Anda di halaman 1dari 1

“Andi! Tunggu!” Ratih berseru sembari mempercepat langkah kaki.

Tak ambil pusing, remaja bertubuh atletis yang dipanggil Andi malah mempercepat langkah
kakinya menapaki jalan keluar sekolah mereka yang dirimbuni pepohonan penyejuk. Andi bahkan
tak menoleh ketika ada seorang siswa memanggil namanya. Siang itu memang teramat panas dan
seperti biasanya anak-anak berseragam putih biru terlihat membuat kelompok-kelompok kecil di
bawah pohon Trembesi yang ditanam di sepanjang jalan menuju pintu gerbang sekolah. Entah
membicarakan apa.

“Andi, please deh! Konyol amat kamu. Ihhh baper!” teriak Ratih tanpa memusingkan banyak mata
yang memandangi dirinya yang nampak seperti orang bego berbicara dengan dirinya sendiri. Ratih
tampak kesal. Wajahnya cemberut. Baru sekali ini Andi bertingkah seperti ini. Tega amat dia.
Ratih jadi cemas.

Di depan gerbang sekolah, Andi menghentikan langkahnya. Sengaja menunggu. Kini malah Ratih
yang terlihat ragu untuk membuat beberapa langkah maju mendekati Andi. Baru sekali ini Ratih
melihat wajah Andi bagaikan udang direbus.

“Ngapain kamu pake ngejar-ngejar segala, udah kayak tukang kredit aja!” ledek Andi. Nadanya
terdengar ketus di telinga Ratih. Sama seperti Ratih, Dani pun tak peduli beberapa teman kelas
memperhatikannya. Pemandangan di belakang sekolah tadi sudah menyulut seberkas api di dalam
hatinya. Api cemburu. Melihat Ratih berduaan di belakang kelas bersama si buaya Antoni sekaligus
anak papa paling brengsek di sekolah mereka, oh my good, Andi benar-benar marah.

“Tunggu Andi, biar kujelasin dulu persoalanya! Semua tidak seperti yang kamu kira Andi!” ujar
Ratih setelah memberanikan diri membuat beberapa langkah mendekati Andi.
“Gak ada yang perlu dijelasin lagi di sini!”
“Kamu gak malu ya, dilihatin banyak orang, mending kita nyari tempat lain aja yuk!” Ratih
berbisik di telinga Andi
“Ngapain!” Andi membentak Ratih.
“Konyol benar loe Ndi!” balas Ratih sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasar play girl loe!” ledek Andi. Ia tak berani mengucapkan perkataanya itu secara lantang. Tak
pantas menghina seorang gadis di depan umum seperti itu, pikirnya. Kalimat ini sengaja dibisikan
ke telinga Ratih. Imbasnya, justru membuat Dani jadi kelabakan sendiri. Ratih sama sekali tak
marah dibilang seperti itu. Malah tertawa sambil berkata, “Ciee ciee ada yang cemburu berat nih.
Baper ya, liatin gue tadi!. Udah ah, kayak anak SMP aja loe. Ayo, kita pulang ntar di jalan
kuceritain kejadian sebenarnya, biar kamu gak salah paham!”

Andi sendiri keheranan, dia tak bisa menampik ajakan Ratih. Padahal hatinya tengah dibakar
amarah. Andi bagaikan sapi ditarik hidungnya ketika Tangan Ratih menarik pergelangan tanganya
untuk berjalan meninggalkan sekolah mereka.

Beri Nilai