Anda di halaman 1dari 4

DEMAM TIFOID

A/064/KMD/2012 Revisi 01 1 Page Of 4

Ditetapkan
Tanggal Terbit
PANDUAN PRAKTIK
KLINIK
dr. Hj. Umi Aliyah, M.Kes.
2018
Direktur
Pengertian Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
kuman gram negatif Salmonella typhi.
Anamnesis Keluhan dan gejala tidak khas, dan bervariasi dari gejala seperti flu
ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak
sistem organ.
Secara klinis gambaran penyakit demam tifoid berupa demam
berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan susunan saraf
pusat, yaitu :
1) Panas lebih dari 7 hari, biasanya mulai dengan sumer yang makin
hari makin meninggi sehingga pada minggu ke-2 panas tinggi
terus menerus terutama pada malam hari.
2) Gejala gastrointestinal dapat berupa obstipasi, diare, mual,
muntah, dan kembung.
 Gejala saraf sentral berupa delirium, apatis, somnolen, sopor,
bahkan sampai koma.
Pemeriksaan Fisik  Gejala klinis bervariasi dari yang ringan sampai berat
( komplikasi ).
 Lidah tifoid yaitu di bagian tengah kotor dan bagian pinggir
hiperemis.
 Meteorismus.
 Hepatomegali lebih sering dijumpai daripada splenomegali.
 Kesadaran menurun : delirium, apatis, somnolen, sopor,
bahkan sampai koma.
Kriteria Diagnosis - Anamnesis
- Pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan penunjang
Diagnosis Kerja Demam typhoid
Diagnosis Banding 1. Influenza
2. Bronkitis
3. Bronkopneumonia
4. Gastroenteritis
5. Tuberculosa
6. Malaria
7. Sepsis
8. ISK
9. Keganasan: Leukemia, Lymphoma
Pemeriksaan  Pemeriksaan Laboratorium :
Penunjang a) Darah Lengkap : leukopenia, anesonofilia.
DEMAM TIFOID

A/064/KMD/2012 Revisi 01 2 Page Of 4

b) Pemeriksaan serologi :
- Reaksi Widal (+) : liter > 1/200. Biasanya baru positif pada
minggu II, pada stadium rekonvalescen titer makin
meninggi.
- Kadar IgM dan IgG S. typhi.
c) Pemeriksaan biakan Salmonella : biakan darah terutama pada
minggu 1 – 2 dari perjalanan penyakit, biakan tinja minggu ke-
2, urin minggu ke-3, dan biakan sumsum tulang masih positif
sampai minggu ke-4.
 Pemeriksaan Radiologi :
a) Foto thoraks, apabila diduga terjadi komplikasi Pneumonia.
 Foto abdomen, apabila diduga terjadi komplikasi intraintestinal
seperti perforasi usus atau perdarahan saluran cerna.
Tata Laksana Terapi suportif :
 Tirah baring
 Kebutuhan cairan dan kalori dicukupi.
 Pertahankan oksigenasi jaringan, jika perlu berikan oksigen.
 Diet : makanan tidak berserat dan mudah dicerna, setelah demam
reda dapat segera diberikan makanan yang lebih padat dengan
kalori cukup.

Terapi medikamentosa :
 Antipiretik, diberikan apabila demam >39°C, kecuali pada pasien
dengan riwayat kejang demam dapat diberikan lebih awal.
 Obat-obat pilihan pertama adalah Chloramphenicol, Ampicilline /
Amoxycilline atau Cotrimoxazole. Obat pilihan kedua adalah
Cephalosporine generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah
Meropenem, Azithromycine, dan Fluoroquinolone.
- Chloramphenicole diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB/hari,
terbagi dalam 3 – 4 kali pemberian, oral atau intravena, selama
14 hari. Bilamana terdapat kontra pemberian
Chloramphenicole, diberikan :
- Ampicilline dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3 –
4 kali. Pemberian intravena saat belum dapat minum obat,
selama 21 hari, atau
- Amoxyciline dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3
– 4 kali. Pemberian oral / intravena selama 21 hari, atau
- Cotrimoxazole dengan dosis ( tmp ) 8 mg/kgBB/hari terbagi
dalam 2 kali. Pemberian oral, selama 14 hari.
 Pada kasus berat, dapat diberi Ceftriaxone dengan dosis 50
mg/kgBB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari,
sekali sehari, intravena, selama 5 – 7 hari.
 Pada kasus diduga mengalami MDR ( Multi Drug Resistance ), maka
pilihan antibiotik adalah Meropenem, Azithromycine dan
DEMAM TIFOID

A/064/KMD/2012 Revisi 01 3 Page Of 4

Fluoroquinolon.

Terapi penyulit :
 Pengobatan penyulit tergantung macamnya.
 Untuk kasus berat dengan manifestasi neurologik menonjol, diberi
Dexamethasone dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/kgBB,
intravena perlahan ( selama 30 menit ), kemudian disusul dengan
dosis 1 mg/kgBB dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali
pemberian.
 Tindakan bedah diperlukan pada penyulit perforasi usus.

Pemantauan :
 Evaluasi demam dengan memonitor suhu. Apabila pada hari ke-4 –
5 setelah pengobatan demam tidak reda, maka harus segera
kembali dievaluasi adakah komplikasi, sumber infeksi lain,
resistensi S. Typhi terhadap antibiotik, atau kemungkinan salah
menegakkan diagnosis.
 Pasien dapat dipulangkan apabila tidak demam selama 24 jam
tanpa antipiretik, nafsu makan membaik, klinis perbaikan, dan
tidak dijumpai komplikasi. Pengobatan dapat dilanjutkan di
rumah.
Penyulit 1. Intraintestinal: perforasi usus atau perdarahan saluran cerna :
suhu menurun, nyeri abdomen, muntah, nyeri tekan pada palpasi,
bising usus menurun sampai menghilang, defance musculaire
positif, dan pekak hati menghilang.
2. Ekstraintestinal:
 Tifoid ensefalopati
 Hepatitis tifosa
 Meningitis
 Pneumonia
 Syok septik
 Pielonefritis
 Endokarditis
 Osteomielitis, dan lain-lain.
Edukasi 1. Menjelaskan penyakitnya terutama penularan penyakit.
2. Penatalaksanaan penyakit.
3. Kemungkinan terjadinya komplikasi.
4. Menjelaskan prognosisnya.
Konsultasi  Dokter Spesialis Anak
 Dokter Spesialis yang lain tergantung komplikasi yang terjadi.
Prognosis Pada umumnya diharapkan baik jika tidak ada penyulit.
Tingkat Evidens
Tingkat Rekomendasi
DEMAM TIFOID

A/064/KMD/2012 Revisi 01 4 Page Of 4

Penelaah Kritis SMF Kesehatan Anak RS Muhammadiyah Lamongan


Indikator Medis
Kepustakaan  Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag / SMF Ilmu Kesehatan Anak,
Edisi III, Tahun 2008, RSU. dr.Soetomo Surabaya.
 Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jilid 1,
Tahun 2010.