Anda di halaman 1dari 4

* IRI HATI SANG MERPATI *

Seharian ini, Merpati iri hati pada Tekukur. Merpati merasa jatah jagungnya lebih
sedikit dibandingkan dengan Tekukur. Merpati menganggap pemiliknya sudah tak
menyayanginya lagi.

“Pemilikku lebih sayang Tekukur,” batin Merpati sambil memperhatikan sang


pemilik yang lebih banyak memberikan jagung di tempat makan Tekukur. Merpati
pun sedih.

Ingin rasanya ia kabur dari sangkar. Tapi ia tak mau melakukannya, karena esok ada
perlombaan balap Merpati yang harus diikuti. Ia pun bertekad memenangi
perlombaan agar bisa membanggakan pemiliknya.

Tiba-tiba, Merpati mendengar suara di kebun mentimun di belakang rumah. Ia


melihat Kancil yang hendak mengambil buah mentimun.

“Kancil…” panggil Merpati.

Kancil terkejut dipergoki Merpati.

“Maaf, aku lapar. Nanti aku bawa bijinya sebgai ganti,” kata Kancil pelan.

“Bukan itu, aku butuh saranmu,” kata Merpati.

Kancil lalu mendekati sangkar Merpati. Merpati menceritakan kegundahan yang


sedang dirasakannya. Dengan seksama Kancil mendengarkan keluh kesah Merpati.

Selesai Merpati bercerita, Kancil memberi saran.

“Jangan begitu Merpati, mungkin pemilikmu tak mau kamu terlalu gemuk.”

“Memangnya kenapa kalau aku jadi gemuk nanti?”

“Nanti terbangmu lambat.”

Merpati menggeleng. “Itu tak mungkin. Aku malah bisa terbang lebih cepat,” kata
Merpati dengan sombongnya.

Kancil hanya tersenyum lalu beranjak pergi. Namun, Merpati mencegahnya.

“Kancil, kamu hendak ke mana?”

“Kembali ke hutan. Aku kan sudah memberi saran seperti maumu.”

“Bukan itu saran yang kumau.”


“Lalu apa keinginanmu?”

“Aku mau makan lebih banyak jagung seperti Tekukur.”

Kancil berpikir sejenak. Lalu berkata, “Kamu makan di sangkarnya Tekukur.”

“Caranya?”

“Kamu bujuk Tekukur supaya ia mau bertukar sangkar saat makan jagung.”

Merpati mengangguk. Kancil pun pamit pergi.

***

Setelah Kancil pergi, Merpati membujuk Tekukur untuk bertukar tempat saat makan.
Awalnya Tekukur tak bersedia. Tapi karena Merpati terus memaksanya, maka
Tekukur pun terpaksa menuruti.

Esok harinya setelah sang pemilik pergi seusai memberi makan jagung. Merpati dan
Terkukur bertukar sangkar. Di sangkar Tekukur, Merpati lahap memakan jagung
yang berjumlah banyak. Merpati menjadi kekenyangan. Dengan susah payah,
Merpati kembali ke sangkarnya.

Tak lama kemudian, sang pemilik mengeluarkan Merpati yang masih kekenyangan
dari sangkar. Lalu membawanya ke perlombaan balap Merpati.

Sayang, di perlombaan Merpati yang masih kekenyangan tak bisa terbang cepat
sehingga kalah. Sang pemilik kembali ke rumah dengan wajah sedih. Merpati
dikembalikan ke sangkarnya.

Di dalam sangkarnya, Merpati tampak menyesal tak menuruti saran Kancil. Ia


menceritakan kekalahannya pada Tekukur.

“Merpati, kamu seharusnya tak perlu iri hati. Pemilik kita sengaja memberimu sedikit
jagung agar kamu bisa terbang cepat dan menang,” celethuk Tekukur dari dalam
sangkarnya.

Merpati malu dan sedih mendengarnya. Ia pun menyesali sesuatu yang sudah tidak
ada gunaya

Pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil adalah kita tidak boleh iri hati kepada
siapapun, lebih baik bersyukurlah dengan apa yang sudah kita dapat, serta
berterimakasihlah, karena dibalik sesuatu yang kita dapat walaupun sekecil apapun
pasti ada tujuannya dan bias jadi itu yang terbaik buat kita.
KISAH BUAYA YANG SERAKAH

Di pinggiran sungai ada seekor buaya yang sedang kelaparan, sudah tiga hari Buaya
itu belum makan perutnya terasa la sekali mau tidak mau hari ini dia harus makan
sebab kalau tidak bisa-bisa ia akan mati kelaparan. Buaya itu segera masuk ke dalam
Sungai ia berenang perlahan-lahan menyusuri sungai mencari mangsa.

Buaya melihat seekor bebek yang juga sedang berenang di sungai, Bebek tahu dia
sedang diawasi oleh Buaya, dia segera menepi. Melihat mangsanya akan kabur Buaya
segera mengejar dan akhirnya Bebekpun tertangkap.

Ampun Buaya, tolong jangan mangsa aku, dagingku sedikit, kenapa kamu tidak
memang sa kambing saja di dalam hutan,” ucapnya seraya menagis ketakutan

“Baik, sekarang kau antar aku ke tempat persembunyian Kambing itu,” perintah
buaya dengan menunjukkan taring yang sangat tajam.

Berada tidak jauh dari tempat itu ada lapangan hijau tempat Kambing mencari
makan, dan benar saja di sana ada banyak Kambing yang sedang lahap memakan
rumput.

“Pergi sanah, aku mau memangsa Kambing saja,” Bebek yang merasa senang,
kemudian berlari dengan kecepatan penuh.

Setelah mengintai beberapa lama, akhirnya Buaya mendapatkan satu ekor anak
Kambing yang siap dia santap. “Tolong, jangan makan aku, dagingku tidak banyak,
aku masih kecil, kenpa kamu tidak makan gajah saja yang dagingnya lebih banyak,
aku bisa mengantarkan kamu ke sana”.
“Baik, segera antarkan aku ke sana!” Anak Kambing itu mengajak buaya ke tepi
danau yang luas, di sana ada anak Gajah yang besar. Buaya langsung mengejar dan
menggigit kaki anak Gajah itu. Walau besar, tapi kulit Gajah itu sangat tebal, jadi
tidak bisa melukainya.

Anak Gajah itu berteriak meminta tolong kepada ibunya. Buaya terus saja berusaha
menjatuhkan anak Gajah itu, tapi sayang tetap tidak bisa. Mendengar teriakan
anaknya, sekumpulan Gajah mendatangi dan menginjak Buaya itu sampai tidak bisa
bernafas. Buaya itu tidak bisa melawan, karena ukuran ibu Gajah itu sangat besar,
ditambah dia juga lemas karena belum makan. Buaya itu kehabisan tenaga dan mati.
Pesan moral Buaya Yang Serakah

Pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil adalah kalau kita sudah menerima
apapun meskipun kecil atau meskipun sedikit berterimakasihlah dan bersyukurlah
dengan apa yang sudah kita dapat.