Anda di halaman 1dari 3

AKAD SALAM

AKAD SALAM DAN BEDANYA DENGAN KONVENSIONAL

Akad Salam/Jual Beli Salam adalah jual beli yang penerimaan barangnya
ditangguhkan dengan pembayaran harga tunai. Penjualan yang karakteristik tanggungannya
(barang) telah terdiskripsikan diawal dengan harga atau modal kerja dibayarkan didepan.
Dengan kata lain, untuk membayarkan harga didepan dan pengiriman barang terspesifikasi
untuk masa yang akan datang yang telah ditentukan.

Perbedaan dengan bank konvensional adalah pada saat memberikan modal terlebih
dahulu dan pendapatannya diperoleh jika barangnya sudah ada atau diserahkan, dan tidak ada
unsur gharar.

SKEMA DASAR AKAD SALAM

Penjelasan pada skema di atas secara sederhana adalah adanya dua pihak yang akan
bertransaksi yaitu penjual dan pembeli. Sebut saja penjual sebagai A dan pembeli sebagai B.
Si B akan membeli produk berupa traktor. Karena traktor tersebut tidak bisa disediakan
secara langsung saat itu maka si B melakukan akad salam kepada si A. Si B menjelaskan
secara spesifik traktor yang ia inginkan. Setelah sepakat, traktor tersebut dibuat dan pada
waktu yang telah ditentukan untuk diselesaikan maka traktor tersebut dikirimkan kepada si A.

JENIS AKAD SALAM

1. Salam dapat didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli dimana barang yang
diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan, dan pembeli melakukan
pembayaran dimuka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan di kemudian hari.
2. Salam paralel, artinya melaksanakan dua transaksi salam yaitu antara pemesanan
pembeli dan penjual serta antara penjual dengan pemasok (supplier) atau pihak ketiga
lainnya. Hal ini terjadi ketika penjual tidak memilikibarang pesanan dan memesan
kepada pihak lainuntuk menyediakan barang pesanan tersebut. Salam parallel
dibolehkan asalkan akad salam kedua tidak tergantung pada akad yang pertama yaitu
akad antara penjual dan pemasok tidak tergantung pada akad antar pembeli dan
penjual, jika saling tergantung atau menjadi syarat tidak diperbolehkan.

Beberapa ulama kontemporer tidak membolehkan transasksi salam parallel terutama


jika perdagangan dan transaksi semacam itu dilakukan secara terus-menerus, karena dapat
menjurus kepada riba.

KARAKTERISTIK AKAD SALAM:

Dalam PSAK 103 tentang Akuntansi Salam dijelaskan karakteristik salam sebagai
berikut :

1 Bank syariah dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu transaksi
salam. Jika bank syariah bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak
lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam, maka hal ini disebut
salam paralel.
2 Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:
a. Akad antara bank syariah (sebagai pembeli) dan produsen (penjual) terpisah dari
akad antara bank syariah (sebagai penjual) dan pembeli akhir; dan
b. Kedua akad tidak saling bergantung(ta’alluq).
3 Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal
akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
Dalam hal bertindak sebagai pembeli, bank syariah dapat meminta jaminan kepada
penjual untuk menghindari risiko yang merugikan.
4 Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis,
spesifikasi teknis, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan harus sesuai dengan
karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang pesanan
yang dikirimkan salah atau cacat, maka penjual harus bertanggungjawab atas
kelalaiannnya.
5 Alat pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa kas, barang atau
manfaat. Pelunasan harus dilakukan pada saat akad disepakati dan tidak boleh dalam
bentuk pembebasan utang penjual atau penyerahan piutang pembeli dari pihak lain.
6 Transaksi salam dilakukan karena berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu
untuk memungkinkan penjual (produsen) memperoduksi barangnya, barang yang
dipesan memiliki spesifikasi khusus, atau pembeli ingin mendapatkan kepastian dari
penjual. Transaksi salam diselesaikan pada saat penjual menyerahkan barang kepada
pembeli.

AKUNTANSI PENJUAL DAN PEMBELI

 Akuntansi untuk Pembeli

Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada
penjual. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai piutang
salam.Denda yang diterima oleh pembeli diakui sebagai bagian dana kebajikan.
Pembeli dalam transaksi salam mengungkapkan:

a. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai secara
bersama-sama dengan pihak lain;
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

 Akuntansi untuk Penjual

Kewajiban salam diakui pada saat penjual menerima modal usaha salam sebesar
modal usaha salam yang diterima. Kewajiban salam dihentikan pengakuannya
(derecognation) pada saat penyerahan barang kepada pembeli. Penjual menyajikan modal
usaha salam yang diterima sebagai kewajiban salam.

Penjual dalam transaksi salam mengungkapkan:

a. Piutang salam kepada produsen (dalam salam paralel) yang memiliki hubungan
istimewa;
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN AKAD

 Penyajian
Pada akhir periode pelaporan keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi
salam diukur sebesar nilai terendah biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi.
Apabila nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya
diakui sebagai kerugian.

a. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai Piutang salam.
b. Piutang yang harus dilunasi oleh penjual karena tidak dapat memenuhi kewajibannya
dalam transaksi Salam disajikan secara terpisah dari Piutang salam.
c. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai Hutang Salam.

 Pengungkapan

Dalam catatan atas laporan keuangan, pembeli dan penjual dalam transaksi salam
mengungkapkan hal-hal berikut :

a. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai secara
bersama-sama dengan pihak lain;
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK N0. 101 tentang Penyajian Laporan
Keuangan Syari’ah.