Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

EJAAN PUEBI DAN PENGGUNAAN KATA ILMIAH

DISUSUN OLEH :

Nughie Ari Nugraha 195100200111004


Andhika Nanda Pratama 195100200111018
Fahmi Bashor Hamdi 195100200111030
Dinda Salsabila 195100200111042
Risty Dwi W. Silalahi 195100201111002
Widya Hadriyanti 195100201111009
Rofiatul Hasanah 195100201111016
Noer Rachmawati 195100201111023
Anis Anggara 195100207111009

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019/2020
ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, hanya karena izin-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah kami berjudul “Ejaan PUEBI dan pengguaannya dalam karya
Ilmiah” sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia ini dengan tepat pada waktunya. Tak lupa
kami kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
Makalah ini berisi tentang penulisan ejaan PUEBI dan penggunaan PUEBI dalam
karya ilmiah. Dalam penyusunannya penulis melibatkan berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala dukungan yang diberikan untuk
menyelesaikan makalah ini.
Meski telah disusun secara maksimal oleh penulis, akan tetapi penulis sebagai
manusia biasa sangat menyadari bahwa makalah ini sangat banyak kekurangannya dan masih
jauh dari kata sempurna. Karenanya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca.
Besar harapan penulis makalah ini dapat menjadi inspirasi atau sarana referensi belajar
bagi para pembaca dalam memahami ejaan PUEBI dan penggunaan PUEBI dalam karya
ilmiah. Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga para pembaca dapat mengambil
manfaat dan pelajaran dari makalah ini.

Malang, 12 Februari 2020

Penulis
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN....................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................................2
1.3 Tujuan............................................................................................................................2
BAB 2. PEMBAHASAN.......................................................................................................3
2.1 PUEBI............................................................................................................................3
2.1.1 Pemakaian Huruf.....................................................................................................3
2.1.2 Penulisan Kata.........................................................................................................5
2.1.3 Pemakaian Tanda Baca............................................................................................8
2.2 Perbedaan Kata Baku Dan Kata Lugas Dalam Penggunaan Kata Ilmiah....................21
2.3 Kegunaan Istilah..........................................................................................................23
BAB 3. PENUTUP..............................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................25
1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan bahasa Indonesia terdapat ragam bahasa. Menurut Kusumaningsih
(2013 : 15), ragam bahasa adalah istilah yang dipakai untuk menunjuk salah satu dari
sekian variasi yang terdapat dalam pemakaian bahasa. Ragam bahasa terdiri atas bahasa
lisan dan tulisan.Ragam bahasa tulis dibagi menjadi dua bagian yaitu ragam bahasa tulis
nonformal dan bahasa tulis resmi (formal). Ragam bahasa tulis nonformal biasa digunakan
pada suasana yang tidak resmi. Ragam bahasa tulis nonformal merupakan ragam bahasa
tulis yang bentuknya bebas, tidak terikat tata bahasa dan cenderung bergantung pada gaya
penulisnya. Contoh ragam bahasa tulis nonformal adalah layanan pesan singkat kepada
kerabat atau teman, surat pribadi, dan unggahan berupa tulisan di media sosial. Ragam
bahasa tulis formal adalah ragam bahasa yang cenderung menggunakan bahasa baku dan
memiliki aturan-aturan tertentu. Ragam bahasa tulis formal digunakan pada acara resmi
dan instansi resmi serta pada tulisan-tulisan akademik di ranah pendidikan. Adapun
contoh dari ragam bahasa tulis formal adalah surat resmi, karya ilmiah, surat kabar, dan
berkas-berkas pada instansi resmi. Ragam bahasa tulis formal, penyampaian dan
pemahaman pesan menjadi prioritas. Oleh karena itu, pada ragam ini penulis dituntut
untuk memenuhi tulisan dengan kelengkapan unsur dan struktur kalimatnya seperti
susunan kalimat, ketepatan dan kecermatan dalam pemilihan kata, serta penggunaan ejaan
dalam mengungkapkan ide. Ketepatan penggunaan ejaan dan penggunaan bahasa serta
kosakata amat diperhatikan. Penulisan ejaan dalam ragam bahasa tulis resmi tentu
memiliki peran yang sangat penting. Hal ini disebabkan jika terdapat kesalahan
penggunaan ejaan seperti penggunaan bahasa dan penggunaan tanda baca tentu akan
mengaburkan makna yang akan disampaikan dalam tulisan tersebut.
Dalam penulisan karya tulis ilmiah bukan hanya persoalan materi, ide atau gagasan
yang disampaikan, melainkan persoalan bahasa khususnya kekurangcermatan pemakaian
ejaan menjadi persoalan untuk dapat menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas
sebab penulisan karya tulis ilmiah merupakan salah satu aktivitas berbahasa tulis yang
pada hakikatnya tidak dapat diabaikan persoalan ejaan dalam hal ini ejaan bahasa
Indonesia yang disempurnakan. Dalam kaitannya dengan permasalahan itu makalah ini
diberi judul “Penerapan Ejaan Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah”.
Dalam aktivitas berbasa tulis khususnya penulisan karya tulis ilmiah di samping
perbendaharaan kata dan tata bahasa, ejaan memegang peranan yang cukup penting agar
tulisan yang dibuat tertata dengan baik. Penggunaan ejaan bahasa Indonesia dalam
penulisan karya tulis ilmiah secara benar masih jauh dari yang diharapkan karena
banyaknya dijumpai kesalahan dalam pemakiannya. Banyaknya kesalahan (ejaan) yang
terjadi dalam pemakaiannya itu menunjukkan bahwa masih diabaikannya persoalan
penerapan ejaan dalam penulisan karya tulis Kesalahan-kesalahan ejaan menjadi
terpinggirkan karena penulis enggan untuk memperbaikinya atau malah tidak tahu bahwa
yang ditulisnya itu salah dari sudut pemakaian ejaan. Bahkan, kesalahan ejaan dianggap
hal yang biasa karena tidak sampai mengganggu makna kalimat yang dibuat. Inilah
persoalannya. Kesalahan pemakaian ejaan dianggap sepele. Kesalahan pemakaian ejaan
dianggap merupakan tugas para penyunting. Dasar pemikiran itu perlu diluruskan.
2

Persoalan ejaan bahasa Indonesia adalah persoalan kita bersama untuk menghasilkan
karya tulis yang tertib dalam berbahasa tulis. Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan
adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana
antarhubungan antara lambang-lambang bahasa Indonesia dalam bentuk tulisan. Dengan
demikian ejaan bahasa Indonesia meliputi pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan
huruf miring, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Kelima
hal itu diuraikan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(1994) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Walaupun dalam
pedoman itu sudah dijelaskan aturan-aturan yang mesti dilaksanakan, dalam kesempatan
ini saya mencoba untuk menjelaskan kembali hal-hal yang terkait dengan penerapan ejaan
dalam penulisan karya tulis ilmiah. Dalam pembahasan ini hanya difokuskan pada aturan-
aturan yang perlu mendapat perhatian ekstra karena seringnya persoalan itu diabaikan
pemakaiannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pemakaian Huruf pada PUEBI?
2. Apa yang dimaksud dengan Penulisan Kata pada PUEBI?
3. Bagaimana cara Pemakaian Tanda Baca pada PEUBI?
4. Bagaimana cara membedakan kata baku dan kata lugas dalam penggunaan kata ilmiah
5. Apa saja kegunaan istilah ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang Pemakaian Huruf pada PUEBI.
2. Untuk mengetahui tentang Penulisan Kata pada PUEBI.
3. Untuk mengetahui tentang cara Pemakaian Tanda Baca pada PUEBI.
4. Untuk mengetahui perbedaan kata baku dan kata lugas dalam penggunaan kata ilmiah
5. Untuk mengetahui kegunaan istilah
3

BAB 2
PEMBAHASAN

Bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi bahasa yang
paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Kita sebagai mahasiswa tentu sering dihadapkan
dengan pembuatan berbagai karya tulis ilmiah. Untuk itu, diperlukan sarana yang dapat
mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah yaitu bahasa Indonesia ragam tulis, khususnya
adalah ragam baku tulis. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh
sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka
rujukan norma bahasa dalam pengunaannya (Arifin dan Tasai, 2010). Oleh karena itu,
penulisan karya-karya ilmiah, baik berupa buku-buku teks pelajaran, buku-buku ilmiah
maupun karya tulis ilmiah lainnya menggunakan ragam baku tulis sebagai standar
penulisannya. Kita pasti pernah mendengar bahwa standar penulisan di Indonesia didasarkan
pada EYD (Ejaan yang Disempurnakan), bukan? Namun, pada tahun 2015, EYD (Ejaan yang
Disempurnakan) diganti menjadi PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).
Perubahan ini telah ditetapkan di dalam Peraturan Menteri dan Kebudayaan (Permendikbud)
RI Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

2. 1 PUEBI
2.1.1 Pemakaian Huruf
Dalam pemakaian huruf berdasarkan aturan yang ada pada aturan PUEBI berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 5 Tahun 2015 mengenai Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia, pada aturan pemakaian huruf hal – hal yang dicakup ada 8 bagian
yang meliputi :
A. Huruf Abjad
Huruf abjad berdasar aturan PUEBI, terdapat 26 huruf. Ke 26 huruf abjad tersebut sama
seperti dengan abjad yang selama ini telah dipelajari, yaitu
a,b,c,d,e,f,g,h,I,j,k,l,m,n,o,p,q,r,s,t,u,v,w,x,y,dan z.
B. Huruf Vokal
Huruf vokal dalam Bahasa Indonesia terdiri atas 5 huruf vokal, yaitu a, e, I, o, dan u.
C. Huruf Konsonan
Huruf konsonan dalam Bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf. Ke 21 huruf konsonan
tersebut mencakup b,c,d,f,g,h,j,k,l,m,n,p,q,r,s,t,v,w,x,y,dan z.
D. Huruf Diftong
Huruf diftong merupakan merupakan dua huruf vokal yang dibaca berdampingan. Dalam
Bahasa Indonesia sendiri, huruf diftong terdapat 4 macam yaitu ai, au, ei, dan oi.
E. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan merupakan dua huruf konsonan yang dibaca berdampingan.
Dalam Bahasa Indonesia sendiri, berdasar aturan huruf konsonan terdapat 4 macam yaitu
kh, ng, ny, dan sy.
F. Huruf Kapital
a. Huruf kapital sebagai huruf pertama awal kalimat, contohnya adalah “Dia bermain gitar”
b. Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama orang, contohnya adalah “Hani
Waskita, Muhammad Yasir”. Namun dalam aturan PUEBI, huruf kapital tidak
digunakan sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis maupun suatu
ukuran, misalnya adalah “ikan lohan, 10 volt”. Selain itu penggunaan huruf kapital
untuk nama orang tidak digunakan sebagai penulisan huruf pertama dari kata dalam
nama yang memiliki arti ‘anak dari’ seperti bin, binti, boru, dan van. Contohnya adalah
“Siti Fatimah binti Salim, Indani boru Sitatang.
4

c. Huruf kapital digunakan dalam awal kalimat dalam petikan langsung. Contohnya adalah
‘Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”’
d. Huruf kapital sebagai huruf pertama setiap nama agama, nama kitab, dan Tuhan.
Contohnya adalah Islam, Kristen, Al-Quran, Al Kitab, hamba-Nya.
e. Huruf kapital sebagai huruf pertama dalam nama gelar kehormatan, keturunan,
keagamaan. Contohnya adalah “Selamat dating, Yang Mulia Raja, Silahkan duduk,
Prof”.
f. Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti dengan
nama orang. Contohnya adalah “Profesor B.J. Habiebie, Walikota Banten”.
g. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama suku, nama bangsa dan Bahasa. Contohnya
adalah bangsa Indonesia, bahasa Bali. Namun tidak dipakai sebagai bentuk dasar kata
turunan. Contohnya adalah pengindonesiaan, kejawa – jawaan.
h. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, dan hari – hari besar. Contohnya
adalah hari Jumat, hari Kemerdekaan, Bulan Agustus, Tahun Hijriah.
i. Huruf kapital sebagai unsur nama peristiwa sejarah. Contohnya adalah Proklamasi
Kemerdekaan, Perang Dunia II. Namun tidak digunakan dalam nama peristiwa sejarah
yang merupakan objek, seperti contohnya “ Perlombaan senjata membawa resiko
pecahnya perang dunia
j. Huruf kapital digunakan sebagai nama letak geografi. Contohnya adalah Jakarta,
Malang, Gunung Bromo, Pantai Balekambang.
k. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua
unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau
dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk. Contohnya
adalah Negara Kesatuan Republik Indoesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat
Indonesia.
l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama
majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk,
yang tidak terletak pada posisi awal. Contohnya adalah “Dia agen surat
kabar Sinar Pembangunan”
m. Huruf kapital sebagai huruf pertama singkatan nama gelar, pangkat ataupun sapaan.
Contohnya adalah S.H. = sarjana hukum, Hj. = hajah.
n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai
dalam penyapaan atau pengacuan. Contohnya adalah ‘ "Silakan duduk, Dik!" kata orang
itu. ‘.
G. Huruf Miring
a. Huruf miring digunakan sebagai penulisan judul buku, majalah, ataupun surat kabar.
Contohnya adalah Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis..
b. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,
atau kelompok kata dalam kalimat. Contohnya adalah ‘Dia tidak diantar,
tetapi mengantar’.
c. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau
bahasa asing. Contohnya adalah Weltanschauung bermakna 'pandangan dunia'.
H. Huruf Tebal
a. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
Contohnya adalah kata et dalam ungkapan ora et labora berarti 'dan'.
b. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul
buku, bab, atau subbab. Contohnya adalah:
5

1.1.2 Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa masyarakat Kalimantan
terhadap ketiga bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan
digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.

2.1.2 Penulisan Kata


Dalam penulisan kata berdasarkan aturan yang ada pada aturan PUEBI berdasarkan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 5 Tahun 2015 mengenai Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia, pada aturan penulisan kata hal – hal yang dicakup ada 11 bagian
yang meliputi :
A. Kata Dasar
Dalam penulisan kata dasar pada suatu kalimat, ditulis sbagai satu kesatuan. Contohnya
adalah kantor pajak penuh sesak, buku itu sangat tebal.
B. Kata Berimbuhan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai
dengan bentuk dasarnya. Contohnya adalah berjalan, membeli, memperbaiki. Namun
dalam imbuhan terdapat pula yang tidak ditulis secara langsung, namun diberi tanda
hubung (-). Contohnya adalah non-ASEAN, pro-Barat.
C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang pada penulisannya menggunakan tanda hubung (-) diantara unsur-unsurnya.
Contohnya adalah kura-kura, kupu-kupu.
D. Gabungan Kata
a.Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis
terpisah. Contohnya adalah alat tulis, orang tua.
b.Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan
tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Contohnya adalah buku-sejarah baru (buku
sejarah yang baru) akan memiliki arti yang berbeda dengan buku sejarah-baru (buku
tentang sejarah baru).
c. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan
atau akhiran. Cotohnya adalah bertepuk tangan, sebar luaskan.
d. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai
Contohnya adalah penghancurleburan, pertanggungjawaban.
e. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai. Contohnya adalah kacamata,
belasungkawa, olahraga.
E. Pemenggalan Kata
a. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
- Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di
antara kedua huruf vokal itu. Contohnya bu-ah, ma-in.
- Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipisah. Contonnya adalah pan-dai, sau-da-ra.
- Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan)
di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
Contohnya adalah ba-pak, ke-nyang, mu-ta-khir.
- Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Contohnya adalah ap-ril, swas-ta, man-di
6

- Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing- masing
melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang
pertama dan huruf konsonan yang kedua. Contohnya adalah in-stru-men, ba-nyak, ikh-
las.
b. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur
pembentuknya. Contohnya me-nu-tup, me-ni-up, si-nam-bung.
c. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat
bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap
unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar. Contohnya adalah biografi, bio-
grafi, bi-o-gra-fi.
d. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara
unsur-unsurnya. Contohnya adalah Lagu "Indonesia Raya" digubah oleh Wage Rudolf
Supratman.
e. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.
Contohya adalah Ia bekerja di DLLAJR, Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar
R.Ng. Rangga Warsita.
F. Kata Depan
Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya adalah kain itu disimpan di dalam lemari, cincin itu terbuat dari emas.
G. Partikel
a. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contohnya adalah Siapakah gerangan dia?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contohnya adalah apa
pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana, meskipun ia
lelah namun ia tetap bersemangat.
c. Partikel per yang berarti 'demi', 'tiap', atau 'mulai' ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya. Contohnya adalah karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
H. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik
pada setiap unsur singkatan itu. Contohnya adalah A.H. Nasution = Abdul Haris
Nasution, S.E. = sarjana ekonomi, Sdr. = saudara.
b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contohnya adalah NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia), PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa)
c. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan
huruf kapital tanpa tanda titik. Contohnya adalah PT (Perseroan Terbatas), PO
(Perusahaan Otobus), SD (Sekolah Dasar).
d. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik. Contohnya
adalah hlm. (halaman), dst. (dan seterusnya), dkk. (dan kawan – kawan).
e. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-
masing diikuti oleh tanda titik. Contohnya adalah d.a. (dengan alamat), u.p. (untuk
perhatian), s.d. (sampai dengan).
f. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak
diikuti tanda titik. Contohnya adalah Mg (magnesium), kg (kilogram), cm (centimeter).
7

g. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital
tanpa tanda titik. Contohnya adalah BIG (Badan Informasi Geospasial), LAN
(Lembaga Administrasi Negara).
h. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata
dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Contohnya adalah Bulog (Badan
Urusan Logistik), Kalteng (Kalimantan Tengah), Suramadu (Surabaya Madura).
i. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau
gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil. Contohnya adalah iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi), rudal (peluru kendali), tilang (bukti pelanggaran).
I. Angka dan Bilangan
Angka yang lazim digunakan dalam kehidupak sehari – hari adalah angka arab dan angka
romawi. Angka arab terdiri atas 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Sementara angka romawi meliputi I,
II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L, C, D, M, V, M.
a. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian. Contohnya adalah
mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
b. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Contohnya adalah tiga pemenang
sayembara itu diundang ke Jakarta.
c. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf supaya
lebih mudah dibaca. Contohnya adalah perusahaan itu baru saja mendapat
pinjaman 550 miliar rupiah.
d. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu serta
(b) nilai uang. Contohnya adalah 2 tahun 6 bulan 5 hari, 0,5 sentimeter, £5,10.
e. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen, atau kamar.
Contohnya adalah Hotel Mahameru, Kamar 169.
f. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci. Contohnya adalah
Markus 16: 15—16, Surah Yasin: 9.
g. Penulisan bilangan menggunakan huruf pada dasarnya dibagi menjadi 2, yaitu bilangan
utuh dan bilangan pecahan. Contohnya adalah dua belas (12), empat (4), dua pertiga
(2/3), tiga tiga-perempat (3 ¾).
h. Penulisan bilangan tingkat. Contohnya adalah abad XX, aabd ke-20, Perang Dunia II,
Perang Dunia Ke-2, Perang Dunia Kedua.
I. Penulisan angka yang berimbuhan dengan -an. Contohnya adalah ‘Uang 5.000-an (uang
lima ribuan, tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)’.
j. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan
perundang-undangan, akta, dan kuitansi. Contohnya adalah ‘Telah diterima uang
sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk
pembayaran satu unit televisi’.
k. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan
seperti berikut. Contohnya adalah ‘Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00
(lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban’.
l. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf. Contohnya
adalah Kelapadua, Tigaraksa, Simpanglima.
J. Kata Ganti
8

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -
mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contohnya adalah
‘Rumah itu telah kujual, Rumahnya sedang diperbaiki’.
L. Kata Sandang
Penulisan kata sandang yaitu kata si dan sang yang ditulis secara terpisah dari kata yang
mengikutinya. Contohnya adalah ‘Surat itu dikembalikan kepada si pengirim, Harimau itu
marah sekali kepada sang Kancil’.

2. 1. 3 Pemakaian Tanda Baca


1. Tanda Titik (.)
a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
 Mereka duduk di sana.
 Dia akan datang pada pertemuan itu.
b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
Misalnya:
 I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus
...
Catatan:
1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung
dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ....
2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu
angka (seperti pada Misalnya III.A.2.b).
9

3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam
penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan,
grafik, atau gambar.
Misalnya:
 Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
 Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
 Bagan 2 Struktur Organisasi
 Bagan 2.1 Bagian Umum
 Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
 Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
 Gambar 1 Gedung Cakrawala
 Gambar 1.1 Ruang Rapat
c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
 pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20
detik)
 01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
 00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
 00.00.30 jam (30 detik)
d. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul
tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:
 Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
 Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.
e. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
menunjukkan jumlah.
Misalnya:
 Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
 Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
 Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
Catatan:
1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
 Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
 Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa halaman 1305.
 Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.

2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,
ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
 Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
 Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
 Gambar 3 Alat Ucap Manusia
 Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
3) Tanda titik tidak dipakai di belakang
a) alamat penerima dan pengirim surat, serta
10

b) tanggal surat.
Misalnya:
 Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
 Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
 Indrawati, M.Hum.
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
 21 April 2013
 Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)

2. Tanda Koma (,)


a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Misalnya:
 Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
 Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
 Satu, dua, ... tiga!
b. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan
sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya:
 Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
 Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
 Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk
kalimatnya.
Misalnya:
 Kalau diundang, saya akan datang.
 Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
 Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
 Saya akan datang kalau diundang.
 Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
 Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat,
seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan
meskipun demikian.
Misalnya:
 Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa
belajar di luar negeri.
11

 Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi
bintang pelajar
 Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil
menjadi sarjana.
e. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh,
atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
 O, begitu?
 Wah, bukan main!
 Hati-hati, ya, jalannya licin!
 Nak, kapan selesai kuliahmu?
 Siapa namamu, Dik?
 Dia baik sekali, Bu.
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Misalnya:
 Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
 "Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah
makhluk sosial."
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa
kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang
mengikutinya.
Misalnya:
 "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah.
 "Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya.
 "Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu.
g. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c)
tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis
berurutan.
Misalnya:
 Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan
Matraman, Jakarta 13130
 Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6,
Jakarta
 Surabaya, 10 Mei 1960
 Tokyo, Jepang
h. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka.
Misalnya:
 Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
 Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat
Bahasa.
 Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah
Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.
i. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Misalnya:
12

 Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2


(Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
 Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia
(Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
 W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang
(Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
j. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau
marga.
Misalnya:
 B. Ratulangi, S.E.
 Ny. Khadijah, M.A.
 Bambang Irawan, M.Hum.
 Siti Aminah, S.H., M.H.
Catatan: Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti
Khadijah Mas Agung).
k. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
 12,5 m
 27,3 kg
 Rp500,50
 Rp750,00
l. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan
aposisi.
Misalnya:
 Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum diolah.
 Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan
paduan suara.
 Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
 Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib
menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.
Catatan: Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit
tanda koma!
 Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu
tanpa melalui tes.
m. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.
Misalnya:
 Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
 Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
 Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
 Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.
3. Tanda Titik Koma (;)
a. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam
kalimat majemuk.
13

Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita
pendek.

b. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

c. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam


kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan
jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

4. Tanda Titik Dua (:)


a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:

Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.


Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

b. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.

c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Effendi
14

Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.


Pencatat : Sri Astuti Amelia, S.Pd.

d. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : "Bawa koper ini, Nak!"
Amir : "Baik, Bu."
Ibu : "Jangan lupa, letakkan baik-baik!"

e. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan
ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota
dan penerbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Albaqarah: 2—5
Matius 2: 1—3
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.

5. Tanda Hubung (-)


a. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Parut jenis ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.

b. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.


Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek

c. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang
dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
p-a-n-i-t-i-a

d. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau
ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
meng-ukur
15

dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)


23/25 (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
mesin hitung-tangan

Bandingkan dengan
be-revolusi
me-ngukur
dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 3/25 (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan

e. Tanda hubung dipakai untuk merangkai


1) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia,
se-Jawa Barat);
2) ke- dengan angka (peringkat ke-2);
3) angka dengan –an (tahun 1950-an);
4) kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-
X, ber-KTP, di-SK-kan); e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas
rahmat-Mu);
5) huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
6) kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital
(KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).
Catatan: Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut
melambangkan jumlah huruf.

Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia)
LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)

f. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i (bahasa Jawa, 'didatangi')
ber-pariban (bahasa Batak, 'bersaudara sepupu')
di-back up
me-recall
pen-tackle-an

g. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek
bahasan.
Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.

6. Tanda Pisah (—)


16

a. Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa
itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.

b. Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau
keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar
udara internasional.
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom—telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus
digelorakan.

c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti
'sampai dengan' atau 'sampai ke'.
Misalnya:
Tahun 2010—2013
Tanggal 5—10 April 2013
Jakarta—Bandung

7. Tanda Tanya (?)


a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu "Indonesia Raya"?

b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

8. Tanda Seru (!)


Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan
atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang
kuat.

Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!
17

9. Tanda Elipsis (...)


a. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan
ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ....
..., lain lubuk lain ikannya.

Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat
buah).

b. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
"Menurut saya ... seperti ... bagaimana, Bu?"
"Jadi, simpulannya ... oh, sudah saatnya istirahat."

Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat
buah).

10. Tanda Petik (“...”)


a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
"Merdeka atau mati!" seru Bung Tomo dalam pidatonya.
"Kerjakan tugas ini sekarang!" perintah atasannya. "Besok akan dibahas dalam
rapat."
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
"Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan."

b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel,
naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"!
Film "Ainun dan Habibie" merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah
novel.
Saya sedang membaca "Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia" dalam
buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah "Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif" menarik perhatian peserta
seminar.
Perhatikan "Pemakaian Tanda Baca" dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan.
18

c. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata
yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
"Tetikus" komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memberikan "amplop" kepada petugas!

11. Tanda Petik Tunggal (‘...’)


a. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan
lain.
Misalnya:
 Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
 "Kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang!', dan rasa letihku lenyap
seketika,"ujar Pak Hamdan.
 "Kita bangga karena lagu 'Indonesia Raya' berkumandang di arena olimpiade itu,"
kata Ketua KONI.

b. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan
kata atau ungkapan.
Misalnya:
 tergugat 'yang digugat'
 retina 'dinding mata sebelah dalam'
 noken 'tas khas Papua'
 tadulako 'panglima'
 marsiadap ari 'saling bantu'
 tuah sakato 'sepakat demi manfaat bersama'
 policy 'kebijakan'
 wisdom 'kebijaksanaan'
 money politics 'politik uang'

12. Tanda Kurung ((...))


a. Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
 Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
 Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
 Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.

b. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian utama kalimat.
Misalnya:
 Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis
pada tahun 1962.
 Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam
negeri.

c. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di
dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:
 Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
 Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
19

d. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai
penanda pemerincian.
Misalnya:
 Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga
kerja.
 Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.

13. Tanda Siku ([…])


a. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai
koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang
ditulis orang lain.
Misalnya:
 Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
 Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa
Indonesia.
 Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara
khidmat.

b. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas
yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
 Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat
halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.

14. Tanda Garis Miring (/)


a. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan
masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
 Nomor: 7/PK/II/2013
 Jalan Kramat III/10
 tahun ajaran 2012/2013

b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Misalnya:
 mahasiswa/mahasiswi = 'mahasiswa dan mahasiswi'
 dikirimkan lewat darat/laut = 'dikirimkan lewat darat atau lewat laut'
 buku dan/atau majalah = 'buku dan majalah atau buku atau majalah'
 harganya Rp1.500,00/lembar = 'harganya Rp1.500,00 setiap lembar'

c. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah
asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
 Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
 Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.
 Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.
20

15. Tanda Penyingkat (‘)


Tanda penyingkat atau apostrof dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata
atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:
 Dia 'kan kusurati. ('kan = akan)
 Mereka sudah datang, 'kan? ('kan = bukan)
 Malam 'lah tiba. ('lah = telah)
 5-2-'13 ('13 = 2013)

2.2 Perbedaan Kata Baku Dan Kata Lugas Dalam Penggunaan Kata Ilmiah
2.2.1 Bahasa Baku
Kata baku adalah kata yang tidak bercirikan bahasa daerah atau bahasa asing. Baik dalam
penulisan maupun dalam pengucapannya harusbercirikan bahasa Indonesia. Dengan
perkataan lain, kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah mengenai kata dalam bahasa
Indonesia. Misalnya : paham, nasihat, ijazah, jadwal, karier, dan lain-lain.
Ciri bahasa baku sebagaimana antara lain:
a) mempunyai kemantapan dinamis, artinya kaidah bahasa itu bersifat tetap dan tidak
berubah setiap saat,
b) sifat kecendekiaanya, artinya perwujudan satuan bahasa yang mengungkapkan
penalaran yang teratur dan logis
c) adanya proses penyeragaman kaídah bukan penyamaan ragam bahasa, atau
penyeragaman variasi bahasa.
d) Ragam baku bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses
penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik
keseragaman (Jamilah, 2017).
Sedangkan menurut skripsi yang ditulis oleh Miftahudin, 2014, ciri-ciri kosakata baku yaitu:
 Kosakata baku mengandung jati diri kata bahasa Indonesia, yaitu kosakata yang bebas
kata-kata bahasa daerah yang belum terterima, bebas dari kata-kata asing yang belum
terterima, dan penyeraan sesuai dengan akidah bahasa Indonesia
 Pembentukannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
 Ejaannya benar

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani pedoman umum pembentukan istilah
yang telah ditetapkan oleh pusat pembinaan dan pengembangan bahasa bersamaan
ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam ejaan yang disempurnakan. Di samping itu,
kebakuan suatu kata juga ditentukan oleh kaidah morfologis yang berlaku dalam tata bahasa
Indonesia yang telah dibakukan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Konteks penggunaan kata baku adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis
dengan pengungkapan gagasan secara tepat. Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila
kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan . Biasanya
hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari dan bahasa tutur.

Penggunaan ragam baku antara lain yaitu digunakan dalam pembuatan :


a). surat menyurat antar lembaga
b). laporan keuangan
21

c). karangan ilmiah


d). lamaran pekerjaan
e). surat keputusan
f). perundangan
g). nota dinas
h). rapat dinas
i). pidato resmi
j). diskusi
k). penyampaian pendidikan

Contoh kata baku:


a. Privat
b. Motivasi
c. November
d. Rasio
e. Rezeki dll
(Miftahudin, 2014).

2.2.2 Bahasa Lugas


Kata-kata lugas ialah kata-kata yang sekaligus juga ringkas, tidak merupakan fakta
panjang, tidak mendayu-dayu, dan sama sekali tidak berbelit-belit. Lazimnya, kaa-kata yang
lugas itu juga bukan merupakan bentuk-bentuk kebahasaan kompleks . Salah satu ciri kata
lugas adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus bermakna
harafiah dan tidak bermakna ganda (Wibawasana, 2014).
Makna lugas adalah makna yang sesungguhnya dan mirip dengan makna denotative.
Bahasa tulis ilmiah digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas dan tepat.
Untuk itu, setiap gagasan hendaknya diungkapkan secara langsung sehingga makna yang
ditimbulkan oleh pengungkapnya itu adalah makna lugas. Dengan paparan yang lugas
kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat akan terhindarkan.

Contoh makna lugas :


a). Tangan kanan : tangan yang ada disebelah kanan
b). Bau kencur : bau aroma kencur
c). Utang Budi : utang yang dipunyai Budi
d). Menggigit jari : Menggigit atau mencekam jari
e). Angkat tangan : Mengangkat atau mengacungkan tangan

Ciri-ciri kata lugas :


a. Mengandung makna apa adanya
b. Gagasannya jelas
c. Tidak berbelit-belit
d. Mudah dipahami
e. Tidak diungkapkan dalam bentuk kiasan
22

2.3 Kegunaan Istilah


Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu
makna, konsep proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada dua macam
istilah , yaitu:
(1) Istilah khusus, adalah kata yang pemakaiannya dan maknanya terbatas pada suatu bidang
tertentu, misalnya cakar ayam (bangunan), agregat (ekonomi);
(2) Istilah umum ialah kata yang menjadi unsur bahasa umum. misalnya: ambil alih, daya
guna, kecerdasan, dan tepat guna merupakan istilah umum, sedangkan radiator, pedagogi,
androgogi, panitera. sekering, dan atom merupakan istilah khusus (Putra, dkk, 2017).
Seiring berkembangnya jaman, konsep-konsep ataupun istilah-istilah baru pun
bermunculan. Istilah baru tersebut dibentuk dengan jalan menerjemahkan, menyerap dan
menerjemahkan sekaligus menyerap istilah asing (Handayani , 2009).
Beberapa ciri istilah yang membedakannya dengan unsur bahasa yang lain diantaranya,
dari segi makna:
a. Hubungan antara ungkapan dan makna tetap tegas (monosemantis, dan peristilahan yang
baik tidak ada sinonim atau homonim)
b. Istilah itu secara gramatikal bebas konteks, artinya makna tergantung dari konteks di dalam
kalimat. Makna dapat dinyatakan dengan definisi atau rumus.

Sumber istilah antara lain:


1. Istilah Indonesia
Kata atau istilah dalam bahasa Indonesia dapat dijadikan sumber istilah apabila memenuhi
salah satu atau lebih syarat-syarat yang dipilih adalah kata atau frasa:
a. Paling tepat untuk mengungkapkan konsep yang dimaksud
b. Paling singkat diantara pilihan yang tersedia
c. Berkonotasi baik
d. Sedap didengar
e. Bentuknya seturut dengan kaidah bahasa Indonesia

2. Istilah Nusantara
Apabila dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang tepat untuk mengungkapkan
makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan. Istilah dapat diambil dari
istilah nusantara, baik yang lazim maupun tidak lazim asalkan memenuhi syarat.
Contohnya: Garuda pancasila bineka tunggal ika, wayang, sawer, dll.
3. Istilah Asing
Istilah baru dilakukan dengan pemadanan melalui ppenerjemahan atau penyerapanistilah
asing. Penyerapan istilah asing dilakukan jika dalam istilah Indonesia dan istilah nusantara
tidak lagi dapat ditemukan.

Kegunaan penyerapan istilah asing :


a. Mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia
b. Lebih singkat dibandingkan dengn terjemahan dalam bahasa Indonesia
c. Mempermudah kesepakatan antar pakar jika istilah Indonesia terlampa banyak sinonimnya
d. Tidak mengandung konotasi buruk
23

BAB 3
PENUTUP

A. Simpulan
Bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi bahasa yang
paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Ragam baku adalah ragam yang
dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai
bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Bahwa
standar penulisan di Indonesia didasarkan pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, pada aturan pemakaian huruf hal –
hal yang dicakup ada 8 bagian yang meliputi Huruf Abjad, Huruf Vokal, Huruf
Konsonan, Huruf Diftong, Gabungan Huruf Konsonan, Huruf Kapital, Huruf Miring, dan
Huruf Tebal.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, pada aturan penulisan kata hal – hal yang
dicakup ada 11 bagian yang meliputi Kata Dasar, Kata Berimbuhan, Bentuk Ulang,
Gabungan Kata, Pemenggalan Kata, Kata Depan, Partikel, Singkatan dan Akronim, Angka
dan Bilangan, Kata Ganti, dan Kata Sandang. Pemakaian tanda baca meliputi Tanda Titik
(.), Tanda Koma (,), Tanda Titik Koma (;), Tanda Titik Dua (:), Tanda Hubung (-), Tanda
Pisah (—), Tanda Tanya (?), Tanda Seru (!), Tanda Elipsis (...), Tanda Petik (“...”), Tanda
Petik Tunggal (‘...’), Tanda Kurung ((...)), Tanda Siku ([…]), Tanda Garis Miring (/), dan
Tanda Penyingkat (‘). Pada penulisan karya tulis ilmiah menggunakan bahasa baku dan
bahasa lugas, dalam penulisan karya tulis ilmiah menggunakan istilah dengan kegunaan
yang berbeda. Istilah dibagi menjadi tiga yaitu istilah Indonesia, intilah nusantara, dan
istilah asing.

B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan terperinci dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber –
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
24

DAFTAR PUSTAKA

Handayani. 2009. Analisis Ideologi Penerjemahan dan Penilaian Kualitas Terjemahan Istilah
Kedokteran dalam Buku “Lecture Notes on Clinical Medicine”. Tesis. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret
Jamilah. 2017. Penggunan Bahasa Baku dalam Karya Ilmiah Mahasiswa. Jurnal Tarbiyah.
6(2) : 43-44
Miftahudin, A, 2014. Analisis Kesalahan Penggunaan Kata Baku dalam Pembelajaran
Menulis Laporan Perjalanan Siswa Kelas VIII di SMP Al-Hidayah Lebak
Bulus Jakarta. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta
Putra, D, Djatmika, Wiranto, T. 2017. Analisis Kualitas Terjemahan Terhadap Istilah-Istilah
Teknis di dalam Game Ragnarok Online Karya Gravity. Journal of
Linguistics. 2(1) : 37
Wibawasana, Y. 2014. Analisis Ketepatan Diksi pada Kolom ‘Analisis’ Surat Kabar Harian
Kedaulatan Rakyat Edisi Maret 2014. Skripsi. Universitas Sanata Dharma.
Yogyakarta
Zaenal Arifin, S. Amran Tasai. (2010). Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta: Akademika Pressindo.