Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK TEKNIK KIMIA 2020

”EKSTRAKSI CAIR-CAIR”

OLEH:

PUTRA MUARA SIREGAR 1931410011

1E - D3 TEKNIK KIMIA

MAHASISWA TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2020
A. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui prinsip dasar metode ekstraksi cair-cair.
2. Menentukan koefisien distribusi bahan terlarut dalam dua pelarut yang berbeda fasa.

B. Dasar Teori
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau
lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven)
sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari
komponen-komponen dalam campuran (Wibawa, 2012).
Ekstraksi pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan metode
pemisahan atau pengambilan zat terlarut dala m larutan (biasanya dalam air) dengan
menggunakan pelarut lain (biasanya organik) (Yazid, 2005).
Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling mencampur antara
lain menggunakan alat corong pisah. Ada suatu jenis pemisahan lainnya dimana pada
satu fase dapat berulang-ulang dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi
berulang-ulang suatu larutan dalam pelarut air dan pelarut organik, dalam hal ini
digunakan suatu alat yaitu ekstraktor sokshlet. Metode sokshlet merupakan metode
ekstraksi dari padatan dengan solvent (pelarut) cair secara kontinu. Alatnya dinamakan
sokshlet (ekstraktor sokshlet) yang digunakan untuk ekstraksi kontinu dari sejumlah kecil
bahan (Wibawa, 2012).
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) diantara dua
fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan
secara cepat dan “bersih” baik untuk zat organik maupun zat anorganik. Cara ini juga
dapat digunakan untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk kepentingan analisis
kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan preparatif dalam
bidang kimia organik, biokimia dan anorganik dilaboratorium. Alat yang digunakan dapat
berupa corong pemisah (paling sederhana), alat ekstraksi soxhlet sampai yang paling
rumit berupa alat “Counter Current Craig” (Alimin dkk, 2007).
Istilah-istilah berikut ini umumnya digunakan dalam teknik ekstraksi (Wibawa,
2012) :
a. Bahan ekstraksi : Campuran bahan yang akan diekstraksi
b. Pelarut (media ekstraksi) : Cairan yang digunakan untuk melangsungkan
ekstraksi
c. Ekstrak : Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi
d. Larutan ekstrak : Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak
e. Rafinat (residu ekstraksi) : Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya
f. Ekstraktor : Alat ekstraksi
g. Ekstraksi padat-cair : Ekstraksi dari bahan yang padat
h. Ekstraksi cair-cair (ekstraksi dengan pelarut = solvent extraction) : Ekstraksi
dari bahan ekstraksi yang cair
Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan cara bertahap
(batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana dan banyak dilakukan adalah
ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup dengan menambahkan pelarut pengekstrak yang
tidak bercampur dengan pelarut pertama melaluicorong pisah, kemudian dilakukan
pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solut pada kedua pelarut.setelah
didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan, dan lapisan yang berada dibawah
dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan untuk dilakukan analisa selanjutnya
(Yazid, 2005).
Operasi ekstraksi cair-cair terdiri dari beberapa tahap yaitu (Mardika, 2012) :
a. Kontak antara pelarut (solvent) dengan fasa cair yang mengandung komponen
yang akan diambil (solute), kemudian solute akan berpindah dari fasa umpan (diluen) ke
fasa pelarut.
b. Pemisahan dua fasa yang tidak saling melarutkan yaitu fasa yang banyak
mengandung pelarut disebut fasa ekstrak dan fasa yang banyak mengandung umpan
disebut fasa rafinat.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Corong pisah 250 ml 1 buah
b. Buret 50 ml 1 buah
c. Gelas ukur 100 ml 1 buah
d. Gelas kimia 100 ml 1 buah
e. Gelas kimia 200 ml 1 buah
f. Pipet tetes 1 buah
2. Bahan
a. Asam benzoate, C6H5COOH
b. Larutan NaOH 0,01764N
c. Larutan NaOH 1N
d. Larutan HCl 5M
e. Toluena
f. Indikator pp
D. Skema Kerja
1. Penentuan Koefisien Distribusi Asam Benzoat dalam Air-Toluena

1 gram asam benzoate +


100 ml akuades 25 toluene dalam Fraksi toluene
corong pisah

Dikocok, dibagi menjadi 2 fraksi air

50 ml fraksi air NaOH 0,025 N

Dititrasi

Hasil

2. Proses Ekstraksi Pelarut

1 gram asam
25 ml
25 ml benzoate + 25 ml Fraksi
akuades
akuades toluene dalam toluene
corong pisah 3 kali

25 ml fraksi air

100 ml fraksi air NaOH 0,025 N

Dititrasi
Hasil
3. Isolasi Asam Benzoat dari Pelarut Toluena

2 gram asam
benzoate + 25 ml Fraksi
100 ml
toluene dalam toluene
NaOH 1 N
corong pisah

Fraksi HCl 5 M
NaOH
Tetes

Endapan

E. Hasil Percobaan
1. Penentuan Koefisien Distribusi Asam Benzoat dalam Air – Toluena
a. Massa asam benzoat = 1,0117 gram
b. Volume toluene = 25 mL
c. Konsentrasi NaOH = 0,01764 N
d. Volume NaOH
V1 = 38,2 mL = 0,0382 L
V2 = 38,2 mL = 0,0382 L
Vrata-rata = 38,2 mL = 0,0382 mL
e. Massa asam benzoat dalam fraksi air (X)
X = VNaOH (L) x NNaOH (mol/L) x 122,2 (g/mol)
= 0,0382 L x 0,01764 mol/L x 122,2 g/mol
= 0,0823 gram
f. Massa asam benzoat dalam toluena (Y)
Y = (1 – X) gram
= (1 - 0,0823) gram
= 0,9177 gram
0,0823(X)/50mL H2O
g. Kd = 0,9177 (Y)/50mL toluene

= 0,0897
2. Proses Ekstraksi Pelarut
a. Massa asam benzoat = 1,0015 gram
b. Volume toluene = 25 mL
c. Konsentrasi NaOH = 0,01764 N
d. Volume NaOH
V1 = 23 mL = 0,0230 L
V2 = 23 mL = 0,0230 L
V3 = 23,2 mL = 0,0232 L
V4 = 23 mL = 0,0230 L
Vrata-rata = 23,05 mL = 0,02305 mL
e. Massa asam benzoat dalam fraksi air (X)
X = VNaOH (L) x NNaOH (mol/L) x 122,2 (g/mol)
= 0,02305 L x 0,01764 mol/L x 122,2 g/mol
= 0,0497 gram
f. Massa asam benzoat dalam toluena (Y)
Y = (1 – X) gram
= (1 - 0,0497) gram
= 0,9503 gram
0,0497
g. Kd = 0,9503

= 0,0523
3. Isolasi Asam Benzoat dari Pelarut Toluen
a. Massa asam benzoat = 2,0057 gram
b. Massa kertas saring = 1,56 gram
c. Volume toluen = 25 mL
d. Konsentrasi NaOH = 1 N
e. Massa endapan kering + kertas saring = 2,62 gram
f. Massa endapan kering = 1,06 gram
g. Volume HCl = 14,2 mL = 0,0142 L = 284 tetes
1,06
% recovery = 2,0057 × 100%

= 0,528 x 100%
= 52,8%

F. Pembahasan
Prinsip yang digunakan dalam proses ekstraksi cair-cair adalah pada perbedaan
koefisien distribusi zat terlarut dalam dua larutan yang berbeda fase dan tidak saling
campur. Praktikum kali ini membaginya dalam tiga percobaan.
Percobaan pertama ialah penentuan koefisen distribusi asam benzoat. Langkah
percobaan dilakukan hingga mengekstrak bahan. Ekstrak dilakukan sebanyak satu kali
dengan takaran yang sudah ditentukan. Setelah mendapat ekstrak, selanjutnya dilakukan
titrasi terhadap larutan standar NaOH 0,01764N. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali
dimana dibantu dengan indicator pp diberi sebanyak tiga tetes. Untuk volume yang
didapat adalah 38,3 dan 38,3. Dengan demikian rata-rata volume NaOH yang terpakai
untuk titrasi sebesar 38,2 ml atau setara 0,0382 L. Perhitungan data pun dilakukan yang
menghasilakan nilai Kd asam benzoat yaitu 0,0897.
Percobaan kedua masih dengan tujuan yang sama yaitu mencari nilai Kd asam
benzoate dalam air-toluena. Persiapan dilakukan hingga larutan asam benzoata-toluena
siap. Ekstraksi dilakukan lagi pada corong pisah. Untuk ekstrak pada percobaan kedua
berbeda dengan yang pertama, karena ekstrak dilakukan sebanyak empat kali berulang.
Ekstrasi selesai dan mendapatkan sampel yang dibagi empat untuk dititrasi kembali oleh
NaOH 0,01764N dan diberi indicator pp. Untuk pemberian indikator pp sebanyak dua
teets untuk setiap sampelnya. Titrasi pertama menggunakan larutan NaOH sebanyak 23
ml, kedua kalinya masih 23 ml dilanjutkan untuk titrasi ketiga sebanyak 23,2 ml dan yang
titrasi terakhir sebanyak 23 ml. Rata-rata larutan NaOH yang digunakan sebanyak 23,05
ml atau setara 0,02305 L. Perhitungan dilanjutkan hingga mendapat nilai Kd asam
benzoat sebesar 0,0523.
Terhadap percobaan pertama dan kedua dilakukan pembandingan data dan lankah
kerja.
1. Jumlah Ekstraksi
Terhadap ekstraksi percobaan pertama dilakukan satu kali sedangkan pada percobaan
kedua dilakukan sebanyak empat kali.
2. Volume NaOH
Pemakaian NaOH pada percobaan pertama sebanyak 0,00382 L sedangkan pada
percobaan kedua sebanyak 0,002305 L
3. Besar nilai Kd percobaan kedua jauh lebih kecil dibanding Kd percobaan pertama.
Percobaan ketiga yaitu isolasi asam benzoat dari pelarut toluene. Percobaan ditujukan
memperoleh % atau persentase asam benzoat yang diperoleh kembali. Percobaan
dilakukan dengan membuat larutan asam benzoate-toluena. Selanjutnya larutan dibawa
ke lemari asam untuk pemberian HCl 5M. Pemberian HCl dilakukan dengan menetesi
secara perlahan. Jumlah tetesan yang tercapai sebanyak 284 tetes atau setara 14,2 ml.
Setiap tetesan akan membentuk endapan didalam larutan. Endapan ini yang disaring
untuk memisahkan dari campuran larutan. Hasil endapan dioven selama 1x24 jam yang
pada akhirnya didapati massa endapan sebesar 1,06 gram. Dengan demikian % asam
benzoate diperoleh kembali adalah 52,8%.

G. Kesimpulan
1. Bahwa esktraksi tipe cair-cair memisahkan dua larutan yang berbeda fase dan tidak
saling melarut.
2. Perubahan koefisien distribusi asam benzoat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Jumlah Ekstraksi
b. Volume NaOH yang terpakai
3. Nilai koefisien disribusi pada percobaan pertama 0,0897, pada percobaan kedua
0,0523. Kd pertama jauh lebih besar dibanding kd kedua.
4. Yield atau % asam benzoat yang diperoleh kembali sebesar 52,8% setara 1,06 gram.

H. Daftar Pustaka
Alimin M.S, Yunus dan Idris I. 2007. Kimia Analitik. Makassar : UIN Alauddin.
Mardika, S.F. 2012. Ekstraksi-cair-cair
Wibawa, I. 2012. Ekstraksi Cair-cair
Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta : Andi
I. Lampiran

No Nama Lampiran Gambar


1 Percobaan I

2 Hasil Percobaan I

3 Percobaan II
4 Percobaan III

5 Hasil Percobaan III