Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH LOGIKA ELEMENTER

(Pembuktian Langsung dan Pembuktian Tidak Langsung)

Oleh :

Nama NPM
AMAR 201784202001
ASTRI HANDAYANI MANIK 201784202002
ELDA WISCIA 201784202007
PANCA MEGA RAYA 201784202011
APIA DORENCI RAHAJAAN 201784202042

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PEMDIDIKAN

UNIVERSITAS MUSAMUS MERAUKE


2019

i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Berkat,
Rahmat serta Cinta Kasih yang senantiasa dilimpahkan kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Pembuktian Langsung dan
Pembuktian Tidak Langsung”.

Harapan dari kami, semoga Makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat
sebagai salah satu pedoman atau pembelajaran bagi pembaca, menambah
wawasan serta pengalaman dan pengetahuan.Sebagai penyusun, kami mengakui
bahwa masih banyak kekurangan yang terkandung dalam Makalah ini. Oleh sebab
itu, dengan penuh kerendahan hati kami berharap kepada para pembaca agar dapat
menerima kekurangan kami dalam makalah ini. Kami juga sangat membutuhkan
kritik dan saran dari pembaca demi memperbaiki makalah ini.

Merauke, 24 Oktober 2019

Penulis,

ii
Daftar Isi
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang................................................................................................1

B. Rumusan Masalah...........................................................................................2

C. Tujuan Makalah..............................................................................................2

D. Manfaat Makalah............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3

METODE PEMBUKTIAN......................................................................................3

A. Pembuktian Langsung...............................................................................4

B. Pembuktian Tidak Langsung...................................................................18

BAB III PENUTUP...............................................................................................24

KESIMPULAN......................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................25

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Didalam matematika, bukti adalah serangkaian argumen logis yang
menjelaskan kebenaran suatu pernyataan. Argumen-argumen ini dapat berasal dari
premis pernyataan itu sendiri, teorema-teorema lainnya, definisi dan akhirnya
dapat berasal dari postulat dimana sistem matematika tersebut berasal. Yang
dimaksud logis disini, adalah semua langkah pada setiap argumen harus
dijustifikasi oleh langkah sebelumnya. Jadi, kebenaran semua premis pada setiap
deduksi sudah dibuktikan atau diberikan sebagai asumsi.

Pernyataan-pernyataan matematika seperti definisi, teorema dan pernyatan


lainnya pada umumnya berbentuk kalimat logika, dapat berupa implikasi,
bimplikasi, negasi, atau berupa kalimat berkuantor. Operator logika seperti and,
or, not, xor juga sering termuat dalam suatu pernyataan matematika. Jadi
membuktikan kebenaran suatu teorema tidak lain adalah membuktikan kebenaran
suatu logika. Paling tidak terdapat enam motivasi mengapa orang membuktikan,
yaitu to establish a fact with certainty, to gain understanding, to comminicate an
idea to others, for the challenge, to create something beautiful, to construct a large
mathematical theory. To establish a fact with certainty merupakan motivasi paling
dasar mengapa orang perlu membuktikan suatu pernyataan metematika, yaitu
untuk menyakinkan bahwa apa yang selama ini dianggap benar adalah memang
benar. Terkadang, beberapa orang mempunyai pendirian sangat kuat bahwa suatu
konjektur adalah benar. Keyakinan ini mungkin berasal dari penjelasan informal
atau dari beberapa kasus yang ditemuinya. Bagi mereka tidak ada keraguan
terhadap keyakinan itu, tapi belum tentu berlaku untuk orang dari kelompok lain.

1
Disinilah bukti dapat dijadkan sarana untuk meyakinkan orang lain akan
kebenaran suatu idea. Tidak dapat dipungkiri selama ini banyak kebenaran fakta
didalam mtematika hanya dipercaya begitu saja tanpa adanya kecurigaan terhadap
kebenaran tersebut, tidak berusaha membuktikan sendiri, termasuk fakta-fakta
yang sangat sederhana. Kita hanya menggunakan fakta tersebut karena sudah ada
dalam buku (it was in the next). Banyak pembuktian yang tidak hanya
membuktikan suatu fakta tetapi juga memberikan penjelasan tentang fakta
tersebut. Disinilah, pembuktian teorema berfungsi untuk mendapatkan
pemahaman (to gain understanding).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pembuktian langsung dan bagian-bagian
padapembuktian langsung?
2. Apa yang dimaksuddengan pembuktian tidak langsung dan bagian-
bagian padapembuktian tidak langsung?

C. Tujuan Makalah
Pada makalah ini seorang pembaca bisa memahami dan bisa
membedahkan pembuktian langsung dan pembuktian tidak langsung.

D. Manfaat Makalah
Seorang pembaca bisa menggunakan makalah ini sebagai pedoman dalam
proses pembelajaran untuk materi metode pembuktian yaitu pembuktian langsung
dan pembuktian tidak langsung.

2
BAB II
PEMBAHASAN
METODE PEMBUKTIAN
Matematika adalah satu-satunya hasil kerja keras manusia yang sangat
mementingkan logika dan pembuktian. Kemampuan berpikir logik dan membaca
pembuktian benar-benar akan memperluas pemahaman matematik dan yang lebih
penting ketrampilan ini memudahkan kita untuk mengaplikasikan ide-ide
matematika diberbagai situasi baru. Dalam makalah ini akan di bahas beberapa
metode dasar pembuktian, sehinggga memiliki kerangka logik untuk melakukan
pembuktian yang lebih baik. Teorema adalah salah satu perwujudan dari obyek
matematika yang disebut “prinsip”. Teorema merupakan pernyataan yang masih
perlu dibuktikan kebenarannya.

Untuk membuktikan suatu teorema biasanya dimulai dengan pernyataan-


pernyataan tertentu yang telah diterima nilai kebenarannya, selanjutnya
berargumentasi menuju pada kesimpulan. Pernyataan-pernyataan yang digunakan
untuk menarik kesimpulan disebut premis. Sedangkan kesimpulan yang diambil
dalam suatu argumentasi disebut konklusi. Argumen adalah kumpulan pernyataan
yang terdiri dari satu atau lebih premis dan satu konklusi. Sehingga konklusi
seharusnya diturunkan hanya dari premis-premis.

Dalam suatu pembuktian teorema, premis dapat berupa aksioma, definisi


atau teorema yang telah dibuktikan sebelumnya. Untuk menentukan apakah
argumen tertentu valid atau tidak, dapat digunakan tabel kebenaran yang sesuai
dengan argumen tersebut. Validitas pembuktian diklasifikasikan sebagai bukti
langsung dan bukti tidak langsung.

3
A. Pembuktian Langsung
Banyak sifat dan teorema yang ketika sekolah dulu kita gunakan tanpa
tahu asal usul pembuktiannya, tapi ketika kita kuliah di matematika, sudah tidak
asing lagi dengan pembuktian sifat-sifat atau teorema. Untuk membuktikannya
tidak lepas dari teknik yang digunakan. Teknik yang biasa digunakan yaitu teknik
Pembukitan Langsung, teknik Tidak Langsung dan Induksi Matematika.
Bukti langsung adalah salah satu cara pembuktian sifat atau teorema
matematika dengan penarikan kesimpulan dengan memanfaatkan silogisme,
modus ponens dan modus tollens. Secara logika pembuktian q benar secara
langsung atau ekuivalen dengan membuktikan bahwa pernyataan q benar dimana
diketahui p benar.
Metode pembuktian langsung adalah suatu proses pembuktian pembuktian
menggunakan alur maju, mulai dari hipotesis dengan menggunakan implikasi
logic sampai pada pernyataan kesimpulan. Hukum-hukum dalam matematika pada
umumnya berupa proposisi atau pernyataan berbentuk implikasi ( p  q ) atau
biimplikasi ( p  q ) atau pernyataan kuantifikasi yang dapat diubah bentuknya
menjadi pernyataan implikasi. Misal kita punya teorema ( p  q ) , dengan p
disini sebagai hipotesis yang digunakan sebagai fakta yang diketahui atau sebagai
asumsi. Selanjutnya, dengan menggunakan p kita harus menunjukkan bahwa
berlaku q .

Pembuktian langsung dapat juga di definisikan sebagai pembuktian suatu


kalimat atau sifat matematika tanpa mengubah susunan kalimat tersebut. Dengan
kata lain untuk membuktikan kebenaran pernyataan implikasi p → q . Kita
berangkat dengan memisalkan p benar, maka harus dibuktikan bahwa q juga
benar.

4
Contoh 1 :

a. Buktikan bahwa jika n bilangan bulat ganjil, maka n 2 bilangan bulat


ganjil.

Pembahasan :

Kita akan membuktikan pernyataan implikasi p  q , dengan :

p : Jika n bilangan bulat ganjil

q : n 2 bilangan bulat ganjil

Mula-mula kita misalkan bahwa p benar, yaitu n merupakan bilangan bulat


ganjil, akan dibuktikan bahwa n 2 bilangan bulat ganjil. Karena n bilangan bulat
ganjil, maka kita bisa tuliskan sebagai n  2k  1 , untuk semua bilangan bulat k.

Selanjutnya kita perhatikan n 2   2k  1 2  4k 2  4k  1  2 2k 2  k   1 .

Kita misalkan m  2k 2  k , sehingga menjadi : n 2  2m  1 (ini merupakan


bentuk dari bilangan bulat ganjil).

Jadi pernyataan tersebut terbukti.

b. Buktikan bahwa jika a bilangan ganjil dan b bilangan genap, maka

3a 2  b  1 adalah bilangan genap.

Pembahasan :

Kita akan membuktikan pernyataan implikasi p  q , dengan :

p : a bilangan ganjil dan b bilangan genap

q  3a 2  b  1 adalah bilangan genap

5
Mula mula kita misalkan p benar, yaitu a bilangan ganjil dan b bilangan
genap, akan dibuktikan bahwa 3a 2  b  1 adalah bilangan genap. Karena a
bilangan ganjil,dapat dituliskan sebagai a  2k  1 , dan karena b bilangan
genap, dapat dituliskan sebagai b  2 p , Dimana k dan p bilangan bulat.

Selanjutnya perhatikan

 
3a 2  b  1  3 2k  1  2 s  1  3 4k 2  4k  1  2 s  1
2


 12k  12k  4  2 s  2 6k  6k  s
2 2

Kita misalkan r  6k 2  6k  s sehingga 3a 2  b  1  2r (ini merupakan bentuk
dari bilangan genap).

Jadi pernyataan tersebut terbukti.

Contoh 2 :
Buktikan, jika x bilangan ganjil maka x 2 bilangan ganjil.

Bukti :
Diketahui x ganjil, jadi dapat didefinisikan sebagai x  2n  1 untuk suatu n  
. Selanjutnya, x 2  2, m   maka x 2  2m  1 karena m merupakan bilangan
bulat maka disimpilkan x 2 ganjil.

Contoh 3 :
Buktikan bahwa jika a membagi b dan b membagi c maka a membagi c
dengan a , b , dan c bilangan bulat.
Bukti
ab artinya b  ka k  ...(i )
bc artinya c  1b 1  .....(ii )
Akan dibuktikan bahwa c  ma untuk suatu m z
Subsitusi (i) ke (ii), sehingga diperoleh
c  1b  1( ka )  (1k ) a
Karena 1k adalah perkalian bilangan bulat yang hasilnya bilangan bulat juga juga
(sifat tertutup perkalian bilangan bulat), maka ambil m  1k untuk dengan m  
, sehingga diperoleh
c  ma untuk suatu m  
Contoh 4 :
Buktikan bahwa a + b bilangan ganjil jika dan hanya jika a atau b bilangan ganjil
dengan a dan b bilangan bulat.

6
Bukti :
Pernyataan diatas ekuivalen dengan
i. Jika a + b bilangan ganjil maka a atau b bilangan ganjil.
ii. Jika a atau b bilangan ganjil maka a + b bilangan ganjil
Jadi pada pembuktian ini kita akan membuktiaan (i) dan (ii)

Bukti bagian i
Misalkan a dan b bilangan bulat sebarang dan a + b bilangan ganjil.
Akan dibuktikan a atau b bilangan ganjil.
Tanpa mengurangi perumuman akan dibuktikan a ganjil
klaim : b bilangan genap (b  2m untuk suatu m  )
a + b bilangan ganjil
a + b = 2k + 1 untuk suatu k  
substitusi b = 2m sehingga diperoleh
a + 2m = 2k + 1
a = 2k – 2m + 1 = 2(k – m) + 1
karena tertutup terhadap operasi pengurangan, maka ambil l = k – m, sehingga
diperoleh
a = 2.1 + 1
jadi, a bilangan ganjil
selanjutnya akan dibuktikan b bilangan ganjil

klaim : a bilangan genap (a  2 p untuk suatu p  )


a + b bilangan ganjil
a + b = 2q + 1 untuk suatu k  
substitusi a = 2p sehingga diperoleh
2p + b = 2q + 1
b = 2q – 2p + 1 = 2(p – q) + 1
karena tertutup terhadap operasi pengurangan, maka ambil r = p – q, sehingga
diperoleh
b = 2r + 1
jadi b bilangan ganjil

Bukti bagian ii
Misal a dan b bilangan bulat sebarang dan a bilangan ganjil (a = 2m + 1 untuk
suatu m   ) dan b bilangan genap (b = 2n untuk suatu n   )
Sehingga:
a + b = 2m + 1 + 2n = 2(m + n) + 1
karena tertutup terhadap operasi penjumlahan bilangan bulat, ambil p = m + n,
sehingga
a + b = 2p + 1 untuk suatu p  
jadi a + b bilangan ganjil

7
Contoh 5 :
Buktikan bahwa perkalian tiga bilangan asli berurutan habis dibagi 3
Bukti :
Misal tiga bilangan asli berurutan didefinisikan sebagai n, n + 1 dan n + 2 untuk
suatu n   dan perkalian tiga bilangan asli adalah m. Disini kita akan
menggunakan 3 kasus, yaitu 3k, 3k + 1, 3k + 2
a). m  (n)(n  1)(n  2)
 (3k )(3k  1)(3k  2)
 3k (9k 2  9k  2)
 3(9k 3  9k 2  2k )
m adalah bilangan kelipatan 3
b). m  (n)(n  1)(n  2)
 (3k  1)(3k  1  1)(3k  1  2)
 (3k  1)(3k  2)(3  3)
 (3k  1)(9k 2  15k  6)
 27 k 3  54k 2  21k  6
 3(9k 3  18k 3  7 k  2)
m adalah bilangan kelipatan 3

c). m  ( n)(n  1)(n  2)


 (3k  2)(3k  2  1)(3k  2  2)
 (3k  2)(3k  3)(3k  4)
 (3k  2)(9k 2  21k  12)
 27 k 3  81k 2  78k  14
 3(9k 3  27 k 3  26k  8)
m adalah bilangan kelipatan 3

dari a, b, dan c terlihat bahwa m merupakan bilangan kelipatan 3 berakibat m


habis dibagi 3.
Adapun bagian-bagian dari pembuktian langsung adalah:

1). Modus Ponens


Argumen modus ponen ini merupakan argumen yang paling sering
digunakan. Jika suatu pernyataan kondisional benar dan diketahui hipotesisnya
benar maka konklusinya pastilah benar. Secara simbolik sering dinyatakan
sebagai:
premis 1  p  q
premis 2  q
konklusi  q
Argumen di atas dapat dibaca “jika p maka q benar, p benar karena itu q benar”
atau “jika p maka q benar dan p benar, jadi q benar”

8
Bukti:

P q ( p  q) ( p  q)  p ( p  q)  p  q
B B B B B
B S S S B
S B B S B
S S B S B

Contoh 1 : Periksalah validitas argimen berikut:


Premis 1 : jika p > 2 bilangan prima maka p ganjil
a). Premis 2 : 5 bilangan prima
Konklusi : 5 adalah bilangan ganjil
Premis 1 : jika saya lulus ujian maka saya bahagia
b). Premis 2 : saya bahagia
Konklusi : saya lulus ujian

Jelas bahwa argumen (a) valid karena memenuhi hukum modeu ponens,
sedangkan argumen (b) tidak valid

2). Modus Tolen


Argumen modus tolen ini menyatakan bahwa suatu pernyataan konditional
bernilai benar dan diketahui negasi konklusinya benar maka negasi dari
hipotesisnya haruslah benar. Secara simbolik dapat dinyatakan sebagai:
Premis 1  p  q
Premis 2  q
konklusi  p
Bukti :

p q p q pq ( p  q )  q ( p  q )  q  p
B B S S B S B
B S S B S S B
S B B S B S B
S S B B B B B

Contoh 2 : Periksalah validitas argumen berikut:


Premis 1 : Jika hari ini ada ujian maka saya belajar
a). Premis 2 : Saya tidak belajar
Konklusi : Hari ini tak ada ujian

9
Premis 1 : Jika p > 2 bilangan prima maka p bilangan ganjil
b). Premis 2 : 2 bilangan genap
Konklusi : 2 bukan bilangan prima
Jika, bahwa argumen a valid karena memenuhi hukum modus tolen, sedangkan
argumen b tidak valid.

3). Modus barbara/silogisma


Perhatikan pernyataan “jika x bilangan real, x 2  1  0 maka x  1 atau
x  1 ”. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan sebagai berikut:
Jika x 2  1  0 maka ( x  1)( x  1)  0
Jika ( x  1)( x  1)  0 maka x  1 atau x  1
Jadi, jika x 2  1  0 maka x  1 atau x  1 .
Secara tidak sadar hukum silogisma (modus berbara) telah dipakai dalam
pembuktian di atas. Jika argumen di atas dinyatakan secara simbolik,
Premis I  p  q
Premis II  q  r
Konklusi  p  r

P q r pq qr pr ( p  q)  (( p  q )  ( p  r )) 


( p  r) ( p  r)

B B B B B B B B
B B S B S S S B
B S B S B B S B
B S S S B S S B
S B B B B B B B
S B S B B B B B
S S B B B B B B
S S S B B B B B

Contoh 3 : Periksalah validitas argumen berikut :


Premis 1 : Jika saya cocok maka saya ikut
a). Premis 2 : Jika saya ikut maka saya akan sungguh - sungguh
Konklusi : Jika saya cocok maka saya akan sungguh - sungguh
Premis 1 : Jika saya tahu maka saya akan mengatakannya
b). Premis 2 : Jika saya tahu maka saya akan minta maaf
Konklusi : Jika saya mengatakannya maka saya akan minta maaf.
Jelas bahwa argumen a valid karena memenuhi hukum modus barbara, sedangkan
argumen b tidak valid.

4). Silogisma disjungtif

10
Premis I  p  q
Premis II  q
Konklusi  p
Bukti :

q p pq q ( p  q )  (q ) (( p  q )  (q ))  p


B B B S S B
B S B B B B
S B B S S B
S S S B S B

Contoh 4 :
Premis 1 : Saya merokon arau saya tidur
a). Premis 2 : Saya ridak tidur
Konklusi : Saya merokok
Premis 1 : p bukan bilangan prima
b). Premis 2 : p bilangan genap
Konklusi : p bukan bilangan pima
Jelas bahwa argumen a valid karena memenuhi hukum silogisma disjungtif,
sedangkan argumen b tidak valid.
Pada contoh b premis 1 merupakan disjungsi inklusif karena p dan q dapat
sekaligus bernilai benar. Misalkan pada contoh b di atas premis pertama
merupakan disjugsi eksklusif maka argumen tersebut adalah valid. Hal ini dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Premis 1  p  q
Premis 2  q 7
Konklusi  p
Bukti :

p Q p  q p p  q ((p  q )  q ))  p
B B S S S B
B S B S S B
S B B B B B
S S S B S B
Contoh 5: Argumen berikut, mengikuti hukum silogisma disjungsi eksklusif
Premis 1 : widodo lahir Surabaya di atau lahir di Kediri
Premis 2 : Widodo lahir di Kediri
Konklusi : Widodo tidak lahir di Surabaya

5). Dilema Konstruktif

11
Premis 1  (p  q)  (r  s)
Premis 2  p  r
Konklusi  q  s
Contoh 6: Argumen berikut mengikuti sifat dilema konstruktif
Premis 1  Jika saya menangis maka saya akan dirumah tetapi jika saya senang maka pacar saya ba
Premis 2  Saya menangis atau pacar saya senang
Konklusi  saya akan dirumah atau pacar saya bahagia
6). Dilema destruktif

Premis 1  (p  q)  (r  s)
Premis 2  q  s
Konklusi  p  r

Contoh 7: Argumen berikut mengikuti hukum dilema destruktif

Premis 1 jika matahari bersinar maka udara terasa panas tetapi jika saya banyak uang maka pacar sa
Premis 2 jika udara tidak ter asa panas atau pacar saya tidak bahagia.
Konklusi matahari tidak bersinar atau saya tidak banyak uang

7). Konjungsi
Premis 1  p
Premis 2  q
Konklusi  p  q
Bukti : pernyataan p bernilai benar dan pernyataan q juga bernilai benar. Jadi,
p  q haruslah benar.
Contoh 8 : Argumen berikut adalah valid
Premis 1  2 bilangan genap
Premis 2  2 bilangan prima
Konklusi  2 bilangan genap dan bilangan prima

8). Addition
Premis 1  p
Konklusi  p  q
Bukti : Jika pernyataan p berniali benar maka apapun nilai q (benar atau salah)
p  q selalu benar.
Contoh 9 : Argumen berikut adalah valid
Premis 1  20 habis dibagi 5
Konklusi  20 dibagi 5 atau 20 bilang ganjil

9). Induksi Matematika

12
Salah satu alat penting yang dapat digunakan untuk membuktikan suatu
teorema yang melibatkan bilangan asli adalah prinsip induksi matematika. Sebab
tak mungkin kita memeriksa setiap bilangan asli satu-persatu, dalam suatu fungsi
pernyataan. Terdapat dua versi induksi matematika, pertama dimulai dari aksioma
peano, dan kedua dimulai dari aksioma urutan terbaik. Sedangkan yang akan
dibahas berikut adalah versi kedua, tetapi versi pertama dapat dibaca dalam
tulisan lepas khusus mengenai induksi matematika (Widodo, 2000).

Aksioma (Well-Ordering Property of N)


Jika S subset yang tak kosong dari himpunan bilangan asli N, maka ada
elemen m ∈ S sedemikian hingga m ≤ k, untuk setiap k ∈ S.
Teorema 1: (principle of mathematical induction) Misalkan P(n) adalah suatu
fungsi pernyataan pada bilangan asli N. Maka P(n) adalah benar untuk setiap n ∈
N jika dipenuhi:
(b) P(1) benar dan,
(i) untuk setiap k ∈ N, jika P(k) benar maka P(k+1) benar.
Bukti :
Akan dibuktikan dengan menggunakan kontradiksi.
Andaikan (b) dan (I) berlaku dan P(n) salah untuk suatu n ∈ N.
Misalkan, S = { n ∈ N/ P(n) salah}.
Maka S tidak kosong dan menurut aksioma (Well-Ordering Property of N)
dijamin ada elemen m ∈ S sehingga merupakan elemen terkecil S. Karena P(1)
benar dengan hipotesis (b) maka 1 ∉ S, berarti m > 1. Sehingga m-1 adalah
bilangan asli, dan karena m elemen terkecil di S maka m-1 ∉ S. Tetapi, karena m-
1 ∉ S haruslah P(m-1) benar. Sekarang di substitusikan ke hipotesis (i) dengan k =
m-1 maka P(k+1)=P(m) benar. Akibatnya m ∉ S, kontradiksi dengan m sebagai
elemen terkecil S.

Contoh 10: Buktikan bahwa 1+2+3+ … +n = ½n(n+1) untuk setiap bilangan asli
N.
Bukti :

P(n) ≡ 1+ 2+3+ … +n = ½ n(n+1)


(b) P(1) ≡ 1 = ½ 1(1+1) berlaku.
(i) misalkan untuk setiap k ∈ N, P(k) benar, berarti
1+ 2+3+ … +k = ½ k(k+1) maka
akan ditunjukkan bahwa P(k+1) benar,
[1 + 2 + 3 + … + k ]+ (k+1) = ½ k(k+1) + (k+1)

13
= ½ [k(k+1) + 2 (k+1)]
= ½ (k+1) (k+2)
= ½ (k+1)[(k+1)+1]
Jadi P(k+1) benar bilamana P(k) benar, sehingga hipotesis (i) berlaku dan menurut
prinsip induksi P(n) benar untuk setiap n∈N.

Contoh 11: Buktikan bahwa 7n – 4n habis dibagi 3 untuk setiap n ∈ N.

Bukti:
P(n) ≡ 7n – 4n habis dibagi 3
(b) P(1) ≡ 71 – 41 = 3 habis dibagi 3, benar.
(i) jika untuk setiap k ∈ N, 7k – 4k habis dibagi 3 benar maka akan ditunjukkan
bahwa 7k+1 – 4k+1 habis dibagi 3 juga benar.
7k+1 – 4k+1 = 7k+1 + 7.4k – 7.4k – 4k+1
= 7( 7k – 4k) + 3. 4k
= 7 ( 3m) + 3. 4k
= 3 ( 7m + 4k)
Jadi 7k+1 – 4k+1 habis dibagi 3.

Teorema 2: Misalkan m ∈ N dan P(n) adalah fungsi pernyataan untuk setiap n ≥


m.
Maka P(n) benar untuk setiap n ≥ m, jika dipenuhi:
(b) P(m) benar dan,
(i) untuk setiap k ≥ m, jika P(k) benar maka P(k+1) benar.
Bukti:
Untuk setiap r ∈ N, misalkan Q(r) merupakan pernyataan “P(r+m-1) benar”.
Maka
dengan hipotesis (b) teorema 1 Q(1) berlaku, sedangkan untuk j ∈ N, misalkan
Q(j) berlaku, yang berarti P(j+m-1) benar.
Karena j ∈ N maka j+m-1 = m + (j-1) ≥ m, menurut hipotesis (i) P(j+m) harus
benar. Jadi Q(j+1) berlaku. Sehingga Q(r) berlaku untuk setiap r ∈ N.
Jika n ≥ m misalkan r = n-m+1 maka r ∈ N. Karena Q(r) berlaku, P(r+m-1) adalah
benar. Tetapi P(r+m-1) = P(n) adalah benar untuk setiap n ≥ m.

Contoh 12: Buktikan bahwa n! > 2n untuk setiap n ≥ 4.


Bukti:
(b) jika n = 4, maka 4! = 24 > 24 = 16 benar.
(i) misalkan untuk k ≥ 4, k! > 2k maka akan ditunjukkan bahwa (k+1)! > 2k+1.
(k+1)! = (k+1)k!
> 2k! > 2. 2k > 2k+1.
Jadi n! > 2n untuk setiap n ≥ 4

Teorema 3: (principle of strong mathematical induction) Misalkan P(n) adalah


suatu fungsi pernyataan pada bilangan asli N. Maka P(n) adalah benar
untuk setiap n∈N jika dipenuhi:
(b) P(1) benar dan,
(i) untuk setiap k ∈ N, jika P(k) benar untuk setiap bilangan asli j

14
sedemikian hingga 1 ≤ j ≤ k maka P(k+1) benar.
Bukti:
Misalkan P(n) memenuhi hipotesis dari induksi matematika kuat. Misalkan Q(n)
merupakan pernyataan “P(j) benar” Untuk setiap 1 ≤ j ≤ k. Maka dengan
menggunakan teorema 1 (b) Q(1) berlaku. Sedangkan menurut (i) untuk k ∈ N,
misalkan Q(k) benar, yang berarti P(k) benar maka Q(k+1) benar yang berarti
P(k+1) benar. Sehingga untuk setiap n ∈ N, Q(n) benar, yang mengimplikasikan
P(n) benar untuk setiap n ∈ N.
Contoh 13: (Fn ) adalah barisan fibonacci jika
1 untuk n=1
Fn = 1 untuk n= 2
Fn-1 + Fn-2 untuk n ≥ 3
Atau 1, 1, 2, 3, 5, 8, …
(Ln) adalah barisan Lucas jika
a untuk n=1
Ln = b untuk n= 2
Ln-1 + Ln-2 untuk n ≥ 3
Atau, a, b, b+a, 2b+a, 3b+2a, …

B. Pembuktian Tidak Langsung


Adakalanya untuk membuktikan suatu pernyataan matematis, pembuktian
langsung terasa sulit. Jika hal ini terjadi, maka kita bisa gunakan cara lain yakni
pembuktian secara tidak langsung. Pembuktian tidak langsung adalah pembuktian
suatu kalimat atau sifat matematika dengan mengubah susunan kalimat tersebut.
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pembuktian tidak langsung dengan
kontraposisi. Kita tahu bahwa pernyataan implikasi p  q akan ekuivalen dengan
kontraposisinya
yakni q  p , atau bisa kita tulis p  q  q  p . Konsep inilah yang menjadi
dasar untuk pembuktian tidak langsung dengan kontraposisi.
Disini kita berawal dengan mengasumsikan q benar, maka harus
dibuktikan bahwa p benar. Jika pernyataan kontraposisinya benar, maka
pernyataan semula juga pasti benar.

Contoh :
a). Buktikan bahwa jika 3n  2 bilangan ganjil, maka n bilangan ganjil.
Pembahasan :
Kita akan membuktikan pernyataan implikasi p  q dengan :
p : 3n  2 bilangan ganjil
q : n bilangan ganjil
Sepintas, pembuktian ini terasa sulit jika dibuktikan secara langsung. Maka kita
ubah pernyataan ini menjadi kontraposisinya, yaitu, “ Jika n bilangan g enap,
maka

15
3n  2 bilangan genap”.
q : n bilangan genap
p : 3n  2 bilangan genap
Mula−mula kita misalkan q benar, yakni n bilangan genap, akan dibuktikan
bahwa p benar, yakni 3n  2 bilangan genap.
Karena n bilangan genap, maka bisa kita tuliskan sebagai n  2k , untuk semua
k bilangan bulat. Selanjutnya kita perhatikan :
3n  2  3 2k   2  6k  2  2 3k  1 . Misalkan m  3k  1 , sehingga 3n  2  2m
Jadi 3n  2 merupakan bilangan genap. Jadi telah terbukti bahwa kontraposisi
pernyataan ini benar, sehingga pernyataan semula juga terbukti benar.

b). Buktikan bahwa jika n 3 bilangan irasional, maka n bilangan irasional.


Pembahasan :
Kontraposisi dari pernyataan tersebut adalah “ Jika n bilangan rasional, maka
n3
bilangan rasional.”
Misalkan benar bahwa n bilangan rasional, selanjutnya akan kita buktikan bahwa
n 3 bilangan rasional.
p
Karena n bilangan rasional, maka kita bisa tulis n  q , dengan p dan q bilangan

3
 p p3
bulat dan q  0. Selanjutnya kita perhatikan: n     3
3
. Kita misalkan
q q

s
s  p 3 dan t  q 3 , sehingga : n 
3
, dimana s dan t bilangan bulat dan t0
t
Jadi n 3 merupakan bilangan rasional. Jadi terbukti bahwa kontraposisi dari
pernyataan tersebut benar sehingga pernyataan semula juga terbukti benar.
1). Pembuktian Tidak Langsung Dengan Kontradiksi
Suatu pernyataan pasti memiliki nilai kebenaran yang berlawanan dengan
nilai kebenaran ingkarannya. Pembuktian tidak langsung dengan kontradiksi
dimulai dengan membuktikan bahwa ingkaran dari pernyataan implikasi tersebut
salah.
Dengan terbuktinya bahwa ingkaran tersebut salah, maka pernyataan
implikasi tersebut pasti benar. Kesalahan yang diperoleh tersebut ditunjukkan oleh
suatu kontradiksi. Suatu kontradiksi terjadi jika ada suatu atau lebih pernyataan
yang bertentangan. Kita bisa tuliskan sebagai :
 p  q   p  q
Dalam proses ini, kita berangkat dengan mengasumsikan p  q . Dari
sini kita harus menemukan r  q , yaitu pernyataan yang selalu salah
(kontradiksi). Maka p  q salah, dan sebaliknya p  q pastilah benar.
Contoh :

16
a). Buktikan bahwa jika 5n  4 bilangan bulat ganjil maka n bilangan bulat
ganjil.
Pembahasan :
Kita akan membuktikan pernyataan implikasi p  q , dengan :
bilangan bulat ganjil
p : 5n  4
q : n bilangan bulat ganjil
kita berawal dengan mengasumsikan ingkarannya benar, yaitu bahwa “ 5n  4
bilangan bulat ganjil dan n bilangan bulat genap”
karena n bilangan genap, kita dapat tuliskan n  2k , dengan k bilangan
bulat.
Akibatnya 5n  4  5 2k   4  10k  4  2 5k  2  .
Misalkan m  5k  2 , maka 5k  4  2m , yang merupakan bilangan bulat genap.
Kontradiksi dengan asumsi bahwa 5n  4 bilangan bulat ganjil.
Jadi asumsi salah. Maka pernyataan semula pastilah benar.
Jadi terbukti bahwa Buktikan bahwa jika 5n  4 bilangan bulat ganjil maka n
bilangan bulat ganjil.
 Bukti dengan kontraposisi
Pembuktian dengan kontraposisi ini, dilandasi bahwa suatu pernyataan
konditional ekuivalensi logis dengan kontraposisinya. Kita telah
membuktikan pada babs ebelumnya bahwa q  p  p  q, sehingga
argument dengan kontraposisi juga merupakan argument yang valid.
Premis 1  q  p
Konklusi  p  q

Contoh 14: Buktikan teorema“ Jika a  b  10 maka a  5 atau b  5 ”


Bukti :
Teorema di atas berbentuk p  q dengan
p  a  b  10 dan
q  a  5 atau b  5
Sedangkan p  a  b  10 dan q  a  5 dan b  5
Sehingga jika a  5 dan b  5 maka a  b  5  5  10
Jadi jika q benar maka terbukti p juga benar

Contoh 15 buktikan bahwa“ jika n bilangan bulat dan n 2 ganjil maka n ganjil”
Bukti :
Akan dibuktikan dengan kontraposisi, sehingga yang harus dibuktikan“ jika n
bilngan bulat dan n genap maka n 2 genap “
Misalkan n bilangan bulat genap.
Berarti n  2 p , untuk suatu p bilangan bulat
n 2   2 p   4 p 2  2 2 p 2 
2

17
Sehingga n 2 genap.

Contoh16 :buktikan teorema “jika 7m adalah ganjil maka m adalah ganjil”


Jawab :
Untuk membuktikan teorema di atas dengan bukti langsung nampaknya akan
kesulitan. Sekarang akan dibuktikan dengan menggunakan bukti kontraposisi.
Kontraposisi dari teorema di atas adalah “jika m tidak ganjil maka 7m tidak
ganjil”. Hipotesis “m tidak ganjil” yang berarti “m adalah genap”
m  2k untuk suatu k  B
7 m  7 2k 
7 m  2 7 k  , karena k  B,7k bilangan bulat
Konklusi : “7m adalah bilangan genap” Karena kontraposisi dari teorema di
atas benar, sehingga menyebabkan teorema tersebut benar.

1. Bukti dengan kontradiksi


Model pembuktian ini agak lain dari model pembuktian yang ada, tetapi
sering digunakan dalam membuktikan teorema dalam matematika analisis.
Terdapat dua bentuk bukti dengan kontradiksi.Pertama untuk membuktikan
bahwa pernyataan p benar, ditunjukan bahwa p suatu pernyataan yang salah
atau kontradiksi. untuk membuktikan teorema p  q, dengan
Kedua,
mengasumsikan bahwa p dan q bernilai benar dan mendeduksikan
pernyataan C yang bernilai salah. Karena p  q  c bernilai benar dan C
bernilai salah maka dapat disimpulkan bahwa p  q dalam kalimat
konditional ini bernilai salah.Sehingga  p  q   p  q bernilai benar.
Secara simbolik argumen di atas dapat ditulis sebagai: Bentuk Pertama,
Premis 1  p  c
Konklusi  p
Bukti :

P P C P  C P  C  P
B S S B B
S B S S B
1 2 3 4 5

Dari kolom 5, diperoleh bahwa argumen di atas adalah valid.

Contoh 17: Buktikan bahwa “Widodolahir di Kediri” benar, maka cukup


ditunjukkan bahwa ”Widodotidaklahir di Kediri” adalah salah.

Bentuk kedua,

18
Premis 1  p  q  c
Konklusi  p  q

Bukti :

Jelasbahwakolom (6) dan (7) ekuivalen, akibatnya (8) tautologi.

1
Contoh 18: Teorema “Misalkan x bilangan real. Jika x  0 maka  0"
x
Bukti :
Secara simbolik bentuk di atas : p  q dengan ,
px0
1
q 0
x
Menurut argumen bentuk kedua, p  qc  p  q.
1
Sehingga dimulai dengan memisalkan x  0 dan  0,
x
Karena, x > 0 maka dapat dikalikan dengan kedua ruas pertidaksamaan,
 x   1    x  0  1  0, kontradiksi dengan kenyataan bahwa 1 > 0.
 x
1
Jadi benar bahwa “Jika x > 0 maka  0,
x

19
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Bukti langsung adalah salah satu cara pembuktian sifat atau teorema
matematika dengan penarikan kesimpulan dengan memanfaatkan silogisme,
modus ponens dan modus tollens. Secara logika pembuktian q benar secara
langsung atau ekuivalen dengan membuktikan bahwa pernyataan q benar dimana
diketahui p benar. Metode pembuktian langsung adalah suatu proses pembuktian
pembuktian menggunakan alur maju, mulai dari hipotesis dengan menggunakan
implikasi logic sampai pada pernyataan kesimpulan. Hukum-hukum dalam
matematika pada umumnya berupa proposisi atau pernyataan berbentuk implikasi
( p  q ) atau biimplikasi ( p  q ) atau pernyataan kuantifikasi yang dapat

diubah bentuknya menjadi pernyataan implikasi. Misal kita punya teorema


( p  q ) , dengan p disini sebagai hipotesis yang digunakan sebagai fakta yang

diketahui atau sebagai asumsi. Selanjutnya, dengan menggunakan p kita harus


menunjukkan bahwa berlaku q .
Pembuktian tidak langsung adalah pembuktian suatu kalimat atau sifat
matematika dengan mengubah susunan kalimat tersebut. Pada bagian ini akan
dijelaskan mengenai pembuktian tidak langsung dengan kontraposisi. Kita tahu
bahwa pernyataan implikasi p  q akan ekuivalen dengan kontraposisinya yakni
q  p , atau bisa kita tulis p  q  q  p . Konsep inilah yang menjadi dasar
untuk pembuktian tidak langsung dengan kontraposisi.
Disini kita berawal dengan mengasumsikan q benar, maka harus
dibuktikan bahwa p benar. Jika pernyataan kontraposisinya benar, maka
pernyataan semula juga pasti benar.

DAFTAR PUSTAKA

20
[1] “METODE PEMBUKTIAN DALAM MATEMATIKA/11698482/,” [Online].
Available: https://www.academia.edu.

[2] “Metode Metode Pembuktian Matematika/18108359/,” [Online]. Available:


https://www.academia.edu.

[3] “Pembuktian Langsung,” 14 11 2012. [Online]. Available:


https://aimprof08.wordpress.com.

21