Anda di halaman 1dari 7

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

RSUD. SYARIFAH AMBAMI RATO EBU


KABUPATEN BANGKALAN
2019
DIABETES MELLITUS (ICD 10: E8 - E13)

1. Pengertian (Definisi) Suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik


hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin, atau kedua-duanya.
2. Anamnesis Keluhan
a. Polifagia
b. Poliuri
c. Polidipsi
d. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya
Keluhan tidak khas DM :
a. Lemah
b. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas)
c. Gatal
d. Mata kabur
e. Disfungsi ereksi pada pria
f. Pruritus vulvae pada wanita
g. Luka yang sulit sembuh

Faktor resiko DM tipe 2 :


a. Berat badan lebih dan obese (IMT≥25 kg/m2)
b. Riwayat penyakit DM di keluarga
c. Hipertensi
d. Pernah didiagnosis penyakit jantung atau stroke
(kardiovaskuler)
e. Kolesterol HDL <35mg/dl dan / atau Trigliserida
>250mg/dl atau sedang dalam pengobatan
dyslipidemia
f. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL >4000gram atau
pernah didiagnosis DM gestational
g. Perempuan dengan riwayat PCOS
h. Riwayat GDPT /TGT
i. Aktivitas jasmani yang kurang
3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik Patognomonis
Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
Faktor Predisposisi
a. Usia >45 tahun
b. Diet tinggi kalori dan lemak
c. Aktivias fisik yang kurang
d. Hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg)
e. Riwayat Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau
glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
f. Penderita penyakit jantung coroner , tuberculosis ,
hipertiroidime
g. Dyslipidemia
4. Kriteria Diagnostik 1. Gejala klasik DM (polyuria , polydipsia, polifagia) +
glukosa plasa sewaktu ≥ 200mg/dl. Glukosa plasma
sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu
hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. ATAU
2. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa
≥126mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori
tambahan sedikitnya 8 jam ATAU
3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi glukosa
terganggu (TTGO) ≥200mg/dl . TTGO dilakukan dengan
standard WHO , menggunakan beban glukosa anhidrus
75gram yang dilarutkan dalam air. ATAU
4. HbA1c *
*) Penentuan diagnosis DM berdasarkan HbA1c ≥ 6,5% belum
dapat di gunakan secara nasional di Indonesia,mengingat
standarisasi pemeriksaan yang masih belum baik.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal
atau DM , maka dapat digolongkan kedalam kelompok TGT
atau GDPT tergantung dari hasil yang diperoleh.
Kriteria gangguan toleransi glukosa :
a. GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa
plasma puasa di dapatkan antara 100 – 125 mg/dl
b. TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar
glukosa plasma 140 – 199 mg/dl pada 2 jam sesudah
beban glukosa 75 gram
c. HbA1c 5,7 – 6,4% *
Klasifikasi DM :
a. DM tipe 1
1. DM pada usia muda <40 tahun
2. Insulin dependent akibat destruksi sel :
- Immune-mediated
- Idiopatik
b. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari yang predominan
resistensi insulin dengan defisiensi insulin relative –
dominan defek sekresi insulin disertai resistensi
insulin)
c. Tipe lain :
1. Defek genetic pada fungsi sel β
2. Defek genetic pada kerja insulin
3. Penyakit eksokrin pancreas
4. Endokrinopati
5. Akibat obat atau zat kimia tertentu, misalnya
vacor , pentamidine , nicotinic acid ,glukokortikoid ,
hormone tiroid , diazoxide , agonis adrenergic
,thiazid, phenytoin , interferon, protease
inhibitors ,clozapine.
6. Infeksi
7. Bentuk tidak lazim dari immune mediated DM
8. Sindrom genetic lain , yang kadang berhubungan
dengan DM
d. DM gestational
DM Gestational adalah suatu gangguan toleransi
karbohidrat (TGT ,GDPT , DM) yang terjadi atau
diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang
berlangsung.
Skrining
Dilakukan sejak kunjungan pertama untuk pemeriksaan
kehamilan.
Faktor resiko DMG meliputi :
a. Riwayat DMG sebelumnya atau TGT atau GDPT
b. Riwayat keluarga dengan diabetes
c. Obesitas berat (>120% berat badan ideal)
d. Riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau
dengan berat badan lahir >4000gr
e. Abortus berulang
f. Riwayat PCOS
g. Riwayat Preeclampsia
h. Glukosuria
i. Infeksi saluran kemih berulang atau kandidiasis
Pada wanita hamil yang memiliki resiko tinggi DMG
perlu dilakukan tes DMG pada minggu ke 24 – 28
kehamilan

Komplikasi
a. Akut :
1. Ketoasidosis diabetic
2. Hiperosmolar non ketotik
3. Hipoglikemia
b. Kronik :
1. Makroangiopati
2. Pembuluh darah jantung
3. Pembuluh darah perifer
4. Pembuluh darah otak
c. Mikroangiopati
1. Pembuluh darah kapiler retina
2. Pembuluh darah kapiler renal
d. Neuropati
e. Gabungan
1. Kardiomiopati
2. Rentan infeksi
3. Kaki diabetic
4. Disfungsi ereksi
5. Indikasi Rawat Inap
6. Diagnosis Kerja  DM tipe 1
 DM tipe 2
 DM gestational
 DM Tipe lain
 DM Gestasional
7. Diagnosis Banding Diabetes Insipidus pada ibu hamil
8. Pemeriksaan 1. Gula darah puasa
Penunjang 2. Gula darah 2 jam Post Prandial
3. HbA1c
9. Tata Laksana (Terapi) Pengobatan pada DM disesuaikan dengan kelainan dasar
yang terjadi, seperti :
 Resistensi insulin pada jaringan lemak , otot, dan hati
 Kenaikan produksi glukosa oleh hati
 Kekurangan sekresi insulin oleh pancreas
OHO
a. Sulfonilurea
Obat golongan sulfoniurea bekerja dengan cara :
- Menstimulasi penglepasan insulin yang
tersimpan
- Menurunkan ambang sekresi insulin
- Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat
rangsangan glukosa.
Obat ini biasa diberikan pada pasien dengan berat
badan normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang
beratnya sedikit lebih.
Klorpropamid kurang dianjurkan pada keadaan
insufisiensi renal dan orang tua karena resiko
hipoglikemia yang berkepanjangan, demikian juga
glibenklamid. Untuk orang tua dianjurkan preparat
dengan waktu kerja pendek (tolbutamid , glikuidon).
Glikuidon juga diberikan pada pasien DM dengan
gangguan fungsi ginjal atau hati ringan.
b. Biguanid
Biguanid menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak
sampai dibawah normal. Preparat yang ada dan aman
adalah metformin. Metformin terdapat dalam
konsentrasi tinggi didalam usus dan hati, tidak
dimetabolisme tetapi secara cepat dikeluarkan melalui
ginjal. Karena cepatnya prose tersebut maka metformin biasa
diberikan 2 – 3 kali sehari kecuali dalam bentuk extended
release. Pengobatan dosis maksimal dapat menurunkan A1C
sebesar 1 – 2 %. Efek samping yang dapat terjadi adalah
asidosis laktat, dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal (kreatinin > 1,3 mg/dL pada
perempuan dan > 1,5 mg/dL pada laki-laki) atau pada gangguan
fungsi hati dan gagal jantung serta harus diberikan dengan hati –
hati pada orang lanjut usia.Obat ini dianjurkan untuk pasien
gemuk (IMT >30) sebagai obat tunggal. Pada pasien dengan
berat lebih (IMT 27 – 30) dapat dikombinasi dengan obat
golongan sulfonylurea karena mempunyai cara kerja sinergis
sehingga kombinasi ini dapat menurunkan glukosa darah lebih
banyak daripada pengobatan tunggal masing - masing.
c. Inhibitor α glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim α
glukosidase di dalam saluran cerna, sehingga menurunkan
penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia
pascaprandial.
d. Insulin sensitizing agent
Thiazolidinediones adalah golongan obat baru yang mempunyai
efek farmakologi meningkatkan sensitivitas insulin , sehingga bisa
mengatasi masalah resistensi insulin dan berbagai masalah
akibat resisteni insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.

Cara pemberian OHO , terdiri dari :


a. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikan
sampai dosis optimal
b. Sulfonylurea : 15 – 30 menit sebelum makan
c. Repaglinid , Nateglinid : sesaat sebelum makan
d. Metformin : sebelum / pada saat / sesudah makan
e. Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama makan
suapan pertama
f. Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan
g. DPP – IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan
atau sebelum makan.

Insulin
Indikasi penggunaan insulin pada NIDDM adalah :
 DM dengan berat badan menurun cepat / kurus
 Ketoasidosis , asidosis laktat , dan koma hyperosmolar
 DM yang mengalami stress berat (infeksi sistemik,
operasi berat , dan lain lain)
 DM dengan kehamilan / DM gestational yang tidak
terkendali dengan perencanaan makan
 DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat
hipoglikemik oral dosis maksimal atau ada
kontraindikasi dengan obat tersebut.
Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah ,
lalu dinaikkan perlahan seuai dengan hasil glukosa darah pasien.
Jika pasien sudah diberikan sulfonylurea atau metformin sampai
dosis maksimal namun kadar glukosa darah belum mencapai
sasaran, dianjurkan penggunaan kombinasi sulfonylurea dan
insulin.
10. Edukasi (Hospital Edukasi meliputi pemahaman tentang :
Health Promotion) a. Penyakit DM
b. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan
DM
c. Penyulit DM
d. Intervensi farmakologis
e. Hipoglikemia
f. Masalah khusus yang dihadapi
g. Cara mengembangkan sistem pendukung dan
mengajarkan ketrampilan
h. Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan
i. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol teratur
setiap 2minggu / 1 bulan
Perencanaan makan
Standar yang dianjurkan adalah makan dengan komposisi :
a. Karbohidrat 45 – 65%
Rekomendasi pemberian karbohidrat :
1. Kandungan total kalori pada makanan yang
mengandung karbohidrat lebih ditentukan oleh
jumlahnya dibandingkan dengan jenis karbohidrat
itu sendiri.
2. Dari total kebutuhan kalori per hari , 60 – 70 %
diantaranya berasal dari sumber karbohidrat
3. Jika ditambah MUFA (monounsaturated fatty acids)
sebagai sumber energy, maka jumlah KH maksimal
70% dari total kebutuhan kalori per hari.
4. Jumlah serat 25 – 50 gram per hari
5. Jumlah sucrose sebagai sumber energy tidak perlu
dibatasi, namun jangan sampai lebih dari total
kalori per hari
6. Sebagai pemanis dapat digunakan pemanis non
kalori seperti sakarin, aspartame, acesulfam dan
sukralosa
7. Penggunaan alcohol harus dibatasi tidak boleh lebih
dari 10 gram/hari
8. Fruktosa tidak bole lebih dari 60 gram/ hari
9. Makanan yang banyak mengandung fruktosa
tidakperlu dibatasi
b. Protein 15 – 20%
Rekomendasi pemberian protein :
1. Kebutuhan protein 15 – 20 % dari total kebutuhan
energy per hari
2. Pada keadaan kadar glukosa darah yang terkontrol,
asupan protein tidak akan mempengaruhi
konsentrasi glukosa darah
3. Pada keadaan kadar glukosa darah tidak terkontrol,
pemberian protein sekitar 0,8 -1,0 mg/kg berat
badan / hari
4. Pada gangguan fungsi ginjal, jumlah asupan protein
diturunkan sampai0,85 gram/kg berat badan /hari
dan tidak kurang dari 40 gram
5. Jika terdapat komplikasi kardiovaskular, maka
sumber protein nabati lebih dianjurkan dari protein
hewani.
Protein mengandung energi sebesar 4 kilokalori/gram.
c. Lemak 20 – 25%
Lemak mempunyai kandungan energy sebesar 9
kilokalori per gramnya.
Rekomendasi pemberian lemak :
1. Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak
jenuh, jumlah maksimal 10% dari total kebutuhan
kalori per hari.
2. Jika kadar kolesterol LDL ≥ 100 mg/dl , asupan
lemak jenuh diturunkan sampai maksimal 7% dari
total kalori perhari
3. Konsumsi kolesterol maksimal 300mg/hari , jika
kadar kolesterol LDL ≥100mg/dl , maka maksimal
kolesterol yang dapat di konsumsi 200 mg/hari
4. Batasi asupan asam lemak bentuk trans
5. Konsumsi ikan seminggu 2 – 3 kali untuk mencukupi
kebutuhan asam lemak tidak jenuh rantai panjang
6. Asupan lemak tidak jenuh rantai panjang maksimal
10 % dari asupan kalori per hari
11. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam/ malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam/ malam
12. Tingkat Evidens IV
13. Tingkat C
Rekomendasi
14. Indikator Medis Kondisi Pasien Membaik
15. Kepustakaan 1. PERKENI. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia. 2002.
2. PERKENI. Petunjuk Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2.
2002.
3. The Expert Committee on The Diagnosis and Clasification of
Diabetes
Mellitus.Report of The Expert Committee on The Diagnosis and
Classification of
Diabetes Mellitus.Diabetes Care, Jan 2003;26(Suppl. 1):S5 – 20.
4. Suyono S. Type 2 Diabetes Mellitus is a ß- cell Dysfunction.
Prosiding Jakarta
Diabetes Meeting 2002: The Recent Management in Diabetes
and Its
Complication : From Molecular to Clinic Jakarta, 2-3 Nov 2002
Simposium
Current Treatment in Internal Medicine 2000. Jakarta, 11- 12
november 2000:
185- 99.
7
Dibuat Oleh: Ditetapkan:
KSM XXXXX Bangkalan, 1 Juni 2019

Direktur RSUD Syamrabu

RSUD Syarifah Ambami


Rato Ebu Kabupaten
Bangkalan
dr. H. Andri Eko Purnomo, Sp.P
Pembina TK.I
NIP. 19740831 200604 1 008