Anda di halaman 1dari 18

IMBIBISI BIJI

JURNAL

OLEH:

CYNTHIA ZULINA
150301240
AGROEKOTEKNOLOGI V A

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2016
IMBIBISI BIJI

JURNAL

OLEH :

CYNTHIA ZULINA
150301240
AGROEKOTEKNOLOGI -5A

Jurnal sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian dan syarat untuk

dapat mengikuti praktikum dilaboratorium fisiologi tumbuhan program studi

agroekoteknologi fakultas pertanian universitas sumatera utara

Diperiksa oleh

Asisten Korektor

(RIZKY WULANDDARI)
NIM: 130301256

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan

rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dan tepat pada waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “IMBIBISI BIJI”.Dengan tujuan dari penulisan laporan

ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboraturium Fisiologi

Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof.Dr. Ir. J. A.

Napitupulu, Msc, Prof. Dr. Ir. J. M. Sitanggang, MP, Ir.Meiriani, MP, Ir. Ratna Rosanty Lahay,

MP, Ir. Haryati, MP, dan Ir. Lisa Mawarni, MP, selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan

serta abang dan kakak asisten Fisiologi Tumbuhan yang telah banyak membantu dalam

menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa pembuatan laporan ini jauh dari sempurna.Oleh karena itu

penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.Akhir kata, penulis

mengucapkan terimakasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

MEDAN, MARET 2016

PENULIS
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang .
Tujuan Percobaan
Kegunaan Praktikum

TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Percobaan
Bahan dan Alat
Prosedur Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Perhitungan
Pembahasan

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat

menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar sel.Osmosis terbalik

adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena

alam dalm sel hidup di mana molekul “solvent” (biasanya air) akan mengalir dari daerah “solute”

rendah ke daerah “solute” tinggi melalui sebuah membran “semipermeable”. Membran

“semipermeable” ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur

yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari “solvent” berlanjut sampai sebuah

konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran. Imbibisi adalah peristiwa penyerapan

air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik, seperti protein, pati, selulosa, agar-agar, gelatin, liat

dan zat-zat lainnya yang menyebabkan zat tersebut dapat mengembang setelah menyerap air tadi.

Kemampuan benda tadi untuk meyerap air disebut potensial imbibisi. Banyak sedekitnya air

dapat di imbibisi oleh suatu zat yang sangat tergantung pada nilai potensial air di sekitarnya.

Suatu percobaan dengan biji yang di rendam dalam larutan menunjukkan jumlah air yang dapat

di imbibisi oleh biji tersebut (Siregar, 1996).

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang

memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji adalah

struktur lain di dalam biji yang merupakan bagian kecambah, seperti calon akar (radicula), calon

daun, batang (plumule) dan sebagainya. Pada proses perkecambahan, biji membutuhkan air

dalam jumlah minimum dalam tubuhnya, atau yang disebut dengan “taraf kandungan minimum”.

Jika kandungan air benih kurang dari batas tersebut akan menyebabkan proses perkecambahan

terganggu. Fungsi utama cadangan makanan dalam biji adalah memberi makan pada embrio atau
tanaman yang masih muda sebulum tanaman itu dapat memproduksi sendiri zat makanan,

hormone, dan protein (Ashari. 1995).

Pola khas indeks luas daun suatu tanaman budidaya yang berbeda dengan sorgum,

dimana periode L yang tinggi tersebut sangat pendek.Orang mungkin tidak memilih untuk

menghadapi jenis dormansi, karena dapat mencegah perkecambahan biji sebelum waktunya

(Goldsworthy and Fisher 1992)

Air dan oksigen sangat diperlukan dalam perkecambahan dan cahaya atau kekurangannya

juga sangat berperan. Beberapa biji menyerap air 10 kali atau lebih dari berat total air sebelum

akar timbul. Beberapa biji, sebagaimana biji jarak telah menemukan bahwa fungsi penyerapan

air dapat meningkat proses perkecambahan (Stern, 2001).

Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-bijian

memerlukan rangsangan cahaya. Nampaknya ada dua himpunan tekanan ekologis yang

mempengaruhinya : Pertama, biji-biji dari banyaknya tanaman-tanaman penggangu. Kedua,

dimana perkecambahan yang dirangsang oleh cahaya adalah baik, dimana species

mengembangkan satu cadangan biji-bijin yang terkubur. (Fitter and Hay. 1978)

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang

memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji adalah

struktur lain di dalam biji yang merupakan bagian kecambah, seperti calon akar (radicula), calon

daun, batang (plumule) dan sebagainya. Pada proses perkecambahan, biji membutuhkan air

dalam jumlah minimum dalam tubuhnya, atau yang disebut dengan “taraf kandungan minimum”.

Jika kandungan air benih kurang dari batas tersebut akan menyebabkan proses perkecambahan

terganggu. Fungsi utama cadangan makanan dalam biji adalah memberi makan pada embrio atau

tanaman yang masih muda sebulum tanaman itu dapat memproduksi sendiri zat makanan,
hormone, dan protein. (Ashari.1995)

Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara. Efek

yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel embrio membesar dan biji melunak.

(Http://id.wikipedia.org/wiki/perkecambahan, 2008)

Imbibisi merupakan penyusupan atau penyarapan air kedalam ruangan antar dinding sel.

Sehingga dinding selnya akan mengembang. Misalnya, masukkan air pada biji saat berkecambah

dan biji kacang yang direndam dalam air beberapa jam. (www.tedbio.multiply.com/journal,

2008)

Suhu hamper tidak berpengaruh pada interkontrol versi fotokimia yang dikendalikan oleh

pfr dan yang mempengaruhi perusakan ptr sangat peka terhadap suhu. (Salisbury and Ross.1992)

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah menentukan daya hisap biji terhadap air dan

membandingkan daya hisap air beberapa biji tanaman Padi (Oryza sativa) dan Kacang Merah

(Phaseolus vulgaris).

Kegunaan Praktikum

Adapun kegunaan dari penuylisan ini dalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi

komponen penilaian dan sayart untuk dapat mengikuti praktikum di laboratorium fisiologi

tumbuhan program studi agroekoteknologi fakultas pertanian universitas sumatera utara. Dan

sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Hingga karakter tahan air serta biji mampu berkacambah. Penyebab lain yaitu pengujian

impermeable penyerupaan gas, sehimgga O2 tidak dapat masuk kedalam sel dan CO2 tidak bisa

keluar. Dengan peristiwa tersebut, sel menjadi dapat ditembus dan embrio dapat bernafas dengan

bebas. (Thompson. 1990)

Dua kondisi yang cocok diperlukan untuk terjadinya imbibisi yaitu : kemiringan/gradien,

potensi air harus ada antara permukaan absorbsi dan imbibisi air dan affinier (gaya gabung)

harus ada antara komponen absorbsi dan substrat (bahan) imbibisi. (Devlin and Witham. 1992)

Penambahan volume dalam peristiwa imbibisi adalah lebih kecil dari pada penjumlahan

volume zat mula-mula, dengan zat yang diimbibisikan apabila dalam keadaan bebas.Perbedaan

ini diduga karena zat atau molekul yang diimbibisikan harus menempati ruang diantara moleku-

molekul zat yang mengimbibisi sehingga volume zat yang diimbibisikan tertakan lebih kecil dari

pada bila dalam keadaan bebas. (Heddy. 1990)

Setalah air berimbibisi enzim mulai berfungsi dalam sitoplasma yang mana telah

terhidrasi.Imbibisi kembali beberapa enzim yang mengubah protein menjadi asam amino, lemak

dan minyak menjadi larutan sederhana atau campuran dan enzim-enzim lain yang merombak pati

menjadi gula.Air dan oksigen adalah kebutuhan utama perkecambahan serta cahaya.

(Stern,dkk. 1998)

Imbibibisi adalah suatu proses fisika dengan suatu nilai kurang dari 2 dan akan terjadi

pula biji yang tidak mampu hidup. Potensial air pada biji-bijian kering cukup rendah untuk

menarik uap iar dari atmosfir tanah, tetapi laju gerakannya sangat lebih lambat lewat lintasan

uap.Sebab utama potensial air biji yang rendah, adalah bahan simpanan yang terutama bersifat
koloid, khususnya protein. Berat suatu biji yang kaya proteindapat melipat dua dalam 24 jam

sebagai akibat air yang diambil. Dalam biji padi-padian yang berpati, berat permulaan dapat

meningkatsampai kira-kira 150% berat aslinya. (Fitter and Hay. 1990)

Imbibisi merupakan penyerapan air oleh imbiban, contohnya penyerapan air oleh benih

dalam proses awal perkecambahan, benih akan membesar, kulit benih pecah, berkecambah,

dilandasi oleh keluarnya radikula dari dalam benih. Syarat imbibisi yaitu perbadaan tekanan

antara benih dengan larutan, dimana tekanan benih lebih kecil dari pada tekanan larutan, ada

daya tarik-menarik yang spesifik antara air dan benih.Benih memiliki partikal koloid yang

merupakan matriks, bersifat hidrofil berupa protein, pati, sellulose, dan benih kering memiliki

tekanan sangat rendah. (www.Faperta.ugm.ac.id/imbibisi. 2008)

Ahli fisiologi benih menyatakan ada empat tahap: (1) hidrasi atau imbibisi, selama kedua

priode tersebut, air masuk kedalam embrio dan membasahi protein dan koloid lain. (2)

pembentukan atau pengaktifan enzim, yang menyebabkan peningkatan aktivitas metabolik. (3)

pemanjangan sel radikal, diikuti munculnya radikula dari biji. (4) pertumbuhan kecambah

selanjutnya. Lapisan yang membungkus embrio, yaitu endosperm, kulit biji dan kulit buah. 

(Salisbury and Ross.1992)

Banyaknya air yang dihisap selama proses imbibisi umumnya kecil, cepat dan tidak boleh

lebih dari 2-3 kali berat kering dari biji. Kemudian pertumbuhan biji tampak terhadap

pertumbuhan akar dan system yang cepat, lebih luas dan banyak menampung sumber air yang

diterima. (Bewley and Black. 1992

Peristiwa imbibisi pada hakekatnya tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu  proses

difusi belaka, sebab bukankah sel-sel biji kacang kering itu mempunyai nilai osmosis tinggidan
oleh karena itu mempunyai defisit tekanan osmosis yang besar pula jika molekul-molekul

airberdifusi dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi yang tinggi.Peristiwa imbibisi

sebenarnya juga peristiwa osmosis, sebab dinding sel-sel kulit maupun protoplas biji kacang itu

permeabel untuk molekul-molekul air (Purba, 2001).

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari senin, 28 maret 2016 pada pukul 08.00 –

09.40 WIB di laboratorium fisiologi tumbuhan program studi agroekoteknologi fakultas

pertanian universitas sumatera utara.

pada ketinggian 25 meter diatas permukaan laut.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan adalah biji Padi (Oryza sativa) dan Kacang Merah

(Phaseolus vulgaris) sebagai objek percobaan, Air sebagai indikator biji dan Kertas Label untuk

menulis label nama.

Adapun alat yang digunakan adalah Botol Kocok untuk tempat objek percobaan,

Timbangan untuk menimbang berat biji yang diinginkan, Kalkulator untuk menghitung data,

Tissue untuk mengeringkan biji, Kertas Millimeter untuk menggambar grafik alat tulis untuk

menulis data, dan sebagainya.

Prosedur Percobaan

Adapun prosedur percobaan yang dilakukan adalah

• Disiapkan 16 botol kocok / gelas beaker

• Ditimbang biji padi dan biji kacang merah masing-masing 10 gram

• Dimasukkan kedalam botol kocok / beaker glass dan masing-masing biji direndam dengan 20 g

(20 ml) air selama 1,3,5,6,8,12,24,48 jam.

• Ditimbang berat biji yang telah direndam sesuai perlakuan dan sisa air

• Dihitung persentase kadar air dengan rumus:


% Kadar Air = Berat Akhir – Berat Awal X 100 % / Berat Akhir

• Digambar grafik hubungan antara lama perendaman dengan pertambahan berat biji dalam satu

grafik.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Komiditi : PADI ( Orya sativa L.)

Lama Berat Berat Pertambaha Kadar Berat Air yang Selisih Air

Perendama awal Akhir n Berat Biji Air (%) Sisa (g) Diabsorb yang

n ( jam ) biji Biji (g) (g) si(g) diabsorbsi

(g) dgn

pertambahan

berat biji
1 10 13,5 3,5 25,9 16,5 3,5 0
2 - - - - - - -
3 10 12.5 2.5 20 15 5 2.5
4 - - - - - - -
5 10 14.5 4.5 31 16 49 0.5
6 10 14.5 4.5 31 13 5 0.3
8 10 19 9 47.16 10 10 1
12 10 17 7 41.7 10 10 3
24 10 15 5 36.3 9 11 6
48 10 14 4 28.57 5 15 11

Komoditi : Kcang Merah ( Ligna anyularis L.)

Lama Berat Berat Pertambaha Kadar Berat Air yang Selisih Air

Perendama awal Akhir n Berat Biji Air (%) Sisa (g) Diabsorb yang

n ( jam ) biji Biji (g) (g) si(g) diabsorbsi

(g) dgn

pertambahan
berat biji
1 10 16 6 37.5 13 7 1
2 - - - - - - -
3 10 16.5 6.5 39.39 13 7 0.5
4 - - - - - - -
5 10 19 9 47.3 12 8 1
6 10 19.5 9.5 48.71 10 10 0.5
8 10 21.5 11.5 53.48 11 9 2.5
12 10 20 10 50 10 10 0
24 10 21 11 53.38 9 11 0
48 10 21 11 52.38 7.5 12.5 1.5

Pembahasan

Faktor-faktor yang mempenaruhi terbentuknya imbibisi pada kacang merah dan padi

adalah tekanan, kulit biji, benih dan substratnya. Semakin kecil tekanan benih dari pada tekanan

larutan, maka semakin besar proses imbibisi. Kulit biji tipis, mengandung substrat yang mudah

larut dalam air dan benih tidak kering, maka air yang diserap akan lebih banyak dan sebaliknya.

Hal ini sesuai literature Http://www.Faperta.ugm.ac.id (2008) yang menyatakan bahwa tekanan

benih lebih rendah dari tekanan larutan.Benih merupakan koloid yang merupakan matriks,

bersifat hidrofil berupa protein pati, dan sellulosa.

Faktor yang mempengaruhi ketidak akuratan data ialah disebabkan oleh kurangnya

perhatian praktikan terhadap percobaan, yang mengakibatkan kurangnya air yang mengakibatkan

potensi air biji yang rendh akan menghambat proses imbibisi biji, dimana hal ini terjadi pada biji

yang kering dan keriput. Selain itu juga dipengaruhi komponen absorbsi dan substratsi biji. Hal

ini sesuai dengan literatur Davlin and Witham (1992) bahwa dua kondisi yang cocok yang

diperlukan untuk terjadinya imbibisi yaitu: (1) gradien potensi air harus ada antara permukaan

absorbsi dan imbibisi air dan (2) affinitter harus ada antara komponen absorbsi dan subtansi

imbibisi.
Berat padi yang direndam selama 48jam bertambah sebesar 25,2 gram, sedangkan kacang

merah 34,0 gram. Hal ini karena kacang merah mengandung protein dan padi mengandung zat

tepung. Zat tepung lebih mudah larut, tetapi padi memiliki kulit yang keras, sehingga susah

untuk mengabsorbsi air, sebaliknya kacang merah memiliki kulit yang tipis, sehingga lebih

banyak menyerap air dan biji bertambah besar. Hal ini sesuai dengan literatur Fitter and Hay

(1990) yang menyatakan bahwa imbibisi terjadi pada waktu biji kering yang tidak memiliki kulit

biji yang kedap diletakkan dalam kontak dengan air.

Pada percobaan didapat padi memiliki pertambahan berat yang baik dari hasil penyerapan

air, tetapi pada perlakuan 8 jam berat padi cenderung menurun dan pada perlakuan 24jam berat

padi bertambah lagi.Hal ini dipengaruhi oleh radicula. Pernyataan ini sesuai dengan literatur

Fitter and Hay (1990) yang menyatakan bahwa dalam biji-bijian padi yang berpati, berat

permulaan dapat meningkat dampai kira-kira 150 % berat aslinya, setelah itu beratnya tetap

(konstan) sampai permunculan radicula.


KESIMPULAN

1. Pada percobaan didapat % KA terbesar biji padi dengan lama perendaman 48 jam yaitu

sebesar 28,57 %.

2. Pada percobaan didapat % KA terbesar pada biji kacang merah adalah biji kacang merah

dengan lama perendaman 48 jam yaitu sebesar 77,27 %.

3. Pada percobaan didalam % KA terkecil pada biji padi adalah biji padi dengan lama

perendaman 8 jam yaitu sebesar 3,85 %.

4. Pada percobaan didapat % KA terkecil pada biji kacang merah adalah biji kacanag merah

dengan lama perendaman 1 jam yaitu sebesar 8,25 %.


5. Berat akhir biji padi yang tertinggi pada perlakuan selama 48jam yaitu sebesar 35,2 gram

dengan kadar air 71,50 % , sedangkan berat akhir yang terendah pada perlakuan selama 8 jam

dengan kadar air 3,85 %.

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S. 1995. Holtikultura Aspek Budidaya. UI Press. Jakarta.

Bewley. J. D and Black M. 1992. Seeds Physiology Of Development and Germination. Plenum

Press. New York.

Devlin, R. M and F. H. Witham. 1992. Plant Physiology. Wardsworth Publishing Company.

California.

Fitter, A. H and R. K. M. Hay. 1990. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM Press.Yogyakarta.

Goldswothy, P. R and Fisher, N. M. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada

University Press.Yogyakarta.
Http://www.Faperta.UGM.ac.id/buper. 2008. Imbibisi. Diakses pada tanggal 30 MARET 2016.

Page 1-3.

Http://www.Tedbio.multiply.com. 2008. Transportasi pada tumbuhan. Diakses pada tanggal 30

MARET 2016. Page 1-2.

Http://id.wikipedia.org/wiki/perkecambahan. 2008. Perkecambahan. Diakses pada tanggal 30

MARET 2016 .Page 1.

Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.

Purba, Michael. 2001. “ Morfologi dan Sistematika Tumbuhan”, Universitas

Indonesia: Jakarta.

Salisbury, K. B. and H. W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB. Bandung.

Siregar, Arbaya. 2003. Fisiologi Tumbuhan. Direktoral Jendral Pendidikan Tingkat

 DEPDIKBUD. Bandung.

Stern, K. Jansky and J. E. Bidlack. 1998. Introductory Plant Biology. Mc Graw Hill. New York.

Thompson, J. R. 1990. An Introduction to Seed Technology. Leonard Hill.