Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tulisan adalah suatu karya hasil dari kegiatan seseorang dalam


rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui Bahasa
tulis kepada pembaca untuk diketahui dan dipahami isinya. Lima jenis
tulisan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi,
eksposisi, argumentasi dan persuasi.Tulisan dibedakan menjadi 3 jenis
yaitu karya tulis non ilmiah, semi ilmiah dan ilmiah. Menulis merupakan
salah satu kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh manusia untuk
mengisi waktu luang, seperti menulis diari, cerpen, maupun menulis karya
ilmiah. Untuk mempunyai kemampuan menulis yang baik, dibutuhkan
latihan secara terus-menerus serta tekun membaca buku setiap waktu.
Berbicara mengenai menulis karya ilmiah, tentu berbeda dengan menulis
diari atau sejenisnya.

Sebagai hasil penelitian atau kegiatan ilmiah yang menuruti suatu


aturan tertentu. Aturan tersebut biasanya merupakan siatu persyaratan tata
tulis yang telah dibakukan oleh masyarakat akademik. Secara umum,
proses penulisan karya ilmiah dilakukan oleh tiga tahapan, yaitu : tahap
penulisan dan tahap perbaikan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan penulisan ilmiah?
2. Apa saja istilah penting yang terdapat dalam penulisan karya
ilmiah?
3. Apa arti tentang definisi
4. Bagaimana petunjuk pembuatan definisi ?

1
5. Apa arti tentang klasifikasi ?
6. Apa arti tentang analisis dan laporan analisis?
7. Apa arti tentang diagnosis?
8. Apa arti tentang deskripsi?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memperluas
pengetahuan tentang pengertian dan istilah-istilah penulisan ilmiah.Adapun
tujuan lainnya adalah untuk melaksanakan tanggungjawab terhadap tugas
mata kuliah Penulisan Ilmiah yang diberikan oleh Dr. Pius Weraman,
S.KM.,M.Kes

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Beberapa Istilah Penting


 Fakta
Fakta adalah laporan tentang sesuatu yang dipikirkan atau
yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dandiraba.Fakta sebagai
laporan tentang sesuatu yang dipikirkan itu terdapat antara lain
dalam psikologi. Fakta dalam psikologi itu umumnya bersifat
subjektif, dan tidak dikenal dalam bidang ilmu pengetahuan
eksakta, ilmu pengetahuan eksakta disini diartikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mengenai ilmu pasti dan ilmu alam.
Fakta dalam psikologi itu mungkin fakta yang sedang ada
pikirkan, yang anda menjadi sedih, atau yang anda telah bermimpi.
Laporan-laporan semacam itu bersifat non-ilmiah, mungkin fakta-
fakta demikian itu dapat disebut fakta pribadi, tidak dapat diperiksa
benar tidaknya.

 Konkret
Dalam ilmu pengetahuan istilah konkret menunjuk sesuatu
yang ada eksistensinya di dunia fisik ini, yaitu berada diluar jiwa
kita atau batin kita. Bereksistensi berarti dapat dicium, diraba,
dilihat, dan dibau. Jadi konkretitu menunjuk benda fisik atau objek,
baik yang spesifik berlihat khusus (ataukhas) yaitu hanya menunjuk
satu objek, maupun yang bersifat golongan yang terdiri dari banyak
benda. Contoh objek yang bersifat khususialah: universitas gadjah
mada, bengawan solo, dan pegunungan Himalaya. Golongan objek

3
yang bersifat konkret itu contohnya: rumah, gunung, gedung,
sungai dan universitas. Semua benda tersebut, baik yang bersifat
khusus maupun yang bersifat golongan adalah konkret yaitu dapat
dibuktikan melalui perabaan, atau penglihatan, dan mungkin juga
pembauan.
 Abstrak
Dalam ilmu pengetahuan istilah abstrak dan abstrak itu
menunjuk sesuatu yang tidak nyata adalah di dunia fisik ini, contoh:
keadilan, keindahan, kebenaran. Pernyataan: ‘’asap gunung merapi
hilang di dalam atmosfer’’ itu benar, tetapi kebenaran itu terutama
hanya lah sebagai kualitas pernyataan, jadi kebenaran nya
tidak konkret. Pernyataan tersebut disebut abstraksi. Benda abstrak
tersebut yaitu ’’hilangnya asap dalam atmosfer’’, hanya ada dalam
pikiran. Kemampuan orang untuk membuat abstraksi dan berpikir
abstrak tidak dapat diukur.Teori terbentuk dan disusun berdasar
kemampuan orang berpikir abstrak dan membuat abstraksi.
Perdebatan dan perang lidah dapat berlanjut selama masing-masing
pihak, antara lain, berbeda kemampuannya dalam membuat
abstraksi

 Pernyataan
Pernyataan adalah permakluman sesuatu hal yang disertai
keterangan dan penjelasan secukupnya, sehingga memperlihatkan
kebenaran fakta yang mendasari pernyataan tersebut. Semua
pernyataan yang ilmiah itu besifat umum. Pernyataan itu adalah
catatan tentang tabiat dan corak benda-benda konkret yang khas,
sehingga pernyataan itu besifat khas pula. Dalam penelitian kita
selalu memulai dengan fakta yang bertabiat dan bercorak khas dan

4
mengakhiri dengan membuat pernyataan umum.Tulisan ilmiah itu
tidak member informasi tentang benda yang khas atau khusus,
pernyataan (umum) itu bisa terbatas dan bisa tidak terbatas, namun
sifatnya tetap khas.

 Hukum
Hukum ( jangan dikacaukan dengan ‘’hukum’’ dalam
perundang-undangan ), adalah pernyataan umum tentang fakta, jadi
pernyataan yang ilmiah dan secara umum di terima sebagai fakta
yang benar, setidak – tidaknya untuk masa yang lalu dan hariini.
Hukum yang dimaksud disini adalah ketentuan, kaidah atau
patokan yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa alam.Namun,
hukum alam yang diterima sekarang ini mungkin dikemudian hari
salah, atau sebagian saja yang benar. Bagimereka yang sangat
dipengaruhi oleh kepercayaan mungkin mempertanyakan tentang
berlakunya sesuatu hukum.Walaupun semua hukum itu pernah diuji
satu per satu, namun ada kemungkinan, seluruhnya atau sebagian
hukum yang berlaku sekaran gini, ternyata salah dikemudian hari.

 Hipotesis
Hipotesis harus dibedakan dari pertanyaan umum dan
hukum. Pertanyaan umum yang belum diuji kebenarann yaitu
disebut hipotesis. Jadi, hipotesis itu adalah suatu pertanyaan
generalisasi sementara (tentatif) atau suatu teori penyamarataan
coba-coba, yang dibuat setelah observasi tehadap beberapa fakta
khas.Oleh sebab itu setelah kemudian di uji lanjut mungkin
hipotesis itu tidak dapat dipertahankan, sehingga tidak
menghasilkan tesis (teori). Agar menghasilkan teori masih

5
diperlukan kerja pembuktian. Pernyataan yang berupa generalisasi
tentative biasanya disebut hipotesis kerja.

 Teori
Teori adalah hipotesis yang kaya akan bukti-bukti
pendukungnya. Setelah hipotesis diuji secara mendalam dan
diterima secara umum, maka terjadilah teori yang bulat dan
utuh.tidak semua teori mampu memaksa terbentuknya suatu
hukum, dalam status yang demikian itu teori tersebut masih disebut
‘’hanya suatu teori’’.

 Dugaan ( ‘guess’ )
Dugaan adalah pernyataan berdasar pada beberapa fakta
atau pengalaman, sehingga masih sebagai khayalan dan angan-
angan. Dugaan itu tidak berdasarkan observasi sistematis. Nilai
tingkat ilmiahnya( validitasnya) tergantung siapa yang menduga.
Oleh sebab itu didalam penulisan karangan ilmiah dugaan – dugaan
harus dihindarkan jika dikrenakan tidak didukung oleh fakta.

 Opini ( ‘opinion’)
Opini adalah pendapat atau pernyataan umum khas yang
berbeda tingkat kebenarannya dan tingkat ilmiahnya atau
validitasnya satu dari yang lain. Opini itu sebagian besar adalah
dugaan, contoh: “ Direktur yang sekarang ini tidak jujur”. Opini ini
paling banyak hanya berdasar pengalaman yang sudah-sudah.
Dugaan dan opini tidak boleh dipakai untuk membuat generalisasi
fakta. Opini itu dipengaruhi oleh emosi, prasangka, dan selera
pribadi.

6
 Pertimbangan (‘judgement’)
Pertimbangan adalah pendapat ( pernyataan umum ) khas
yang dibuat melalui pertimbangan yang berbeda pula tingkat
validitasnya. Pertimbangan seorang ahli biasanya lebih tinggi
tingkat validitasnya daripada oleh orang biasa. Pertimbangan itu
adalah pernyataan yang masih dipengaruhi emosi dan prasangka.
Perlu diingat, bahwa opini( ‘opinion’) dan pertimbangan
( ‘judgement’) itu semuanya bukan fakta umum dan tidak dapat
dibuktikan benar tidaknya. Contoh : “ si Anu mengambil payung di
Dia dari gudang” adalah pernyataan suatau fakta apabila bukti
cukup, tetapi menyatakan bahwa “ si Anu adalah pencuri” adalah
suatu timbangan yang tidak benar. Opini dan pertimbangan itu
adalah pernyataan berdasar emosi, prasangka, praduga, atau
perasaan perorangan. Oleh karena itu tidak dapat diperiksa benar
tidaknya. Agar karangan itu dapat disebut karya tulis yang ilmiah,
opini dan pertimbangan tidak boleh ada didalamnya.
Dipandang dari segi tingkat ilmiahnya,suatu dugaan itu
adalah lebih tinggi validitas daripada opini atau pertimbangan. Asal
tidak disejajarkan dengan hipotesis atau teori, maka adanya dugaan
itu masih dibenarkan dalam karangan ilmiah. Contoh : dugaan
seseorang ekonomi tentang akan adanya depresi ekonomi biasanya
bervaliditas tinggi. Opini dan pertimbangan, walaupun disetujui
oleh semua anggota suatau tim penilai adalah pendapat yang
dipengaruhi oleh emosi praduga,atau selera pribadi.

 ‘ Inference’
Kesimpulan adalah pernyataan yang berbeda dari ‘
Inference’ keduanya dibuat berdasar segala apa yang sudah

7
diobservasi. Kesimpulan atau konklusi adalah ikhtisar yang ditarik
dari hasil observasi fakta-fakta dan yang berupa generalisasi umum.
Inference’ dibuat berdasar pada hasil observasi satu atau
beberapa fakta khas sehingga tidak dapat untuk membuat
generalisasi umum. Contoh : diwaktu pagi yang cerah kita berjalan
dijalan aspalan yang basah; kita berpendapat ‘malam sebelumnya
hujan’. Pendapat itu mungkin keliru, sebab bisa saja aspalan itu
basah karena baru sajadisemprot oleh truk tangka air. Terutama
dengan metode induktif kita dapat menarik kesimpulan dari fakta-
fakta umum, tetapi tidak untuk ‘ Inference ‘.

 Implikasi
Implikasi adalah pendapat berdasar pengertian; jadi implikasi
itu adalah suatu kongklusi yang ditarik bukan dari fakta, melainka
dari bukti yang tidak langsung. Namun didalam karya tulis yang
ilmiah suatau usulan maksud itu harus secara jelas dinyatakan
dengan tegas, dan tidak bersifat implikatif berupa tarikan perhatian
untuk menimbulkan perhatian.

 Induksi
Induksi adalah proses terbitnya pernyataan-pernyataan umum dari
observasi – observasi khas. Contoh : orang pertama mati, orang kedua
mati, orang ketiga mati dan seterusnya. Dari observasi tersebut
terbitlah pernyataan umum; “ semua orang mati “. Hasil proses
terbitnya pernyataan itu juga disebut induksi. Harus diingat, bahwa
suatu induksi itu bukan hukum alam. Sebab hukum alam itu dianggap
sebagai ‘ perintah alam’, sifatnya perspriktif atau perintah, seperti
suatau resep yang harus diindahkan ( diikuti ), sedangkan induksi itu

8
bersifat sebagai petunjuk alam. Dalam contoh diatas “ semua orang itu
mati” merupakan petunjuk alam dan bukan perintah alam.

 Deduksi
Deduksi adalah proses pengetrapan pernyataan umu yang
telah diketahui atau diduga benar, atau proses pengetrapan induksi.
Hasil proses dari deduksi juga disebut deduksi. Contoh “ Aristoteles
itu orang. Diketahui semua orang itu mati ( induksi ). Oleh karena
itu Aristoteles mati ( deduksi ). Contoh tersebut menunjukkan
bahwa “ semua orang mati “ itu sebagai dasar pendapat, dan “
Aristoteles mati “ itu sebagai kesimpulan. Dengan demikian jelas
bahwa deduksi itu adalah proses pengetrapan induksi.

2.2 DEFINISI
A. Arti Definisi

Sering terjadi bahwa seorang pengarang dan seorang


pembaca itu tidak memperoleh satu pengertian tentang arti suatu
kata, atau istilah yang dipakai pengarang tidak menimbulkan
perhatian bagi pembacanya.Bagi pembaca kata yang anda tulis
dapat dikategorikan sebagai berikut :

i. Kata dikenal untuk benda-benda yang dikenal, contoh:


mobil, kereta api, gunung, sungai dan sebagainya.
ii. Kata-kata dikenal untuk benda-benda yang tidak dikenal,
contoh: bom atom, robot, computer, dan sebagainya.
iii. Kata-kata tak dikenal untuk benda-benda yang dikenal,
contoh: pangkur, pawaka, dukan, candrasa, dan sebagainya.
iv. Kata-kata tak dikenal untuk benda-benda tak dikenal,
contoh: amilasetat, hydrosol, pirometer, dan sebagainya.

9
Jika anda menggunakan kata-kata yang termasuk kategori
(iii) dan (iv) maka haruslah disertakan penjelasan sebagai definisi.

B. Metode Membuat Definisi


Dalam membuat definsi untuk suatu maksud dapat di pakai
metode-metode berikut :
 Ekslikasi

Dengan menguraikan arti suatu istilahdapatlah disusun suatu


definisi secara jelas (eksplisit), contoh : “Teknik adalah
pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan
dengan hasil industri ( bangunan, mesin, dan sebagainya)”, kata
“pengetahuan”, “kepandaian“hasil industri” adalah kata-kata uraian
untuk menjelaskan arti kata teknik.

 Analisis
Metode analisis sering dipakai dalam penulisan buku ilmu
pengetahuan.Dengan metode ini objeknya dibagi-bagi kemudian
bagian-bagiannya diuraikan lagi. Definisi yang dibentuk secara
analisi situ mungkin relative panjang.
 Deskriptif
Mendeskripsikan suatu benda tidak lain adalah
menguraikan sifat-sifat fisik benda tersebut. Mendefinisikan
sesuatu dapat pula dengan jalan mendeskripsikannya dengan
menguraikannya menjadi sejumlah detail darimana define siitu
dibentuk.
 Ilustrasi

Melukiskan proses, mekanisme, organisasi, dan prosedur


dengan bagan dan lukisan adalah metode yang menarik perhatian.
Sesuatu istilah yang disertai ilustrasi itu umumnya untuk

10
melukiskan sesuatu yang tipik dan ilustrasi itu sebagai alat peraga
definisi.

 Analogi
Analogi adalah kiasan antara dua benda atau hal, yaitu
perbandingan antara dua hal mengenai kualitasnya, akibatnya, atau
efeknya. Dua benda atau hal disebut analog bila ‘sebagian besar’
sifat-sifatnya sama.
 Eliminasi
Dengan metode eliminasi kita dapat membentuk definisi
sesuatu benda dengan mengatakan apa yang tidak. Dengan
demikian setelah membetulkan konsepsi yang salah dengan jalan
mengeliminasi paham yang salah itu akan diperoleh pernyataan
yang benar.
 Deskripsiasal, sebab, danefek
Sering kali definisi itu terbentuk setelah diketahui
bagaimana sesuatu barang atau halite terbentuk, atau dengan
mendeskripsi sebab-sebabnya, dan efeknya.
 Etimologi
Dengan menerangkan arti asli asal kata, kata awalan dan
kata akhirannya, dapatlah definisinya dibuat. Metode ini terutama
dipakai pada kata-kata berasal dari bahasa latin dangrik. Dalam
prakteknya definisi itu dibuat dengan menggunakan lebih dari satu
metode di atas.

2.3 Petunjuk Pembuatan Definisi


Dari 9 metode-metode membentuk definisi dapat di buat
petunjuk singkat pembuatan definisi sebagai berikut:
 Umum

11
1. Dalam membuat kerangka mantik suatu definisi
jangan memakai asal kata atau kata itu sendiri.
Contoh: “ mewawancarai adalah melaksanakan
wawancara”
2. Gunakan istilah yang lebih dikenaldaripada kata
yang dicari definisinya.
3. Jangan menggunakan sinonim
4. Hindari pemakaian kata yang abstrak.
5. Jangan bicara terlalu banyak tentang istilah yang
sedang dicari definisinya.
 Deduktif
Prosedur disebut deduktif apapbila memulai dengan pernyataan umum,
kemudian selanjutnya dibuat pernyataan khusus.
Contoh:
‘jembatan’ adalah sebuah struktur yang dibangun melintas diatas sungai,
rel kereta api, jalan raya dan sebagainya untuk jalan lintas kendaraan atau
pejalan kaki
 Induktif
Alternatif lain disebut induktif, yaitu mulai dengan ilustrasi, perbandingan,
analogi, atau beberapa metode lainnya dalam metode pengeluasan, dan
defines mantik akhir sebagai pernyataan umum dapatdiperoleh kemudian.
Contoh:
‘komputer adalah mesin elektronik yang dengan menggunakan instruksi-
instruksi dan informasi-informasi tersimpan dapat menyajikan
penghitungan dan perhitungan, penyususnan, korelasi, danseleksi data,
secara cepat dan kadang-kadang sangat kompleks.

12
2.4 KLASIFIKASI
 Pengertian tentang klasifikasi
Klasifikasi adalah proses penyusunan rangkaian objek
menjadi golongan-golongan untuk memperjelas kesamaan dan
perbedaannya. Klasifikasi merupakan bagian dalam proses
membentuk definisi.
Contoh:
Dalam proses mendefinisi meja: pertama, menetapkan termasuk
klas benda apakah meja itu (perabot rumah tangga) ;kedua,
menetapkan kualitas beda meja dari perabot rumah tangga lainnya
(dibuat dari papan dan berkaki). Pernyataan umum: meja adalah
perabot rumah tangga, dibuatdari papandiberi kaki.
 Macam-macam klasifikasi
1. Klasifikasi tak terbatas – termasuk semua anggota suatu
klas, contoh :otomobil, semua oto mobil yang tidak tertentu tahun
pembuatannya
2. Klasifikasi terbatas- hanya yang termasuk suatu bagian
dari suatu klas, contoh: otomobil buatan jepang tahun 1975
Klasifikasi formal adalah cara penggolongan yang sistematis
contoh: rumah berlantai dua, berlantai tiga, dan seterusnya itu lebih
formal dan sistematis daripada rumah yang menyenangkan, rumah
yang menarik, rumah yang kaku, dasn sebainya. Klasifikasi yang
terakhir itu adalah informal dan tidak dipakai dalam metode ilmiah
melainkan dipakai dalam karangan non-ilmiah.

2.5 Analisis Dan Laporan Analisis


 Pengertian tentang Analisis

13
Analisis adalah proses pemecahan tujuan menjadi unsur-
unsur terpisah. Kita perlu membedakan (membuat kontras) klasifikasi
dari analisis. Dalam klasifikasi kita memulai dengan himpunan-
himpunan benda-benda tertentu,masing-masing himpunan mungkin
suatu faktor utama yang tidak dapat dipisah-pisahkan lagi. Kemudian
kita menyusun kedalam golongan-golongan berdasar penyerupaannya.
Dalam analisis kita memulai dengan keseluruhan himpunan,lalu
memecahkannya menjadi bagian-bagian xterpisah yang berdiri sendiri.

Hasil analisis manti kadang-kadang identik dengan hasil


klasifikasi mantik,oleh sebab itu kita sering terkecoh. Contoh: hasil
klasifikasi terhadap penduduk di Yogyakarta dan hasil analisis terhadap
penduduk kota tersebut dapat serupa yaitu: lapangan
kerja,teknologi,kesehatan, penghasilan, dan sebagainya. Tetapi hasil
klasifikasi dan analisis akan berbeda jika tujuannya dan metodenya
berbeda. Klasifikasi itu menyangkut tentang hal-hal tentang kesamaan
dan perbedaan anggota-anggota dalam suatu himpunan (penduduk)
menjadi golongan-golongan, sedang analisis itu menyangkut pemecahan
material seutuhnya dan bagian-bagiannya menjadi anggota-anggota
himpunan (penduduk) terpisah.

Berdasar pada bahan (material ataumateri) yang di analisis, maka


pengertian analisis perlu dibedakan menjadi 2 macam: analisisfisis and
analisismantik. Analisis fisis atau analisis kemis terdiri dari pemecahan
materil atau bahan kedalam unsur-unsurnya. Analisis mantik terdiri dari
pemecahan ide atau konsep kedalam unsur-unsur mantik. Dalam analisis
mantik bahan yang di analisis adalah produk ingatan atau angan-angan.

Berdasar pada sifat objek bahan yang di analisis, maka sifat analisis
itu ada 2 macam: formal (ilmiah) dan non-formal (non-ilmiah).Analisis

14
disebut formal bila teliti,tepat dan lengkap. Contoh :Penelitian terhadap
sekelompok pelajar untuk menentukan asalnya,bersekolah dimana,kelas
berapa dsb. Analisis itu pasti formal karena yang dicatat hal-hal yang
eksak. Analisis tentang tabiat atau watak orang jawa asli pasti non
formal,sebab tabiat atau watak itu tidak dapat diperlakukan secara
eksak. Dalam psikologi analisis itu umumnya non-formal.

 Syarat-syarat bagi seorang penganalisi syarat-syarat bagi seorang


penganalisis formal.
1. Pengetahuanbidang yang di tekuni
2. Jujur
3. Bebasprasangka
4. Penilaianbaik
5. Kesabaran
 Organisasi laporan analisis
Laporan analisis ialah berupa susunan kerangka analisis dengan
menyajikan bagian - bagiannya, unsur-unsurnya, faktor- faktornya,
secara sistematis, tetapi bukan deskripsi bagian-bagian itu. Aturan-
aturan dalam membuat laporan analisis sama seperti yang untuk
klasifikasi. Setelah organisasi kerangka analisis ditulis,perlu di uji
klasifikasinya benar,yaitu tidak ada tumpang tindih dari bagian-
bagian,dan lengkap; apakah susunannya mantik dan mudah dipahami
oleh pembaca.

2.6 DIAGNOSIS
Diagnosis adalah proses kombinasi antara klasifikasi dan analisis.
Proses diagnosis dalam ilmu kedokteran mungkin tepat untuk dipakai
sebagai contoh kombinasi antara klasifikasi dan analisis. Menentukan
apa yang tidak beres pada seorang pasien dengan belajar dari gejala-

15
gejala adalah terutama suatu kerja klasifikasi dan menganalisis kondisi
pasien.

2.7 DESKRIPSI
A. Bagian-Bagian Deskripsi
 Introduksi, – memuat penjelasan tentang : apakah itu, apakah
maksudnya atau gunanya, dan bagaaimana bentuknya. Dalam
menjelaskan ‘apakaah itu’ pemabaca memerlukan angan – angan
yang jelas. Untuk diperlukan foto, sketsa, dan sebagainya dari
benda seutuhnya, kemudian dari bagian – bagiannya disusun
berdasar fungsinya.
 Deskripsi bagian demi bagian; masing – masing bagian disertai
introduksi. Jika diperlu juga deskripsi bagian dari suatu bagian,
sehingga dalam angan – angan pembaca terdapat suatau rantai
gambaran bagian, sub- bagian, dan sub-sub bagian.
Kesimpulan; memuat suatau organisasi deskripsi sehingga pembaca
memperoleh cukup informasi tentang hubungan fungsi bagian
-bagian dalam suatu unit, atau genus benda atau penelitian. Hasil
deskripsi itu biasanya suatu’lay out’ tentang subjek yang
dibicarakan

B. Macam-macam Deskripsi
 Deskripsi mekanisme
Tergantung pada maksud deskripsi, yaitu uraian sifat fisik menjadi
detail, maka deskripsi itu dapat dibagi menjadi dua : impresionistis
dan ilmiah.
Contoh:

16
“. . . . kebanggan sementara anak – anak muda didesa terpencil itu
adalah sepeda motor tril sebagai alat transport ke kota yang jarak
dari desanya lebih dari 30 km, dan menempuh jalan naik turun dan
berbatu – batu. Ketika seorang anak muda berkendaraan motor tril
lewat didepan saya, aku tercengang akan keterampilannya
mengemudikan kendaraan roda duan itu, berjungkit – jungkit
mendebarkan jantung “
 Deskripsi tersebut tidak bersifat ilmiah, karena tidak banyak
mengemukakan prosesnya secara objektif, tetapi lebih
mengemukakan kesan – kesan perasaan penulis sendiri
( impresionistis ) dan cara berpikir anak – anak muda didesa
itu.
 Deskripsi ilmiah tidak memperhatikan impresi yang
terbentuk karena emosi. Selanjutnya deskripsi ilmiah itu ada
dua macam pula; umum dan spesifik. Deskripsi ilmiah
umum itu membatasi diri pada corak, cirri, tabiat suatau
genus, dan bukan anggota genus itu.
 Deskriptif ilmiah umum itu membatasi diri pada corak, ciri,
tabiat suatu genus dan bukan anggota genus itu.
 Deskriptif ilmiah spesifik berlaku hanya untuk satu jenis
( species) atau bahkan mungkin untuk satu individu jenis itu
saja.
 Deskripsi proses
Deskripsi proses itu berupa ringkasan uraian proses
dengan maksud utama memberi defenisi untuk
melengkapkan pengertian.
 Deskripsi impresionistis dengan maksud utama
untuk mberi informasi dan menjelaskan bagaimana

17
impresi penulis terhadap sesuatu benda yang
dideakripsi.
 Deskripsi ilmiah dengan maksud semata - mata
untuk memberi informasi.
 Deskripsi organisasi dan kerangka penelitian
 Deskripsi organisasi penelitian memerlukan pula
penguraian bagian - bagiannya dan tanggung jawab
masing - masing, kaitannya satu dengan yang
lainnya dan sistem operasinya.
 Deskirpsi kerangka penelitian yang dideskripsi
secara benar dan jelas akan membantu lancarnya
penelitian . Untuk itu diperlukan pengetahuan
mendalam tentang sistem operasi bagian - bagian
dan penilaian terhadap kualitas dan kuantitas
kerjanya.
 Tujuan deskripsi
Tujuan deskripsi ilmiah ialah kejelasan. Oleh sebab
itu gaya apapun yang dipakai kejelasan adalah
mutlak bagi karangan ilmiah. Perhatikan persyaratan
berikut ini :
1. Susunan dan panjang kalimat bervariasi.
2. Gunakan kalimat bernada lembut.
3. Hal - hal penting ditaruh di bagian depan kalimat
disusul hal-hal yang kurang penting ( berprinsip
subordinasi )
4. Hal-hal pokok disusun dalam kalimat paralel dan
susunannya sesuai dengan kaidah-kaidah susunan
kalimat paralel.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan kami tentang penulisan ilmiah yang mencakup
pengertian dan istilah dan penulisan ilmiah ada beberapa kesimpulan yang
dapat ditarik sebagai berikut:
1. Penulisan ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis
berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan.
2. Istilah- istilah dalam penulisan ilmiah yaitu: Asumsi, Data Primer, Data
Sekunder, Footnote, Fenomena, Hipotesis, instrument, identifikasi,
kategorisasi, kolerasi, kuesioner, observasi, populasi, responden,
randomisasi, sample, sahih, survey, variabel, dan validitas.

B. Saran
Sebagai mahasiswa, menulis merupakan hal yang tidak bisa untuk
tidak dilakukan. Membuat tulisan ilmiah merupakan hal biasa yang
dilakukan oleh mahasiswa sebagai tugas langganan mata kuliahnya.
Namun, hingga kini masih banyak mahasiswa yang kurang kreatif dalam
menulis. Tulisan ilmiah yang dibuat hanya sebatas untuk memenuhi tugas
dari dosen. Sedangkan untuk kepentingan berbagi, mahasiswa kurang
terinisiasi, karena itulah kami menyarankan kepada teman-teman
mahasiswa lainnya, agar lebih kreatif lagi dalam menulis dan dapat
mengetahui istilah dalam penulisan ilmiah.

19
DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo,Mukayat D.1988. Penulisan Karangan Ilmiah.Jakarta:


Akademika Pressindo.

iv