Anda di halaman 1dari 6

Mirza Adliawan

165020307111061
Akuntansi Syariah CD

TUGAS RESUME RPS 4 & TUGAS BANK SYARIAH

RESUME RPS 4

KARAKTERISTIK DAN JENIS MURABAHAH

Murabahah adalah prinsip jual beli selain istisnha dan salam. Secara luas, jual beli
dapat diartikan sebagai pertukaran harta atas dasar saling rela. Menurut (sabiq,2008) jual beli
adalah memindahkan kepemilikan barang dengan ganti yang dapat dibenarkan, pertukaran
bisa berupa uang dan barang.
Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan
dengan jelas. Barang yang diperjualbelikan, termasuk harga pembelian kepada pembeli,
kemudian penjual mensyaratkan atas laba/keuntungan dalam jumlah tertentu.
Dalam murabahah barang yang diperjualbelikan harus ada pada saat akad, sedangkan
pembayaran dapat dilakukan secara tunai atau secara tangguh atau cicilan
Pernyataan PSAK nomor 102 tentang akuntasi murabahah menjelaskan karakteristik
Murabahah sebagai berikut:
a. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan.
b. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli
untuk membeli barang yang dipesannya.
c. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh
d. Akad murabahah memperkananlan penawaran harga yang berbeda untuk cara
pembayaran yang berbeda sebelum akad murabahah dilakukan.
e. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual, sedangkan biaya
perolehan harus diberitahukan
f. Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual, sedangkan biaya
perolehan harus diberitahukan.`
g. Diskon terkait dengan pembelian barang, antara lain, meliputi:
(a.) Diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian barang
(b.)Diskon biaya asuransi perusahaan asuransi dalam rangka pembelian barang
(c.) Komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan pembelian barang’
h. Diskon atas pembelian barang yang diterima setelah akad murabahah disepakati
diperlakukan sesuai dengan kesepakatan dalam akad tersebut.
i. Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara
lain, dalam bentuk barang yang telah dibeli dari penjual.
j. Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti komitmen
pembelian sebelum akad disepakati
k. Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai dengan yang
diperjanjikan, penjual berhak mengenakan denda kecuali jika dapat dibuktikan bahwa
pembeli tidak atau belum mampu melunasi disebabkan oleh force major.
l. Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang murabahah jika
pembeli:
(a) Melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu
(b) Melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan
m. Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang murabahah yang belum
dilunasi jika pembeli:
(a) Melakukan pembayaran cicilan tepat waktu
(b) Mengalami penurunan kemampuan untuk pembayaran
Dalam aplikasinya, pembiayaan murabahah dapat dibedakan menjadi duamacam, yaitu:

1. Murabahah tanpa pesanan


Murabahah tanpa pesanan maksudnya adalah penyediaan barang tidak terpengaruh atau
terkait terhadap pesanan atau pembeli.

2. Murabahah berdasarkan pesanan


Murabahah berdasarkan pesanan maksudnya bahwa bank syari’ah baru akan melakukan
transaksi murabahah apabila ada anggota yang memesan barang sehingga penyediaan barang
baru akan dilakukan jika ada pesanan. Pada murabahah ini, pengadaan barang sangat
tergantung atau terkait langsung dengan pesanan atau pembelian barang tersebut. Murabahah
berdasarkan pesanan ini dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu, berdasarkan pesanan dan
mengikat, dalam hal ini pihak anggota harus terikat oleh suatu perjanjian yaitu jika barangnya
sudah ada maka harus beli. Sedangkan murabahah berdasarkan pesanan tidak terikat
maksudnya adalah bahwa anggota boleh menolak atau mengembalikan pesanan yang sudah
diterima.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN AKUNTANSI MURABAHAH UNTUK


PENJUAL & PEMBELI

 Akuntansi untuk Penjual:

1. Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan.
2. Pengukuran aset murabahah setelah perolehan adalah sebagai berikut: (a) jika murabahah
pesanan mengikat: (i) dinilai sebesar biaya perolehan; dan (ii) jika terjadi penurunan nilai
aset karena usang, rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan ke nasabah, penurunan
nilai tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aset: (b) jika murabahah tanpa
pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat: (i) dinilai berdasarkan biaya perolehan
atau nilai bersih yang dapat direalisasi, mana yang lebih rendah; dan (ii) jika nilai bersih
yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, selisihnya diakui sebagai
kerugian.
3. Potongan pembelian aset murabahah diakui sebagai berikut: (a) jika terjadi sebelum akad
murabahah, sebagai pengurang biaya perolehan aset murabahah; (b) jika terjadi setelah
akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati, bagian yang menjadi hak nasabah: (i)
dikembalikan kepada nasabah jika nasabah masih berada dalam proses penyelesaian
kewajiban; atau (ii) kewajiban kepada nasabah jika nasabah telah menyelesaikan
kewajiban; (c) jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang menjadi bagian
hak lembaga keuangan syariah diakui sebagai tambahan keuntungan murabahah; (d) jika
terjadi setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan dalam akad diakui sebagai
pwndapatan operasi lain.
4. Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian potongan pembelian akan
tereliminasi pada saat: (a) dilakukan pembayaran kepada pembeli sebesar jumlah potongan
setelah dikurangi dengan biaya pengembalian; atau (b) dipindahkan sebagai dana
kebajikan jika pembeli sudah tidak dapat dijangkau oleh penjual.
5. Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aset
murabahah ditambah keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan,
piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang
dikurangi penyisihan kerugian piutang.
6. Keuntungan murabahah diakui: (a) pada saat terjadinya akad murabahah jika dilakukan
secara tunai atau secara tangguh sepanjang masa angsuran murabahah tidak melebihi satu
periode laporan keuangan; atau (b) selama periode akad secara proporsional, jika akad
melampaui satu periode laporan keuangan.
7. Jika menerapkan pengakuan keuntungan secara proporsional, maka jumlah keuntungan
yang diakui dalam setiap periode ditentukan dengan mengalikan persentase keuntungan
terhadap jumlah piutang yang jatuh tempo pada periode yang bersangkutan. Persentase
keuntungan dihitung dengan perbandingan antara margin dan biaya perolehan aset
murabahah. Alokasi keuntungan dengan menggunakan metode didasarkan pada konsep
nilai waktu dari uang (time value of money) tidak diperkenankan karena tidak
diakomodasikan dalam kerangka dasar.
8. Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada pembeli yang melunasi
tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati diakui dengan menggunakan salah
satu metode berikut: (a) jika diberikan pada saat penyelesaian maka penjual mengurangi
piutang murabahah dan keuntungan murabahah; atau (b) jika diberikan setelah
penyelesaian, penjual terlebih dahulu menerima pelunasan piutang murabahah dari
pembeli, kemudian penjual membayar potongan pelunasan kepada pembeli dengan
mengurangi keuntungan murabahah.
9. Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut: (a) jika disebabkan oleh pembeli
yang membayar secara tepat waktu diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah; (b)
jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran pembeli diakui sebagai beban.
10. Denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad,
dan denda yang diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan.
11. Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut: (a) uang muka diakui
sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima; (b) pada saat barang jadi
dibeli oleh pembeli, uang muka diakui sebagai pembayaran piutang; dan (c) jika barang
batal dibeli oleh pembeli, uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan
dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.
B. Akuntansi Pembeli Akhir:

 Akuntansi Pembeli Akhir memiliki ketentuan sebagai berikut:

1. Utang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui sebagai utang murabahah
sebesar harga beli yang disepakati (jumlah yang wajib dibayarkan).
2. Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya perolehan
murabahah tunai. Selisih antara harga beli yang disepakati dengan biaya perolehan tunai
diakui sebagai beban murabahah tangguhan.
3. Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional dengan porsi utang
murabahah.
4. Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah, potongan pelunasan dan
potongan utang murabahah sebagai pengurang beban murabahah tangguhan.
5. Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan kewajiban sesuai dengan akad
diakui sebagai kerugian.
6. Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang diakui sebagai kerugian.
PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN MURABAHAH

 Penyajian dan Pengungkapan Murabahah untuk Penjual

1. Penyajian
Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan: saldo
piutang murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang. Margin murabahah
tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra account) piutang murabahah
2. Pengungkapan
Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah, tetapi tidak
terbatas pada:
a. Harga perolehan asset murabahah
b. Janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan sebagai kewajiban
atau bukan; dan
c. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian
Laporan Keuangan Syariah

 Penyajian dan Pengungkapan Murabahah untuk Penjual

1. Penyajian
Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai penguran (contra account) utang
murabahah.
2. Pengungkapan
Pembeli mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah, tetapi
tidak terbatas pada:
d. Nilai tunasi asset yang diperoleh dari transaksi murabahah
e. Jangka waktu murabahah Tangguh
f. Pengungkapan yang diperliukan sesuai Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan Nomor 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah
ACUAN ALTERNATIF AKUNTANSI MURABAHAH

Terdapat beberapa acuan yang dapat digunakan untuk akuntansi murabahah yaitu :

1. Fatwa DSN MUI No.84 tahun 2012 yang mengandung penjelasan mengenai
Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah
2. PSAK 102 (Revisi 2013) yang menyatakan bahwa penjual bisa memberikan
perlakuan yang tepat agar dapat menerapkan metode anuitas ketika melakukan
pengakuan pendapatan
3. PSAK 50 yang menjelaskan tentang Instrumen Keuangan
4. PSAK 55 yang berisi Instrumen Keuangan tentang Pengakuan dan Pengukuran
5. PSAK 60 yang mengandung penjelasan tentang Instrumen Keuangan yang
mengandudng penjelasan mengenai Penyajian dan Pengungkapan
Acuan-acuan pilihan yang tertera diatas bisa dijadikan penjual saat penjual tidak mempunyai
risiko yang berarti berhubungan dengan status hak milik persediaan guna transaksi
murabahah layaknya perubahan harga persediaan, risiko pembelian dibatalkan secara
sepihak, dll.

TUGAS TABUNGAN BANK SYARIAH (STUDI PADA BANK SYARIAH MANDIRI)

Saat ingin membuka tabungan di Bank Syariah, tentu nya ada beberapa hal yang
berbeda, karena terdapat akad – akad yang nanti nya akan menentukan jenis tabungan mana
yang akan kita pilih sesuai dengan akad yang kita inginkan.
Umumnya terdapat berbagai jenis akad dalam Bank Syariah, namun hanya 2 akad saja
yang pada umumnya banyak digunakan untuk menentukan jenis tabungan yang akan kita
buka, contoh nya Bank Syariah Mandiri. Bank Syariah Mandiri memiliki 2 akad yang
ditawarkan apabila kita ingin membuka tabungan, yaitu Akad Mudharabah dan Akad
Wadi’ah. Apa itu Akad Mudharabah dan Akad Wadi’ah?

AKAD MUDHARABAH

Akad Mudharabah merupakan Akad Kerjasama antar pihak pertama sebagai


pemilik dana (nasabah) dengan pihak kedua (Bank Syariah) yang berperan sebagai pengelola
dana dengan membagikan keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan
dalam Akad.
Ada dua jenis Akad Mudharabah di perbankan Syariah, yaitu:
1. Mudhrabah Mutlaqah, yaitu akad yang dilakukan antara pemilik modal dengan
pengeloladimana nisbah bagi hasil disepakati di awal, sedangkan kerugian ditanggung
oleh pemilik modal.
2. Mudharabah Muqayyadah, yaitu akad yang dilakukan antara pemilik modal dengan
pengelola, dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal untuk dibagi Bersama,
sedangkan kerugiannya ditanggun oleh pemilik modal. Dalam terminologi perbankan
Syariah ini lazim disebut Special Investment.
Akad ini umumnya digunakan untuk pembukaan rekening tabungan sehari-hari.
Deposito, giro, dan produk tabungan lainnya.

AKAD WADI’AH

Akad Wadi’ah disebut dengan Akad penitipan. Artinya akad yang digunakan dalam
transaksi penitipan dana atau barang dari pihak pertama dengan pihak kedua yang diberikan
kepercayaan untuk menyimpan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta
keutuhan barang atau uang. untuk wadi’ah nya sendiri, ada beberapa definisi yang
dikemukakan oleh ulama. Dua diantaranya menurut ulama fiqih
Pertama menurut ulama mahzab Hanafi wadiah adalah mengikut sertakan orang lain
dalam memelihara harta baik dengan ungkapan kelas maupun syarat. Kedua, menurut ulama
mahzaf Syafi’I dan Maliki yang mendefinisikan wadi’ah yaitu mewakilkan orang lain
memelihara harta tertentu dengan cara tertentu.
Dua jenis dari akad ini, yaitu:
1. Wadi’ah Yad-Dhamanah, yaitu perjanjian dimana si penerima titipan dapat
memanfaatkan barang yang dititipkan seizin pemiliknya dan menjamin untuk
mengembalikan titipan tersebut secara utuh kapanpun si pemiliknya menginginkan.
Contoh, salah satu tabungan di beberapa Bank Syariah
2. Wadi’ah Yad-Amanah, berbeda dengan Yad-Dhamanah, pada akad ini penerima
titipan tidak bertanggung jawab atas keilangan dan kerusakan yang terjadi pada
barang titipan, selama hal tersebut bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan
penerima titipan dalam memelihara barang yang dititipkan tersebut. Contohnya save
deposit box
Jadi, apabila kita ingin menabung di Bank Syariah dengan sistem rekening tabungan
harian dengan ketentuan uang kita di tabungan tersebut bisa ditarik kapan saja, maka
disarankan untuk menggunakan tabungan dengan akad Wadi’ah, dikarenakan kita hanya
menitip uang kita saja kepada Bank Syariah dan memberikan kuasa kepada Bank Syariah
untuk menjaga uang kita, kita juga harus membayar biaya penitipan atau adminsitrasinya.
Lalu, sebagai imbalan dari titipan uang kita yang dimanafaatkan oleh Bank Syariah, kita bisa
mendapatkan bonus sebagai bentuk imbal jasa, namun bonus nya ini tidak diperjanjikan di
depan tetapi tergantung daari kebijakan bank yang dikaitkan dengan pendapatan bank.

Lalu, apabila kita berniat untuk berinvestasi di Bank Syariah, maka bisa memilih pilihan
tabungan dengan akad Mudharabah, karena di pilihan inilah dimana kita menyetorkan uang
kita kepada Bank Syariah untuk diusahakan, dan jika terdapat hasil maka keuntungan akan
dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak (Nisbah), namun apabila
ada kerugian, kerugian ditanggung oleh kita sebagai pemilik modal.