Anda di halaman 1dari 10

Putusan Final Mahkamah Konstitusi Dalam Hal Pemakzulan Presiden...

( Ali Marwan Hsb )

PUTUSAN FINAL MAHKAMAH KONSTITUSI


DALAM HAL PEMAKZULAN PRESIDEN
DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN

Ali Marwan Hsb.


Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumatera Utara
Jl. Putri Hijau No. 4 Medan Indonesia
E-mail: ali.marwan13@gmail.com
(Naskah diterima 09/08/2017, direvisi 29/08/2017, disetujui 29/09/2017)

Abstrak
Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa putusan
Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat dalam melaksanakan kewenangan menguji undang-undang
terhadap undang-undang dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh undang-undang dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang
hasil pemilihan umum. Lebih lanjut dalam Pasal 24C ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, dalam melaksanakan kewajiban Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa, mengadili dan memutus
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden
tidak disebutkan bagaimana sifat putusan Mahkamah Konstitusi. Tulisan ini mencoba meneliti sifat putusan
Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa, mengadili dan memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai
dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden dan tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi
tersebut.
Kata Kunci: Putusan, Mahkamah Konstitusi, Pemakzulan

Abstract
Article 24C section (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia stated that the decision of the
Constitutional Court is final and binding in implementing authority to review the acts against the constitution,
resolve authority dispute between state institutions the authority granted by the Constitution, dissolution of political
parties and to decide disputes concerning the results of general elections. Further in Article 24C section (2) of
the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia in implementing the obligations of the Constitutional Court to
examine, hear and decide upon the views of the House of Representatives regarding the alleged violation by the
President and/or Vice President did not mention how the nature of the Constitutional Court's decision. Thus, in this
paper to be examined is the nature of the decision of the Constitutional Court in examining, hearing and deciding
views of the House of Representatives regarding the alleged violation by the President and/or Vice President and
follow up of the decision of the Constitutional Court.
Keyword: Decision, Constitutional Court, Impeachment.

A. Pendahuluan

Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga tidak mendapatkan porsi pembahasan pada


negara yang lahir pasca reformasi dan dibentuk masa pembahasan dan pengesahan Perubahan
setelah amandemen Undang-Undang Dasar Pertama UUD 1945 dalam SU MPR 1999.
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang Konsentrasi pembahasan pada masa perubahan
dilaksanakan sebanyak 4 (empat) kali dari pertama lebih banyak pada ketentuan tentang
tahun 1999 sampai dengan 2002. Ketentuan Kekuasaan Kehakiman secara umum serta
tentang Mahkamah Konstitusi dalam UUD 1945 Mahkamah Agung. Barulah dalam pembahasan

275
Vol. 14 No. 03 - September 2017 : 275 - 284

tentang Kekuasaan Kehakiman pada masa bahwa “Mahkamah Konstitusi berwenang


perubahan kedua, isu tentang Mahkamah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
Konstitusi mulai bergulir.1 yang putusannya bersifat final untuk menguji
Setelah dibentuk berdasarkan Undang- undang-undang terhadap undang-undang
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
Mahkamah Konstitusi, keberadaan Mahkamah negara yang kewenangannya diberikan oleh
Konstitusi dalam sistem ketatanegaraan undang-undang dasar, memutus pembubaran
Indonesia memberikan angin segar bahwa partai politik dan memutus perselisihan tentang
proses-proses politik seperti pembentukan hasil pemilihan umum.” Lebih lanjut dalam Pasal
undang-undang, pembubaran partai politik dan 24C ayat (2) disebutkan bahwa “Mahkamah
impeachment Presiden dan/atau Wakil Presiden Konstitusi wajib memberikan putusan atas
berjalan sesuai dengan hukum tanpa muatan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai
politik. Di mana Mahkamah Konstitusi berperan dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau
sebagai penetralisir atau neutralizer bagi lembaga Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar”.
politik.2 Dalam ketentuan mengenai Mahkamah Berdasarkan ketentuan tersebut bahwa
Konstitusi disebutkan bahwa putusan putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat
Mahkamah Konstitusi adalah final, pertama dan final adalah putusan dalam hal melaksanakan
terakhir. Ini berarti bahwa putusan Mahkamah kewenangan untuk menguji undang-undang
Konstitusi tersebut tidak boleh diadili lagi.3 terhadap undang-undang dasar, memutus
Dalam Pasal 7B ayat (1) Undang-Undang sengketa kewenangan lembaga negara yang
Dasar Tahun 1945 disebutkan bahwa usulan kewenangannya diberikan oleh undang-undang
pemberhentian dari Dewan Perwakilan Rakyat dasar, memutus pembubaran partai politik dan
kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat memutus perselisihan tentang hasil pemilihan
dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan umum.
kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas,
mengadili dan memutus pendapat Dewan maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau 1.
Bagaimana sifat putusan Mahkamah
Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran Konstitusi dalam memeriksa, mengadili
hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, dan memutus pendapat Dewan Perwakilan
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya Rakyat berkaitan dengan pelanggaran yang
atau perbuatan tercela dan/atau pendapat dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil
bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak Presiden?
lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau 2.
Bagaimanakah seyogianya pelaksanaan
Wakil Presiden. putusan Mahkamah Konstitusi terkait
Ketentuan dalam Pasal 7B Undang-Undang dengan pendapat Dewan Perwakilan
Dasar Tahun 1945 tersebut berkaitan dengan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran yang
ketentuan dalam Pasal 24C ayat (2) bahwa dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil
“Mahkamah Konstitusi wajib memberikan Presiden?
putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden B. Pembahasan
dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-
Undang Dasar. Ketentuan dalam Pasal 24C B.1.
Proses Pemakzulan Presiden dan/atau
ayat (2) tersebut tidak memberikan ketentuan Wakil Presiden
bagaimana sifat dari putusan Mahkamah Dalam hal proses pemakzulan Presiden,
Konstitusi berkaitan dengan proses pemakzulan kita dapat belajar dari kasus 2 (dua) Presiden
Presiden dan/atau Wakil Presiden tersebut. Republik Indonesia yaitu Soekarno dan
Dalam Pasal 24C ayat (1) berkaitan dengan Abdurrahman Wahid. Dalam kasus Soekarno,
kewenangan Mahkamah Konstitusi disebutkan proses pemakzulan dimulai ketika pidato

1 Tim Penyusun, Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Latar Belakang,
Proses dan Hasil Pembahasan 1999 – 2002, Buku VI, Kekuasaan Kehakiman, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah
Konstitusi, 2010, hlm. 441.
2 Ali Marwan Hsb, “Mahkamah Konstitusi sebagai Neutralizer terhadap Lembaga Politik”, Jurnal Rechtsvinding Volume 2 Nomor 3,
Desember 2013, hlm. 316 – 317.
3 Wicipto Setiadi, “Dukungan Politik dalam Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi”, Jurnal Rechtsvinding, Volume 2 Nomor 3,
Desember 2013,hlm. 300.

276
Putusan Final Mahkamah Konstitusi Dalam Hal Pemakzulan Presiden...( Ali Marwan Hsb )

pertanggungjawabannya yang berjudul Panitia Khusus tersebut menyimpulkan 2


Nawaksara pada sidang Majelis Permusyawaratan (dua) hal, yaitu:7
Rakyat Sementara (MPRS) 1966. Dewan 1. Dalam kasus dana Yanatera Bulog, Pansus
Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) berpendapat “patut diduga bahwa Presiden
tidak puas dengan pidato pertanggungjawaban Abdurrahman Wahid berperan dalam
Presiden Soekarno tersebut, khususnya hal- pencairan dan penggunaan dana Yanatera
hal yang berkaitan dengan sebab-sebab Bulog”
terjadinya G-30S/PKI. Karenanya DPR-GR saat 2. Dalam kasus dana bantuan Sultan Brunei
itu mengajukan pernyataan pendapat kepada Pansus berpendapat “adanya inkonsistensi
Presiden dan memorandum kepada MPRS yang pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid
menghendaki dilengkapinya pidato Nawaksara tentang masalah bantuan Sultan Brunei
oleh Presiden. Atas dasar memorandum ini, Darussalam, menunjukkan bahwa Presiden
maka diadakanlah Sidang Istimewa MPRS telah menyampaikan keterangan yang tidak
untuk meminta pertanggungjawaban Presiden sebenarnya kepada masyarakat”.
Soekarno. Karena pertanggungjawaban Presiden Berdasarkan laporan dari Pansus dan
tidak dapat diterima, maka melalui Ketetapan pendapat dari fraksi-fraksi diambil kesimpulan
MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 tentang untuk mengeluarkan memorandum dan
Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan dari disusul memorandum kedua dan Sidang
Presiden Soekarno, MPRS mencabut kekuasaan Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat
pemerintahan dari Soekarno dan mengangkat (MPR) untuk meminta pertanggungjawaban
Soeharto sebagai pejabat Presiden.4 Presiden Abdurrahman Wahid. Menjelang sidang
Memperhatikan proses pemakzulan Presiden Istimewa MPR, Presiden Abdurrahman Wahid
Soekarno dapat dikemukakan bahwa alasan mengeluarkan kebijakan yang kontroversial yang
pemakzulan Presiden Soekarno, terutama terkait berisi pembekuan MPR dan pembekuan Partai
dengan pertanggungan jawab Presiden Soekarno Golkar. Pada akhirnya, MPR RI memberhentikan
atas peristiwa percobaan kudeta yang dilakukan Presiden Abdurahman Wahid karena dinyatakan
oleh Partai Komunis Indonesia pada tanggal 30 sungguh-sungguh melanggar haluan negara
September 1965, kemunduran ekonomi dan yaitu karena ketidakhadiran dan penolakan
kemerosotan akhlak. Presiden Soekarno setidak- Presiden Abdurahman Wahid untuk memberikan
tidaknya dianggap telah melanggar haluan pertanggungjawaban dalam Sidang Istimewa
negara dalam tuduhan Dewan Perwakilan MPR RI tahun 2001 dan penerbitan Maklumat
Rakyat tersebut adalah adanya indikasi serta Presiden Republik Indonesia tanggal 23 Juli
petunjuk bahwa Presiden Soekarno terlibat 2001.8
terlibat peristiwa G-30S/PKI. Sebagai mandataris Pemberhentian Presiden Soekarno
Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, dan Presiden Abdurrahman Wahid terjadi
Presiden Soekarno dianggap tidak mampu dalam forum pertanggungjawaban. Yang
mempertanggungjawabkan tugasnya kepada harus dipertanggungjawabkan oleh seorang
Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.5 Presiden sebagai mandataris kepada Majelis
Kasus Presiden Abdurrahman Wahid sendiri Permusyawaratan Rakyat sebagai pemberi
terjadi ketika namanya dikaitkan dengan adanya mandat dalam konstruksi Undang-Undang Dasar
kasus dana Yanatera Bulog sebesar Rp. 35 Miliar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebelum
pada Mei 2000 juga soal pertanggungjawaban perubahan memiliki aspek yang sangat luas.
dana Sultan Brunei sebesar USS 2 juta. Hal Demikian pula halnya dengan dasar atau alasan
ini direspon anggota Dewan Perwakilan Rakyat menolak pertanggungjawaban yang berujung
dengan mengajukan usul penggunaan hak pada pemberhentian juga sangat luas, tidak
mengadakan penyelidikan. Usul tersebut diterima terbatas pada pelanggaran hukum melainkan
dan dibentuklah Panitia Khusus (Pansus) untuk juga dapat terjadi karena perbedaan pandangan
mengadakan penyelidikan.6 atas kebijakan tertentu.9

4 Winarno Yudho, dkk., Mekanisme Impeachment dan Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Mahkamah Konstitusi
bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung, 2005, hlm. i.
5 Hamdan Zoelva, Impeachment Presiden; Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945, Jakarta: Konstitusi
Press, 2005, hlm. 142.
6 Hamdan Zoelva, Impeachment Presiden.........., hlm. 143.
7 Tim Penyusun, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2010,
hlm. 255.
8 Ibid., hlm. 103.
9 Tim Penyusun, Hukum Acara.........., Op. Cit., hlm. 255 – 256.

277
Vol. 14 No. 03 - September 2017 : 275 - 284

Setelah amandemen Undang-Undang hadir dalam sidang paripurna yang


Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3
ketentuan mengenai pemberhentian Presiden dari jumlah anggota Dewan Perwakilan
dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya Rakyat;
diatur dengan jelas pada Pasal 7A dan Pasal (4) Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa,
7B Undang-Undang Dasar Negara Republik mengadili, dan memutus dengan seadil-
Indonesia Tahun 1945 sebagai berikut: adilnya terhadap Dewan Perwakilan
Pasal 7A Rakyat tersebut paling lama sembilan
puluh hari setelah permintaan Dewan
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat
Perwakilan Rakyat itu diterima oleh
diberhentikan dalam masa jabatannya
Mahkamah Konstitusi;
oleh Majelis Permusyawaratan
(5)
Apabila Mahkamah Konstitusi
Rakyat atas usul Dewan Perwakilan
memutuskan bahwa Presiden
Rakyat, baik apabila terbukti telah
dan/atau Wakil Presiden terbukti
melakukan pelanggaran hukum berupa
melakukan pelanggaran hukum berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
pengkhianatan terhadap negara,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat
atau perbuatan tercela maupun apabila
lainnya, atau perbuatan tercela; dan/
terbukti tidak lagi memenuhi syarat
sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. atau terbukti bahwa Presiden dan/atau
Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
Pasal 7B syarat sebagai Presiden dan/atau wakil
(1) Usulan pemberhentian Presiden dan/ Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat
atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh menyelenggarakan sidang paripurna
Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis untuk meneruskan usul pemberhentian
Permusyawaratan Rakyat hanya dengan Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada
terlebih dahulu mengajukan permintaan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
kepada Mahkamah Konstitusi untuk (6)
Majelis Permusyawaratan Rakyat
memeriksa, mengadili dan memutus wajib menyelenggarakan sidang untuk
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
memutuskan usul Dewan Perwakilan
bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden
Rakyat tersebut paling lambat tiga puluh
telah melakukan pelanggaran hukum
hari sejak Majelis Permusyawaratan
berupa pengkhianatan terhadap negara,
Rakyat menerima usul tersebut;
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat
(7) Keputusan Majelis Permusyawaratan
lainnya atau perbuatan tercela dan/
Rakyat atas usul pemberhentian
atau pendapat bahwa Presiden dan/
Presiden dan/atau Wakil Presiden harus
atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
diambil dalam rapat paripurna Majelis
syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil
Permusyawaratan yang dihadiri oleh
Presiden;
sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah
(2) Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
anggota dan disetujui oleh sekurang-
bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden
kurangnya 2/3 dari jumlah anggota
telah melakukan pelanggaran hukum
yang hadir, setelah Presiden dan/
tersebut atau telah tidak lagi memenuhi
atau Wakil Presiden diberi kesempatan
syarat sebagai Presiden dan/atau
menyampaikan penjelasan dalam rapat
Wakil Presiden adalah dalam rangka
paripurna Majelis Permusyawaratan
pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan
Rakyat.
Perwakilan Rakyat;
(3) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Berdasarkan ketentuan Pasal 7A dan Pasal
Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi 7B Undang-Undang Dasar Negara Republik
hanya dapat dilakukan dengan dukungan Indonesia Tahun 1945 dapat diketahui bahwa
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah proses pemberhentian Presiden dan/atau Wakil
anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang Presiden melalui 3 (tiga) tahapan, yaitu:10

10 Ibid., hlm. 258 – 259.

278
Putusan Final Mahkamah Konstitusi Dalam Hal Pemakzulan Presiden...( Ali Marwan Hsb )

1. Tahapan di Dewan Perwakilan Rakyat. Yaitu diputuskan dalam rapat paripurna Majelis
tahapan pengusulan yang dilakukan oleh Permusyawaratan Rakyat yang harus
Dewan Perwakilan Rakyat sebagai salah dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari
satu fungsi pengawasan Dewan Perwakilan jumlah anggota Majelis Permusyawaratan
Rakyat. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat Rakyat dan pemberhentian itu disetujui
dalam pelaksanaan fungsi pengawasan sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota Majelis
yang dimiliki berpendapat bahwa Presiden Permusyawaratan Rakyat yang hadir. Dalam
dan/atau Wakil Presiden telah melakukan rapat paripurna itu Presiden dan/atau Wakil
pelanggaran hukum berupa pengkhianatan Presiden diberi kesempatan menyampaikan
terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak penjelasan.
pidana berat lainnya atau perbuatan tercela Menurut Moh. Mahfud MD, jika ditilik
maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi dari Pasal 7A dan Pasal 7B Undang-Undang
syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
Presiden, maka Dewan Perwakilan Rakyat penjatuhan Presiden harus dimulai dari penilaian
dapat mengajukan usul pemberhentian. dan keputusan politik di Dewan Perwakilan
Pendapat tentang pelanggaran hukum atau Rakyat (impeachment), kemudian dilanjutkan
kondisi Presiden dan/atau Wakil Presiden ke pemeriksaan dan putusan hukum oleh
tidak lagi memenuhi syarat tersebut harus Mahkamah Konstitusi (forum previlegiatum),
diputus dalam sidang paripurna yang dihadiri lalu dikembalikan lagi ke prosedur impeachment
oleh sekurang-kurangnya 2/3 anggota (Dewan Perwakilan Rakyat meneruskan ke
Dewan Perwakilan Rakyat dan disetujui 2/3 Majelis Permusyawaratan Rakyat) untuk
dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang diputuskan secara politik, apakah putusan
hadir; Mahkamah Konstitusi itu perlu diikuti dengan
2. Tahapan di Mahkamah Konstitusi. Apabila pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat tentang ataukah tidak. Tepatnya, Undang-Undang Dasar
pelanggaran hukum atau kondisi tidak Negara Republik Indonesia menganut sistem
memenuhi syarat Presiden dan/atau Wakil campuran antara mekanisme impeachment dan
Presiden telah disetujui sesuai dengan mekanisme forum frevilegiatum dan kembali ke
persyaratan di atas, Dewan Perwakilan impeachment lagi.11
Rakyat selanjutnya mengajukan pendapat Mekanisme pemberhentian Presiden dan/
tersebut kepada Mahkamah Konstitusi yang atau Wakil Presiden yang diatur dalam Undang
akan memeriksa, mengadili dan memutus Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dengan seadil-adilnya dalam waktu 90 adalah penegasan bahwa Indonesia adalah
(sembilan puluh) hari. Mahkamah Konstitusi negara hukum, ini ah suatu langkah maju dalam
dalam hal ini dapat memutuskan pendapat perspektif ketatanegaraan agar pemakzulan
Dewan Perwakilan Rakyat terbukti atau Presiden dan/atau Wakil Presiden yang didasari
tidak; faktor non-yuridis semata tak terjadi kembali
3.
Tahapan di Majelis Permusyawaratan di masa yang akan datang. Namun, di lain
Rakyat. Apabila Mahkamah Konstitusi bahwa sisi, prinsip negara hukum yang menghendaki
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat terbukti, suatu kekuasaan peradilan yang merdeka, yang
Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan tidak dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan
sidang paripurna untuk meneruskan usul lain yang akan menyimpangkan hakim dari
pemberhentian Presiden dan/atau Wakil kewajiban menegakkan hukum, keadilan dan
Presiden kepada Majelis Permusyawaratan kebenaran serta semangat untuk menjadikan
Rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat hukum sebagai putusan akhir yang berwibawa
wajib menyelenggarakan sidang untuk dan dihormati seolah dikesampingkan dalam
memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat mekanisme pemberhentian Presiden dan/
tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari atau Wakil Presiden sebagaimana diatur
sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam Pasal 7A dan 7B Undang Dasar Negara
menerima usul tersebut. Pemberhentian Republik Indonesia Tahun 1945, karena dalam
terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden mekanisme impeachment, putusan Mahkamah

11 Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Jakarta: Rajawali Press, 2010, hlm. 143.

279
Vol. 14 No. 03 - September 2017 : 275 - 284

Konstitusi yang membenarkan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat yang harus diperiksa,
Perwakilan Rakyat tidak bersifat final. Dalam diadili dan diputus oleh Mahkamah Konstitusi
tahapan selanjutnya putusan ini dapat saja yaitu dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil
tidak disepakati dan dianggap angin lalu oleh Presiden telah melakukan pelanggaran hukum
suara mayoritas di Majelis Permusyawaratan berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
Rakyat. Terlebih tidak ada satu pun ketentuan penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
dalam konstitusi maupun peraturan perundang- perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa
undangan lain yang mengatur secara eksplisit Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi
kekuatan putusan Mahkamah Konstitusi dalam memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau
hal ini. Ditambah lagi dengan masih diberikannya Wakil Presiden.
kesempatan kepada Presiden dan/atau Wakil Dalam ketentuan Pasal 7B Undang-Undang
Presiden menyampaikan penjelasan dalam Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
sidang paripurna di Majelis Permusyawaratan disebutkan bahwa ada 3 (tiga) lembaga negara
Rakyat. Artinya, putusan hukum dapat saja yang terlibat dalam memutuskan impeachment
dikalahkan oleh putusan politik. Untuk Presiden dan/atau Wakil Presiden ini, yaitu
konsistensi sebagai negara hukum akan lebih Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Konstitusi
terwujud bilamana proses akhir dalam sidang dan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Keputusan
paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat terakhir ada di Majelis Permusyawaratan Rakyat,
adalah bersifat menguatkan putusan Mahkamah apakah Presiden dan/atau Wakil Presiden yang
Kontitusi.12 telah diputuskan bersalah oleh Mahkamah
Konstitusi diberhentikan atau tidak. Artinya
B.2. Kewenangan Mahkamah Konstitusi peran Mahkamah Konstitusi diperlukan dalam
Mahkamah Konstitusi mempunyai 4 (empat) rangka menjamin agar proses pemberhentian
kewenangan dan 1 (satu) kewajiban sebagaimana Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagai akibat
diatur dalam Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang pendapat yang berisi penuntutan oleh Dewan
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Perwakilan Rakyat dapat diputuskan secara
1945 menyebutkan secara eksplisit mengenai hukum dan karena alasan hukum.14
kewenangan tersebut, yaitu: (1) menguji undang- Akan tetapi menurut Harjono bahwa adapun
undang terhadap undang-undang dasar; (2) kewajiban dalam impeachment sebetulnya
memutus sengketa kewenangan lembaga negara lebih banyak menyangkut peradilan pidana,
yang kewenangannya diberikan oleh undang- bukan peradilan tata usaha negara. Semestinya
undang dasar; (3) memutus pembubaran partai proses impeachment tidak dilimpahkan kepada
politik; dan (4) memutus perselisihan tentang Mahkamah Konstitusi, tetapi cukup diberikan
hasil pemilihan umum. Selanjutnya kewajiban kepada Mahkamah Agung. Hal ini karena
Mahkamah Konstitusi diatur dalam Pasal 24C Mahkamah Agung-lah yang memiliki hakim-
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik hakim pidana beserta hukum acara pidananya.15
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan Persidangan di Mahkamah Konstitusi
“Mahkamah Konstitusi wajib memberikan merupakan pengadilan untuk menjawab 2 (dua)
putusan atas pendapat Dewan Perwakilan pertanyaan paling mendasar tentang fakta dan
Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh hukum yaitu apakah benar secara hukum dan
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut konstitusi Presiden telah melakukan tindakan
Undang-Undang Dasar.”13 yang menjadi alasan usulan pemakzulan oleh
Kewajiban Mahkamah Konstitusi berdasarkan Dewan Perwakilan Rakyat dan apakah proses
Pasal 24C ayat (2) Undang-Undang Dasar pengambilan keputusan di Dewan Perwakilan
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut Rakyat telah sesuai dengan hukum dan
berkorelasi dengan Pasal 7B Undang-Undang konstitusi? Sebagai sebuah lembaga peradilan,
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Konstitusi harus memeriksa,
Di mana disebutkan bahwa pendapat Dewan mengadili dan memutuskan pendapat Dewan

12 Eko Noer Kristiyanto, “Pemakzulan Presiden Republik Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945”, Jurnal Rechtsvinding, Volume 2,
Nomor 3, Desember 2013, hlm. 340 – 341.
13 Martitah, Mahkamah Konstitusi; Dari Negative Legislature ke Positive Legislature, Jakarta: Konstitusi Press, hlm. 125 – 126.
14 Sulardi, Menuju Sistem Pemerintahan Presidensiil Murni, Malang: Setara Press, 2012, hlm. 142.
15 Harjono, Konstitusi sebagai Rumah Bangsa; Pemikiran Hukum Dr. Harjono, SH, MCL Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi, Jakarta:
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2008, hlm. 171.

280
Putusan Final Mahkamah Konstitusi Dalam Hal Pemakzulan Presiden...( Ali Marwan Hsb )

Perwakilan Rakyat sesuai dengan prinsip-prinsip untuk melakukannya dan tidak bertentangan
peradilan dan pembuktian yang berlaku di dengan asas nebis in idem dalam konteks
Mahkamah Konstitusi.16 hukum pidana maupun hukum acara pidana.
Memperhatikan proses pemeriksaan pendapat Karena pengadilan tersebut mengadili Presiden
Dewan Perwakilan Rakyat di Mahkamah dan/atau Wakil Presiden dalam kapasitasnya
Konstitusi dan ketentuan Undang-Undang yang berlangsung ketika digelar persidang di
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Mahkamah Konstitusi adalah dalam kerangka
yang menentukan bahwa Mahkamah Konstitusi peradilan tata negara. Sehingga Mahkamah
“memeriksa, mengadili dan memutus” dapatlah Konstitusi tidak memiliki kewenangan untuk
disimpulkan bahwa sesungguhnya proses menjatuhkan sanksi pidana. Hanya jika putusan
pemeriksaan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat yang dijatuhkan Mahkamah Konstitusi adalah
di Mahkamah Konstitusi adalah sebuah proses membenarkan pendapat Dewan Perwakilan
peradilan yang tidak terbatas pada pemeriksaan Rakyat maka Dewan Perwakilan Rakyat dapat
dokumen semata-mata. Karena itu, pemeriksaan melanjutkan proses impeachment ke Majelis
pendapat Dewan Perwakilan Rakyat itu dapat Permusyawaratan Rakyat. Suara terbanyak
dilakukan seperti pemeriksaan dalam perkara anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat
pidana dalam peradilan pidana. Hanya saja posisi sesuai prosedur yang diatur dalam Pasal 7B
Presiden bukanlah seperti posisi terdakwa dalam ayat (7) Undang-Undang Dasar Negara Republik
perkara pidana, akan tetapi sebagai pihak dalam Indonesia Tahun 1945 akan menjadi kata akhir
perkara yang memiliki posisi sejajar dengan dalam persoalan impeachment di Indonesia.18
pemohon yaitu Dewan Perwakilan Rakyat yang
bertindak sebagai “penuntut” dalam perkara B.3.
Sifat Putusan Mahkamah Konstitusi
pidana. Dengan proses seperti ini, Mahkamah dalam Perkara Pendapat DPR Mengenai
Konstitusi dapat secara objektif dan mendalam Pelanggaran Presiden dan/atau Wakil
memeriksa dan mengadili perkara yang diajukan Presiden
oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan terhindar dari Terhadap perkara pendapat Dewan Perwakilan
kepentingan dan pandangan politik yang dapat Rakyat mengenai dugaan pelanggaran hukum
saja subjektif dari Dewan Perwakilan Rakyat.17 atau kondisi Presiden dan/atau Wakil Presiden
Pada posisi ini Mahkamah Konstitusi tidak memenuhi syarat terdapat 3 (tiga)
memiliki peranan yang sangat strategis karena kemungkinan putusan yang dapat dijatuhkan
Mahkamah Konstitusi adalah salah satu oleh Mahkamah Konstitusi. Pertama, apabila
lembaga pemegang kekuasaan kehakiman dalam Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa
sistem peradilan dua atap di Indonesia sesuai permohonan tidak memenuhi syarat dari sisi
amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik pemohon dan permohonan, amar putusannya
Indonesia Tahun 1945 sesudah perubahan. menyatakan permohonan tidak dapat diterima.
Pada proses impeachment ini Mahkamah Kedua, apabila Mahkamah Konstitusi
Konstitusi tidak sedang mengadili Presiden memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil
dan/atau Wakil Presiden sebagai pribadi yang Presiden terbukti melakukan pelanggaran
melakukan tindak pidana. Tapi objek sengketa hukum atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat
yang menjadi fokus pemeriksaan Mahkamah sebagaimana pendapat Dewan Perwakilan Rakyat,
Konstitusi adalah pendapat Dewan Perwakilan amar putusan Mahkamah Konstitusi adalah
Rakyat atas kinerja Presiden dan/atau Wakil menyatakan membenarkan pendapat Dewan
Presiden yang dianggap memenuhi Pasal Perwakilan Rakyat. Ketiga, apabila Mahkamah
7A Undang-Undang Dasar Negara Republik Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/
Indonesia Tahun 1945. Kemudian, jika terdapat atau Wakil Presiden tidak terbukti melakukan
pengadilan yang memeriksa Presiden dan/atau pelanggaran hukum atau tidak terbukti tidak
Wakil Presiden yang telah diberhentikan atas lagi memenuhi syarat seperti pendapat Dewan
tuduhan melakukan pelanggaran hukum, maka Perwakilan Rakyat, amar putusan Mahkamah
pengadilan tersebut tetap memiliki kewenangan Konstitusi menyatakan permohonan ditolak.19

16 Hamdan Zoelva, Impeachment Presiden; Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945, Jakarta: Konstitusi
Press, 2014, hlm. 110.
17 Ibid., hlm. 110 – 111.
18 Yudho Winarno, dkk, Mekanisme Impeachment.........., Op. Cit.

281
Vol. 14 No. 03 - September 2017 : 275 - 284

Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat hasil pemilihan umum. Sedangkan untuk
(3) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21 melaksanakan kewajiban untuk memeriksa,
Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara dalam mengadili dan memutus pendapat Dewan
Memutus Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat Perwakilan Rakyat tentang dugaan pelanggaran
mengenai Dugaan Pelanggaran oleh Presiden yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil
dan/atau Wakil Presiden. Presiden pada Pasal 24C ayat (2) Undang-
Apabila Mahkamah Konstitusi menyatakan Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
membenarkan pendapat Dewan Perwakilan 1945, tidak disebutkan sifat putusannya.
Rakyat, maka Dewan Perwakilan Rakyat Akan tetapi berdasarkan Pasal 19 ayat (5)
meneruskannya ke Majelis Permusyawaratan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 21
Rakyat, untuk memberhentikan Presiden dan/ Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara dalam
atau Wakil Presiden atau tidak. Banyak kalangan Memutus Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
yang menilai bahwa dalam konteks ini fungsi mengenai Dugaan Pelanggaran oleh Presiden
Mahkamah Konstitusi menjadi lemah alias dan/atau Wakil Presiden menyatakan bahwa
sumir. Pertanyaan yang sering diajukan adalah: “Putusan Mahkamah bersifat final secara yuridis
jika Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan dan mengikat bagi DPR selaku pihak yang
Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti mengajukan permohonan”.
bersalah, mengapa Majelis Permusyawaratan
Rakyat masih diberi peluang tidak menjatuhkan C. Penutup
Presiden dan/atau Wakil Presiden? Kalau begitu, Putusan Mahkamah Konstitusi tentang
apa gunanya ada Mahkamah Konstitusi? 20 adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden
Menurut Moh. Mahfud MD bahwa apa pun dan/atau Wakil Presiden dapat dikatakan
pertanyaannya, itulah kenyataan yang berlaku bersifat final sama dengan putusan Mahkamah
dalam hukum tata negara. Kenyataan ini tidak Konstitusi untuk melaksanakan kewenangan
perlu dibentukan dengan teori atau dengan cara lainnya. Hal ini dikarenakan terhadap putusan
yang dianut di negara lain. Sebab, pada dasarnya Mahkamah Konstitusi tersebut tidak tersedia
hukum tata negara yang mengikat adalah apa pun upaya hukum apa pun lagi. Karena Mahkamah
yang oleh rakyat dan negara yang bersangkutan Konstitusi secara kelembagaan hanya berdiri
telah dimuat di dalam konstitusinya. Dengan sendiri dan tidak ada lembaga peradilan lain
kata lain, apa pun isi konstitusi, itulah ketentuan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa
hukum tata negara yang berlaku. Dalam hal ini, kembali putusan Mahkamah Konstitusi. Hal ini
filosofi yang mendasarinya adalah bahwa negara juga ditegaskan dalam Pasal 19 ayat (5) Peraturan
Indonesia, berdasarkan Pasal 1 ayat (2) adalah Mahkamah Konstitusi Nomor 21 Tahun 2009
negara demokrasi yang lebih menekankan pada tentang Pedoman Beracara dalam Memutus
aspek politik dan berdasarkan Pasal 1 ayat (3) Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai
adalah negara hukum (nomokrasi) sehingga Dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan/atau
dalam hal penentuan nasib jabatan Presiden Wakil Presiden yang menyatakan bahwa”Putusan
cara yang diambil adalah kombinasi antara Mahkamah bersifat final secara yuridis dan
demokrasi dan nomokrasi.21 mengikat bagi Dewan Perwakilan Rakyat selaku
Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar pihak yang mengajukan permohonan”.
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Agar putusan yang bersifat final tersebut
menyatakan bahwa putusan Mahkamah mempunyai kekuatan dalam pelaksanaannya,
Konstitusi bersifat final dan mengikat dalam seyogianya Majelis Permusyawaratan Rakyat
melaksanakan 4 (empat) jenis kewenangan yang kemudian mempunyai kewenangan
yaitu untuk (1) menguji undang-undang untuk memutuskan pemberhentian Presiden
terhadap undang-undang dasar; (2) memutus dan/atau Wakil Presiden hanya menguatkan
sengketa kewenangan lembaga negara yang putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.
kewenangannya diberikan oleh undang- Karena putusan Mahkamah Konstitusi tersebut
undang dasar; (3) memutus pembubaran partai berawal dari permohonan Dewan Perwakilan
politik; dan (4) memutus perselisihan tentang Rakyat dan semua anggota Dewan Perwakilan

19 Tim Penyusun, Hukum Acara.........., Op. Cit., hlm. 269.


20 Moh. Mahfud MD. Perdebatan Hukum.........., Op. Cit., hlm. 143.
21 Ibid.

282
Putusan Final Mahkamah Konstitusi Dalam Hal Pemakzulan Presiden...( Ali Marwan Hsb )

Rakyat tersebut menjadi anggota Majelis Tim Penyusun, 2010, Hukum Acara Mahkamah
Permusyawaratan Rakyat. Sehingga terasa Konstitusi, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan
aneh jika kemudian permohonan yang diajukan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI.
oleh Dewan Perwakilan Rakyat kemudian
dianulir kembali oleh Dewan Perwakilan Rakyat Tim Penyusun, 2010, Naskah Komprehensif
melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat. Perubahaan Undang-Undang Dasar Negara
Agar prinsip negara hukum yang dianut dalam Republik Indonesia Tahun 1945; Latar
Pasa1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Belakang, Proses dan Hasil Pembahasan
Republik Indonesia benar-benar diterapkan 1999 – 2002, Buku VI, Kekuasaan Kehakiman,
dalam pelaksanaan praktik ketatanegaraan di Jakarta: Sekretariat Jenderal dan
Indonesia. Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Daftar Pustaka Winarno Yudho, dkk., 2005, Mekanisme


Impeachment dan Hukum Acara Mahkamah
Buku-Buku Konstitusi, Jakarta: Mahkamah Konstitusi
bekerjasama dengan Konrad Adenauer
Hamdan Zoelva, 2005, Impeachment Presiden; Stiftung.
Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden
Menurut UUD 1945, Jakarta: Konstitusi Press. Makalah

Harjono, 2008, Konstitusi sebagai Rumah Bangsa; Ali Marwan Hsb, 2013, “Mahkamah Konstitusi
Pemikiran Hukum Dr. Harjono, SH, MCL sebagai Neutralizer terhadap Lembaga Politik”,
Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Jurnal Rechtsvinding, Volume 2 Nomor 3,
Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Desember 2013.
Mahkamah Konstitusi.
Eko Noer Kristiyanto, 2013, “Pemakzulan Presiden
Martitah, 2013, Mahkamah Konstitusi; Dari Republik Indonesia Pasca Amandemen UUD
Negative Legislature ke Positive Legislature, 1945”, Jurnal Rechtsvinding, Volume 2, Nomor
Jakarta: Konstitusi Press. 3, Desember 2013.

Moh. Mahfud MD, 2010, Perdebatan Hukum Wicipto Setiadi, 2013. “Dukungan Politik
Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, dalam Implementasi Putusan Mahkamah
Jakarta: Rajawali Press. Konstitusi”, Jurnal Rechtsvinding, Volume 2
Nomor 3, Desember 2013.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009,
Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Cetakan ke – 11. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Sulardi, 2012, Menuju Sistem Pemerintahan


Presidensiil Murni, Malang: Setara Press.

283
Vol. 14 No. 03 - September 2017 : 275 - 284

284