eritrosit ke jaringan berkurang

Konjungtiva pucat

PERFUSI PERIFER TIDAK EFEKTIF

DS: klien mengeluh bengkak pada Glomerunefritis akut, GGA, obstruksi


bagian ekstermitas bagian bawah saluran kemih, pielonefritis, nefrotoksin,
Hipervolemia
DO: Penyakit sistemik (DM, hipertensi, lupus
eritomatosus, polialtritis, penyakit sel
Natrium = 147 mmol/L, Kalium=6 sabit, amiloidosis)
mmol/L, Ureum= 53 mg/dl, kreatinin =
2,1 mg/dl.

30
Pengurangan massa ginjal (kematian

nefron)

Peningkatan tekanan glomelurus

Hipertrofi nefron

Peningkatan kalium, natrium, ureum dan


kreatinin

Retensi cairan, NA dan elektrolit

31
Penumpukan cairan

Cairan menyebar ke bagian intertisial

Pembengkakan pada ekstermitas bawah

HIPERVOLEMIA

DS: - Glomerunefritis akut, GGA, obstruksi


saluran kemih, pielonefritis, nefrotoksin,
DO: Gangguan integritas kulit
Penyakit sistemik (DM, hipertensi, lupus
Kulit klien tampak menghitam, kreatinin eritomatosus, polialtritis, penyakit sel
= 2,1 mg/dl, Ureum= 53 mg/dl. sabit, amiloidosis)

Pengurangan massa ginjal (kematian

32
nefron)

Peningkatan tekanan glomelurus

Hipertrofi nefron

Hiperfiltrasi

Kerusakan kelenjar keringat dan minya


serta metabolisme vitamin A

Peningkatan garam dalam tubuh

Penumpukan Ureum

Penurunan kandungan air pada bagia

33
epidermis kulit

Kulit mengering

Memicu reaksi gatal (pruritus)

Kulit menghitam

GANGGUAN INTEGRITAS KULIT

34
No. SDKI SLKI SIKI Rasional

1. Perfusi perifer tidak efektif Perfusi Perifer Perawatan Sirkulasi Tindakan


(D.0009) (L.02011) Observasi:
1. Periksa sirkulasi Observasi :
kategori : fisiologis Setelah melakukan perifer (mis. Nadi
sub.kategori : sirkulasi 1. Untuk
pengkajian selama 3 × perifer, edema,
pengisisan kapiler, mengetahui
24 jam perfusi perifer
warna, suhu, gangguan pada
meningkat, dengan
anklecrachial index) sirkulasi
Definisi : kriteria hasil :
2. Identifikasi faktor perifer
risiko gangguan 2. Untuk dapat
Penurunan sirkulasi darah pada 1. Kekuatan nadi
sirkulasi (mis. mengethaui
level kapiler yang dapat perifer cukup Diabetes, perokok,
menggangu metabolisme tubuh. meningkat faktor yang
orang tua, hipertensi
2. Penyembuhan dan kadar kolestrol bisa
luka cukup tinggi) menyebabkan
meningkat 3. Monitor panas, risiko
Penyebab :
3. Sensasi cukup kemerahan, nyeri, atau gangguan
1) penurunan konsentrasi bengkak pada sirkulasi.
meningkat
hemoglobin ekstermitas 3. Untuk
4. Warna kulit Terapeurik:
2) peningkatan tekanan darah pucat cukup mengetahui
Gejala dan tanda mayor : 1. Hindari pemasangan
menurun adanya
infus atau
5. Edema perifer pengambilan darah inflamasi pada
Subjektif
cukup menurun diarea keterbatasan bagian
(tidak tersedia) 6. Nyeri ekstremitas perfusi ekstremitas
cukup menurun 2. Hindari pengukuran Terapeutik :
Objektif tekanan darah pada
7. Parastesia cukup

35
1. Warna kulit pucat menurun ekstremitas dengan 1. Untuk
8. Kelemahan otot keterbatasan perfusi mengurangi
cukup menurun 3. Lakukan pencegahan risiko cedera
Gejala dan tanda minor infeksi
9. Kelemahan otot pada area
4. Lakukan hidrasi
Subjektif cukup menurun Edukasi: perfusi
10. Kram otot cukup 2. Untuk
(tidak terkaji) menurun 1. Anjurkan berolahraga menghindari
11. Bruit femoralis rutin cedera menjadi
Objektif 2. Anjurkan mengecek
cukup menurun lebih buruk
air mandi untuk
1. Edema 12. Nekrosis cukup 3. Untuk
menghindari kulit
menurun terbakar menghindari
13. Pengisian kapiler 3. Anjurkan terjadinya
cukup membaik menggunakan obat infeksi
14. Akral cukup penurun tekanan 4. Untuk
membaik darah, antikoagulan, menjaga
15. Turgor kulit dan penurun kebersihan
kolesterol, jika perlu
cukup membaik kaki dan kuku
4. Anjurkan minum obat
16. Tekanan darah pengontrol tekanan 5. Untuk
sistolik cukup darah secara teratur menjaga
membaik 5. Anjurkan melakukan keseimbangan
17. Tekanan darah perawatan kulit yang cairan dalam
diastolik cukup tepat (mis. tubuh.
membaik Melembabkan kulit Edukasi :
kering pada kaki)
18. Tekanan arteri
6. Anjurkan program 1. Untuk
rata-rata cukup diet untuk
membaik memperbaiki
memperbaiki sirkulasi

36
19. Indeks ankle- (mis. Rendah lemak sirkulasi udara
brachial cukup jenuh, minyak ikan dalam tubuh
membaik omega 3) 2. Agar sirkulasi
7. Informasikan tanda
darah klien
dan gejala darurat
yang harus dilaporkan dapat kembali
(mis. Rasa sakit yang normal
tidak hilang saat 3. Untuk
istirahat, luka tidak menghindari
sembuh, hilangnya kulit terbakar
rasa) 4. Untuk
mempertahan
nilai normal
tekana darah,
antikoagulan
dan kolestrol
5. Untuk
mengontrol
tekanan darah
6. Untuk
menjaga
kelembapan
kulit
7. Untuk
memperbaiki
sirkulasi
8. Untuk

37
menghindari
terjadinya
keadaan
darurat

2. Hipervolemia (D.0022) Keseimbangan Cairan Manajemen Hipervolemia Tindakan :


(L.03020) (I.03114)
Kategori: Fisiologis Observasi :
Setelah melakukan Definisi :
Sublategori: Nutrisi dan 1. Untuk
pengkajian selama 3 ×
Cairan Mengidentifikasi dan mengelola mengetahui
24 jam keseimbangan
kelebihan volume cairan adanya tanda dan
cairan meningkat,
intravaskuler dan ekstraseluler serta gejala
dengan kriteria hasil :
Definisi : mencegah terjadinya komplikasi. hipervolemia
1. Asupan cairan 2. Untuk
Peningkatan volume cairan cukup meningkat Tindakan : mengetahui dan
intravaskuler, interstisiel, dan / 2. Output urin Observasi : mencegah
atau intraseluler. cukup meningkat penyebab
3. Membran 1. Periksa tanda dan gejala terjadinya
Penyebab: hipervolemia
mukosa lembab hipervolemia (mis. Ortopnea,
1. Gangguan mekanisme cukup meningkat dispnea, edema, JVP/CVP 3. Untuk
regulasi 4. Asupan makanan meningkat, refleks mengetahui dan
2. Kelebihan asupan cairan cukup meningkat hepatojugular positif, suara mepertahan nilai
3. Kelebihan asupan 5. Edema cukup napas tambahan) normal dari
natrium menurun 2. Identifikasi penyebab status
6. Dehidrasi cukup hipervolemia hemodinamika

38
menurun 3. Monitor status hemodinamik 4. Untuk
Gejala dan Tanda Mayor 7. Asites cukup (mis. Frekuensi jantung, mengetahui
menurun tekanan darah, MAP, CVP, intake dan otput
Subjektif :
8. Konfusi cukup PAP, PCWP, CP, CI), jika cairan
(tidak terkaji) menurun perlu 5. Untuk
9. Tekanan darah 4. Monitor intake dan output menghindari
Objektif : cukup membaik cairan terjadinya
1. Edema anasarka dan/atau 10. Frekuensi nadi 5. Monitor tanda hemokonsentrasi
edema perifer dan kekuatan hemokonsentrasi (mis. Kadar 6. Untuk
Gejala dan Tanda Minor cukup membaik natrium, BUN, hematokrit, menghindari
11. Tekanan arteri berat jenis urine) terjadinya
Subjektif : rata-rata cukup 6. Monitor tanda peningkatan peningkatan
membaik tekanan onkotik plasma (mis. tekanan onkotik
(tidak tersedia)
12. Mata cekung Kadar protein dan albumin plasma
Objektif : cukup membaik meningkat) 7. Untuk
13. Turgor kulit 7. Monitor kecepatan infus menghindari
1. Kadar HB/HT turun cukup membaik secar ketat kelebihan cairan
2. Oliguria 14. Berat badan 8. Monitor efek samping 8. Untuk dapat
3. Intake lebih banyak dari cukup membaik diuretik (mis. Ortotstatik, menangani
output (balanscairan hipovolemia, hipokalemia, terjadinya efek
positif) hiponatremia) samping diuretik
Terapeutik : Terapeutik :

1. Timbang berat badan setiap 1. Untuk


hari pada waktu yag sama mengetahui
2. Batasi asupan cairan dan apakah

39
garam terjadinya
3. Tinggikan kepala tempat penuruan berat
tidur 30-40o badan
Edukasi : 2. Untuk mencegah
kelebihan cairan
1. Anjurkan melapor jika dalam tubuh
keluaran urin <0,5 3. Untuk
mL/kg/jam dalam sehari memberikan rasa
2. Anjurkan melapor jika BB nyaman pada
bertambah >1 kg dalam klien
sehari Edukasi :
3. Ajarkan cara mengukur dan
mencatat asupan dan 1. Untuk
haluaran cairan mengetahui
4. Ajarkan cara membatasi volume urin
cairan klien
Kolaborasi : 2. Untuk
mengetahui
1. Kolaborasi pemberian adanya
diuretik peningkatan
2. Kolaborasi pengganti berat badan
kehilangan kalium akibat 3. Untuk
diuretic mengetahui
3. Kolaborasi pemberian asupan dan
continuous rena; cairan yang
replacement therapy dikonsumsi

40
(CRRT), jika perlu 4. Untuk menjaga
agar tidak terjadi
kelebihan cairan
Kolaborasi :

1. Agar diuretic
klien bisa
terpenuhi
2. Untuk
menggantikan
kalium yang
hilang akibat
diuretic

3. Gangguan Integritas Kulit / Integritas Kulit / Perawatan Integritas Kulit Tindakan :


Jaringan (D.0129) Jaringan (L.14125) (I.11353)
Observasi :
Kategori: Lingkungan Setelah melakukan Definisi :
1. Untuk mengetahui
pengkajian selama 3 ×
Sublategori: Keamanan dan Mengidentifkasi dan merawat kulit apa yang
24 jam integritas kulit /
Proteksi untuk menjaga keutuhan, menyebabkan
jaringan meningkat,
kelembaban dan mencegah gangguan pada
dengan kriteria hasil :
perkembangan mikrogranisme. integritas kulit
Definisi : 1. Elastisitas cukup Terapeutik :
meningkat Tindakan :
Kerusakan kulit (dermis dan / 1. Untuk
atau epidermis) atau jaringan 2. Hidrasi cukup menghindari

41
(membrane mukosa, kornea, meningkat Observasi : terjadinya luka
fasia, otot, tendon, tulang, 3. Perfusi jaringan dekubitus
kartilago, kapsul sendi dan/atau cukup meningkat 1. Identifkasi penyebab 2. Untuk
ligament). 4. Kerusakan gangguan integritas kulit menghindari
jaringan cukup (mis. Perubahan sirkulasi, terjadinya infeksi
Penyebab: menurun perubahan statu nutrisi, 3. Untuk menjaga
5. Kerusakan penurunan kelembaban, kelembapan kulit
1. Perubahan sirkulasi suhu lingkungan ektrem,
lapisan kulit 4. Untuk mengindari
2. Kekurangan/kelebihan penurunan mobilitas)
cukup menurun terjadinya
volume cairan
6. Nyeri cukup Terapeutik : sensitifitas pada
3. Penurunan mobilitas
menurun 1. Ubah posisi tiap 2 jam jika kulit
4. Kurang terpapar
7. Perdarahan tirah baring 5. Untuk menjaga
informasi tentang upaya
cukup menurun 2. Lakukan pemijatan pada kelembapan kulit
mempertahankan/melindu
8. Kemerahan area penonjolan tulang , jika Edukasi :
ngi integritas kulit.
cukup menurun perlu
9. Hematoma cukup 1. Untuk dapat
3. Bersihkan perineal dengan mempertahankan
menurun air hangat, terutama selama
Gejala dan Tanda Mayor 10. Pigmentasi kelembapan kulit
periode diare 2. Untuk mencegah
abnormal cukup 4. Gunakan produk berbahan
Subjektif : dehidrasi dan
menurun petrolium atau minyak pada
11. Jaringan parut kulit kering
(tidak tersedia) kulit kering
cukup menurun 3. Untuk menjaga
5. Gunakan produk berbahan kesehatan kulit
Objektif : 12. Nekrosis cukup ringan/alami dan 4. Untuk menjaga
1. Kerusakan jaringan dan / menurun hipoalergik pada kulit
13. Abrasi kornea kesahatan dan
atau lapisan kulit. sensitif kelembapan kulit
cukup menurun

42
14. Suhu kulit cukup 6. Hindari produk berbahan 5. Untuk
membaik dasar alkohol pada kulit menghindari
15. Sensasi cukup kering kerusakan pada
Gejala dan Tanda Minor membaik Edukasi : kulit
16. Tekstur cukup 6. Untuk menjaga
Subjektif : membaik 1. Anjurkan menggunakan kulit dari paparan
17. Pertumbuhan pelembab (mis. Lotion, sinar matahari
(tidak tersedia) serum)
rambut cukup 7. Untuk mencegah
membaik 2. Anjurkan minum air yang kulit kering
Objektif :
cukup
(tidak terkaji) 3. Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
4. Anjurkan meningkatkan
asupan buah dan sayur
5. Anjurkan menghindari
terpapar suhu ekstrem
6. Anjurkan menggunakan
tabir surya SPF minimal 30
berada di luar rumah
7. Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya

43
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk
mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
destruksi struktur ginjal yang progresif dengan maninfestasi penumpukan sisa
metabolit (toksik uremik) di dalam darah (Digiulio, Jackson, dan Keogh,
2014).
Kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan GGK bisa
disebabkan dari ginjal sendiri dan luar ginjal.
a. Penyebab dari ginjal : Penyakit pada saringan (glomerulus) :
glomerulonefritis, Infeksi kuman : pyelonefritis, ureteritis, Batu ginjal :
nefrolitiasis, Kista diginjal : polcytis kidney, Trauma langsung pada
ginjal, Keganasan pada ginjal, sumbatan : batu ginjal,
penyempitan/striktur.
b. Penyebab umum di luar ginjal : Penyakit sistemik: diabetes melitus,
hipertensi, kolesterol tinggi, Dyslipidermia, Infeksi di badan : TBC Paru,
sifilis, malaria, hepatitis, Preklamsi, Obat-obatan, Kehilangan banyak
cairan yang mendadak (kecelakan) dan toksik
3.2 Saran
Berdasarkan asuhan keperawatan gagal ginjal kronik kesimpulan yang
seperti diatas, memberikan saransaran bagi perawat karya tulis ilmiah ini
dapat digunakan sebagai bacaan atau referensi untuk perawat dalam
melaksanakan tindakan keperawatan yang dilakukan dan bagi klien dan
keluarga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan serta
pemanfaatan fasilitas – fasilitas kesehatan yang ada sesuai dengan kebutuhan.

1
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Muhammad. 2012. Medical Bedah Untuk Mahasiswa. Jokjakarta :


DIVA Ekspres

Brunner & Suddarth.(2014). Textbook of Medical-Surgical Nursing. Edisi ke


13.America : Woltes Kluwer Health.

Guyton and Hall. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.edisi 12. Jakarta : EGC.

Muttaqin, A dan Sari, K. 2011.Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Perkemihan.Banjarmasin: Salemba Medika

Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah. Yokyakarta: Nuha Medika

PPNI (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria


Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

Rendy, M Clevo dan Margareth TH. 2012.Asuhan Keperawatan Medikal Bedah


Penyakit Dalam.Yogyakarta : Nuha Medika

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). (2013). Riset Kesehatan Dasar


RISKESDAS 2013 : Badan Litbangkes, Depkes RI 2013

RSU Bahteramas.2018. Profil RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara


Tahun 2018.Kendari (Tidak dibublikasikan).

Wijaya&Putri. 2013. Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Dewasa Teori


dan Contoh Askep. Yogyakarta : Nuha Medika. Cetakan Pertama.

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penting bagi kita untuk mengetahui penyakit  Benigna Prostat Hiperplasia
(BPH), karena hampir setiap laki-laki dengan usia rata 50 tahun mengalami
penyakit ini. Benigna Prostat Hiperplasia adalah suatu penyakit perbesaran atau
hipertrofi dari prostate.Kata-kata hipertrofi sering kali menimbulkan kontroversi
di kalangan klinik karena sering rancu dengan hiperplasia. Hipertrofi bermakna
bahwa dari segi kualitas terjadi pembesaran sel, namun tidak diikuti oleh  jumlah
(kualitas). Namun, hiperplasia merupakan pembesaran ukuran sel (kualitas) dan
diikuti oleh penambahan jumlah sel (kuantitas). BPH sering menyebabkan
gangguan dalam eliminasi urin karena pembesaran prostat yang cenderung kearah
depan atau menekan vesika urinaria. (Prabowo & Pranata, 2014, dalam Arifin,
2015).
Salah satu tindakan dilakukan dalam penanganan BPH adalah dengan
melakukan pembedahan terbuka atau bisa disebut open prostatectomi, tindakan
dilakukan dengan cara melakukan sayatan pada perut bagian bawah sampai
simpai prostat tanpa membuka kandung kemih kemudian dilakukan pengangkatan
prostat yang mengalami pembesaran.
Di Indonesia BPH menjadi penyakit urutan ke dua setelah penyakit batu
saluran kemih, dan secara umum diperkirakan hampir 50% pria Indonesia
menderita BPH, jika dilihat dari 200 juta lebih rakyat Indonesia maka dapat di
perkirakan sekitar 2,5 juta pria yang berumur lebih dari 60 tahun menderita BPH (
Purnomo, 2008, dalam Arifin, 2015).
Oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan perawat mempunyai peran yang
penting dalam pencegahan dan pengobatan BPH.Pencegahan BPH itu sendiri
diterapkan dengan membudidayakan pola hidup sehat serta melakukan
pemeriksaan secara berkala.Tidak semua pasien yang mengalami BPH harus
menjalani operasi. Sebagai perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien BPH dalam upaya kuratif yaitu pemberian obat,pemberian antikolinergik
mengurangi spasme kandung kemih. Dalam memenuhi kebutuhan seperti
gangguan eliminasi dengan carapemantauan dalam pemasangan kateter. Dan

3
sangat diperlukan pula peran serta keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan
klien dengan post prostatektomi baik dirumah sakit maupun rumah rena ini
merupakan peran perawat sebagai Edukator. (Prabowo & Pranata, 2014, dalam
Arifin, 2015).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaiamana Konsep Medis dari BPH ?


2. Bagaiamana Konsep Keperawatan dari BPH ?

1.3 Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui Konsep Medis dari BPH.


2. Mahasiswa dapat mengetahui Konsep Keperawatan dari BPH.

4
BAB II
KONSEP MEDIS

2.1 Definisi BPH


BPH (Benign Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat, bersifat jinak di sebabkan oleh hypertropi beberapa atau semua komponen
prostat yang mengakibatkan penyumbatan uretra pars prostatika. Benigna prostate
hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang sering terjadi sebagai hasil dari
pertumbuhan dan pengendalian hormon prostate.(Nurarif & Kusuma, 2015, dalam
Nurfajri, 2017).
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah suatu penyakit perbesaran atau
hipertrofi dari prostate. BPH sering menyebabkan gangguan dalam eliminasi urin
karena pembesaran prostat yang cenderung kearah depan atau menekan vesika
urinaria. (Prabowo & Pranata, 2014, dalam Arifin, 2015).
Benigna Prostat Hiperplasia adalah pertumbuhan nodul-nodul
fibriadenomatosa majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari
bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan
kelenjar normal yang tersisa. BPH adalah penyakit yang disebabkan karena
ketidak seimbangan antara hormon estrogen dan testosteron yang diikuti dengan
pembesaran sel, sehingga terjadi pembesaran pada prostat.(Prabowo & Pranata,
2014, dalam Arifin, 2015).
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna Prostat
Hipertropi adalah pembesaran prostat yang terjadi pada usia lanjut yang di
perkirakan di sebabkan oleh ketidakseimbangan hormone dan factor usia yang
mengganggu / menyumbat systemurinaria. (Nurfajri, 2017).

2.2 Etiologi BPH

Penyebab pastinya belum diketahui secara pasti dari hiperplasia prostat,


namun faktor usia dan hormonal menjadi predisposisi terjadinya  BPH. Menurut
Muttaqin dan Sari , 2014, dalam Arifin, 2015, beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya BPH yaitu:
1. Dihydrostestosteron adalah pembesaran pada epitel dan stroma kelenjar
prostat yang disebabkan peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor andorogen.

5
2. Adanya ketidakseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen
dimana terjadi peningkatan estrogen dan penurunan testosteron sehingga
mengakibatkan pembesaran padaprostat.

3. Interaksi antara stroma dan epitel. Peningkatan epidermal growth factor


atau fibroblast growth faktor dan penurunan transforming factor beta
menyebabkan hiperplasia stroma danepitel.
4. Peningkatan estrogen menyebabkan berkurangnya kematian sel stroma
dan epitel dari kelenjarprostat.
5. Teori sel stem, meningkatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi
berlebihan pada sel stroma maupun sel epitel sehingga menyebabkan
proliferasi sel sel prostat.

2.3 Tanda dan Gejala

1. Gejala iritatif, meluputi:

a. Peningkaan frekuesnsi berkemih.

b. Nocturia (terbangun di malam hari untuk miksi)

c. Perasaan untuk ingin miksi yang sangat mendesak/tidak dapat di


tunda (urgensi).

d. Nyeri pada saat miksi (disuria).

2. Gejala obstruktif, meliputi:

a. Pancaran urin melemah.

b. Rasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak kosong dengan
baik.

c. Jika ingin miksi harus menunggulama.

d. Volume urin menurundan harus mengedan saat berkemih.

e. Aliran urin tidak lancar/terputus-putus.

f. Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urine dan


inkontinensia karena pernumpukan berlebih.

6
g. Pada gejala yang sudah lanjut, dapat terjadi azotemia (akumulasi
produk sampah nitrogen) dan gagal ginjal dengan etensi urun kronis
dan volume residu yang besar.

3. Gejala generalisata seperti keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan rasa
tidak nyaman pada epigastrik. seperti keletihan, anoreksia, mual dan muntah,
dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.

Berdasarkan keluhan dapat menjadi menjadi:

a. Derajat 1, penderita merasakan lemahnya pancara berkemih,


kencing tidak puas, frekuensi kencing bertambah terutama di malam
hari.

b. Derajat 2, adanya retensi urin mak timbulah infeksi. Penderita akan


mengeluh pada saat miksi terasa panas (disuria) dan kencing malam
bertambah hebat.

c. Derajat 3, timbulnya retensi total. Bila sudah sampai tahap ini maka
bisa timbul aliran refluks ke atas, timbul infeksi askenden menjalar
ke ginjal dan dapat menyebabkan pielonefritis, hidronefrosis.

2.4 Patofisiologi BPH


Gambar 2.1. Patofisiologi Prostat

7
Proses pembesaran prostat ini terjadi secara perlahan seiring bertambahnya
usia sehingga terjadi perubahan keseimbangan hormonal yaitu terjadi reduksi
testoteron menjadi dehidrotestoteron dalam sel prostat yang kemudian menjadi
factor terjadinya penetrasi DHT ke dalam inti sel. Hal ini dapat menyebabkan
inskripsi pada RNA sehingga menyebabkan terjadinya sintesis protein yang
kemudian menjadi hyperplasia kelenjar prostat. (Arora P. et al,2006, dalam
Nurfajri, 2017).
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, maka akan terjadi
penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat aliranurine. Keadaan
ini menyebabkan peningkatan intra vesikel. Untuk dapat mengeluarkan urine buli-
buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tekanan tersebut, sehingga akan
terjadi resistensi pada buli-buli dan daerah prostat meningkat, secara otot detrusor
menebal dan merenggang sehingga timbul sirkulasi atau devertikel. Fase
penebalan detrusor ini di sebut fase kompensasi.Apabila keadaan berlanjut, maka
detrusor menjadi lelah dan akhirya mengalami dekompensasi dan tidak mampu
lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urine. (Basuki B Purnomo, 2008).
Tekanan intravesikel yang tinggi akan di teruskan ke seluruh bagian buli-buli
tidak terkecuali pada kedua ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari
buli-buli ke ureter atau terjadi refluks-vesiko ureter. Keadaan ini jika berlangsung
terus menerus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan akhirnya
dapat terjadi gagal ginjal. (Muttaqin dan Sari,2011, dalam Arifin, 2015).

8
2.5 Pathway

2.1.1 I

2.1.2 Perubahan
keseimbangan
hiperplasia

BPH

Prostat membesar

Penyempitan lumen ureretha prast

Vu terbendung

Pengeluaran urine terhambat

Tekanan intravesika

1
Penebalan dinding Vu

Kontraksi otot destrusor dari Vu Otot-otot destrusor menebal

Kontraksi otot subrapubis Terbentuk sakula/ trabekula

Terjadi tekanan Fungsi Vu menurun

nokturia

Sulit berkemih
Dihantarkan ke medullas pinalis

Merangsang pengeluaran Dx retensi urine


histamin,serotonin,bradikinin, dan
prostaglandin

hipotalamus

Pelepasan neurotransmeter Korteks somato sensorik Nyeri di presepsikan Dx. Nyeri akut

2
2.6 Manifestasi Klinis

Menurut Aulawi, 2014, dalam Arifin, 2015, tanda gejala yang muncul
pada pasien penderita Benigna Prostat Hiperplasia adalah :
1) Kesulitan mengawali aliran urine karena adanya tekanan pada uretra
dan leher kandungkemih.

2) Aliran urine keluar yang tidaklancar.

3) Keluarnya urine bercampurdarah.


Adapun tanda dan gejala yang tampak pada pasien  dengan BPH :
1. Retensi urin.Pada awal obstruksi,biasanya pancaran urin lemah, terjadi
hesistansi, intermitensi,urin menetes, dorongan mengejan yang kuat saat
miksi dan retensi urin. Retensi urin sering dialami oleh klaien yang
mengalami BPH kronis. Secarafisiologis,vesika urinariamemiliki
kemampuan untuk mengeluarkan urin melalui kontraksi otot detrusor.
Namun obstruksi yang berkepanjangan akan membuat beban kerja
m.destrusor semakin berat dan pada akhirnya mengalami dekompensasi.

2. Kurang atau lemahnya pancaran urin dikarenakan pembesaran pada


kelenjar prostat sehingga saluran uretra terhimpit,dan membuat pancaran
urin menjadi lemah.

3. Miksi yang tidak puas, karena adanya pembesaran pada kelenjar


prostat ini membuat uretra menyempit dan maka dari itu dapat
menghambat urine yang akan dimiksikan sehinnga akan menimbulkan
rasa miksi yang tidak puas,karena ada sebagaian urin yang belum keluar
dengan tuntas.

4. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari, karena hambatan


dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama
tidur.

5. Terasa panas, nyeri atau sekitar saat miksi (disuria), karena adanya
ketidak stabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.

1
2.7 Komplikasi

Komplikasi Benigna Prostat Hiperlasia kadang-kadang dapat mengarah


pada komplikasi akibat ketidak mampuan kandung kemih dalam mengosongkan
urin. Beberapa komplikasi yang mungkin muncul antara lain :
1. Retensi kronik dapat menyebabkan reluks vesiko-ureter, hidroureter,
hidronefrosis, gagal ginjal.
2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi.
Karena produksi urin terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak lagi
mampu menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox
(overflow incontinence ). Ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak.
3. Hernia atau hemoroid. Hal ini dapat terjadi karena kerusakan traktus
urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus mengejan pada miksi yang meningkatkan pada tekanan intra abdomen
yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid.
4. Kerena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya
batu.

2.8 Penatalaksanaan.
1. Observasi (Wachfull Waiting)
Biasanya di lakukan pada pasien dengan keluhan ringan, nasehat yang di
berikan yaitu mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi
nocturia, menghindari obat-obatan dekongestan, mengurangi minum kopi dan
tidak di perbolehkan minumalcohol.
2. Terapimedikamentosa
Penghambat andrenergic alfa, contoh : prazosin, doxazosin, terazosin,
alfluzosin.
3. Penghambat enzim 5 alfa reduktasi, contoh : firasterid(proscar)
4. Fototerapi
Pengobatan fototerapi yang ada di Indonesia antara lain : eviprostat.
Substansinya misalnya pygeum africsnium, sawpalmetto; serenoa repelus.
5. Terapibedah

2
a. TURP
b. TUIP
c. Prostatektomiterbuka
6. Terapi invasiveminimal
a. TUMT (Trans Urethral Micro webThermotheraphy)
b. Dilatasi balon trans uretra(TUBD)
c. High intensity focusultrasound
d. Ablasi jarum trans uretra dan stentprostat

MODUL II
KENCING TERPUTUS

SKENARIO 2

Tn. N berusia 61 Tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri


dibagian perut bawah,nyeri semakin bertambah saat klien buang air
kecil.Saat dikaji klien mangatakan bahwa 2 bulan terakhir klien sering
mengalami nokturia perasaan ingin kencing sulit untuk ditahan.Selain
itu klien juga mengeluh saat buang air kecil harus mengejan dan tidak
lancar. Hasil pemeriksaan fisik,TD : 130/90 mmHg, HR : 88x/m,RR :
24x/m,SB : 37,5°C. Perut bagian bawah membesar dan sangat nyeri.

1) KLARIFIKASI ISTILAH-ISTILAH PENTING


a. Nokturia
Nokturia adalah suatu kondisi buang air kecil pada tengah malam hari
secara terus-menerus, yang disebabkan oleh gaya hidup atau kondisi
medis.
b. Tekanan darah
Tekanan darah adalah ukuran seberapa kuatnya jantung memompa darah
ke seluruh tubuh anda. Agar kinerja tubuh maksimal, anda harus memiliki

3
tekanan darah yang normal. Normalnya tekanan darah adalah sebagai
berikut: normalnya tekanan darah 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg
(Dermawan, 2012)
Nilai Normal tekanan darah menurut WHO
Bayi : 70 – 90 / 50 mmHg
Anak : 80– 100 / 60 mmHg
Remaja : 90 – 110 / 66 mmHg
Dewasa Muda : 110 – 125 / 60 – 70 mmHg
Dewasa Tua : 130 –150 / 80 – 90 mmHg
c. Nadi
Denyut nadi adalah suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah di
pompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba di suatu tempat dimana
ada arteri melintas (Sandi, 2016).
Nilai Normal denyut nadi menurut WHO:
Bayi : 120 – 130 kali per menit
Anak : 80 – 90 kali per menit
Dewasa : 70 – 80 kali per menit
Lansia : 60 – 70 kali per menit
d. Pernapasan
Pernapasan merupakan proses pertukaran udara di dalam paru. Pertukaran
udara yang terjadi adalah masuknya oksigen kedalam tubuh ( inspirasi )
serta keluarnya karbondioksida ( ekspirasi ) sebagai sisa dari
prosesoksidasi ( Syaifuddin, 2016 )
Nilai normal nadi menurut WHO : 20 sampai 24 kali/menit
e. Suhu
Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat.
Dapat pula dikatakan sebagai ukuran panas atau dinginnya suatu benda.
Sedangkan dalam bidang termodinamika suhu adalah suatu ukuran
kecenderungan bentuk atau sistem untuk melepaskan tenaga secara
spontan.Dalam dunia kesehatan, suhu tubuh adalah perbedaan antara
jumlah panas yang diproduksi oleh panas tubuh dan jumlah dan jumlah
panas yang hilang ke lingkungan luar. Pemeriksaan suhu tubuh termasuk

4
dalam tolak ukur utama untuk mengetahui keadaan pasien dan diagnose.
Sehingga, kemampuan pengukuran suhu tubuh sangatlah penting bagi
tenaga kesehatan dibidang apapun (Liana, 2012).
Nilai normal suhu WHO : Normal : 36 – 37,50C
2) KATA KUNCI
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Nyeri dibagian perut bawah
d. Nyeri semakin bertambah saat klien buang air kecil
e. Nokturia
f. Kencing sulit untuk ditahan
g. Mengejan dan tidak lancar saat buang air kecil
h. Perut bagian bawah membesar dan sangat nyeri
3) MIND MAP

BPH

GGA Kencing Terputus ISK

Nefrolitiasis

Tanda dan BPH ISK GGA NEFROLITIA


Gejala SIS

Nyeri
bertambah
√ √ √ √
terlebih pada
saat berkemih

Nokturia √ x √ x

Sulit √ √ √ √

5
Berkemih

TD Normal √ √ X x

Nadi Normal √ √ X √

RR Normal √ √ X √

SB Normal √ x X x

Perut bawah √ √ X x
membesar

4) PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
a. Mengapa pada kasus diatas pasien mengeluh rasa nyeri dibagian perut
bawah?
b. Mengapa pada kasus diatas pasien buang air kecil harus mengejan dan
tidak lancar?
c. Mengapa pada kasus diatas pasien mengalami nokturia?
d. Mengapa perut bagian bawah pasien membesar pada kasus diatas ?
5) JAWABAN PERTANYAAN
a. Rasa sakit pada perut bagian bawah tidak selalu berkaitan dengan organ
reproduksi. Rasa sakit juga bisa ditimbulkan karena adanya infeksi pada
organ non-reproduksi, seperti tulang panggul, kandung kemih, atau usus
besar. Nyeri dibagian perut bawah penyebabnya yaitu:
1) Cedera
2) Penyakit Crohn
3) Gangguan usus
4) Radang usus buntu
5) Radang kandung kemih
6) Infeksi ginjal
7) Batu ginjal
8) Penyakit menular seksual, seperti gonore atau sifilis
9) Divertikulitis

6
10) Patah tulang panggul.

b. Buang air kecil melibatkan kombinasi proses yang sadar (volunter) dan
tidak sadar (involunter). Normalnya, bila urin sudah mengisi penuh
kandung kemih, regangan pada otot kandung kemih akan diteruskan
sebagai signal ke otak untuk merelaksasi otot sfingter ureter eksterna.
Beberapa kemungkinan yang bisa menyebabkan keluhan seperti ini di
antaranya yakni:
1) Pembesaran prostat, misalnya karena BPH (benign prostatic
hyperplasia), prostatitis, kanker prostat
2) Batu kandung kemih, batu ginjal
3) Infeksi kandung kemih, infeksi ginjal
4) Tumor lain yang mendesak saluran kemih
5) Gangguan syaraf panggul, misalnya karena stroke, cidera panggul,
diabetes, dan sebagainya

c. Nokturia adalah suatu kondisi buang air kecil pada tengah malam hari


secara terus-menerus, yang disebabkan oleh gaya hidup atau kondisi
medis. Secara teknis, pada waktu tidur, tubuh memproduksi sedikit urin di
mana urin tersebut lebih pekat, sehingga sebagian orang tidak perlu
bangun di malam hari. Gejala yang ditimbulkan oleh nokturia adalah
produksi urin yang berlebihan, frekuensi buang air kecil yang sering, dan
merasa ingin buang air kecil, namun urin yang dikeluarkan sedikit.
Berikut ini adalah berbagai macam kondisi yang berhubungan dengan
kesehatan yang dapat menyebabkan nokturia:
1) Sleep apnea
Sekitar 50% dari penderita sleep apnea mengalami ingin buang air
pada tengah malam hari. Penderita gangguan tidur ini mengalami
masalah pada penapasan. Ketika penderita mengupayakan dengan
keras bernapas melawan saluran pernapasan yang tertutup, otot jantung
meregang, sehingga menghasilkan hormon atrial natriuretic peptide.
Hal inilah yang menyebabkan peningkatan produksi urin.
2) Gagal jantung kongestif atau lemah jantung

7
Ketidakmampuan memompa jantung secara normal, ditambah
gravitasi, menyebabkan cairan menumpuk di kaki  pada siang hari.
Sedangkan pada malam hari, cairan di luar pengaruh gravitasi dan
memasuki aliran darah yang menyebabkan produksi urin meningkat.
3) Diabetes
Pada malam hari, terjadi peningkatan glukosa pada ginjal, sehingga
menarik banyak cairan ke dalam urin. Hal ini dapat meningkatkan
pembentukan urin sehingga akan terjadi gangguan buang air kecil pada
malam hari.
4) Bertambahnya usia
Pertambahan usia dikaitkan dengan berkurangnya kapasitas kandung
kemih. Hormon antidiuretik yang diproduksi juga mulai berkurang,
padahal hormon ini yang dapat menahan cairan tubuh. Otot kandung
kemih pun menjadi lemah, sehingga urin menjadi sulit untuk ditahan di
kandung kemih.
5) Obat-obatan
Penggunaan obat seperti hydrochlorothiazide atau furosemide (Lasix)
juga dapat menjadi menyebab nokturia. Terkadang orang tidak
menyadari bahwa meminum obat tekanan darah ini di malam hari,
padahal obat ini mengandung diuretik (obat yang meningkatkan
pembentukan urin). Jika memang Anda perlu mengonsumsi obat ini,
sebaiknya dilakukan pada pagi hari.
6) Permasalahan pada saraf
Parkinson yang merupakan gangguan neurodegenerative, dan multiple
sclerosis, merupakan penyakit autoimun. Keduanya melibatkan
disfungsi sistem saraf otonom, sehingga dampak yang ditimbulkan
adalah disfungsi kandung kemih yang parah dan permasalahan buang
air kecil pada malam hari.
7) Infeksi saluran kencing yang kronis dan berulang
Gejala dari infeksi saluran kencing adalah demam, sensasi panas ketika
buang air kecil, dan frekuensi buang air kecil yang terus-menerus.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang berkembang di saluran

8
kencing. Untuk mengetahui Anda terinfeksi atau tidak, sebaiknya
periksakan ke dokter.
8) Obesitas
Belum ditemukan penelitian yang akurat apakah obesitas dapat
menyebabkan kondisi nokturia, tetapi obesitas abdominal selalu
dikaitkan dengan peningkatan buang air kecil pada tengah malam hari.
9) Kehamilan
Nokturia juga bisa terjadi karena gejala kehamilan. Gejala ini dapat
ditemui di awal masa kehamilan. Tetapi semakin bertambahnya usia
kehamilan, semakin berkurang intensitas buang air kecil pada tengah
malam hari, sebab sudah menjadi hal yang biasa ketika rahim menekan
kemih.
10) Mengonsumsi alkohol dan kafein
Alkohol dan minuman berkafein biasanya merupakan diuretik.
Berlebihan mengonsumsinya dapat menyebabkan buang air kecil di
malam hari. Sebaiknya hindari mengonsumsinya menjelang malam, agar
tidur Anda menjadi nyenyak
d. Keluhan perut membesar sering sekali dialami oleh beberapa individu, tidak
hanya pria namun juga wanita. Keluhan yang di rasakan berupa perut bawah
membesar sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa hal mulai dari sebab
ringan ataupun masalah yang lebih serius, yaitu antara lain:
1) Penumpukan jaringan lemak yang terpusat pada perut bagian bawah.
Wanita yang mengalami kegemukan sering sekali mengeluh perut makin
membesar. Lemak memang umumnya lebih mudah menumpuk dan
terpusat di sekitar perut, termasuk perut bagian bawah.
2) Adanya massa atau tumor di jaringan lunak, misalnya lipoma yaitu
tumor yang berasal dari jaringan lemak.
3) Adanya massa atau tumor yang berasal dari organ reproduksi wanita
juga sering menyebabkan keluhan perut yang makin lama makin
membesar. Pembesaran bisa terjadi pada perut bagian bawah.

9
4) Retensi urin atau urin yang tak bisa keluar dan menumpuk di kandung
kemih atau vesica urinaria juga bisa menyebabkan keluhan perut bagian
bawah membesar.
5) Penyebab lainnya
6) TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
a. Untuk dapat mengetahui hubungan usia terhadap terjadinya benigna
prostat hyperplasia
b. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan urine pada pasien benigna prostat
hyperplasia
7) INFORMASI TAMBAHAN
a. Usia merupakan kondisi yang sangat berkaitan dengan benigna prostat
hyperplasia
b. Terdapat peningkatan leukosit, eritrosit dan protein urine pada pasien
dengan pembesaran prostat jinak namun pH dan epitel urine pasien masih
dalam nilai normal.
8) KLARIFIKASI INFORMASI TAMBAHAN
a. Usia merupakan kondisi yang sangat berkaitan dengan BPH, dimana
kejadian BPH akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya
usia.6 Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa laki-laki usia >65 tahun
memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan laki-laki usia 50 tahun.
Bahwa usia >50 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami BPH
dimana hal tersebut berhubungan dengan kelemahan umum termasuk
kelemahan pada otot detrusor dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan
karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan kemampuan buli- buli
dalam mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi karena adanya
obstruksi akibat BPH sehingga dapat menimbulkan gejala. Sesuai
pertambahan umur, kadar testosteron mulai menurun dan secara perlahan
pada umur 30 tahun dan turun lebih cepat pada umur 60 tahun keatas.5
BPH akan timbul seiring dengan bertambahnya usia, sebab erat kaitannya
dengan proses penuaan.4 Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron
semakin menurun sedangkan hormon estrogen relatif tetap. Akibatnya,
dengan testosteron yang menurun menyebabkan adaptasi sel-sel prostat

10
yang mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat
menjadi lebih besar.
(2016, hubungan usia dan kebiasaan merokok terhadap terjadinya bph di
rsud dr. H. Abdul moeloek bandar lampung tahun 2015,
http://ejurnal.malahayati.ac.id/index.php?
journal=jurmm&page=article&op=view&path%5B%5D=829&path%5B
%5D=839 diakses pada 21 maret 2019)

b. Berdasarkan kelompok umur (Tabel 1) terlihat pasien pembesaran prostat


jinak terbanyak berada pada kelompok umur 60 sampai 80. Jumlah pasien
BPH meningkat sesuai usia. Hal ini sesuai dengan penelitian autopsi
bahwa sekitar 8%, 50% dan 80% pasien BPH tedapat pada dekade ke 4, 6
dan 9.15 Namun terdapat perbedaan pada kelompok umur > 80 tahun
dimana jumlah pasien BPH paling sedikit dibandingkan kelompok umur
lainnya. Hal ini dapat terjadi karena tidak banyak orang yang mencapai
usia >80 tahun atau kunjungan ke rumah sakit pada kelompok umur
tersebut sedikit.
Hasil penelitian didapatkan 60% pasien memiliki jumlah leukosit >5/LPB
dan 40 % pasien yang memiliki jumlah leukosit pada nilai normal yaitu 0-
5/LPB. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan leukosit dalam urine
pada pasien pembesaran prostat jinak. Keadaan ini sesuai dengan
penelitian Aprilia (2010) yang didapatkan bahwa 67,86% pasien
pembesaran prostat jinak mengalami leukosituria.
Leukosituria dapat terjadi karena pada pembesaran prostat jinak akan
menyebabkan obtruksi pada kandung kemih dan uretra yang akan
menimbulkan retensi urine. Retensi urine sangat berisiko untuk
menimbulkan terjadinya infeksi saluran kemih sehingga akan
ditemukannya peningkatan leukosit pada urine pasien. Pada penelitian
Fujita et al (2016) juga didapatkan bahwa jumlah leukosit dikaitkan
dengan derajat pembesaran prostat dan gejala saluran kemih bagian
bawah.

11
Pada hasil penelitian terhadap eritrosit urine didapatkan 80% pasien
memiliki jumlah eritrosit >1/LPB dan tidak sesuai dengan nilai normal
eritrosit urine yang seharusnya hanya 0-1/LPB. Keberadaan eritrosit per
lapangan pandang besar mengindikasikan hematuria mikroskopik yang
dapat ditemukan pada beberapa gangguan urologi.
Hematuria atau adanya darah dalam urine merupakan salah satu
komplikasi dari pembesaran prostat jinak yang biasanya disebabkan oleh
keadaan hipervaskular dari pembesaran prostat yang menyebabkan
permukaan pembuluh darah prostat menjadi rapuh dan mudah terganggu
oleh aktivitas fisik.12 Hematuria dapat dilihat secara langsung pada
pemeriksaan makroskopik urine yang biasanya disebut sebagai gross
hematuria sedangkan hematuria yang hanya dapat dilihat melalui
pemeriksaan mikroskopik urine disebut microscopic hematuria. Keadaan
ini dihubungan dengan adanya kerusakan membran glomerular atau
adanya trauma vaskular disepanjang traktus urogenital.
Berdasarkan penelitian didapatkan pada hasil pemeriksaan urine seluruh
pasien dengan pembesaran prostat jinak memiliki nilai epitel positif satu
(+) terutama sel epitel gepeng atau skuamosa. Sel-sel epitel hampir selalu
ada pada urine normal dalam jumlah yang kecil.Sel epitel gepeng pada
urine menandakan adanya kontaminasi pada spesimen urine yang berasal
dari uretra atau hasil sekresi organ genital.19,20
Hasil pemeriksaan protein urine sebagian besar pasien pembesaran prostat
jinak memiliki kondisi proteinuria bahkan sebanyak 7.5% pasien memiliki
protein urine 3+. Proteinuria berat diketahui berhubungan dengan keadaan
edema, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, tromboemboli dan infeksi.
Pembesaran prostat jinak dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal
seperti penyakit ginjal kronik yang merupakan salah satu komplikasi BPH.
Tekanan intravesikal yang tinggi pada pasien BPH dapat menimbulkan
aliran balik dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter. Jika
keadaan ini terus berlanjut akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis
bahkan sampai ke gagal ginjal.4 Pada hasil penelitian terhadap derajat
keasaman urine didapatkan semua pasien dengan pembesaran prostat jinak

12
memiliki derajat keasaman urine yang berkisar antara 4.5 sampai 8. Hasil
ini menunjukkan umumnya pasien memiliki pH urine yang normal. Nilai
pH urine bervariasi dari 4.5 sampai 8.10 Pasien yang memiliki pH urine
yang lebih alkali dapat disebabkan karena adanya infeksi yang disebabkan
oleh organisme pemecah urea dan kemungkinan adanya gangguan pada
ginjal.22 SIMP
(2018, Gambaran Hasil Pemeriksaan Urine pada Pasien dengan
Pembesaran Prostat Jinak di RSUP DR. M. Djamil Padang,
http://jurnal.fk.unand.ac.id diakses 21 maret 2019)

9) ANALISA & SINTESIS INFORMASI


Tn. N berusia 61 Tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dibagian
perut bawah,nyeri semakin bertambah saat klien buang air kecil.Saat dikaji
klien mangatakan bahwa 2 bulan terakhir klien sering mengalami nokturia
perasaan ingin kencing sulit untuk ditahan.Selain itu klien juga mengeluh saat
buang air kecil harus mengejan dan tidak lancar. Hasil pemeriksaan fisik,TD :
130/90 mmHg, HR : 88x/m,RR : 24x/m,SB : 37,5°C. Perut bagian bawah
membesar dan sangat nyeri.
Menurut kelompok kami bahwa diagnose yang dapat diangkat dari kasus
diatas yaitu Retensi urin dan Nyeri akut dengan tinjauan manifestasi klinis
yaitu :
1. Nyeri dibagian perut bawah
2. nyeri semakin bertambah saat buang air kecil
3. nokturia
4. saat buang air kecil harus mengejan dan urin tidak lancar

10) LAPORAN DISKUSI

13
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
Nama : Tn. N
Umur : 61tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status pernikahan : Tidak terkaji
Agama : Tidak terkaji
Pekerjaan : Tidak terkaji
Pendidikan : Tidak terkaji
Alamat : Tidak terkaji
No. Register : Tidak terkaji
Tanggal MRS : Tidak terkaji
Diagnosa medis : BPH (Benigna Prostat Hyperplasia)
a. Penanggung Jawab
Nama : Tidak terkaji
Umur : Tidak terkaji
Jenis kelamin : Tidak terkaji
Hubungan dengan pasien : Tidak terkaji
Pekerjaan : Tidak terkaji
Alamat : Tidak terkaji
b. Keluhan Utama : Pasien mengeluh Nyeri perut bawah
terlebih pada saat berkemih
c. Riwayat kesehatan sekarang : Nyeri perut bawah terlebih pada
saat berkemih, Nokturia, dan sulit berkemih serta perut bagian
bawah membesar dan sangat nyeri
d. Riwayat kesehatan terdahulu: Tidak terkaji

14
e. Riwayat kesehatan keluarga : Tidak terkaji
f. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum : Tidak terkaji
2. TandaTanda Vital

TD : 130/90 mmHg

S : 37,50C

RR : 24x/m

N : 88x/m

3. Kepala dan rambut : Tidak terkaji


4. Mata : Tidak terkaji
5. Hidung : Tidak terkaji
6. Telinga : Tidak terkaji
7. Mulut : Tidak terkaji
8. Kuku : Tidak terkaji
9. Leher dan tenggorokan : Tidak terkaji
10. Dada dan Thoraks : Tidak terkaji
11. Abdomen : Membesar dan terasa sangat nyeri
12. Muskuloskeletal : Tidak terkaji
13. Genetalia : Tidak terkaji
14. Integumen : Tidak terkaji
15. Neurologi : Tidak terkaji
g. Pemeriksaan Laboratorium
1. Hb : Tidak terkaji
h. Identifikasi kebutuhan dasaryang mengalami gangguan

Kategori dan Sub kategori Data Subjektif dan Objektif

Fisiologis Respirasi
DO : 24x/menit
DS : -

15
Sirkulasi
DO : 130/90 mmHg
DS : -

Nutrisi dan cairan

Tidak ada masalah

Eliminasi DS :
- pasien mengeluh saat buang
air kecil harus mengejan dan
tidak lancar
DO : -

Aktivitas dan istirahat DS :


- pasien mengatakan 2 bulan
terakhir klien sering
mengalami nokturia perasaan
ingin kencing sulit untuk
ditahan
DO : -

Neurosensori
Tidak ada masalah

Reproduksi dan
Tidak ada masalah
Seksualitas

Psikologis Nyeri dan Kenyamanan DS :


- pasien mengeluh nyeri

16
dibagian perut bawah, nyeri
semakin bertambah saat klien
buang air kecil
DO :
- Perut bagian bawah
membesar

Integritas ego Tidak ada masalah

Pertumbuhan dan
perkembangan Tidak ada masalah

Perilaku Kebersihan diri


Tidak ada masalah

Penyuluhan dan pembelajaran


Tidak ada masalah

Relasional Interaksi social

Tidak ada masalah

Lingkunga Keamanan dan proteksi


n Tidak ada masalah

2. DIAGNOSA

17
a. Retensi urin b.d peningkatan tekanan uretra, blok sfingter d.d sensasi
penuh pada kandung kemih, disuria, distensi kandung kemih
b. Nyeri akut b.d retensi urin akibat penumpukan pada vesika urinaria

ANALISA DATA

Data Etiologi Symptom


DS : Idiopatik RETENSI URIN
- pasien mengeluh saat Perubahan
buang air kecil harus keseimbangan estrogen
mengejan dan tidak dan testosteron
lancar Hiperplasia
- pasien mengatakan 2
bulan terakhir klien BPH
sering mengalami
nokturia perasaan Prostat membesar
ingin kencing sulit
untuk ditahan Penyempitan lumen
DO : uretra
- Perut bagian bawah
pasien terlihat VU terbendung
membesar
- TD : 130/90 mmHg Pengeluaran urine
- RR : 24x/mnt terhambat
- HR : 88x/mnt
- Suhu : 37,50C Tekanan intra vesika
meningkat

Penebalan dinding VU

Kontraksi otot destrusor


VU

Otot-otot destrusor

18
menebal

Terbentuk
sakula/Traberkula

Fungsi VU menurun

Nokturia

Sulit Berkemih

RETENSI URIN

DS : Idiopatik NYERI AKUT


- pasien mengeluh Perubahan
nyeri dibagian perut keseimbangan estrogen
bawah, nyeri dan testosteron
semakin bertambah Hiperplasia
saat klien buang air
kecil BPH

DO : Prostat membesar
- Perut bagian bawah
pasien terlihat Penyempitan lumen
membesar uretra
- TD : 130/90 mmHg
- RR : 24x/mnt VU terbendung
- HR : 88x/mnt
- Suhu : 37,50C Pengeluaran urine
terhambat

Tekanan intra vesika

19
meningkat

Penebalan dinding VU

Kontraksi otot destrusor


VU

Kontraksi otot
suprapubis

Terjadi tekanan

Merangsang
neoreseptor

Dihantarkan ke medulla
spinalis

Merangsang
pengeluaran histamin,
serotonin, bradikinin,
dan prostaglandin

Hipotalamus

Pelepasan

20
neurotransmiter

Korteks somatosensorik

Nyeri dipersepsikan

NYERI AKUT

21
3. INTERVENSI KEPERAWATAN

SDKI SLKI SIKI RASIONAL

Retensi Urine (D.0050) Eliminasi Urine (L.04034) Kateterisasi urine Kateterisasi urine

kategori : fisiologis Definisi Definisi : Observasi

subkategori : eliminasi Pengosongan kandung kemih yang Memasukan selang 1. Agar petugas medis dapat
lengkap kateter urin ke dalam mengetahui keadaan atau
definisi : pengosongan
kandung kemih kondisi terbaru ari pasien
kandung kemih yang Kriteria Hasil
yang dirawat
tidak lengkap Tindakan
Setelah dilakukantindakan keperawatan Terapeutik
penyebab : selama 3x24 jam masalah Retensi Urine Observasi
Melakukan tindakan terapeutik yang
diharapakan menurun
1. Peningkatan 1. Periksa kondisi sesuai dengan intervensi agar pasien
dan teratasi dengan indikator:
tekanan uretra pasien (mis. dipasangkan katetar dengan prosedur
2. Kerusakan arkus 1. Sensasi berkemih membaik dari Kesadaran , yang benar dan agar pasien dapat
refleks awalnya sklala 1 menurun tanda tanda segera berkemih
3. Blok spingter menjadi skala 3 sedang. vital, daerah
4. Disfungsi 2. Distensi kandung kemih perineal,
neurologis (mis. membaik dari awalnya sklala 1 distensi

1
Trauma, penyakit meningkat menjadi skala 3 kandung Edukasi
saraf) sedang. kemih,
1. Agar pasien dapat
5. Efek agen 3. Berkemih tidak tuntas membaik inkontinensia
mengetahui tindakan apa
farmakologis dari awalnya sklala 1 meningkat urin, refleks
yang akan dilakukan
(mis. Atrophine, menjadi skala 4 cukup menurun. berkemih)
terhadap dirinya
belladona, 4. Urine menetes membaik dari Terapeutik
2. Agar pasien tidak terlalu
psikotropik, awalnya sklala 1 meningkat
1. Siapkan merasa kesakitan sehingga
antihistamin, menjadi skala 4 cukup menurun
peralatan, perlu didistraksi dengan cara
opiate) Kateterisasi urine membaik dari
bahan bahan menarik nafas dan
gejala dan tanda mayor awalnya sklala 1 mmburuk menjadi
dan ruangan menghembuskan secara
skala 4 cukup membaik.
subjektif: tindakan teratur dan perlahan
2. Siapkan pasien,
1. Sensasi penuh
bebaskan dari
pada kandung Perawatan retensi urine
pakaian bawah
kemih
dan posisikan Observasi
Objektif
dorsal
1. Agar dpat diketahui apa
1. Disuria/ anuria rekumben
penyebab dari retensi yang
2. Distensi (untuk wanita)
dialami pasien sehingga dpat
kandung kemih

2
Gejala dan tanda minor dan supine ditarik diagnose yang akurat
(untuk laki dan dapat diberikan
Subjektif
laki) oenanganan yang sesuai
1. Dribbling 3. Pasang sarung 2. Pengukuran Intake adalah
Objektif tangan suatu tindakan mengukur
4. Bersihkan jumlah cairan yang masuk ke
1. Inkontinensia
daerah perineal dalam tubuh ( asupan
berlebih
atau preposium Pengukuran Output adalah
2. Residu urin 150
dengan cairan suatu tindakan mengukur
ml atau lebih
NaCl atau jumlah cairan yang keluar
Kondisi klinis terkait
aquades dari tubuh ( haluaran )
1. Benigna prostat 5. Lakukan insersi Terapeutik
hiperplasia kateter urine
1. Agar pasien merasa nyaman
2. Pembengkakan dengan
2. Agar pasienmenjadi lebih
parineal menerapkan
mudah pada saat akan
3. Cedera medula prinsip aseptik
berkemih
spinalis 6. Sambungkan
3. maneuver crede adalah
4. Rektokel kateter urine
teknik yang digunakan untuk
Tumor disaluran kemih dengan urine

3
bag membatalkan urin dari kand
7. Isi balon ung kemihindividu yang,
dengan NaCl karena penyakit , tidak dapat
0,9 % sesuai melakukannya tanpa
anjuran pabrik bantuan. Manuver Credédila
8. Fiksasi selang
kukan dengan mengerahkan
kateter diatas
tekanan manual pada perut
simpisis atau di
di lokasi kandung kemih,
bagian paha
tepat di bawah pusar 
9. Pastikan
edukasi
kantong urine
ditempatkan 1. agar pasien dapat mengetahui
lebih rendah apa penyebab dari retensi
dari kandung urine
kemih 2. agar dapat diketahui berapa
10. Berikan label volume urin yang
waktu dikeluarkan oleh pasien
pemasangan 3. agar pasien dan juga keluarga
dapat melakukannya dengan

4
Edukasi mandiri

1. Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemasangan
katetr urine
2. Anjurkan
menarik nafas
saat insersi
selang kateter
Perawatan retensi
urine

Definisi:

Mengidentifikasi dan
meredakan kandung
kemih

Tindakan

5
Observasi

1. Identifikasi
penyebab
retensi
urine(mis.
Peningkatan
tekanan uretra,
kerusakan
arkur reflex,
disfungsi
neurologis,
efek agen
farmakologis)
2. Monitor intake
dan output
cairan
3. Monitor tingkat
distensi

6
kandung kemih
dengan
palpasi/perkusi
Terapeutik

1. Sediakan
privasi untuk
berkemih
2. Berikan
rangsangan
berkemih(mis.
Mengalirkan
air keran,
membilas
toilet, kompres
dingin pada
abdomen)
3. Lakukan
maneuver

7
crede, jika
perlu
4. Fasilitasi
berkemih
dengan interfal
yang beratur
Edukasi

1. Jelaskan
penyebab
retensi urine
2. Anjurkan
pasien atau
keluarga
mencatat
output urine
3. Ajarkan cara
melakukan
rangsangan

8
berkemih
Nyeri Akut (D. 0077) Tingkat Nyeri (l.08066) Manajemen nyeri Manajemen Nyeri

Kategori : psikologis Kriteria Hasil Definisi : Observasi

Subkategori: nyeri dan Setelah dilakukantindakan keperaw Mengidentifikasi dan 1. Mengetahui lokasi


kenyamanan atan selama 3x24 jam mengelola pengalaman nyeri, karakteristik
masalah Nyeri akut sensori atau emosional nyeri, berapa lama nyeri
Definisi : pengalaman
diharapakan menurun yang berkaitan dengan dirasakan serta kualitas dan
sensorik atau emosional
dan teratasi dengan indikator: kerusakan jaringan atau intensitas nyeri yang dirasakan
yang berkaitan dengan
fungsional dengan onset pasien untuk mengetahui
kerusasakan jaringan aktual 1. Keluhan nyeri menurun dari
mendadak atau lambat penanganan apa yang akan
atau fungsional, dengan skala 2 (cukup meningkat)
dan berintensitas ringan diberikan.
onset mendadak atau menjadi skala 4 (cukup
hingga berat dan konstan 2. Memastikan tingkat nyeri yang
lambat dan berintensitas menurun).
dirasakan pasien dan apakah
ringan hingga berat yang 2. Meringis menurun dari skala Tindakan
memerlukan penangan yang
berlangsung kurang dari 3 2 (cukup meningkat)
Observasi cepat.
bulan. menjadi skala 5 (menurun)
3. Mengetahui dan menghindari
3. Sikap protektif menurun 1. identifikasi
Penyebab : faktor yang memperberat nyeri.
dari skala 2 (cukup lokasi,
4. Dapat menyesuaikan pemberian
1. Agen pencedera meningkat) menjadi skala 5 karakteristik,

9
fisiologis(mis, (menurun). durasi, frekuensi, manajemen nyeri sesuai dengan
inflamasi, 4. Kesulitan Tidur menurun kualitas, keyakinan pasien sehinnga
iskemia,neoplasma) dari skala 2 (cukup intensitas nyeri. manajemen nyeri akan berjalan
2. Agen pencedera meningkat) menjadi skala 5 2. Identifikasi skala efektif.
kimiawi(mis, terbakar, (menurun) nyeri 5. Memastikan terapi untuk
bahan kimia iritan) 5. TTV (Tekanan darah, 3. Identifikasi mengatasi nyeri yang diberika
3. Agen pencedera frekuensi nadi, pola nafas) respon nyeri dan efektif atau perlu ditambahkan.
fisik(mis. Abses, menurun dari skala 2 (cukup non verbal 6. Mencegah agar tidak akan timbul
amputasi, terbakar, memburuk) menjadi skala 5 4. Identifikasi faktor masalah lain yang akan di
terpotong, mengangkat (membaik) yang rasakan oleh pasien sehinnga
berat, prosedur operasi, 6. Fokus menurun dari skala 2 memperberat dan tindakan berfokus pada
trauma, latihan fisik (cukup memburuk) menjadi memperingan manajemen nyeri.
berlebihan) skala 5 (membaik) nyeri Terapeutik.
Gejala dan tanda mayor Nafsu makan menurun dari skala 2 5. Identifikasi
1. Agar pasien tidak akan
(cukup memburuk) menjadi skala 4 pengetahuan dan
Subjektif : ketergantungan pada obat.
(cukup membaik) keyakinan
2. Memastikan pasien merasakan
1. Mengeluh nyeri tentang nyeri
nyaman sehingga nyeri yang
Objektif : 6. Identifikasi
pasien rasakan tidak semakin
pengaruh budaya
1. Tampak meringis

10
2. Bersikap protektif terhadap respon parah.
(misalnya . nyeri 3. Memastikan kebutuhan istrahat
waspada, posisi 7. Identifikasi dan tidur pasien terpenuhi.
menghindari nyeri) pengaruh nyeri 4. Agar tindakan manajemen nyeri
3. Gelisah pada kualitas yang diberikan tepat dan sesuai
4. Frekuensi nadi hidup saran sehingga nyeri yang di
meningkat 8. Monitor rasakan akan teratasi.
5. Sulit tidur keberhasilan Edukasi
Gejala dan tanda minor terapi
1. Dengan mengetahui penyebab,
komplementer
Subjektif (tidak tersedia) periode, dan pemicu nyeri maka
yang sudah
pasien dapat mengatasi nyerinya
Objektif : diberikan
sendiri.
9. Monitor efek
1. Tekanan darah 2. Agar pasein dapat memilih
samping
meningkat strategi untuk meredeakan nyeri
penggunaan
2. Pola nafas berubah yang ia rasakan sendiri sesuai
analgetik
3. Nafsu makan keinginan dan kenyamanannya.
Terapeutik
berubah 3. Agar pasein dapat mengetahui
4. Proses berfikir 1. Berikan tehnik terapi farmakologi (obat-obatan)
terganggu

11
5. Menarik diri non farmakologis yang dapat digunakan selain non
6. Berfokus pada diri untuk farmakologi jika terapi non
sendiri mengurangi rasa farmakologi tidak berhasil.
7. Diaforesis nyeri( mis, Kolaborasi
Kondisi klinis terkait TENS, hipnosis,
Memastikan Terapi analgetik yang
akupresure, terapi
1. Kondisi diberikan efektif dengan melakukan
musik,
pembedahan kolaborasi.
biofeedback,
2. Cedera traumatis
terapi pijat,
3. Infeksi
aroma terapi,
4. Syndrom koroner
tehnik imajinasi
akut
terbimbing,
glaukoma
kompres
hangat/dingin,
terapi bermain)
2. Kontrol
lingkungan yang
memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu

12
ruangan,
pencahayaan ,
kebisingan)
3. Fasilitasi istrahat
dan tidur
4. Pertimbangkan
jenis dan sumber
nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi

1. Jelaskan
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
3. Anjurkan

13
memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan
mengguanakan
analgetik secara
tepat
5. Ajarkan tehnik
non farmakologis
untuk
mengurangi rasa
nyeri
Kolaborasi

Kolaborasi pemberian
analgesik,jika perlu

4. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

14
Hari/tanggal Diagnosis Implementasi Evaluasi

Retensi Urine (D.0050) Kateterisasi urine Subjektif : Klien Mengatakan


aktivitas berkemihnya mulai
Definisi :
stabil
Memasukan selang kateter urin ke dalam
kandung kemih Objektif: Klien Terlihat Mulai
Membaik
Tindakan
Assessment: Retensi Urine
Observasi
pasien mulai membaik
1. Meeriksa kondisi pasien (mis.
Planning: hentikan
Kesadaran , tanda tanda vital, daerah
intervensi
perineal, distensi kandung kemih,
inkontinensia urin, refleks berkemih)
Terapeutik

1. Menyiapkan peralatan, bahan bahan


dan ruangan tindakan

15
2. Mrnyiapkan pasien, bebaskan dari
pakaian bawah dan posisikan dorsal
rekumben (untuk wanita) dan supine
(untuk laki laki)
3. Memasang sarung tangan
4. Membersihkan daerah perineal atau
preposium dengan cairan NaCl atau
aquades
5. Melaakukan insersi kateter urine
dengan menerapkan prinsip aseptik
6. Menyambungkan kateter urine dengan
urine bag
7. Mengisi balon dengan NaCl 0,9 %
sesuai anjuran pabrik
8. Memfiksasi selang kateter diatas
simpisis atau di bagian paha
9. Memastikan kantong urine
ditempatkan lebih rendah dari
kandung kemih

16
10. Memberikan label waktu pemasangan
Edukasi

1. Menjelaskan tujuan dan prosedur


pemasangan katetr urine
2. Menganjurkan menarik nafas saat
insersi selang kateter
Perawatan retensi urine

Definisi:

Mengidentifikasi dan meredakan kandung


kemih

Tindakan

Observasi

1. Mengidentifikasi penyebab retensi


urine(mis. Peningkatan tekanan uretra,
kerusakan arkur reflex, disfungsi
neurologis, efek agen farmakologis)

17
2. Memonitor intake dan output cairan
3. Memonitor tingkat distensi kandung
kemih dengan palpasi/perkusi

Terapeutik

1. Menyediakan privasi untuk berkemih


2. Memberikan rangsangan
berkemih(mis. Mengalirkan air keran,
membilas toilet, kompres dingin pada
abdomen)
3. Melakukan maneuver crede, jika perlu
4. Memfasilitasi berkemih dengan
interfal yang beratur
Edukasi

1. Menjelaskan penyebab retensi urine


2 Menganjurkan pasien atau keluarga
mencatat output urine
3 Mengajarkan cara melakukan
rangsangan berkemih

18
Nyeri Akut (D. 0077) Manajemen nyeri Subjektif : Klien Mengatakan
nyerinya mulai membaik
Definisi :
Objektif: Klien Terlihat Mulai
Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman
sensori atau emosional yang berkaitan dengan Membaik
kerusakan jaringan atau fungsional dengan Assessment: kondisi pasien
onset mendadak atau lambat dan berintensitas
mulai membaik
ringan hingga berat dan konstan
Planning: hentikan
Tindakan
intervensi
Observasi

1. Mengidentifikasi lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri.
2. Mengidentifikasi skala nyeri
3. Mengidentifikasi respon nyeri dan non
verbal
4. Mengidentifikasi faktor yang

19
memperberat dan memperingan nyeri
5. Mengidentifikasi pengetahuan dan
keyakinan tentang nyeri
6. Mengidentifikasi pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
7. Mengidentifikasi pengaruh nyeri pada
kualitas hidup
8. Memonitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah diberikan
9. Memonitor efek samping penggunaan
analgetik
Terapeutik

1. Memberikan tehnik non farmakologis


untuk mengurangi rasa nyeri( mis, TENS,
hipnosis, akupresure, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat, aroma terapi,
tehnik imajinasi terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi bermain)

20
2. Mengoontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis. Suhu
ruangan, pencahayaan , kebisingan)
3. Memasilitasi istrahat dan tidur
4. Memertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi

1. Menjelaskan penyebab, periode, dan


pemicu nyeri
2. Menjelaskan strategi meredakan nyeri
3. Menganjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
4. Menganjurkan mengguanakan
analgetik secara tepat
5. Mengajarkan tehnik non farmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi

21
Mengkolaborasikan pemberian analgesik,jika
perlu

22
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
BPH (Benign Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat, bersifat jinak di sebabkan oleh hypertropi beberapa atau semua komponen
prostat yang mengakibatkan penyumbatan uretra pars prostatika. Benigna prostate
hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang sering terjadi sebagai hasil dari
pertumbuhan dan pengendalian hormon prostate.(Nurarif & Kusuma, 2015, dalam
Nurfajri, 2017).

Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah suatu penyakit perbesaran atau


hipertrofi dari prostate. BPH sering menyebabkan gangguan dalam eliminasi urin
karena pembesaran prostat yang cenderung kearah depan atau menekan vesika
urinaria. (Prabowo & Pranata, 2014, dalam Arifin, 2015).

4.2 Saran

Lebih teliti dalam pengkajian dan analisa data, karena yang menjadi acuan
dalam menentukan diagnosa Keperawatan adalah analisa data sebelum
menentukan rencana tindakannya.

1
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Nurfajri. 2017. Asuhan Keperawatan pada Tn. M dengan Benigna


Prostat Hyperplasia (BPH) Post OP hari ke 1diruang Dahlia RSUD dr.
R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Purwokerto : Universitas
Muhammadiyah

Ryan Bastoni Arifin. 2015. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Benigna
Prostat Hiperplasia Post Open Prostatectomi Hari Ke-1 Di Ruang
Gladiol Atas Rsud Sukoharjo. Purwakarta : Universitas Muhammadiyah.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan indikator diagnositk. Jakarta Selatan: Dewan pengurus pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Definisi dan tindakan keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan pengurus pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luarani Keperawatan Indonesia
Definisi dan kriteria hasil keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan pengurus
pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

SKENARIO 3
SAKIT PINGGANG

Soal Kasus 3

Tn M usia 30 tahun datang ke RS dengan keluhan tiba-tiba merasa sakit pinggang sebelah
kiri yang tak tertahankan. Saat pengkajian didapatkan skala nyeri 8, wajah meringis.Pasien
juga merasakan mual dan muntah sejak 3 hari yang lalu.Pasien mengatakan khawatir dengan
kondisinya.Klien mengatakan pertama kali merasakan sakit seperti ini. TD = 140/90 mmHg,
N = 100x/menit, R = 24x/menit, S = 370C

2
1. Klasifikasi istilah penting
- Nyeri skala 8
- Wajah meringis
- Mual muntah
- TD : 140 / 90 mmHg
- Nadi : 100x /menit
- Respirasi : 24x/menit
- Suhu : 380C
2. Kata kunci
- Mual muntah
- Nyeri pinggang skala 8

3. Mind map

GGA
ISK NEFROTIALISIS
NEFROTIK
BPH

3
Tanda dan gejala Nefrolitiasis GGA ISK Sindrom Nefrotik

Nyeri skala 8

 
Meringis

 
Mual muntah

  
TD : 140/90 mmHg

 
N : 100x/menit


R : 24x/menit

4. Pertanyaan penting
1) Apa diagnosa utama pada kasus diatas?
2) Mengapa tekanan darah bisa meningkat?
3) Apa penyebab dari orang yang dengan Nefrolitiasis merasakan
sakit pinggang?
4) Apa penyebab Mual Muntah pada kasus tersebut?
5. Jawaban
1. Nyeri akut
2. Hipertensi akibat masalah pada ginjal terjadi ketika pembuluh darah
pada ginjal menyempit (stenosis). Ketika ginjal tidak mendapatkan
asupan darah yang cukup, ginjal akan mengira tubuh mengalami
dehidrasi. Maka dari itu ginjal merespon dengan mengeluarkan
hormone yang memicu tubuh untuk menahan garam dan air pada
tubuh. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penumpukan cairan
pada pembuluh darah, sehingga menjadi penyebab tekanan darah
meningkat.
3. Penyebab dari orang yang dengan nefrolitiasis dapat merasakan sakit
pinggang yaitu adanya aliran urin yang terganjal oleh batu sehingga
dapat menimbulkan pembengkakan dan regangan pada ginjal.

4
4. Disebabkan pada saat saraf otonom di pencernaan menerima
rangsangan rasa sakit akibat batu yang menyumbat di saluran ureter
sehingga, saluran pencernaan dapat teriritasi dan dapat meningkatkan
asam lambung, lalu tubuh dapat merespon untuk mual muntah.
6. Tujuan pembelajaran selanjutnya
Pada penderita Nefrolitiasis ini seharusnya terdapat tanda dan gejala yang
menjadi ciri khas namun tidak terdapat dalam kasus, sehingga perlu
diketahui untuk menjadi tambahan pengtahuan. Tanda dan gejala ciri khas
Nefrolitiasis tersebut antara lain :
1. Meningkatnya frekuensi ingin buang air kecil
2. Nyeri saat buang air kecil
3. Buang air kecil dalam jumlah sedikit
4. Urine berwarna merah atau bercampur darah
5. Demam atau mengigil
7. Informasi tambahan
Pasien dengan nefrolitiasis seringkali merasakan keinginan untuk
berkemih namun ketika berkemih akan merasakan nyeri, sehingganya
berkemih menjadi tidak tuntas

8. Klarifikasi informasi

9. Analisa dan sintesa


Dalam kasus nyeri pinggang ini kami dapat mengangkat penyakit
Nefrolitiasisdengan dapat diambil 3 diagnosa yaitu antara lain :
1. Nyeri akut. Karena nyeri adalah perasaan yang dikatakan pasien ketika
melakukan pengkajian dan nyeri itu yang dapat memicu tekanan darah
klien meningkat serta nyeri juga merupakan salah satu tanda dan gejala
dari Nefrolitiasis.
2. Ansietas. Karena pasien kurang informasi tentang penyakit dirasaan
sehingga pasien tidak tahu tindakan pertama yang dilakukan untuk
meringankan tanda dan gejala yang dirasakan.
3. Nausea. Karena nausea adalah perasaan tidak nyaman pada bagian
belakang tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan
muntah.Gejala dan tanda mayornya adalah mengeluh mual dan merasa

5
ingin muntah.Pada kasus pasien juga mengeluh mual muntah. Hal ini
merupakan alasan mengapa kami mengangkat diagnosa Nausea
meskipun bukan merupakan diagnosa utamnya.

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP MEDIS

A. Definisi

Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan salah satu penyakit ginjal, dimana


ditemukannya batu yang mengandung komponen kristal dan matriks organik yang
merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih (Fauzi & Marco,2016)

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu
tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium
fosfat, struvit dan sistin).Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang granular (pasir
dan krikil) sampai sebesar buah jeruk.Batu sebesar krikil biasanya dikeluarkan
secara spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita dan
kekambuhan merupakan hal yang mungkin terjadi.

Nefrolitiasis adalah Pembentukan deposit mineral yang kebanyakan adalah


kalsium oksalatdan kalsium phospat meskipun juga yang lain urid acid dan kristal,
juga membentuk kalkulus (batu ginjal).

B. Klasifikasi

Terdapat beberapa jenis variasi dari batu ginjal, yaitu:

f. Batu Kalsium Batu yang paling sering terjadi pada kasus batu ginjal.
Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau

7
campuran dari kedua unsur tersebut. Faktor-faktor terbentuknya batu
kalsium adalah:
a. Hiperkalsiuri Terbagi menjadi hiperkalsiuri absorbtif, hiperkalsiuri
renal, dan hiperkasiuri resorptif. Hiperkalsiuri absorbtif terjadi
karena adanya peningkatan absorbsi kalsium melalui usus,
hiperkalsiuri renal terjadi akibat adanya gangguan kemampuan
reabsorbsi kalsium melalu tubulus ginjal dan hiperkalsiuri resorptif
terjadi karena adanya peningkatan resorpsi kalsium tulang.
b. Hiperoksaluri Merupakan eksresi oksalat urin yang melebihi 45
gram perhari.
c. Hiperurikosuria Kadar asam urat di dalam urin yang melebihi
850mg/24 jam.
d. Hipositraturia Sitrat yang berfungsi untuk menghalangi ikatan
kalsium dengan oksalat atau fosfat sedikit.
e. Hipomagnesuria Magnesium yang bertindak sebagai penghambat
timbulnya batu kalsium kadarnya sedikit dalam tubuh. Penyebab
tersering hipomagnesuria adalah penyakit inflamasi usus yang
diikuti dengan gangguan malabsorbsi.
g. Batu Struvit Batu yang terbentuk akibat adanya infeksi saluran kemih.
h. Batu Asam Urat Biasanya diderita pada pasien-pasien penyakit gout,
penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi anti kanker,
dan yang banyak menggunakan obat urikosurik seperti sulfinpirazon,
thiazid, dan salisilat.
i. Batu Jenis Lain Batu sistin, batu xanthine, batu triamteran, dan batu
silikat sangat jarang dijumpai.
(Fauzi, 2016).

C. Etiologi

Sekitar 85% dari batu saluran kemih terdiri dari kalsium, terutama kalsium
oksalat, 10% asam urat, 2% cystine, serta sebagian besar sisanya adalah
magnesium. Amonium fosfat (struvit). Faktor risiko umum terjadinya batu saluran

8
kemih diantaranya adalah gangguan yang meningkatkan konsentrasi gara kemih,
baik dengan peningkatan ekskresi, kalsium atau asam urat, atau dengan penurunan
ekskresi sitrat kemih.Faktor-faktor yang memungkinkan terbentuknya batu
saluran kemih, antara lain matrix protein dan inflamasi bakteri, serta peningkatan
konsentrasi urin (pencetus percepatan pembentukan kristal seperti Ca, asam urat,
dan fosfat). Pembentukan batu di saluran kemih dipengaruhi oleh 2 faktor , yakni
faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen adalah faktor genetik seperti
hipersistinuria, hiperkalsiuria primer, dan hiperoksaluria primer, sedangkan faktor
eksogen meliputi lingkungan, makanan, infeksi, dan kejenuhan mineral di dalam
air minum (Harmilah, 2018).

Menurut Fauzi (2016) Faktor risiko nefrolitiasis (batu ginjal) umumnya


biasanya karena adanya riwayat batu di usia muda, riwayat batu pada keluarga,
ada penyakit asam urat, kondisi medis lokal dan sistemik, predisposisi genetik,
dan komposisi urin itu sendiri. Komposisi urin menentukan pembentukan batu
berdasarkan tiga faktor, berlebihnya komponen pembentukan batu, jumlah
komponen penghambat pembentukan batu (seperti sitrat, glikosaminoglikan) atau
pemicu (seperti natrium, urat).Anatomis traktus anatomis juga turut menentukan
kecendrungan pembentukan batu.

D. Patofisiologi

Substansi kristal yang normalnya larut dan di ekskresikan ke dalam urine


membentuk endapan. Batu renal tersusun dari kalsium fosfat, oksalat atau asam
urat.Komponen yang lebih jarang membentuk batu adalah struvit atau
magnesium, amonium, asam urat, atau kombinasi bahan-bahan ini. Batu ginjal
dapat disebabkan oleh peningkatan pH urine (misalnya batu kalsium bikarbonat)
atau penurunan pH urine (mis., batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan
pembentuk batu yang tinggi di dalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau
obat tertentu, juga dapat merangsang pembentukan batu.Segala sesuatu yang
menghambat aliran urine dan menyebabkan stasis (tidak ada pergerakan) urine di
bagian mana saja di saluran kemih, meningkatkan kemungkinan pembentukan

9
batu.Batu kalsium, yang biasanya terbentuk bersama oksalat atau fosfat, sering
menyertai keadaan-keadaan yang menyebabkan resorpsi tulang, termasuk
imobilisasi dan penyakit ginjal.Batu asam urat sering menyertai gout, suatu
penyakit peningkatan pembentukan atau penurunan ekskresi asam urat.Asuhan
Keperawatan Kegemukan dan kenaikan berat badan meningkatkan risiko batu
ginjal akibat peningkatan ekskresi kalsium, oksalat, dan asam urat yang
berlebihan.Pengenceran urine apabila terjadi obstruksi aliran, karena kemampuan
ginjal memekatkan urine terganggu oleh pembengkakan yang terjadi di sekitar
kapiler peritubulus.Komplikasinya Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu
dari batu di bagian mana saja di saluran kemih.Obstruksi di atas kandung kemih
dapat menyebabkan hidroureter, yaitu ureter membengkak oleh urine.Hidroureter
yang tidak diatasi, atau obstruksi pada atau di atas tempat ureter keluar dari ginjal
dapat menyebabkan hidronefrosis yaitu pembengkakan pelvis ginjal dan sistem
duktus pengumpul.Hidronefrosis dapat menyebabkan ginjal tidak dapat
memekatkan urine sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit dan
cairan.Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan kolapsnya nefron dan
kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena suplai darah terganggu.Akhirnya
dapat terjadi gagal ginjal jika kedua ginjal terserang. - Setiap kali terjadi obstruksi
aliran urine (stasis), kemungkinan infeksi bakteri meningkat sehingga Dapat
terbentuk kanker ginjal akibat peradangan dan cedera berulang
(Septiningsih,2016).

E. Manifestasi klinis(Septiningsih,2016)
a. Kolik renal
b. Nyeri tekan kostovertebral
c. Nyeri pinggang
d. Kulit yang dingin dan basah
e. Gejala frekuensi pada urinasi
f. Gejala urgensi pada urinasi
g. Diaforesis
h. Hipertensi

10
i. Takikardia
j. Menggigil dan demam
k. Pucat
l. Nausea dan vomitus
m. Sinkop
n. Disuria, hematuria
Manifestasi klinis yang sering ditemukan
a. Kolik renal
b. Nyeri tekan kostovertebra
c. Nyeri pinggang
F. Komplikasi

Komplikasi pada nefrolitiasis bedakan menjadi komplikasi akut dan


komplikasi jangka panjang.

1. Komplikasi Akut Kematian, kehilangan fungsi ginjal, kebutuhan


transfusi dan tambahan invensi sekunder yang tidak direncanakan.
2. Komplikasi Jangka Panjang Striktura, obstruksi, hidronefrotis,
berlanjut dangan atau tanpa pionefrosis, dan berakhir dengan
kegagalan faal ginjal yang terkena.

G. Penatalaksanaan

Tujuan utama tatalaksana pada pasien nefrolitiasis adalah mengatasi nyeri,


menghilangkan batu yang sudah ada, dan mencegah terjadinya pembentukan batu
yang berulang.

1. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

Alat ini ditemukan pertama kali pada tahun 1980 oleh


Caussy.Bekerja dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan di

11
luar tubuh untuk menghancurkan batu di dalam tubuh. Batu akan dipecah
menjadi bagian-bagian yang kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui
saluran kemih.

ESWL dianggap sebagai pengobatan cukup berhasil untuk


batuginjal berukuran menengah dan untuk batu ginjal berukuran lebih dari
2030mm pada pasien yang lebih memilih ESWL, asalkan mereka
menerima perawatan berpotensi lebih.

2. PCNL (Percutaneus Nephro Litholapaxy)

Merupakan salah satu tindakan endourologi untuk mengeluarkan


batu yang berada di saluran ginjal dengan cara memasukan alat endoskopi
ke dalam kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan
atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. Asosiasi
Eropa Pedoman Urologitentangurolithiasis merekomendasikan PNL
sebagai pengobatan utama untuk batu ginjal berukuran >20mm, sementara
ESWL lebih disukai sebagai lini kedua pengobatan, karena ESWL sering
membutuhkan beberapa perawatan, dan memiliki risiko obstruksi ureter,
serta kebutuhan adanya prosedur tambahan. Ini adalah alasan utama untuk
merekomendasikan bahwa PNL adalah baris pertama untuk mengobati
pasien nefrolitias.

3. Bedah terbuka

Untuk pelayanan kesehatan yang belum memiliki fasilitas PNL dan


ESWL, tindakan yang dapat dilakukan melalui bedah terbuka.
Pembedahan terbuka itu antara lain pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk
mengambil batu pada saluran ginjal.

4. Terapi Konservatif atau Terapi Ekspulsif Medikamentosa (TEM)

12
Terapi dengan mengunakan medikamentosa ini ditujukan pada
kasus dengan batu yang ukuranya masih kurang dari 5mm, dapat juga
diberikan pada pasien yang belum memiliki indikasi pengeluaran batu
secara aktif. Terapi konservatif terdiri dari peningkatan asupan minum dan
pemberian diuretik; pemberian nifedipin atau agen alfablocker, seperti
tamsulosin; manajemen rasa nyeri pasien, khusunya pada kolik, dapat
dilakukan dengan pemberian simpatolitik, atau antiprostaglandin,
analgesik; pemantauan berkala setiap 114 hari sekali selama 6 minggu
untuk menilai posisi batu dan derajat hidronefrosis.

13
Pathway
cystinuria hiperparatiroid
Asupan makanan
Kolik yang
ureteral Trauma ginjal Ansietas
mengandung Ca berlebih
Mengganggu metabolime Reabsorbsi Ca tulang
asamnyeri
Mediator amino(pelepasan menurun
Iritasi saraf abdominal
Konsentrasi Ca berlebih histamine bradikinin)
dalam darah
Konsentrasi asam urat Kadar Ca darah menurun
Pusat muntah pada
meningkat
Saraf aferen
korteks
Ca dalam ginjalcerebri
berlebih
Hiperkalsemia
Asam urat dalam darah
Talamus
Mual muntah Ca
Proses pengendapan meningkat
dalam ginjal Pengendapan ion Ca di
Nyeri dipersepsikan ginjal
Nausea Membentuk batu asam
urat
Nyeri Akut

Nefrolitisiasis
Output berlebihan

Obstruksi traktus Ketidaktahuan terhadap


urinarius penyakit
Anorexia

Peningkatan tekanan
Kekhawatiran terhadap
hidrostatik
penyakit

Distensi pada ginjal


14

Kontraksi uretral
meningkat
2.2 Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama : Tn.M
Umur :30 tahun
Agama : Tidak terkaji
Jenis Kelamin :Tidak terkaji
Status Perkawinan : Tidak terkaji
Pendidikan : Tidak terkaji
Pekerjaan : Tidak terkaji
Suku Bangsa : Tidak terkaji
Alamat : Tidak terkaji
Tanggal Masuk : Tidak terkaji
Tanggal Pengkajian : Tidak terkaji
No. Register : Tidak terkaji
Diagnosa Medis : Nefrolitiasis
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tidak terkaji
Umur :Tidak terkaji
Hub. Dengan Pasien : Tidak terkaji
Pekerjaan : Tidak terkaji
Alamat : Tidak terkaji
2. Status Kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
1) Keluhan Utama (Saat MRS dan saat ini)
Pasien mengeluh sakit pinggang sebelah kiri, mual muntah
2) Riwayat kesehatan sekarang
Nefrolitiasis (Batu Ginjal)
P (Provokating) : Tidak terkaji
Q (Quality) : Tidak terkaji

15
R (Region) : Tidak terkaji
S (Severity/Skala) : Tidak terkaji
T (Time) : Tidak terkaji
3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : tidak terkaji
b. Satus Kesehatan Masa Lalu
1)      Penyakit yang pernah dialami : Tidak terkaji
2)      Pernah dirawat : Tidak terkaji
3)      Alergi : Tidak terkaji
4)      Kebiasaan (merokok/kopi/alkohol dll): Tidak terkaji
c. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak terkaji
d. Diagnosa Medis dan therapy : Nefrolitiasis
3. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan: Tidak terkaji
b. Pola Nutrisi-Metabolik
1) Sebelum sakit : Tidak terkaji
2) Saat sakit : Tidak terkaji
c.   Pola Eliminasi
1) BAB
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
2) BAK
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
d. Pola aktivitas dan latihan
1) Aktivitas : Tidak terkaji
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri
Makan dan
minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Berpindah

16
0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat,
4: tergantung total
2) Latihan
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
e. Pola kognitif dan Persepsi : Tidak terkaji
f. Pola Persepsi-Konsep diri : Tidak terkaji
g. Pola Tidur dan Istirahat
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
- Sebelum sakit : Tidak terkaji
h. Pola Peran-Hubungan : Tidak terkaji
i. Pola Seksual-Reproduksi
1. Sebelum sakit : Tidak terkaji
2. Sebelum sakit : Tidak terkaji
j. Pola Toleransi Stress-Koping : Tidak terkaji
k. Pola Nilai-Kepercayaan : Tidak terkaji
4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda Vital :
TB/BB : tidak terkaji
HR : tidak terkaji
RR : 24x/menit
Suhu : 37oC
N : 100x/menit
TD : 140/90 mmHg
b. Keadaan fisik
1) Kepala
a) Lingkar kepala : Tidak terkaji
b) Rambut : Tidak terkaji
c) Warna : Tidak terkaji
d) Tekstur : Tidak terkaji
e) Distribusi Rambut : Tidak terkaji
f) Kuat/mudah rontok : Tidak terkaji

17
2) Mata
a) Sklera : Tidak terkaji
b) Konjungtiva : Tidak terkaji
c) Pupil : Tidak terkaji
3) Telinga : Tidak terkaji
4) Hidung : Tidak terkaji
5) Mulut : Tidak terkaji
a) Kebersihan : Tidak terkaji
b) Warna : Tidak terkaji
c) Kelembapan : Tidak terkaji
d) Lidah : Tidak terkaji
e) Gigi : Tidak terkaji
6) Leher : Tidak terkaji
7) Dada/pernapasan
a) Inspeksi : Tidak terkaji
b) Palpasi : Tidak terkaji
c) Perkusi : Tidak terkaji
d) Auskultasi : Tidak terkaji
8) Jantung
a) Inspeksi : Tidak terkaji
b) Palpasi : Tidak terkaji
c) Perkusi : Tidak terkaji
d) Auskultasi : Tidak terkaji
9) Paru-paru
a) Inspeksi : Tidak terkaji
b) Palpasi : Tidak terkaji
c) Perkusi : Tidak terkaji
d) Auskultasi : Tidak terkaji
10) Abdomen : Tidak terkaji
11) Punggung : Tidak terkaji
12) Ekstermitas : Tidak terkaji
13) Genitalia : Tidak terkaji

18
14) Integumen : Tidak terkaji
a) Warna : Tidak terkaji
b) Turgor : Tidak terkaji
c) Integrasi : Tidak terkaji
d) Elastisitas : Tidak terkaji
5. Pemeriksaan penunjang
Tidak terkaji
6. Penatalaksanaan
Tidak terkaji
B. Diagnosa
1. Nyeri akut
2. Ansietas
3. Nausea

Data Etiologi Symptom


DS : Cystinuria Nyeri Akut
- Pasien mengeluh
sakit pinggang
Mengganggu
sebelah kiri tak
metabolime asam
tertahankan amino
DO :
- Pasien tampak
Konsentrasi asam urat
meringis
meningkat
- TD : 140/90 mmHg
- RR : 24x/mnt
- HR : 100x/mnt Asam urat dalam darah
meningkat
- Suhu : 370C

Membentuk batu asam


urat

19
Nefrolitisiasis

Obstruksi traktus
urinarius

Peningkatan tekanan
hidrostatik

Distensi pada ginjal

Kontraksi uretral
meningkat

Trauma ginjal

Mediator nyeri
(pelepasan histamine
bradikinin)

Saraf aferen

Talamus

Nyeri dipersepsikan

Nyeri Akut

20
DS : Nefrolitisiasis Ansietas
- Pasien mengatakan
merasa khawatir
dengan kondisinya Ketidaktahuan terhadap
penyakit
DO :
- TD : 140/90 mmHg
Kekhawatiran terhadap
- RR : 24x/mnt penyakit
- HR : 100x/mnt
- Suhu : 370C
Ansietas

DS: Obstruksi traktus Nausea


urinarius
1. Pasien merasakan
mual dan muntah
sejak 3 hari Peningkatan tekanan
hidrostatik

Distensi pada ginjal


DO:
Kontraksi uretral
- TD : 140/90 mmHg meningkat
- RR : 24x/mnt
- HR : 100x/mnt
Kolik ureteral
- Suhu : 370C

Iritasi saraf abdominal

Pusat muntah pada


korteks cerebri

21
Mual muntah

Nausea

22
Intervensi keperawatan
SDKI SLKI SIKI RASIONAL

Nyeri Akut (D.0077) Tingkat Nyeri (L.08066) Manajemen Nyeri Manajemen Nyeri

Kategori: Psikologis Kriteria Hasil : Observasi : Observasi :

Subkategori : Nyeri dan Setelah di lakukan tindakan 1. Identifikasi lokasi, 1. Mengetahui


Kenyamanan keperawatan selama 3x24 jam karakteristik, durasi, lokasi nyeri,
masalah Tingkat nyeri dapat frekuensi, kualitas, karakteristik
Definisi :
teratasi dengan indikator : intensitas nyeri. nyeri, berapa
Pengalaman sensorik atau 2. Identifikasi skala lama nyeri
1. Keluhan nyeri menurun
emosional yang berkaitan nyeri dirasakan serta
2. Meringis menurun
dengan kerusakan jaringan 3. Identifikasi faktor kualitas dan
3. Tekanan darah membaik
aktual atau fungsional, yang memperberat intensitas nyeri
dengan onset mendadak dan memperingan yang dirasakan
atau lambat dan nyeri pasien untuk
berintensitas ringan hingga 4. Identifikasi mengetahui
berat yang berlangsung pengaruh budaya penanganan apa
kurang dari tiga bulan. terhadap respon yang akan
nyeri diberikan.
Penyebab
5. Monitor 2. Memastikan
1. Agen pencedera keberhasilan terapi tingkat nyeri

23
fisiologis(mis. komplementer yang yang dirasakan
Inflamasi, iskemnia, sudah diberikan pasien dan
neoplasma) 6. Monitor efek apakah
2. Agen pencedera samping memerlukan
kimiawi (mis. penggunaan penangan yang
Terbakar, nahan analgetik cepat.
kimia iritan) Terapeutik 3. Mengetahui dan
3. Agen pencedera menghindari
7. Berikan teknik non
fisik (mis. Abses, faktor yang
farmakologi untuk
amputasi, terbakar, memperberat
mengurangi rasa
terpotong, nyeri.
nyeri (mis. TENS,
mengangkat berat, 4. Dapat
hipnosis,
prosedur oprasi, menyesuaikan
akupresure, terapi
trauma, latihan fisik pemberian
musik, biofeedback,
berlebihan) manajemen
terapi pijat,
Gejala dan Tanda Mayor nyeri sesuai
aromaterapi, teknik
dengan
Subjektif imajinasi
keyakinan
terbimbing,
1. Mengeluh nyeri pasien sehinnga
kompres hangat
Objektif manajemen
atau dingin, terapi
nyeri akan
1. Tampak meringis bermain).

24
2. Bersikap 8. Kontrol lingkungan berjalan efektif.
Protektif(mis. yang memperberat 5. Memastikan
Waspada, posisi rasa nyeri (mis. terapi untuk
menghindari nyeri) suhu ruangan, mengatasi nyeri
3. Gelisah pencahayaan, yang diberika
4. Frekuensi nadi kebisingan). efektif atau perlu
meningkat 9. Fasilitasi istrahat ditambahkan.
5. Sulit tidur dan tidur. Terapeutik :
Gejala dan Tanda Minor 10. Pertimbangkan jenis
6. Mencegah agar
dan sumber nyeri
Subjektif tidak akan
dalam pemilihan
timbul masalah
(tidak tersedia) strategi meredakan
lain yang akan
nyeri.
Obejektif di rasakan oleh
Edukasi
pasien sehinnga
1. Tekanan darah
11. Jelaskan penyebab, tindakan
meningkat
periode, dan pemicu berfokus pada
2. Pola nafas berubah
nyeri. manajemen
3. Nafsu makan
12. Jelaskan strategi nyeri.
berubah
meredakan nyeri. 7. Agar pasien
4. Proses berpikir
13. Jelaskan tidak akan
teganggu
farmakologi untuk ketergantungan

25
5. Menarik diri mengurangi rasa pada obat.
6. Berfokus pda diri nyeri. 8. Memastikan
sendiri Kolaborasi pasien
7. Diaforesis merasakan
14. Kolaborasi
Kondisi Klinis Terkait nyaman
pemberian analgetik
sehingga nyeri
1. Kondisi jika perlu.
yang pasien
pembedahan
rasakan tidak
2. Cedera traumatis
semakin parah.
3. Infeksi
9. Memastikan
4. Sindrom koroner
kebutuhan
akut
istrahat dan tidur
5. Glaukoma
pasien terpenuhi.
Edukasi :

10. Dengan
mengetahui
penyebab,
periode, dan
pemicu nyeri
maka pasien
dapat mengatasi

26
nyerinya sendiri.
11. Agar pasein
dapat memilih
strategi untuk
meredakan nyeri
yang ia rasakan
sendiri sesuai
keinginan dan
kenyamanannya.
12. Agar tindakan
manajemen
nyeri yang
diberikan tepat
dan sesuai saran
sehingga nyeri
yang di rasakan
akan teratasi.
Kolaborasi :

13. Agar pasein


dapat
mengetahui

27
terapi
farmakologi
(obat-obatan)
yang dapat
digunakan selain
non farmakologi
jika terapi non
farmakologi
tidak berhasil.
Memastikan
Terapi analgetik
yang diberikan
efektif dengan
melakukan
kolaborasi.
Ansietas (D.0080) Tingkat Ansietas Reduksi ansietas Reduksi ansietas

Kategori : Psikologis Kriteria Hasil Definsi : Observasi

Subkategori : Integritas Meminimalkan kontak - Untuk


Setelah dilakukan tindakan mengetahui
Ego individu dan pengalaman
keperawatan selama 3x24 jam subyektif terhadap objek perubahan
seperti kondisi,
masalah Ansietas teratasi dengan yang tidak jelas dan spesifik waktu dan
akibat antisipasi bahaya stressor

28
Definisi : indikator : yang memungkinkan - Untuk dapat
individu melakukan mengetahui
Kondisi emosi dan 1. Verbalisasi khawatir akibat tindakan untuk menghadapi perubahan dari
pengalaman Subyektif ansietas.
kondisi yang dihadapi ancaman. Terapeutik
individu terhadap objek
yang tidak jelas dan menurun. Tindakan
- agar pasien
spesifik akibat antisipasi 2. Perilaku Gelisah menurun dapat
bahaya yang Observasi
3. Tekanan Darah membaik melekakukan
memungkinkan individu - Identifikasi saat terapeutik
melakukan tindakan untuk tingkat ansietas dengan benar
mengahdapi ancaman . berubah (mis. - agar perawat
kondisi, waktu, dapat
stressor) mendengarkan
- Monitor tanda-tanda informasi
Penyebab : ansietas (verbal dan dengan baik dan
nonverbal) akurat dari
1. Krisis situasional Terapeutik pasien
2. Kebutuhan tidak - agar perawat
terpenuhi - Ciptakan suasana mudah dan
3. Krisis maturasional terapeutik untuk tenang
4. Ancaman terhadap menumbuh melakukan
konsep diri kepercayaan tindakan
5. Ancaman terhadap - Dengarkan dengan terapeutik.
kematian penuh perhatian Edukasi
6. Kekhawatiran - Gunakan pendekatan
mengalami dengan tenang dan - Agar pasien
kegagalan meyakinkan mengetahui apa
7. Disfungsi sistem Edukasi yang terjadi
keluarga setelah
8. Hubungan orang - Jelaskan prosedur, melakukan
tua-anak tidak termasuk sensasi terapeutik

29
memuaskan yang mungkin - Agar pasien
9. Faktor keturunan dialami dapat
(Temperamen - Informasikan secara memahami
mudah teragitasi actual mengenai pengobatan dari
sejak lahir) diagnosis, tindakn yang
10. Penyalahgunaan Zat pengobatan dan akan dilakukan
11. Terpapar bahaya prognosis - Agar pasien
lingkungan (mis. - Latih tehnik dapat
toksin, polutan, dan relaksasi melakukan
lain-lain). Kolaborasi dengan sendiri
12. Kurang terpapar tehnik relaksasi
informsi - Kolaborasi ketika tanda-
Gejala dan tanda mayor pemberian obat tandanya mulai
antiansietas, jika muncul
Subjektif perlu Kolaborasi

1. Merasa bingung Agar tingkat kecemasan


2. Merasa khawatir ansietas menurun
dengan akibat dari dengan diberikan obat
kondisi yang di
hadapi antansietas
3. Sulit berkonsentrasi
Objektif

5. Tampak gelisah
6. Tampak tegang
7. Sulit tidur
Gejala dan tanda minor

Subjektif

1. Mengeluh pusing

30
2. Anoreksia
3. Palpitasi
4. Merasa tidak
berdaya
Objektif

1. Frekuensi napas
meningkat
2. Frekuensi nadi
meningkat
3. TD meningkat
4. Diaforesis
5. Tremor
6. Muka tampak pucat
7. Suara bergetar
8. Kontak mata buruk
9. Sering berkemih
10. Berorientasi pada
masa lalu
Kondisi klinis terkait

1. Penyakit kronis
progresif (mis.
kanker, penyakit
autoimun).
2. Penyakit akut
3. Hospitalisasi
4. Rencana operasi
5. Kondisi diagnosis
penyakit belum
jelas
6. Penyakit neurologis

31
7. Tahap tumbuh
kembang
Nausea (D.) Tingkat Nausea 1 .Menejemen mual Menejemen mual :
Kategori :Psikologi
Kriteria hasil: Observasi Observasi
Subkategori : Nyeri
setelah dilakukan tindakan - identifikasi - Mual psikologis
dan Kenyamanan
keperawatan selama 1x24 jam pengalaman mual terjadi sebelum
Definisi masalah Nausea teratasi dengan Terapeutik kemoterapi
indikator: mulai secara
Perasaan tidak nyaman - berikan
umum tidak
pada bagian belakang 1. Perasaan ingin makanan
berespon
tenggorak atau lambung muntah menurun dalam jumlah
terhadap anti
yang dapat mengakibatkan kecil dan menarik
emetik.
muntah. Edukasi
Terapeutik
Penyebab - anjurkan istrahat dan
- Pasien dapat
tidur yang cukup
1. Gangguan menerima
Kolaborasi
biokimiawi makanan yang
(mis.uremia, - pembrian anti diberikan ahli
ketoasidosis, emetik, jika perlu gizi meskipun
diabetik) 2.Menejmen Muntah makanan sedikit
2. Gangguan pada akan tetapi

32
Esofagus Observasi bergizi serta
3. Distensi lambung menarik ketika
- periksa volume
4. Iritasi lambung dilihat.
muntah
5. Gangguan pankreas Edukasi
Terapeutik
6. Peregangan kapsul
- Istirahat adalah
limpah - kontrol faktor
aktivitas dan
7. Tumor terlokalisasi lingkungan
bukan keadaan
(mis. Neuroma penyebab muntah
tidak melakukan
akustik, tumor otak (mis. Bau tak sedap,
apa-apa.
primer atau suara)
Sedangkan tidur
sekunder, Edukasi
proses dimana
metastatis, tulang
- anjurkan membawa mengembalikan
didasar tengkorak)
kantong plastik energi yang
8. Peningkatan
untuk menampung hilang.
tekanan
muntah Kolaborasi
intraabdominal
Kolaborasi
(mis. Keganasan - Pemberian anti
intraabdomen) kolaborasi pemberian anti emetik
9. Peningkatan emetik jika perlu merupakan
tekanan intrakranial pemberian obat
10. Peningkatan yang diberikan

33
tekanan intraorbital untuk
(mis. glaukoma) menghilangkan
11. Mabuk perjalanan terjadinya mual.
12. Kehamilan Menejemen muntah:
13. Aroma tidak sedap
Observasi
14. Rasa
makanan/minuman - untuk
yang tidak enak mengetahui
15. Stimulus penglihaan jumlah, kadar,
yang tidak dari muntah
menyenangkan Terapeutik
16. Faktor psikologis
- Membantu
(mis. Kecemasan,
pasien agar tidak
ketakutan, stress)
kekurangan
17. Efek agen
nutrisi
farmakologis
Edukasi
18. Efek toksin
Gejala dan Tanda mayor - Untuk mencegah
tidak terjadinya
Subjektif
refluks muntah
1. Mengeluh mual Kolaborasi

34
2. Merasa ingin - Untuk
muntah meminimalisirr
3. Tidak berminat terjadinya
makan refluks
Objektif

(Tidak tersedia)

Gejala dan Tanda minor

Subjektif

1. Merasa asam
dimulut
2. Sensasi
panas/dingin
3. Sering menelan
Objektif

1. Saliva meningkat
2. Pucat
3. Diaforesis
4. Takikardi
5. Pupil dilatasi

35
Kondisi klinis terkait

1. Meningitis
2. Labiringitis
3. Uremia
4. Ketoasidosis
diabetik
5. Ulkus peptikum
6. Penyakit esofagus
7. Tumor
intraabdomen
8. Penyakit meniere
9. Nauroma akustik
10. Tumor otak
11. Kanker
12. Glaukoma

Implementasi dan Evaluasi


Hari/Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi

Nyeri akut Manajemen Nyeri Subjektif : Pasien mengatakan


nyeri pinggung yang dirasakan

36
Observasi : sudah mulai menurun

- Mengidentifikasi lokasi, Objektif : setelah dilakukan


karakteristik, durasi,
intervensi Manajemen nyeri
frekuensi, kualitas, intensitas
mulai menurun ataupun
nyeri.
- Mengidentifikasi skala nyeri membaik
- Mengidentifikasi faktor yang
Assessment :Kondisi pasien
memperberat dan
mulai menunjukan adanya
memperingan nyeri
- Mengidentifikasi pengaruh perkembangan.
budaya terhadap respon nyeri
Planning :Lanjutkan intervensi.
- Memonitor keberhasilan
Manajemen Nyeri
terapi komplementer yang
sudah diberikan
- Memonitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik

- Memberikan teknik non


farmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri (mis.

37
TENS, hipnosis, akupresure,
terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat atau dingin,
terapi bermain).
- Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan).
- Memf asilitasi istrahat dan
tidur.
- Mempertimbangkan jenis
dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan
nyeri.
Edukasi

- Menjelaskan penyebab,
periode, dan pemicu nyeri.
- Menjelaskan strategi
meredakan nyeri.

38
- Menjelaskan farmakologi
untuk mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi

- Berkolaborasi pemberian
analgetik jika perlu.

Ansietas Reduksi ansietas Subjektif : Pasien mengatakan


Definsi : bahwa sudah bisa mengontrol
Meminimalkan kontak individu dan sikap yang membuat kwatir
pengalaman subyektif terhadap
objek yang tidak jelas dan spesifik Objektif : setelah dilakukan
akibat antisipasi bahaya yang
memungkinkan individu melakukan
intervensi Reduksi Ansietas
tindakan untuk menghadapi
ancaman. Assessment : Kondisi pasien

Tindakan mulai menunjukan tidak


khawatir lagi
Observasi

- Mengidentifikasi saat tingkat Planning :Lanjutkan intervensi.


ansietas berubah (mis.
kondisi, waktu, stressor)
- Memonitor tanda-tanda
ansietas (verbal dan

39
nonverbal)
Terapeutik

- Menciptakan suasana
terapeutik untuk menumbuh
kepercayaan
- Mendengarkan dengan penuh
perhatian
- Menggunakan pendekatan
dengan tenang dan
meyakinkan
Edukasi

- Menjelaskan prosedur,
termasuk sensasi yang
mungkin dialami
- Menginformasikan secara
actual mengenai diagnosis,
pengobatan dan prognosis
- Melatih tehnik relaksasi
Kolaborasi

- Berkolaborasi pemberian
obat antiansietas, jika perlu
Nausea 1 .Menejemen mual Subjektif :Pasien mengatakan

Observasi mual muntah yang ia rasakan


sudah berkurang meskipun
- Mengidentifikasi
sesekali tetap timbul.
pengalaman mual

40
Terapeutik Objektif : setelah dilakukan

- Memberikan makanan dalam intervensi frekuensi mual


jumlah kecil dan menarik muntah pasien berkurang
Edukasi
Assessment :Kondisi pasien
- Menganjurkan istrahat dan mulai menunjukan adanya
tidur yang cukup
perkembangan.
Kolaborasi
Planning :Lanjutkan intervensi.
- memberikan anti emetik, jika
perlu a. Manajemen mual
2.Menejmen Muntah b. Manajemen muntah

Observasi

- Memeriksa volume muntah


Terapeutik

- Mengkontrol faktor
lingkungan penyebab muntah
(mis. Bau tak sedap, suara)
Edukasi

- Menganjurkan membawa

41
kantong plastik untuk
menampung muntah
Kolaborasi

- Berkolaborasi pemberian anti


emetik jika perlu

42
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-
batu tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat,
kalium fosfat, struvit dan sistin).Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang
granular (pasir dan krikil) sampai sebesar buah jeruk.Batu sebesar krikil biasanya
dikeluarkan secara spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita
dan kekambuhan merupakan hal yang mungkin terjadi.
Pembentukan batu di saluran kemih dipengaruhi oleh 2 faktor , yakni
faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen adalah faktor genetik seperti
hipersistinuria, hiperkalsiuria primer, dan hiperoksaluria primer, sedangkan faktor
eksogen meliputi lingkungan, makanan, infeksi, dan kejenuhan mineral di dalam
air minum (Harmilah, 2018).
Menurut Fauzi (2016) Faktor risiko nefrolitiasis (batu ginjal) umumnya
biasanya karena adanya riwayat batu di usia muda, riwayat batu pada keluarga,
ada penyakit asam urat, kondisi medis lokal dan sistemik, predisposisi genetik,
dan komposisi urin itu sendiri. Diagnosa keperawatan yang kami ambil Nyeri
Akut, Gangguan Rasa Nyaman, Ansietas, Gangguan Eliminasi Urin, Defisit
Pengetahuan
3.2 Saran

Sebagai seorang mahasiswa keperawatan, kita harus mengetahui dan


mempelajari mengenai penyakit Nefrolitiasis untuk dapat memberikan intervensi
yang sesuai.

43
DAFTAR PUSTAKA

Fauzi & Marco. 2016. Nefrolitiasis. Majority, Vol. 5, No. 2.Lampung : Fakultas
Kedokteran, Universitas Lampung
Septiningsih, 2016.Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman dan
Nyaman Dengan Nyeri di Ruang Inayah PKU Muhammadiyah
Gombong. Jawa Tengah: STIKES Muhammadiyah Gombong
Tim Pokja. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Definisi dan
Indikator Diagnostik Keperawatan. Jakarta selatan : Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta selatan : Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Kriteria
Hasil Keperawatan. Jakarta selatan : Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Indonesia