Anda di halaman 1dari 5

Cytomegalovirus (CMV) adalah strain dari virus herpes simpleks (HSV).

CMV jarang menyebabkan


masalah serius pada orang dewasa, kecuali pada orang dengan sistem kekebalan ditekan atau terganggu
yaitu para penderita HIV/AIDS, mereka yang menerima kemoterapi atau obat penekan imunitas untuk
transplantasi organ. Bayi, yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang, juga lebih berisiko
mengalami masalah serius.

Nama Lain : CMV, sitomegalovirus.

Etiologi

CMV, sebuat virus dari golongan β-herpesvirus, memiliki dobel-strain DNA, empat spesies dari mRNA,
memiliki kapsid protein, dan memiliki kapsul lipoprotein. Seperti jenis herpes-virus lainnya, CMV
menunjukkan bentuk ikosahedral, bereplikasi di nukleus sel, dan dapat menyebabkan baik infeksi litik
maupun non-litik (berupa produktif ataupun laten). CMV dapat dibedakan dengan jenis herpesvirus
lainnya dengan properti biologis khusus, seperti kisaran host yang akan dijadikan inang dan tipe
sitopatologi yang dimiliki. Replikasi virus diasosiasikan dengan produksi badan inklusi intranuklear yang
besar dan badan inklusi sitoplasmik yang lebih kecil.1

CMV merupakan jenis sel yang sangat spesifik terhadap spesies tertentu dan sangat spesifik terhadap
jenis sel tertentu. Pada manusia, jenis virus CMV yang dapat menginfeksi yaitu human cytomegalovirus
(HCMV). Capat bereplikasi pada berbagai jenis sel in vivo , sedangkan pada kultur jaringan, virus tersebut
hanya dapat tumbuh pada fibroblas. Meskipun terdapat sedikit bukti bahwa CMV bersifat onkogenik
secara in vivo , namun kejadian transformasi pada fibroblas sangat jarang terjadi.1,3

Human cytomegalovirus (HCMV) merupakan virus terbesar yang menginfeksi manusia. Genom yang
dimilikinya dapat mengkode hingga 230 protein, dan banyak diantaranya yang berperan penting
terhadap down-regulation bagi respon imun. Salah satu protein yang terpenting yaitu protein yang dapat
mencegah penempelan molekul human leukocyte antigen-1 (HLA-1) pada permukaan sel yang terinfeksi.
Oleh karena itu HLA-1 dan CMV tidak dapat membentuk kompleks di permukaan sel untuk memicu
pengenalan dan destruksi dari sel T CD8+, yang pada akhirnya akan bisa menjadikan genom CMV terus
berada di dalam sel yang teinfeksi dan mencegah terjadinya destruksi oleh sistem imun.

Dalam kehamilan sangat rawan untuk terjadi suatu infeksi. Infeksi yang dapat terjadi selama kehamilan
dapat terdiri dari berbagai macam infeksi. Salah satu infeksi yang dapat terjadi pada ibu hamil ialah
infeksi TORCH ( toxoplasma, rubella, CMV, herpes simpleks). Pada ibu hamil yang mengalami hal
tersebut, maka sebaiknya perlu dilakukan pemeriksaan. biasanya jika ibu hamil terinfeksi rubella atau
cmv maka biasanya infeksi tersebut akan menyebabkan janin terinfeksi juga.

gejala yang anda alami, seperti batuk pilek dan panas dapat disebabkan karena berbagai macam
penyebab. Infeksi CMV dan rubella sama sama menunjukkan gejala demam. Biasanya gejala CMV dapat
menyebabkan seseorang menjadi kejang, gangguan pendengaran, dll. Sedangkan pada rubella dapat
terjadi demam disertai dengan munculnya ruam ruam kecil.

Biasaya jika anda sebelumnya positif terinfeksi CMV dan rubella, maka di tubuh anda biasanya masih
terdapat antibodi terhadap kuman tersebut. Biasnaya jika sebelumnya anda positif terinfeksi CMV dan
rubella, maka biasanya dokter spesialis kandungan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mungkin
nanti akan dilakukan pemeriksaan TORCH jika memang diperlukan.

disarankan agar anda segera memeriksakan diri secara langsung terlebih dahulu ke dokter spesialis
kandungan.

Dampak Cytomegalovirus Pada Kehamilan

Cytomegalovirus atau CMV dapat menyerang individu bahkan sebelum ibu mengalami kehamilan. Hal
yang dikhawatirkan adalah ibu tidak melakukan pemeriksaan sebelum merencanakan kehamilan. Salah
satu yang harus dipertimbangkan sebelum merencanakan kehamilan adalah dengan melakukan
pemeriksaan TORCH. Salah satunya untuk mengetahui infeksi Cytomegalovirus yang lebih banyak
menyerang wanita hamil ketimbang usia sekolah. ( Baca juga:

Tanda Kehamilan )

Sesuai pengertian yang telah dijelaskan diatas bahwa CMV dapat dikategorikan menjadi tiga jenis. Pada
ibu hamil yang terinfeksi Cytomegalovirus masuk dalam kategori CMV primer. Selanjutnya akan
berkembang menjadi CMV kongenital. Bahaya dari CMV kongenita adalah bayi yang dilahirkan akan
menyebabkan gangguan kesehatan seperti pembesaran limpa, ruam, penyakit ikterus dan mengalami
berat badan yang rendah.

Pada ibu hamil yang mengalami CMV tidak selamanya ditularkan pada bayinya.Beberapa tidak
berpengaruh negatif pada ibu meskipun kebanyakan apabila ibu hamil mengalami infeksi pertama CMV
maka risiko transmisi pada bayi jauh lebih tinggi ketimbang infeksi ulang. Anda harus mewaspadai
terjadinya transmisi pada awal kehamilan.

Apabila ibu hamil terdeteksi terinfeksi CMV pada saat hamil maka akan dilakukan pengambilan air
ketuban untuk menentukan bayi yang terinfeksi. Bahkan test pengambilan air ketuban penting dilakukan
apabila pemeriksaan USG ditemukan abnormal.

Dampak CMV pada kehamilan tergantung pada usia kehamilan. Dampak virus CMV akan menyebabkan
janin mengalami keguguran, mengalami cacad bahkan hingga prematur. Perbedaan inilah yang
menyebabkan janin mengalami perbedaan. Beberapa berat badan rendah, perkembangan motorik dan
kulit yang berwarna kuning pada bayi bahkan beberapa kasus dapat menyebabkan pembesaran hati.
Bayi yang baru lahir mengalami masalah dengan kekebalan tubuh sehingga memerlukan pengobatan
tergantung seberapa besar infeksi virus. Umumnya mengunakan obat antiviral yang dapat
memperlambat reproduksi

B. KLASIFIKASI

CMV dapat mengenai hamper semua organ dan menyebabkan hamper semua jenis infeksi. Organ yang
terkena adalah:

CMV nefritis( ginjal).

CMV hepatitis( hati).

CMV myocarditis( jantung).

CMV pneumonitis( paru-paru).

CMV retinitis( mata).

CMV gastritis( lambung).

CMV colitis( usus).

CMV encephalitis( otak).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Darah Tepi

a. Leukositosis biasanya berjumlah >50 x 109 /L dan kadang – kadang >500 x 109/L.

b. Meningkatnya jumlah basofil dalam darah.

c. Apusan darah tepi : menunjukkan spektrum lengkap seri granulosit mulai dari mieloblast sampai
netrofil, dengan komponen paling menonjol ialah segmen netrofil dan mielosit. Stab, metamielosit,
promielosit dan mieloblast juga dijumpai. Sel blast kurang dari 5%.

d. Anemia mula – mula ringan menjadi progresif pada fase lanjut, bersifat normokromik normositer.

e. Trombosit bisa meningkat, normal, atau menurun. Pada fase awal lebih sering meningkat.

f. Fosfatase alkali netrofil (neutrophil alkaline phosphatase [NAP] score) selalu rendah

2. Sumsum Tulang.
Hiperseluler dengan sistem granulosit dominan. Gambarannya mirip dengan apusan darah tepi.
Menunjukkan spectrum lengkap seri myeloid, dengan komponen paling banyak ialah netrofil dan
mielosit. Sel blast kurang dari 30%. Megakariosit pada fase kronik normal atau meningkat.

3. Sitogenik: dijumpai adanya Philadelphia (Ph1) chromosome pada kasus 95% kasus.

4. Vitamin B12 serum dan B12 binding capacity meningkat.

5. Pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) dapat mendeteksi adanya chimeric protein bcr – abl
pada 99% kasus.

6. Kadar asam urat serum meningkat.

Tanda – Tanda Transformasi akut

Perubahan CML dari fase kronik ke fase transformasi akut ditandai oleh:

1. Timbulnya demam dan anemia yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

2. Respons penurunan leukosit terhadap kemoterapi yang semula baik menjadi tidak adekuat.

3. Splenomegali membesar yang sebelumnya sudah mengecil.

4. Blast dalam sumsum tulang >10%.

DIAGNOSIS

Diangnosis CML dalam fase akselerasi menurut WHO adalah :

1. Blast 10 – 19 % dari WBC pada darah tepi atau dari sel sumsum tulang berinti.

2. Basofil darah tepi > 20%.

3. Thrombositopenia persisten (<100 109="" atau="" dengan="" dihubungkan="" terapi=""


thrombositosis="" tidak="" x="" yang="">1000 x 109/L) yang tidak responsive pada terapi.

4. Peningkatan ukuran lien atau WBC yang tidak responsif pada terapi.

5. Bukti sitogenetik adanya evolusi klonal.

Dipihak lain diagnosis CML pada fase krisis blastik menurut WHO adalah :

1. Blast >20% dari darah putih pada darah perifer atau sel sumsum tulang berinti.

2. Proliferasi blast ekstrameduler.

3. Fokus besar atau cluster sel blast dalam biopsy sumsum tulang.