Anda di halaman 1dari 26

CASE REPORT

TUMOR MAMMAE

Disusun Oleh :

Gea Anugrah Adinda

1765050356

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PERIODE 22 JULI 2019 – 28 SEPTEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2019

0
BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Tumor mammae adalah benjolan tidak normal akibat pertumbuhan
sel yang terjadi secara terus menerus dapat diartikan sebagai
pembengkakan, yang dapat disebabkan baik oleh neoplasma maupun oleh
radang, atau perdarahan. Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae
adalah benigna.1 Pada usia muda, sebagian besar (80-90%) benjolan di
payudara adalah jinak dan biasanya disertai keluhan. Diantara berbagai
jenis tumor jinak payudara, yang tersering adalah kista dan fibroadenoma.2
Hal – hal yang harus ditanyakan kepada penderita adalah letak,
sejak kapan muncul dan kecepatan pertumbuhannya. Perlu juga ditanya
apakah ada nyeri atau tidak, keluar cairan dari puting, perubahan bentuk
dan besar payudara, hubunganya dengan haid, perubahan pada kulit dan
retraksi puting susu.2
Faktor risiko yang perlu diketahui antara lain riwayat keluarga
yang terkena kanker payudara dan atau kanker ovarium, riwayat obstetri
dan ginekologi, terapi hormonal (termasuk kontrasepsi hormonal), riwayat
operasi/aspirasi benjolan di payudara sebelumnya. Sampai kini
pemeriksaan fi sik payudara belum mempunyai standar, walaupun
demikian pemeriksaan yang baik mempunyai nilai prediktif positif sampai
73% dan nilai prediktif negatif sampai 87%.2
Penggunaan mammografi, ultrasonography (USG), dan Magnetic
Resonance Imaging (MRI) dapat membantu dalam menegakkan diagnosis
lesi benigna maupun malignan pada mayoritas dari pasien.
.

1
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : Nn. S

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 24 Tahun

Pekerjaan : Karyawan

Bangsa : WNI

Suku : Betawi

Agama : Islam

Alamat : Kp Cibarengkok RT 01/02

Ruangan : IGD

Tanggal datang : 13 September 2019

2.2 Diagnosis

Anamnesis

Auto anamnesis dilakukan di Asoka pada tanggal 13 September 2019,


pukul 09:30 WIB

Keluhan Utama : Terdapat benjolan pada payudara kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang dengan keluhan keluar benjolan dari anus


saat buang air besar sejak ± 5 hari sebelum berobat kepuskesmas. Benjolan
dirasakan lebih besar daripada biasanya, benjolan tersebut tidak dapat
dimasukan kembali kedalam anus, terasa perih, gatal, dan pasien mengeluh
tidak bisa duduk karena adanya benjolan. Saat buang air besar biasanya di

2
sertai dengan darah segar, menetes saat feses keluar, darah tidak
bercampur dengan feses.

± 1 tahun yang lalu pasien mengeluhkan adanya benjolan kecil


yang keluar pada saat buang air besar dan masih dapat dimasukan. Pasien
tidak pernah mengontrol keluhannya ke fasilitas kesehatan ataupun
mengkonsumsi obat untuk mengobati keluhanya dikarenakan merasa tidak
mampu.

Pasien jarang mengkonsumsi makanan yang berserat seperti


sayuran dan buah buahan. Pasien suka mengkonsumsi makanan pedas, dan
minum kurang dari 8 gelas perhari dan pada saat buang air besar suka
mengejan keras sampai berkeringat bahkan sampai merasa pusing.

Riwayat Masa Lampau :

a. Riwayat Penyakit Dahulu :


● Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
● Hipertensi disangkal, diabetes mellitus disangkal, alergi
disangkal
b. Trauma Terdahulu : Disangkal
c. Riwayat operasi : Disangkal
d. Sistem:
● Neurologi : Disangkal
● Kardiovaskuler : Disangkal
● Gastrointestinal : Disangkal
● Genitourinari : Disangkal
● Muskuloskeletal : Disangkal
e. Riwayat gizi : Berat badan 60 kg, tinggi badan 168 cm,
IMT 21,27 kg/m2 (gizi cukup)
f. Riwayat psikiatri : Disangkal

3
2.2.2 Pemeriksaan Fisik

KU : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign :

● GCS: E4V5M6,
● TD: 120/70 mmHg
● Nadi: 86x/menit
● Suhu: 36,4 ºC
● Pernafasan: 20 x/ menit
● SpO2: 99%

STATUS GENERALIS
KEPALA
Normocephali, jejas (-)
Mata : Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), jejas (-/-), pupil
3mm/3mm (isokor), RCL (+/+), RTCL (+/+)
Telinga : Fistula (-/-), benjolan (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas (-/-)
Hidung : Deviasi septum (-), polip (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas
(-/-)
Mulut : Sianosis (-), pucat (-), jejas (-/-), mukosa bibir lembab

LEHER
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah bening (KGB), nyeri tekan
(-), deviasi trakea (-)

THORAKS
Diameter laterolateral > anteroposterior
Cor :
● Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat

4
● Palpasi : ictus cordis teraba
● Perkusi : batas jantung kanan dan kiri dalam batas normal
● Auskultasi : BJ I dan BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo :
● Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, jejas (-),
retraksi (-)
● Palpasi : fremitus suara simetris kanan kiri
● Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
● Auskultasi : bunyi napas dasar vesikular, wheezing (-/-),
rhonki(-/-)

Abdomen
● Inspeksi : perut tampak datar, distensi abdomen (-)
● Auskultasi : bising usus (+), 3x/menit
● Perkusi : timpani, nyeri ketok (-)
● Palpasi : supel, nyeri tekan (-)

● Organ pada abdomen:


1. Limpa : tidak teraba membesar
2. Kandung empedu : nyeri tekan (-)
3. Hati : tidak teraba membesar

Genitourinari
● Ginjal : nyeri ketuk CVA (-/-), ballotement
(-/-)
● Kandung kemih : nyeri tekan (-), nyeri ketok (-)
● Kemaluan : sekret (-)

Rectal Toucher
Tidak dilakukan

5
Ekstremitas
Atas : akral hangat, sianosis (-), edema (-), CRT <2”
Bawah : akral hangat, sianosis (-), edema (-), CRT <2”

Punggung
Lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-)
Refleks
Refleks fisiologi (+) dan refleks patologi (-)

STATUS LOKALIS
Regio Anal
● Inspeksi : Perianal terlihat tonjolan massa prolaps dari anus,
hiperemis
● Palpasi : padat, kenyal, nyeri saat di sentuh, ukuran ± 4x6 cm,
ekskoriasi (-), luka (-), tanda radang (-), darah (-)

2.2.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hematologi

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN


NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI LENGKAP
Laju Endap Darah 10 mm 0-10

Hemoglobin 13,3* g/dL 13,5 – 17

Jumlah Hematokrit 48 % 40 – 48

Eritrosit 4,8 juta/µL 4–5


MCV/VER 82.5 fL 82 – 92
MCH/HER 28.7 Pg 27 – 31

6
MCHC/KHER 34.8 g/dL 32 – 36
Leukosit 7,8 ribu/µL 5 – 10
HITUNG JENIS
0 % 0–1
Basofil
Eosinofil 1 % 1–3

Batang 3 % 2–6
Segment 62 % 50 – 70
Limfosit 34 % 20 – 40
Monosit 7 % 2–8
Trombosit 229 ribu/µL 150 – 400
GOLONGAN DARAH /RH FAH

Golongan Darah B
Rhesus Positif
HEMOSTASIS
Masa perdarahan 3 Menit 1–6
Masa Pembekuan 13 Menit 9-15
KIMIA DARAH

DIABETES 107 Mg/dl <170

Glukosa Sewaktu

2.3 Diagnosis Kerja


Hemoroid Interna Grade IV

Diagnosis Banding
● Hematoma Perianal
● Fisura Anal

2.4 Pemeriksaan Penunjang


● Pemeriksaan Laboratorium

7
● Anoskopi : untuk menilai mukosa rectal dan tingkat pembesaran
hemoroid
● Sigmoideskopi : untuk memastikan tidak adanya diagnose banding
lain seperti kolitis, polip rektal, dan kanker

2.5 Terapi
● Pro operasi hemorroidektomi
● IVFD RL 500 cc /6 jam
● Paracetamol drip 500 mg
● Ceftriaxone inj. 2 gram
● Puasa

2.6 Prognosis
Ad vitam : Ad Bonam
Ad functionam : Ad Bonam
Ad sanationam : Ad Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi

8
Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Batas
payudara yang normal terletak antara iga 2 di superior dan iga 6 di
inferior, serta antara taut sternokostal di medial dan line aksilaris
anterior di lateral. Pada bagian lateral atasnya, jaringan ini keluar
daru bulatannya ke arah aksila; disebut penonjolan Spence atau
ekor payudara. Dua pertiga bagian atas mamma terletak di atas otot
pektoralis mayor, sedangkan sepertiga bawahnya terletak di atas
otot seratus anterior, otot oblikus eksternus abdominis dan otot
rektus abdominis. Setiap payudara terdiri dari 12-20 lobulus
kelenjar, masing-masing mempunyai saluran bernama duktus
laktiferus yang akan bermuara ke papilla mamma. Diantara
kelenjar susu dan fascia pectoralis terdapat jaringan lemak.
Diantara lobulus, terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum
Cooper yang memberi kerangka untuk payudara.3

Gambar 2.1 Potongan sagital mammae dan dinding dada


sebelah depan
Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang a.
Perforantes anterior dan a. mammaria interna, a. Torakalis lateralis
yang bercabang dari a. Aksilaris. Payudara sisi superior dipersarafi
oleh n. Clavicula yang berasal dari cabang ke 3 dan 4 pleksus

9
servikal. Payudara sisi medial dipersarafi oleh cabang cutaneus
anterior dari n. Intercostalis 2-7. Papilla mammae dipersarafi oleh
cabang kutaneus lateral dari nervus intekostalis 4, sedangkan
cabang kutaneus lateral dari n. Interkostalislain mempersarafi
areola dan mammae sisi lateral.
Terdapat enam kelenjar limfatik yakni limfatik vena
aksilaris, mammaria eksterna, skapular, sentral, subklavikular dan
interpektoral. Sekitar 75% aliran limfatik payudara menyalir ke
kelompok limfatik aksila, sebagian lagi ke kelenjar parasternal
(mammaria interna), terutama dari bagian sentral dan medial dan
ke kelenjar interpektoralis(Rotter’s group). Pada aksila terdapat 50
buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang vena dan
arteri brachialis. Saluran limf dari seluruh payudara menyalir ke
kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, dan kelenjar
aksila bagian dalam.3

Gambar 2.2. Kelenjar getah bening aksila dan payudara

II. Jenis – Jenis Tumor Jinak Mammae


a. Kista

10
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel
glandular. Kista payudara sering ditemukan pada praktek sehari
– hari , terbanyak pada usia 40 tahunan sampai peri-
menopause. Besarnya berubah sesuai dengan siklus haid.2 Kista
payudara ini tampaknya berasal dari dekstruksi dan dilatasi
lobulus dan duktus terminalis payudara. Kista dapat tunggal
atau multiple, unilateral atau bilateral, dan biasanya terasa nyeri
bila dipalpasi. Kista teraba sebagai massa yang berbatas jelas,
mobile, dan berisi cairan. Massa kista dapat dipastikan dengan
aspirasi dan USG. Kista biasanya berisi cairan keruh dan
debris. Cairan kista tampak hemoragik atau kista yang rekuren
harus diperiksa sistologinya. Pembedahan membuang kista
dilakukan jika aspirat kista mencurigakan atau kista rekuren
walaupun telah diaspirasi.3

Gambar 2.3 Kista Payudara

b. Fibroadenoma

Fibroadenoma mammae (FAM) sering ditemukan pada


usia yang lebih muda, antara 20-40 tahun, dengan usia median
30 tahun. FAM terjadi akibat proliferasi abnormal jaringan
periduktus ke dalam lobulus; dengan demikian sering

11
ditemukan di kuadran lateral atas karena di bagian ini distribusi
kelenjar paling banyak. Baik estrogen, progesteron, kehamilan,
maupun laktasi dapat merangsang pertumbuhan FAM.2
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau
berbenjol, dengan simpai licin, bebas digerakan, dan
konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan
sekitarnya.3
Biasanya tidak nyeri, tetapi kadang ada yang nyeri.
Kadang fibroadenoma tumbuh multiple. Pada masa remaja,
fibroadenoma dapat sangat cepat bertumbuh, kadang ada yang
tumbuh banyak dan berpotensi kambuh saat ransangan
esterogen meninggi. FAM harus di eksisi karena tumor jinak
ini akan terus membesar.3

Gambar 2.4 Fibroadenoma

c. Perubahan fibrokistik

Sering ditemukan pada usia antara 20-30 tahun. Secara


pemeriksaan fisik sulit dibedakan dengan FAM atau kista
payudara. Walaupun demikian, hampir selalu nyeri. Sifat nyeri
cukup signifikan, yakni berfluktuasi sesuai siklus haid,

12
bilateral, tidak terlokalisir, dan menyebar ke bahu atau aksila
bahkan dapat menyebar ke lengan.2 Biopsi dapat dilakukan bila
pasien merasa takut akan kelainan ini. Pemeriksaan patologis
kelainan fibrokistik dapat memiliki lima belas macam
gambaran antara lain adenosis, fibrosis stroma, kista multiple
yang disertai fibrosis. Pada mammografi, jaringan payudara
hanya tampak memadat tanpa adanya kelainan lain. Jika pasien
memiliki riwayat keluarga penderita kanker payudara ditambah
adanya gambaran hiperplasia yang atipik pada hasil biopsi
maka potensi keganasan perlu diwaspadai.3

d. Tumor filoides

Tumor filodes atau dikenal dengan sistosarkoma filodes


adalah tumor fibroepitelial yang ditandai dengan hiperselular
stroma dikombinasikan dengan komponen epitel. Tumor
filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat
menyusup secara lokal dan mungkin ganas (10-15%).
Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran
yang besar. Tumor ini terdapat pada semua usia, tapi
kebanyakan pada usia sekitar 30 tahun. Penanggulangannya
adalah eksisi luas. Jika tumor sudah besar maka perlu
dilakukan mastektomi simpel, bila tumor ternyata ganas, harus
dilakukan mastektomi radikal walaupun mungkin bermetastase
secara hematogen seperti sarkoma.3

e. Galaktokel

Galaktokel adalah kista retensi berisi air susu. Biasanya


berbatas jelas dan mobile biasanya timbul 6-10 bulan setelah
berhenti menyusui, letaknya ditengah dalam payudara atau
dibawah puting. Tatalaksananya adalah aspirasi jarum untuk

13
mengeluarkan sekret susu dan pembedahan baru dilakukan jika
kista terlalu kental untuk bisa diaspirasi atau jika terjadi infeksi
dalam galaktokel tersebut.3

f. Papiloma intraduktus

Lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75%


tumbuh di bawah areola mamma ini memberikan gejala berupa
sekresi cairan berdarah dari puting susu. Papilloma intraduktal
adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan disertai tangkai
yang tumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan
glandular dan jaringan fibrovaskular.3

Gambar 2.4 Papiloma intraduktus

g. Duktus ektasia

Duktus ektasia merupakan kelainan jinak akibat


kerusakan elastin dinding duktus payudara, diikuti infiltrasi sel
radang dan hasil akhirnya adalah dilatasi dan pemendekan
duktus. Tampak klinisnya adalah keluar cairan keruh dari
puting dan adanya terabanya massa berupa duktus yang
membesar. Mammografi dan usg tidak menunjukan kelainan
yang jelas. Hal ini membedakan duktus ektasia dengan
keganasan.3

14
Gambar 2.5 Duktus ektasia

III.Pemeriksaan Klinis
Anamnesis penderita kelianan payudara harus meliputi
tiwayat reproduksi dan ginekologi. Pada inspeksi pasien diminta
duduk tegak dan berbaring kemudian inspeksi dilakukan terhadap
bentuk kedua payudara, warna kulit, lekukan, retraksi papil, adanya
kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus dan benjolan. Cekungan
kulit (dimpling) akan terlihat lebih jelas jika pasien diminta untuk
mengangkat lengannya lurus keatas.
Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring
dengan bantal tipis di punggung sehingga payudara terbentang rata.
Palpasi dilakukan dengan ruas pertama jari telunjung, tengah dan
manis yang digerakan perlahan-perlahan tanpa tekanan pada setiap
kuadran payudara dengan alur melingkar atau zig-zag. Penilan
pada hakikatnya sama dengan penilaian tumor di tempat lain. Pada
sikap duduk, benjolan yang tak teraba ketika penderita berbaring
kadang lebih mudah ditemukan. Perabaan aksila pun lebih mudah
dilakukan pada posisi duduk. Palpasi juga dilakukan guna
menentukan apakah benjolan melekat ke kulit atau dinding dada.
Dengan memijat halus puting susu, dapat diketahui adanya
pengeluaran cairan, berupa darah atau bukan.3

15
Gambar 2.6 Pemeriksaan SADARI (Periksa Payudara Sendiri)

Gambar 2.7 Tanda Kelainan Payudara

IV. Pemeriksaan Lanjutan


Semua benjolan di payudara harus di uji dengan triple test
yang terdiri dari pemeriksaan fisik, mamografi dan biopsi. Karena
fasilitias mamografi tidak ada di semua daerah dan USG relatif
lebih mudah maka sebagai alternatif dapat digunakan USG.2

16
a. Mammografi
Mamografi adalah pemeriksaan radiologi khusus
menggunakan sinar – X dosis rendah untuk mendeteksi
kelainan pada payudara, bahkan sebelum adanya gejala yang
terlihat pada payudara seperti benjolan yang dapat dirasakan.
Mamografi bertujuan mengenal secara dini keganasan pada
payudara. Mamografi berperan pada payudara yang
mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan
fibroglandular yang relatif lebih sedikit dan biasanya
ditemukan pada wanita dewasa diatas umur 40 tahun, karena
pada umur tersebut kemungkinan terjadinya keganasan
payudara meningkat.4
Pada mamografi , lesi yang mencurigakan ganas
menunjukkan salah satu atau beberapa gambaran sebagai
berikut: lesi asimetris, kalsifi kasi pleomorfik, tepi ireguler atau
ber-spikula, terdapat peningkatan densitas dibandingkan
sekitarnya.2 Untuk tumor jinak, mamografi memberikan tanda:
1) Lesi dengan densitas meningkat, batas tegas, licin
dan teratur
2) Adanya halo
3) Kadang – kadang tampak perkapuran yang kasar
dan umumnya dapat dihitung

Nilai ketepatan diagnostik dengan mamografi sangat bergantung


pada beberapa faktor, yakni mammogram yang berkualitas baik, dan
pembacaan oleh ahli radiologi yang berpengalaman. Nilai diagnostik
mamografi untuk tumor ganas berkisar 80-94% dan untuk tumor jinak
90-93%. Namun jika mamografi dipakai bersama dengan
ultrasonografi dipakai bersama maka nilai ketetapan diagnostik sebesar
97%.4

17
Gambar 2.8 Mamografi Payudara Normal, Tumor Jinak dan
Kanker

b. USG
Ultrasonografi sangat berguna untuk membedakan lesi
solid dan kistik setelah ditemukan kelainan pada
mamografi. USG berperan pada payudara yang padat yang
biasanya ditemui pada wanita muda, dimana jenis ini sulit
dinilai pada mamografi. Pembesaran kelenjar aksiler yang
dapat merubah pengobatan dan prognosis penderita juga
dapat dikenali dengan pemeriksaan USG, terutama
pembesaran kelenjar aksiler yang sulit teraba secara
klinis.2,4

Tanda tumor jinak:

1) Lesi dengan batas tegas, licin dan teratur


2) Sruktur echo internal :
a. Tak ada (sonolusen), misalnya kista
b. Lemah sampai menengah tetapi homogen,
misalnya pada fibroadenoma
3) Batas echo anterior lesi dan posterior lesi bervariasi
dari kuat atau menengah
4) Lateral acoustic shadow dari lesi dapat bilateral
atau unilateral (tedpole sign)

18
Nilai ketetapan USG untuk lesi kistik adalah 98-100%,
sedangkan untuk lesi solid seperti fibroadenoma adalah 75-
85%. Sedangkan untuk mengenal tumor ganas nilai
ketepatan diagnostik USG masih dibawah mamografi yaitu
hanya 62-78%. Sedangkan kombinasi keduanya menaikan
nilai tersebut menjadi 97%.2,4

c. Biopsi
Setiap ada kecurigaan pada pemeriksaan fisik dan
mamogram, biopsi harus selalu dilakukan. Jenis biopsi
dapat dilakukan yaitu biopsi jarum halus (fine needle
aspiration biopsy,FNAB), core biopsy (jarum besar), dan
biopsi bedah. FNAB mengevaluasi sistologi, sedangkan
biopsi jarum besar dan biopsi bedah memungkinkan
analisis arsitektur jaringan payudara sehingga ahli patologi
dapat menentukan apakah tumor bersifat invasif atau tidak.
Teknin FNAB yakni dengan jarum halus sejumlah
kecil jaringan dari tumor diaspirasi keluar lalu diperiksa di
bawah mikroskop. Spesimen FNAB kadang tidak dapat
menentukan grade tumor dan kadang tidak memberi
diagnosis yang jelas sehingga membutuhkan biopsi lainya.
Biopsi terbuka dilakukan bila pada mamografi
terlihat adanya kelainan yang mengarah ke tumor maligna
atau hasil FNAB meragukan. Biopsi eksisional adalah
mengangkat seluruh massa tumor dan menyertakan sedikit
jaringan sehat di sekitar massa tumor dan biopsi insisional
hanya mengambil sebagian massa tumor untuk kemudian
dilakukan pemeriksaan PA.3

19
Gambar 2.9 Pemeriksaan Core Biopsy Needle

V. Tatalaksana

Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. .


Namun terapi ini sudah tidak dilakukan karena simple
aspiration sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan
menjadi lembek dan tidak teraba tetapi masih bisa
dideteksi dengan mammografi. Walau bagaimanapun,
bukti klinis perlu bahwa tidak terdapat massa setelah
dilakukan aspirasi.
Terdapat dua cardinal rules bagi menunjukkan
aspirasi kista berhasil yakni :
 (1) massa menghilang secara keseluruhan setelah
diaspirasi.
 (2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah.
Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi, ultrasonografi,
needle biopsy dan eksisi direkomendasikan. Terdapat dua
indikasi untuk dilakukan eksisi pada kista. Indikasi
pertama adalah sekiranya cairan aspirasi mengandungi
darah (selagi tidak disebabkan oleh trauma dari jarum),
kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang sangat
jarang ditemukan. Indikasi kedua adalah rekurensi dari

20
kista. Hal ini bisa terjadi karena aspirasi yang tidak
adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum
dilakukan eksisi. Apabila kista masih terus membesar,
eksisi direkomendasikan.
Teknik yang digunakan untuk aspirasi kista
mammae yang dapat dipalpasi sama dengan teknik yang
digunakan untuk pemeriksaan sitologi FNA. Permukaan
kulit dibersihkan dengan alkohol. Biasanya digunakan
jarum 21-gauge dan juga syringe 20 ml. Kista di fiksasi
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk atau jari telunjuk
dan jari tengah. Syringe dipegang oleh tangan yang lain
dan kista dipalpasi sehingga sudah tidak teraba. Volume
dari cairan kista biasanya 5 ml sampai 10 ml tetapi dapat
mencapai 75 ml atau lebih. Cairan dari kista biasanya
berwarna coklat, kuning atau kehijauan. Sekiranya
didapatkan cairan sedemikian, pemeriksaan sitologi tidak
diperlukan. Apabila ditemukan cairan kista bercampur
darah, 2 ml dari cairan diambil untuk pemeriksaan
sitologi.5
Fibroadenoma disarankan untuk dilakukan eksisi
supaya tidak berlanjut menjadi fibroadenoma yang
multipel walaupun ) tumor ini akan berhenti tumbuh atau
bahkan mengecil dengan sendirinya tanpa terapi apapun.5
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik
harus dilakukan dengan seksama untuk membedakannya
dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan fisik
didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas jelas),
terutama berada di bagian atas-luar payudara tanpa ada
benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan
mammogram dan pemeriksaan ulangan setelah periode
menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan dari puting,

21
baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya diperiksakan
tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila
cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal
dari beberapa kelenjar, maka kemungkinan benjolan
tersebut jinak.
Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan
pengangkatan tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi)
jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan tumor
filoides yang ganas dengan batas infiltratif mungkin
membutuhkan mastektomi (pengambilan jaringan
payudara). Mastektomi sebaiknya dihindari apabila
memungkinkan. Apabila pemeriksaan patologi
memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi
komplit dari seluruh area harus dilakukan agar tidak ada
sel keganasan yang tersisa.
Penatalaksanaan galaktokel sama seperti kista
lainnya, biasanya tanpa melakukan tindakan apapun.
Apabila diagnosis masih diragukan atau galaktokel
menimbulkan rasa tidak nyaman, maka dapat dilakukan
drainase dengan aspirasi jarum halus.
Duktus yang abnormal dapat diangkat melalui
pembedahan dengan cara insisi pada tepi areola.
Terapi untuk papilloma intraduktus adalah dengan
mengangkat papilloma serta bagian duktus dimana
papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan
melakukan insisi pada tepi sekeliling areola.

22
BAB IV

PEMBAHASAN

Untuk menunjang diagnosis hemorroid yang tepat, dilakukan anamnesis,


pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang pada akhirnya akan
mengarah ke satu diagnosis kerja yaitu hemorroid interna grade IV.
a. Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan keluar benjolan dari anus saat buang air besar sejak
± 5 hari sebelum berobat kepuskesmas. Benjolan dirasakan lebih besar
daripada biasanya, benjolan tersebut tidak dapat dimasukan kembali
kedalam anus, terasa perih, gatal, dan pasien mengeluh tidak bisa duduk
karena adanya benjolan. Saat buang air besar biasanya di sertai dengan
darah segar, menetes saat feses keluar, darah tidak bercampur dengan
feses.
± 1 tahun yang lalu pasien mengeluhkan adanya benjolan kecil yang keluar pada
saat buang air besar dan masih dapat dimasukan. Pasien tidak pernah
mengontrol keluhannya ke fasilitas kesehatan ataupun mengkonsumsi obat
untuk mengobati keluhanya dikarenakan merasa tidak mampu.
Pasien jarang mengkonsumsi makanan yang berserat seperti sayuran dan buah
buahan. Pasien suka mengkonsumsi makanan pedas, dan minum kurang
dari 8 gelas perhari dan pada saat buang air besar suka mengejan keras
sampai berkeringat bahkan sampai merasa pusing.

b. Pemeriksaan Fisik

● KU : Tampak sakit sedang


● Kesadaran : Compos mentis
● Vital Sign :

23
● GCS: E4V5M6,
● TD: 120/70 mmHg
● Nadi: 86x/menit
● Suhu: 36,4 ºC
● Pernafasan: 20 x/ menit
● SpO2: 99%

Status Lokalis

Regio Anal
● Inspeksi : Perianal terlihat tonjolan massa prolaps dari anus,
hiperemis
● Palpasi : padat, kenyal, nyeri saat di sentuh, ukuran ± 4x6 cm,
ekskoriasi (-), luka (-), tanda radang (-), darah (-)

c. Pemeriksaan Penunjang
Hematologi : Hemoglobin 13,3 g/dL

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang tersebut dapat ditegakkan diagnosis bahwa pasien mengalami
Hemorroid Interna grade IV.

Penatalaksanaan
Tatalaksana yang dilakukan dalam kasus ini ialah dengan dilakukan
hemoroidektomi.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong, Wim, Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3 Revisi.


EGC. Jakarta. 2015. 615-681
2. Carter DC, Russel RC (eds). Rob & Smith's Operative Surgery, 4th eds.
London: Butterworths, 2008; 721-792.
3. Pena, A. Imperforate Anus and Cloacal Malformation. Pediatric Surgery.
3rd edition. WB Saunders. 2000. page 473-92.
4. Doherty, Gerard. Current Surgical Diagnosis & Treatment, 12 th eds. USA:
The McGraw-Hill Companies, 2006. 615-681.
5. Ellis H, Calne R, Watson C. The Rectum and Anal Canal. Lecture Notes
General Surgery, 11th ed. London: Blackwell Publishing, 2006. 541-559.
6. Townsend, Beauchamp, Evers, Matton. 2004. Colon and rectum. In
Sabiston’s Textbook of Surgery. 17th edition. 2004. Philadelphia: Elsevier
Saunders. P 1443-1510.
7. Casciato DA, (ed). 2004. Manual of Clinical Oncology 5th ed. Lippincott
Willi ams & Wilkins: USA.p 201
8. Schwartz SI, 2005. Schwartz’s Principles of Surgery 8th Ed. United States
of America: The McGraw-Hill Companies.

25