Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.

D DENGAN THYPOID
DI RUANGAN ALAMANDA III RSUD SLEMAN

Disusun oleh:

Dede Dhazreka 19400010


Endri Puspita Intani 19400011
Rizkiyanto Ruhim 19400037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM PROFESI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GUNA BANGSA
YOGYAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan asuhan
keperawatananakginekologi dengan kasus thypoid tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas selama masa
profesi ners pada stase keperawatan anak. Selain itu, laporan ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang keperawatan anak bagi para pembaca dan juga
bagi penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pembimbing akademik (dosen) dan
pembimbing lapangan (CI) yang telah membantu dalam pembuatan laporan ini
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan
ini.
Kami menyadari, laporan yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi
kesempurnaan laporan ini.

Sleman, 27 Februari 2020


 
Penulis

2
LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM TYPHOID

A. Definisi
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus
dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada
saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (Ngastiyah,
2014).
Demam thypoid atau thypoid fever adalah suatu sindrom sistemik yang
terutama disebabkan oleh salmonella thypi. Demam thypoid merupakan
jenis terbanyak dari salmonellosis. Jenis lain dari demam enterik adalah
demam parathypoid yang disebabkan oleh S. Parathypi A, S. Schottmuelleri
(S. Parathypi B) S. Hirschfeldii (S. Parathypi C). Demam thypoid
memperlihatkan gejala lebih berat dibandingkan demam enterik yang lain
(Widagdo, 2012).
Demam thypoid adalah suatu penyakit yang hanya menyerang anak-
anak usia sekolah, disebabkan oleh infeksi salmonella thypii ada usus kecil
dan aliran darah. Bakteri ini tercampur di dalam air kotor atau susu dan
makanan yang terinfeksi. Pada usus kecil akan timbul tukak, dan bakteri
kemudian masuk ke aliran darah. Masa tular antara satu atau dua minggu
(Irianto, 2015).

B. Etiologi
Menurut Widagdo (2012) etiologi dari demam tifoid adalah Salmonella
typhi, termasuk genus Salmonella yang tergolong dalam family
Enterobacteriaceae. Salmonella bersifat bergerak, berbentuk spora, tidak
berkapsul, gram (-). Tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan beberapa
hari/minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan kering, bahan
farmasi, dan tinja. Salmonella mati pada suhu 54,4º C dalam 1 jam atau 60º
C dalam 15 menit. Salmonella mempunyai antigen O (somatik) adalah

3
komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang stabil pada panas dan
antigen H (flagelum) adalah protein yang labil terhadap panas. Pada S.
typhi, juga pada S. Dublin dan S. hirschfeldii terdapat antigen Vi yaitu
polisakarida kapsul.

C. Manifestasi klinis
Menurut Wibisono (2014) menifestasi klinik tifoid yaitu:
1. Nyeri kepala, lemah, lesu, nyeri otot pada minggu pertama,
2. Demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama 3 minggu,
minggu pertama peningkatan suhu tubuh berflukutasi. Biasanya suhu
tubuh meningkat pada malam hari dan menurun pagi hari. Pada minggu
kedua suhu tubuh terus meningkat, dan minggu ketiga suhu
berangsurangsur turun dan kembali normal.
3. Gangguan pada saluran cerna: halitosis (bau nafas yang menusuk), bibir
kering dan pecah-pecah lidah di tutupi selaput putih kotor (coated
tongue), metorismus, mual, tidak nafsu makan, hepatomegali,
splenomegali yang disertai nyeri perabaan.
4. Gangguan kesadaran: penurunan kesadaran (apatis, somnolen).

D. Patofisiologis
Bakteri salmonella typhi masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan
air yang tercemar. Sebagian kuman dihancurkan oleh asam lambung, dan
sebagian masuk ke usus halus, mencapai plague peyeri di ileum terminalis
yang hipertrofi. Salmonella typhi memiliki fimbria khusus yang dapat
menempel ke lapisan plague peyeri, sehingga bakteri dapat di fagositosis.
Setelah menempel, bakteri memproduksi protein yang mengganggu brush
bonder usus dan memaksa sel usus untuk membentuk kerutan membran
yang akan melapisi bakteri dalam vesikel. Bakteri dalam vesikel akan
menyebrang melewati sitoplasma sel usus dan di presentasikan ke makrofag
(Wibisono, 2014).

4
Kuman memiliki berbagai mekanisme sehingga dapat terhindar dari
serangan system imun seperti polisakarida kapsul Vi. Penggunaan makrofag
sebagai kendaraan dan gen Salmonella patogencity Island 2 (SPI2)
(Wibisono, 2014).
Setelah sampai kelenjar getah bening mensenterika, kuman kemudian
masuk ke aliran darah melalui duktus torasikus sehingga terjadi bakteremia
pertama yang asimtomatik. Salmonella typhi juga bersarang dalam sistem
retikuloendotelial terutama hati dan limpa, dimana kuman meninggalkan sel
fagosit berkemang biak dan masuk sirkulasi darah lagi sehingga terjadi
bakteremia kedua dengan gejala sistemik. Salmonella typhi menghasilkan
endotoksin yang berperan dalam inflamasi lokal jaringan tempat kuman
berkembang biak merangsang pelepasan zat pirogendan leukosit jaringan
sehingga muncul demam dan gejala sistemik lain. Perdarahan saluran cerna
dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague peyeri. Apabila
proses patologis semakin berkembang, perorasi dapat terjadi (Wibisono,
2014).

E. Pathway

5
Sumber: (Widagdo, 2012)
F. Pemeriksaan penunjang
Menurut Ngastiyah (2014) pemeriksaan penunjang Thypoid
Abdominalis adalah:
1. Pemeriksaan darah tepi Leokopenia, limfositosis, aneosinofilia, anemia,
trombositopenia.
2. Pemeriksaan sum-sum tulang
Menunjukkan gambaran hiperaktif sumsum tulang.
3. Biakan empedu
Terdapat basil salmonella typosa pada urin dan tinja. Jika pada
pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil
salmonella typosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betul-
betul sembuh.
4. Pemeriksaan widal

6
Didapatkan titer terhadap antigen 0 adalah 1/200 atau lebih, sedangkan
titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan akan dapat tetap tinggi
setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh

G. Penatalaksanaan
Menurut Ngastiyah (2014) pasien yang di rawat dengan diagnosis
observasi Thypoid Abdominalis harus dianggap dan diperlakukan langsung
sebagai pasien Thypoid Abdominalis dan di berikan pengobatan sebagai
berikut:
1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta.
2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit
yang lama, lemah, anoreksia, dan lain-lain.
3. Istirahat selama demam sampai 2 minggu setelah suhu normal kembali
(istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh
berdiri kemudian berjalan diruangan.
4. Diet makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi
protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak
merangsang dan tidak menimbulkan gas.dianjurkan minum susu 2 gelas
sehari. Apabila kesadaran pasien menurun di berikan makanan cair,
melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik
dapat juga di berikan makanan lunak.
5. Pemberian antibiotik Dengan tujuan menghentikan dan mencegah
penyebaran bakteri. Obat antibiotik yang sering di gunakan adalah:
a. Chloramphenicol dengan dosis 50 mg/kg/24 jam per oralatau
dengan dosis 75 mg/kg/24 jam melalui IV dibagi dalam 4 dosis.
Cloramhenicol dapat menyembuhkan lebih cepat tetapi relapse
terjadi lebih cepat pula dan obat tersebut dapat memberikan efek
samping yang serius.
b. Ampicillin dengan dosis 200 mg/kg/24 jam melalui IV di bagi
dalam 6 dosis. Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih
rendah dibandingkan dengan chloramphenicol.

7
c. Amoxicillin dengan dosis 100mg/kg/24 jam per os dalam 3 dosis
d. Trimethroprim-sulfamethoxazol masing-masing dengan dosis 50
mg SMX/kg/24 jam per os dalam 2 dosis,merupakan pengobatan
klinik yang efisien e. Kotrimoksazol dengan dosis 2x 2 tablet (satu
tablet mengandung 400mg sulfamethoxazole dan 800 mg
trimetroprim.Efektifitas obat ini hampir sama dengan
cloromphenicol

H. Komplikasi
Menurut Widagdo (2012) Komplikasi dari Thypoid Abdominalis dapat
digolongkan dalam intra dan ekstra intestinal. Komplikasi intestinal
diantaranya ialah:
1. Perdarahan Dapat terjadi pada 1-10 % kasus, terjadi setelah minggu
pertama dengan ditandai antara lain oleh suhu yang turun disertai
dengan peningkatan denyut nadi.
2. Perforasi usus Terjadi pada 0,5-3 % kasus, setelah minggu pertama
didahului oleh perdarahan berukuran sampai beberapa cm di bagian
distal ileum ditandai dengan nyeri abdomen yang kuat, muntah, dan
gejala peritonitis. Komplikasi ekstraintestinal diantaranya ialah:
a. Sepsis
Ditemukan adanya kuman usus yang bersifat aerobic
b. Hepatitis dan kholesistitis
Ditandai dengan gangguan uji fungsi hati, pada pemeriksaan
amylase serum menunjukkan peningkatan sebagai petunjuk adanya
komplikasi pancreatitis.
c. Pneumonia atau bronchitis
Sering ditemukan yaitu kira-kira sebanyak 10 %, umumnya
disebabkan karena adanya superinfeksi selain oleh salmonella.
d. Miokarditis toksik

8
Ditandai oleh adanya aritmia, blok sinoatrial, dan perubahan
segmen ST dan gelombang T, pada miokard dijumpai infiltrasi
lemak dan nekrosis.
e. Trombosis dan flebitis
Jarang terjadi, komplikasi neurologis jarang menimbulkan gejala
residual yaitu termasuk tekanan intrakranial meningkat, thrombosis
serebrum, ataksia serebelum akut, tuna wicara, tuna rungu, mielitis
tranversal, dan psikosis.
f. Komplikasi lain
Pernah dilaporkan ialah nekrosis sumsum tulang, nefritis, sindrom
nefrotik, meningitis, parotitis, orkitis, limfadenitis, osteomilitis, dan
artritis.

I. Konsep asuhan keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas, sering ditemukan pada anak berumur di atas satu tahun.
b. Keluhan utama berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala,
pusing, dan kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang
(terutama selama masa inkubasi).
c. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama tiga
minggu, bersifat febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali.
Selama minggu pertama suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap
harinya, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada
sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, pasien terus berada
dalam keadaan demam. Pada minggu ketiga, suhu berangsur turun
dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
d. Kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak
beberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi spoor,
koma, atau gelisah (kecuali bila penyakitnya berat dan terlambat
mendapat pengobatan). Di samping gejala-gejala tersebut mungkin
terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat

9
ditemukan reseola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli
basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama
demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis
pada anak besar.
e. Pemeriksaan fisik
1) Mulut, terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering
dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor
(Cated tongue), sementara ujung dan tepinya berwarna
kemerahan, dan jarang disertai tremor.
2) Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung
(Meteorismus). Bisa terjadi konstipasi, atau mungkin diare atau
normal.
3) Hati dan limpa membesar disertai dengan nyeri pada perabaan.
f. Pemeriksaan laboratorium
1) Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia,
limfositosis relative, dan aneosiniofilia pada permulaan sakit.
2) Darah untuk kultur (biakan, empedu) dan widal.
3) Bukan empedu basil Salmonella typhosa dapat ditemukan dalam
darah pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya, lebih
sering ditemukan dalam urin dan feces.
4) Pemeriksaan widal
Untuk membuat diagnosis, pemeriksaan yang diperlukan ialah
liter zat anti terhadap antigen O. Titer yang bernilai 1/200 atau
lebih menunjukkan kenaikan yang progresif.
2. Diagnosa keperawatan
a. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
b. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
makanan
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas.
3. Rencana keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

10
Luaran Intervensi
Setelah dilakukan intervensi Manajemen hipertermia
keperawatan selama 3 x 24 jam Observasi:
maka termoregulasi membaik  Identifikasi penyebab
dengan kriteria hasil: hipertermia
1. Menggigil (4)  Monitor suhu tubuh
2. Kulit merah (4)  Monitor kadar elektrolit
3. Pucat (4) Terapeutik
4. Suhu tubuh (4)  Sediakan lingkungan yang
5. Suhu kulit (4) dingin
 Longgarkan atau lepaskan
pian
 Basahi dan kipasi permukaan
tubuh
 Berikan cairan oral
 Ganti linen setiap hari atau
lebih sering jika mengalami
hiperhidrosis
 Lakukan pendinginan
eksternal
 Hindari pemberian antipiretik
dan aspirin
 Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
 Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian cairan
dan elektrolit intravena

2. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna


makanan
Luaran Intervensi
Setelah dilakukan intervensi Manajemen nutrisi
keperawatan selama 3 x 24 jam Observasi:
maka status nutrisi membaik  Identifikasi status nutrisi
dengan kriteria hasil:  Identifikasi alergi dan
1. Porsi makanan yang intoleransi makanan
dihabiskan (4)  Identifikasi makanan yang
2. Verbalisasi keinginan untuk disukai
meningkatkan nutrisi (4)  Monitor asupan makanan
3. Pengetahuan tentang standar  Monitor berat badan
nutrisi yang terpat (4)  Monitor hasil pemeriksaan
4. Nyeri abdomen (4) laboratorium
5. Frekuensi makan (4) Terapeutik:
6. Nafsu makan (4)
 Lakukan orang hygine

11
sebelum makan, jika perlu
 Fasilitasi menentukan
pedoman diet
 Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang
sesuai
 Berikan makanan tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
 Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
 Berikan suplemen makanan,
jika perlu
 Hentikan pemberian makan
selang nasogatrik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi:
 Anjurkan posisi duduk, jika
mampu
 Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi:
 Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan,
jika perluu
 Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutren yang
dibutuhkan, jika perlu

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas


Luaran Intervensi
Setelah dilakukan intervensi Manajemen energi
keperawatan selama 3 x 24 jam Observasi:
maka tolerasnsi aktivitas  Identifikasi gangguan fungsi
membaik dengan kriteria hasil: tubuh yang mengakibatkan
1. Saturasi oksigen cukup kelelahan
meningkat (4)  Monitor kelelahan fisik dan
2. Kelulah lelah cukup emosional
menurun (4)  Monitor pola dan jam tidur
3. Kekuatan tubuh bagian  Monitor lokasi dan
atas cuku meningkat (4) ketidaknyamanan selama
4. Kekuatan tubuh bagian melakukan aktivitas
bawah cukup meningkat Terapeutik
(4)  Sediakan lingkungan yang

12
nyaman dan rendah stimulus
(mis. Cahaya, suara,
kunjungan)
 Lakukan latihan rentang
gerak aktif dan pasif
 Berikan aktivitas distraksi
yang menenangkan
 Fasilitasi duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak dapat
berpindah atau berjalan
Edukasi
 Anjurkan tirah baring
 Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
 Anjurkan untuk
menghubungi perawat jika
tanda kelelahan tidak
berkurang
Kolaborasi
 Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan

DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. (2014). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

Widagdo. (2012). Masalah & Tatalaksana Penakit Infeksi pada Anak. Jakarta: CV
Sagung Seto.

Irianto, Koes. (2015). Memahami Berbagai Penyakit. Bandung: Alfabeta

Wibisono Elita et al. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media


Aesculapius.

Tim Pojka SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Cetakan: 3. Jakarta: PPNI.

Tim Pojka SDKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Cetakan: 2. Jakarta: PPNI.

Tim Pojka SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Cetakan: 2. Jakarta: PPNI.

13
14

Anda mungkin juga menyukai