Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Dilaporkan di negara maju bahwa infeksi kongenital karena CMV merupakan 0,3-0,5%
dari kelahiran hidup dan 1-2% di negara berkembang. Lebih dari 10-15% infeksi k
ongenital pada anak baru lahir jelas gejalanya. Tetapi ada juga yang baru tampak
gejalanya pada masa pertumbuhan dengan memperlihatkan gangguan; neurologis, men
tal, ketulian dan visual.
Masalah yang timbul di Indonesia, sejauh mana kemampuan laboratorium untuk meneg
akkan diagnosis dan seberapa jauh kemajuan pengelolaan kasus infeksi kongental C
MV terutama dalam pengobatan dan pencegahannya.
Gejala pada ibu :
Umumnya (>90%) infeksi CMV pada ibu hamil asimpomatik, tidak terdeteksi secara k
linis. Gejala yang timbul tidak spesifik; demam, lesu, sakit kepala, sakit otot
dan nyeri tenggorok.
Transmisi dari ibu ke janin dapat terjadi selama kehamilan, infeksi pada kehamil
an sebelum 16 minggu dapat mengakibatkan kelainan kongenital berat.
Prenatal diagnosis :
Infeksi Cytomegalovirus pada janin masih merupakan masalah yang belum jelas pena
ganannya, kultur virus dan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) dari sedi
aan cairan amnion atau darah janin merupakan cara diagnosis yang sedang dikemban
gkan Pemeriksaan cairan amnion sebaiknya dilakukan pada 21-23 minggu kehamilan.
Sampai saat ini diagnosis CMV masih mengandalkan kepada tehnik pemeriksaan labor
atorium serologi, serokonversi aviditas anti-CMV antibodi, zat ini masih dapat d
itemukan sampai 20 minggu setelah terjadinya infeksi.
Diagnosis CMV pada wanita hamil :
Wanita dengan seropositif CMV sebelum kehamilan. Dilaporkan bahwa hanya 1,2 % se
ro-positif akan menyebabkan transmisi ke janin sedangkan yang sero-negatif sebel
um kehamilan transmisi terjadi lebih besar (12,9%). Hal ini mengakibatkan dugaan
bahwa peningkatan imunitas ibu sebelum hamil, dapat melindungi janin dari kelai
nan kongenital CMV sebesar 90%. Artinya imunitas spesifik ibu yang telah mengala
mi infeksi CMV lebih tinggi daripada ibu yang baru terinfeksi selama hamil.
Dari hasil survey didapat bahwa, 50-70% wanita hamil dengan sero-positif sebelum
hamil, transmisi infeksi terhadap janin (infeksi vertikal) hanya 1%, virulensin
ya lebih rendah dibanding wanita sero-negatif.
Apakah perlu pemeriksaan rutin serologi CMV?
Pemeriksaan serologi CMV tidak perlu dilakukan secara rutin, pemeriksaan hanya d
ilakukan bila ada tanda-tanda bahwa janin mengalami kelainan, misalnya ada dugaa
n kelainan pada pemeriksaan antenatal, riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat keh
amilan sekarang dan dugaan dari hasil pemeriksaan rutin.
Adanya antibodi IgG CMV menyatakan bahwa pernah terjadi infeksi CMV, Kadar IgG a
kan tampak dalam darah 7-14 hari setelah terjadinya infeksi. Gambaran serologi i
ni akan menetap. IgG CMV mungkin meningkat kadarnya pada keadaan imunitas menuru
n seperti pada kasus transplantasi organ, AIDS. IgM akan tampak pada hari ke 3-4
setelah gejala timbul, IgM akan tetap berada dalam sirkulasi ibu sampai beberap
a bulan. Infeksi kongenital dapat di diagnosis dengan menemukan IgM janin di dal
am darah tali pusat (kordosentesis) atau cairan tuban (amniosentesis).
Infeksi CMV dari ibu ke janin :
Cytomegalovirus ditransmisikan dari ibu ke janin atau anak baru lahir melalui 3
jalan; 1) plasenta, 2) jalan lahir dan 3) ASI. Infeksi CMV perinatal umumnya ter
jadi karena kontak di jalan lahir dan ASI, sedangkan infeksi vertikal lebih sedi
kit. IgG CMV positif menyatakan pernah terjadi infeksi, IgM CMV menyatakan sedan
g terinfeksi. Untuk mengetahui lebih jauh kapan waktu terjadinya infeksi dapat d
iperkuat dengan pemeriksaan Aviditas antibodi IgG. Bila aviditas terhadap IgG re
ndah kemungkinan ada infeksi baru, sedang aviditas tinggi menyatakan bahwa infek
si baru tidak ada. Pemeriksaan ini penting dilakukan pada trimester pertama keha
milan, bila didapat aviditas rendah, maka pemeriksaan PCR perlu dilakukan untuk
mengetahui lebih lanjut akan kemungkinan adanya infeksi baru.
Pemeriksaan pada wanita sero-negatif :
Wanita dengan sero-negatif sejak 6 bulan sebelum kehamilan, mempunyai kemungkina
n dapat terserang infeksi primer CMV. Infeksi primer peripartum mempunyai progno
sis buruk. Untuk mengurangi risiko terinfeksi diajurkan untuk menjaga kebersihan
dirinya (hidup higienis) dengan cara menjauhkan diri dari zat atau cairan organ
ic; urine, ludah, darah, air mata, semen, ASI dan sering mencuci tangan.
Di negara maju, pemeriksaan immunoglobulin spesifik CMV (IgG) dilakukan 2 kali,
pada kehamilan bulan ke 2 dan ke 4. Hasil pemeriksaan IgG CMV dapat dipakai seba
gai sarana diagnosis walaupun reaksi silang dengan keluarga herpes lainnya mungk
in terjadi ( HSV1, HSV2, Varicella-zoster virus dan Epstein-Barr virus). Pada ib
u hamil yang keadaan serologisnya tidak diketahui sebelumnya , maka diagnosis CM
V menjadi kompleks. Dinegara maju pemeriksaan serologis dan virologis sering dil
akukan, malahan tes serologis termasuk tes rutin antenatal.
Manifestasi klinik infeksi kongenital CMV:
Gejala klinik infeksi CMV pada bayi baru lahir jarang ditemukan. Dari hasil peme
riksaan virologis, CMV hanya didapat 5-10% dari seluruh kasus infeksi kongenital
CMV. Kasus infeksi kongenital CMV hanya 30-40% saja yang disertai persalinan pr
ematur. Dari semua yang prematur setengahnya disertai Pertumbuhan Janin Terhamba
t (PJT). 10% dari janin yang menunjukkan tanda-tanda infeksi kongenital mati dal
am dua minggu pertama.
Diagnosis infeksi kongenital CMV :
Infeksi kongenital CMV ditegakkan bila didapat virus dari hasil isolasi cairan a
tau jaringan yang diperiksa. Waktu pemeriksaan virologi ini tidak lebih dari 3 m
inggu pertama kelahiran (kultur urine atau saliva). Pemeriksaan serologis (IgG a
tau IgM) kurang sensitif dan tidak dipakai untuk menegakkan diagnosis.
Pengelolaan kelainan kongenital/neonatal infeksi CMV :
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV.
Penyakit infeksi virus CMV, seperti juga penyakit virus lainnya adalah penyakit â sel
f limited diseaseâ . Pengobatan ditujukan kepada perbaikan nutrisi, respirasi dan hem
ostasis. Pengobatan anti virus masih belum jelas hasilnya. Dicoba cara pemberian
zat immunoglobulin in utero. Bagi ibu yang mengalami gangguan imunitas dikemban
gkan obat; ganciclovir, cidofovir, formivirsen, foscarnet (virustatic). Pemberia
n vaksin merupakan harapan dimasa datang.
Pemberian Ganciclovir pada dewasa: dosis induksi 5 mg/kg dua kali sehari, intra
vena selama 2 minggu, dipertahankan dengan dosis 5 mg/kg/hari. Pemberian oral un
tuk mempertahankan dosis dalam sirkulasi darah adalah 1 gram 3 kali sehari, perl
u diperhatikan efek samping yaitu gangguaan fungsi ginjal. Pemberian Ganciclovir
12mg/kg/hr pada bayi dapat mengurangi progresivitas ketulian dalam 2 tahun pert
ama kehidupannya.
Pencegahan :
Belum didapatkan obat yang baik untuk mencegah terjadinya infeksi CMV pada ibu d
an janin yang dikandungnya.
Dapat diusahakan :
1. Memberikan penerangan cara hidup yang higienis, menjauhi kontak dengan cairan
yang dikeluarkan oleh penderita CMV : urine, saliva, semen dlsb.
2. Bagi ibu, terutama yang melahirkan bayi prematur untuk berhati-hati dalam mem
berikan ASI. Bayi prematur imunitasnya masih rendah. ASI yang mengandung virus C
MV, didinginkan sampai â 20oC selama beberapa hari dapat menghilangkan virus. Cara la
in pasteurisasi cepat.
3. Hati-hati pada transfusi, darah harus dari donor sero-negatif.
4. Vaksinasi mempunyai harapan dimasa datang
Bagaimana di Indonesia ?
Masalah diagnosis infeksi CMV pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya masih k
ontroversial menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Diagnosis serologis untuk i
nfeksi kongenital CMV belum dipakai sebagai sarana pemeriksaan antenatal rutin.
Walaupun di negara maju dilaporkan bahwa angka kejadian, 3 dari 1000 bayi baru l
ahir terkontak CMV.
Adapun alasan yang umum adalah :
1. Biaya pemeriksaan yang relatif mahal
2. Pemeriksaan laboratorium serologis rutin masih belum sempurna, ada kemungkina
n positif palsu dan belum dapat memastikan adanya infeksi vertikal.
3. Pengobatan belum memuaskan, masih dalam penelitian-penelitian awal.
Kesimpulan
Infeksi cytomegalovirus pada ibu hamil merupakan bahaya cukup besar untuk terjad
inya kelainan kongenital pada janin dan bayi baru lahir.
Kemampuan diagnosis ditekankan kepada pemeriksaan serologis dan kemungkinan dila
kukan pemeriksaan virologis. Pengelolaan masih dalam awal penelitian dengan obat
-obatan virostatik. Penerangan untuk pencegahan akan terjadinya penularan agakny
a lebih penting daripada pengobatan bila telah terjadi infeksi.
Vaksinasi merupakan harapan dimasa datang dalam mencegah terjadinya infeksi pada
ibu hamil.
Pemeriksaan laboratorium serologis CMV secara rutin hanyalah menambah masalah da
ripada menyelesaikan masalah.
Prof. Dr. dr. Firman F. Wirakusumah, SpOG(K). Infeksi Cytomegalovirus (CMV) kong
enital dan permasalahannya. Diunduh tgl 03 april 2010; tersedia dari http://fmrs
hs.com/
Daftar Pustaka
1. Landini MP, Lazzaroto T. Prenatal Diagnosis of Congenital Cytomegalovirus Inf
ection: Light and Shade. HERPES 1999; 6(2):45-8 2. The Cleveland Clinic. Cytomeg
alovirus (CMV) Infection. Cleveland Clinic General Internal Medicine. 2003. 3. D
iagnostic Product Corporation. Cytomegalovirus, an important opportunistiv patho
gen. 2002. 4. Arav-Boger R, Pass RF. Diagnosis and management of cytomegalovirus
infection in the newborn. Pediatric Annals. 2002: 719 5. Fowler KB, Stagno S, P
ass RF. Maternal immunity and pevention of congenital cytomegalovirus infection.
.JAMA. 2003: 1008 6. Rivera LB, Boppana S, Fowler KB, Britt WJ. Predictor of he
aring loss in children with symptomatic congenital cytomecalovirus infection. Pe
diatrics 2002: 762 7. Bryant P, Morley C, Garland S, Curtis N. Cytomegalovirus t
ransmission from breast milk in premature babies. Archives of Disease in Childho
od. F75 2002. 8. Revello MG, Zavattoni M, Furione M, Lilleri D. Diagnosis and ou
tcome of preconceptional primary human cytomegalovirus infections. J infectious
Disease. 2002: 553-7 9. Sharland M, Khare M, Bedford-Russell A. Prevention of po
stnatal cytomegalovirus infection in preterm infants. Archives of Disease in Chi
ldhood. F140, 2002. 10. Hagay ZJ, Brian G, Ornoy A, Reece EA. Congenital cytomeg
alovirus infection. Am J Obstet Gynecol, 1996; 174: 241-5